Tampilkan postingan dengan label SERANG-LEBAK -CILEGON-BANTEN BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERANG-LEBAK -CILEGON-BANTEN BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2020

SERANG - LEBAK - CILEGON - BANTEN BIOSCOOP

Serang sebagai wilayah Keresidenan Banten sangat ramai. Masa itu, ada sekira 40 persen orang China, 15 persen orang Belanda, dan palancong lainnya. Peluang dibaca dan masuk sebagai strategi pemerintah kolonial dalam menompang investasi pembangunan ekonominya.

Pemerintah pada masa itu menganggap, orang-orang yang lelah berdagang atau bekerja pasti membutuhkan ruang hiburan. Karenanya, perlu wadah sehingga perputaran ekonominya tidak keluar daerah.

BANTEN

BIOSKOP PELITA


Dibangun sekira tahun 1920-an. Dugaannya berdasar arsitektur bangunannya. Juga beberapa arsip dalam pemberitaan di koran De Banten Bode dan koran-koran lokal masa itu.

Pada masa pemerintah kolonial, gedung Pelita bernama Teater Banten. Tempat pertunjukan atau opera yang dibangun pengusaha Tionghoa. Status Banten sebagai residen jadi alasannya. Gedungnya menunjukkan ruang ekspresi budaya. Tak heran, pemerintah Hindia Belanda mewajibkan adanya gedung pertunjukan. Baik dikelola swasta atau pemerintah. Untuk kepentingan, mempropagandakan budaya Belanda. Lalu, menjaga perputaran ekonomi agar tidak keluar daerah. Terlebih, masa itu banyak pegawai dan pedagang tinggal di Serang. Dalam aktivitas yang padat, mereka butuh saluran hiburan. “Fasilitas itu akan membuat ekonomi berputar di tempat,” Yang tidak kalah penting, gedung pertunjukan menjadi arena mengekspresikan budaya. Menjadi saluran merawat dan mengembangkan budaya anak bangsa. Dan, Banten adalah tempat persemaian budaya dari berbagai belahan dunia. “Gedung pertunjukan bagi sebuah kota itu wajib, sebagai sarana ekpresi budaya,”

Bahkan sejak masa Sultan Banten, ruang pertunjukan sudah berkembang. Tempatnya di panayagan (tempat bermain musik) di pelataran Surosowan. “Dari situ banyak kisah tentang kesatria yang menjadi cikal bakal pendidikan karakter,”

Saat film mulai menggeliat di era 1932, Banten Teater difungsikan juga sebagai bioskop. Tak hanya tempat pertunjukan, film-film dari Eropa pun mulai diputar. “Banten Teater itu tontonan kelas bangsawan Eropa,”

Pemutaran film dan pertunjukan sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang. Bahkan, gedung Banten Teater dijadikan tempat tahanan politik dalam kurun waktu 1942 sampai 1945. Era itu, masa memudarnya bioskop dan tempat-tempat pertunjukan.

Bioskop kembali beroperasi pada tahun 1953. Hanya saja, sudah berubah dengan nama dari Teater Banten menjadi Banten Park. Sebelum menjadi Pelita, nama Banten Park dan Sampurna lebih dahulu digunakan.    
          
Baru sekira tahun 1960-an, nama Pelita resmi disematkan hingga tutup pada 1997-an. Tak hanya bioskop, pada tahun 1973, Pelita punya sarana bagi kawula muda bermain bola sodok.

Kisah Bioskop Merdeka juga familier di kalangan masyarakat Kota Serang. Bioskop itu berdiri selang lima tahun dari berdirinya Pelita. Mulanya bernama Royal Park. Senasib dengan Teater Banten, gedungnya juga pernah dijadikan rumah tahanan orang Australia hingga Jepang tunduk kepada sekutu.

Gedung yang konon awalnya dijadikan tempat opera itu tak jauh dari jalan raya. Hanya seratus langkah untuk berdiri di muka gedung. Tepatnya, di gang Jalan P Purbaya, belakang Pasar Swalayan atau Departemen Store Serang, Pasar Lama, Kota Serang. “Sudah lama tutup, hampir dua tahun,”

Mengenang seputar masa-masa gedung Pelita sebagai tempat melepas penat warga. Dari sekadar nongkrong, nonton film, sampai bermain biliar atau bola sodok.

gedung Pelita beberapa kali berganti nama. Mulai dari Banten Teater, Banten Park, Sampurna, hingga Pelita, hingga Pelita. “Tahun 1997-an sudah mulai tutup. Enggak dipakai lagi,”

“Dulu tiketnya mulai Rp50 sampai paling mahal Rp200,”
Di samping kanan dan kiri ruang bioskop terdapat anak tangga. Bioskop Pelita dibagi menjadi dua kelas. Kelas I, dengan kursi kayu panjang tiga saf berjajar. Posisinya tepat berada di depan layar. Sedangkan kelas balkon, posisinya berada di atas dekat proyektor. Dalam sehari, hanya satu film yang diputar. Kecuali pada akhir pekan, yang biasanya juga memutar film malam.

“Macem-macem filmnya. Ada film kolosal Spartakus dan film Indonesia seperti Panji Tengkorak. Macam-macamlah,”

Konon, pengusaha Tionghoa muslim yang mendirikan gedung itu. Bioskop Merdeka kelasnya di bawah Banten Teater. Di masa kolonial, di gedung bioskop inilah masyarakat pribumi bisa menikmati film. Juga melakukan pementasan pertunjukan atau opera pada masa itu.

Sayang, nasib Bioskop Merdeka lebih tragis. Tak ada jejak bangunannya yang bisa ditelusuri. Pada 2004, gedung diratakan dengan tanah. Sekarang, hanya ruko-ruko yang berjajar yang berlokasi di kawasan Royal, Kota Serang itu.

