Tampilkan postingan dengan label BATAVIA BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BATAVIA BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2020

JAKARTA-DJAKARTA-BATAVIA BIOSCOOP

BATAVIA - DJAKARTA

Sebelum kita ngomongon film dan pemutarannya dan bioskopnya, tempat ini yang perlu di ketahui dulu.

PRINSEN PARK


Awalnya, Prinsen Park adalah satu di antara taman kota di Batavia, seperti Deca Park di kawasan Monas, Hertog Park di kawasan Pejambon, dan tentu saja taman indah terbesar, Wilhelmina Park, yang kini menjadi Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Meski demikian, para seniman lebih suka berkumpul, berbincang berbagi ide, dan berlatih di Prinsen Park. Mereka kemudian membangun bedeng-bedeng pertunjukan di sana.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Prinsen Park, Kenangan akan Taman Budaya", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2013/04/12/04044738/prinsen.park.kenangan.akan.taman.budaya?page=all.


Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
Awalnya, Prinsen Park adalah satu di antara taman kota di Batavia, seperti Deca Park di kawasan Monas, Hertog Park di kawasan Pejambon, dan tentu saja taman indah terbesar, Wilhelmina Park, yang kini menjadi Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Meski demikian, para seniman lebih suka berkumpul, berbincang berbagi ide, dan berlatih di Prinsen Park. Mereka kemudian membangun bedeng-bedeng pertunjukan di sana. 
 
Prinsen Park mulai ”menyala” setelah kelompok Komedi Stamboel asal Surabaya, Jawa Timur, manggung di sana tanggal 30 Maret-24 Mei 1894, dengan penghasilan bersih 10.000 gulden. Hal ini memicu tumbuhnya kelompok komedi lainnya. Sejumlah bangunan pertunjukan sederhana pun bermunculan di Prinsen Park.

Tidak seperti para pemain Komedi Stamboel yang umumnya masih berdarah Indo, para pemain komedi kelompok baru ini menampilkan para pemain pribumi. Meski demikian, mereka masih menggunakan resep tontonan Komedi Stamboel berupa dansa tango, kabaret, tablo, waltz, dan polka dengan kostum ala bangsawan Barat.

Mereka tak mengenal naskah panggung. Semua percakapan di panggung adalah hasil improvisasi karena para pemainnya masih buta huruf.

Tahun 1920-an, muncul kelompok Opera Melayu. Sebagian pemainnya tinggal di belakang Prinsen Park, diikuti para pemain kelompok komedi lainnya. Sejak itulah muncul permukiman artis yang oleh almarhum Bing Slamet kemudian diproklamirkan sebagai permukiman artis Tangkiwood.

Permukiman artis semakin berkembang setelah Tan Hin Hie (1891-1969), yang kemudian menjadi pemilik kompleks Lokasari, mendirikan bilik-bilik penginapan bagi para pemain komedi. ”Dindingnya dari anyaman bambu, sementara atapnya dari seng. Hin Hie berinisiatif membangun bilik-bilik ini karena kasihan melihat banyak pemain panggung keleleran tidur di panggung,”

Hin Hie dikenal sebagai raja ikan asin terbesar. Basis bisnisnya di Bagansiapi-api, Riau.

Tahun 1920 sampai 1950-an, Tangkiwood dikenal sebagai permukiman artis, sementara Prinsen Park, yang kemudian bernama Lokasari di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, menjadi pusat industri hiburan tontonan di Batavia. Kedua lokasi berada di Kelurahan Tangki, Kecamatan Tamansari, Jakbar. ”Tangkiwood tumbuh setelah Prinsen Park ramai,

Prinsen Park semakin ingar-bingar setelah munculnya persaingan antara kelompok Orion (1925) dan kelompok Dardanella (1926) dari Sidoarjo, Jatim. Kedua kelompok ini menjadi cikal bakal sandiwara modern Indonesia . Mereka merombak beberapa tradisi di masa stambul, seperti membuat pembagian episode yang lebih ringkas, menghapus adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau tarian di tengah adegan, dan menghapus kebiasaan memainkan lakon hanya dalam satu malam pertunjukan. Kedua kelompok sandiwara ini melahirkan nama-nama besar artis panggung Indonesia.

