Tampilkan postingan dengan label KEDIRI - KUDUS - PATI - PURWODADI - TUBAN - BOJONEGORO - PARE - TULUNGAGUNG - BLITAR - MOJOKERTO BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEDIRI - KUDUS - PATI - PURWODADI - TUBAN - BOJONEGORO - PARE - TULUNGAGUNG - BLITAR - MOJOKERTO BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2020

KEDIRI - KUDUS - PATI - PURWODADI - TUBAN - BOJONEGORO - PARE - TULUNGAGUNG - BLITAR - MOJOKERTO BIOSCOOP

KUDUS

OOST-JAVA


Gedung Bioskop  Kudus tahun 1926.


BIOSKOP RAMAYANA KUDUS 

 

Merupakan salah satu bioskop legendaris di Kudus pada jamannya. Bioskop ini menempati bekas GEDOENG RAKJAT yang dibangun tahun 1953 yang diperuntukan sebagai gedung pertunjukan seni. Gedoeng Rakjat sendiri sempat ditempati oleh STIE (Cikal Bakal Universitas Muria Kudus). Bioskop Ramayana tutup bangkrut pada tahun 1980an seiring dengan meredupnya industri film nasional.

Kudus perkembanganya ada 5 bioskop, Cinema, Ramayana, Ratna, Plaza Theatre, Citra, Garuda dan Ria.

KEDIRI

Kota Kediri cukup marak pada dekade 80an hingga 90an. Fenomena pembelian karcis dan antrean panjang untuk masuk dalam pintu bioskop menjadi hal yang indah sekaligus jadi tantangan. 

JAYA


Bioskop ini letaknya di jalan Brawijaya Kota Kediri, depannya kantor polisi. Ini adalah bioskop terelit di kota Kediri di masanya. Bioskop Jaya ini seringkali menjadi gerbang masuknya film-film baru di Kota Kediri.

Bioskop Jaya.Sekitar 1987 hingga 1993, Bioskop Jaya populer dengan bioskopnya anak muda, karena film yang diputar di Bioskop Jaya kalau bukan film anak muda ya film barat.

Bioskop Jaya berbeda dengan Bioskop Kencana atau atau Bioskop Sentral. Bioskop Kencana dan Sentral lebih banyak memutar film India. Berbeda pula dengan Bioskop Garuda yang beradadi  kampung pecinan, sebelah timur Klentheng. Saat itu Garuda sering memutar film terbaru dari kawasan Asia.

Fasilitas Bioskop Jaya memang berbeda. Selain kursinya empuk, juga ber-AC. “Kalau di Garuda dan Kencana masih kipas angin dan kursinya masih kursi jalin rotan. Bioskop Jaya ini tergolong paling ramai dibanding dua bioskop lainnya saat itu. Padahal harga tiketnya paling mahal. Saat itu karcis masuknya seharga Rp 1.000. Sementara Kencana Rp 500 dan Garuda Rp 750.

GARUDA


Bioskop ini terletak di Jalan Yosudarso, terletak di kawasan pecinan dekat klentheng di sisi timur Kali Brantas. Di zamannya termasuk bioskop elit di Kediri walau dari segmen yang lain. Bioskop ini lebih sering memutar film-film terbaru dari kawasan Asia


KENCANA / RIA


Bioskop ini letaknya di Jalan Panglima Sudirman Kota Kediri, yang kini sudah beralih fungsi menjadi Ramayana Store. Bioskop ini biasanya memutar film seperti film India, mandarin action, film Indonesia remaja. 

SENTRAL


Bioskop ini terletak di Jalan Patimura Kota Kediri. Bioskop ini kelasnya selevel dengan Bioskop Kencana,walau terkenalnya sebagai bioskop film-film India. 


PAGORA


Terletak diperkampungan di Kelurahan Setonopande Kota Kediri. Bioskop ini dulunya sering memutar film India. 

