Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Bukit Berdarah. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Bukit Berdarah. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Januari 2011

BUKIT BERDARAH / 1985

BUKIT BERDARAH

 
Kelompok pendaki gunung Pandawa Lima terdiri dari tiga mahasiswa dan dua mahasiswi. Mereka dikenal sebagai pecinta alam yang tangguh. Dalam suatu pendakian di sebuah gunung, mereka terperangkap sekelompok penjahat profesioanl yang menguasai pertambangan secara gelap. Kelompok ini juga banyak mempekerjakan wanita secara paksa. Kelompok Pendawa Lima dipaksa untuk menjadi buruh. Karena sulit melawan secara langsung, maka kelompok pendaki gunung itu menggunakan taktik untuk tetap menegakkan kebenaran dan hukum. Akhirnya mereka berhasil membongkar sindikat yang merugikan negara itu.
 P.T. BUDIANA FILM

ENNY BEATRICE
LIA HADI
GEORGE RUDY
BARON HERMANTO
WIEKE WIDOWATI
JOHAN SAIMIMA
ADVENT BANGUN
MUGI RAHAYU
BUDI PURBOYO
HERMAN PERMANA

Kamis, 10 Februari 2011

LAURA SI TARZAN / 1989

LAURA SI TARZAN


Laura (Wieke Widowati) menjadi Tarzan karena pesawat yang ditumpangi bersama orangtuanya jatuh di tengah hutan. Saat itu Laura masih kecil dan satu-satunya penumpang yang selamat. Dalam kehidupannya di hutan Laura bertemu lelaki idamannya,yakni Ramon (Johny Indo).Ramon masuk hutan mencari ayahnya, Sandy (Willy Wilianto) yang masuk hutan bersama tim kecil untuk mencari pasawat yang membawa harta banyak, yang salah satu penumpangnya adalah Laura. Ekspedisi ini berakhir ketika Sandy dan kelompoknyaserta Ramon ditangkap suku pedalaman yang terdiri dari wanita berpakaian minim. Karena saling jatuh cinta, Laura berusaha menyelamatkan Ramon dan ayahnya. Terjadi pertempuran dan memakan banyak korban termasuk Sandy dan kelompoknya,sementara Ramon dan Laura selamat dan sepakat untuk terus hidup berdua di dalam hutan.dan TARZAN PENUNGGU HARTA KARUN Saatnya sudah matang bagi seorang Tarzan putri. Sudah punya dua film sampah hiburan Barry Prima, film ini benar-benar menjerit. Berton-ton rekaman stok (gajah, harimau, singa, monyet, dan banyak lagi, dan karena semuanya sangat murah, ini ditampilkan beberapa kali dalam film. Dan hanya wanita hutan liar.

Sulit dipercaya betapa bodohnya antrian itu. Pemandangan yang luar biasa adalah ketika Amazon menyerang ekspedisi pertama dan menemukan persediaan bir mereka. Karena mereka tidak tahu apa itu kaleng bir, dan bagaimana mereka bisa runtuh, mereka melakukan beberapa upaya sia-sia untuk kaleng, meminumnya dan semuanya mabuk total. Perangkat wanita Amazon yang murah dan desa mereka agak mengingatkan pada GOLDEN TEMPLE AMAZONS karya Jess Franco atau MACISTE CONTRE LA REINE DES AMAZONES karya Franco.
 

Sayangnya Wieke Widowati memiliki waktu layar yang terlalu sedikit sebagai Laura si Gadis Tarzan. Itu hanya datang pada akhirnya benar-benar mengharukan. Aktris pemeran Laura Wieke Widowati ini telah bermain sejak tahun 80-an dalam banyak film laga dan horor antara lain di BUKIT BERDARAH, DARAH PERJAKA (Pembalasan Berdarah), MUSTIKA SAKTI, PEREMPUAN MALAM dan PEREMPUAN BERGAIRAH (Pejuang Kemerdekaan Wanita yang Ganas).

Benar-benar sampah yang menghibur, tetapi Anda bisa dengan sebaik-baiknya film tersebut tidak dianggap serius.

P.T. BUDIANA FILM

JOHNY INDO
WIEKE WIDOWATI
WILLY WILIANTO
GEORGE RUDY
BARON HERMANTO
EMMY HUSEIN
NURHASAN
BENTENG TOGATOROP
ANEN WIJAYA
ULLY ARTHA
HENGKY NERO
IRMA YANTI

Kamis, 03 Februari 2011

DJOKO LELONO 1955-1960

DJOKO LELONO
 
Karir dalam film dimulai dari penulis cerita, pencacat Script, lalu menjadi sutradara. Rata-rata film yang disutradarainya di tulis ceritanya sendiri olehnya, kadang sekaligus merangkap pencatat script/Penata Script juga. Film yang dilakukan tanya di sutradarainya adalah: Bukit Berdarah 1985 Cerita & Penata Script sutradara Atok Suharto. Bakar Tak Berapi 1954 Cerita dan Penata Script sutradara Henry L Duarte.
 
PERISTIWA SURABAJA GUBENG1956DJOKO LELONO
Director
BINTANG PELADJAR 1957 DJOKO LELONO
Director
BERTAMASJA 1959 DJOKO LELONO
Director
RINDU DAMAI 1955 DJOKO LELONO
Director
SI DUDUNG 1956 DJOKO LELONO
Director
MOMON 1959 DJOKO LELONO
Director
SEDETIK LAGI 1957 DJOKO LELONO
Director
RINI 1956 DJOKO LELONO
Director
DESA YANG DILUPAKAN 1960 DJOKO LELONO
Director
SESUDAH SUBUH 1958 DJOKO LELONO
Director

Senin, 24 Januari 2011

ATOK SUHARTO 1986-1994

ATOK SUHARTO

Lahir, Selasa, 20 Oktober 1953 di Jakarta. Pendidikan: Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta. Pertama kali terjun ke dunia film sebagai sutradara dalam Putri Duyung (1985). Tahun 1992 mulai menyutradari sinetron. Di samping sekali-sekali menyutradarai film, antara lain Godaan Cinta (1994) dan lain-lain.
 
CATATAN SI DOI 1988 ATOK SUHARTO
Director
SI MANIS JEMBATAN ANCOL 1994 ATOK SUHARTO
Director
GODAAN CINTA 1994 ATOK SUHARTO
Director
TAMU TENGAH MALAM 1989 ATOK SUHARTO
Director
TERJEBAK PENARI EROTIS 1986 ATOK SUHARTO
Director
CEWEK-CEWEK 1987 ATOK SUHARTO
Director
MISTRI PERMAINAN TERLARANG 1993 ATOK SUHARTO
Director
SI GOBANG 1988 ATOK SUHARTO
Director
OJEK 1991 ATOK SUHARTO
Director
SI GONDRONG LAWAN BEK MARDJUK 1990 ATOK SUHARTO
Director
LANGGANAN 1986 ATOK SUHARTO
Director
MISTRI DI MALAM PENGANTIN 1993 ATOK SUHARTO
Director
PEREMPUAN MALAM 1987 ATOK SUHARTO
Director
PUTRI KUNTI'ANAK 1988 ATOK SUHARTO
Director
PUTRI DUYUNG 1985 ATOK SUHARTO
Director
MELACAK DENDAM 1989 ATOK SUHARTO
Director
JAGO-JAGO BAYARAN 1989 ATOK SUHARTO
Director
BUKIT BERDARAH 1985 ATOK SUHARTO
Director.

Minggu, 21 Maret 2010

SEX SEX YANG DIKEJAR SENSOR

22 Juli 1989
SEX & SENSOR
Lingkaran setan dalam film indonesia

AKIBAT penarikan peredaran film Pembalasan Ratu Laut Selatan dan Akibat Terlalu Genit bukan main. Tjut Djalil tiba-tiba jadi orang penting.

