Tampilkan postingan dengan label PERJALANAN SANDIWARA MISS RIBOET & DARDANELLA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERJALANAN SANDIWARA MISS RIBOET & DARDANELLA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 November 2009

PERJALANAN SANDIWARA MISS RIBOET & DARDANELLA

Kelompok Sandiwara Miss Riboet Orion dan Dardanella 1925 
hingga Fasisme di Panggung Sandiwara jaman JEPANG 1942
TEATER MODERN JATIM, PANGGUNG SANDIWARA HINGGA KE SANDIWARA DARDANELLA


Sandiwara panggung tidak bisa lepas dari sejarh film di Hindia, selain wayang, Sandiwara panggung sangat di gemari disini. Bebarapa panggung tradisional hingga adaptasi dari eropha, India, China sampai ke hal Wayang. Tetapi kalangan Belanda lebih suka sandiwara panggung dari pada wayang. Memang sejarah wayang diciptakan untuk propaganda seorang raja seperti yang dikisahkan oleh cerita wayang, sehingga rakyat yakin raja mereka seperti tokoh wayang tersebut titisan dewa dan sangat memiliki kekuatan yang luar biasa.

Oranbg Belanda banyak yang main dalam sandiwara ini, termasuk juga kelompok sandiwara bangsa China yang lama di Hindia. Bebarapa sandiwara yang terkenal adalah Opera Srie Permata, komedi Stamboel, Miss Riboet Orion dan Dardanella.

Sandiwara panggung ini ceritanya beragam, mulai dari kisah HIndia dan orang Belanda totok, atau pun Indo, dan yang populer saat itu dari luar negeri. Sandiwara ini kerapkali diiringi oleh musik-musik, nyanyian dan tarian yang khas, terutama musik keroncong, sunda, melayu, hingga india dan Eropha. Yang nantinya mereka akan terjun dalam Film dan beberapa menjadi pembuat film/bisnis film.

Telah satu abad lebih masyarakat Jatim telah mengenal teater modern. Akan tetapi, masyarakat Jatim juga para kreator teater-nya gagal mempertahankan tradisi teater modern yang telah dibangun sejak tahun 1891 oleh August Maheiu dengan nama Komedi Stamboel dan kemudian dilanjutkan dengan Dardanella pada tahun 1926.


Dardanella semula bernama The Malay Opera yang diprakarsai oleh Willy Klimanoff, anak pemain sirkus terkemuka A. Klimanoff kelahiran Rusia. Willy Klimanoff hijrah ke Indonesia sepeninggalan ayahnya. Dengan penguasaan teknik akrobatik Willy Klimanoff mendapat pekerjaan di Komedi Stamboel, kemudian mengganti namanya dengan A. Pedro.


Dalam bentuk pertunjukan atau infra strukturnya, A. Pedro banyak melakukan perombakan secara revolusioner sebagaimana sistem pertunjukan yang telah terkonsep oleh Komedi Stamboel dalam tradisi lakon dan tonilnya. Pedro melakukan perombakan radikal tradisi komedi bangsawan pendahulunya. Jika dalam Komedi Stamboel diantara pergantian adegan diisi atau diselingi dengan tarian-tarian dan lelucon untuk kepentingan hiburan, maka A. Pedro menghilangkan nuansa-nuansa lelucon dan tarian. Dardanella lebih menfokuskan pada bentuk pertunjukan drama murni. Dardanella mementingkan esensi dramatik, kekuatan cerita dan permainan aktor-aktornya, meskipun selingan tarian tetap ada namun masih berada dalam satu keutuhan pementasan, dengan lain kata, tari-tarian menjadi bagian dari alur cerita dan adegan.