Tak jauh dari bekas gedung Bioskop Pelita, juga berdiri bekas gedung Bioskop Plaza Serang. Jaraknya sekira 200 meter dari gedung Pelita, di Jalan Maulana Hasanuddin, Pasar Lama. Bioskop itu, berdiri di lantai dua Plaza Store. Kabarnya, bioskop mulai beroperasi tahun 1980-an dan tutup tahun 1998.

Jejak bangunannya masih terlihat kasat mata. Hanya saja, menjadi ruang kosong tanpa penghuni. Beberapa ruko di bawahnya masih digunakan untuk berdagang. Namun, tampak tak beraturan. Kumuh dan jauh dari kesan rapi, apalagi bersih.

Selain tiga bioskop itu, Bioskop Dewi di Kedalingan melengkapi cerita kisah bioskop di Kota Serang. Nasibnya sama dengan Bioskop Merdeka, tanpa jejak artefak bangunannya.

Bioskop Dewi berdiri tahun 1960-an. Lebih awal daripada Bioskop Plaza Serang. Informasinya, tempat nonton film itu tutup bersamaan permindahan Terminal Kedalingan ke Ciceri, sebelum akhirnya terminal dipindahkan lagi di Pakupatan hingga sekarang. “Dampak dari itu, orang ke bioskop sepi. Bioskop tutup lebih awal sekira 80-an,”

BIOSKOP MERDEKA


Hindia Belanda itu. Padahal, kawasan Royal tidak lepas dari namanya. Royal Park yang pada tahun 1953 berubah nama menjadi Bioskop Merdeka. Bioskop dibangun pengusaha muslim Tionghoa. Sebagai media hiburan warga pribumi. Pemberitaan koran De Banten Bode menyebut, bioskop berdiri lima tahun pasca Banten Teater (Bioskop Pelita) yang dibangun sekira 1920-an.

Tak hanya tempat hiburan, bioskop itu memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan. Penyandang dana pengembangan Holland Indlands School (HIS) met de Koran Kaloran Serang. Sekolah itu dirintis Perhimpunan Tirtayasa pada 1931. 

Tepatnya, pada Juni 1934. Perkumpulan drama Darnalella menggelar malam pertunjukan di Royal Park. Hasil penjualan karcisnya disumbangkan sebagai kas HIS Tirtayasa. Konon, penontonnya membeludak. Mereka datang dari berbagai daerah di luar Serang.

Perkumpulan Tirtayasa sebagian anggotanya orang Banten yang tinggal di Batavia dan Bandung. Pemilik Royal Park masuk Perkumpulan Tirtayasa. Pemilik Royal Park turut mempedulikan pendidikan untuk pribumi. “Hasil dari bioskop sebagian untuk pembangunan sekolah,”

Pada buku Banten dan Sejarah Pembaratan Sejarah Sekolah 1833-1942 karya sejarawan Mufti Ali tercatat, gedung sekolah itu hibah pengusaha Tionghoa Serang, Lie Soe Foeng. Gedung sekolahnya bekas tempat tinggal keluarga Lie. Sebelum akhirnya pindah ke Batavia setelah agresi militer Belanda.
 
Senasib dengan Banten Teater, Royal Park tutup saat pendudukan Jepang. Bekas gedung bioskop menjadi rumah tahanan tentara sekutu. Gedungnya kembali difungsikan pada 1953. Dan, resmi menyandang nama Merdeka. 

“Banyak film India, Arab, dan Mesir di bioskop ini,”

Film Arab Umi Kulsum, Hamzah, jadi yang favorit masa itu. Kata Yadi, banyaknya film dan lagu Timur Tengah hingga 1963, berpengaruh pada bacaan arab di Banten. Masyarakat berbondong-bondong mengubah sistem nada pembacaan dari langgam Jawa menjadi langgam Arab. “Termasuk sejarah MTQ mulainya dari film-film dan lagu itu,” 

Bioskop Merdeka mulai meredup di era 1980-an. Hingga akhirnya tutup pada 1997-an. Puncaknya, ketika gedungnya rata dengan tanah pertengahan tahun 2004. Peristiwanya tercatat dalam pemberitaan media lokal Banten. Salah satunya edisi September Radar Banten.
Secara beruntun Radar Banten menurunkan peristiwa pembongkaran gedung cagar budaya di Serang ini. Pada 10 September dengan judul Bangunan Bersejarah Rata dengan Tanah, Kantor Purbakala Kecolongan. Berita berikutnya dengan judul Riwayat Bioskop Merdeka yang Rata dengan Tanah.

Gedung bioskop itu menyimpan banyak hal. Secara sosio kultural, Malik menyebut sebagai jejak awal modernisasi di Serang. Sekaligus tanda munculnya sejarah perkotaan.

Apalagi, sebutan Royal sebagai kawasan niaga, berawal dari Royal Park atau Royal Room. “Hancurnya Bioskop Merdeka adalah malapetaka sejarah. Kota Serang menjadi ahistoris. Disbudpar dan DKB ikut andil hilangnya jejak sejarah itu,”

Bioskop Bhumiyamka atau dikenal dengan Bioskop Bumex. 
Bioskop ini kerap paling sering memutar film-film Billywood yang pada saat itu sedang berkibar. Letaknya di Jl. Raya Serang (sekarang jadi Jl. Merdeka) di Kampung Gerendeng.


CILEGON
Salah satu tempat yang banyak dikunjungi pasangan muda mudi atau keluarga pada malam minggu adalah bioskop yang terdapat di lantai dua sebuah mall di lingkungan Sukmajaya, Cilegon.

Selain bioskop tersebut, ternyata di Kota Cilegon pernah beroperasi tiga bioskop lainnya, yakni: Bioskop Apollo, Krakatau Ria (KR) dan Cilegon Theatre.


BIOSKOP APOLLO
Khusus mengenai Bioskop Apollo adalah bioskop pertama dan tertua di Kota Cilegon. Terletak di Jl. Bioskop Apollo, Kampung Baru, Jombang Wetan atau di belakang SMP Negeri 1 Cilegon.