Seks dan sadisme muncul sebagai musuh terbesar film Indonesia. Kedua film yang bersangkutan dicari-cari. Sementara itu, Badan Sensor Film (BSF) sebagai lembaga yang paling berwenang dalam meloloskan sebuah film dikecam habis-habisan. Sehari setelah penarikan itu, Menteri Penerangan Harmoko melantik anggota BSF periode 1989-1991, lebih cepat sebelas hari dari masa kepengurusan yang diketuai Thomas Soegito. Lolosnya PRLS produksi Soraya Intercine Film yang disutradarai Tjut Djalil memang mengundang gunjingan. Film itu tidak saja dianggap mengeksploitir perilaku seks secara berlebihan tapi juga mengumbar berbagai adegan brutal. Kecerdasan penonton seperti dihina. Seorang penulis surat pembaca di harian Kompas menyebutnya sebagai kebebasan seks yang "amburadul". Astaghfirullah. Imbauan agar PRLS diperiksa kembali kontan disuarakan oleh sejumlah tokoh masyarakat. Mulai dari wartawan, pengamat film, ulama, hingga wakil rakyat di DPR. Ketika berlangsung dengar pendapat antara Komisi I dan Menpen Harmoko, Kamis dua pekan lalu, beberapa anggota DPR RI juga menyoroti PRLS secara kritis. Malah, dengan nada keras, Ali Tamin, S.H. menganjurkan supaya BSF diajukan ke pengadilan. "Ini sangat penting guna menjaga tertibnya dunia perfilman nasional," kata anggota Komisi I ini seperti yang ditulis di harian Sinar Pagi. Hal senada juga dikatakan pengamat film Dr. Salim Said. "Pembuat film dan produsernya harus diperiksa. Kalau terbukti salah, ya ditindak," katanya tegas. Sanksi yang dijatuhkan bisa berupa pemecatan dari organisasi atau pencabutan izin produksi. Ia mengibaratkan dengan apa yang terjadi di bidang pers. "Kalau punya SIUPP, silakan terbit. Dan kalau dianggap salah, dibredel," tambah Salim. "Seharusnya dalam dunia film juga begitu."

Menurut Salim, yang dipersoalkan dalam PRLS sebenarnya bukan soal film seksnya. "Tapi, kejorokannya yang digugat," kata anggota Dewan Film Nasional itu. Harus diakui, pengertian jorok bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Dulu, adegan ciuman dilarang, sekarang sudah biasa. Tapi, itu pun masih harus mempertimbangkan kondisi masyarakat dan tuntutan cerita. Di sinilah peran BSF. Ada dugaan lain yang bernada minor. Kelonggaran yang diberikan BSF itu erat hubungannya dengan masalah uang. Sudah menjadi rahasia umum - seperti yang diceritakan seorang sutradara - bahwa siapa yang bisa membayar mahal kepada BSF, filmnya akan selamat. Sulitnya, tidak ada data tertulis untuk membuktikan kebenaran cerita itu. Maka, ketika pelantikan pengurus baru dipercepat sebelas hari, tudingan ke alamat BSF yang bermarkas tak jauh dari Sarinah di Jalan Thamrin itu makin menjadi-jadi. Namun, menurut Menteri Penerangan, tidak ada alasan khusus yang mendorong dipercepatnya upacara pelantikan. "Waktu yang tersedia beberapa hari menjelang masa efektifnya BSF dapat dipergunakan untuk melakukan orientasi," katanya, ketika melantik pengurus BSF yang baru.

Lebih jauh ia mengatakan bahwa BSF yang anggotanya terdiri dari tokoh masyarakat, wakil instansi, dan para ahli berbagai disiplin ilmu hendaknya mampu melaksanakan tugasnya sesuai dengan kriteria penyensoran yang mengacu pada kepentingan masyarakat. Soal lolosnya PRLS? "Itu termasuk kesalahan mekanisme kerjanya. Maka, kepada pengurus yang baru saya minta agar mengubah cara penyensoran yang selama ini dipakai. Tidak lagi tiga orang dalam tiap kelompok, tapi lima orang," kata Menteri Harmoko kepada Heddy Susanto dari TEMPO. Seribu tudingan "miring" yang ditujukan ke BSF juga tak membikin keder pengurus lama. "BSF selalu berusaha agar isi dan tema setiap film tidak bertentangan dengan Pancasila. Untuk itu BSF punya buku pintar," kata Thomas Soegito, yang masa tugasnya berakhir Sabtu pekan ini. Tugas kerja badan ini pada dasarnya tidak terlepas dari para anggotanya yang berjumlah 39 orang - kini 45 orang. Mereka duduk di lembaga itu sebagai wakil departemen, lembaga nondepartemen, organisasi masyarakat, dan tokoh masyarakat. Lembaga nondepartemen, misalnya, ada Mabes ABRI, Bakin, Kejaksaan Agung, Mabes Polri, BP7. Dari organisasi masyarakat, antara lain MUI, KWI, PGRI, PWI, KNPI, Kowani, Angkatan 45, Pramuka. Secara umum kriteria film yang diproduksi tidak boleh mencerminkan sikap anti Tuhan dan merusakkan kerukunan umat beragama serta tidak bertentangan dengan kebijaksanaan politik dalam dan luar negeri. Seandainya terselip adegan porno, sadisme, atau horor yang berlebihan, wajib dibuang. Toh, masih ada saja film-film yang mengundang kecaman pedas sehingga BSF harus bekerja ekstrakeras. 

Dua tahun lalu sewaktu film Ketika Musim Semi Tiba (KMST) diloloskan, BSF juga dibantai habis-habisan. Film yang dibintangi Meriam Bellina itu dinilai banyak menyajikan adegan erotis. Namun, Thomas Soegito dengan lihai berkelit. "BSF punya misi moral dalam membantu perfilman nasional, hingga sedapat mungkin meluluskan 100%," ucapnya (TEMPO, 6 Juni 1987). Tentang bumbu seks, katanya, "Bumbu boleh saja, tapi jangan terlau main jalan." Belakangan, setelah dua bulan bertengger di sejumlah bioskop, film laris tahun 1987 itu ditarik dan diperiksa ulang oleh BSF. Uniknya, pada saat yang sama, film-film sejenis lainnya, seperti Permainan yang Nakal, Bukit Berdarah, Bumi Bundar Bulat, Nyi Blorong, meledak di pasaran. Dan aman-aman saja alias luput dari perhatian publik. Tak heran kalau produser KMST, Ferry Angriawan, mencak-mencak karena merasa dikerjain. Kehadiran film bertema seks di Indonesia sebenarnya sudah cukup tua. Tentu dengan kadar yang berbeda-beda.