Kelompok Orion melahirkan Miss Riboet dan Fifi Young. Sementara kelompok Dardanella melahirkan nama Ferry Kock, Miss Dja, Tan Tjeng Bok, dan Astaman yang dikenal sebagai ”The Big Five”. Tahun 1934, kelompok Orion tutup setelah kalah bersaing dengan kelompok Dardanella. Saat itu, seorang produser pemilik perusahaan film Jawa Industrial Film (JIF), The Teng Chun, sedang mengawali usahanya. Pria kelahiran Jakarta, 18 Juni 1902, ini sadar, untuk menarik penonton film dibutuhkan kehadiran para bintang panggung. Ia pun melirik Tan Tjoei Hock, pria kelahiran Jakarta, 15 April 1908. Dengan mudah, Tjoei Hock membujuk para bintang panggung di Prinsen Park bergabung dengan JIF. Sebab, ia sudah sering membantu kegiatan teater di sejumlah tempat pertunjukan di sana. Para bintang panggung pun tak asing lagi dengan Tjoei Hock. Bintang yang bergabung dengan JIF, antara lain, Tjeng Bok, Moh Moctar, Bissu Usman, dan Hadidjah.

Tahun 1939, Teng Chun memberi kesempatan Tjoei Hock menjadi sutradara film. Perusahaan film pun mulai bertebaran di sekitar Prinsen Park sampai kawasan Hayam Wuruk-Gajah Mada. Sederet nama bintang film pun muncul. Bissu dalam film pertama Tjoei Hock, Oh Iboe, dan Tjiandjoer (1938); Tjeng Bok dengan film perdananya, Srigala Hitam (bermain bersama Moh Moctar dan Hadidjah, ibunda violis Idris Sardi); serta tentu saja Roekiah dengan film pertamanya yang meledak, Terang Boelan (1937). Roekiah yang meninggal di usia 28 tahun adalah ibunda penyanyi flamboyan Rachmat Kartolo. Menurut Remy Silado, sejarah musik jazz di Indonesia juga berawal dari Prinsen Park. Saat muncul di Prinsen Park, musik jazz di Batavia diwarnai musik New Orleans berunsur march, ragtime, dan dance hall music. Pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman, pada tahun 1920-an membentuk kelompok jazz, Black & White, dan sering tampil di Prinsen Park. Kelompok jazz lain yang kemudian menjadi arus utama musik jazz di Indonesia, lanjut Remmy, adalah kelompok jazz Melody Makers pimpinan Jacob Sigarlaki yang dibentuk tahun 1930-an. Dalam kelompok ini bergabung Bootje Pesolima, Hein Turangan, Nico Sigarlaki, dan Tjok Sinsu (George Rudolf Wilhelm Sinsu atau George Shin Soe)—kakek musisi jazz Kibaud dan Ireng Maulana.

Tahun 1970-an, pamor Prinsen Park dan Tangkiwood memudar sampai akhirnya diremajakan Pemprov DKI tahun 1985. Prinsen Park pun berganti nama menjadi Tempat Hiburan Rakyat Lokasari. Saat itu Lokasari menjadi gedung bioskop—Merpati, Tamansari, Mangga Besar, dan Rukiah—lapangan basket, kolam renang, kios-kios cendera mata, sekolah dansa, bar, restoran Happy World, serta sejumlah restoran yang menyajikan menu ular, monyet, tenggiling, buaya, dan biawak.

BIOSKOP


Pemutaran film dalam ruang bernama bioskop di wilayah Indonesia dimulai di Batavia. Waktunya hanya terpaut lima tahun dari saat pertama teknologi ini diperkenalkan di sebuah kedai kopi, Grand Cafe, Boulevard des Capucines, Paris oleh Lumiere bersaudara pada 28 Desember 1895. Kedatangannya di wilayah Indonesia bahkan mendahului ke Korea (1903) dan Italia (1905).