Di masa kejayaannya di tahun 1980an, Bioskop Apollo ini memberi gengsi tersendiri bagi mereka yg pernah datang menonton. Terlebih jika bisa duduk di kursi balkon (VIP).

Beberapa film yang diputar di bioskop ini yang dibintangi oleh aktor laga Barry Prima dan Advent Bangun, seperti: Jaka Sembung Sang Penakluk, Nyi Blorong, Pasukan Berani Mati, Si Buta Lawan Jaka Sembung, Nyi Ageng Ratu Pemikat, Jaka Sembung Vs Bergola Ijo, Golok Setan, Bajing Ireng & Jaka Sembung, dsb.

Selain film laga, ada juga film bertema Romantis Narsis yang dibintangi oleh Rhoma Irama, antara lain: Oma Irama Penasaran, Gitar Tua, Begadang, Berkelana I, Berkelana II, Perjuangan dan Doa, Satria Bergitar, Kemilau Cinta di Langit Jingga dan Dawai 2 Asmara.

Atau beberapa film Bollywood yang dibintangi oleh aktor jadul Amitabh Bachchan, Sri Devi, Jaya Prada, Sadashiv Amrapurkar, Anil Kapoor, Amrish Puri, seperti: Saat Hindustani, Barsaat Ki Ek Raat, Roti, Kapda Aur Makaan, Inquilaab, Shakti dll.

Salah satu hal unik yg pernah ada di bioskop Apollo ini yakni dalam event tertentu, dengan beberapa lembar bungkus kosong rokok kretek Djarum Cokelat kita dapat menukar dengan tiket tanda masuk untuk menonton.

Namun kini Bioskop Apollo tinggal kenangan.

PADA ERA tahun 80 hingga 90-an, Bioskop Apollo yang berada di Kampung Baru, Kelurahan Jombang, Kecamatan Jombang Kota Cilegon, merupakan bioskop yang amat terkenal di kalangan warga Cilegon. Terutama saat perayaan lebaran Idul Fitri tiba, bioskop tersebut amat ramai menjadi hiburan rakyat dengan menonton film.

Tapi siapa yang tahu, ternyata di bangunan yang kini tidak terpakai lagi itu adalah bekas makam kuburan orang belanda yang meninggal di Kota Cilegon, hingga bioskop itu dibangun kuburan tersebut tidak dipindah.

Gedung bioskop tersebut dibangun sekitar tahun 70-an, dimana sebelumnya saya sebagai penulis pernah bersekolah di sekolah dasar (SD) Mardiyuana (1966) yang kini telah menjadi SD Negeri 7 Kota Cilegon. Setiap pulang sekolah selalu melewati makam tersebut, karena gedung SD tempat sekolah berseberangan dengan makam belanda yang kini menjadi gedung tidak terpakai Ex bioskop Apollo.

Diceritakan Nenek saya, yang merupakan keturunan pejuang Geger Cilegon, Haji Akhiya, bahwa kuburan tersebut bernama kuburan Kerkhoff atau kuburan khusus bagi orang Belanda.

Mengapa di Kota Cilegon ada kuburan orang belanda? Hal ini dikarenakan pada masa lalu Cilegon menjadi pusat pemerintahan afdelingen sehingga merupakan tempat tinggal pejabat-pejabat pamongpraja, baik bangsa Eropa maupun pribumi. Maka sangat wajar jika di Cilegon terdapat tempat pemakaman bagi orang-orang Eropa di era pemerintahan kolonial Belanda.

Begitu juga ketika terjadi peristiwa Geger Cilegon 1888, dan semua pejabat pemerintah Belanda yang mati dibantai dikuburkan di tempat itu juga. Diantaranya Asisten Residen Gubbels beserta istri dan kedua anaknya, Kepala Penjualan Garam Ulrich Bachet, Juru Tulis kantor asisten residen Hendrik Francois Dumas, dan Kepala Pemboran J. Grondhout.

Kemudian sebagai penghormatan kepada mereka yang menjadi korban pada tragedi berdarah 9 Juli 1888, Residen Banten pada masa itu membangun monumen peringatan berupa tugu, yang tujuannya agar sanak sodara beserta anak keturunanya kelak dapat datang dan berziarah ke Cilegon.

Namun ketika bioskop Apollo dibangun di bekas lahan pemakaman itu, semua kuburan diratakan dan tugu peringatan itu pun dibongkar tanpa sisa.

Sejak saat itu, setiap malam selalu terdengar orang yang bercakap-cakap. Kebetulan Jarak dari rumah saya memang tidak terlalu jauh, sekitar 10 menit berjalan kaki ke Selatan dan menyebrang jalan raya Cilegon-Serang, namun masa itu tidak seramai seperti sekarang.

Pada suatu hari, sehabis Isya saya berangkat kesana, tapi tidak mendatangi loket penjual karcis karena memang saya tidak bawa uang. Tentu saja tanpa pamit pada orang tua, sebab tak mungkin mengizinkan anaknya yang masih kelas 5 SD pergi sendiri ke gedung bioskop, terlebih lagi pada malam hari.

Di bagian kanan gedung bioskop Apollo terdapat sebuah selokan atau got yang ukurannya cukup besar, apalagi buat badan saya yang cilik kentring. Sepanjang permukaan selokan itu ditutupi oleh papan-papan sehingga orang bisa berjalan di atasnya. Karena saya ingin sekali mengetahui apa yang ada di dalam, maka tanpa pikir panjang saya langsung masuk ke dalam selokan melalui ujung bagian depan gedung dan muncul di bagian dalam sana.

Pada saat memasuki selokan, saya berjalan tanpa menyentuh permukan air kotor. Namun dengan cara menapakan kedua belah kaki dan tangan pada kedua sisi tembok selokan yang mempunyai kemiringan tiga puluh derajat.

Dalam keadaan gelap dan pengap, perlahan tapi pasti saya terus bergerak menelusuri selokan itu menuju seberkas sinar yang tampak di ujung sana. Samar-samar terdengar suara jerit dan teriakan yang sangat mengerikan. Saat itu saya memang tidak merasa ketakutan karena memang tidak mengetahui kalau tempat ini bekas kuburan.