Pada awalnya adalah film Antara Bumi dan Langit yang disutradarai Dokter Huyung pada 29 tahun silam. Empat bulan sebelum film tersebut diedarkan, muncul protes dari Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Medan lantaran ada poster bergambar orang sedang berciuman. Tapi, sepuluh tahun kemudian, Turino Djunaidi sukses menampilkan Djakarta-Hongkong-Macao, sebuah film bertema action dengan selingan adegan ciuman di sana-sini. Proses selanjutnya berlangsung cepat. Lahirnya kebijaksanaan impor film di tahun 1967 makin merangsang kehadiran film-film Indonesia yang berbau pornografi. Film-film Orang-Orang Liar, Hidup, Cinta dan Airmata, lalu Bernapas Dalam Lumpur (BDL) adalah wajah perfilman kita dua dasawarsa yang lalu. BDL dengan bintang utama Suzzanna yang diproduksi tahun 1970 mencatat rekor sebagai film terlaris yang ditonton hampir 130 ribu orang. Suatu jumlah yang fantastis pada zaman itu. Sejak itu pula nama Suzzanna melesat bagi meteor dan banyak yang menjadikannya sebagai bintang simbol seks. Honornya mencapai Rp 1 juta. Belakangan, Paula Rumokoy yang tampil lewat Dan Bunga Bunga Berguguran ikut menyemarakkan suasana. Lalu menyusul Tuty Suprapto dengan Tante & Sex. Setelah itu Yatti Octavia dalam Intan Perawan Kubu. Era 1970-1980 boleh dibilang masa kebangkitan film yang mengekspose adegan dari ranjang ke ranjang. 
Film jenis lain, seperti Tuan Tanah Kedawung, Si Buta dari Gua Hantu atau Si Gondrong dengan silat sebagai menu utama, kalah pamor. Begitu pula yang bertema musik seperti Dunia belum Kiamat. Tapi, film seks ketika itu tidak sampai terjebak pada kemesuman. Bahkan, film lain yang memasang judul vulgar semacam Ranjang Siang Ranjang Malam, Supirku Sayang atau Pahitnya Cinta Manisnya Dosa melabrak tanpa halangan apa pun. Buktinya, tak ada protes yang mengharuskan BSF mengadakan peninjauan kembali. Tampilnya film-film Indonesia yang penuh adegan panas akhir-akhir ini tidak bisa dilepaskan dari makin berkembangnya teknologi informasi di masyarakat. Contohnya, lewat parabola, acara-acara di luar negeri mudah diikuti. Tanpa sensor lagi. Kehadiran video gelap juga menjadi faktor pemacu. Gejala inilah yang disadap para produser yang sudah membuktikan bahwa film dengan latar belakang seks dan kekerasan jadi senjata sakti di pasaran. Maka berlomba-lombalah mereka menghadirkannya sebagai bagian dari sebuah bisnis. Sulit disangkal, bumbu seks dalam sebuah film jadi faktor pelaris. Ini alasan klasik yang sudah dikumandangkan sejak Wim Umboh menggarap Bunga-Bunga Berguguran di tahun 1970-an. "Masuknya seks hanyalah untuk menarik penonton agar suka datang melihat film-film kita," katanya. Bahkan, Asrul Sani ketika itu dengan gamblang mengatakan, "Saya yakin kelak film Indonesia akan berkembang ke arah mempersembahkan seks secara wajar. " Dua puluh tahun kemudian hal yang sama dibeberkan oleh Gope T. Samtani. "Untuk daya tarik, seks menjadi penting sebagai bumbu," kata produser PT Rapi Films. Ia memberikan batasan toleransi sekitar 10% . "Porsi sekecil itu paling untuk iklan masih bisa diterima," tambahnya. Dengan resep ini, Rapi yang memproduksi film dengan biaya Rp 150 hingga Rp 200 juta bisa memetik keuntungan minimal 20% perfilm. "Sekarang ini film legenda dan mistik memang sedang disukai, terutama di daerah," kata Gope lagi. Segmen pasarnya pun sudah jelas yakni menengah ke bawah. Film jenis ini dalam setiap penyelenggaraan FFI porsinya rata-rata mencapai 60 persen. Setidak-tidaknya ini membuktikan betapa besarnya jangkauan pasarnya. Tapi, ia menolak anggapan bahwa film yang laku harus dengan embel-embel seks dan sadisme.

Sebaliknya, Nyak Abbas Acub setuju dengan pendapat bahwa film seks dan sadisme pasti digandrungi. "Umumnya laku. Film Suzzanna, tidak ada yang tidak laku," kata sutradara Inem Pelayan Sexy ini. Sebab, memang sudah terjadi pergeseran nilai-nilai di dalam masyarakat. "Akan berkembang terus karena setiap kurun waktu akan ada nilai-nilainya sendiri," katanya lebih lanjut. Menurut teorinya, kondisi film Indonesia sendiri. "Kita sekarang ini dijejali dengan film impor. Sehingga, agar survive, film nasional cari jalan. Ibarat Ellyas Pical diadu dengan Mike Tyson. Jelas, bukan lawannya. Tapi Mike Tyson malah didukung. Jadi, tidak salah kalau Ellyas Pical main kayu, cari batu," kata sutradara penuh humor itu. Jadi, dalam bisnis film yang serba tidak pasti, banyak faktor yang saling mempengaruhi laku tidaknya sebuah film. Sialnya, film yang laku belum berarti keuntungan besar masuk ke kantong produser karena hasil peredaran jatuh ke tangan "booker" atau distributor. Dan peran"booke" ini tidak bisa diremehkan. "Kadang-kadang kami dibisiki produser bahwa maunya 'booker' itu begini," cerita Mat Noer Tindaon, sutradara Akibat Pergaulan Bebas yang pernah dihebohkan tahun 1977. Untuk menggambarkan betapa besarnya kekuasaan produser, bisa diceritakan oleh Djun Saptohadi. Ketika ia menggarap film Sembilan Wali produksi Soraya Intercine Film pada 1985, Djuntak berdaya dengan titipan produser. Adegan panas yang seharusnya tampil selintas, atas permintaan produser, diubah menjadi tontonan buah dada. "Tak pelak lagi, gara-gara itu saya dicerca di mana-mana," kata Ketua I Kelompok Sutradara KFT ini. "Situasi semacam ini dihadapi 80 persen sutradara yang ada," tambahnya.

Munculnya lembaga distributor atau "booker" tidak urung ikut ambil andil dalam soal kualitas. Karena merasa tahu jenis film yang laku, bintang yang digemari, tema cerita yang disenangi penonton, para "booker" sering bertindak sebagai penentu. Target produksi bukanlah piala Citra. Yang penting bisa dijual, laku, dan menguntungkan. Sebelum berproduksi, seorang produser biasanya konsultasi dulu dengan "booker". Setelah ada kesepakatan, dana pun mengalir dari "booker". Sistem ijon semacam inilah yang melahirkan film-film yang banyak mendapat cercaan. Namun, produser atau "booker" tak bisa disalahkan begitu saja. "Lahirnya film kacangan merupakan pertemuan produser bermental dagang dengan sutradara tanpa kemampuan dan cita-cita," kata Nasri Chepy, sutradara film Catatan Si Boy yang meledak itu. Ia juga tidak menutup mata adanya praktek jual nama sutradara. Maksudnya, sutradara hanya dibeli namanya, sedang praktek di lapangan dilakukan orang lain. Lalu apa resep sebuah film yang baik? "Sebenarnya, yang penting adalah membuat film yang kena di hati masyarakat," kata Raam Punjabi dari Parkit Film. Sebagai pengusaha sah saja kalau berorientasi pada keuntungan. "Film bukan hanya untuk tuntunan tapi juga barang dagangan," tambah produser yang doyan membuat film-film mahal ini. Ia mengatakan bahwa yang dibuat dengan modal besar belum tentu laku di pasaran. Film Peluru dan Wanita, misalnya, dengan sedikit bumbu seks dan dibikin dengan biaya Rp 2,5 milyar, tidak begitu bergema.

Lain halnya dengan Catatan Si Boy dan Saur Sepuh yang mendapat sambutan hangat sehingga boleh dijuluki film laris tahun 1988. Keduanya dibuat secara berseri. Dan tahun ini Namaku Joe dan Kabayan Saba Kota laku keras. Tak hanya di bioskop papan bawah Kabayan berjaya. Di bioskop kelas satupun mereka selalu dipenuhi pengunjung. Ini membuktikan tak semua film dengan tema "biasa" tak bisa dijual. Jauh sebelumnya, film-film warop Prambors seperti Maju Kena Mundur Kena, Gantian Dong, dan Kesempatan Dalam Kesempitan juga merajai pasaran. Begitu pula Pengorbanannya Rhoma Irama. Rata-rata menyedot di atas 1.000.000 penonton. Sementara itu, film-film yang masuk nominasi FFI, yang dari segi kualitas bisa diandalkan, malah kedodoran. Paling tinggi hanya menjaring 500 ribu orang, kecuali Pemberontakan G30S-PKI dan Sunan Kalijaga yang di atas 1.000.000.