Pada tanggal 30 November 1900, koran Bintang Betawi memuat iklan persiapan pertunjukan perdana ini: De Nerdelandsche Bioscope Maatschappij (Maatschappij Gambar Idoep) memberi tahoe bahoewa lagi sedikit hari ija nanti kasi liat tontonan amat bagoes, jaitoe gambar-gambar idoep dari banjak hal jang belon lama telah kedjadian di Europa dan di Africa Selatan.

Beberapa hari berikutnya, 4 Desember 1900, Bintang Betawi memuat lagi iklan bahwa mulai keesokan harinya akan diselenggarakan pertunjukan besar pertama yang akan berlangsung setiap malam. Waktu pemutarannya setiap jam 19.00 bertempat di sebuah rumah di Tanah Abang Kebondjae, bersebelahan dengan bengkel mobil Maatschappij Fuschss. Kelak rumah ini akan menjadi The Rojal Bioscope

Film pertama yang diputar adalah kompilasi film dokumenter yang berisi: Masoeknja Sribaginda Maharatoe Olanda bersama-sama jang moelja Hertog Hendrik kedalem kota Den Haag, roepa-roepa hal jang telah terdjadi didalem peperangan Transvaal. Lebih djaoeh ditontonkan djoega  gambarnja barang-barang matjem baroe jang telah ada di tentoonstelling di kota Parijs (Bintang Betawi, 30 November 1900).

Pelan2 terjadi perkembangan dalam materi film yang diputar dan rupa gedung pertunjukannya.  Pada tahun 1903 sudah ada film cerita seperti kisah hidup Yesus Kristus atau liputan pernikahan Ratu Wilhelmina. Di dalam gedung, kursi penonton dibagi ke dalam tiga kelas, I, II, dan III, sesuai status sosial penontonnya. Orang2 Eropa dan kaum bangsawan menonton di kelas I, kaum Tionghoa atau India di kelas II dan pribumi di kelas III. Pertunjukan saat itu dimuali pada jam 21.00.

Tahun 1904, sudah muncul bioskop dari perusahan luar negri seperti Biograph Compagnij yang mendirikan bioskop di Tanah Lapang, Mangga Besar, disusul oleh American Animatograph yang membuka bioskop di Gedong Kapitein Tan Boen Koei di Kongsi Besar. Pada tahun 1905 itu, The Rojal Bioscope memperkenalkan sebuah teknik baru, gambar idoep jang bisa bitjara. Caranya? Dengan peralatan eletronik, suara diisi oleh orang pada saat film diputar.

Berkat perlengkapan elektronik baru itu juga The Rojal Bioscope mampu menjajikan gambar yang tidak berkeledepan atawa gemeteran. Film berteknologi baru yang diputar mulai tanggal 6 November 1905 itu antara lain berjudul Biograph Anak Gadis dari Orleans dan Chronophone Dokter Gigi.

Sementara itu, walaupun bentuk hiburan gambar idoep ini cukup menghebohkan pada awal kehadirannya, namun perkembangannya tidaklah terlalu menggembirakan. Selain perkembangan situasi politik yang menghangat ke arah kebangkitan nasional, ada beberapa penghambat lain yang muncul, seperti materi film yang masih sangat sederhana atau harga tiket yang cukup mahal dengan sistem pembagian kelas yang rasialis. Bahkan pernah pula diterapkan pemisahan tempat duduk antara pria dan perempuan. Yang terakhir ini tentu saja merepotkan pasangan suami istri sehingga akhirnya diterapkan juga dispensasi2.

Mungkin karena itu juga bioskop lalu banyak dipakai untuk berbagai pertunjukan dan kegiatan lainnya seperti pertunjukan toneel atau operette, bahkan juga untuk kegiatan2 sosial politik. Seperti yang terjadi di Oost-Java Bioscope Theatre, Surabaya. Pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di sana dilaksanakan sebuah kongres yang sangat penting bagi masa depan Indonesia, yaitu Kongres Pemuda II. Pada kongres itulah pertama kalinya W.R. Soepratman memperkenalkan lagu karyanya, Indonesia Raja.


