Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Antara Bumi dan Langit. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Antara Bumi dan Langit. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

ANTARA BUMI DAN LANGIT (FRIEDA) / 1950











Film Indonesia pertama yang menampilkan adegan ciuman. Setelah terganyang gelombang protes, diadakan revisi dan diedarkan dengan judul lain, "Frieda". Dr Huyung adalah prajurit Jepang keturunan Korea. Nama Jepangnya Hinatsu Eitaro, sedang nama aslinya Hue Yong. Ia mendapat tugas "menguasai" dunia sandiwara Indonesia semasa pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, Huyung menyebarkan pengetahuan teater dan film pada antara lain Usmar Ismail, yang dianggap sebagai bapak perfilman nasional. Lahir tahun 1907, Huyung meninggal di Indonesia tahun 1952, setelah menyelesaikan filmnya keempat, "Bunga Rumah Makan".

Ada kejutan di dunia perfilman Indonesia dalam film Antara Bumi dan Langit – diproduksi oleh Stichting Hiburan Mataram dan PFN, disutradarai oleh Dr Huyung yang sejatinya bernama Hinatsu Eitaro, yang dulunya pernah menjadi Kepala Jawa Engeki Kyokai -sebuah sandiwara yang terkenal pada masa itu . Skenario ditangani oleh pengarang terkenal Armijn Pane sehingga getar susastra terasa. Namun terjadi kehebohan sebab untuk pertama kali dalam sejarah perfilman Indonesia karena berani menampilkan adegan ciuman antara bintang tenar S Bono yang berciuman dengan Grace! Gelombang protespun membahana.

STICHTING HIBURAN MATARAN
PFN





Selasa, 08 Februari 2011

FILM BICARA, BICARA FILM PERTAMA INDONESIA

FILM BICARA

The Teng Chun (sebelah Kiri, berdiri), dikolasi pembuatan film bicara Boenga Roos dari Tjikembang dengan kamera kuno buatan sendiri yang bisa merekam suara sekaligus.


'Indonesia’ memasuki era film bicara buatan ‘dalam negeri’ sejak tahun 1931, lewat film Atma De Vischer.

Tentu saja film bicara lebih menarik dibanding film bisu karena mudah dipahami. Bahasanya Melayu campuran. Temanya pun lebih bervariasi seperti Bunga Roos dari Tjikembang, Indonesia Malaise, Sampek Eng Tay, Si Pitoeng, Raonah, Siloeman Babi kawin dengan Siloeman Monjet, Anaknya Siloeman Oeler, Anaknya Siluman Tikoes, Lima Siloeman Tikoes dan lain-lain. Bangsa siluman dan legenda yang menyisipkan seni bela diri ternyata memberi semangat pribumi untuk kembali menguasai seni silat warisan leluhur, ya mungkin pada suatu ketika diperlukan untuk berjuang meraih kemerdekaan. Produser film keturunan Tionghowa, antara lain Wong Bersaudara, Tan Koen Yauw, The Teng Chun .

Pada tahun 1937 cuma ada 2 film yang diproduksi oleh Java Industrial pimpinan The Teng Chun dengan judul Gadis Jang Terdjoeal yang disutradarai oleh Nelson Wong , bercerita tentang cinta Han Nio dan Oey Koen Peng. Artis dan aktornya kebanyakan keturunan Tionghwa. Ada juga film Terang Boelan (Het Eilan Der Droomen) produksi ANIF yang disutradarai Albert Balink dengan bintang Roekiah dan Rd Mochtar yang kemudian melegenda..

Pada tahun 1940, produk cerita drama amat digemari penduduk seperti Bajar Dengan Djiwa, Dasima, Harta Berdarah, Kartinah. Kedok Ketawa, Kris Mataram, Matjan Berbisik, Melati van Agam, Sorga Ka Toedjoeh, Sorga Palsoe, , Zoebaida. Berkibar lah nama Roekiah, Rd Mochtar , Rd Djoemala, S Waldy dan lainnya yang menjadi idola rakyat pribumi.

Pada tahun 1940 muncul Ordonansi Film Nomor 507 tentang Perubahan dan Penyempurnaan Komisi Film dan Susunan Keanggotaan Komisi Film. Ordonansi yang bertambah dan berubah-ubah menunjukkan bahwa Belanda amat concern terhadap pengaturan film demi untuk menjaga ‘keamanan’ jajahannya.

Film Air Mata Ibu diproduksi tahun 1941, dimana Fifi Young mengukir nama besar. Genre film lebih beraneka ragam ada drama, crime, fiksi, laga, komedi dan lainnya. Ini tercermin pada film Air Mata Iboe, Jantoeng Hati, Elang Darat, Garoeda Mas, Ikan Doejoeng, Koeda Sembrani, Lintah Darat, Moestika dari Jenar, Mega Mendoeng, Noesa Penida, Pah Wongso Tersangka, Srigala Item, Tjioeng Wanara, Tengkorak Hidoep dll. Paling tidak ada 32 film diproduksi tahun itu. Ini prestasi. Sayang tahun 1942 cuma ada 3 produksi . Maklum dunia mengalami masa sulit karena berkecamuk Perang Dunia ke II. Jepang masuk ke Indonesia dengan menyebut dirinya saudara tua yang mengumbar janji palsu akan membantu Indonesia meraih kemerdekaan . Ternyata lepas dari jajahan Hindia Belanda diganti oleh Jepang yang sama kejam. Jepang masuk Indonesia tahun 1942. Semula kita ‘kesengsem’ dengan jargon baru yaitu Saudara Tua dan Asia Timur Raya. Walau demikian pada tahun 1942 masih ada produksi film antara lain Boenga Sembodja, Seriboe Satoe, Berdjoang . Perang Dunia semakin menggila dan produksi film juga berkurang, tapi toh tahun 1943 Nippon Eiga Sha memproduksi film yang merupakan propaganda Jepang tentang heiho . Masih ada 2 film lagi yang diproduksi yaitu Di Desa dan Di Menara . Menjelang kejatuhan Jepang di tahun 1944 , ada hal yang mengherankan yaitu diproduksi 6 film antara lain Djatuh Berakit, Gelombang, Hoedjan, Keris Poesaka, Ke Seberang, dan film berjudul Koeli dan Romoesha, yang merupakan propaganda Jepang bahwa nasib romoesha lebih baik dan terhormat dibanding kuli di zaman penjajahan Belanda! Terbukti antara film dan politik tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan!

