Tampilkan postingan dengan label ANTARA KOMIK & CERITA SILAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANTARA KOMIK & CERITA SILAT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2020

ANTARA KOMIK & CERITA SILAT INDONESIA

Ini adalah sebuah fenomenal. Bayangkan saya yang hidup di tahun 80'an saja sudah terpikat sama buku silat ini. Banyak bertebaran kios-kios yang menyewakan buku silat ini yang berjilid-jilid. Tidak heran satu buku bisa pindah tangan ke banyak orang dalam penyewaan. Belum lagi cerita tersambung, bikin penasaran, sedangkan sambungan berikutnya lagi di pinjam orang. Prustasi, di kios penyewaan buku.

Padahal ceritanya cerita kuno, dan sudah membuat kecanduan dari generasi ke generasi. Sampai sekarang pun masih enak dibaca, cuma ejaan lama dalam bahasa Indonesia. Tidak habis pikir, buku silat cetakan lama ini, laku keras di setiap generasi-ke generasi, sampai saat di era 80'an, buku itu sudah kuning warnanya, dan agak hitam, mungkin udah ribuan tangan yang pegang dan baca buku itu. Tukang sewa buku silat pun membundel buku itu kadang hanya sampai per-sepuluh jild/seri, 1-10,11-20,21-30, begitu lah. Harga baca di tempat beda dengan bawa pulang, dengan sewa per hari. Gila kan. Dan kios penyewaan buku itu penuh dengan orang yang baca, sedah kayak taman baca, kadang tidak sadar waktu juga.

Tidak heran buku silat ini menghilhami sutradara Film Indonesia untuk membuat film dengan tema silat Indonesia, mulai lag di lirik dari legenda hingga ke sejarah untuk menampilkan silatnya. Padahal waktu jaman dulu, peranakan Tiongha telah memfilmkan cerita-cerita klasik dari Tiongkok, temannya masih seputar siluman, ular, babi dan lainnya, belum ke silat. Mungkin Karena tehnis belum punya.


KOMIK INDONESIA
TIDAK TAHU KAPAN DIMULAI

Membicarakan komik Indonesia adalah membicarakan sejarahnya. Terjebak di sana. Seperti merasa belum saatnya mengulas wilayah artistiknya, atau yang lain (dengan pengecualian terhadap tesis Seno Gumira Ajidharma yang mengulas komik Panji Tengkorak karya Hans Jaladara). Tapi memang juga sejarah itu tak pernah tuntas. Komik Indonesia memiliki sejarah seperti petualangan komik itu sendiri. Acap lempeng, kadang terseok, namun tetap melaju. Komikal dan juga panjang. Lebih tua dari usia Republik ini.

Komik Indonesia modern pertama yang tercatat adalah karya Kho Wan Gie dengan karakter bernama Put On, seorang peranakan Tionghoa. Komik ini adalah strip Indonesia pertama yang terbit rutin di Surat Kabar Sin po tahun 1930. Sejak tahun 30-an sampai 60-an, Put On menginspirasi banyak komik strip lainnya. Kemudian di Solo pada mingguan Ratu Timur, terbit secara rutin komik strip berjudul “Mentjari Poetri Hidjaoe” karya Nasroen AS.

Pada akhir 1940, dalam setiap suplemen mingguan surat kabar Indonesia ada sisipan komik strip Amerika. American Invasion itu bukan kebetulan, sebab pada saat yang sama di negeri Superman itu komik sedang berada pada puncak kegemilangannya.Mereka menyebut sebagai The Golden Era dengan rentang waktu tahun 1938 – 1945. Dari sisipan itulah kita mulai kenal karakter komik seperti;Tarzan, Rip Kirby, Phantom, Flash Gordon, dan Johnny Hazard. Untuk mengimbangi komik Amerika ini, Majalah Star (1939-1942) yang kemudian bertukar menjadi koran Star Weekly menerbitkan Komik karya Siauw Tek Koei. Dalam racikan tangan seorang Siauw Tek Koei, yang memiliki teknik dan ketrampilan tinggi, komik tentang pahlawan legendaris Tiongkok Sie Djin Koei, itu akhirnya bahkan sempat mengalahkan popularitas Flash Gordon dan Tarzan. Komik ini menjadi pelopor komik silat Indonesia yang kelak populer pada tahun 1968.

Di awal tahun 1950, terbit komik strip heroik di Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, berjudul “Kisah Pendudukan Jogja”, karya komikus Abdulsalam. Belakangan komik ini dibukukan oleh Harian Pikiran Rakyat, Bandung. Sebagian pengamat komik menasbih sebagai buku komik pertama oleh komikus asli Indonesia. Saya membayangkan penasbihan itu sebagai pilihan frustatif akibat sulit menemukan identitas komik Indonesia. Padahal, apa perlunya menentukan sebuah identitas yang punya kecenderungan seragam di sebuah negeri yang penuh keragaman budaya seperti Indonesia. Bagaimanapun, komik modern Indonesia dalam sejarah awalnya mengacu dari dunia Barat. Tak kan bisa kita lepaskan nama-nama besar seperti; Jim Kirby, Will Eisner, Walt Disney, juga belakangan Frank Miller. Termasuk karakter komik seperti Tintin, Asterix, Trigan, Smurf, Paman Gober, Old Shatterhand, Roel Dijkstra, Spiderman, dan Superman. Jangan lupakan juga pengaruh Cina seperti yang ditulis sebelumnya.

 Barat (Amerika) dan Timur (Cina) mengharu-biru wajah komik Indonesia. Menyangkal keterpengaruhan adalah sikap naif. Karena itu ketika terjadi aksi imitasi hendaklah jangan keburu dipandang miring sekadar plagiasi. Terlebih jika sampai menuduh komikusnya tidak nasionalis. Konteks yang ada juga harus dipahami. Seperti kenapa R.A.Kosasih yang disebut Bapak Komikus Indoesia, tega melakukan imitasi tokoh Wonder Woman itu menjadi Sri Asih (1954). Jagoan perempuan ciptaan Dr. Willaim Moulton Marston (Nama penanya; Charles Moulton) yang tampil pertama pada bulan Desember 1941 di All Star Comics No. 8. Peniruan itu juga bukan sepenuhnya dosa dia. Penerbit yang memintanya. Dengan deformasi visual ala Kosasih, figur Sri Asih ciptanya itu menjadi tampak sedemikian Sunda saat muncul. Kita bisa melihat hal
itu justru sebagai upaya menyelamatkan komik Indonesia dari gempuran asing.

Selain itu juga, dalam dunia komik yang berkecenderungan mengusung dominasi fantasia, komikus akan sedikit kerepotan kalau sengaja meninggalkannya. Tak ayal tema aksi dan roman lebih menarik minat penikmatnya. Tema aksi cenderung berbanding lurus dengan kemengkalan tubuh seorang Super Hero. Dan ini lebih dulu ditangkap oleh komik-komik Amerika. Maka lahirlah jagoan lokal adaptasi barat yang lain seperti Garuda putih (kostumnya mirip The Flash), Kapten Komet (Flash Gordon), dan Djantaka (Tarzan). Sementara itu meskipun ada Bima dan anak-anaknya, ksatria pribumi pada umumnya berperawakan feminin seperti Arjuna, Rama, Abimanyu, Puntadewa, Kresna, dan Pandu Dewanata. Maskulinitas lebih menjadi milik dunia kejahatan Rahwana, Burisrawa, Buto Terong, Rambut Geni, Jurang Grawah, Padas gempal, dan para raksasa lainnya. 
  
Dunia fantasia di sebelahnya, yaitu komik bertema roman percintaan remaja biasa menampilkan visual perempuan seksi berpakaian ketat, model you can see, dan rok mini. Cerita yang disuguhkan juga menarik pembaca karena acap membawa mereka mengawang di dunia birahi. Dus, seperti yang dilaporkan Marcel Bonneff dalam bukunya; “Dari sudut pandang komersial, erotisme dan kekerasan lebih mendatangkan untung daripada melukiskan kebaikan hati”. Hal itu dianggap tidak berpekerti ketimuran dan hanya mementingkan bisnis. Kaum nasionalis seperti mendapat angin dan memiliki alasan tepat untuk mengantisipasi pengaruh barat. Akhirnya adapatasi komik barat ke dalam komik Indonesia mendapatkan tentangan dari para pendidik dan kritikan dari kalangan budayawan. Ini menjelang akhir 70-an, era yang belum begitu lama ketika musik pop dianggap sekadar ngak-ngik-ngok alias kontra revolusioner dan pro-Barat.

