Tampilkan postingan dengan label PEMALANG - BREBES - TEGAL - SLAWI BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEMALANG - BREBES - TEGAL - SLAWI BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2020

PEMALANG - BREBES - TEGAL - SLAWI BIOSCOOP

PEMALANG - BREBES - TEGAL - SLAWI

REX dan ROXY
DEWA dan DEWI

BIOSKOP REX / DEWA

 BIOSKOP ROXY / DEWI



REX dibangun disebelah selatan Alun-alun Tegal sementara ROXY dibangun di sebelah utara alun-alun. Entah siapa lebih dulu yang beroperasi pada waktu itu, tidak ada catatan yang pasti. Namun demikian, kedua gedung bioskop tersebut diperkirakan sudah ada sejak tahun 1930an. Hal ini berdasarkan catatan sejarah perfilman Indonesia, bahwa pada tanggal 8 November 1934 di Batavia (Jakarta) diadakan pertemuan antara Persatuan Bioskop Hindia Belanda dengan Gabungan Importir Film (Bond Van Filmimporteurs) untuk membahas kerjasama dalam mengatur peredaran film-film yang akan diputar di bioskop-bioskop yang ada di wilayah Hindia Belanda. Data yang ada pada waktu itu tercatat ada sekitar 227 bioskop yang beroperasi di kota-kota wilayah Hindia Belanda, dan disitu tercatat TEGAL merupakan salah satu kota yang sudah ada gedung bioskopnya.

BIOSKOP PACA MAYA

Bioskop satu layar yang beralamat di Jalan Kapten Soedibyo. Pemiliknya bernama Harsono, bertempat tinggal di Perum Arum Indah, Tegal. Ia mewarisi gedung dan usaha bioskop dari orangtuanya. Sekitar akhir tahun 2000, ia menyewakan bioskop tersebut pada Slamet, yang mempertahankan nama bioskop sampai tutup pada 1 April 2010. Tak lama kemudian, 4 April 2010, Slamet meninggal dunia. Semua peralatan bioskop sudah tidak berada di gedung pemutaran, kecuali layar.

BIOSKOP ADIWERNA


Biskop Adiwerna masih ada hubungannya dengan bioskop Maya begitu orang menyebut bioskop Panca Maya. Berdasarkan keterangan Nurhayati (istri almarhum), di kediaman mereka di Gg. Merah Putih-Tegal, almarhum Slamet pernah mengusahakan bioskop Adiwerna (Slawi) dan Subur (Brebes). Mengenai film-film yang diputar di tiga bioskop tersebut, ada dua sumber pengambilan. Dahulu film-film diambil dari Sanggar Film, sebuah agen penyalur film di Semarang yang mendapatkan kopi film dari Jakarta. Ketika Sanggar Film mengalami kesulitan finansial, almarhum Slamet mendatangkan film dengan jalan berkongsi dengan Rama Rao (saat ini, pemilik bioskop Wijaya-Pemalang) untuk mendatangkan film dari Jakarta, dan memutarnya dengan jalan merotasi pemutaran film-film tersebut antara Pemalang, Brebes, Tegal, dan Slawi. Berdasar pengamatan pada Oktober 2008, film-film yang diputar adalah film impor (utamanya Mandarin) dan Indonesia, dengan tema seputar seksualitas dan dunia gaib.