Selama penjajahan Jepang ada paceklik film asing sebab Jepang melarang film asing masuk, kuatir akan mempengaruhi rakyat Indonesia.

. Pemerintah Militer Jepang mengubah De Film Commissie menjadi Kainen Bunka Sidhosodohan Nippon Sodosho atau Pusat Kebudayaan dan Propaganda Pemerintah Militer Jepang (Sedenbu) di Indonesia O Ini berarti bahwa film lebih dititikberatkan pada propaganda Asia Timur Raya dan Saudara Tua. Menjelang kejatuhan Jepang (tahun 1944) masih ada produser yang berani memproduksi film antara lain produksi Persafi yang dibiayai oleh Nippon Eiga Sha konon dengan sutradara Rustam St Palindih dan seorang pejabat Jepang yang menggunakan nama Indonesia . Produksi Persafi lainnya adalah Gelombang, Hoedjan, Keris Poesaka, Ke Seberang. Di masa itu ada film Koeli dan Romoesha – tentang nasib Romoesha dari kacamata Jepang. Romoesha dianggap jauh lebih mulia di masa pnjajahan Jepang dibanding para koeli di zaman penjajahan Belanda Jepang. Terus terang baik jadi koeli maupun jadi romusha sama menderitanya. Setelah tahun 1944, produksi film mengalami status pingsan! Jepang menyerah pada Sekutu dan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Perang merebut kemerdekaan mempengaruhi produksi film yang ikut mengalami masa ‘perjuangan‘ alias sepi.

Sejak tahun 1946 Pemerintah Indonesia menempatkan Badan Sensor Film berada dalam lingkungan Departemen Pertahanan Negara dan bertanggungjawab pada Menteri Penerangan. Apa yang tersirat dari yang tersurat dalam keputusan ini? Pentingnya perfilman dalam masa perjuangan yang mampu memberi penerangan dan mengobarkan semangat rakyat yang sedang berjuang. Film merupakan alat perjuangan yang tepat untuk menyusupkan jiwa kejuangan.

Setelah produksi film tertidur - karena seluruh potensi rakyat tertumpah pada memperjuangkan kemerdekaan, baru tahun 1948 dunia perfilman menggeliat lagi dengan 3 film yaitu Air Mata Mengalir di Tjitaroem (Tan & Wong Bros) Anggrek Boelan (South Pacific Film) dan Djaoeh Di Mata (South Pacific Film). Tahun 1949 kehidupan film bergairah lagi dengan 8 film.

Pemerintah kemudian menempatkan Badan Sensor Film dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri dengan nomenklatur Panitya Pengawas Film. Itu terjadi pada tahun 1948 . Kalau diruntut penempatannya , Badan Sensor kembali seperti ketika zaman jajahan Belanda. sebab Film Ordonantie berada dalam naungan Binenland Bestuur – atau Urusan Dalam Negeri. Tersirat makna bahwa film merupakan benang pemersatu masyarakat Indonesia. Film juga punya peran membangun jiwani bangsa.

Sejarah perfilman mulai merangkak lagi di tahun 1950. Jiwa merdeka mulai menyusup dalam penciptaan cerita, termasuk merdeka berkreatifitas. Ada kejutan di dunia perfilman Indonesia dalam film Antara Bumi dan Langit – diproduksi oleh Stichting Hiburan Mataram dan PFN, disutradarai oleh Dr Huyung yang sejatinya bernama Hinatsu Eitaro, yang dulunya pernah menjadi Kepala Jawa Engeki Kyokai -sebuah sandiwara yang terkenal pada masa itu . Skenario ditangani oleh pengarang terkenal Armijn Pane sehingga getar susastra terasa. Namun terjadi kehebohan sebab untuk pertama kali dalam sejarah perfilman Indonesia karena berani menampilkan adegan ciuman antara bintang tenar S Bono yang berciuman dengan Grace! Gelombang protespun membahana.

54 tahun kurun waktu ‘Antara Bumi dan Langit’, gelombang protes ini terulang lagi pada tahun 2004 dengan film Buruan Cium Gue, produksi Multivision Plus pimpinan Ram Punjabi dengan ‘keberanian’ ciuman antara Masayu Anatasia dengan Henky Y Kurniawan. Saking hebohnya, dai terkenal Aa. Gym atau KH Abdullah Gymnastiar , Professor Dr Din Syamsudin yang waktu itu menjadi Sekjen MUI beserta para pemuka lima agama datang ke kantor LSF,karena sudah memberikan Surat Lulus Sensor. Juga ibu-ibu dari berbagai organisasi melayangkan protes, termasuk Inneke Kusherawati yang dulunya berani menampilkan adegan panas dan beberapa artis lainnya. Lembaga Sensor Film menjadi sasaran protes. Akhirnya oleh produser – demi menjaga kesatuan dan persatuan, menarik film tersebut dari peredara sesuai dengan keputusan Menteri Budaya dan Pariwisata yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak I Gde Ardika menarik dari peredaran agar dapat direvisi dan LSF kemudian membatalkan Surat Lulus Sensor.Film ini pun direvisi dan kemudian beredar kembali dengan judul baru yaitu Satu Kecupan. Kalau ada yang memprotes tentu saja ada yang membela, antara lain Pendukung Kebebasan Berekspresi karena merasa kebebasan berexpresi hilang. Ya, jejak sejarah berulang kembali…

Yang menggembirakan di tahun 1950 ada 24 produksi film nasional. Ini menunjukkan semangat membangun film, luar biasa. Pada waktu itu Pemerintah Republik Indonesia menempatkan Badan Sensor Film dalam lingkungan Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PPK). Hal ini menunjukkan bahwa ‘titik berat’ perkembangan film pada budaya dan penddikan . Film merupakan media yang dianggap mampu mempengaruhi budaya bangsa, baik dari sisi positif maupun negatif. Film juga merupakan sarana pendidikan bagi anak bangsa. Pada masa itu saingan berat film Indonesia adalah film dari India, Malaysia dan Philipina yang menguasai bioskop kelas ‘bawah’ dimana rakyat mampu menonton, sedangkan bioskop kelas menengah dan atas didominasi film Amerika, Eropa, dan Cina! Saingan film impor membuat perkembangan film Indonesia megap-megap. Untuk mengatasi agar penduduk mau mencintai produksi film dalam negeri diadakan Festival Film Indonesia, namun belum dalam bentuk seperti FFI sekarang . Walaupun demikian Festival Film menjadi upaya untuk meningkatkan apresiasi terhadap film karya bangsa sendiri sehingga kalau mungkin mampu bersaing. Paling tidak film karya bangsa sendiri disenangi rakyat sendiri.