Apalagi kisah tragis yang menimpa anak Asisten Residen. Elly dan Dora, gadis kecil, yang mati dicincang dan kepalanya pecah setelah dihajar oleh batu besar. Mereka meregang nyawa, ketika gerakan perlawanan yang dipimpin oleh para kiyai dari seantero Banten meletus, yang kemudian dikenal dengan istilah Geger Cilegon 1888. Andai saja saya sudah mendengar cerita tragis tentang peristiwa itu, pasti merinding dan saya juga tidak berani masuk ke tempat dimana mereka pernah dikuburkan.

Namun di masa kini, peristiwa sejarah terutama keberadaan kuburan belanda sudah tidak ada yang tahu, sehingga saya menulis kisah ini untuk mengingatkan kembali kisah perjuangan para pahlawan Geger Cilegon yang telah gugur demi merebut kemerdekaan, namun sayangnya jasa-jasa mereka kini terlupakan.

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawannya. Dalam tulisan ini kita bisa melihat bagaimana bangsa Belanda menghormati jasa para pahlawannya yang meninggal dalam tragedi berdarah dengan membangun sebuah tugu, yang pada setiap sisi-sisinya bertuliskan nama-nama mereka yang meninggal dalam tugas.

Namun, apakah bangsa kita juga sudah berbuat hal yang sama bagi para syuhada yang gugur dalam perjuangannya dalam menumpas penjajahan Belanda


LEBAK

Antara Lebak, Rangkasbitung, dan film Lebak Membara.

filem Lebak Membara. Filem itu diputar di sebuah bioskop bernama Apollo. Terletak di sisi selatan pasar Rangkasbitung. Kini gedungnya sudah tak berbekas karena sudah tergantikan oleh kawasan pertokoan. Usiaku sekitar 6 tahun memasuki kelas 1, Sekolah Dasar saat diajak bapak pergi menonton. Kebiasaan seorang bapak mengajak anaknya untuk menonton sudah sangat wajar di Rangkasbitung. Tempat yang dituju ialah bioskop kebanggaan masyarakat Lebak, Apollo namanya. Pengunjung yang berjejal antri karena banyak masyarakat yang mau menonton. Dan aku melihat jelas kumpulan orang-orang yang mengantri panjang menuju pintu masuk bioskop. Aku sendiri melihat di atas gendongan bapakku.


Kursi penonton yang terbuat dari kayu, aku dengan bapak mendapat kursi yang paling depan. Dengan jelas kami melihat layar berukuran sangat besar memantulkan cahaya putih. Tempat duduk yang leluasa dan bisa bersandar dengan bebas cukup nyaman untuk anak seusiaku. Sinar lampu proyektor mulai menyinari layar. Selang beberapa lama mulailah layar yang besar itu menampakan gambarnya. Suara penonton bergemuruh, bersorak, dan kegirangan karena filem yang akan diputar adalah filem tentang pemberontakan penduduk Lebak terhadap penjajah Jepang. Bapakku menuturkan dengan cakapnya saat itu. Syutingnya dilakukan di Lebak, sekitar wilayah Labuan. Bapakku menambahkan ia melihat sendiri bagaimana syutingnya. Ketika adegan pencopotan rel kereta api oleh para penduduk yang kelaparan, karena pada saat itu seluruh hasil pertanian diambil oleh penjajah jepang dan dibawa ke pusat, yaitu Jakarta untuk keperluan perangnya. Akibatnya para penduduk dan para petani jadi kelaparan dan mengakibatkan pemberontakan. Aku terbayang jika saat itu mereka semua berpura-pura. Ingatanku tentang filem itu pun selalu pada adegan tersebut.

Bapakku sering menceritakan adegan itu ketika berada di rumah, diulang dan diulang terus. Adegan tersebut begitu sangat mengharukan dan menyedihkan sekaligus juga membanggakan, ujarnya. Aku kira, saat kecil aku merasakan hal yang sama. Selanjutnya aku memastikan ke sebuah Sekolah Dasar yang seingatku mewajibkan menonton film itu. Sayang tidak ada banyak keterangan yang didapat. Ibu guru Yani (45) salah satu guru sekolahku. Dari hasil obrolan, hanya didapat pemaparan dan pembenaran tempat shooting filem itu di rumah tua milik Ibu Kania, di daerah Pasir Waru dan Kadu Agung. Selebihnya mereka menjawab lupa akan peristiwa yang mewajibkan anak muridnya menonton filem itu. Tetapi mereka paling tidak memberikan banyak petunjuk sederhana padaku.

Pertama kali aku menonton filem tersebut, aku baru duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, aku benar-benar tidak tahu sama sekali kalau sebenarnya filem itu ada kaitannya dengan sejarah tempat kelahiranku, Lebak saat pendudukan Jepang. Waktu itu, aku hanya ingin menonton aksi laga George Rudy, tokoh utama film Lebak Membara. George Rudy sebagai pemuda pemberani dari Lebak melawan penjajahan Jepang dengan peran sebagai Herman, pemuda yang gigih membela rakyat Lebak dari penderitaan serta penindasan dari tentara Dai-Nippon Jepang yang sangat kejam. Ia rela mengorbankan nyawanya demi membela tanah air yang dicintainya. Berikut kira-kira inti dari film Lebak Membara yang masih aku ingat, detailnya aku benar-benar sudah lupa karena memang sudah 25 tahun yang lalu.

Bintang film favoritku saat itu adalah Barry  Prima dan Advent Bangun.

Cuaca malam itu sangat dingin, hembusan anginnya yang kencang sewaktu-waktu membuat orang-orang  yang berada di sekitar lapangan alun-alun kota Rangkasbitung memeluk erat-erat lutut masing-masing. Berusaha mengusir rasa dingin yang menusuk kulit. Perkiraanku saat itu menunjukan jam tiga pagi. Keinginan yang besar beserta rombongan teman-teman dari kampungku rela berjalan sejauh satu kilometer demi menonton filem layar tancap di alun-alun kota Rangkasbitung.