Singkat kata, film-film terlaris dalam sepuluh tahun terakhir ini kalau tidak Warkop Prambors, Rhoma Irama, yang bertemakan takhyul atau seks. Ketika dalam FFI 1984 diumumkan tidak ada film terbaik, orang pun tersentak. Apalagi setelah Juri tidak memberikan Citra untuk cerita asli. Apa yang terjadi dengan film Indonesia? Sudah begitu parahkah situasinya? Dari segi cerita sebenarnya tidak terlalu buruk, hanya mandek begitu kata D. Djajakusuma almarhum sutradara Harimau Campa. "Cerita asli kurang digali karena produser memang maunya demikian." Maka, bermuculanlah film-film yang dibuat dengan semangat seks dan kekerasan yang idenya berkiblat ke film asing. Celakanya, BSF kurang tajam mengasah pisau guntingnya sehingga film semacam Pembalasan Ratu Laut Selatan lolos dengan mulus. Padahal, dampak film yang menyajikan adegan sanggama dan sadisme sudah sering terdengar. Dari sejumlah kasus perkosaan yang terjadi di sejumlah daerah beberapa waktu lalu dalam persidangan terungkap bahwa pelakunya yang rata-rata masih remaja terpengaruh oleh film yang ditonton. Kelonggaran itu pula yang dipertanyakan oleh seorang ibu yang tinggal di Denpasar, Bali, belum lama ini. Ia melampiaskan unek-uneknya dengan menulis surat pembaca di sebuah surat kabar karena anaknya yang masih duduk di taman kanak-kanak disodori film Malu-Malu Mau dengan bintang Warkop. Adegan seks mungkin tidak ada. Yang dipertanyakan, tepatkah film semacam itu untuk konsumsi anak-anak. Sebenarnya, di setiap daerah sudah ada Bapfida (Badan Pengawas Perfilman Daerah) yang tugasnya meneliti film-film yang akan diputar di bioskop. Lembaga ini tidak berhak menyensor. "Tapi, kalau ada yang tidak sesuai dengan kultur daerah kami kembalikan," kata M. Supratomo, Sekretaris Bapfida Yogyakarta. Film PRLS, misalnya, langsung ditolak. Hal yang sama antara lain juga dilakukan oleh Bapfida Jawa Tengah dan Bapfida Suatera Utara. Toh, masih ada yang kecolongan. "Terus terang saja kami ketrucut," kata Soediono, Ketua Bapfida Jawa Timur. Film PRLS sempat lima hari diputar di Surabaya sebelum turun perintah pencabutan. Di kota ini, PRLS tidak menimbulkan reaksi tajam karena penontonnya sepi.

PRLS telah menjadi "tumbal" yang membuat kita semua mengamati lagi film nasional. Lebih dari itu menyengat orang film sendiri untuk berpikir. Seks dan sadisme bukan satu-satunya masalah. Itu baru sebagian dari masalah yang mestinya muncul ke permukaan. Banyak persoalan lain yang belum terbeber. Kebodohan sebagian orang film sendiri dalam medlanya, sebagaimana disinyalir oleh Teguh Karya, juga merupakan lingkaran setan, kemacetan film nasional. Meskipun menurut Eros Djarot, sebenarnya, "Tidak ada lingkaran setan, yang ada hanya setan yang melingkar-lingkar." Yusroni Henridewanto,Tommi T., Muchsin Lubis, Jelil Hakim, Jalil Hakim, I Made Suarjana

Rabu, 02 Februari 2011

KETIKA MUSIM SEMI TIBA / 1986

KETIKA MUSIM SEMI TIBA


Awang (Rico Tampatty)atas bantuan ayah Margie (Paramitha Rusady), mengikuti latihan pertelevisian di Roma. Awang mulai bercinta dengan Margie meskipun Margie sudah dipertunangkan oleh orangtuanya. Orangtua Margie secara halus mendesak agar Awang meninggalkan Margie. Dalam keadaan frustasi, Awang mengalihkan perhatiannya ke seorang penari, Vivienne (Meriam Bellina)yang memegang prinsip bahwa waktu yang menentukan pertemuan, percintaan dan perpisahan.
P.T. VIRGO PUTRA FILM

PARAMITHA RUSADY
MERIAM BELLINA
RICO TAMPATTY
LEROY OSMANI
W.D. MOCHTAR
NYOMAN AYU LENORA
SRI LESTARI
H.I.M. DAMSJIK
TEDDY MALA
AGUS SIRAN
NANANG DURACHMAN
S. NARYO HADI

25 Juli 1987
Ketika musim revisi tiba

DUA orang petugas Kanwil Departemen Penerangan Jawa Barat mendatangi Bioskop Vanda di Bandung, menjelang pukul sepuluh malam, Kamis pekan lalu. Mereka tidak menuju loket, tetapi masuk ke kantor bioskop, lalu menyodorkan selembar "surat sakti". Isi surat, yang ditandatangani Kepala Kanwil Deppen Ja-Bar, Drs. Asep Saefudin, meminta agar film yang diputar saat itu bisa dihentikan secepatnya. Peristiwa yang sama terjadi di Yogyakarta, Tegal, dan berbagai kota lain di Indonesia. Perintah itu datang dari Ketua Pelaksana Badan Sensor Film (BSF), Thomas Soegito, lewat telepon. 

Maka, untuk sementara, peredaran film nasional yang agaknya bisa menjadi film terlaris tahun ini terganggu. Film itu tak lain Ketika Musim Semi Tiba (KMST). Larangan terhadap film yang sedang dalam masa putar di bioskop agaknya baru sekali ini terjadi. Dan larangan terhadap KMST itu dikeluarkan sesudah BSF menyelenggarakan sidang pleno Senin pekan lalu. "BSF mempertimbangkan banyaknya imbauan dari masyarakat," kata Thomas Soegito. "Film itu akan disensor ulang." Dibintangi Meriam Bellina dan Rico Tampatty, KMST mendapat sambutan di mana-mana. Ketika diambil dari Bioskop Vanda Bandung, KMST sudah memasuki hari putar ke-56, dan sudah ditonton lebih dari 40 ribu orang. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, film ini pun diserbu penonton begitu juga di Jawa Timur, Bali, Sumatera. KMST sudah menghilang dari bioskop Jakarta, tapi kaset videonya menyebar sampai ke rental paling kecil. Kabar terakhir, video KMST sudah beredar pula di Denpasar, dan bukan mustahil di kota-kota lain juga. Dalam situasi beginilah, BSF mau merevisi. Amboi! Lalu bagaimana dengan videonya yang mewabah itu? Adakah BSF, ketika melepas film ini Maret lalu -- juga lewat sidang pleno -- tidak memperhitungkan reaksi masyarakat? Tampaknya begitu. BSF hanya melaksanakan tugasnya yang biasa, tapi khusus dalam kasus KMST, kejelian sensornya diragukan banyak orang. Memang, di Yogyakarta yang terkenal rewel itu -- film ini tidak dipersoalkan Bapfida setempat. Hanya ada catatan, film boleh diputar cuma di Kota Madya Yogyakarta. Berarti di Kabupaten Sleman, Gunungkidul, Kulonprogo, dan Bantul, KMST tak laik putar. Apalah artinya itu kalau jarak tempuh ke Yogya bisa dicapai dengan mengayuh sepeda tanpa lelah? Lalu, di Jawa Tengah, yang sudah terbiasa agak longgar, tokoh-tokoh seperti Haji Karmani dan Haji Wahab Djaelani mengakui bahwa KMST "agak mengejutkan" tetapi toh dapat menerima, karena film tetap sebuah film dan urusan porno tergantung dari mana melihatnya.