Pengaruh Dardanella terhadap perkembangan teater modern Indonesia sangat besar. Seiring dengan kemajuan dardanella banyak bermunculan teater-teater lain yang diprakarsai oleh bekas sri panggung dan anggota dardanella sendiri. Seperti Bolero, Orion yang didirikan Miss ribort, dan Tjahaya Timoer yang didirikan Andjar Asmara. Andjar Asmara sewaktu menjadi anggota Dardanella menjabat sebagai tangan kanan A. Pedro. Andjar Asmara juga melakukan perombakan dalam sistem managerial dan sistem modernisasi dalam teknik tata panggung. Bahkan dampak dari kemajuan Dardanella sampai ke Jakarta, dengan didirikannya “teater Maya” yang diketuai oleh Usmar Ismail pada tanggal 27 Mei 1944.

Munculnya teater-teater kecil tersebut sebagai antitesis dari keberhasilan Dardanella dan juga sebagai proses eksperimental terhadap tema dan bentuk pementasan yang konvensional.



TUNTUTAN SEJARAH

Komedi Stamboel dan Dardanella yang lahir di Jawa Timur yakni Surabaya dan Sidoarjo merupakan pelopor gerakan pementasan teater modern di Indonesia, bahkan secara tidak langsung memberikan dampak yang begitu besar terhadap teater di tanahair nantinya.

Semangat modernitas yang dibangun oleh Dardanella terlihat dalam setiap pertunjukannnya telah memakai scrip atau naskah, pengadaan properti, kostum, make-up, juga melakukan pementasan yang utuh, artinya, teater Dardanella menghilangkan konvensi-konvensi lelucon dan tarian-tarian yang memberikan kesenangan lebih pada penonton. Dardanella melalui A. Pedro dan Andjar Asmara telah melakukan sistem manajerial pertunjukan secara profesional yang merupakan supra struktural dari suartu pertunjukan. Hal ini yang merupakan ciri dari teater modern dengan semangat realisme.

Realisme yang dimaksud ialah melihat peristiwa sehari-hari yang dialami setiap saat (ilusi kenyataan), sebuah pementasan bukan bukanlah sekedar menyajikan cerita, tetapi ada pesonanya, yakni yang seakan-akan bersungguh-sungguh, suatu permainan yang menimbulkan rangsangan pikiran bahwa yang terjadi di panggung bisa pula terjadi pada penonton.

Konsepsi estetika realisme yakni semangat impresionis. Tidak tidak menggubris lagi pesan-pesan sejarah, kitab suci, tetapi langsung memberikan kesan tentang persoalan-persoalan pokok-nya. Konsepsi realisme ingin menohok konsepsi romantisisme yang cenderung menjadikan kehidupan seperti mimpi. Dalam hal ini peentasan Dardanella tidak lagi menampilkan epos-ramayana yang merupakan model pementasan tradisional, akan tetapi Dardanella lebih banyak memainkan naskah-naskah yang sedang terjadi pada masyarakat sekitar. Misalnya dengan mementaskan naskah Nyai Dasima dan Kalibrantasi.

Dardanella dengan demikian sadar akan posisi dan konteks sosial dalam masyarakatnya, Dardanella mengapresiasi material dan mengekspresikan kultur lokal dengan perspektif modern.

Sedangkan pada dekade dewasa ini, kreator dan pekerja seni teater Jatim telah gagal mewarisi dan mempertahankan tradisi teater modern yang telah dibangun Komedi Stamboel dan Dardanella. Kegagalan pekerja teater Jatim lebih pada sikap kritis, mentalitas, spirit dan intelektualitas. Artinya, pekerja teater Jatim bersifat sebagai pekerja bukannya seseorang atau kelompok yang memiliki daya pikir kritis terhadap fenomena kultural, kepekaan terhadap konteks sosial dibelakang teks realitas.