Gedung itu sudah tinggal tembok saja. Sangat tebal. Khas tembok peninggalan zaman belanda. Jauh lebih tebal bila dibandingkan tembok-tembok bangunan zaman sekarang. Dihiasi jendela-jendela yang tinggi dan lebar. Ada tulisan berbunyi ‘Tempat Beli Karcis’ di salah satu bagian tembok. Atap gedung itu sudah lenyap. Tak berbekas. Bila masuk ke gedung itu dan menengadah pandangan kita akan langsung ke langit biru. Tak ada bekas rangka atap lagi.

Ini sisa-sisa Gedung Pagora. Di sini terkenalnya Gedung Bioskop Pagora.  Setelah perang memang ini jadi gedung bioskop,

Kini, Gedung Pagora bukan lagi gedung bioskop. Di dalam gedung itu kini berdiri rumah-rumah petak berukuran kecil, sekitar 3x4 meter. Jumlahnya sepuluh petak. Diisi oleh keluarga-keluarga yang menyewa lahan itu dari TNI AD.

Bersejarah? Ya. Karena di gedung itulah Jenderal Sudirman pernah tinggal. Walaupun sebentar. Karena saat itu sang Jendral tengah menjalani perang gerilya menghadapi tentara pendudukan Belanda. Ikhrom, yang baru tinggal di tempat itu 16 tahun silam, kerap mendengar cerita dari para sesepuh kampung. Yang menceritakan sang Pahlawan itu sempat berada di Gedung Pagora. Mengajak warga untuk melakukan perang gerilya.


PATI


Gedung bioskop Gelora (dekat pasar Gowangsan) yang dulunya legendaris di Pati. Pada medio 80-90 an di Pati terdapat 3 gedung bioskop. Gelora, Delta, dan Indra.


PURWODADI

BIOSKOP KENCANA


BIOSKOP GROBOGAN




MADIUN

Societeit adalah semacam klub yang untuk bersosialita, berkumpul dan berpesta bagi orang-orang kolonial dan golongan tertentu. Societeit biasanya terdpat dikota-kota besar, termasuk madiun. Gemeente atau Kota Pradja Madiun dahulu memiliki 3 gedung Societiet diantaranya adalah Societiet Constantia, Societeit Harmonie dan Societiet Sediaharja.

Pertama adalah Societeit Constantia. Societeit ini terletak di Resident Laan (sekarang Jalan Pahlawan) atau disebelah utara Rumah Resident (Sekarang Barkorwil). Masyarakat Madiun pada saat itu menyebutnya dengan nama Gedung Cantin. Gedung ini sempat dijadikan Sekolah Menegah Tinggi (SMT) Madiun yang kini menjadi SMAN 1 Madiun. Hingga akhirnya sampai sekarang ditempati oleh Markas Kodim 0810 Kota Madiun. Jika masuk ke dalam gedung dapat kita temui aula yang luas dan panggung. Aula dan Panggung ini kemungkinan masih dipertahanakan bentuk aslinya, sehingga kita bisa membayangkan bagaimana pesta orang eropa itu digelar.Pada masa kolonial, kelompok penduduk Eropa memusatkan kegiatan mereka di gedung ini. Mereka membentuk organisasi masyarakat yang sering mengadakan kegiatan seni budaya seperti Indo-Europeeschee Vereeniging (EIV). Kegiatan yang dilakukan antara lain pesta dansa, pertandingan bridge, billiard, serta menyelenggarakan pertunjukan musik dan sulap. Lokasi Societeit ini berada dekat dengan kantor-kantor pemerintahan Residentie Madiun serta dekat dengan Benteng Madiun. Oleh Karena itu, memungkinkan jika tempat ini dahulunya bisa menjadi tempat loby politik, ekomoni dan kebijakan bagi para pejabat pemerintahan dengan pengusaha khususnya orang Tionghoa.