 Baru di Jawa Barat KMST kesandung, itu pun setelah masa putarnya mendekati 60 hari. Salah seorang pimpinan MUI Ja-Bar, Endang Rahmat, berkata, menonton KMST adalah haram hukumnya. Dikutip harian Pikiran Rakyat, Endang berucap, "Majelis Ulama Jawa Barat tak perlu lagi mengeluarkan fatwa. Film ini amat pornografis." Sejak itu, protes dari masyarakat bermunculan. Di Indonesia, perdebatan tentang pornografi memang seperti tak 'kan habis-habisnya. Film KMST yang sudah lolos sensor itu di mata BSF tetap tidak porno. "Pokoknya, BSF menilai film itu sudah pas," kata Thomas Soegito, akhir pekan lalu. Pertimbangan BSF: film diangkat dari novel yang sudah beredar luas, cerita film terjadi di Roma, dan untuk 17 tahun ke atas. Sampai sekarang BSF sudah berkali-kali melepas film-film panas, tapi baru dalam kasus KMST, lembaga ini dikecam keras. "Karena masyarakat punya pandangan lain, BSF harus peka terhadap imbauan masyarakat," ujar Thomas. Sikap BSF yang cenderung reaktif inilah agaknya, yang membuat Bobby Sandy (sutradara) dan Ferry Angriawan (produser KMST) berang. "Saya jadi tak tahu lagi apa kriteria BSF," kata Ferry. Ia pun menuding media massa. "Sebelum media massa meresensi film itu, tak ada komentar dari masyarakat yang negatif. Oknum-oknum tertentu kemudian memanfaatkannya," umpat pimpinan PT Virgo Putra Film ini. Bobby Sandy ikut menimpali. "Ketika saya membuat film itu, tidak terniat sama sekali menonjolkan hal-hal yang porno. 

Kalau mau membuat film begitu, kenapa jauh-jauh mencari tempat romantis sepert Roma?" ujarnya, seperti yang sudah diucapkannya berkali-kali sebelum ini. Ia sepakat dengan Ferry, film ini ditarik karena dikerjain. Tapi cobalah KMST dikaji sekali lagi. Kostum Meriem dalam adegan tari, sesungguhnya, tak polos betul. Bahkan mirip dengan film Cinta di balik Noda, yang menyebabkan ia memperoleh Citra, FFI 1984 di Yogyakarta. Kesintalan tubuh Mer ketika menari dan diangkat-angkatnya tubuh itu oleh penari lelaki pun pernah muncul dalam film Mer yang lain. Atau mengingatkan pada drama musikal Waktunya Sudah Dekat yang dipentaskan di Balai Sidang, Senayan, November 1985. Tarian dalam KMST pun dari segi artistik tak jatuh betul. Cuma, adegan berciuman dan lagi-lagi berciuman itu apa porsinya tidak terlalu berlebihan? Apa maunya, Bobby? Di sini pula gunting BSF mendadak tumpul, membiarkan adegan ciuman panjang yang sampai kulum-mengulum lidah. Kalau ini digunting dan disisakan cipokan beberapa detik, lalu membiarkan adegan pelukan untuk tak memotong dialog, jalan cerita toh masih tetap bisa diikuti. Kontinuitas tetap terjaga. Selain gunting BSF tak bekerja di bagian ini, KMST bernasib sial karena diputar menjelang FFI 1987. Film ini dijadikan salah satu bahan untuk lomba kritik FFI. 

Bandingkanlah dengan film-film lain yang terang-terangan mengeksploitasi seks, seperti Permainan yang Nakal, Bukit Berdarah, Bumi Bulat Bundar, Nyi Blorong, yang luput dari pengamatan media massa. Dan aman. Akankah KMST ini mengendap lama di BSF? Thomas Soegito menjanjikan dalam waktu dekat, setelah direvisi penyensorannya, KMST akan dilepas kembali. "Semua film nasional yang direvisi, termasuk Bung Kecil, Petualang-Petualang, Saidja dan Adinda akan dilepas menjelang pergantian anggota BSF ini," katanya. Berita menarik untuk ditunggu, karena keanggotaan BSF itu diganti akhir bulan ini juga. Putu Setia, Laporan Happy S. & Moebanoe Moera

Sabtu, 29 Januari 2011

S.A. KARIM 1964-1994



Lahir Kamis, 09 Agustus 1934 di Takengon. Pendidikan: ASDRAFI dan penulisan skenario. Pertama kali ke film sebagai astrada dalam Tudjuh Pradjurit (1962). Menjadi sutradara penuh mulai Ilusia (1971) produksi Panah Mas Film. Pada tahun 1974 menyutradarai Suster Maria, menjadikan Tanty Josepha meraih aktris terbaik dalam film itu. Ia juga mnenyutradarai sinetron Wiro Sableng dan Misteri Penjaga Makam antara 1995 dan 1997.

Banyak membuat film-film tentang mistik, horor, Silat, dan ngelmu...kali ya...., tapi film-filmnya banyak mencampurkan unsur sex atau cewek sexy, maupun yang berpakaian sexy, walaupun kebaya mungkin sexy juga...kalau sobek-sobek.....Tidak banyak yang didapat info tentang Mas Karim ini.

PENANGKAL ILMU TELUH 1979 S.A. KARIM
Director
JAMPANG II 1990 S.A. KARIM
Director
DARAH LIMA NAGA 1983 S.A. KARIM
Director
LENYAPNYA DENDAM SI BUTA 1983 S.A. KARIM
Director
MENANTI KELAHIRAN 1976 S.A. KARIM
Director
GODAAN 1978 S.A. KARIM
Director
MENENTANG BADAI 1985 S.A. KARIM
Director
PENDEKAR MATA SATU 1989 S.A. KARIM
Director
PENDEKAR MATA SATU LAWAN SABUK BADAK 1989 S.A. KARIM
Director
DAERAH PERBATASAN 1964 S.A. KARIM
Director
PERTARUNGAN DI GUNUNG SETAN 1989 S.A. KARIM
Director
PERTARUNGAN KERA SAKTI 1977 S.A. KARIM
Director
ARWAH PENASARAN 1975 S.A. KARIM
Director
ILUSIA 1971 S.A. KARIM
Director
PENGEJARAN DI BUKIT HANTU 1986 S.A. KARIM
Director
WALET MERAH 1993 S.A. KARIM
Director
MAKHLUK DARI KUBUR 1991 S.A. KARIM
Director
MISTRI WANITA BERDARAH DINGIN 1992 S.A. KARIM
Director
JAKA TUAK 1990 S.A. KARIM
Director
HAMIL MUDA 1977 S.A. KARIM
Director
CINCIN BERDARAH 1973 S.A. KARIM
Director
INTERPOL 1978 S.A. KARIM
Director
SI GURA-GURA 1980 S.A. KARIM
Director
DIA YANG BERHATI BAJA 1985 S.A. KARIM
Director
SI COMEL 1973 S.A. KARIM
Director
TERTANGKAP BASAH 1988 S.A. KARIM
Director
SUSTER MARIA 1974 S.A. KARIM
Director
AKU TAK BERDOSA 1972 S.A. KARIM
Director
KETEMU JODOH 1973 S.A. KARIM
Director
RAJAWALI DARI SELATAN 1988 S.A. KARIM
Director
RAJAWALI DARI UTARA 1990 S.A. KARIM
Director
BUTIR-BUTIR 1981 S.A. KARIM
Director
BUTET 1974 S.A. KARIM
Director
JARI-JARI LENTIK 1984 S.A. KARIM
Director
GAIRAH MALAM 1993 S.A. KARIM
Director
ROMUSHA 1972 S.A. KARIM
Director
JURUS DEWA NAGA 1989 S.A. KARIM
Director
JURUS DEWA KOBRA 1994 S.A. KARIM
Director
PRABU ANGLINGDARMA III 1994 S.A. KARIM
Director

Minggu, 30 Januari 2011

BARANG TERLARANG / 1983

I WANT TO GET EVEN


Film ini banyak judul lainnya Violent Killer dan I Want To Get Even.