Dalam beberapa pertunjukan terakhir teater-teater Jatim di Surabaya, pekerja teater Jatim mengesampingkan problematik perspektif kritis massa. Pertunjukan teater Jatim hanya bersifat momentum, temporal dan gegabah mencermati fenomena sosialnya. Dalam hal ini, pekerja teater Jatim khusunya Surabaya tidak mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan mental masyarakatnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Surabaya merupakan kota ‘metropolis’ dimana kriminalitas, kekerasan, urban, ketimpangan sosial, tata kota, pendidikan, perdagangan dsb, adalah suatu problematik yang sering kali dijumpai. Dengan lain kata, pertunjukan-pertunjukan yang ditampilkan pekerja teater Jatim kurang kritis mengklarifikasi problematik. Eksperimentasi dan eksplorasi yang dilakukan para pekerja teater Jatim lebih pada bentuk belaka, tidak menyentuh esensi dan fenomena masyarakatnya atau dengan lain kata minimnya proses kontenplatif, bukannya bermewah-mewah dengan bentuk pertunjukan, baik secara infra stuktural maupun supra strukturalnya, namun minim ide dan gagasan serta gagal menyampaikan dan mengkomunikasikan kegelisahan kultural Jatimnya.

Fenomena yang tak kalah memalukan pekerja teater Jatim ialah, para kritikus teater Indonesia, seperti Jim Lim, Zaini KM, Umar Kayam, Putu Wijaya, Nano Riantiarno, Rendra, Afrizal Malna, Bagdi Sumanto, Hanindawan, Nursahid, Sapardi Djoko Damono, Gunawan moehammad dll dalam beberapa tulisan, pembabagan, referensi-referensi dan data tentang teater modern Indonesia, Surabaya dan Jatim pada umumnya tidak pernah dicatat keberadaannya. Entah karena secara kualitas teater Jatim tidas layak, atau memang di Jatim tidak ada kritikus teater yang berkualitas sehingga dapat mengangkat nama teater Jatim. Secara logika sederhana, seharusnya teater modern Indonesia maju dan terus berkembang di Jatim, dimana pewarisan tradisi teater modern pertama kali diletakkan, bukannya di Solo, Bandung, Yogyakarta dan Jakarta.
Mari kita pikirkan bersama-sama.


Sepenggal Kisah Miss Riboet Orion dan Dardanella

Dua perkumpulan besar sandiwara berdiri pada 1925 dan 1926, Miss Riboet Orion dan Dardanella. Keduanya merajai dunia sandiwara kala itu. Mereka dikenal terutama karena pemain-pemainnya yang piawai berperan di atas panggung, cerita-ceritanya yang realis, dan punya seorang pemimpin kharismatik.

Kedua perkumpulan ini dikenal sebagai pembenih sandiwara modern Indonesia. Mereka merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada masa stambul, bangsawan, dan opera, seperti: membuat pembagian episode yang lebih ringkas dari stambul, menghapuskan adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau tarian di tengah adegan, menghapus kebiasaan memainkan sebuah lakon hanya dalam satu malam pertunjukan, dan objek cerita sudah mulai berupa cerita-cerita asli, bukan dari hikayat-hikayat lama atau cerita-cerita yang diambil dari film-film terkenal (Oemarjati, 1971: 30-31). Rombongan sandiwara ini juga mulai menggunakan naskah untuk diperankan di atas pentas, menggunakan panggung pementasan, serta mulai mengenal peran seseorang yang mirip sutradara (pada masa itu lazim disebut programma meester, peran ini dimainkan oleh pemimpin perkumpulan).

Perkumpulan sandiwara Orion berdiri di Batavia pada 1925. Rombongan sandiwara ini didirikan serta dipimpin oleh Tio Tek Djien Junior. Tio merupakan seorang terpelajar pertama yang menekuni secara serius kesenian sandiwara modern. Dia lulusan sekolah dagang Batavia. Primadona mereka adalah Miss Riboet. Selain sebagai istri Tio, Riboet juga terkenal dengan permainan pedangnya. Ia sangat menonjol ketika memerankan seorang perampok perempuan dalam lakon Juanita de Vega karya Antoinette de Zerna. Selanjutnya perkumpulan ini terkenal dengan nama Miss Riboet Orion (Sumardjo, 2004: 115).