. Film import bagaikan bah datang menerjang, terutama dari Amerika . Dibentuk Association of Motion Picture of America di Indonesia (AMPAI). Film asing pun digandrungi, bagaikan raja di ranah perfilman Indonesia, bahkan menentukan selera. Film Indonesia yang masih lemah pun makin sulit berkembang. Untung ada sosok Usmar Ismail yang berhasil membuat film Darah dan Doa atau Long March yang mengisahkan perjalanan sewaktu long march para pejuang dari Jogya ke Jawa Barat. Shooting pertama dilakukan di Purwakarta, pada tanggal 30 Maret 1950. Tanggal bersejarah itulah kemudian ditahbiskan menjadi Hari Film Nasional. . Pada tahun itu ada 23 film yang diproduksi. Perlu dicatat bahwa film Darah dan Doa sudah mengalami pemotongan oleh Badan Sensor Film , namun setelah beredar masih saja menunai protes dari berbagai daerah, antara lain dari kalangan ABRI karena dikaitkan dengan DI/TII di Jawa Barat.

Masa yang menggembirakan datang ketika tahun 1951, dimana produksi film mencapai puncak perkembangannya. Di samping Golden Arrow, ada Persari, Bintang Soerabaya , PFN, Bintang , Thung Nam Film, Perfini dan lain-lainnya.. 64 film diproduksi tahun itu. Bintang-bintang baru bermunculan dan digandrungi masyarakat . Ada film Enam Jam Di Jogya, Budi Utama, Bunga Bangsa, Hampir Malam di Jogya, Gadis Olahraga, Main-main Jadi Sungguhan, Pahlawan, Si Pincang, Terbelenggu dan masih banyak lagi. Bertambah produser berarti bertambah pula produksi dan ladang seni serta tema lebih bervariasi. Sampai sekarang jumlah ini belum tertandingi.

Pada tahun 1955 tepatnya 30 Maret – 5 April menjelang Pemilu pertama - diselenggarakan Festival Film Indonesia untuk pertama kalinya . Ketua FFI adalah Djamaluddin Malik dan wakilnya RM Sutarto. Ini merupakan kombinasi ynng baik sebab perpaduan Djamaluddin Malik sebagai dedengkot film dan RM Sutarto sebagai birokrat yang mengerti film. Ketua Kehormatan Juri adalah Profesor Bahder Johan dan Ketua Juri dipilih Sitor Situmorang – seorang budayawan. Ini merupakan tonggak sejarah dan menjadi catatan tersendiri, sebab Pemerintah mulai menaruh perhatian serius pada perkembangan duniaperfilman yang punya dampak baik terhadap sosial budaya maupun ekonomi. Sayang, FFI kemudian baru diadakan lagi setelah 5 tahun yaitu pada tahun 1960, dengan piala yang disebut piala FFI.

Kebijakan perfilman tercermin dalam TAP MPRS 1960 yang menyatakan bahwa film bukan semata-mata barang dagangan melainkan alat pendidikan dan penerangan. Selanjutnya dalam impor film perlu ditentukan keseimbangan , sesuai politik bebas dan aktif dan film Indonesia harus dilindungi dari persaingan dengan film luar negeri.
Ya, itulah film yang memang tak dapat dipisahkan dengan politik!

Minggu, 08 Januari 2012

INDUSTRI FILM DI INDONESIA DARI AWAL

INDUSTRI FILM DI INDONESIA


Loetoeng Kasaroeng, produksi Java Film Co (L. Heuveldirp) tahun 1926, dapat disebut sebagai film cerita pertama yang diproduksi Indonesia dengan menampilkan kisah legendaris Sunda yang dikenal oleh semua orang di Jawa Barat.





Film yang dibuat oleh orang asing itu, mengungkapkan secara detail isi cerita dalam bentuk gambar, dan sekalipun BISU, semua orang yang melihatnya bisa menangkap secara runtun dan mengerti dialog yang terucap walau tanpa kata. Hal ini terjadi karena para penontonnya sudah menghafal seluruh adegan cerita, sehingga semua dialog tanpa suara dalam Loetoeng Kasaroengdidengar oleh hati para penonton.



Loetoeng Kasaroeng terbilang sukses sekalipun hanya dengan 7 hari pemutaran, dari tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927. Kesuksesan itu bukan karena anak-anak Bupati Bandung Wiranata Kusumah ikut membintangi film tersebut, melainkan karena kesuksesan L. Heuveldirp – yang sekalipun  orang asing, memiliki kemampuan luar biasa dalam menyuguhkan rekaman Budaya Sunda secara utuh melalui kisah Loetoeng Kasaroeng – sehingga para penontonnya terikat secara emosional, secara tumbal balik, dan larut dalam jalannya penceritaan.





Demikian juga dengan kepiawaian G. Krungers yang bertindak sebagai penata kamera. Sekalipun hanya menampilkan gambar-gambar yang monoton hitam putih, visualisasi hitam-putih itu diciptakan ke berbagai nuansa hingga ia selalu berwarna dalam imajinasi penonton.





Kesuksesan Loetoeng Kasaroeng tahun 1926 selalu dikenang sebagai sebuah awal yang cemerlang dari industri film di negeri ini. Karena itu, pada tahun 1952 dan 1983, film tersebut diproduksi ulang dengan judul yang sama. Tentu saja dengan tambahan kecanggihan peralatan yang berkembang.





Setidaknya ada dua film yang sukses dan cukup laris pada tahun ‘20-an. Selain Loetoeng Kasaroeng, sebuah lagi produksi Java Film berjudul Eulis Atjih juga tentang kisah dari Tanah Priangan. Eulis Atjih diputar di seluruh Jawa dengan mendulang uang yang lumayan banyak dan kesuksesannya berlipat ketika diekspor ke Singapura pada tahun 1927. 