Di era 80-an, sejumlah gedung bioskop di wilayah Kota Slawi dan Adiwerna, Kabupaten Tegal menjadi tempat favorit tontonan hiburan masyarakat. Sebut saja, gedung bioskop Rama, Singa, Intan di Slawi, dan Irama, Murni Adiwerna ada di Kecamatan Adiwerna. Bahkan, nama-nama gedung itu masih tertanam di benak warga. "Gedung bioskop itu dulu terkenal. Menjadi tempat favorit masyarakat untuk nonton film," kata Upik (60), warga Kudaile, Slawi, Rabu (6/2/2019). Seiring dengan perkembangan zaman, tontonan film layar lebar itu mengalami pasang surut. Tontonan film tergantikan dengan kepingan CD yang mudah diperoleh di lapak-lapak pasar rakyat. Puncaknya sekitar tahun 1999, bioskop tersebut satu per satu gulung tikar. Menurut Kades Adiwerna, Saiful Anwar gedung bioskop Adiwerna yang berada di wilayahnya sudah mangkrak selama 20 tahun. "Kami pernah mengusulkan ke Pemkab agar lokasi bekas gedung bioskop itu diubah menjadi ruang terbuka hijau. Namun, sampai sekarang belum ada jawaban yang jelas," kata Saiful. Dikatakan, gedung bioskop dibangun tahun 1985. "Sudah mangkrak tak terurus setelah tutup sekitar tahun 1999. Hingga sekarang tak difungsikan," jelasnya. Menanggapi keberadaan sejumlah aset gedung bioskop yang tak terurus tersebut, Wakil Bupati Sabilillah Ardie mengatakan, pemkab sedang mencari solusi yang tepat untuk pemanfaatan gedung legendaris tersebut. "Kami sudah survei gedung bioskop itu untuk dijadikan studio workshop produksi film untuk kalangan anak-anak milenial," katanya. Menurut pria yang akrab dipanggil Mas Ardie ini, pihaknya merancang gedung bioskop akan menjadi pusat pelatihan bagi anak muda membuat film pendek. "Dari titik inilah nantinya kalangan milenial bisa mengekplorasi potensi yang ada di Kabupaten Tegal, baik industri maupun wisatanya," paparnya.
Di era 80-an, sejumlah gedung bioskop di wilayah Kota Slawi dan Adiwerna, Kabupaten Tegal menjadi tempat favorit tontonan hiburan masyarakat. Sebut saja, gedung bioskop Rama, Singa, Intan di Slawi, dan Irama, Murni Adiwerna ada di Kecamatan Adiwerna. Bahkan, nama-nama gedung itu masih tertanam di benak warga. "Gedung bioskop itu dulu terkenal. Menjadi tempat favorit masyarakat untuk nonton film," kata Upik (60), warga Kudaile, Slawi, Rabu (6/2/2019). Seiring dengan perkembangan zaman, tontonan film layar lebar itu mengalami pasang surut. Tontonan film tergantikan dengan kepingan CD yang mudah diperoleh di lapak-lapak pasar rakyat. Puncaknya sekitar tahun 1999, bioskop tersebut satu per satu gulung tikar. Menurut Kades Adiwerna, Saiful Anwar gedung bioskop Adiwerna yang berada di wilayahnya sudah mangkrak selama 20 tahun. "Kami pernah mengusulkan ke Pemkab agar lokasi bekas gedung bioskop itu diubah menjadi ruang terbuka hijau. Namun, sampai sekarang belum ada jawaban yang jelas," kata Saiful. Dikatakan, gedung bioskop dibangun tahun 1985. "Sudah mangkrak tak terurus setelah tutup sekitar tahun 1999. Hingga sekarang tak difungsikan," jelasnya. Menanggapi keberadaan sejumlah aset gedung bioskop yang tak terurus tersebut, Wakil Bupati Sabilillah Ardie mengatakan, pemkab sedang mencari solusi yang tepat untuk pemanfaatan gedung legendaris tersebut. "Kami sudah survei gedung bioskop itu untuk dijadikan studio workshop produksi film untuk kalangan anak-anak milenial," katanya. Menurut pria yang akrab dipanggil Mas Ardie ini, pihaknya merancang gedung bioskop akan menjadi pusat pelatihan bagi anak muda membuat film pendek. "Dari titik inilah nantinya kalangan milenial bisa mengekplorasi potensi yang ada di Kabupaten Tegal, baik industri maupun wisatanya," paparnya.

---------
Artikel ini sudah Terbit di AyoTegal.com, dengan Judul Mangkrak 20 Tahun, Eks Gedung Bioskop Adiwerna Akan Dijadikan Studio Produksi Film Milenial, pada URL http://www.ayotegal.com/read/2019/03/06/302/mangkrak-20-tahun-eks-gedung-bioskop-adiwerna-akan-dijadikan-studio-produksi-film-milenial

Penulis: Dwi Ariadi
Editor : Andres Fatubun

BIOSKOP LUX / DANA


Ada juga Bioskop Dana, sebuah bioskop satu layar yang beralamat di Jalan Gajah Mada No. 104 atau sebelah Al Isryad. Saat ini, gedungnya telah beralih fungsi menjadi toko grosir gerabah. Pemiliknya adalah Haji Nadirin yang membeli dari Timbul (pemilik toko ubin Istana-Tegal). Tidak didapat informasi mengenai pemilik dan pengusaha bioskop ini pada masa operasionalnya, karena tidak ditemukannya jejak timbul atau kerabatnya. Berdasar ingatan penyusun laporan ini, film-film yang diputar Dana dari periode 1990-2000 diisi bergantian oleh film Mandarin, Indonesia, dan Amerika. Film produksi India jarang sekali diputar di bioskop ini.

BIOSKOP DUTA / FORTUNA


Di Jalan Gajah Mada, ada bioskop Duta. Tidak diketahui sejarah saat bioskop tersebut masih beroperasi. Berdasarkan informasi, bioskop Duta setidaknya masih beroperasi hingga akhir 70-an, mengingat bioskop tersebut sempat memutar film Pengemis dan Tukang Becak (1978).

RIANG THEATRE

Ada juga Riang Theater, bioskop satu layar yang beralamat di Jalan Udang. Bioskop tersebut lazimnya memutar film produksi India, dengan selingan film Indonesia, Mandirin, maupun Amerika. Saat ini, gedung tersebut berfungsi sebagai gudang di Jl. Udang. belakang Danlanal.