Kehidupan rumah tangga yang sederhana dan bahagia dialami oleh Irma yang bekerja sebagai kasir restoran dan juga Rudy yang bekerja sebagai supir taxi. Irma yang hamil muda menambah kebahagiann keluarga itu. Ternyata setelah menikah Irma mengetahui kalau suaminya mengidap Sex Maniac dan Irma terpaksa menerima kondisi suaminya. Komplotan penjahat yang sering menyelundupkan morpin, narkotik, senjata gelap dan obat terlarang lainnya dibawah pimpinan Cobra 2 melakukan operasinya hingga mempengaruhi moral bangsa dan anak-anak muda. Cobra 2 memiliki anak buah bernama Rony yang bertugas menyalurkan barang-barang terlarang itu dan juga mencarikan wanita untuk kepuasan Cobra 2. Pihak berwajib telah mencurigai kegiatan Roni dan komplotannya namun mereka belum memiliki bukti akurat mengenai kegiatan tersebut. Di acara pesta disco, Cobra tertarik dengan penampilan Irma dan dia ingin mendapatkannya melalui Rony. Rony dan komplotannya berhasil menculik Irma. Disebuah gudang tua tempat markas Cobra melakukan kegiatannya kehormatan Irma direnggut oleh Cobra 2 dan juga anak buahnya.

Di saat mengalami sekarat Irma diseamatkan oleh seorang tukang becak yang kemudian melaporkannya ke pihak berwajib. Namun komplotan Cobra 2 mengetahui rencana polisi yang ingin menggrebek markas mereka. Rudy yang mengetahui kejadian yang menimpa isterinya sangat marah sekali. Akibat kejadian tersebut keluarga Rudy dan Irma selalu diwarnai pertengkaran karena Rudy tidak menerima kehamilan isterinya dan menginginkan kandungannya digugurkan namun ditolak oleh Irma. Irma akhirnya diusir oleh Rudy karena tidak mau mengikuti keinginannya. Irma yang wajahnya lembam karena pukulan Rudy bertemu dengan Ratih yang mempunyai anak putri cacat akibat terjangkit penyakit kelamin dari almarhum suaminya. Rudy yang frustasi menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukan dan terkadang melarikan kendaraannya dengan kencang. Akhirnya Rudy mencari tukang becak yang menemukan Irma untuk mengetahui Keberadaan Rony. Tukang becak membawa Rudy ke gudang tempat dimana dia menemukan Irma. Ditempat itu Rudy mengamuk menghancurkan semua barang-barang, tukang becak menghubungi polisi. Ketika terjadi perkelahian yang tidak seimbang antara Rudy melawan Rony Cs datang bantuan polisi yang berhasil menangkap sebagian komplotan Rony dan Rony berhasil lolos. Ketika Rudy dirawat Irma datang menemui dengan diantar Ratih yang meminta pada Rudy untuk mau menerima Irma yang tengah hamil tua. Kelahiran bayi Irma melalui operasi, namun bayinya yang cacat tidak tertolong bahkan kandungan Irma pun dinyatakan rusak oleh dokter. Rudy yang tidak menerima kenyataan itu ingin menuntut balas pada para penjahat-penjahat itu. Tanpa sengaja Rudy bertemu dengan Mia, adik kandung Rony. Dan Rudy merencanakan untuk menculik dan merengut kegadisan Mia.

Mia yang mengetahui dia terkena akibat dari perbuatan kakaknya menuntut Rony, namun Rony justru menaruh dendam pada Rudy. Rony berhasil menghancurkan rumah Rudy dan menangkap serta menganiaya Rudy di gudang tua. Mia yang mencoba untuk bunuh diri berhasil digagalkan oleh Cobra, namun Cobra berhasil membius dan menggauli Mia. Rony yang ingin memberikan laporan penangkapan Rudy kaget melihat kondisi Mia yang telah digauli seenaknya oleh Cobra. Dan akhirnya terjadi perkelahian tidak seimbang antara Rony dengan anak buah Cobra. Mia yang ingin membantu kakaknya tewas tertusuk pisau anak buah Cobra. Polisi berhasil menangkap Rony dan anak buah Cobra, namun Cobra dan Tohir berhasil melarikan diri. Namun pelarian Cobra dan Tohir diketahui oleh Irma dan Rudy yang telah siap dengan senjata yang diambil dari gudang milik Cobra. Mereka berdua berhasil membunuh Cobra dan Tohir yang telah merengut kebahagiaan mereka dan mereka memutuskan untuk menyerahkan diri ke pihak berwajib.


SAYA INGIN MENDAPATKAN BAHKAN (1987) - Indonesia: Di mana semua orang tahu bagaimana bertarung, wanita itu murah dan orang jahat botak. Setidaknya dalam film mereka. Film pemerkosaan / balas dendam Indonesia ini (dari Rapi Films, penyedia hiburan utama di Indonesia) dibuka dengan seorang lelaki botak berkeringat yang mencoba memperkosa seorang wanita di tempat tidurnya. Ketika dia berkelahi kembali, dia menyerah dan menyuruh anak buahnya melemparkannya keluar dari rumah (anak buahnya menutup mata dan mengikat tangannya di belakangnya dengan potongan kain yang robek dari gaunnya dan kemudian menggulingkannya menuruni bukit!). Si botak (semua orang memanggilnya "Boss", nama yang cukup umum di film bergenre Indonesia) kemudian merokok bersama sementara wanita berpakaian minim berlatih seni bela diri di sekitarnya. Kami kemudian memotong untuknya minum dalam disko, di mana kami mengetahui bahwa nama aslinya adalah Cobra (Rengga Takengon). Dia memukul kasir Irma (Eva Arnaz), tetapi dia menolaknya, yang tidak membuat Cobra bahagia sama sekali. Film ini kemudian beralih ke Rudy (Clift Sangra), yang merupakan suami dari Irma, yang sedang hamil. Rudy memiliki masalah amarah yang besar, terutama ketika dia bersemangat secara seksual. Setiap kali dia terangsang, dia berubah menjadi kekerasan, yang bukan kabar baik bagi Irma dan bayi di perutnya, terutama karena dokternya memperingatkan Irma bahwa dia akan mengalami kehamilan yang kasar dan setiap sentakan atau tarikan yang keras dapat membahayakan bayinya. Sementara itu, Cobra meminta anak buahnya kembali ke disko dan menculik Irma (Apa ???). Mereka menembaknya dengan heroin dan menempatkannya di ranjang Cobra (Salah satu pria Cobra berkata kepadanya, "Nikmati dirimu!").

Ketika Irma berkelahi kembali, Cobra memberikannya kepada anak buahnya dan mereka memperkosanya (ketika satu pria selesai, yang lain berkata kepadanya, "Itu cepat!"). Dia melarikan diri sebelum mereka dapat membunuhnya dan dia dijemput oleh seorang pengemudi becak yang ramah dan dibawa pulang. Kami kemudian beralih ke Rudy, yang membuang Irma dari mobilnya yang kencang ketika dia mengetahui bahwa bayinya adalah produk pemerkosaan geng oleh pasukan Cobra (Dia berkata kepada Irma, tepat sebelum dia terbang keluar pintu, "Kamu dan kamu bayi akan langsung ke Neraka! "). Setelah menampar seorang pelacur, Rudy mempertanyakan pengemudi becak yang mengantar pulang Irma dan dia kemudian pergi untuk memukuli orang-orang Cobra (dalam tampilan seni bela diri yang mengerikan), tetapi sebaliknya dia malah dipukuli dengan kasar. Untungnya, polisi muncul dan menyelamatkannya, tetapi orang-orang jahat lolos. Rudy kemudian melemparkan Irma keluar dari rumah mereka ketika dia menolak untuk melakukan aborsi ("Pergi sekarang! Aku tidak pernah ingin melihat wajahmu lagi!"). Segalanya berubah menjadi Twilight Zone ketika Rudy memperkosa Mia (Nenna Rosier), saudara perempuan antek Cobra, Ronnie (Hendro Tangkilisan), sebagai balasan atas pemerkosaan Irma. Ronnie dan anak buahnya kemudian mengendarai sepeda motor mereka melewati rumah Rudy, mengikatnya, menyeretnya ke belakang sepeda motor sampai mereka tiba di tempat persembunyian Ronnie dan kemudian memukulinya hingga menjadi bubur berdarah ("Aku akan mengajarimu untuk bermain-main dengan adikku!" ). Irma mendapatkan aborsi (Kita bisa melihat janin yang berdarah dan diaborsi!) Dan Rudy membawanya kembali. Rudy kemudian pergi ke tempat persembunyian Ronnie dan membunuh beberapa orang Ronnie dengan tembakan.