Diakui pula, belum banyaknya masalah yang timbul di seputar awal kebangkitan perfilman di Indonesia sepanjang tahun ‘20-an, bukan karena industri film baru dikenal, melainkan juga karena judul-judul yang diangkat masih sangat dekat dengan irama kehidupan masyarakat, misalnya Lily van Java yang diproduksi pada tahun 1928 dan merupakan film pertama yang melibatkan Kongsi Tionghoa dalam industri film di negeri ini (South Sea Film Co.).





Ketika Lily van Java akan diproduksi Liem Goan Lian dan Tjam Tjoen Lian, sang pemilik industri menyadari, bahwa jalan cerita film yang dibuatnya menyimpang dari tradisi penceritaan dalam konteks lokal. Karena itu Lien Goan Lian merasa perlu mengajukan skenario film Lily van Java ke Film Commissie (Badan Sensor) untuk dicermati. Barulah setelah memperoleh persetujuan dari Film Commissie, Lily van Java diproduksi dan memperoleh sukses sepanjang tahun 1928.





Pada tahun 1930, mulai muncul protes terhadap film Karnadi Anemer Bangkong. Pribumi (masyarakat Indonesia) marah terhadap film itu karena memperlihatkan pribumi makan kodok. Setelah itu Film Commissie meminta lagi sebuah film untuk ganti judul karena protes orang banyak. Film Lari ke Mekkah (Meka) oleh Film Commissie diganti Menjadi Lari Ke Arab. Dari pergantian ini tampak bahwa sejak awal Badan Sensor sudah berperan dan sudah berfungsi seiring tumbuhnya industri film di Indonesia.





Sepanjang tahun ‘30-an, industri film tampaknya baru mencari bentuknya melalui judul-judul lama dari tradisi penceritaan lokal yang masih mendominasi gambar-gambar Bisu di negeri ini. Nyai Dasima, Si Ronda, Nyai Siti, Melati van Agam mendominasi judul-judul tahun 1930. Barulah setelah tahun 1931, dengan munculnya adegan suara dalam film, industri perfilman menjadi kian semarak dan judul-judul film pun mulai beraneka ragam serta penceritaan kian menjadi kaya.





Pada tahun 1934, Cino Motion Picture (The Teng Chun) memperkenalkan DOEA SILOEMAN OELAR, diangkat dari cerita klasik Cina. Sejak itulah cerita-cerita siluman sambung-menyambung pada tahun ‘30-an, yaitu Siloeman Babi (1935), Anak Siloeman Oelar Poeti(1936), Siloeman Tikoes (1936), Moesnahnya Gowa Siloeman Poetih, dan sebagainya. Film-film siloeman pada tahun 1930-an ternyata diproduksi hanya untuk memenuhi selera pasar “murahan” dan tidak memberi arti yang besar bagi perkembangan perfilman secara kualitatif.





Memang pada tahun ‘30-an tema-tema film dalam negeri (Indonesia) mulai bervariasi dibanding awal kebangkitannya pada tahun ‘20-an. Tema-tema patriot/pendekar yang bercampur mistik bermunculan. Hal itu bisa dimengerti, karena industri perfilman didominasi oleh pengusaha-pengusaha film dari kelompok masyarakat Tionghoa (Cina) yang diwakili oleh produksi film Batavia Motion Picture dari Jo Eng Sek dan Nelson wong.





Dominasi itu masih berlangsung hingga akhirnya pada tahun ‘30-an diproduksi si Ronda dari Tan’s Film (Tan Koen Youw). Karena itu, tidak mengherankan jika cerita-cerita film yang beredar di Indonesia ketika itu, banyak mengambil tema dari cerita Tiongkok (Cina) yang diadopsi langsung dari buku-buku komik. Seperti film Poi Si Giok Pa Loi Tay (1935) diambil dari Kiam Liang Koen Yoe Kang atau Anaknya Siloeman Oelar Poetri (1936) dari Java Industrial Film (The Teng Chun).





Selain mengambil tema-tema cerita dari kisah-kisah klasik Tionghoa (Cina), industri film juga mengambil dari repertoar panggung dan gambang kromong dengan mengadopsi lakon lokal seperti Sam Pek Eng Tay produksi Cino Motion Picture (The Teng Chun) tahun 1931.





Dengan munculnya kegiatan perfilman sebagai sebuah industri yang dapat menghasilkan “Oeang” pada tahun ‘30-an, industri ini dengan cepat di “keroyok” oleh para pengusaha Tionghoa (Cina) yang ada di Indonesia, Singapura, dan Malaya. Bagi mereka, film adalah sebuah mata tambang baru yang dapat menghasilkan uang. Karena itu, industri film pun mulai bermunculan, dan pengusaha-pengusaha Tionghoa yang semula bergerak di berbagai bidang usaha segera banting stir ke usaha perfilman yang lebih menjanjikan, maka muncullah:

    1.   
    2.    South Sea Film & CO (Liem Goan Lian, Tjan Tjoe Lian)
    3.   
    4.    Nancing Film Co.
    5.   
    6.    Tan’s Film (Tan Koen Youw)
    7.   
    8.    Halimoen Film (Nelson Wong)
    9.   
    10.    Batavia Motion Picture (Jo Eng Sek)
    11.   
    12.    Batavia Film Industri (Jo Kim Tjem)
    13.   
    14.    Java Industrial Film (The Teng Chun)
    15.   
    16.    Cino Motion Picturs (The Teng Chun)
    17.   
    18.    Union Film Coy (Ang Hoek Liem)
    19.   
    20.    New Java Industrial Film (The Teng Chun)
    21.   
    22.    Action Film (The Teng Chun)
    23.   
    24.    Star Film (Jo Eng Sek)
    25.   
    26.    Oriental Film (Tjan Hoek Siong)
    27.   
    28.    Majestic Film Coy (Fred Young)
    29.   
    30.    Jacarta Picture (The Teng Chun)
    31.   
    32.    Populer Film (Jo Kim Tjan), dan
    33.   
    34.    Standard Film (Touw Ting Lem).
    35.   


Barulah setelah film Het Eilan der Droomen, film Terang Boelan produksi ANIF yang disutradarai oleh Albert Balink, menyuguhkan romantika penceritaan dengan nuansa pribumi yang sangat kental, dengan bintang-bintangnya Rd. Moechtar, Roekiah, ET. Effendi, Tjitjih, Muhin dan Kartolo. Industri film tersentak untuk kembali menggunakan kekuatan/keunikan dari tema-tema lokal dengan menggarapnya dengan sepenuh hati. Terang Boelan adalah film terlaris sepanjang tahun ‘30-an dan ditayangkan selama dua bulan di Singapura pada tahun 1938 dengan penghasilan S$ 200.000.