Societeit Kedua adalah Societeit Harmonie. Soceiteit ini terletak W.M Ingenluyfflaan (sekarang Jalan Dr. Soetomo). Belum banyak informasi mengenai Societeit ini. Jika dilihat lokasinya yang dekat dengan Werkplaatsen Staats Spoorwegen (S.S) (Sekarang PT INKA), kemungkinan societeit ini diperuntukan bagi para pekerja S.S. Lokasi bekas Societeit Harmonie sekarang menjadi Markas Denbekang V-44-01.

Terakhir adalah Societeit Sediahardja. Sama seperti Societeit Harmonie, Informasi mengenai societeit ini belum banyak ditemuikan. Keberadaan hanya terlacak dalam peta Hoofdplaats Madioen tahun 1917. Lokasinya berada di Gang Kauman (sekarang Jalan Merbabu) atau sebelah utara Masjid Agung. Jika ditafsirkan lokasinya yang dekat dengan Pendopo Kabupaten, societeit ini merupakan societeit khusus untuk orang-orang pribumi. orang-orang pribumi yang dimaksud tentunya seperti keluarga Bupati, Wedono, Patih, Penghulu, serta para pejabat-pejabat kabupaten lainya.

Selain Societiet, Madiun juga membangun gedung-gedung hiburan yang diperuntukan untuk pertunjukan kesenian (Kunst) dan pemutaran film (Bioscoop). Tercatat ada 2 gedung pertunjukan atau Bioskop yang pernah ada Kota Madiun pada Kolonial. Pertama adalah Gemeente Schouwburg atau Gedung pertunjukan Kota. Sejarah pembangunan gedung ini diawali ketika pada tahun 1928 pihak Gemeente Madioen memperoleh sebidang tanah waris dari Nyonya Mary Manuel untuk membangun sebuah gedung pertunjukan kota. Pembangunannya kemudian dilimpahkan kepada firma Fermont-Cuypers. Firma asal Batavia yang di waktu bersamaan juga melaksanakan pembangunan Raadhuis Madioen (Balai Kota Madiun).

BIOSKOP LAWU / GALUNGGUNG / CITY THEATRE


Gedung ini diresmikan pada awal Agustus 1930 dengan nama De Cecilia Schouwburg atau kemungkinan ditanggal yang sama dengan peresmian Raadhuis Madioen. Gedung pertunjukan ini diresmikan dengan menampilkan pertunjukan teater berjudul ‘Het Spookhuis‘ oleh Henri van Wermeskerken, yang dilakukan oleh asosiasi drama lokal. Dalam pidato pembukaan, Burgermeester R.A. Schotman mengucapkan terima kasih kepada Mary Manuel atas sumbangansihnya terhadap pembangunan Gedung ini. Sehubungan dengan ulang tahun Ratu Suri Emma of Waldeck and Pyrmont, Lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus” dinyanyikan oleh seluruh hadirin

Pada perkembangan selanjutnya berubah nama menjadi Mary Theater dan City Theater. Nama Mary Theater diberikan oleh pihak Gemeente pada tahun 1937 karena untuk mengenang Nyonya Mary Manuel. Nama lengkapnya adalah Mary Emmy Josephine Manuel (1868-1928). Ia di makamkan di pemakaman Kerkhof Madiun di Jalan Candi Sewu (dulu Kerkhoflaan), Madiun Lor.

Sebagai gedung pertunjukan yang dimiliki oleh Gemeente Madioen, suasana apartheid tidak bisa dihindari. Dapat digambarkan pada ruangan Gemeente Schouwburg  yang dibagi menjadi tiga klas yaitu kelas Balkon, Loge dan Klas III (masyarakat sering menyebut dengan kelas kambing). Dua kelas pertama adalah jatah untuk warga Eropa, Ambon atau Bumiputera yang disetarakan, sementara kelas III adalah jatah untuk warga Bumiputera.