Dia kemudian menuju ke rumah Cobra, di mana Ronnie, Mia, Cobra, Rudy dan polisi berkelahi habis-habisan. Irma kemudian muncul berpakaian seperti Rambo (!) Dan membunuh Cobra dengan peluncur roket yang bagus. Apa apaan?!? Sangat sulit untuk tetap mengikuti film ini karena diceritakan dengan cara yang membingungkan dan tidak linier. Sulih suara, seperti biasa, sangat lucu (Anda tidak pernah tahu apa yang akan keluar dari mulut orang, seperti ketika Cobra memperkosa Mia. Dia berkata kepadanya, "Adikmu bilang kau akan menyukainya!" yang mendengarkan di lantai bawah, melakukan fellatio dengan ibu jarinya sendiri!). Mari kita bicara tentang Cobra sejenak. Selain terlihat seperti saudara terbelakang Sid Haig, tampaknya ia menghabiskan 90% dari waktu layarnya memperkosa wanita sambil mengenakan pakaian putih. Dia juga pemerkosa yang tidak efektif, karena satu-satunya wanita yang benar-benar diperkosa adalah Mia. Ketika wanita lain melawan, dia kehilangan minat dengan cepat dan melemparkannya ke pria. Untuk sebuah film yang berhubungan dengan banyak pemerkosaan, ada sedikit ketelanjangan. Para wanita biasanya menyimpan bra dan celana dalam mereka atau difilmkan di sudut di mana objek di garis depan menutupi potongan nakal mereka. Ada beberapa ketelanjangan, tetapi hanya beberapa frame cepat dan Anda harus menekan tombol Pause jika Anda ingin mendapatkan tampilan yang baik.





Sutradara Maman Firmansjah (ESCAPE FROM HELL HOLE - 1983) tidak memiliki petunjuk sedikit pun bagaimana membangun kontinuitas atau memfilmkan adegan aksi. Garis waktu tidak ada (saya menggaruk-garuk kepala pada beberapa kesempatan, terutama dengan adegan Irma) dan penutupnya berisi pengejaran mobil paling lambat dan adegan perkelahian dengan koreografi buruk yang pernah saya lihat dalam seorang aktor Indonesia (dan itu mengatakan banyak ). Itu memang berisi ledakan tubuh yang bagus, diikuti oleh kutipan dari Alkitab! Masih sulit untuk menyalahkan film ketika karakter yang paling simpatik adalah Ronnie, seorang pengedar narkoba dan penyelundup senjata, karena dialah satu-satunya anggota pemeran pria yang tidak memperkosa siapa pun! Dia juga memberikan pidato berapi-api di akhir musim, memohon anak buahnya untuk menyerah kepada polisi dan acc

Jumat, 12 Maret 2010

TJUTJU SUTEDJA 1976-1994

Cucu Sutedja


Lahir Rabu, 22 Juli 1953 di Tasikmalaya. Pendidikan : SLA. Tjutju mulai karirnya di film tahun 1974 lewat film "Ratu Amplop" Juru Foto. Tahun 1975 mulai menjadi Pembantu Juru Kamera dalam film "Benyamin Tukang Ngibul". Dalam tahun yang sama ia sudah meningkat menjadi Juru Kamera penuh lewat film "Samson Betawi". Filmnya yang lain "Zorro Kemayoran" (1976), "Bandit Pungli" (1977), "Menantang Maut ('78). dll.

GOYANG DANGDUT1980A. HARRIS
Director Of Photography
BEGADANG KARENA PENASARAN 1980 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
NAFSU DALAM CINTA 1994 TOMMY BURNAMA
Director Of Photography
BANDIT PUNGLI 1977 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
SALAH KAMAR 1978 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
MALU-MALU KUCING 1980 ISHAQ ISKANDAR
Director Of Photography
MUSUH DALAM SELIMUT 1984 WILLY WILIANTO
Director Of Photography
TAPAK-TAPAK BERDARAH 1990 IMAM PUTRA PILIANG
Director Of Photography
DARI PINTU KE PINTU 1991 B.Z. KADARYONO
Director Of Photography
MENENTANG BADAI 1985 S.A. KARIM
Director Of Photography
DEPAN BISA BELAKANG BISA 1987 TJUT DJALIL
Director Of Photography
DAERAH JAGOAN 1991 DHANY FIRDAUS
Director Of Photography
SI BADUNG 1989 IMAM TANTOWI
Director Of Photography
ANAK EMAS 1976 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
PENGEJARAN DI BUKIT HANTU 1986 S.A. KARIM
Director Of Photography
BALADA TIGA JAGOAN 1990 IMAM PUTRA PILIANG
Director Of Photography
DUYUNG AJAIB 1978 BENYAMIN S
Director Of Photography
SAYA SUKA KAMU PUNYA 1987 TOMMY BURNAMA
Director Of Photography
MAKHLUK DARI KUBUR 1991 S.A. KARIM
Director Of Photography
BUAYA PUTIH 1982 FRITZ G. SCHADT
Director Of Photography
PEMBALASAN RATU LAUT SELATAN 1988 TJUT DJALIL
Director Of Photography
KOBOI CILIK 1977 SOFYAN SHARNA
Director Of Photography
PERMAINAN CINTA 1983 WILLY WILIANTO
Director Of Photography
PERAWAN-PERAWAN 1981 IDA FARIDA
Director Of Photography
OJEK 1991 ATOK SUHARTO
Director Of Photography
KERIS KALAMUJENG 1984 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
TARSAN PENSIUNAN 1976 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
KUTUKAN NYAI RORO KIDUL 1979 B.Z. KADARYONO
Director Of Photography
KE UJUNG DUNIA 1983 HASMANAN
Director Of Photography
MENYIBAK KABUT CINTA 1986 WILLY WILIANTO
Director Of Photography
WADAM 1978 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
DIA YANG BERHATI BAJA 1985 S.A. KARIM
Director Of Photography
CINTA YANG BERLABUH 1989 MAMAN FIRMANSJAH
Director Of Photography
LUPA ATURAN MAIN 1990 TJUT DJALIL
Director Of Photography
SELIR ADIPATI GENDRA SAKTI 1991 TJUT DJALIL
Director Of Photography
MERENDA HARI ESOK 1981 IDA FARIDA
Director Of Photography
GADIS TELEPON 1983 WILLY WILIANTO
Director Of Photography
SATRIA 1985 WISJNU MOURADHY
Director Of Photography
PEREMPUAN MALAM 1987 ATOK SUHARTO
Director Of Photography
TANGKUBAN PERAHU 1982 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
TANTANGAN REMAJA 1990 IMAM PUTRA PILIANG
Director Of Photography
TIGA JANGGO 1976 NAWI ISMAIL
Director Of Photography
GAUN MERAH 1994 TJUT DJALIL
Director Of Photography
M-5 1978 ASKUR ZAIN
Director Of Photography
KENIKMATAN TABU 1994 ACKYL ANWARI
Director Of Photography
JARI-JARI LENTIK 1984 S.A. KARIM
Director Of Photography
SINYO ADI 1977 LILIK SUDJIO
Director Of Photography
SUMPAH SI PAHIT LIDAH 1989 DASRI YACOB
Director Of Photography
PRABU SILIWANGI 1988 SOFYAN SHARNA
Director Of Photography

Rabu, 09 Februari 2011

KRISIS X / 1975

KRISIS X
 

Ada keinginan sutradara untuk membeberkan keboborakan moral dalam masyarakat, tapi yang muncul adalah pameran keboborakan itu. Dua orang yang sedang bermesra di suatu tempat tiba-tiba diberondong tembakan. Dengan tenang si pelaku meninggalkan tempat kejadian dan mencari sasaran berikutnya. Begitulah pula yang terjadi pada dua pemuda berandal yang sedang memperkosa penjual jamu atau seorang bapak sedang memadu kasih dengan isteri orang. Ada pembunuh berdarah dingin yang seolah ingin menegakkan moral, meski kelakuannya sendiri tidak bermoral. Sementara itu polisi sedang berusaha menggulung sebuah sindikat narkotik. Begitu juga si pembunuh misterius itu. Terjadi pertempuran segitiga. Sindikat narkotik maupun kelompok penegak moral tadi dilumpuhkan. Komandan polisi yang melakukan operasi terkejut ketika melihat bahwa yang membunuh tadi adalah adiknya sendiri.
 