Setelah itu, muncullah judul-judul bernuansa lokal seperti Fatimah (1938), Oh Iboe (1938), Tjiandjoer (1938), Impian di Bali (1939), dan Siti Akbari (1939). Sepanjang tahun 1940 sampai dengan 1941 mulailah muncul “action” dalam film Indonesia seperti Kedok Ketauan (1940), Kris Mataram (1940), Matjan Berbisik (1940), Pak Wongso Pendekar Boediman (1940), Rentjong Atjeh (1940),Boejoekan Iblis (1941), Elang Darat (1941), Garoeda Mas (1941), Lintah Darat (1941), Matula (1941), Pak Wongso Tersangka (1941),Poesaka Terpendam (1941), Singa Laoet (1941), Srigala Item (1941), Tengkorak Hidoep (1941), ditutup dengan munculnya filmTjioeng Wanara (1941).





Film Tjioeng Wanara merupakan film kolosal pertama yang diproduksi secara cermat, dengan menunjuk secara khusus Prof. Dr. R. Poerbotjoroko, sebagai penasihat sejarah yang mengisahkan tentang Raja Galuh.  Setelah itu, pada era pendudukan Jepang, film yang diproduksi tidak lepas dari kontrol penguasa Jepang, seperti film Berjoeang (1943), Di Desa (1943), Di Muara (1943), Djatoeh Berkait (1944), Gelombang (1944), Hoejan (1944), serta Koeli dan Romoesa (1944). Semua film itu diproduksi dalam rangka propaganda Dai Nippon di Asia.





Pada era kemerdekaan hingga tahun 1950-an, judul-judul film telah menjadi sangat romantis. Berbagai judul yang sangat indah, antara lain Air Mata Mengalir di Tjitarum  (1948), Anggrek Bulan (1948), Bengawan Solo (1949), Gadis Desa (1949), Harta Karun(1949), Menanti Kasih (1949), Saputangan (1949), Sehidup Semati (1949), dan Tjitra (1949). 





Mencapai puncak romantik pada film Antara Bumi dan Langit (1950). Film itu menuai kritik masyarakat luas, karena merupakan film Indonesia yang pertama menampilkan adegan ciuman. Gelombang protes melanda hingga kemudian direvisi dengan menghilangkan adegan ciumannya dan mengganti judulnya menjadi Frieda.  Film Antara Bumi dan Langit membuka lembaran baru dalam industri film Indonesia tahun 1950-an dan era itu dapat dianggap sebagai masa keemasan film Indonesia.





Salah satu yang sangat penting pada era 1950-an, ialah ketika Usmar Ismail mengangkat tulisan Sitor Situmorang menjadi film berjudul The Long March, yang kemudian diberi judul Darah Do’a. Film itu menjadi sangat penting, bukan semata-mata karena mengisahkan romantika perjuangan prajurit RI yang diperintahkan kembali dari Yogyakarta ke Jawa Barat, melainkan lebih dari itu, dianggap sebagai film nasional pertama karena kandungannya memuat pesan-pesan patriotisme dan nasionalisme yang mendalam.





Karena itulah, Dewan Film Indonesia, pada tanggal 11 Oktober 1962 menetapkan hari shooting pertama The Long March (30 Maret 1950) menjadi Hari Film Indonesia. Banyak bintang film yang mulai muncul pada era ‘30-an, ‘40-an, seperti Rd. Mochtar, Roekiah, Kartolo, Annie Landouw, Mas Sardi, ET. Effendi, Tan Tjeng Bok, R. Hidayat, Sofia WD, Djouhari Effendi, A. Hamid Arif, Netty Herawaty, Darussalam, S. Bono, Grace Panji Anom, dll. Para aktor dan aktris itu kemudian menemukan bentuk dan kualitas pribadinya sebagai pemain yang berkarakter, sebagai bintang film tenar yang memiliki kepribadian dan warna sendiri pada era ‘50-an, pada saat industri film nasional mencapai puncak keemasannya.





Di antara lebih dari 250 judul film yang diproduksi pada 1950-an, hanya satu adegan yang mengundang kontroversi, yaitu ketika S. Bono mencium Grace dalam film Antara Bumi dan Langit. Semua film tahun ‘50-an sangat jelas, penceritaannya mudah dimengerti, indah penceritaannya, dan senantiasa mengajak orang harus menonton agar dapat mengungkit teka-teki lakon di balik judul-judul itu, seperti Antara Bumi dan Langit (1950), Dendam Asmara (1950), Harumanis (1950), Meratap Hati (1950), Musim Melati (1950),Nusakambangan (1950), Pantai Bahagia (1950), Ratapan Ibu (1951), Antara Tertawa dan Air Mata (1951), Bunga Rumah Makan(1951), Di Tepi Bengawan Solo (1951), Hampir Malam di Yogya (1951), Air Mata Pengantin (1952), Dr. Sanusi (1952), Redrigo de Villa (1952) bekerja sama dengan LVN Studio (Filipina), Solo di Waktu Malam (1952), Aladin (1953), Belenggu Masyarakat (1953),Harimau Tjampa (1953), Lenggang Jakarta (1953), Musafir Kelana (1953), Sapu Tangan Sutra (1953), Antara Dua Sorga (1954),Jakarta Bukan Hollywood (1954), Jakarta Waktu Malam (1954), Halilintar (1954), Kopral Djono (1954), Lewat Jam Malam (1954),Dibalik Dinding (1954), Kabut Desember (1955), Tiga Dara (1956), Air Mata Ibu (1957), Seroja (1958), Tjambuk Api (1958) dan banyak lagi.





Semaraknya industri film tahun ‘50-an ditutup oleh Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959) produksi Murni Film dengan sutradara Asrul Sani. Dibanding tahun ‘50-an, grafik industri perfilman nasional pada tahun ’60-an, agak menurun dari segi jumlah. Film yang diproduksi hanya sekitar 178 judul. Akan tetapi, dari segi kualitas, adegan film tahun ‘60-an tampak lebih kaya nuansa. Pemain-pemain lama mencapai puncak ketenarannya, di samping aktor dan aktris baru yang mulai menanjak menapak kesuksesan.