Gedung ini sempat tak berfungsi sekitar akhir tahun 1940an. Hingga akhirnya awal 1950an, seseorang bernama Soetamto Harjosuwegnjo mengusahakan membuka kembali gedung pertunjukan ini. Ia kemudian diangkat menjadi kepala bioskop pertama.

Gedung pertunjukan tersebut bernama resmi Perusahaan Bioscoop “City Theater”. Bioskop dimiliki oleh Pemerintah Kota Besar Madiun dengan beralamat di Jalan Raya No. 47. Perkembangan selanjutnya, Kemudian selanjutnya diberi nama Bioskop Lawu, bahkan konon sempat juga bernama Bioskop Galunggung. Pergantian nama ini kemungkinan berkaitan dengan kebijakan pemerintah indonesia saat itu tentang nasionalisasi. Meskipun demikian masyarakat Kota Madiun pada saat itu masih sering menyebutnya dengan nama “Siti” . Siti merupakan pengucapan lidah orang jawa di Madiun terhadap City Theather. Gedung Bioskop ini tidak berlangsung lama. Tahun 1996, pemerintah Kota Madiun menyewakan tanah gedung bioskop tersebut kepada para Investor. Hingga akhirnya dibangunlah sebuah pusat perbelanjaan pertama di Jalan Pahlawan. Kini kemegahan Madioen Schouwburg hanya bisa kita lihat lewat foto dan Kejayaanya menjadi bagian dari sejarah panjang Kota Madiun.


BIOSKOP APOLLO / ARJUNA


Apollo Theater. Lokasinya berada sudut kanan antara Jalan Pandan dengan Jalan Alun-alun Utara. Pembangunannya masih belum diketahui. Jika melihat peta Hoofdplaats Madioen tahun 1917, gedung ini bisa dikatakan sebagai gedung bioskop pertama di Madiun. Nama Apollo mengingatkan kita akan nama dewa dalam mitologi Yunani yakni Dewa Apollo. Orang belanda bernama L. Knuverlder diketahui pernah menjadi pemilik Apollo Theater pada tahun 1930-1936.

Namun, akhirnya berpindah tangan kepemilikannya kepada seorang Tionghoa. Pada waktu itu, perbioskopan memang belum menjanjikan keuntungan yang memadai tetapi banyak di kalangan orang Tionghoa menganggap bahwa usaha ini merupakan investasi jangka panjang. awal memang dirancang sebagai gedung pertunjukan gambar sorot.

Sekitar tahun 1980-an, Arjuna Theater mengalami masa keemasan dengan menampilkan tayangan film Indonesia yang radahot”, seronok, dan vulgar di kala itu. Akan tetapi sejak 1999, bioskop Arjuna mulai meredup pengunjungnya dan akhirnya sekarat. Pada 2002, Arjuna Theater resmi ditutup.

Gedung ini sekarang digunakan sebagai penyimpanan gerobak-gerobak pedagang kaki lima (PKL) yang kerap mangkal di sekitar alun-alun. Bangunan bioskop Arjuna hingga kini masih bisa disaksikan di Jalan Alun-Alun Utara, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di sebelah timur Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun.



TUBAN

BIOSKOP PUSAKA THEATRE

Gedung bioskop Pusaka Theatre yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman. Bioskop pusaka teater terdiri dari dua kelas, kelas satu atau VIP harga tiket Rp1.500 dan kelas dua atau leguler harga tiket Rp750. Dan mulai beroperasi pada pukul 17.00 WIB sampai 21.00 WIB. Dan berhenti beroperasi pada tahun 2002. 

Gedung bioskop Tuban Theatre yang lokasinya tepat di depan gedung bioskop Pusaka teater.