Perkumpulan ini semakin mengibarkan bendera ketenarannya setelah masuk seorang wartawan bernama Njoo Cheong Seng dan istrinya Fifi Young. Setelah masuknya Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, perkumpulan ini meninggalkan cerita-cerita khayalan yang pada masa stambul dan bangsawan lazim untuk dibawakan ke panggung (Pane, 1953: 9). Kemudian Njoo Cheong Seng menjadi tangan kanan Tio Tek Djien dan bertugas sebagai penulis lakon pada perkumpulan ini dan menghasilkan cerita-cerita, seperti Saidjah, R.A. Soemiatie, Barisan Tengkorak, dan Singapore After Midnight.

Di tengah kepopuleran Miss Riboet Orion, berdiri perkumpulan sandiwara Dardanella di Sidoarjo pada 21 Juni 1926. Sebagaimana Miss Riboet Orion, Dardanella juga telah melakukan perubahan besar pada dunia sandiwara. Dardanella didirikan oleh A. Piedro, seorang Rusia yang bernama asli Willy Klimanoff (Ramadhan KH, 1984: 58). Pada 1929, untuk pertamakalinya Dardanella mengadakan pertunjukan di Batavia. Mulanya lakon-lakon yang dimainkan adalah cerita-cerita berdasarkan film-film yang sedang ramai dibicarakan orang, seperti Robin Hood, The Mask of Zorro, The Three Musketeers, The Black Pirates, The Thief of Baghdad, Roses of Yesterday, The Sheik of Arabia, Vera, dan Graaf de Monte Christo (Ramadhan KH, 1984: 74). Namun pada kunjungan keduanya di Batavia, mereka menghadirkan cerita mengenai kehidupan di Indonesia, seperti Annie van Mendoet, Lilie van Tjikampek, dan De Roos van Tjikembang. Cerita-cerita ini disebut dengan Indische Roman, yaitu cerita-cerita yang mengambil inspirasinya dari kehidupan Indonesia, dikarang dalam bahasa Belanda (Brahim, 1968: 116).

Pada tahun yang sama, seorang wartawan dari majalah Doenia Film, bernama Andjar Asmara, ikut masuk ke dalam perkumpulan ini, dan meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan di majalah tersebut. Seperti halnya Njoo Cheong Seng di Miss Riboet Orion, Andjar kemudian juga menjadi tangan kanan Piedro, dan bertugas sebagai penulis naskah perkumpulan. Andjar Asmara menulis beberapa naskah, seperti Dr. Samsi, Si Bongkok, Haida, Tjang, dan Perantaian 99 (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Dardanella juga terkenal dengan pemain-pemainnya yang piawai memegang peranan dalam setiap pertunjukan. Para pemain ini terkenal dengan sebutan The Big Five. Anggota Perkumpulan Dardanella yang disebut The Big Five yaitu, Ferry Kock, Miss Dja, Tan Tjeng Bok, Riboet II, dan Astaman (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11-12).

Persaingan untuk meraih perhatian publik antara Miss Riboet Orion dengan Dardanella terjadi di Batavia pada tahun 1931. Sebenarnya persaingan Miss Riboet Orion dengan Dardanella sudah mulai terlihat ketika dua perkumpulan ini memperebutkan “pengakuan nama” dari salah satu pemainnya, yaitu Riboet. Dalam dua perkumpulan ini ada satu pemain yang namanya sama. Ketika itu Dardanella yang sedang bermain di Surabaya, didatangi dan dituntut oleh Tio Tek Djien, pemimpin Miss Riboet Orion, karena Dardanella mempergunakan nama Riboet juga untuk seorang pemainnya. Tio berkata kepada Piedro, “Kami tidak senang Tuan mempergunakan nama yang sama, nama Riboet juga untuk pemain Tuan…kami menyampaikan gugatan, Miss Riboet hanya ada satu dan dia sekarang sedang bermain di Batavia”. Akhir dari perseteruan ini adalah mengalahnya Piedro kepada Tio dan merubah nama Riboet yang ada di Dardanella menjadi Riboet II (Ramadhan KH, 1982: 72).