Tiga minggu yang lalu aku menanyai rumah dinas yang terletak di samping Taman Makam Pahlawan. Maksud hati mendapat petunjuk lebih  jelas atau minimal mempertegas asumsi pengalaman lampau. Entah penampilanku yang tidak sopan atau mereka sedang sibuk rapat dinas. Aku hanya dilayani di pintu masuk saja. Dengan berat hati mereka tidak mengiyakan pengalamanku. Penelusuranku jelas tidak menghasilkan secuil keterangan, bahkan arsip tentang kegiatan tahun itu.

Kembali ke masa lampau, layar berukuran besar yang terbuat dari kain warna putih terbentang. Sesekali layarnya bergoyang-goyang karena terpaan angin. Pemutaran filem belum juga dimulai padahal ratusan orang sudah berkumpul di depan dan di  belakang layar yang ditancapkan. Aku lebih senang melihat dari arah yang terbalik karena takut akan terhimpit, di tengah alun-alun. Hampir semua orang yang ada di situ sengaja membawa selimut atau kain sarung untuk menutupi badannya dari hembusan angin malam yang dingin. Dengan bermodalkan kain sarung dan koran bekas yang aku bawa dari rumah aku berniat menonton filem-filem itu sampai habis. Dan biasanya alas itu sangat berguna jika aku sudah mengantuk ataupun kedinginan.

Menonton film Lebak Membara setidaknya akan menyeret aku pada masa kanak-kanak. Masa yang begitu menggairahkan bagiku. Apapun itu. Aku mau tahu, dan ingin sekali mencobanya. Di tahun 1989, genap umurku menginjak usia sembilan tahun. Kursi yang kududuki saat itu bangku kayu keras yang terbuat dari pohon Jati. Bangku yang disediakan oleh si pendidik untuk kelas enam Sekolah Dasar. Ibu Marsinem (58) salah satu guru SDN Leudimar 09. Saat itu, dialah yang aku ingat dan sekarang masih ada. Dia pula seorang yang mewajibkan aku dan lainnya untuk menonton filem. Dugaanku saat itu, sudah pasti filem perang Janur Kuning yang kesohor di masyarakat akar rumput. Satu dari sekian banyak filem nasional yang harus aku tonton dan menyerahkan rangkuman hasil tontonan. Ternyata filem itu berjudul Lebak Membara. Produksi 1983 karya Imam Tantowi.  Filem yang diamini sebagai filem kebanggan masyarakat Lebak. Masyarakat Lebak yang tersebar di berbagai pelosok perbukitan ataupun di jantung kota sekalipun tahu filem itu. Pengakuan kecil ibu guru Sekolah Dasar, saat itu guru-guru  diinstruksikan untuk mewajibkan anak didiknya menonton filem. Prasangka muncul atas terjadinya pengalaman visual. Jelas jika itu semata-mata atas perintah dari Dinas Pendidikan, tanpa itu aku tidak akan menontonnya. Atau mungkin hanya menonton di layar tancap saat acara pernikahan atau hajatan. Kami asyik berbicara masa lampau dan hanya kata “perintah” itu yang terucap dari orang terpuji yang aku temui. Selebihnya dia banyak menanyakan kabar terakhir tentang kehidupanku.
 
Dari tulisan terbata-bata itu, aku coba menemui si pemilik gedung bioskop yang pernah kami datangi saat menonton filem Lebak Membara. Dengan susah payah aku menelusuri perkampungan bekas jalan kereta jurusan Bayah. Aku memulai dari kampung Pasir Jati. Perkampungan yang bisa melihat dengan jelas tempat tinggalku dan rumah orang yang akan aku temui untuk diajak berbagi. Setelah mendapat petunjuk dari beberapa kawan di kampung Pasir Jati akupun turun ke kampung Lebak Picung. Setelah bertanya-tanya lagi, akhirnya aku bisa menemuinya di ruangan sederhana miliknya. Ika (75) salah satu keluarga pendiri bioskop pertama di Lebak dengan tegar dan nada keras bertukar cerita di kediamannya beberapa minggu lalu. Berikut petikan wawancaranya dengan pemilik gedung bioskop pertama di Lebak.


Fuad (Fd):  Apakah bapak tahu bioskop pertama di Lebak?
Ika: Saya tahu bioskop pertama di Lebak. Bioskop pertama, berbadan swasta satu-satunya dimiliki satu keluarga. Keluarga Marjuk. Dan itu keluarga saya. Kita memang pemilik tanah itu sejak tahun 1955. Kita pertama kali mendirikan bioskop di tempat itu. Atas nama bioskop KAMI, KAMI merupakan singkatan dari Kartinah, Afifah, Marjuk, dan Ika. Bapak Marjuk ketika itu tidak banyak anak. 

 

Ketika itu bioskop mengalami kemunduran karena masuknya televisi yang berdampak pada kebangkrutan. Saya kira bukan hanya di Rangkasbitung saja tetapi di seluruh Indonesia juga. Gedung bioskop seperti gudang. Dengan ukuran dan bentuk yang sama dengan gudang. Ya kalau nggak ada filem buat apa digunakan gudang itu. Disewakan nggak ada objeknya. Tidak ada yang menyewa. Tidak ada yang nonton. Akhirnya kita jual sajalah. Saat itu saya engga mau ambil pusing. Ya sekarang baru merasakan pusing. Kalau tidak dijual mungkin sudah menjadi milyaran uang saya. Pemilik baru juga bernama Apollo mengalami kebangkrutan. Tidak lama setelah terjadi pembelian.