Menyadari itu, penerbit komik seperti Melodi, Bandung, dan Keng Po, Jakarta mulai mengais khazanah kebudayaan nasional. Maka cerita-cerita dari wayang Sunda dan Jawa menjadi tema-tema utama dalam penerbitan selanjutnya. Seperti hendak menebus dosa masa lalu, R.A. Kosasih dengan ketekunan seorang empu mulai mewujudkan proyek menerjemahkan epik Mahabharata kedalam komik. Berkat dia dan komikus lain seperti Ardisoma dan Teguh Santoso, kisah pewayangan menjadi semakin lebih dekat dengan kita. Akhirnya beliau berhasil menyajikan kisah Mahabharata secara utuh dalam komik. Sumatra seperti tidak mau ketinggalan dalam menghadirkan ceritera rakyat mereka. Di bawah penerbitanCasso dan Harris, Medan, para jago gambar seperti Taguan Hardjo, Djas, danZam Nuldyn, melansir komik-komik lokal yang sarat estetika dan nilai filsafat. Komik-komik yang disadur dari kekayaan lokal ini kemudian menjadi tema yang sangat digemari hingga 1970an.

Pasca 70-an arah politik Indonesia tidak lagi anti Barat. Komik-komik Barat semakin deras masuk. Otot mengkal jagoan Amerika kembali diminati. Pengimitasian juga merebak, dan hadirlah Godam (Superman), Kawa Hijau, La-Maut, Laba-Laba Merah (Spiderman), Gundala (The Flash), Aquanus (Aquaman), dan Pangeran Mlaar (The Fantastic Four). Setelah mendaki dari etape 60-an, 70-an, sampailah pada puncak Komik Indonesia sekitar tahun 1975. Namun bukan berarti tanggapan miring terhadap bahaya komik juga sirna. Sisa-sisa kekhawatiran para orang tua dan guru akan pengaruh barat terus membayangi. Hampir sebagian kita, generasi pra-manga rasanya pernah dimarahi atau setidaknya ditegur karena keasyikan menekuri komik. Hal itu seperti sebuah ironi tersendiri, sebab kekhawatiran yang sama juga pernah terjadi di Amerika, negeri para Super Hero itu. Tahun 1950-an, pada dekade itu Amerika ditandai dengan masa pengganyangan komik. Komik dituduh menjadi penyebab keterpurukan mental, pemicu kekerasan, dan kenakalan remaja. Untuk itu perlu dibuat peraturan komik (Comic Code) sebagai cara membatasi dan mengatur apa yang dapat muncul dan yang tidak di dalam lembar halaman komik. Peraturan ini menghancurkan banyak komik. Rupanya orang Barat itu juga memegang budaya Ketimuran.

Kalau saja para orang tua di Indonesia itu mau menunggu sejenak, mereka pasti tidak akan keburu sewot, sebab pasca jaman keemasan itu komik Indonesia tiba-tiba nyungsep di tahun 1980. Banyak hal yang memungkinkan itu terjadi. Selain tabiat Comicophobia para orang tua, proses pengerjaan komik relatif lebih lama dibanding menulis cerpen. Setidaknya seorang penulis cerita tidak dituntut bisa menggambar, sedangkan komikus sebaiknya juga bisa bertutur. Maka penggiat komik juga tidak sebanyak novelis. Akhirnya para penerbit mengambil jalan bisnis yang lebih masuk akal. Honor yang (seharusnya) tinggi untuk komikus cukup bisa diatasi dengan mengimpor komik-komik asing. Itulah era di mana para jagoan Jepang, Cina, Korea, Taiwan, Eropa, dan Amerika turun gunung meramaikan rimba persilatan alias dunia
komik, sementara Komik Indonesia seperti pertapa tua yang pergi menyepi.

Diniatkan dengan semangat kaum muda untuk melawan hegemoni. Hegemoni apa saja seputar perkomikan. Melawan hegemoni komik-komik dari luar Indonesia, hegemoni penerbit, serta hegemoni cerita dan karakter main stream seperti Si Buta atau Superman. Komik-komik independen Indonesia (yang cukup disebut Komik Indi) mencoba tampil berbeda, dan nyatanya memang berbeda. Mereka membuat gaya tersendiri, dan itu didapat dengan terus bereksperimen. Mereka bisa saja menggabungkan karakter Wayang, Marvel, dan Manga dalam sebuah gaya gado-gado, atau tidak sama sekali. Demikian pula cara bertuturnya. Dalam satu komik bisa tiba-tiba sangat sastrawi, berbagai bahasa, bahkan balon kata yang kosong. Mereka juga melawan hegemoni kertas dan kebukuan. Maka mereka bisa menggunakan semua media yang ada seperti tembok untuk mural, kain untuk banner dan kertas bekas sebagai poster.

Ketidakpercayaan terhadap penerbit bisa jadi lantaran buah ulah bisnis korporasi yang tidak tertarik menerbitkan komik lokal. Ini semacam solidaritas bawah sadar mereka terhadap generasi sebelumnya. Banyak komikus Indi mengandalkan mesin fotokopi dan cetak saring untuk penggandaan karya. Moto mereka adalah “Do It Yourself! (DIY)” atawa Kerjakan sendiri! Sistem distribusi dilakukan di saat ada pameran komik atau acara konser musik yang juga Indi. Perupa komik indi memang biasanya bertaut dengan kelompok Underground dan Punk. Di situ mereka melakukan transaksinya baik jual-beli atau barter. Tak jarang komikus Indi menyilakan karyanya untuk diperbanyak dan dipakai, asal memberitahu mereka untuk apa. Selain cukup merasa dihargai dengan mencantumkan kredit, mereka merasa bisa berkontribusi dalam perjuangannya. Itulah yang mereka sebut dengan “Copyleft” alias lawan dari copyright.

Hal itu senada dengan apa yang dikatakan Komikus Beng Rahadian bahwa, Komik Indi adalah sebuah antithesis terhadap industrialisasi komik. Selanjutnya Beng menambahkan beberapa kaidah komik Indi, yaitu tidak terpukau oleh produksi masal, tidak harus sebuah kerja tim, dan gagasan lebih bersifat personal bahkan cenderung liar. Komik bagi mereka hanya sebagai media penyampaikan gagasan, karya lebih jujur karena tidak ada pertimbangan laba dan komoditi. Kadang bebas melintas batasan estetika, moral, dan kultur. Nir tabu. Hal seperti ini susah diterima penerbit.

Beng mencatat komik Indi mulai mengibarkan benderanya bersamaan dengan diadakannya Pasar Seni ITB tahun 1995. Namun begitu bibitnya sudah disemai di Yogya pada tahun 1992 oleh para penggiatnya secara underground. Sapto Raharjo alias Athonk salah satunya. Seniman tato yang mengenyam kuliah di FSR – ISI Yogyakarta itu rajin memfotokopi dan membagi karya komiknya yang bertajuk Dally Land. Ketekunannya membuahkan hasil. Komiknya “Old Skull; In The Garden” memenangi penghargaan sebagai komik Indi terbaik versi KONDE 2007. Saat ini komunitas seni rupa yang menggiati komik, khususnya genre Indi mulai marak. Beberapa studio komik independen di antaranya adalah Daging Tumbuh, Apotik Komik, dan Bengkel Qomik. Pelan, Komik Indonesia mulai kembali menggeliat. Dengan caranya sendiri. Seolah Sang Pertapa Tua tadi telah bereinkarnasi.
Menyambut era komik digital.

PERJALANAN PANJANG TJERITA SILAT INDONESIA
Perjalanan Panjang Tjerita Silat Indonesia

Tjerita Silat adalah istilah yang pertama kali digunakan oleh seorang mantan wartawan harian Sin Po, Tan Tek Ho. Istilah ini digunakan sebagai nama berkala baru yang didirikannya pada 1932 yang khusus memuat terjemahan cerita silat dari bahasa Cina.

Jenis cerita ini, yang di tempat asalnya dinamai wuxia xiaoshuo atau harafiahnya “roman kependekaran” baru saja tumbuh pada perempat terakhir abad 19, tapi dengan sangat cepat disukai oleh khalayak pembacanya. Roman wuxia (atau boehiap dalam dialek Hokkian) sebenarnya merupakan cabang terujung dari tradisi sastra populer Cina yang berkembang dari kisah-kisah kesejarahan yang menceritakan para bangsawan dengan segala permasalahan, dan baru di awal abad 19, jenis ini berkembang ke kisah-kisah penyidikan kejahatan yang dilakukan oleh para magistrat.

Di penghujung abad 19, ketika kisah-kisah ini sudah jenuh, perhatian dialihkan ke para pembantu magistrat, yaitu para opas dan petugas lapangan lain yang menjalankan tugas dengan benar-benar mempertaruhkan nyawanya. Mereka ini orang-orang yang berasal dari Sungai Telaga, nama bagi satu sub-kultur dalam masyarakat Cina yang mengandalkan hidup mereka pada penguasaan ilmu bela diri.

Dalam tradisi xia atau hiap (dialek Hokkian), mereka menegakkan keadilan dan membela yang lemah. Namun sebagian anggotanya mempunyai minat lain; ada yang menjadi alat negara, pelindung keamanan baik kawasan maupun kiriman barang, lalu terakhir, ya, bergabung dengan “persaudaraan rimba-hijau” atau begal dan bandit. Di luar itu masih ada golongan agamawan, yang biasanya menjadi pendidik dan pelindung para hiap atau pendekar asli.