Memang lazim terjadi persaingan antarperkumpulan sandiwara, terutama di kota besar seperti Batavia. Sebelum persaingan dengan Dardanella, Miss Riboet Orion juga pernah bersaingan dengan Dahlia Opera, pimpinan Tengkoe Katan dari Medan, persaingan ini berakhir dengan kemenangan pihak Orion (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 11). Wujud dari persaingan antara Miss Riboet Orion dan Dardanella ini adalah pecahnya perang reklame. Dardanella memajukan Dr. Samsi sebagai lakon andalan mereka, sedangkan Miss Riboet Orion dengan Gagak Solo. Dalam persaingan ini, Dardanella mengandalkan A. Piedro, Andjar Asmara, dan Tan Tjeng Bok, sedangkan Miss Riboet Orion mengandalkan Tio Tek Djien, Njoo Cheong Seng, dan A. Boellaard van Tuijl, sebagai pemimpinnya (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Kedua wartawan dalam perkumpulan-perkumpulan itu bekerja dan memutar otak untuk membuat reklame propaganda yang, sedapat-dapatnya, memengaruhi pikiran publik.

Akhirnya Miss Riboet Orion harus menyerah kepada Dardanella. Riwayat Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion berakhir pada 1934, ketika penulis naskah mereka Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, pindah ke Dardanella.

Dardanella menjadi semakin besar dengan hadirnya anggota-anggota baru seperti Ratna Asmara, Bachtiar Effendi, Fifi Young, dan Henry L. Duarte (seorang Amerika yang dilahirkan di Guam). Dalam Dardanella juga berkumpul tiga penulis lakon ternama, seperti A. Piedro, Andjar Asmara, dan Njoo Cheong Seng, di samping itu, perkumpulan ini diperkuat oleh permainan luar biasa dari bintang-bintang panggungnya seperti Miss Dja, Ferry Kock, Tan Tjeng Bok, Astaman, dan Riboet II.

Pada 1935, Piedro memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Siam, Burma, Sri Lanka, India, dan Tibet, untuk memperkenalkan pertunjukan-pertunjukan mereka. Perjalanan ini disebut Tour d’Orient. Dalam perjalanan itu tidak dipentaskan sandiwara, melainkan tari-tarian Indonesia seperti Serimpi, Bedoyo, Golek, Jangger, Durga, Penca Minangkabau, Keroncong, Penca Sunda, Nyanyian Ambon, dan tari-tarian Papua (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 13).

IKLAN & FOTO

Iklan Opera Srie Permata, sampai saat itu masih perlu menyebut anak wayangnya juga berasal dari Singapura. Pulau Penang dan Malaka. Tempat main opera ini adalah Pancoran di daerah Kota Jakarta Pusat.


Perkumpulan ini perlu menekankan kata INDO, karena teater ini dimainkan oleh orang-orang INDO, dan penekanan tulisan pada "Somoea jang maen orang Olanda"
DARDANELLA