Fd: Kenapa bapak membuat Bioskop, dan bisa tidak diceritakan proses awal pembuatannya?
Ika: Ya! Kita yang membuatnya. Awalnya kita memulai dari panggung sandiwara.
Fd: Maksud bapak?
Ika: Ya sandiwara, namanya apa yah?. Saat itu kita mendirikan sandiwara.
Fd: Semacam opera?
Ika: Eee…bukan, kalau sekarang disebutnya apa yah?
Fd: Teater!
Ika: Ya..!! Mungkin sekarang namanya teater. Teater lama yang mengacu pada sejarah. Gajah Mada, Hayam Wuruk, terus ini apah..? Lutung Kasarung. Sejarah lama begitu. Setelah itu, karena mengurus orang lebih pusing, akhirnya kita mendirikan bioskop di tahun 1955. Sejak tahun 1955, kita terus memulai operasi. Ada kemajuan, terjual, ganti pimpinan, ya..  Apollo itu. Chow Sun waktu itu dulu. Sekarang dia sudah almarhum. Chow Sun itu, dulunya kuasa dari rokok Djarum.

Kan, dulu sebelum nonton di Apollo kita harus bayar tiket dengan menukar dengan bungkus rokok Djarum. Kamu belum pernah mengalami itu?

Usia kamu berapa tahun?

Fd: Benar? Jika Lebak punya bioskop satu-satunya?
Ika: Salah. Rangkasbitung memiliki dua bioskop. Yang pertama terletak di wilayah pasar dekat stasiun kereta api. Yang kedua di Jalan Sunan Kali Jaga. Yang sebelah selatan bernama Seminar. Dan yang sebelah utara namanya KAMI. Bioskop Seminar pada awalnya bernama bioskop Gembira. Setelah berhenti penguasanya atau manajer digantilah dengan Seminar. Mereka hanya merombak nama. Karena tanah di situ milik pemerintah. Hak guna pembangunan barangkali. Habis waktu diambil sama Pemda. Jadi rupanya diganti rugi saja oleh Pemda. Kemudian dijadikanlah pasar. Saat itu kami mendirikan bioskop bersamaan. Di Serang juga ada dua bioskop, yang pertama di Royal dan yang kedua di pasar. Nama bioskop di Royal bernama Gembira. Yang tidak ada bioskop mungkin hanya daerah Pandeglang. Masyarakatnya fanatik –agama.red.

Fd: Saya dengar di Labuan ada bioskop?
Ika: Ya memang ada di Labuan. Namanya bioskop Murni. Pemiliknya kawan saya. Tempatnya dekat stasiun kereta api tempo dulu. Persisnya yang sekarang dijadikan pangkalan bus Murni. Di situlah bioskop. Si pemiliknya kenal dengan saya dari awal berdiri. Kalau anda ke sana terus tanya nama saya. Dia pasti tahu. Umur dia lebih muda dari saya. Jikalau perbioskopan saya berani jamin. Rangkasbitung lebih ramai dari Labuan dan yang lainnya. Rangkasbitung punya dua bioskop dan bersaing ketat antara bioskop KAMI dan Seminar.


Fd: Anda kenal dengan pemilik bioskop Seminar?
Ika: Ya! Saya kenal. Dia itukan orang Jakarta. Dia itu orang Chinese. Tapi saya hanya kenal saja. Berbeda dengan yang di Labuan. Saya kenal dekat dengannya. Mungkin karena kami di bawah pengusaha filem yang sama. Terkadang adiknya disuruh cari filem ke Jakarta. Dan saya sering join dengannya.
Fd: Apakah alat untuk bioskop saat itu mahal?
Ika: Saat itu hanya bikin gedung, bangku, kan pake bangku bukan pake jok. Kemudian mesin. Filem sewa, listrik PLN. Dulu kursinya kursi kayu. Masih ada saya contoh kursinya dulu. Ini kursi bioskop dulu semacam ini. Tapi jati –kayu jati.red– loh. Ini salah satu peninggalan sisa dari mana saya tidak tahu. Ya semacam begini, terus diikat belakangnya pake bambu. Supaya tidak bisa di geser-geser. Saya masih punya kursi beginian, habisnya antik.

Fd: Bagaimana dengan pajak pemerintah?
Ika:  Pemerintah. Ya kitakan bayar pajak. Untuk bioskop, setiap menjual satu karcis itu. Pemda mendapat pajak sekian persen dari pada satu nilai karcis. Jadi, kalau satu rol filem harganya lima ratus rupiah untuk lima ratus orang. Kita masuk ke Pemda. Sebelum dijual karcis itu haruslah lapor dulu ke Pemda. Stempel tiap karcis lalu bayar. Dulu mereka enak, maka Pemda banyak duit. Seandainya sekarang lebih banyak duitnya Pemda. Jelas, sekarang sudah salah sistemnya. Sekarang toko Alya itu di flat. Toko-toko yang jualan milyaran itu kan. Ratusan juta semen dan yang lainnya. Ratusan juta itu. Semen, besi dan sebagainya itu. Itukan di flat oleh pajak. Kamu bayar dia sekian juta untuk satu tahun misalnya. Kalau dulu itu ada PPN . barang yang dijual itu diambil sekian persen.

Fd: Siapa yang membeli bioskop Bapak?
Ika: Saat itu, KAMI kesulitan uang dan kawan dari Jakarta membelinya. Dikarenakan di Lebak tidak ada yang mau membeli. Kemudian saya mencari pembeli. Kebetulan ada kawan di pasar ikan, usahanya. Dia ada duit dan join dengan kawannya lalu membeli bioskop saya. Tetapi tidak lama, dia tidak kuat, akhirnya dia jual lagi. Pindah tangan lagi. Itu pada Apollo. Apollo juga tidak kuat, akhirnya dijual lagi. Sekarang. Orang berebut membeli lahan itu buat Rumah Toko (RUKO). Dibuat sekian pintu menjadi sewa kontrak. Atau dijual. Dan itu bagi orang-orang yang punya uang.
Fd: Tahun berapa menjualnya?
Ika: Kita jual bioskop tahun 1969.
Fd: Itukan berdekatan dengan tahun pemberontakan?
Ika: Apaan sih..?! orang saat gerakan G30S kita masih membukanya. Saat itu kita dilempari batu oleh Gerakan Pemuda Rakyat. Karena saat itu kita putar filem Amerika. Pemuda Rakyat tidak senang. PKI itu. Kita banyak didemo. Saya tidak banyak mengerti soal politik. Saya tidak pernah ikut perpolitikan. Hanya saat itu, jika mereka melihat filem Amerika ditayangkan pasti marah. Marahnya kepada yang punya bioskop. Yang marah itu warga Lebak yang ikut dalam organisasi kepartaian. Yang tidak, ya pasti tidak. Ya penonton mereka terus saja menonton. Kalau misalkan pas lagi mau nonton ribut-ribut, paling-paling bubar dan tidak jadi filemnya diputar. Kejadian itu sering terjadi saat perpolitikan PKI. Sebelumnya tidak pernah ada. Jadi kalau dihitung dari tahun 1955 sampai 1965 belum pernah terjadi kerusuhan.