Gedung Wahyu Theatre berlokasi di Jalan  Basuki Rahmad. Bioskop wahyu teater mulai beroperasi pada tahun 1974. Pada tahun 1994 gedung bioskop tersebut mulai sepi pengujung, hal itu karena mulai banyak masyarakat yang mempunyai televisi dan juga mulai banyak bioskop keliling di desa-desa. Tahun 1994 tutup


BOJONEGORO
Di era-era 70an berdiri pula bioskop Rajekwesi. Hingga akhirnya muncul gedung-gedung bioskop lain.


PARE

Bioskop MUSTIKA
Gedung bioskop Mustika dulu terletak tak jauh di sebelah barat dari Kantor Kecamatan Pare yang lama. Gedung itu menghadap ke arah barat jalan. Tepat di sebelah selatan dari gedung ini ada beberapa warung kopi dan ketan, penjahit sepatu, tukang cukur, hingga agen koran dan majalah, sehingga jaman dulu ada istilah “kidul biskupan” untuk menyebut “komplek” di daerah itu. Kapasitas gedungnya diperkirakan bisa menampung sekitar 200-an penonton. Kursinya masih terbuat dari bahan rotan. Kala itu masih belum diterapkan sistem karcis bernomor tempat duduk, sehingga bagi penonton yang tidak ingin duduk terlalu dekat dengan layar mesti datang membeli karcis lebih awal. Harga tiket kala itu berkisar antara 100 hingga 200 rupiah. 

Mustika dulu mempunyai 2 kali jam pemutaran film, yaitu jam 19.00 dan jam 21.00 WIB. Di hari Minggu ada pertunjukan extra jam 10.00 pagi. Belum ada istilah Midnite….. Film-film yang diputar juga sangat beragam mulai dari film Indonesia sendiri, barat, film mandarin hingga film India. Ingat saja masa kejayaan film-film cowboy macam yang dibintangi Clint Eastwood, film action semacam James Bond di era Roger Moore, film silat era Jacky Chan, Tie Lung dan Chen Kwan Tai, lalu film-film India era Amitabhacan, Dharmendra dan Rai Kapoor. Film-film Indonesia sendiri juga sedang top-topnya, siapa yang waktu itu tak kenal dengan Barry Prima, Eva Arnaz, Sophan Sophiaan, Rhoma Irama, Benyamin Sueb, hingga era Ateng, Iskak dll.. 

BIOSKOP EKA / KENCANA


sebagai gedung bioskop yang berdiri di Jalan Mastrip, tak jauh dari lokasi Pasar Lama Pare.  Bioskop ini sempat mengalami pemugaran gedung dan berganti nama menjadi Kencana Theater.

Bioskop SENTRAL
Di era 80-an, muncullah gedung yang terletak di depan stasiun Pare. Gedung ini menempati gedung milik Polres Pare, sehingga dulu orang lebih senang menyebut Sentral sebagai gedung bioskop Bhayangkara. Bioskop ini mulai mengusung konsep bioskop modern, dengan kursi tempat duduk yang sudah terbuat dari bahan plastik dan sofa, karcis pun sudah bernomor tempat duduk, mulai mengenal istilah Midnite, Old and New di malam tahun baru, hingga Student Show…yang jadi acara wajib muda-mudi Pare di hari Sabtu sehabis pulang sekolah. Ada joke kecil, dulu anak-anak sekolah di Pare sering menyebut Student Show dengan sebutan SETUden Show, ya…karena memang diputar pada hari SETU (Sabtu). Ketika bioskop Sentral mencapai kejayaannya, justru Mustika dan Eka sudah megap-megap untuk bertahan hidup. Mereka kalah menarik di mata warga Pare dari sisi kenyamanan gedungnya maupun film yang diputar. Sehingga tak lama kemudian Mustika dan Eka kolaps, ambruk, menghentikan aktifitasnya sebagai penyedia hiburan rakyat. Gedungnya dibiarkan terbengkalai, tak terurus selama beberapa waktu. Namun kejayaan Sentral pun juga tak bertahan lama. Di tahun menjelang 90-an, mulai muncullah TV swasta di Indonesia yang banyak menayangkan film-film terbaru di layar kaca. Hal ini diperparah dengan berdirinya jaringan 21 (Twenty One) milik konglomerat Sudwikatmono yang melakukan monopoli distribusi film di Indonesia melalui jaringan bioskop Cineplex 21 yang tersebar di seluruh Indonesia.