BIOSKOP JUPITER


Menurut Pak Budiarto Gondowijoyo, bioskop Jupiter baru ada disekitar tahun 1950-an bersamaan dengan berdirinya THHK (Tiong Hoa Hwee Kwan) atau Rumah Perkumpulan Tionghoa yang mungkin awalnya digunakan sebagai ruang auditorium yang kemudian berubah menjadi bioskop.

Lokasi bekas Bioskop Jupiter ada di Gedung Wanita dekat SMAN 4 Tegal.

BIOSKOP PLAZA MARINA


Satu bioskop yang cukup besar adalah Bioskop Plaza Marina. Bioskop dua layar tersebut menjadi satu dengan pusat perbelanjaan Marina, yang dimiliki oleh kongsi dagang King Brothers. Ketika pusat perbelanjaan tersebut tutup, tersiar kabar kalau Andi, pemilik bioskop Plaza Marina, berniat menjual gedung tersebut. Berdasarkan pengamatan pada Oktober 2008, Plaza Marina beroperasi dengan hanya satu layar dan memutar film-film Indonesia.

BIOSKOP RAMA

Posisinya tepat di perempatan timur MC Slawi. Posisinya yang strategis membuat bangunan ini menjadi pusat perhatian bagi yang melewati pusat Kota Slawi ini. Kini bioskop ini menjadi warung makan yang sebelumnya menjadi tempat billyard.

BIOSKOP SINGA

Bagi yang hobi main ding-dong pasti hapal dengan bioskop yang satu ini. Ya, Bioskop Singa. Bioskop yang berada di dekat Randualas ini cukup terkenal. Cerita dari warga sekitar, jika film hendak mulai, parkiran depan penuh sesak dengan sepeda onthel dari penonton. Banyak yang bercerita jika di dalam bioskop ini banyak terdapat hewan pengerat seperti tikus dan kebiasaan dari pengunjung yang buang air sembarangan sehingga di dalam ruangan tercium bau pesing.

BIOSKOP RAJA / IRAMA BANJARAN

Sebelum ada supermarket Banjaran Permai, dulu pasar gede Banjaran merupakan salah satu pasar tradisional besar yang ada di Kabupaten Tegal.

BIOSKOP INTAN SLAWI

Posisi bioskop ini ada di daerah Kagok, Slawi atau tepatnya di timur Bank CIMB.

BIOSKOP PELANGI PAGONGAN

Tak heran jika di Pagongan terdapat sebuah tempat hiburan seperti bioskop, karena pada jaman dahulu, di daerah Pagongan terdapat sebuah pabrik gula (Suiker fabriek) Pagongan (sekitar tahun 1928 – 1940) yang kini menjadi Kodim dan sebagian Pasar Pagongan. Posisi bioskop ini berada tepat di depan Pasar Pagongan yang kini menjadi dealer motor.

BIOSKOP OMEGA

Tak banyak cerita tentang sejarah biskop yang sekarang berubah menjadi peternakan burung walet. Sama halnya dengan Bioskop Pagongan, dulu di daerah Balapulang Kulon terdapat juga pabrik gula SF Balapoelang (1920-1935). Lokasinya pun tepat disebelah pabrik gula tersebut.



BIOSKOP SUBUR
 BREBES
 Jl.Pangeran Diponegoro Simpang Pasar Induk





PEMALANG

BIOSKOP SULTAN
Bioskop Sultan terletak di Jalan Jend Sudirman Pemalang. Bioskop ini berdiri tahun 1940an. Bekas bangunan bioskop beralifungsi menjadi bangunan bank yang saat ini sudah kolaps.

BIOSKOP SRI INDRA
Bioskop Sri Indra terletak di Jalan Jend A. Yani Pemalang. Bioskop ini berdiri tahun 1940an. Bekas bangunan bioskop roboh.

BIOSKOP SIRADU
Bioskop Sirandu terletak di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo Pemalang, Kelurahan Bojongbata, kecamatan Pemalang, kabupaten Pemalang 52319. Bekas bangunan bioskop beralifungsi menjadi Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pemalang

BIOSKOP DJANOKO RANDUDONGKAL


Bioskop Djanoko Randudongkal terletak di Randudongkal, Kabupaten Pemalang pas dekat pertigaan Randudongkal

WIJAYA CINEPLEX
Wijaya Cineplex terletak di Pelutan Pemalang depan Bakso Wijaya atau lokasinya sekarang di area BUZZ

BIOSKOP BEJI
Saat ini sudah menjadi area ruko, lokasi di uatara pertigaan Beji

COMAL THEATRE

BIOSKOP WIJAYA 


Wijaya Theatre, adalah gedung bioskop terakhir yang bertahan di Pemalang milik Baba Cekyong (46), yang sampai sekitar  akhir 2012 masih bertahan. Beberapa bioskop lain meregang nyawa ditelan kerasnya jaman. Bioskop Sultan yang berlokasi di Pusat Kota jalan Sudirman, Bioskop Sri Indra di jalan A Yani, Bioskop sirandu di Sirandu Pemalang dan Bioskop lain di Pinggir kota Pemalang, Bioskop Beji, Biokop Janoko Randudongkal, Comal Theater benar-benar telah meregang ajal tergerus jaman.