1965… mmm, sekitar 1968an lah kita menjualnya. Bioskop itu. Nah.. Setelah bioskop itu dijual kepada Djarum. Dibangun sedikit. Dibangun lagi bioskop. Tapi engga berapa lama. Sudah bikin bioskop, dijual lagi. Ya.. Kemudian jadilah yang sekarang ini. Oleh saudara Bhun Tiaw. Beruntung dia. Yang sekarang ini. Yang punya hotel Kharisma. Itu sebelahnya hotel punya saya yang dijual kepada dia. Hotel KAMI juga. Kita mempunyai bangunan dua. Hotel KAMI, yang sekarang jadi pertokoan, yang dibuat tingkat, sama yang sekarang dibuat pertokoan lagi. Yaitu bioskop KAMI. Tanah itu luasnya 1.600 meter. Sudah habis semuanya. Ya, kita akhirnya pindah ke Lebak Picung. Kira-kira sejak tahun 1980. Karena inflasi uang. Saat itu kita jual seharga Rp. 17.000.000,-. Hotel sebegitu besarnya sekarang harganya berapa Milyar itu. Haa…haa..haa..!! kalau ingat ke situ waduuuhhh.. bisa tiring istilahnya. Tapi ya sudahlah. Benar, dulu kita menjualnya segitu. Bioskop itu kita jual Rp. 1.000.000,-. Orang dulu di Rangkasbitung disuruh beli segitu tidak ada yang berani membeli. Seluruh Rangkasbitung nggak ada yang punya uang. Seluruh Rangkasbitung. Yang beli juga orang Jakarta. Jadi kuatnya uang dulu dengan kuatnya uang sekarang bayangkan saja. Sekarang sudah tidak aneh lagi. Di kampung saja uang sekarang bisa milyaran. Di kota banyak orang susah. Pekerja pabrik dan sebagainya.
Fd: Filem apa saja yang dipertontonkan tahun 1950an di bioskop KAMI?
Ika: Saat itu filem yang diputar ialah film X Am Pay. Amerika. Itu semua produser orang Amerika. Filem-filem itu masih black and white. Belakangan ini saja color.
Fd: Film eropa tidak ada?
Ika: Ya Eropa termasuknya amerika juga. Ada Eropa film Italia, Rusia ada, Prancis, ya dunialah..!! Tapi pada umumnya disatukannya oleh pengusaha Amerika. Yang ada di Jalan Segara Satu. Dekat istana itu. Dulu. Segara satu, Segara dua, Segara Tiga. Di situ blok filem semuanya. MGM, Twentieth Century Fox, RKO, Columbia, dan sebagainya. Itu semua assembling Amerika, hanya pindah kantor-kantor saja. Saya hafal soal filem itu mah.
Fd: Bapak dapat filemnya?
Ika: Kita dapat sewa filemnya dari sana. Kan sistemnya sewa. Sewa tiga hari flat berapa? Rp.500,-. Tiga hari lima ratus perak. Karcisnya hanya seperak dulu. Bayangkan saja. Haa..haaa..!! nonton satu perak, sewanya lima ratus. Itu tiga hari belum tentu banyak orang yang nonton karena kalau orang seneng baru banyak, tapi kalau engga ya rugilah kita. Sewa lima ratus bisa rugi kita.
Fd: Saat itu ramai?
Ika: Weitss.. Jangan salah, ramai lah… Ramai sekali. Kursi lima ratus habis jikalau ramai.
Fd: Emang mereka ngerti bahasanya?
Ika: Orang-orang Indonesia segala bahasa senang kok! Ada filem Cina, orang seneng. Asal filemnya action. Filem yang dia bisa ngerti. Filem India, Italia juga senang. Sejarah itu. Gladiator, Ben Hur itu, kan, Italia.
Fd: Kalau filem Rusia?
Ika: Ya itu..!! Filem Rusia orang kurang seneng. Cara berpakaiannya juga kurang seneng. Pokoknya urusan filem saya mencari sendiri, dan sewa juga sendiri. Saya kalau ke Jakarta setiap hari atau dua kali sehari. Saya juga memutar sendiri. Pekerja bioskop tidak ada lagi. Kami sekeluarga yang mengerjakannya. Ibu, bapak, anak, dan yang lain-lain hanyalah karyawan kecil lah. Tapi kalau yang potensi urusan filem saya. Dan sayalah yang bertugas mengambilnya ke Jakarta. Kantor filem mana saja di Jakarta saat itu saya tahu.
Fd: Mungkin bapak banyak tinggal di sana?
Ika: Ya..! Saya sering tinggal di Jakarta. Saat itu saya sekolah. Di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Saya masuk kuliah tahun 1960 dan tahun 1959 saya sudah lulus dari Sekolah Lanjutan Atas (SLA), Serang. Dulu SLA di sini tidak ada. Kita sekolah ke Serang, tiap paginya kita naik kereta. Jam empat pagi, kita sudah jalan naik kereta yang menggunakan bahan bakar arang. Terkadang perih jika kena mata. Sekarang saya lihat anak-anak sekolah tinggal enaknya. Kemana-mana pake angkot. Jarak dekat juga pake angkot, dulu kita tidaklah begitu. Saya dulu tiga tahun sekolah di Serang. Berangkat pagi pulang siang. Dulu, kita belum pernah disuruh-suruh sama orang tua untuk sekolah.. sekolah..!! bangun pagi..!! Engga tuh. Bangun dan sekolah sendiri. Kalau anak-anak sekolah sekarang harus dipukul dan dibangunkan, kalau tidak, mana mau sekolah. Itu bedanya sekarang. Kita bicara realitanya saja.
Fd: Saat menyewa filem ke Jakarta apakah tidak mengalami kesulitan transportasi?
Ika: Tidak. Saya terkadang pakai kereta api dan kendaraan roda dua. Rutenya cukup jauh karena harus ke Serang dulu. Tiga hari sekali biasanya saya naik motor ke Jakarta. Bayangkan, dari sini ke Pandeglang saja 20 kilo, dari Pandeglang ke Serang jaraknya 23 kilo. Dari Serang ke Jakarta jaraknya 91 kilo. Di daerah Lebak Timur tidak ada jalan menuju Jakarta. Hanya ada satu jalan ke timur, yakni menuju Bogor saja. Jarak yang jauh saya tempuh puluhan tahun. Di jalanan kecepatan kendaraan sepeda motor mencapai 100 km/jam, itu tidak ada apa-apanya. Lari terus ke Jakarta. Kalau saya berangkat dari Rangkasbitung jam 5 pagi, jam 7 saya sudah sampai di jalan Istana Jakarta.