Berdasarkan halaman iklan surat kabar Java-Bode (Utusan Jawa) edisi 9 Oktober 1896, Louis Talbot, fotografer berkabangsaan Prancis yang tinggal di Batavia, telah memutar film pada 11 Oktober 1896. Tempat pemutaran di Batavia Schouwburg (sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Yang nantinya gedung ini akan menjadi bisokop bernama New City Theatre, lalu dialih funsikan lagi ke awal sebuah gedung pertunjukan.

BATAVIA SCHOUWBURG / GEDUNG KESENIAN JAKARTA


Artinya orang-orang di Batavia (Jakarta) telah menikmati film hanya berselang 10 bulan dari pemutaran film pertama di dunia yang digagas Louis dan Auguste Lumiere di Grand Cafe Boulevard des Capucines, Paris, Prancis.

Bioskop kala itu belum eksis. Tempat pemutaran biasanya menyewa gedung atau rumah. Salah satu yang jadi tempat favorit beberapa perusahaan gambar idoep untuk memutar film adalah The Manege Fuchs, di Tanah Abang, Jakarta Pusat.


Bioskop di pasar tahunan Pasar Gambir di Batavia tempat film Foolish Wives oleh sutradara Erich von Stroheim diputar.


Pemutaran tak jarang juga berlangsung di area terbuka semisal lapangan dengan konsep bioskop keliling atau gerimis bubar (misbar).

Karena dipakai berkeliling, bangunannya juga bisa dibongkar pasang. Bentuknya seperti bangsal, dinding terbuat dari gedek beratapkan seng. Surat kabar kala itu menyebutnya dengan istilah flying bioscope.

Ambil contoh bentuk The Royal Bioscope yang diusahakan oleh Abdulally Esoofally saat mentas di Surabaya pada 1903.

"Sebuah tenda setinggi 100 kaki dan lebar 50 kaki, disangga oleh empat tiang yang bisa menampung seribu orang," tulis Dafna Ruppin dalam makalah "From Crocodile City to Ville Lumiere: Cinema Spaces on the Urban Landscape of Colonial Surabaya".

Bioskop menjadi bentuknya yang sekarang alias gedung permanen setelah dianggap sebagai bisnis yang menjanjikan. 

Pemerintah Hindia Belanda yang menyadari potensi pemasukan dari bisnis baru ini kemudian membentuk Dewan Kota pada 1907. Tugasnya membuat peraturan baru dan skema perpajakan terkait hiburan publik.

Saat itu bioskop permanen di Batavia sudah ada, antara lain Cine Lumen di Tanah Abang, Thalia Theatre di Mangga Besar, Globe Bioscope di Pasar Baru, Flora Theatre di Pasar Senen, dan Elite Bioscope di daerah Pintu Air.

GLOBE BIOSCOOP / PASAR BARU

 

Maraknya pengusaha yang terjun ke bisnis bioskop di ibu kota melahirkan Batavia Bioscoopen Bond yang kemudian berganti nama jadi Jakarta Bioscoopen Bond. Hal serupa terjadi di kota-kota lain. 


BIOSKOP THALIA-GLODOK


BIOSKOP CHUNGHUA GLODOK



BIOSKOP ORION GLODOK

                   
 
Para pengusaha bioskop di seluruh Indonesia kemudian berhimpun dalam satu wadah bernama Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (PPBSI) pada 10 April 1955.

Setelah itu PPBSI berganti nama jadi Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GAPEBI) dan terakhir mengusung nama Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI).

Ketika Jepang datang menjajah kurun 1942-1945, tersisa 52 gedung saja. Banyak bioskop yang tutup lantaran harga tiket mahal (10 sen per lembar alias setara satu kilogram beras).

Film yang diperbolehkan tayang kebanyakan mengandung propaganda alih-alih hiburan. Alhasil warga ogah menonton. 

Satu dekade setelah kemerdekaan Indonesia, sebanyak 800 gedung bioskop beroperasi kembali. Hingga medio 60-an, jumlah tersebut menyusut lagi menjadi 350.