Di tanah air, sudah sejak akhir abad 19 dimulai penerjemahan karya-karya sastra Cina. Tapi baru pada 1909 muncul terjemahan tjerita silat, yaitu Siauw Ang Djie – Pembalesannja Satoe Nona Moedah oleh Tjie Tjin Koeij (mohon dibaca Ci Cin Kui!), dari Sukabumi.

Namun kemungkinan besar tjersil terjemahan itu pertama kali terbit di harian, karena tradisi mengisi halaman dengan tjerita bersambung sudah ada.
Kita masih harus menunggu peneliti yang mau menggeluti arah itu. Yang jelas cersil bersambung marak pada dasawarsa ketiga abad 20. Semua harian Tionghoa pasti memuat paling tidak satu cersilbung. Bahkan pada 1929 terbit untuk pertama kalinya berkala bulanan yang khusus memuat cersilbung, yaitu Kiam Hiap dari Tasikmalaya.

Sementara itu, di tempat asalnya, wuxia berkembang pesat dan melahirkan penulis-penulis besar. Ada yang bertahan dalam gaya penulisan kuno yang naratif, misalnya Xiang Kairan, Gu Mingdao dan Xi Lingfeng. Ada pula yang menjalin cersil dengan fantasi kultural, Huanzi Laozi yang menulis Shusan Qianxia (Legend of Zhu). Zheng Zhengyin, menyajikan kisah-kisah yang amat pekat dan diperkaya oleh pengalaman pribadi selama mengarungi Sungai Telaga, dalam mahakaryanya, Yingzhuawang (Eng Djiauw Ong).

Wang Dulu menimba pengolahan novel-novel Eropa dan pengamatan psiko-analisis Freud untuk menghasilkan karya-karya cemerlangnya, termasuk Pentalogi yang dipuncaki Wohu Changlong (Go Houw Tjhong Liong atau Crouching Tiger Hidden Dragon).

Karya-karya mereka inilah yang kemudian merajai media Indonesia pasca kemerdekaan. Ketika di pertengahan 1950-an mingguan Star Weekly berhasil mencapai distribusi nasional, maka cersil juga telah dibaca secara nasional, melintasi sekat-sekat etnik.
Dari anak SMP sampai sastrawan nasional dan pejabat negara membaca cersil dan menemukan dunia yang mempesona di dalamnya. Apabila sebelum tahun 1950 kita mengenal nama-nama Tan Tek Ho, Lim Tiang Tjoen, Ho Nai Chuan, Tjan Khim Hiap, Yoe Soen Po dan Oey Kim Tiang sebagai penerjemah-penerjemah handal, maka di masa berikutnya hanya tinggal Oey Kim Tiang yang tersisa sendirian.

Tjan Khim Hiap dan Yoe Soen Po masih berkarya, tapi pamornya sudah jauh menurun. Bintang baru adalah Gan Kok Liang yang memulai kariernya di harian Sin Po pada 1958. Bersamaan dengan itu, di Hongkong muncul tokoh-tokoh baru yang mengangkat cersil mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi. Zha Liangyong dan Chen Wentong sedang menjadikan genre ini sebagai karya sastra yang sebenarnya.

Zha Liangyong atau lebih dikenal dengan Jin Yong (Kim Yong) menulis hanya 15 judul, tetapi ini sudah cukup untuk mengantarkan cersil menjadi warga sastra dunia. Sejak itu Trilogi Rajawali duduk sejajar dengan The Lord of The Rings. Chen Wentong menggunakan nama samaran Liang Yusheng (Liang Ie Shen) menghasilkan puluhan judul.
Siklus Thian San saja meliputi 28 judul yang melingkupi rentang waktu hampir 400 tahun! Tahun ini sutradara Tsui Hark meluncurkan film karyanya, Seven Swords yang dilandaskan pada kisah terawal siklus Thian San (Heavenly Mountain).

Di Indonesia, meskipun pemuatan cersil di media massa dilarang pada 1961, perkembangan penerbitan buku malah semakin ramai. Dominasi dua nama O.K.T. (Oey Kim Tiang) dan Gan K.L. (Gan Kok Liang) nampak jelas. Sayang pada 1965-1966 sentimen anti komunis dibuat bercabang ke anti Tionghoa (peranakan Cina di Indonesia) sehingga penerbitan cersil boleh dibilang mati sama sekali.
Padahal animo terhadap cersil terlanjur meluas, khalayak masih haus akan cersil. Dengan sendirinya, mulai lahir penulis-penulis cersil Indonesia yang dipelopori oleh Kho Ping Hoo, disusul oleh Tjoe Beng Siang, The Eng Gie. Mereka ini lahir di Indonesia dan sama sekali tidak mengenal bahasa Cina. Mereka memperoleh ‘modal” menulis dari buku-buku terjemahan itu saja.

Selain itu lahir juga cersil dengan setting lokal (Jawa, Sunda, Batak, Bugis). Muncullah nama S.H. Mintardja, Widi Widajat, Herman Pratikto yang dengan segera mendapat sambutan hangat. Lahirlah cersil Indonesia! Belakangan, di awal 70-an, beberapa penerjemah mulai berkiprah lagi. Nama- nama yang berkibar justru dari Semarang, yaitu kakak beradik Gan K.L. dan Gan K.H. (Gan Kok Hwie), Tjan I.D. (Tjan ing Djioe) serta S.D. Liong (Sie Djiak Liong).

Kurun ini praktis dikuasai oleh karya-karya Xiong Yaohua atau lebih dikenal dengan nama-penanya Gu Long (Ku Lung). Penulis eksentrik ini menyodorkan gaya penulisan yang baru, cersil yang ditulis dengan gaya pasca modern, ringan, praktis dan puitis. Kalimat-kalimat pendek tetapi sarat makna. Sebagian karena ketiadaan karya baru, sebagian karena perubahan gaya hidup akibat tersedianya media baru, maka pada dasawarsa terakhir abad 20 penerjemahan dan penerbitan cersil bisa dikatakan mati sama sekali.

Generasi baru melahap cersil dalam bentuk yang baru, yaitu film dan video. Dari animo yang tampak, sepertinya khalayak tetap mencintai genre ini, walaupun tidak secara verbal lagi, maunya hanya visual. Beberapa orang die-harder tetap bertahan dengan menyimpan, mengoleksi dan terus membaca cersil sampai akhirnya pada 2 Desember 2002 mereka disatukan dan berkumpul di sebuah komunitas milis jagatawang (cyberspace) beralamat di tjersil@yahoogroups. com.

Dalam waktu dua tahun saja ternyata anggotanya sudah mendekati angka dua ribu anggota, sementara itu beberapa pihak juga mulai menerbitkan kembali buku-buku terjemahan langka yang telah lama hilang dari pasar itu. Tahun ini telah diluncurkan hampir 10 judul! Rupanya kelahiran kembali Tjerita Silat sudah di ufuk fajar.

HARYA SURAMINATA (Si Putra Petir)

HARYA SURAMINATA
 (Si Putra Petir)


Di tengah gempuran superhero impor asal Jepang dan Amerika Serikat, Hasmi tetap setia menghadirkan sosok pahlawan super namun bercitarasa lokal. Alhasil, Gundala ciptaanya itu sangat digemari oleh mereka yang hidup di era 80-an hingga 90-an. Kisahnya bermula ketika Hasmi sedang kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia atau ASRI.

Saat itu, usianya menginjak 23 tahun. Tokoh Gundala ciptaanya terinspirasi dari The Flash buatan DC Comic Amerika.

Meski sama-sama mengusung tema superhero yang mempunyai kecepatan kilat, Hasmi membedakannya dengan sentuhan lokas khas Indonesia. Nama Gundala sendiri berasal dari Bahasa Jawa ‘gundolo’ yang artinya bledek atau petir.

Hasmi pun mulai dikenal berkat sosok Gundala Putra Petir ciptaanya. Bersama dengan Wid NS yang juga menciptakan tokoh bernama Godam Manusia Besi. Terlalu larut dengan keasyikannya bersama Gundala, Hasmi pun harus rela mengubur impiannya menjadi sarjana alias drop out dari bangku kuliah. “Sementara saya lebih berat memikirkan membuat jalan cerita Gundala karena sudah bisa menghasilkan uang pada saat itu,” lanjut Hasmi.

Karena mengorbankan pendidikannya, Hasmi pun terpacu untuk membuat Gundala menjadi karya terbaik. Selama 14 tahun menjalani proses kreatif, Ia telah membuat Gundala dalam 23 judul antara tahun 1969 hingga1982. Di mana kisah Surat dari Akherat merupakan kisah yang terakhir dari awal terciptanya Gundala. Hingga pada puncaknya, karya Hasmi itu menjadi ikon bagi generasi tahun 70-an hingga 80-an.
 
Penciptaan Gundala oleh komikus Harya Suraminata disebut-sebut terinspirasi oleh Ki Ageng Selo, tokoh legenda yang diceritakan bisa menangkap petir. Nama Gundala sendiri berasal dari kata "gundolo" yang artinya petir.