Sebenarnya di kota Pemalang pernah ada 2 gedung bioskop besar yang pernah menjadi magnet tempat nongkrong anak anak muda kota Pemalang generasi 70, dan 80 an. Jika jakarta tempo jadul thn 70 an mengenal Blok M sebagai kutub nongrong, Kota Pemalang memiliki SULTAN dan INDRA sebagai tempat hang out. Bioskop Sultan berlokasi di jantung pecinan Kota, jalan Sudirman, dan Bioskop Sri Indra di Jalan A Yani yang merupakan peninggalan Belanda tahun 1940 an.

Ada beberapa Kisah menarik terkait Bioskop Sultan dan Bioskop Indra di era 80 an. Tak terkecuali dengan Mahmud, Pegawai Pertamina Jakarta yang menghabiskan waktu remaja di Pemalang, ‘’Nonton bareng teman-teman sekampung, taripnya berapa sen saya lupa,’’kata pria ini. Untuk filem filem Favorit dengan bintang Rhoma Irama, teman2 Mahmud ada yang nonton 3 sampain 4 kali, so kerap inget dialog filem tersebut.

Pada dasawarsa 70-an, film yang diputar kebanyakan film-film Indonesia. Seperti Tiga Dara, Loetoeng Kasarung, Pelarian. Bintang film yang popular saat itu antara lain Soekarno M Noer, Tan Tjing Boek atau Pak Item, dan Sofia WD. Hingga tahun 90-an Bioskop Sultan dan Bioskop Indra menjadi jujugan penggemar film nasional maupun film India, dan film Hongkong dan Mandarin eranya Chen Lung, Bruce Lee dll. Kalau film barat jarang diputar. Bahkan saking ramenya, Kedua Bioskop ini sampai mengelurkan service tambahan; extra show yang tayang pagi hari.

Hal lucu yang diingat Castro , 51, yang sekarang adalah seorang guru di SMP Petarukan Pemalang asal desa Serang berceritera:
“Saat itu batasan umur ketat diberlakukan. “Kalau film 17 tahun keatas,  anak-anak ya nggak boleh masuk, meski sudah beli tiket. Cuma kita tidak kurang akal,’’ tuturnya.

Benar mereka yang gagal masuk, tidak kurang akal, bermodal kartu anggota taman bacaan rental komik stensilan Kho Ping Ho yang ada di desa Kebondalem, mereka akhirnya bisa menonton.

Kok bisa? Ternyata mereka yang belum cukup umur pergi ke rental Stensilan komik Kho Ping Ho . Disana mereka lantas membuat kartu registrasi keanggotaan, dengan umur yang sudah di mark up, dituakan. Dengan menunjukkan kartu anggota rental yang mereka kantongi, petugas karcis bioskop pun memperbolehkan masuk . Beberapa anak SMP mengantongi kartu anggota dengan usia 17 tahun…meski sebenarnya baru 15 tahun.

Ada lagi kebiasaan lucu pengunjung bioskop  Bioskop Sultan dan Sri Indra. Setiap film yang diputar tiba-tiba putus, dan layar menjadi gelap, penonton kompak berteriak: “Duk Duk Gleng Taine Celeng…Duk Duk Gleng Taine Celeng…!”  sambil menggebrak meja. Ternyata itu bentuk protes menggunakan metafora mantra Duk Duk Gleng Taine Celeng yag secara filosofis adalah mantra dolanan anak kecil “menuju ajal” di Pemalang.

Lain lagi kisah Polan (49), Seorang Profesional yang sekarang sukses bekerja di Perusahaan Multinasional di Ruwais Uni Emirat Arab.

“Dulu waktu remaja lagi nakal nakalnya, saya suka nonton di Bioskop di Pemalang, duduk di kursi paling belakang. Nah pas filmnya lagi rame ramenya tentang Rhoma Irama atau Amitab Bachan kadang iseng “buang air pipis sedikit”…Keruan saja karena kontur Bioskop yang curam, cairan tersebut mengalir ke bawah mengenai penonton di bawah yang lagi bersorak sorak melihat jagoannya bertarung”. Alhasil,  penonton yang di bawah jadi dendam, merekapun membalas dengan melempar kulit pisang ke penonton yang duduk di belakang….Kacau…