Penyebab melorotnya jumlah bioskop pada era itu lantaran gerakan pengganyangan film-film impor dari American Motion Pictures Association Indonesia (AMPAI) oleh Panitia Aksi Pengganyangan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS).

Ibarat kendaraan yang kehabisan bensin, sejumlah bioskop yang tak mendapat suplai film gulung tikar dan beralih fungsi jadi gudang penyimpanan beras atau gedung pertunjukan drama, wayang orang, lenong, ketoprak, dan ludruk.

Ketika tampuk pemerintahan berganti dari Orde Lama ke Orde Baru, kebijakan lawas pun ikut tumbang. Usaha perbioskopan bermekaran lagi seturut terbukanya kembali kran film impor.

Pada 1973, jumlah bioskop di Indonesia meningkat menjadi 587 buah. Kejayaan bioskop di Indonesia terjadi pada 1990. Jumlahnya saat itu mencapai 2.600 gedung dengan 2.853 layar.

Saat perfilman tidur panjang sejak medio 90-an, jumlah bioskop menurun drastis. Tersisa hanya 264 bioskop dengan 676 layar pada 2002.



BIOSKOP REX




BIOSKOP CAPITOL



BIOSKOP METROPLE
 

Metropole yang terletak di Jalan Diponegoro. Bioskop ini kemudian berganti nama menjadi Megaria pada saat ramainya aksi ganyang budaya barat di saat pemerintahan Bung Karno. 


BIOSKOP GARDEN HALL - KEBAYORAN BARU


GARDEN HALL & PODIUM THEATRE- Taman Raden Saleh / Taman Ismail Marzuki 

Gerbang Kebun Binatang Tjikini

 GERBANG Taman Raden Saleh

 Bioskop

Bioskop

Dulunya, hingga akhir tahun 1960, di kompleks TIM masih bernama Taman Raden Saleh. Isinya selain kebun binatang juga bioskop Garden Hall dan Podium. Dalam tulisannya Cikini Atawa Cekini, Alwi Shahab menjelaskan, Garden Hall adalah bioskop kelas satu, sedangkan Podium yang berada di sebelahnya adalah bioskop yang lebih kecil. Majalah Star News terbitan 15 Desember 1955 menyebutkan, bioskop-bioskop yang memakai wide screen adalah Cathay, Metropole, Garden Hall, dan Menteng. Sementara itu, Podium digambarkan sebagai bioskop yang penontonnya adalah mereka yang menganggap nonton bioskop itu setidak-tidaknya bukan hiburan dan punya pandangan bahwa film itu suatu hasil seni. Sejak tahun 1968 kompleks tersebut dinamai Taman Ismail Marzuki.

Garden Hall sempat berganti nama menjadi STAR di pertengahan tahun 1970 an. Di tahun 1983-1987 berganti nama lagi menjadi TIM Theatre dan tanggal 16 Agustus 1989 diresmikan menjadi TIM 21 Theatre oleh gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto. TIM 21 masih beroperasi saat ini.

Podium, kalau tidak salah dibangunnya ketika jaman Jepang. Peruntukkannya sebagai tempat bilyar. Ketika menjelang Proklamasi (15 Agustus 1945) pernah dipergunakan sebagai pertemuan rahasia para pemuda dengan kesatuan PETA. Pemuda meminta kesediaan PETA untuk bergabung dalam demo dan usaha merebut senjata dari dari Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945 pagi. Tapi Latif Hendraningrat yang saat itu bertemu dengan Chairul Saleh tidak menanggapainya. Justru Singgih lah yang kemudian ikut rapat-rapat di Menteng 31 (Malam tgl 15 Agustus 1945). Buntutnya penculikan BungKarno-Bung Hatta ke Rengasdengklok 16 Agustus 1945 subuh.
 
Asal muasalnya, Taman Raden Saleh adalah Planten en Dierentuin te Batavia. Yang membangun konon kabarnya Raden Saleh Sjarif Bustaman sendiri. Ini bisa dimengerti kalau daerah tersebut milik pribadinya dan nyambung dengan RS Cikini (yang dahulunya termasuk bagian rumah Raden Saleh) sampai kali Ciliwung di belakang.
 