 TULUNGAGUNG

Di era 1980 hingga 1990, bioskop di Tulungagung mulai memasuki masa redup di tahun 2000-an. Satu per satu, pertunjukan film layar lebar mulai ditinggalkan peminat film. Dulu ada lima bioskop yang eksis. Kelima bioskop itu adalah Moro Seneng yang kemudian menjadi Tulungagung Theater (TT), kemudian Handoko, Wijaya, Istana, dan Merpati.  Tulungagung Theater dan Istana atau yang sekarang telah menjadi tempat hiburan dan gedung mewah. TT dan Istana ini dulu termasuk kelas elit

BIOSKOP ISTANA /BRATA


Bioskop istana, merupakan salah satu bioskop tempo dulu yang ada di tulungagung. Bioskop ini sekarang, tergantikan dengan keberadaan BARATA.

MORO SENENG
Berdiri pada tahun 1960-an. Namun akhirnya berganti nama menjadi Tulungagung Theater. "Saya masih ingat, Ikang Fauzi, Rano Karno dan banyak bintang film lain datang ke Tulungagung untuk pembukaan bioskop yang terkenal saat itu

TULUNGAGUNG THEATRE


Merupakan bangunan yang dimiliki oleh seorang tuan tanah saat itu bernama Tegok. Selain mempunyai tanah di TT, Tegok juga dulunya yang mempunyai Bioskop Wijaya yang sekarang dikenal dengan Golden seiring dengan perubahan hak milik tanah. 

 
 

BIOSKOP GOLDEN berjajar dengan BIOSKOP MERPATI yang ternyata dua bioskop ini bertipe sedang untuk kelas menengah, tapi ini banyak diminati karena tiket terjangkau. Sama dengan bioskop WIJAYA.

 
 Bioskop Merpati


JAYA NGUNUT 
 
 
 

Bioskop ini memiliki fasilitas lebih baik, tapi dengan harga tiket radhak mahal waktu itu 350, naik 500, 750,1000 dan terahkir 1500...dengan metode bioskop kota.. Plus game zone. Kehadirannya langsung menggebuk bioskop perdana.

PERDANA NGUNUT

 
Sekitar tahun 1990 an setelah NIAGARA theather berdirilah bioskop PERDANA. Dengan harga tiket masuk waktu itu 250 untuk klas lantai dan 500 untuk klas kursi dengan fasilitas atap dari seng. Bioskop ini langsung menjadi primadona di kota ngunut. Mulai dari chandhni, film film mithun cakhrabortya, film hongkong, terminator 2,film silat indonesia, film film sunil shetty.


 BLITAR

 BIOSKOP DIPAYANA (Dhoho)


Kota Blitar mempunyai beberapa gedung bioskop. Diantaranya : DIPAYANA (Dhoho), KAWI, NEW IRAMA Theater, CEMPAKA BARU, dan KARTIKA CANDRA Cineplex.


 MOJOKERTO

Bioskop REXX/ INDRA


Berawal dari Bioscoop Voor Straat, berubah menjadi Rexx, lalu Indra,
Gedung Bioskop Indra Mojokerto 1930

Gedung menghadap ke jalan utama yang kemudian disebut Voorstraat (jalan Hadapan). Sekarang bernama Jl. Ahmad Yani (sebelah selatan Alun-Alun Kota Mojokerto). Terlihat dari gaya arsitektur, gedung bioskop ini dibangun pada 1920-an. Pada tahun 1950-an berganti nama menjadi Bioskop Indra.