Fd: Bagaimana dengan sensor?
Ika: Dulu sangatlah ketat. Saya harus menyetorkan terlebih dahulu filem yang akan diputar ke polisi. Tetapi sebelumnya kami sudah memotong bagian-bagian yang vulgar supaya dipermudah. Saat pemutaran, biasanya polisi terlibat pemeriksaan secara ketat. Dia biasanya naik ke tempat proyektor dan menyalakan lampu besar. Anak buahnya dan saya menelusuri satu persatu kursi bioskop. Pernah ada kejadian saya dengan polisi terlibat pertengkaran hebat. Gara-garanya ada sepasang suami istri yang masuk bioskop terus dikeluarkan. Saya tidak terima. Penonton itu sudah menunjukan KTP dan surat nikah. Mungkin polisi hanya melihat dari tubuh dan tampang saja. Mereka memiliki tubuh yang kecil. Pokoknya polisi sering kami kritik saat itu karena biasanya ada saja masalah.

Fd: Bapak kenal dengan Misbach?
Ika: Kok kamu tahu? Misbach Yusa Biran kan? Kamu tahu darimana si Misbach?
Berapa umurmu?
Fd: Umur saya antara 26 sampai 27 tahun. Saya hanya kenal sedikit. Itupun hanya dari buku saja dan cerita-cerita kawan diskusi dari Forum Lenteng. Kalau ada waktu, saya ingin ketemu dia.

Ika: Dia itu kakak kelasku saat SMP. Waktu itu saya hanya teman bermain dengannya. Tetapi dengan Dorodjatun Kuntjorojakti saya teman sebangku. Misbach orangnya alim, dan pendiam sekali. Dia sungguh berbeda dengan kami. Dia tidak senang main bola. Dari keluarganya ada keturunan darah seni. Sehingga ada adiknya bernama Ida Farida seorang sutradara juga. Misbach Yusa Biran, foto-fotonya banyak. Dia sih hobinya memfoto. Minta sama dia saja di studio miliknya. Mungkin bisa kamu dapatkan di studio Bantam. Kami sering bermain bahkan nonton bareng di bioskop milik saya. Bilang jika ketemu dia. Ada salam dari KAMI, pasti dia tahu. Orang waktu kecil kami sering kali bermain. Tetapi saat itu dia melanjutkan SLA di Jakarta bersama Dorodjatun Kuntjorojakti. Kabarnya Kuntjoro jadi menteri yah. Benerkan? Katanya sih begitu. Saya pernah nyari-nyari buku di kediamannya di Gang Tarman. Tapi saat itu saya tidak mendapat izin oleh penjaga rumahnya.

Fd: Filem apa yang bapak suka?
Ika: Saya jenis filem apa saja suka. Asal ada sifat action. Walaupun bohong tapi saya senang melihatnya. Saya senang filem yang bisa membawa hati saya jadi keras. Tekniknya terkadang bagus. Ceritanya juga bagus. Misalkan perang, penyelundupan, saya hobi yang nonton begitu-begitu. “Intel dimasukkan ke wilayah terlarang yang tidak aman. Saya senang walau pada kenyataannya bohong. Semua filem-filem bohong, tapi kalau action dibohonginya tidak jelas-jelas.

Fd: Bapak tahu filem action Lebak Membara?
Ika: Itu, kan, sejarah. Saya, sih, senang saja. Jadi meningkatkan pengetahuan kita pada sejarah. Itu sebetulnya bagus. Tetapi gimana, saya sudah tahu itu filem.
Fd: Apa selanjutnya yang anda lakukan setelah menjual bioskop?
Ika: Saat itu, saya beralih-alih profesi. Dari mulai jadi pemborong, penjual minyak kelapa, pokoknya ikut segala macam urusan dengan kawan-kawan yang bernasib baik. Saat itu karena banyak kawan jadi saya bisa ikut mereka. Sekarang saya berumur 70 tahun lebih. Bukannya mengurangi kawan malah nambah kawan. Setiap ketemu saya dia pasti jadi kawan saya, termasuk anda. Di Lebak ini saya tidak memiliki musuh sepotongpun. Sampai ke selatan sana. Bayah.
Fd: Apakah ada yang tersisa dari dokumentasi atau arsip bioskop KAMI?
Ika: Itu dia..!! Itu kelemahan saya. Dari dulu saya tidak suka foto-memfoto bahkan mengarsipkan sesuatu. Atau intinya menyisakan untuk kenangan. Saya tidak hobi.