Pada tahun 1960-an, Bambang Hermanto sebagai Aktor Terbaik di Festival Film Internasional Moskow 1961 melalui  filmperdjuangan, dianggap sebagai ikon film tahun 1960-an. Film perdjuangan didukung oleh aktris/aktor terbaik ketika itu  seperti Bambang Hermanto, Chitra Dewi, Rendra Karno, Bambang Irawan, Farida Aryani, Ismed M. Noor, Lies Noor, Soendjoto Adibroto, Pietrajaya Burnama, Mansur Syah dll. Selain itu, muncul nama-nama seperti Dicky Zoelkarnain, Ratno Timoer, Farouk Affero, Rahayu Effendi, WD. Mochtar, Rahmat Hidayat, Rima Melati, Mieke Wijaya, Rahmat Kartolo, Ami Priyono, Widyawati, Connie Suteja, Rita Zahara, Marlia Hardi, Maruli Sitompul, Hadisyam Tahax, Wahab Abdi dan banyak lagi.





Banyak dari nama-nama aktor/aktris terbaik tahun ‘60-an itu masih menguasai layar-layar perak tahun ‘70-an. Seiring dengan besarnya jumlah produksi  tahun 1970 hingga mencapai 630-an judul film dalam 10 tahun, ini berarti tidak kurang dari 52 judul film yang diproduksi setiap tahun.





Pada tahun 1961, Rita Rina Film memproduksi sebuah film berjudul KUNTILANAK. Film itu sebenarnya bukan menampakkan wujud kuntilanak, melainkan hanya suara tertawa yang menyerupai tawa kuntilanak. Barulah setelah tahun 1971, permainan hantu, berawal ketika PT Tidar Film memproduksi Beranak Dalam Kubur dengan Suzanna sebagai bintang utamanya. Kemudian, pada tahun-tahun selanjutnya, mulailah judul-judul seperti Lantai Berdarah (1971), Dendam Si Anak Haram (1972), Pemburu Mayat(1972), Ratu Ular (1972), Cincin Berdarah (1972), Mayat Cemberut (1972), Simanis Jembatan Antjol (1973), Kuntilanak (1974),Kemasukan Setan (1974), Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974), Arwah Penasaran (1975) Penghuni Bangunan Tua dan banyak lagi.





Apa yang dituliskan secara beruntun di sini tentang judul-judul film dengan tema-tema mistik dan hantu, hanyalah sebagian kecil dari judul-judul mistik dan hantu yang menguasai layar-layar perak di negeri ini pada sekitar tahun ‘70-an, dan mencapai puncaknya ketika PT Tobah Indah Film memproduksi Penangkal Ilmu Teluh (1979) dan Tuyul Perempuan, (1979). Setelah itu, pada tahun 1980-an, ketika produksi film mencapai 680-an dalam 10 tahun, atau  sekitar 57 film setiap tahun, ada 70 judul film di antarannya berhantu dan penuh dengan alur-alur cerita mistik.





Pertanyaannya adalah, apakah ada hubungan antara kondisi sosial-politik-ekonomi dengan kreativitas dan keleluasaan imajinasi dalam penciptaan tema-tema film? Tentu saja jawabannya ya, dalam arti bahwa di era kekuasaan orde baru pada tahun ‘70-an-‘80-an yang sangat ketat dalam berbagai kontrol, justru mendorong kreativitas penciptaan dengan munculnya judul-judul kemanusiaan, etika, dan lakon-lakon sosial yang lebih menonjolkan sisi kemanusiaan sebagai jawaban atas situasi yang dianggap sangat terawasi. Sementara lakon-lakon mistik dan hantu-hantu, tetap gentayangan karena dianggap lebih aman.





Namun, satu hal yang penting untuk diketahui, bahwa hantu-hantu ini tidak lepas dari lakon sosial yang dapat dijelaskan dalam berbagai alasan dan pembenaran budaya. Misalnya Godaan Siluman Perempuan (PT Leuser Film, 1978), Tuyul  (PT Sinar Tekun Film), atau Kutukan Nyai Roro Kidul.





Demikian juga pada tahun 1980, hampir semua film mistik dan hantu masih bertaut dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, dalam arti makhluk halus dan hantu-hantunya serta adegan mistik dalam lakon-lakon film nasional masih dikenal dalam kolektifmemory masyarakat. Barulah setelah Pengabdi Setan (1980), PT Rapi Film mulai mengajak secara profesional setan dan hantu-hantu sebagai bintang film dalam film Indonesia. Karena sejak itu setan dan hantu-hantu sudah diberi peran sesuai skenario manusia, sementara sebelumnya judul-judul film produksi Rapi Film sangat melankolis penuh perasaan terkadang sedikit genit misalnya Akibat Godaan (1978), Dang Ding Dong (1978), Rahasia Perawan (1978), Cubit-Cubitan (1979), Kerinduan (1979), Pelajaran Cinta (1979), Wanita Segala Zaman (1980), Anak-anak Tak Beribu (1980), dan Warna Cinta (1980).





Konteks cerita Pengabdian Setan memang konteks cerita Indonesia, tetapi hantu dan roh-roh halus yang bermain, sudah menjadi bagian dari kehidupan metropolitan. Apakah hantu dan roh-roh yang bermain di sini sudah hantu dan roh impor yang dipinjam dari alur penceritaan film impor? Kalau ini benar, maka posisi hantu-hantu Tionghoa, yang sudah mendominasi wajah perfilman Indonesia sejak tahun 1930-an, sudah habis masa kontraknya dan perannya diambil alih oleh hantu-hantu Indonesia yang kemasukan roh dan mahkluk-mahkluk halus global.





Dibanding pada tahun ‘80-an, pada era tahun ‘90-an industri perfilman mengalami penurunan, setidaknya dari jumlah produksi, hanya sekitar 453 judul film dalam 10 tahun, berarti hanya diproduksi sekitar 37-an film dalam setahun.





Sampai dengan pertengahan tahun 1990-an, tema-tema film nasional kita didominasi oleh tema-tema drama rumah tangga, sedikitaction, dan kisah-kisah pendekar. Sementara tema-tema hantu dan mistik seakan jalan di tempat. Akan tetapi, setelah tahun 1995, terjadi perubahan dalam selera penceritaan.