Masih menyebut Malay 1029



Malay Opera Dardanella

A. Piedro Pendiri Dardanella





Fasisme di Panggung Sandiwara jaman JEPANG 1942

Balatentara Jepang berhasil menguasai seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942, setelah penyerahan tanpa syarat pemerintah Hindia Belanda di Kalijati, Jawa Barat. Setelah itu Jepang menduduki Indonesia sekitar 3,5 tahun. Pemerintah pendudukan Jepang bercita-cita menyatukan seluruh Asia dalam satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Jepang. Selain itu, mereka menginginkan agar masyarakat Asia mendukung peperangan yang sedang dijalankan melawan Sekutu (Belanda, Amerika, Inggris).
Eksploitasi hasil bumi serta mobilisasi manusia adalah wujud dari cita-cita Jepang tersebut. Untuk menyukseskan pelaksanaan kebijakan mereka tentang kemakmuran bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang, pemerintahan militer Jepang memberikan perhatian besar untuk mengambil hati rakyat dan bagaimana mengindoktrinasi mereka. Salah satu media yang dimanfaatkan Jepang guna menarik simpati rakyat Indonesia adalah melalui media seni sandiwara/teater.
Suatu organisasi bentukan pemerintah untuk menangani masalah propaganda dibentuk pada Agustus 1942. Organisasi ini bernama Sendenbu. Sendenbu merupakan sebuah departemen yang berada dalam Badan Pemerintahan Militer (Gunseikanbu), yang sejak awal sampai akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia selalu dipimpin oleh orang dari kalangan militer. Di dalam Sendenbu terdapat Seksi Propaganda. Seksi inilah yang kemudian mengendalikan seluruh media propaganda. Sandiwara, yang termasuk salah satu alat propaganda pemerintah, tidak lepas dari pengawasan seksi ini. Jepang memilih sandiwara sebagai alat propaganda karena sandiwara dapat menggelorakan perasaan orang banyak.




Selain Sekolah Tonil, Jepang juga membentuk Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) untuk mendukung/menunjang propaganda melalui kesenian, termasuk sandiwara. Keimin Bunka Shidosho berdiri pada 1 April 1943. Keimin Bunka Shidosho adalah organisasi di luar Sendenbu sebagai pusat kebudayaan yang bergerak di bidang kesenian. Tujuan dari Keimin Bunka Shidosho adalah untuk menyesuaikan kebudayaan Indonesia dengan cita-cita Asia Timur Raya, bekerja dan melatih ahli-ahli kebudayaan Nippon dan Indonesia bersama-sama, serta memajukan kebudayaan Indonesia. Terdapat lima bagian di dalam Keimin Bunka Shidosho, yaitu bagian kesusasteraan, bagian film, bagian lukisan dan ukiran, bagian musik, dan bagian sandiwara dan tari. Setiap bagian dipimpin oleh seorang ahli seni dari Jepang dan didampingi seorang Indonesia. Bagian sandiwara dan tari dipimpin oleh K. Jasoeda didampingi oleh Winarno.
Kedudukan bagian sandiwara adalah sebagai markas besar, atas perumusan kebijakan dasar pemanfaatan seni sandiwara demi propaganda politik, dan bertanggung jawab atas pendorongan, pelatihan, tuntunan, serta kontrol segala jenis kegiatan sandiwara. Keimin Bunka Shidosho juga ”menjaring” penulis naskah sandiwara kelas satu Indonesia, misalnya Inoe Perbatasari dan Armijn Pane. Naskah-naskah yang dikarang tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada perkumpulan-perkumpulan sandiwara untuk dimainkan.
Bagian sandiwara juga turut aktif menyelenggarakan pertunjukan-pertunjukan sandiwara, yang tujuannya tidak lain adalah propaganda, atau bekerjasama dengan organisasi-organisasi bentukan pemerintah lainnya untuk menyelenggarakan pertunjukan, serta memberikan hiburan bagi prajurit. Selain itu, Keimin Bunka Shidosho juga mengorganisir perkumpulan sandiwara lokal untuk tampil di wilayah-wilayah yang setaraf dengan perkampungan pinggir kota dan membentuk perkumpulan sandiwara.