 
07 Februari 1976
Film itu dilarang sensor, dan ...
10 Januari yang lalu. Ketua Badan Sensor Film (BSF) menulis surat hepada Turino Junaidy, Direktur P.T. Sarinande Film di Jakarta. "Dengan ini kami beritahukan bahwa BSF dalam sidang plenonya hari ini untuk menilai film Krisis X yang diproduksi oleh Saudara telah memutuskan untuk melarang film tersebut dipertunjukkan kepada umum . . . ", begitu Soemarmo memulai suratnya. Bukan tanpa alasan keputusan tersebut. Ini alasan di balik keputusan itu: 'Film ini dapat memberi pengaruh negatif terhadap masyarakat dari segi: a. keamanan dan ketertiban masyarakat yang menyangkut penggunaan senjata api dan pembunuhan secara sewenang-wenang oleh anak-anak muda, dan kritik-kritik yang dapat merangsang timbulnya gejolak sosial b. moral yang menyangkut penggambaran adegan-adegan dan dialog yang menyinggung perasaan susila dan kesopanan Timur". Dan film itu hanya bisa diizinkan beredar kalau pemiliknya mau melakukan revisi. 'Kalau film asing sih, kita tolak saja, beres. Tapi ini modal dalan negeri, kasian kan?", begitu seorang anggota BSF memberi komentar. Turino jelas tidak langsung menerima begitu saja putusan orang-orang yang berkumpul dan bersidang di bioskop kecil jalan Agussalim itu. 

Dua puluh empat jam setelah menerima surat dari ketua LSF, Soemarmo, Turino pun mengirimkan balasannya. Jauh lebih panjang dari surat yang harus dijawabnya, pemilik Sarinande Film dan memulai suratnya dengan janji memberi kehormatan kepada surat Soemarmo untuk diberi "bingkai dan disimpan di sinematek Pusat Perfilman Nasional sebagai suatu peristiwa penting dalam sejarah film Indonesia". Tidak lupa Turino juga berkisah tentang kehidupannya sebagai orang film selama 17 tahun terakhir dan "selama itu alhamdulillah film-film yang saya buat belum pernah dijatuhi hukuman mati seperti sekarang" Sudah harus dipastikan bahwa lewat surat yang lumayan panjangnya itu Turino akan mencoba membela filmnya. Sebab dengan menerima begitu saja keputusan BSF berarti sejumlah uang harus ia keluarkan untuk revisi. "Saya kira adegan-adegan yang ada dalam Krisis X itu belum seberapa kalau dibandingkan dengan adegan-adegan yang ada dalam film Barat", kata Turino. Bahkan menurut Turino, adegan-adegan yang ia tampilkan dulu (1970) dalam film Bernafsu Dalam Lumpur lebih berani dari pada dalam film terbaru yang lagi naas itu. Tanya Turino: "Kenapa Bernafas Dalam Lumpur bisa lolos dan Krisis X tidak?". Jawab A. Karim, anggota BSF: "Film ini terlalu obral senjata api, dan ini menunjukkan betapa mudahnya orang main hakim sendiri". Sembari berkata demikian, Karim yang menjadi anggota BSF sejak belasan tahun silam, tidak lupa pula memuji tema pilihan Turino itu. "Sayangnya tema yang baik terasa hanya menyelimuti keseluruhan film, sehingga tidak ada keseimbangan antara isi dan penyampaiannya", tambah Karim pula. Kebobrokan Turino Junaidy bukan tidak punya jawaban terhadap argumentasi Karim. 

Tapi debat yang timbul dari jawaban itu akhirnya toh sama saja dengan debat-debat yang dulu berputar di sekitar keputusan BSF untuk juga melarang peredaran (sebelum direvisi) film-film Manusia Tera*hir, Akhir Cinta Di Atas Bukit dan Mimpi Sedih. Si pembuat film merasa menggambarkan kebobrokan dalam masyarakat, BSF berkesimpulan bahwa penggambaran itu tidak proporsionil terlalu dilebih-lebihkan. Karena itu lebih baik kita dengar alasan Turino membuat film yang kabarnya cukup "berani" itu. "Melihat gejala-gejala yang akan melumpuhkan kembali industri film nasional, saya menjadi cemas, lebih cemas dari pada di tahun 1970", tulis Turino dalam suratnya. Seperti sudah bisa diduga, yang menjadi sumber kecemasn tokoh kita ini adalah film-film impor itu. "Sekarang film-film demikian diperbolehkan masuk ke negeri ini, dan film-film itu umumnya dibuat oleh orang-orang yang berkesusilaan Timur seperti Hongkong, Pilipina, Jepang, Korea dan Taiwan ...". Sembari merenung dan mereka-reka kemungkinan bersaing dengan film impor yang terus membanjiri pasaran Indonesia, Turino tiba pada pertanyaan ini: "Mampukah film-film komedi konyol dan percintaan cengeng merebut selera penonton yang tlah rusak, dirusakkan oleh film-film luar negeri?" Pertanyaan Turino lewat surat ini mengejutkan seorang anggota BSF. "Lho, apa Turino mengira bahwa film yang kita loloskan di sini semua film-film sex bunuh-bunuhan serta segala macam kekasaran?" Menurut anggota yang segan namanya masuk koran itu, kesalahan terbesar yang dilakukan Turino bersumber pada seleranya sendiri yang cuma sanggup berkelahi dengan film murah yang masuk kemari dan pura-pura tidak tahu danya sejumlah film bermutu yang juga beredar di Indonesia. "Kok yang dijadikan ukuran yang konyol-konyol dari Hongkong, kenapa tidak film-film Perancis yang halus dengan ongkos pembuatan yang juga tidak mahal" Debat macam ini bisa tidak habis sampai tua. Yang jelas Turino risau lantaran koceknya -- dan katakanlah juga kehendaknya bekerja -- terancam. 

Tapi sebelum semuanya terlanjur, kabarnya peringatan halus sudah pula sampai ke kantor PT Sarinande. Ini komentar Haji Djohardin, Direktur Pembinaan Film Deppen: "Kalau Sarinande mau mendengarkan saran kami dengan meninjau kembali soal porno dan adegan yang menyinggung pemerintahan, saya kira BSF akan meloloskannya". Alasannya, pak? "Yah, karena adegan yang demikian itu belum cocok dengan kondisi masyarakat kita", jawab Djohardin. Turino boleh mengungkapkan segala perjuangannya dalam dunia film selama 17 tahun dan bahwa "perusahaan milik pribumi 100 persen ini tidak memiliki modal kuat, seluruhnya sudah tertanam dalam film Krisis X", tapi kalau itu dinilai oleh yang berkuasa sebagai "belum cocok dengan kondisi masyarakat", yah, apa boleh buat. Dan Turino pun tahu diri, karena itu film yang sudah ia revisi kini dikembalikannya lagi ke BSF. "Kalau ini juga gagal, terpaksa saya mulai dari bawah lagi", pasrah Turino. Harap dicatat bahwa kata "dari bawah" di sini tidak lalu berarti mulai kumpul uang dari sana-sini. Sebab selain bonafide, Sarinande adalah satu-satunya perusahaan film Indonesia yang mempunyai peralatan paling lengkap, dan lantaran itu antara lain maka biaya produksinya selalu berhasil ditekan amat rendah.