Dalam tradisi lisan di beberapa daerah di Jawa Tengah, Ki Ageng Selo merupakan tokoh yang terkenal bisa menangkap petir. Diceritakan, suatu hari Ki Ageng Selo sedang mencangkul di sawah. Langit mendung lalu turun hujan dan tiba-tiba petir menyambarnya. Namun, dengan kesaktiannya, dia berhasil menangkap petir itu. Petir tersebut berwujud naga. Ki Ageng Selo mengikatnya ke sebuah pohon Gandrik.

Ketika dibawa kepada Sultan Demak, naga tersebut berubah menjadi seorang kakek. Kakek itu kemudian dikerangkeng oleh Sultan dan menjadi tontonan di alun-alun. Kemudian datanglah seorang nenek mendekat, lalu menyiram air dari sebuah kendhi ke arah kakek tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara petir menggelegar dan kakek nenek tersebut menghilang.




Dari kisah tersebut berkembang mitos kalimat, “Gandrik, aku iki putune Ki Ageng Selo” yang artinya, “Gandrik, saya ini cucunya Ki Ageng Selo.” Kalimat itu, bagi sebagian penduduk daerah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu misalnya, dipercaya dapat menghindarkan mereka dari sambaran petir ketika hujan datang.

Sigit Prawoto, dosen Antropologi Sosial dan Etnologi Universitas Brawijaya, dalam bukunya Hegemoni Wacana Politik menyebut, “pernyataan klaim kekeluargaan ini mengandung keyakinan kultural bahwa seseorang yang berasal dari keturunan orang yang memiliki kualitas (kasekten) tertentu akan mewarisi kualitas tersebut.”

Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir diabadikan dalam ukiran pada Lawang Bledheg atau pintu petir di Masjid Agung Demak. Ukiran pada daun pintu itu memperlihatkan motif tumbuh-tumbuhan, suluran (lung), jambangan, mahkota mirip stupa, tumpal, camara, dan dua kepala naga yang menyemburkan api.

Lawang bledheg sekaligus menjadi prasasti berwujud sengkalan memet (chronogram) dibaca “naga mulat salira wani” yang menunjukkan angka tahun 1388 S atau 1466 M. Tahun tersebut diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Masjid Agung Demak.

Lawang bledheg memiliki makna lain selain sebagai penggambaran kisah Ki Ageng Selo. Supatmo dalam "Ikonografi Ornamen Lawang Bledheg Masjid Agung Demak" yang terbit di Jurnal Imajinasi, September 2018, menyebut Lawang Bledheg berisi makna simbolis nilai-nilai pra-Islam.

 “Dalam dimensi ikonografis, keberadaan motif-motif tradisi seni hias pra-Islam (Jawa, Hindu, Buddha, dan China) pada ornamen lawang bledheg Masjid Agung Demak merupakan pernyataan simbolis tentang toleransi terhadap pluralitas budaya masyarakat yang berkembang pada masa awal budaya Islam di Jawa (Demak),” tulis Supatmo, dosen Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang.

Menurut Soetardi dalam Pepali Ki Ageng Selo, Ki Ageng Selo merupakan keturunan Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Prabu Brawijaya, dari istrinya yang paling muda yang berasal dari Wandan atau Bandan atau Pulau Banda Neira, mempunyai anak bernama Bondan Kejawen. Ki Ageng Selo merupakan cucu dari Bondan Kejawen.

Ki Ageng Selo hidup di masa Kerajaan Demak. Tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Trenggana, awal abad ke-16. Dia lahir sekitar akhir abad 15 atau awal abad 16. Ki Ageng Selo pernah ditolak menjadi anggota Prajurit Tamtama Pasukan Penggempur Kerajaan Demak.

Tak sekedar menggambar Gundala, Hasmi juga melebarkan bakat seninya ke berbagai bidang. Seperti bermain sinetron, tampil di sejumlah acara TV, serta menulis skenario film. Gundala ciptaan Hasmi, bahkan telah dibuatkan filmnya yang dirilis pada 1981.GUNDALA PUTRA PETIR

Saking digandrungi kawula muda saat itu, Preseiden Soeharto pun menyuruhnya agar dibuatkan sebuah seri komik bercerita. Alhasil, tawaran proyek yang datang membuat Hasmi dan seniman lainnya seperti Wid NS, menghentikan aktivitas menggambarnya untuk fokus membuat jalan cerita komik.

Menginjak sekitar tahun 1986, banyak penerbit menghentikan percetakan komik lokal. Tentu saj hal ini merupakan berita buruk bagi Gundala dan tokoh imajinatif lainnya. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1988, eksistensi komik lokal Indonesia benar-benar hilang dari peredaran. Seiring redupnya popularitas Gundala dan sosok lainnya, kartun manga dari Jepang perlahan mulai menyita perhatian mulai dari awal 1990-an hingga saat ini.

Setelah lama tidak terdengar, tahun 2005 agak sering diberitakan media karena rencana Penerbit PT Bumi Langit menerbitkan ulang semua karya Gundala yang mencapai 23 buku. Dan tahun 2009 ini sehubungan dengan rencana peringatan 40 tahun Gundala dan pembuatan film Gundala The Movie.

Ada beberapa fakta menarik yang berhasil saya kumpulkan mengenai Gundala dan Hasmi:

1. Gagasan Gundala diinspirasi oleh tokoh komik The Flash yang dipadukan dengan cerita legenda Ki Ageng Selo.
2. Tokoh Nemo di komik Gundala adalah cerminan Hasmi. Kebetulan Nemo adalah nama panggilannya.
3. Pengakuan terakhir Hasmi, Gundala adalah seorang insinyur bukan peneliti, dosen sebagaimana yang disebutkan di Wikipedia. Ini mungkin ada hubungannya dengan cita-citanya yang gagal menjadi seorang insinyur karena gagal masuk UGM.
4. Dalam Gundala The Movie yang akan masuk bioskop bulan Juni 2009, Gundala diceritakan sebagai arkeolog. Dalam hal ini nampaknya Hasmi keberatan. Rencana film ini nampaknya menjadi tidak jelas sesuai konfirmasi terakhir Hasmi (12/3) ke Jawa Pos. Apa yang ada di Facebook bukan resmi dari Bumi Langit tetapi merupakan inisiatif para penggemar Gundala.
5. Saat ini dia sedang sibuk menyiapkan edisi 40 Tahun Gundala bersama tim dari Bumi Langit yang rencananya diterbitkan September, sesuai kelahiran Gundala.

GundalaPuteraPetir(1969)

Komigrafi Gundala:
1. Gundala Putera Petir (UP Kentjana Agung, 1969)
2. Perhitungan di Planet Covox (UP Kentjana Agung,1969)
3. Dokumen Candi Hantu (UP Kentjana Agung,1969)
4. Operasi Goa Siluman (UP Kentjana Agung,1969)
5. The Trouble (UP Kentjana Agung,1969)
6. Tantangan buat Gundala (UP Kentjana Agung,1969)
7. Panik (UP Kentjana Agung,1970).
8. Kuntji Petaka (UP Prasidha,1970).
9. Godam vs Gundala (UP Prasidha,1971)
10. Bentrok Jago-jago Dunia (UP Prasidha,1971)
11. Gundala Jatuh Cinta (UP Prasidha,1972).
12. Bernafas dalam Lumpur (UP Prasidha,1973)
13. Gundala Cuci Nama (UP Prasidha,1974)
14. 1000 Pendekar (UP Prasidha,1974)
15. Dr. Jaka dan Ki Wilawuk (UP Prasidha,1975)
16. Gundala sampai Ajal (UP Prasidha,1976)
17. Pangkalan Pemunah Bumi (UP Prasidha,1977)
18. Penganten buat Gundala (UP Prasidha,1977)
19. Bulan Madu di Planet Kuning (UP Prasidha,1978)
20. Lembah Tanah Kudus (UP Prasidha,1979)
21. Gundala Sang Senapati (UP Prasidha,1979)
22. Istana Pelangi (UP Prasidha,1980)
23. Surat dari Akherat (UP Prasidha,1982)

Semuanya diterbitkan ulang oleh PT Bumi Langit, kecuali Bentrok Jago-jago Dunia karena masalah hak cipta.

Tahun 1988, Gundala pernah muncul di Jawa Pos sebagai komik strip.

Filmografi:
1. Gundala Putra Petir (1981, Teddy Purba sebagai Gundala, Sutradara Lilik Sudjio).
2. Gundala The Movie (rencana Juni 2009, Sandy Mahesa sebagai Gundala, Sutradara Alex J. Simal, Produksi Langit Bumi Pictures).