Ada kisahnya soal bioskop Garden Hall. Ketika itu ada seorang putra Betawi bernama Nasir. Dialah pemilik bioskop yang diberi nama Garden Hall. Gedungnya, bekas gedung utama Dierentuin itu (gambar atas) yang awalnya peruntukkannya sebagai gedung pertemuan merangkap gedung pertunjukkan dan kebetulan cocok buat bioskop. Garden Hall kemudian punya adik yang namanya Podium. Podium adalah gedung kecil yang lantainya rata yang bisa dipakai untuk multi fungsi. Dahulu di tempat ini ada pertunjukkan matinee alias pertunjukkan siang. Sekolah-sekolah sekitar terutama SMP 1 dan Perguruan Cikini sering diundang dan nonton film untuk semua umur khususnya film Indonesia seperti si Pincang, Aneka Warna, Si Melati, Amrin membolos, layang-layangku sampai Jenderal Kancil (bintang utamanya Ahmad Albar), Sebaliknya Garden Hall merupakan teater komersial cabang atas seperti Menteng, Metropole.

Film yang diputar pada umumnya terkait gala premier produksi Holywood. Kalau pertunjukkan akan mulai, anak-anak muda pada mejeng disekitar teras terutama kalau yang diputar film anak muda saat itu seperti Jail House Rock, Giant, Rebel Without a Caused, Love Me tender, April Love dll. Belakangan sesuai kebijakan DKI, Garden Hall diminta pindah. Kepada Nasir diganti tanah di Kebayoran.


BIOSKOP MENTENG


Bioskop Menteng, kini menjadi komplek pertokoan dan hotel. Lokasi tepatnya di Jalan H.O.S Cokroaminoto, di samping kawasan bekas lapangan Persija atau Taman Menteng sekarang. 
 
BIOSKOP RIVOLI (KISAH RIVOLI YANG TRAGIS)


Pada tahun 1936, Jakarta baru punya 15 gedung bioskop. Tahun 1970, Jakarta udah punya 53 bioskop. Dari 53 bioskop, salah satunya Rivoli.

Bioskop Rivoli terletak di jalan Kramat Raya. Lokasi bioskop yang didirikan tahun 1950-an ini berbatasan dengan jalan Pal Putih, Kelurahan Kramat, dan Kecamatan Senen. Menurut data, pemilik bioskop ini bernama Hj. Zuleha. Namanya Rivoli kabarnya berasal dari kepanjangan Revolusi Nasional.

Entah apa yang membuat Hj. Zuleha mendirikan bioskop yang segmented ini. Barangkali gara-gara tahun 50-an, komunitas orang India begitu banyak dibanding etnis Cina. Menurut Ilham Bintang yang gw ambil dari buku Pantulan Layar Putih: Film Indonesia dalam Kritik dan Komentar karya Salim Said (Pustaka Sinar Harapan, 1991), pada tahun 60-an yang menjadi “tuan rumah” adalah film-film dari India dan negara-negara sosialis. Namun, hal tersebut wajar. Eropa Barat saja didominasi oleh film-film Amerika alisa Hollywood.

Oleh karena film India menjadi “tuan rumah”, Rivoli menjadi bioskop number one. Betapa tidak, film-film India baru, secara eksklusif diputar di bioskop ini. Pribumi yang maniak film Bollywood dan tergila-gila oleh penampilan bintang Hema Malini, Amitabh Bachchan, Anil Kapoor, Karishma Kapoor, Shahrukh Khan, Kajol, dll nggak mungkin nggak nonton di Rivoli. Nggak heran, Rivoli nggak cuma jadi venue buat etnis India, tapi juga pribumi, khususnya warga Betawi.