Menjelang akhir 1944, dibentuk suatu himpunan sandiwara buatan pemerintah. Organisasi ini bernama Djawa Engeki Kyokai atau Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD). POSD dibentuk oleh Sendenbu pada 1 September 1944. POSD dipimpin oleh Hinatu Eitaroo. Sebelum pendirian organisasi ini, seluruh kegiatan seni sandiwara berada dalam kontrol Keimin Bunka Shidosho dan pengawasan Seksi Propaganda Sendenbu. Organisasi ini berdiri di bawah Seksi Propaganda Sendenbu. POSD bertugas sebagai perhimpunan berbagai perkumpulan sandiwara, menyelenggarakan berbagai pertunjukan, dan menyusun cerita sandiwara melalui Badan Permusyawaratan Cerita POSD, untuk kemudian dibagikan serta dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang termasuk ke dalam anggota organisasi ini. Pada perkembangan selanjutnya, POSD menempatkan perkumpulan-perkumpulan yang masuk di dalamnya untuk mengadakan berbagai pertunjukan di kota-kota besar Pulau Jawa, seperti Bandung, Surabaya, Malang, Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. Biasanya pertunjukan-pertunjukan ini dilakukan serentak dan dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang telah bergabung di dalam POSD, seperti Bintang Soerabaja, Tjahaja Timoer, Bintang, Warnasari, Dewi Mada, Pantjawarna, Noesantara, dan Sinar Sari. POSD banyak memegang peranan dalam pertunjukan lakon-lakon propaganda. Perkumpulan yang telah masuk ke dalamnya, wajib membawakan lakon-lakon propaganda yang di karang oleh Badan Permusyawaratan Cerita POSD dan Keimin Bunka Shidosho.
Wujud propaganda yang direalisasikan melalui sandiwara modern terlihat pada lakon-lakon masa ini. Hampir seluruh lakon-lakon sandiwara yang tercipta pada masa ini berkisah tentang kekejaman Belanda, kepahlawanan Jepang, anjuran memasuki organsiasi semi-militer, anjuran menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah, dan sejarah Indonesia pada zaman kerajaan. Perkumpulan-perkumpulan sandiwara yang ada pada masa ini seluruhnya berada dalam kendali pemerintah, melalui organisasi-organisasi yang khusus menangani aktifitas sandiwara seperti yang telah dipaparkan di atas. Perkumpulan sandiwara seperti Bintang Soerabaja, Tjahaja Asia, Tjahaja Timoer, Warnasari, Miss Tjitjih, Dewi Mada, serta perkumpulan-perkumpulan yang sifatnya lokal, mendapat tugas keliling untuk memberikan pertunjukan kepada penduduk atau golongan militer. Mereka memberikan hiburan sekaligus propaganda. Tentu saja lakon-lakon yang dibawakan oleh perkumpulan-perkumpulan ini adalah lakon-lakon yang tidak membahayakan keberadaan Jepang di Indonesia serta lakon yang mengobarkan semangat perang di kalangan penduduk.


Salah satu contoh pertunjukan lakon propaganda yang terjadi sepanjang masa pendudukan Jepang yaitu pertunjukan dari Perkumpulan Miss Tjitjih. Surat kabar Asia Raya menyebutkan bahwa perkumpulan ini bekerjasama dengan POSD menyelenggarakan pertunjukan pada 28 Mei 1945, di Siritu Gekidjo Pasar Baru, mengambil lakon ”Pentjaran Balik Selaka” gubahan dan pimpinan Lily Somawiria. Satu artikel di dalam majalah Djawa Baroe pada 15 Juni 1945 menyebutkan bahwa: ”pertoendjoekan ini ialah oesaha dari pihak P.O.S.D. (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) oentoek mempertinggi semangat peperangan dikalangan rakjat, teroetama rakjat didesa-desa dan kota-kota ketjil….”. Selain itu bertujuan juga untuk mempertebal semangat rakyat untuk menyerahkan padi. Lakon ini menggambarkan pertempuran di zaman Kerajaan Padjadjaran, yaitu sebuah cerita tentang Prabu Wirakantjana, Raja Padjadjaran. Alasan POSD memilih cerita ini karena cerita-cerita kuno ini dikenal oleh rakyat kecil di desa-desa. Pertunjukan tersebut dihadiri oleh pejabat tinggi Sendenbu, Shimitzu, prajurit-prajurit Jepang dan Heiho, serta para pemimpin sandiwara dari luar kota dan desa dari Jawa Barat. Pertunjukan-pertunjukan semacam ini terjadi sepanjang masa pendudukan.
Penulis-penulis yang tergolong sebagai penulis lakon produktif dimajukan ke depan oleh pemerintah guna menghasilkan karya-karya lakon propaganda. Di antara penulis-penulis ini adalah Armijn Pane, D. Djojokoesomo, J. Hoetagaloeng, Usmar Ismail, Merayu Sukma, Karim Halim, Aoh Kartahadimadja, Inoe Perbatasari, Idroes, Ariffien K. Oetojo, Ananta Gaharsjah, El-Hakim, Kamadjaja, dan pemimpin POSD, Hinatu Eitaroo. Hasil karya mereka, seperti Kami, perempoean, Djinak-Djinak Merpati, Awas Mata-Mata Moesoeh, Djarak, Koeli dan Romusha, Moetiara dari Noesa Laoet,