Fan Made Komik:
1. Gundala The Reborn (1999, Adurahman Saleh)
2. Putra Petir (2001, Riri Dewi)
3. Sancaka (2005, Ahmad Ilyas)
4. Gundala (2005, Asrulloh)
Hasmi lahir di Yogyakarta pada 25 Desember 1946. Ia menempuh pendidikan di SD Ngupasan 2 Yogyakarta, kemudian melanjutkan ke SMP Bopkri 1 Yogyakarta. Setelah SMP, Hasmi melanjutkan sekolahnya di SMA Bopkri 1 Yogyakarta. Setelah lulus SMA, Hasmi memasuki bangku perkuliahan di Akademi Seni Rupa Indonesia selama dua tahun. Namun, pendidikan di akademi seni ini tak diselesaikannya. Sejak 1968 hingga 1995, ia aktif membuat komik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Harya "Hasmi" Suraminata, Komikus di Balik Gundala Putra Petir", https://www.kompas.com/tren/read/2019/08/29/152734165/mengenal-harya-hasmi-suraminata-komikus-di-balik-gundala-putra-petir?page=all.
Penulis : Dandy Bayu Bramasta
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Sabtu, 20 Agustus 2011

DJAIR

DJAIR ( Si JAKA SEMBUNG)


Setelah Ulasan Komik Silat Cina, Silat Indonesia. Punya cerita yang khas. Dan juga goresan gambar yang bagus dengan hotam putih dan kontras yang tinggi. Membaca komik dengan gambar sangat membantu berimajinasi. Gambar yang di tampilkan sangat Cinematiq sekali, mirip kita membaca/melihat story board dalam film. ada Long Shot, bahkan Extreme close up, ada panning, dan pergerakan, ada juga efek dalam gambar. Shot atau angle frame juga sangat luar biasa imajinasinya., Fourground kaki, focus, change focus dan lainnya.Persis seperti story board dalam film. Bahkan ada rasa di dalamnya, seolah gambar-story ini bergerak, padahal gambar-gambar tunggal, tetapi otak kita yang membuat itu bergerak selayaknya film juga di mana satu detik ada 24 gambar yang berputar sehingga otak kita yang membuatnya terasa bergerak.


Dia adalah satu dari “The Big Seven”. Dan Djair Warni, komikus itu, menjadi salah satu dari tujuh besar karena karyanya Jaka Sembung, Djaka Gledek, Si Tolol, Kiamat Kandang Haur, Malaikat Bayangan, dan Toan Anak Jin. Seperti rekan-rekannya sesama “The Big Five”, Djair tergolong komikus otodidak.

Pria kelahiran Cirebon 13 Mei 1949 ini, Ia sudah membuat komik sejak masih remaja. Padahal, dulu ayahnya menaruh harapan supaya Djair bercita-cita sebagai insinyur. “Waktu itu saya sering dimarahi Ayah karena lebih senang membuat komik daripada belajar. Akhirnya saya mencuri-curi kesempatan,” tutur Djair. Ia menggemari karya-karya Ganes T.H. (Si Buta dari Goa Hantu), Jan Mintaraga (Rio Purbaya), dan Hans Jaladara (Panji Tengkorak) ini.

Mungkin karena itulah komik-komik Djair juga memiliki pengaruh dari komikus yang dikaguminya; ia cenderung mengisahkan pengembaraan seorang pendekar dalam menegakkan kebenaran. Kisah pengembaraan para pendekar yang dianggap pahlawan itu lengkap dibumbui cerita kehidupan sehari-harinya, sehingga terasa membumi. Lihat saja Jaka Sembung.

Berbeda dengan tokoh hero seperti Si Buta dari Goa Hantu atau Panji Tengkorak yang selalu berkawan dengan sunyi, Jaka Sembung justru digambarkan sebagai tokoh yang sudah berkeluarga. Atribut yang digunakan Jaka juga tidak seperti Si Buta, yang berpakaian kulit ular, melainkan baju biasa berlilit sarung. Begitu populernya hingga kisah Jaka Sembung itu sempat diangkat ke layar lebar dengan bintang Barry Prima.

Pada masa jayanya, penghasilan yang diperolehnya cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Maklum, untuk satu cerita terdiri dari 7 sampai 10 jilid ia memperoleh Rp 100 ribu, yang merupakan angka yang tinggi untuk ukuran tahun 1960-an.

Sayang, zaman keemasannya sulit terulang. Ia bahkan pesimistis, komik Indonesia bakal bangkit kembali. Soalnya, “Sekarang sudah ada televisi, bioskop, mal, dan videogame. Anak-anak sudah terbiasa dicekoki komik terjemahan dari luar negeri,” kata Djair. Ia kini banting setir menekuni profesi di dunia sinetron dan film sebagai penulis skenario. Salah satu karyanya adalah skenario film Fatahillah, yang dibiayai Pemerintah DKI (1997).

Jaka Sembung diceritakan sebagai pendekar saleh. Nama aslinya Parmin Sutawinata dan konon masih keturunan bangsawan Kesultanan Cirebon. Lalu, karena ia belajar kanuragan di sebuah perguruan di Gunung Sembung, maka ia mendapat julukan Jaka Sembung.

Jaka Sembung bukan pendekar petualang macam Si Buta atau Panji Tengkorak. Meskipun pernah dikisahkan dengan latar Maluku dan Papua, Jaka Sembung hidup menetap di desa Kandanghaur. Liku hidupnya pun tak sekelam keduanya. Ia punya istri dan sehari-hari bertani laiknya orang kebanyakan.

Barangkali, karena penggambaran yang membumi itulah Jaka Sembung sering kali disebut sebagai tokoh sejarah faktual. Selain itu, karena kesalehannya, ia juga dianggap punya kekuatan spiritual. Sampai-sampai ada orang yang menjadikannya objek ngalap berkah.

Hal-hal itu bikin gusar komikusnya, Djair Warni Ponakanda. Itu sempat di disinggung Djair di komik terakhir Jaka Sembung, Jaka Sembung vs Si Buta dari Gua Hantu (2010). Ia dapat cerita ada seorang mahasiswa pencinta alam yang ketemu arwah Jaka Sembung di sebuah hutan.

Djair dapat pula cerita bahwa seorang wartawan majalah klenik pernah bertapa di kompleks pemakaman Gunung Sembung, Cirebon. Dalam pertapaannya itu ia didatangi arwah Jaka Sembung dan dihadiahi sebuah keris pusaka.

Jaka Sembung juga dapat kiriman doa dan selawat. Itu terjadi di sebuah kampung yang sedianya akan jadi lokasi syuting sinetron Jaka Sembung. Ritual itu dipimpin oleh seorang imam masjid dan beberapa kru rumah produksi pembuat sinetron Jaka Sembung.

“Banyak orang mengira dia hidup dan nyata. [...] Jaka Sembung itu fiksi, tapi akhirnya menjadi legenda, lalu menjadi mitos," ujar Djair menegaskan, sebagaimana dikutip harian Kompas (12/7/2007).

Itu semua jelas saja bikin gusar Djair. Ia tak pernah mengira tokoh komik rekaannya akan bernasib seperti itu. Namun, fenomena itu adalah juga tengara sahih bahwa Djair, sama seperti tokoh ciptaannya, adalah komikus pilih tanding.




Djair Warni Ponakanda yang lahir di Cirebon, 13 Mei 1945, ini belajar komik secara otodidak. Ia tumbuh sebagai pembaca komik wayang yang dipopulerkan R.A. Kosasih dan Ardisoma. Dari Cirebon ia hijrah ke Jakarta untuk jadi komikus pada 1965.

Saat itu, komik berbau politik yang mekar di awal 1960 tiarap sejenak gara-gara G30S. Gantinya, genre roman remaja merebut pasar. Djair pun memulai debut komiknya di genre ini. Maka terbitlah Wajah Penuh Dosa pada 1965.

Sebagaimana komikus muda lain, mulanya Djair berproses secara “palu gada” ("Apa lu mau, gue ada"). Beberapa genre ia jelajahi. Selain roman remaja, Djair juga menggambar komik horor berjudul Ngepet dan thriller macam Psycho Diagnosa. Seturut catatan Anton Kurnia dalam Buah Terlarang dan Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017, hlm. 101), Djair juga menganggit serial komik detektif M13 dan serial komik anak Trio AIN.

Peruntungannya berbalik saat genre silat merajalela usai meledaknya penjualan Si Buta dari Gua Hantu anggitan Ganes TH pada 1967. Maka Djair ikut pula menggarap komik silat dengan tokohnya Jaka Sembung pada 1968. Akan tetapi, Djair tak ingin mengekor begitu saja. Ia menciptakan latar belakang dan karakter pendekar yang berbeda.

"Nama aslinya sebetulnya Parmin. Karena ia dari keraton alias darah biru, jadi namanya Parmin Sutawinata. Ceritanya si Jaka lahir tahun 1602, sama dengan berdirinya VOC, jadi seolah-olah dia dilahirkan untuk menentang VOC," ujar Djair sebagaimana di kutip Kompas (12/7/2007).

Dari 1968 hingga 1977, Djair membuat 21 serial Jaka Sembung. Setelah sempat vakum sedekade lamanya, pada 1987 dan 1988 serial baru Jaka Sembung muncul lagi. Satu prekuel yang menjelaskan asal-usul si pendekar terbit pada 1994. Lalu, komik terakhir Jaka Sembung terbit pada 2010.

Tak bisa disangkal, nama Djair makin kesohor gara-gara Jaka Sembung. Kepopulerannya lalu menarik minat produsen film untuk mengangkat kisahnya ke layar perak. Empat kali Jaka Sembung masuk bioskop lewat film Jaka Sembung Sang Penakluk (1981), Si Buta Lawan Jaka Sembung (1983), Bajing Ireng dan Jaka Sembung (1983), dan Jaka Sembung dan Dewi Samudra (1990).