Seiring munculnya televisi swasta, Rivoli mulai turun kelas. Dari bioskop elit, jadi bioskop kelas dua. Ini menginjak di dekade 90-an. Meski begitu, warga pribumi kelas dua tetap setia nonton film yang ada bintang pujaan hati mereka di bioskop Rivoli. Hebatnya, mereka ini nggak cuma sebulan sekali nonton, tapi bisa berkali-kali keluar masuk bioskop. Biasanya penonton yang gemar ke Rivoli dari segmentasi anak-anak muda yang berstrata sosial menengah bawah. Padahal saat itu ada saingan bioskop Rivoli, yakni Rialto Senen (sekarang udah menjadi Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata) dan Grand Teater yang nggak jauh dari situ.

Ternyata Rivoli jadi tempat pacaran yang paling asyik. Maklumlah, harga tiket masuk (HTM) relatif murah. Dengan kondisi kursi yang kulit yang lumayan empuk dan remang-remang, jelas akan mempermudah pasangan buat melakukan aksi berpacaran. Terakhir yang gw denger, banyak wanita-wanita muda di situ yang bisa diajak nonton on the spot. Tinggal kenalan sebentar, suka sama suka, bayarin nonton, dan pacaran deh di dalam gedung bisokop. Lumayan kan dua jam bisa pegang-pegangan tangan, pelukan, dan bahkan pake adegan ciuman segala. Lho kok dua jam? Yaiyalah! Tahu dong film India durasinya lama, cong!

"Kami terpaksa ber-dang-dang-dut, karena tidak bisa memutar film nasional", kata Hasbullah. Kalo Rivoli memutar film Indonesia, bioskop lain akan memboikot film tersebut. Caranya? Dengan tidak mau memutarkan film Indonesia di gedung bioskop. Kalo film-film Indonesia nggak mau diputar, ya otomatis film nggak laku. Nggak heran kalo Produser enggan membawa copy film ke Rivoli.

Menurut Johan Tjasmadi yang waktu itu Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), keterangan Hasbullah di atas tadi itu nggak 100% benar. Bioskop Rivoli kebetulan memang nggak termasuk salah satu grup yang mengurus soal booking dan show. Selain itu, Rivoli juga udah cukup karena mengkhususkan diri dalam film India. Enggak bisanya Rivoli memutar film nasional, itu lebih karena sebagai taktik pemasaran.

Demi eksistensi bioskop, berbagai upaya dilakukan. Namun Pemilik bioskop tetap pusing tujuh keliling, karena di ujung tahun 90-an, Rivoli nyaris nggak ada penontonnya. Nggak heran kalo bioskop ini kemudian dibiarkan kosong. Konon agar bisa menutupi biaya operasional Petugas gedung, Pemilik menyewakan ke sebuah usaha penerbitanan. Sayang, usaha ini bangkrut. Lalu halaman parkir bioskop dimanfaatkan sebagai lahan parkir, dimana di situ juga ada warung makan dan toko kecil.

Namun di tahun 2009, Rivoli cuma tinggal kenangan. Bioskop ini udah dibongkar. Sebagai warga Betawi yang dahulu kala sempat merasakan bangku bioskop di Rivoli, terus terang gw sedih. Kabarnya, di lahan seluas lebih kurang seribu meter persegi ini akan dibangun sebuah hotel. Entah benar atau enggak, satu hal yang pasti, nanti gw nggak akan bisa cerita lagi ke anak dan cucu gw tentang Rivoli.


CATHAY THEATRE


BIOSKOP MANGGARAI


Dulu di daerah Manggarai ada kolam pemandian (zwembad) Manggarai yang pada akhir tahun 1960-an berubah fungsi menjadi gedung bioskop.

Menurut dr. Firman Lubis, pada masa itu interior dan fasilitas gedung bioskop masih sederhana namun tergolong bagus untuk masa itu. Dulu ada 3 kelas karcis bioskop yang berbeda-beda harganya. Kelas paling murah adalah yang terdepan dan sering disebut kelas kambing. Kalau sehabis nonton di kelas ini, biasanya otot leher akan sakit dan kepala menjadi pusing.

Kelas yang di tengah disebut stalles. Sedangkan kelas paling mahal terletak di belakang dan disebut loge (dibaca: lo:sye).