 
Tjitra, Pandoe Partiwi, Bekerdja, Ajo…Djadi Roomusha!, Fadjar Telah Menjingsing, dan lain-lain bercerita seputar memberikan gambaran brutal terhadap penjajahan Belanda; menganjurkan untuk mengikhlaskan anggota keluarganya memasuki barisan Suka Rela, Peta (Pembela Tanah Air), Heiho, dan Jibaku; menganjurkan untuk tidak hidup bersenang-senang di tengah peperangan; rela berkorban dengan menyumbangkan tenaga dan hasil bumi kepada pemerintah; dan memuji kehebatan tentara Jepang yang berjuang mengusir penjajah Barat dari Asia. Sebagai contoh, lakon Koeli dan Romusha karya J. Hoetagaloeng berkisah tentang tingginya martabat seorang Romusha (Pekerja Sukarela) pada masa Jepang dibandingkan dengan kuli kontrak pada masa Belanda. Karya ini memenangkan sayembara penulisan lakon sandiwara yang diselenggarakan oleh surat kabar Asia Raya pada 28 Mei 1945.
Selain kedua penulisan dan pertunjukan panggung, propaganda lewat sandiwara ini juga diwujudkan melalui siaran radio. Tercatat ada beberapa lakon sandiwara propaganda yang disiarkan pada masa pendudukan, yaitu Darah Memanggil karya Achdiat dan Rosidi; Moetiara dari Noesa Laoet dan Tempat jang Kosong karya Usmar Ismail; Djibakoe Atjeh karya Idroes; Diponegoro karya Soetomo Djauhar Arifin; Bende Mataram karya Ariffien K. Oetojo; Ajahkoe Poelang (”Tjitji Kaeroe”) karya Kikoetji Kwan; Soemping Soerong Pati karya Inoe Kertapati; Iboe Perdjoerit karya Matsuzaki Taii; serta Djalan Kembali, Mereboet Benteng Kroja, Memotong Padi, Manoesia Oetama, dan Tanah dan Air.
Telah diterangkan di atas, bagaimana seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang dijadikan alat propaganda politik. Pengaruhnya kepada masyarakat, terutama kalangan terpelajar kota, tidak begitu besar. kalangan terpelajar kota, yang umumnya lebih akrab dengan pertunjukan sandiwara, tidak begitu tertarik untuk menyaksikan sandiwara dengan tujuan propaganda, sedangkan kalangan yang kurang terpelajar, cenderung lebih mengikuti saja pertunjukan sandiwara propaganda. Ini disebabkan karena keterbatasan informasi pada kalangan yang kurang terpelajar. Bagi generasi muda, himbauan Jepang relatif diterima dengan baik. Generasi muda mempunyai kesempatan untuk menikmati jenis hiburan ini, karena sering dipertunjukan di sekolah dan rapat-rapat lokal.
Sumbangan positif kegiatan seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang bagi dunia sandiwara selanjutnya, yaitu dikenalnya dokumentasi naskah lakon, jangkauan cerita sandiwara yang lebih luas, dan muncul secara tegas peran dan tanggungjawab seorang sutradara. Di samping itu, mulai dikenalnya fungsi seni sandiwara sebagai media massa yang sesungguhnya serta dikenalnya wadah khusus untuk menangani kegiatan seni sandiwara.