Usai Jaka Sembung Djair juga membikin serial Malaikat Bayangan yang karakter-karakternya adalah para murid Jaka Sembung. Lalu masih ada serial silat lain seperti Si Tolol dan Jaka Geledek. Seturut catatan Kompas (26/7/2014), Si Tolol yang terbit pertama pada 1969 adalah komik Djair yang dihargai paling tinggi. Untuk satu manuskrip komik setebal 64 halaman Djair dibayar Rp100.000 sampai Rp150.000.

”Padahal, harga emas saat itu Rp250. Jadi, dari satu naskah saja saya dapat membeli setengah kilogram emas,” kenang Djair.





Dari segi keindahan dan ketepatan, komik-komik Djair masih kalah unggul dibanding bikinan Ganes TH atau Teguh Santosa. Di antara komik-komik genre silat pun semesta yang dibangun Djair tak seberapa luas karena Jaka Sembung bukanlah petualang. Tapi, tentu Jaka Sembung tak akan jadi fenomenal kalau ia tak punya kelebihan.

Menurut Anton Kurnia, ada dua hal yang membedakan Jaka Sembung dengan Si Buta atau Panji Tengkorak. Pertama, musuh utama Jaka Sembung bukan sekadar pendekar-pendekar golongan hitam, tapi kompeni VOC.

“Baru melalui serial Jaka Sembung kesadaran tentang nasionalisme yang tercermin dalam perjuangan Jaka Sembung alias Parmin Sutawinata dan kawan-kawannya melawan kaum penjajah Belanda dengan tujuan meraih kemerdekaan muncul sebagai wacana yang signifikan dalam komik silat kita,” tulis Anton (hlm. 103-104).

Terlebih itu bukan hanya perjuangannya seorang, tapi juga perlawanan kawan-kawannya dari berbagai golongan. Ada pendekar-pendekar dari Maluku, Papua, etnis Cina, dan bahkan Aborigin yang ikut berjuang bersama Jaka Sembung. Lain itu masih ada pendekar tunagrahita di kubunya.

Anton membaca unsur-unsur ini sebagai “semangat nasionalisme yang berpijak pada penghargaan atas pluralitas”.

Pembeda kedua adalah kuatnya keislaman dalam alur kisah pendekar jago golok ini. Keislaman itu muncul dalam banyak aspek, mulai dari motivasi perjuangan para karakternya, dialog, hingga segala atribut yang dikenakan. Dalam serial berjudul Wali Kesepuluh (1977), misalnya, Jaka Sembung yang dalam keadaan koma digambarkan bertemu dengan arwah Walisongo.

Nafas keislaman juga muncul dari ajian pamungkas si pendekar. Djair menamakannya jurus Wahyu Takwa. Ini adalah cara Djair menggambarkan aspek spiritual dari silat Nusantara. Baginya, betapapun kuatnya seseorang, ia akan mentok hanya jadi tukang pukul jika tanpa spiritualitas. Kekuatan spiritual adalah senjata utama Jaka Sembung, bukan golok atau tongkat yang sering ia gunakan.

“Ini jurus yang hanya dimiliki orang yang mempunyai tingkat ketakwaan tinggi. Tetapi, senjata ampuhnya adalah iman dan takwa,” kata Djair.

HANS JALADARA (Si Panji Tengkorak)

KOMIK HANS MEMILIKI CIRI KHAS TERSENDIRI

Certita yang panjang dengan menyiasati alur yang berbelit-belit dan penuh konflik satu dan yang lainnya secara berhubungan adalah agar pembaca terus membaca tidak putus karena penasaran. Tidak heran halaman nya bisa ribuan. Dia mengarang sendiri dan juga menggambarnya. Jadang dia sendiri kebingungan di saat mengarang ceritannya atas kebingungan yang di bangunnya sendiri dalam cerita. Tetapi goresan gambarnya tidak sekontras Djair, masih dianggap halus, masih mengandalkan hitam putih. Kadang untuk adegan berantem saja, dia bisa menggunakan halaman banyak untuk memanjakan pembaca berimajinasi tentang ilmu-ilmu oerkelahian tersebut.




Hans Rianto Sukandi atau yang lebih dikenal dengan nama Hans Jaladara atau Hans (lahir di Kebumen, 4 April 1947) adalah seorang komikus Indonesia terkenal. Nama Jaladara baru dipakai Hans pada awal tahun 1970-an karena ada peniru dengan nama Han, tanpa huruf S. Jaladara diambil dari tokoh komik wayang karya Ardi Soma, yaitu Wiku Paksi Jaladara. 

Hans yang pada awalnya membuat komik jenis drama, kemudian diminta sebuah penerbit untuk membuat komik serupa Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes TH. yang waktu itu tengah menjadi idola di kalangan penggemar komik. Hans kemudian menciptakan tokoh Pandji Tengkorak pada tahun 1968 dan komik ini sangat sukses dipasaran. Komik Pandji Tengkorak kemudian dibuat film dan dibintangi oleh Deddy Sutomo, Shan Kuan Ling Fung, Rita Zahara, Lenny Marlina dan Maruli Sitompul. 

Kebiasaan membaca (termasuk komik) merangsang Hans untuk berimajinasi dan merangkai cerita. Gerakan silat dalam komik merupakan aktualisasi dari ilmu yang diperolehnya saat belajar kungfu di perguruan Cheng Bu di kawasan Mangga Besar dan judo pada Tjoa Kek Tiong. 

Sekitar tahun 1975 sampai 1980-an, komik Indonesia mengalami kemerosotan seiring dengan membanjirnya komik-komik impor. Hans masih bertahan dan sempat menerbitkan Pandu Wilantara dan Durjana Pemetik Bunga. Semangatnya mulai bangkit kembali ketika ada tawaran untuk memproduksi kembali Panji Tengkorak versi 2 pada tahun 1984 dan kemudian versi 3 tahun 1996. 

Pada tahun 1990 Hans menggeluti dunia seni lukis dan beberapa kali mengikuti pameran. Ia mengaku terlambat membuat lukisan, setidaknya jika diukur dari masa kejayaan lukisan. Melukis dan mengajar hingga kini masih ia tekuni agar hobi menggambarnya tetap tersalurkan. Dunia komik memang telah menjadi bagian dari hidupnya bahkan kedua putrinya berhasil Ia sekolahkan hingga perguruan tinggi dari penghasilan membuat komik. Ia masih menaruh harapan besar, suatu hari kelak komik lokal kembali berjaya di negerinya sendiri. 

Karya Hans Jaladara
    •    Pandji Tengkorak
    •    Walet Merah
    •    Si Rase Terbang
    •    Pandu Wilantara
    •    Durjana Pemetik Bunga
    •    Intan Permata Rimba



Ketika Ganes TH menerbitkan Si Buta dari Gua Hantu pada 1967. Sejak itu genre silat jadi primadona, membawa fenomena “demam silat” ke jagat komik Indonesia.

Maka tengoklah data yang disajikan peneliti komik Marcel Bonneff dalam Komik Indonesia (1998: 51). Pada 1967 hanya ada 18 judul komik silat beredar di pasar. Kalah jauh dari komik roman remaja yang mencapai 53 judul. Tapi jumlah itu berbalik pada 1968—saat Si Buta mencapai seri ketiga. Ada 156 judul komik silat beredar di pasar, melambung jauh meninggalkan komik roman remaja yang hanya 43 judul. Tahun-tahun selanjutnya kuantitas judul komik silat selalu lebih unggul.

Banyak komikus kemudian mengikuti jejak Ganes. Namun, dari sekian banyak komikus, hanya beberapa yang bisa menyamai kepopuleran Ganes dan Si Buta. Di antaranya adalah Djair Warni dan Hans Jaladara. Nama terakhir ini terkenal berkat serial Panji Tengkorak.

Jalan pedang Panji Tengkorak pernah demikian masyhur dan jadi bagian dari budaya pop Indonesia di era akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Komik Panji Tengkorak—berikut sekuel-sekuelnya, seperti Si Walet Merah, Si Rase Terbang, hingga Panji Wilantara—memenuhi rak persewaan buku dan jadi buruan remaja-remaja yang keranjingan komik.

Tak kalah dari Si Buta, Panji Tengkorak pun dilayarperakkan pada 1971. Aktor Deddy Sutomo didapuk sebagai Panji Tengkorak kala itu. Komiknya pun digubah ulang oleh Hans dan terbit kembali pada 1984 dan 1996.

Akan tetapi, masa jaya itu berlalu dengan cepat memasuki 1980-an, ketika komik Jepang mulai membanjiri toko-toko buku Indonesia. Meski bukan musabab tunggal, kejayaan komik silat dipurnakan olehnya.

"Dengan munculnya Kungfu Boy, komik Indonesia mati thek sek [tiba-tiba]," kata Hans sebagaimana dikutip Kompas (7/11/1993).