Dimulai dengan judul Bebas Bercinta oleh Rapi Film (1995), lakon-lakon yang menyerempet-nyerempet ke tema-tema seks mulai menghangat. Karena setelah itu, sepanjang tahun 1995 hingga memasuki tahun 2000-an, tema berbau seks tidak terbendung lagi dengan munculnya Cinta Terlarang (1995), Dibalik Pelukan Laki-laki (1995), Gairah & Dosa (1995), Gairah Malam Yang Kedua (1995),Gairah Terlarang (1995), Hangatnya Cinta (1995), Lembah Dosa (1995), Pergaulan Intim (1995), Pergaulan Metropolis (1995),Permainan Binal (1995), Pesona Gadis Sampul (1995), Rayuan Cinta (1995), dan Skandal Binal (1995).





Memang masih perlu penelitian yang cermat tentang munculnya tema-tema seks pada era tahun 1900-an, yang sesungguhnya mencapai puncaknya pada tahun 1996-1997-1998, pada era peralihan kekuasaan orde baru ke era reformasi. Bisa dibayangkan, dalam 1 tahun saja (1997) diproduksi 21 film bertema “seks”





Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam dua dasawarsa terakhir ini, era tahun 1990-an dan 2000-an, industri perfilman di Tanah Air diramaikan dengan munculnya industri sinetron untuk konsumsi televisi yang jumlahnya kian bertambah dalam 20 tahun terakhir.





Baik industri film layar lebar maupun televisi menciptakan lapangan kerja bagi sekian banyak orang. Masalah yang dihadapi sekarang menjadi sangat multidimensi. Mutu sumberdaya pemain, kualitas-kreativitas penciptaan cerita (skenario), promosi/iklan yang etis, termasuk pemilihan judul yang tepat dan yang terpenting adalah tanggung jawab moral terhadap dampak yang diakibatkan sebuah film.





Apakah ia diproduksi semata-mata hanya untuk hiburan sesaat tanpa pesan-pesan moral yang dititipkan oleh si pembuat film, karena memang sang film diciptakan hanya sebagai tontonan pelipur lara. Kalau dari awal niatnya memang hanya untuk pelipur lara demi uang, maka kita pun tidak dapat berharap banyak akan munculnya pemain-pemain/aktor-aktor yang memiliki kualitas pribadi yang tangguh. Karena untuk film yang diciptakan hanya sekadar pelipur lara yang mengikuti selera penonton seketika, kata lain dari murahan,  akhir-akhir ini mulai mendatangkan pemain-pemain asing sebagai bintang tamu dari sebuah film nasional.





Apa arti semua ini, ialah penonton kita sudah mulai jenuh dan jemu dengan wajah pemain-pemain kita yang setiap hari kelihatan di judul-judul film yang berbeda-beda dan di puluhan sinetron dengan lakon yang beraneka ragam, tetapi dengan karakter/kepribadian yang sama.

Rabu, 26 Januari 2011

GUNDALA PUTRA PETIR / 1981


 

Siapa tak kenal gundala???
kalau anda gak kenal mungkin orang tua anda kenal, soalnya ini super-hero aseli Indonesia yang sempat populer di tahun 1969 bersama tokoh-tokoh jagoan lainnya seperti Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, dan Godam.

adalah proyek ambisius dari penerbit Bumi Langit yang pernah menghidupkan kembali Sancaka (nama aseli Gundala) kedalam komik di era modern ini pada tahun 2005, dan kini Bumi Langit Production bekerja sama dengan Graha Media Visi sedang merencanakan sebuah filem layar lebar dengan judul Gundala yang direncanakan akan tayang pada Juni 2009.

masalah kualitas jangan khawatir saudara-saudara, Indonesia memiliki banyak pakar Computer Graphic yang muda dan berbakat, lihat saja karya-karya mereka di indoCG.com (tempat kumpulnya seniman computer graphic asal indonesia), masalahnya sekarang… apakah pihak produksi bisa “royal” untuk memaksimalkan filem ini, kita nantikan saja.

Gundala adalah tokoh komik ciptaan Hasmi yang muncul pertama kali dalam komik Gundala Putra Petir pada tahun 1969. Genre komik adalah Fantasi. Jelas tampak pengaruh komiksuperhero Amerika pada desain karakter maupun jenis kekuatannya, meskipun alur ceritanya bergaya Indonesia. Lokasi cerita sering digambarkan di kota Yogyakarta meskipun dalam filmnya pada tahun 1982 diceritakan berada di Jakarta. Gundala termasuk karakter komik yang cukup populer di Indonesia di samping Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, dan Godam.



Asal usul
Seorang peneliti jenius bernama Sancaka menemukan serum anti petir. Tenggelam dalam ambisinya sebagai seorang ilmuwan, dia melupakan hari ulang tahun Minarti, kekasihnya, yang berakibat putusnya hubungan mereka. Sancaka yang patah hati berlari dengan hati galau di tengah hujan deras. Tiba-tiba sebuah petir menyambarnya. Dalam keadaan koma ia ditarik oleh suatu kekuatan dari planet lain dan diangkat anak oleh raja Kerajaan Petir yang bergelar Kaisar Kronz, sekaligus diberkati kemampuan super yaitu bisa memancarkan geledek dari telapak tangannya[1]. Raja Taifun dari kerajaan Bayu memberinya kekuatan lari secepat angin.

Sejak itulah, di waktu-waktu tertentu, ia tampil sebagai jagoan penumpas kejahatan berpakaian hitam ketat dengan sepatu dan cawat berwarna merah. Wajahnya tertutup topeng, hanya tampak mata dan mulutnya, di sisi topengnya terdapat hiasan seperti sayap burung. Ia adalah kawan mereka yang lemah dan musuh bagi para pencoleng.
 
Gundala bertemu untuk kali pertama dengan musuh bebuyutannya, Ghazul, dalam "Dokumen Candi Hantu" (1969).
 
Pengkor menciptakan Gundala palsu yang mencemarkan nama baik Gundala. Rekan-rekan sesama jagoan pembasmi kejahatan berbalik memburunya. Gundala akhirnya mampu membuktikan kejahatan Pengkor dan menghajar balik si Gundala palsu.
 