Film-film Amerika Serikat pernah diboikot sebagaimana produk-produk Barat lainnya yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Bahkan dulu kantor AMPAI (American Motion Picture Association of Importers) yang terletak di pojok Jl. Veteran pernah didemo para pemuda komunis yaitu Pemuda Rakyat. Mereka menuntut penghentian masuknya film-film Amerika yang dianggap berbau Nekolim. Pada masa itu dibentuk pula organisasi PAPFIAS atau Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis AS. Direktur AMPAI yaitu Bill Palmer dituduh agen CIA dan kelak bungalow nya di daerah Puncak diserbu dan dirusak massa.

Menjelang 1965 semua pereferan film Amerika dihentikan. Sebagai gantinya, bioskop-bioskop memutar film-film Rusia, Eropa Timur, Tiongkok, Jepang dan film nasional. Uniknya, dr. Firman Lubis mendapat informasi dari sumber terpercaya bahwa setiap minggu Bung Karno memutar film-film Amerika di istana!


GRAND SENEN


Grand Senen, memang Legend, beberapa bioskop hancur karena 21, dia masih bisa bertahan, dengan film film Indonesia erotisnya yang dibuat di masa tahun 2000'an juga. Artinya, penikmatnya memang ada, maklum di wilayah senen yang legenda, penontonnya juga bermacam-macam, preman, tukang butuh hiburan, hingga gay.

BIOSKOP ROXY

 Jl. Tanggerang (Tempat grosir HP Roxy)


CINEMA PALACE - KREKOT

jl Samanhudi, Jakarta

KENTJANA THEATRE - JATINEGARA




DJAKARTA THEATRE


BUARAN THEATRE




NIRWANA PASAR MINGGU




Berikut bioskop-bioskop terkenal di Jakarta pada tahun 19d0-an:

Metropole yang terletak di Jalan Diponegoro. Bioskop ini kemudian berganti nama menjadi Megaria pada saat ramainya aksi ganyang budaya barat di saat pemerintahan Bung Karno.
Garden Hall. Terletak di kompleks kebun binatang Cikini.
Podium bioskop berada di sebelah garden hall.
Astoria di Pintu Air, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Capitol di Pintu Air, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Grand yang terletak di sudut Kramat-Senen.
Globe yang terletak di Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Cathay yang terletak di Jalan Gunung Sahari, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Thalia di kawasan Kota, Jakarta Barat.
Orion di Glodok, Jakarta Barat. Rex di Senen, Jakarta Pusat.
Rialto di Senen, Jakarta Pusat. Rivoli di Jalan Kramat Raya yang khusus memutar film India.
Majestic di Kebayoran Baru.
Berikut bioskop-bioskop terkenal di Jakarta pada tahun 19d0-an: Bioskop Menteng, kini menjadi komplek pertokoan dan hotel. Lokasi tepatnya di Jalan H.O.S Cokroaminoto, di samping kawasan bekas lapangan Persija atau Taman Menteng sekarang. Metropole yang terletak di Jalan Diponegoro. Bioskop ini kemudian berganti nama menjadi Megaria pada saat ramainya aksi ganyang budaya barat di saat pemerintahan Bung Karno. Garden Hall. Terletak di kompleks kebun binatang Cikini. Podium bioskop berada di sebelah garden hall. Astoria di Pintu Air, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Capitol di Pintu Air, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Grand yang terletak di sudut Kramat-Senen. Globe yang terletak di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Cathay yang terletak di Jalan Gunung Sahari, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Thalia di kawasan Kota, Jakarta Barat. Orion di Glodok, Jakarta Barat. Rex di Senen, Jakarta Pusat. Rialto di Senen, Jakarta Pusat. Rivoli di Jalan Kramat Raya yang khusus memutar film India. Majestic di Kebayoran Baru.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "14 Bioskop di Jakarta yang Terkenal Tahun 1950-an", https://travel.kompas.com/read/2019/06/23/121027227/14-bioskop-di-jakarta-yang-terkenal-tahun-1950-an.
Penulis : Sherly Puspita
Editor : Sri Anindiati Nursastri