Seperti Panji Tengkorak yang kelelahan oleh pertarungan tak berkesudahan, Hans pun pelan-pelan tersingkir dari dunia persilatan.

Hans Jaladara lahir di Kebumen pada 4 April 1947 dengan nama asli Liem Tjong Han. Ia kemudian berganti nama jadi Rianto Sukandi ketika keluarganya memutuskan jadi WNI sekira awal 1960-an. Semasa revolusi berkecamuk, keluarganya memutuskan pindah ke Jakarta.

Hans akrab dengan dunia fiksi sejak belia. Maklum ayahnya adalah guru bahasa Inggris. Dari sang ayah itulah ia berkenalan dengan kisah-kisah Shakespeare dan Alexandre Dumas. Tapi Hans tak mewujudkan imajinasinya melalui tulisan, melainkan gambar.

Hans belajar menggambar sejak sekolah dasar. Gambar-gambarnya pun biasa dibeli teman-temannya seharga seringgit. Ia lalu mulai membuat komik kala SMP. Hans sendiri mengenang, di masa itu ia menggambar sampai taraf keranjingan. Ia menggambar di sembarang buku dan kertas kosong.

"Saya sampai kena timpuk guru karena di kelas kerjanya menggambar melulu,” tutur Hans sebagaimana dikutip Kompas (28/4/2002).

Ia terus mengasah kemampuan bercerita dan menggambar hingga SMA. Seno Gumira Ajidarma dalam Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan (2011) mencatat Hans banyak menggali referensi dari karya-karya komikus yang sudah tenar dan biasa terbit di media. Ia rajin mengikuti serial Sie Djin Koei karya Siaw Tik Kwie dan Tarzan anggitan Burn Hoggart yang terbit di majalah mingguan Star Weekly. Tak ketinggalan pula karya R.A. Kosasih dan Taguan Hardjo.

Di masa akhir SMA itulah Hans menyeriusi hobinya. Ia memulai langkah sebagai komikus profesional pada 1966 dengan komik drama Hanya Kemarin yang diilhami film Hollywood Only Yesterday.

“Honor pertamanya diserahkan semua kepada orang tuanya. Selanjutnya, Hans-lah yang menghidupi keluarga yang menghidupi keluarga sampai ia menikah,” tulis Seno (hlm. 254).

Sebagai komikus ia menggunakan nama Hans, alih-alih Rianto Sukandi. Ia lalu menambahkan nama baru “Jaladara” yang dicuplik dari nama seorang tokoh komik anggitan komikus S. Ardisoma.

Selepas SMA, Hans mempertajam kemampuan menggambarnya dengan masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Nasional (STSRN) Jakarta. Tapi karena waktunya lebih banyak habis untuk berasyik-masyuk dengan komik, ia pun memilih hengkang setahun kemudian.

Bolehlah dikata, Hans Jaladara menganggit komik silat karena mengikut musim mekarnya genre itu. Penerbitnya lah yang mengarahkannya alih haluan. Sebagai komikus yang masih hijau, ia tak bisa ambil langkah lain kecuali ikut saja.

"Saya diminta membuat komik seperti Jan, Budianta. Tapi saya tidak mau meniru. Tapi ada yang mengatakan komik saya berwajah Jan," kata Hans.

Sebagai kawitan, Hans membikin Drama di Gunung Sanggabuana dalam satu jilid tamat. Barulah kemudian ia menggubah Panji Tengkorak pada 1968.

Sebagaimana diakuinya, ia tak ingin jadi epigon Ganes TH dengan Si Butanya. Karena itulah desain karakter Panji Tengkorak ia bikin sebagai antitesis Si Buta. Sementara Si Buta berambut panjang awut-awutan, Panji Tengkoraknya berambut pendek; jika Si Buta berpakaian rapi dari kulit ular, maka sang Panji berbaju compang-camping.

Mulanya Hans hanya mempersiapkan Panji Tengkorak untuk satu jilid. Ternyata penerimaan pasar begitu antusias. Jadilah serial ini baru tamat setelah lima jilid.

Pembeda lain karya Hans dengan komik silat lain adalah kuatnya drama dalam plotnya. Komik silat masa itu jamak menggunakan pembalasan dendam sebagai penggerak cerita dan motivasi para tokohnya. Hans mengambil jalan lain dengan memasukkan unsur drama, terutama kemelut cinta, dalam karya-karyanya.

Sebagaimana diamati Arswendo Atmowiloto dalam “Menggambar Kue Menghilangkan Lapar” yang terbit di Kompas (5/12/1981), empasis Hans adalah asmara tak sampai, disatroni lawan jahat, atau terpaksa hidup dengan bukan pilihannya.

Simaklah perjalanan hidup Panji Tengkorak. Mulanya ia dibikin kedanan gara-gara istrinya terbunuh. Sampai-sampai suatu kali dibongkarnya kembali kuburan si istri yang bernama Murni itu. Bukan lagi wajah rupawan yang ia dapati kemudian, tapi tengkorak yang demikian buruknya.

Tapi akhirnya kejadian itu memberinya pencerahan. Wajah tengkorak itulah sebenarnya wajah yang hakiki. Dari itulah kemudian ia memakai topeng tengkorak dan mengembara tak tentu arah. Toh, topeng itu tak mengubah kenyataan bahwa wajahnya memang tampan sejak lahir.

“Masalahnya, sekali para perempuan melihat wajahnya, mereka semua jatuh cinta. Urusan cinta ini membuat kehidupannya betul-betul pahit,” tulis Seno (hlm. 11).

Bagi Seno, ini adalah satu dari sekian paradoks yang melingkupi hidup si Panji Tengkorak. Dalam pengembaraannya, Panji Tengkorak bertemu dengan banyak perempuan dan semuanya jatuh cinta kepadanya. Tapi, di akhir cerita ia justru harus kawin dengan perempuan yang sama sekali tak ia kehendaki. Ia bahkan terikat sumpah wajib membawa jenazah istrinya ke mana pun pergi.

Tak hanya sekali Hans menganggit kisah pendekar getir macam itu. Tengoklah komik Pedang Naga Berlian (1979) sebagai tamsil lain. Alkisah, adalah seorang pendekar bernama Kido yang hendak membalas dendam kepada Indrasakti gara-gara orang tuanya dibunuh. Di tengah-tengah upaya itu, pembaca dibikin geregetan karena Kido lalu jatuh hati kepada Seruni yang tak lain adalah anak Indrasakti. Drama jadi kian runyam manakala terkuak fakta bahwa Seruni ternyata adalah saudara kandung Kido sendiri yang lama terpisah oleh suatu sebab.

Pendekar-pendekar Hans jelas beda dengan Si Buta. Sementara Si Buta mampu menuntut tuntas dendamnya dan move on dari cinta masa lalunya kala berkelana, tokoh-tokoh Hans membawa luka hati itu ke mana pun kaki melangkah.

Atas pencapaian ini Arswendo memuji Hans, “Ditopang dengan ketekunan dan kerapian goresannya tidak menjadi sembrono seperti banyak jenis silat yang lain Hans pantas berada dalam daftar komikus terkemuka seperti Jan Mintaraga, Ganes TH, maupun Teguh Santosa. Ini juga membuktikan bahwa penyamarataan mutu komik secara keseluruhan sering meleset. Ternyata masih mungkin menemukan butiran berharga dari lautan produk yang kira-kira sejenis.”

TEGUH SANTOSA (KOMIK)

EROTISME IMAJINATIF KOMIK 
TEGUH SANTOSA




Agus Santosa (lahir di Malang, Jawa Timur, 1 Februari 1942 – meninggal 25 Oktober 2000 pada umur 58 tahun) adalah seorang komikus Indonesia. Bersama Ganes TH dan Jan Mintaraga, Teguh Santosa sering disebut sebagai 'jawara' komik Indonesia. Dari segi kualitas coretan gambar dan pemahaman sejarah, bahkan Teguh dianggap melebihi 2 tokoh lainnya. Trilogi 'Shandora' merupakan karya Teguh yang sangat terkenal

Bahkan ia sampai diinterogasi polisi gara-gara dianggap keseringan menyisipkan erotisme dalam komiknya. Tentu saja, sebagai seniman, Teguh merasa kebebasannya berekspresi dikekang.

Tak mau tunduk, Teguh merepet balik polisi yang menginterogasinya. Dengan telak ia menunjuk erotisme yang sudah sejak tahun jebot hidup di masyarakat Nusantara. Contoh sahihnya: patung Loro Jonggrang di Candi Prambanan.

“Relief candi di zaman Hindu Buddha yang dirujuk sebagai cikal bakal komik Indonesia juga memuat adegan-adegan yang penuh manusia telanjang dada, termasuk wanita. Lalu mau diapakan candi-candi itu? Wong budaya kita sendiri saja juga penuh erotisme,” ungkap Teguh sebagaimana dicatat putranya Dhany Valiandra dalam bunga rampai Maestro of Darkness Teguh Santosa (2016, hlm. 33).