 

Lokasi gedung bioskop Rexx Mojokerto ada di sisi barat daya alun-alun. Gedung tersebut berdiri sejak era kolonial Belanda. Diperkirakan dibangun sekitar tahun 1930-an. Meski bernama resmi bioskop Rexx, namun orang seringkali menyebutnya sebagai bioskop sirene. Menurutnya, nama yang dikaitkan dengan keberadaan sirene yang ada di dekat gedung tersebut. Letaknya tiang sirene ada di perempatan selatan alun-alun atau berada di timur gedung bioskop tersebut. Tiang sirene didirikan untuk memberi tanda bahaya buat kota. Misalnya saat ada serangan udara.

Dengan adanya tanda sirine itu, maka warga kota bisa siaga untuk segera menyelamatkan diri. Gedung bioskop Rexx didesain multifungsi. Selain untuk sarana menonton film, bisa juga dipakai pertunjukan kesenian rakyat. Kursinya yang dibuat bertingkat dan audio yang terpasang cukup memadai.

Di depan layar ada ruang yang lumayan luas untuk pementasan kesenian. Selain itu pada bagian belakang ada balkon penonton sebagai ruang VIP. Pantas saja, kala itu keberadaannya diharapkan memberikan hiburan bagi publik kelas menengah atas. Sebab, Kota Mojokerto dihuni sekitar dua ribuan warga Belanda dan tujuh ribuan warga etnis Tionghoa.

Pada masa perang, gedung bioskop juga dimanfaatkan untuk sarana sosialisasi kebijakan. Setidaknya Belanda dan Jepang menjadikan film propaganda untuk mencari simpati penduduk pribumi. Pesan atau imbauan diberikan sebelum film diputar atau pada pertengahan film.

Ketika revolusi terjadi, gedung bioskop seolah mengalami mati suri. Tidak ada lagi film yang diputar. Pasalnya, gedung bioskop lebih banyak dialihfungsikan untuk kegiatan sosial dan rapat-rapat perjuangan.

Hingga akhirnya, pasca perang kemerdekaan, secara perlahan industri film mulai menggeliat kembali. Akan tetapi, jaringan bioskop Rexx sudah tidak lagi beroperasi lagi. Bioskop Rexx berubah menjadi bioskop Indra.
 
Bioskop GARUDA yang lokasinya berada di utara Alun-Alun Kota Mojokerto.

 

Kemudian disusul gedung bioskop RATNA dan juga bioskop BRANTAS. Terakhir lahir bioskop yang bertempat di pertokoan Mojo Indah Plaza serta pusat perbelanjaan Kranggan. Rupanya bioskop tak hanya tumbuh di perkotaan. Tetapi juga berkembang ke wilayah Mojokerto lainnya. Kawasan yang pernah memiliki gedung bioskop adalah Mojosari dan Pacet. 

MOJOSARI memiliki dua gedung bioskop yang terletak di ruas Jalan Airlangga. Yang terbesar adalah bioskop DJAYA yang berada di selatan Kelenteng Mojosari. Tepatnya yang saat ini digunakan untuk swalayan. Bioskop itu bertahan cukup lama hingga kemudian ditutup sekitar tahun 1990-an. Sedangkan gedung bioskop lainnya bernama bioskop GEMBIRA. Bioskop ini tutup lebih awal sekitar tahun 1970-an. Gedung bioskop GEMBIRA dibongkar untuk dibangun sebagai terminal baru di Mojosari. Lahan bekas tempat pemutaran film itu kemudian dijadikan ruang terbuka hijau yang dinamakan Taman Lalu Lintas hingga sekarang.

Selain itu, gedung bioskop juga pernah berada di Kacamatan Pacet. Gedung bioskop itu bernama CARINA. Senasib dengan bioskop lainnya, CARINA juga terpaksa tutup seiring menurunnya animo penonton film. 

LAMONGAN
Bioskop Garuda-Lamongan