Tapi jangan salah sangka, meski pernah berurusan dengan polisi gara-gara erotisme, Teguh bukanlah komikus kaleng-kaleng. Namanya masyhur dan dikenang banyak penekun komik lokal bukan karena ia komikus erotis, tetapi karena roman sejarah dan silat-mistiknya. Ia adalah salah satu titan di masa puncak kejayaan komik Indonesia dekade 1970-an.

Teguh Santosa yang lahir di Malang pada 1942 belajar menggambar secara autodidak. Sekolah formalnya tak lebih tinggi dari jenjang SMA, karena setelah lulus ia memutuskan untuk jadi seniman. Untuk menyambung hidup ia berjualan amplop bergambar di depan Kantor Pos Besar Malang dan Jalan Kayu Tangan.

Wawasan dan kemampuan gambar Teguh terasah kala ia bergabung dengan grup ketoprak tobong Siswo Budoyo. Soemarmo Adji, sang ayah, adalah pelukis set di grup ketoprak itu. Dari Malang ia lantas mengembara ke Yogyakarta dan bergabung dengan grup seni Sanggar Bambu.

 
 

Di Sanggar Bambu ia mendapat bimbingan dari beberapa seniman penting. Ada pelukis Sunarto Pr, pendiri sanggar, yang mengajarinya gaya arsir dan tipografi. Lain itu Teguh juga dapat bimbingan dari Kentarjo si ilustrator cerita silat S.H. Mintarja dan komikus Abdulsalam.

“Dari pengakuan Bapak, Pak Nartolah yang mengarahkannya untuk menjadi seorang ilustrator komik, karena di Jogja pada saat itu telah banyak anggota Sanggar Bambu yang menjadi pelukis,” tulis Dhany (hlm. 6).

Memang jalan itulah yang kemudian ditempuh Teguh. Lebih dulu ia jadi ilustrator di majalah berbahasa Jawa Djaja Baja dan kemudian majalah Gelora. Ia banyak menggambar untuk kisah-kisah kepahlawanan. Hingga komik debutnya yang berjudul Suma terbit pada 1963.

Tentang komik pertama ini, Arwendo Atmowiloto dalam artikel “Koran Medan, Serta Cinta Jakarta” yang terbit di Kompas (11/8/1979), memujinya sebagai karya yang dikerjakan dengan, “Tekun, serius, sampai kepada teks yang dituliskan dalam huruf-huruf yang perbandingannya tetap. Sungguh prestasi yang tak diikuti oleh komikus yang lain.”

Selepas Suma Teguh masih menggarap beberapa komik lagi sebagai penggambar. Sebutlah Ki Danureksa dan Pusaka Sunan Giri (1964) berdasar cerita anggitan Basuki Rachmat dan Airlangga (1964) berdasar cerita dari Pitono.

Sekira 1966 Teguh pindah kerja ke majalah Kemuning yang berkantor di Semarang. Sayang sekali, majalah itu bangkrut setahun kemudian. Sejak itu Teguh memutuskan untuk mudik ke Malang dan lebih serius lagi menekuni komik.

Nama Teguh Santosa kian harum sebagai komikus pilih tanding kala ia menganggit drama sejarah Sandhora pada 1969. Terbit dalam sepuluh jilid, komik itu mendapat sambutan sangat bagus dari pembaca. Kisah Sandhora lantas dilanjutkan dengan sekuelnya Mat Romeo (1971) dan berakhir sebagai trilogi dengan Mencari Mayat Mat Pelor (1974).

Kisah ini berhulu dari petualangan Therezia Sandhora van Lawick—putri angkat seorang penyelundup senjata dari Filipina. Suatu kali dalam sebuah upaya penyelundupan senjata ke Surabaya ia bertemu dengan seorang berandal bernama Mat Pelor. Berdua kemudian mereka bertualang hingga ke Malaka, Sumatra, dan Sulawesi.

Yang bikin menarik, petualangan Sandhora dan Mat Pelor itu bersinggungan dengan peristiwa Perang Paderi yang bersejarah. Di serial kedua, giliran anak Sandhora, Mat Romeo, yang bertualang. Kali ini kisahnya terjadi Filipina, di mana Mat Romeo terlibat pemberontakan melawan penjajah Spanyol.

“Trilogi Sandhora ini dianggap salah satu komik epik terbaik Indonesia yang berlatar sejarah. Selain unggul dalam pengisahan, penggarapan visual Teguh juga amat rapi. Teguh melakukan riset, menggubah cerita, melukis dan menggambar sendiri sampul komik ini,” tulis Anton Kurnia dalam Buah Terlarang & Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017, hlm. 81).

Karya lain Teguh yang mengeksplorasi sejarah di antaranya serial Mahesa Rani yang berlatar zaman Singasari dan terbit di majalah Hai. Ada juga serial The Godfather 1800 yang mengadaptasi kisah mafia Mario Puzo ke alam Selat Malaka dan bersinggungan dengan sejarah Perang Diponegoro.

Lain itu, komik silat berbumbu mistik juga jadi trademark Teguh di pertengahan 1970-an. Sebutlah misalnya Hancurnya Istana Sihir (1972), Si Mata Siwa (1973), Kamadhatu (1975) dan Pendekar Pilihan Dewa (1979). Komik terakhir itu sungguh unik karena Teguh memadukan cerita silat dengan unsur-unsur futuristik ala film Star Wars.

Seiring dengan melesunya pasar komik pada 1980an, produktivitas Teguh juga menurun. Tapi setidaknya ia masih bertahan dengan membikin serial wayang dan kontributor komik untuk beberapa media.

“Pada 1980-an hingga 1990-an itu Teguh juga kerap membuat komik lepas untuk majalah anak-anak Ananda berdasarkan cerita rakyat dan kisah pewayangan,” tulis Anton dalam bukunya (hlm. 77).

Seturut Arswendo, komik-komik Teguh dapat dikenali dari satu ciri khasnya: teknik blok tinta. Kontras yang diciptakan blok-blok tinta hitam itu memberikan kedalaman karakter dan suasana. Menjadikan komiknya khas, bahkan dikagumi oleh maestro sekelas R.A. Kosasih.

Tapi siapa sangka, ia menemukan teknik itu mulanya dari sebuah kebetulan. Kisah itu pernah ia ceritakan kepada Syarifuddin, seorang kurator seni asal Malang yang dekat dengannya.

Suatu kali, sebagaimana biasa, ia menyerahkan sebuah manuskrip komik ke percetakan. Setelah komik dicetak, beberapa bagian gambar yang semestinya berupa arsiran ternyata berubah jadi blok-blok tinta hitam. Si operator percetakan yang ia tanya beralasan bahwa itu gara-gara mesinnya kotor saat proses cetak.

“Kok tambah apik! Akhirnya saya ulangi di karya-karya saya yang lain,” kata Teguh sebagaimana dicatat Syarifuddin dalam bunga rampai Maestro of Darkness Teguh Santosa (hlm. 91).

Ia juga dikenal tak sungkan menampilkan erotisme dalam komiknya. Tapi bukan berarti ia lantas menampilkannya sembarang. Menurut Dhany, ada kaidah artistik yang jadi peganganannya dan itu pun dilakukan selama perkembangan cerita memang memerlukan penekanan sensual.

Meski begitu, tetap saja Teguh kena sensor. Bahkan, karena berkukuh membela karyanya ia harus rela “nyantri” beberapa waktu di Polda Metro Jaya.

Kekuatan lain bikin komik Teguh khas adalah caranya bercerita yang filmis. Tak mengherankan, karena Teguh memang sering menjadikan film sebagai inspirasinya berkarya. Sebutlah misalnya Pendekar Pilihan Dewa dan The Godfather 1800 yang telah disebut sebelumnya.

Menurut amatan Seno Gumira Ajidarma dalam "Sastra Film dalam Komik Teguh Santosa” yang tayang di Kompas (15/12/2002), pengaruh film itu terlihat dari caranya menampilkan adegan laiknya kamera statis. Setiap panel komiknya pun disusun dalam sekuen-sekuen yang dinamis.

Seno mencontohkan bagaimana Teguh menggambar adegan pertempuran. Laiknya film, ia selalu memulai dengan suatu gambar long shot yang memotret seluruh medan perang. Dengan begitu pembaca dibuat akrab dulu dengan lingkungan. Setalah itu barulah ia "memindahkan kamera" kepada sudut pandang tokoh-tokoh yang terlibat.

Teguh juga piawai memasukkan adegan yang mungkin tidak penting dalam bangunan keseluruhan cerita, tapi dampak visualnya signifikan. Seno menunjuk satu contoh: close up bahan peledak yang menggelinding sebelum meledak.

Karena kelihaian itu, Seno memuji Teguh sebagai penggambar dengan teknik yang perfek. Tak ada garis atau titik yang salah tempat dalam komik Teguh. Dan karena itu, namanya sendiri adalah jaminan mutu.

“Bagi saya, komik-komik Teguh Santosa sangat berhak mendapat pembacaan yang lebih rinci dan teliti, tepatnya lebih bertanggung jawab, di mana bisa dimainkan berbagai teori budaya visual, untuk sebuah penjelajahan yang lebih sistematis, sebagai suatu tugas untuk masa mendatang,” tulis Seno menutup uraiannya.