Dalam petualangannya bersama Kalong di Pangkalan Pemunah Bumi (1977), Gundala Bertemu dengan seorang wartawati cantik yang ternyata tangguh ilmu bela dirinya, yaitu Sedhah Esti Wulan yang kemudian menjadi istrinya. Sedhah kelak menjadi seorang jagoan wanita yang dikenal dengan sebutan Merpati.
 
Horyona, ayah mertua Kaisar Kronz menaruh dendam kepada menantunya disebabkan hukuman dijatuhkan kepada putrinya yang jahat. Cucu Horyona dari Kronz menuntut tahta Kerajaan Petir. Kaisar Kronz mengutus Thirhapy menjemput Gundala dibumi. Sang Putra Petir mendapat tugas menghadapi Athon, raksasa bersenjatakan kapak petir.

Selain Gundala Putra Petir (Kentjana Agung,1969), judul seri selanjutnya adalah Perhitungan di Planet Covox (1969). Di sini Gundala bertemu dengan Pangeran Mlaar, yang memiliki tubuh bisa melentur. Mlaar adalah putra mahkota yang terkudeta. Gundala membantu mengembalikan tahtanya. Persahabatan itu membuat Mlaar jadi sering main ke Yogyakarta.

Judul berikutnya adalah Dokumen Candi Hantu (1969), yang merupakan pemunculan pertama musuh bebuyutan Gundala, yakni Ghazul. Lalu Operasi Goa Siluman (1969), The Trouble (1969), Tantangan Buat Gundala (1969), Panik (1970), Kunci Petaka (1970).

Kemudian dalam Godam vs Gundala (Prashida, 1971) dikisahkan Gundala dan Godam tanpa sengaja tertukar kostum dan kekuatan super masing-masing. Masing-masing saling menuduh mereka palsu dan terjadilah perkelahian luar biasa. Warga Yogya yang menonton jadi bingung, mengapa kedua superhero itu bisa bertarung . "Mungkin mereka berebut pacar," komentar seseorang.Setelah mengadu pada pencipta masing-masing ( Kaisar Kronz dan Bapa Kebenaran ), mereka akhirnya bisa kembali pada kondisi normal.

Gundala juga hadir dalam Bentrok Jago-jago Dunia (Prashida, 1971), Gundala Jatuh Cinta (1972), Bernapas Dalam Lumpur (1973), Gundala Cuci Nama (1974), 1.000 Pendekar (1974), Dr Jaka dan Ki Wilawuk (1975), Gundala Sampai Ajal (1976).

Dalam Pangkalan Pemusnah Bumi (1977), Gundala diceritakan bertemu untuk pertama kali dengan calon istrinya. Kemudian berikutnya terbit Pengantin Buat Gundala (1977), Bulan Madu di Planet Kuning (1978), Lembah Tanah Kudus (1979), Gundala Sang SenapatiIstana Pelari (1980), dan terakhir Surat dari Akherat (1982). (1979),

FILM Pada tahun 1981, popularitas komik Gundala merambah layar perak di Indonesia. Dengan membeli lisensi dari pengarangnya, PT. Cancer Mas Film menvisualisasikan komik tersebut dengan disutradarai oleh Lilik Sudjio. Aktor yang yang ditunjuk sebagai Ir. Sancaka atau Gundala adalah Teddy Purba yang terkenal sebagai salah satu bintang laga Indonesia saat itu. Musuh bebuyutannya, Ghazul diperankan oleh aktor watak W.D. Mochtar serta Anna Tairas sebagai kekasih Sancaka, Minarti. Aktor dan aktris lain yang yang terlibat dalam pembutan film tersebut antara lain Ami Prijono, August Melasz, Pitrajaya Burnama, H.I.M. Damsjik, Gordon Subandono, A. Hamid Arief, Rini Ratih, Dewanti, dan Ratno Timoer.

Meskipun setting tempatnya dirubah dari Jogjakarta menjadi Jakarta, film ini tetap setia pada pekem cerita berdasarkan komik yang ditulis oleh Hasmi. Diceritakan seorang insinyur yang bernama Sancaka berhasil menemukan formula anti petir. Malangnya penemuan ini malah mengakibatkan Sancaka harus putus dengan kekasihnya Minarti akibat lupa menghadiri acara ulang tahunnya. Di tengah kesedihan dan derasnya hujan, Sancaka tersambar petir dan terbawa ke dunia kaisar Kronz. Dari situ kemudian ia diberi kekuatan dan kostum yang mengubahnya menjadi Gundala. Sementara itu peredaran narkotika oleh sekelompok organisasi yang dipimpin oleh Ghazul mulai merajalela. Maka dimulailah pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan.

Cerita lengkap di Filmnya
Berkat pendidikan guru Dewa Petir (Pitrajaya Burnama),percobaan penyuntikan cairan anti petir yang dilakukan Ir Sancoko (Teddy Purba) secara diam-diam membuahkan hasil luar biasa.

Tubuhnya menjadi tahan terhadap arus listrik dan mempunyai kekuatan luar biasa. Kehebatan itu diketahui oleh Gasul (WD Mochtar),seorang pimpinan sindikat narkotika.Bersama beberapa kawannya ia menculik Sancoko dan memaksanya untuk menciptakan ramuan heroin sintetis.

Penculikan juga dilakukan terhadap Minarti (Anna Tairas) tunangan Sancoko, dan Prof Saelan (Amy Prijono), penasehatnya. Namun Sancoko tetap bungkam dan menolak perintah kawanan sidikat narkotik itu dan bertekat untuk memberantas kejahatan dengan kekuatan dan kekebalan yang dimilikinya. Akhirnya diketahui bahwa kejadian itu didalangi Ir Agus (august Melaz), teman Sancoko sendiri.

Penciptaan Gundala oleh komikus Harya Suraminata disebut-sebut terinspirasi oleh Ki Ageng Selo, tokoh legenda yang diceritakan bisa menangkap petir. Nama Gundala sendiri berasal dari kata "gundolo" yang artinya petir.

Dalam tradisi lisan di beberapa daerah di Jawa Tengah, Ki Ageng Selo merupakan tokoh yang terkenal bisa menangkap petir. Diceritakan, suatu hari Ki Ageng Selo sedang mencangkul di sawah. Langit mendung lalu turun hujan dan tiba-tiba petir menyambarnya. Namun, dengan kesaktiannya, dia berhasil menangkap petir itu. Petir tersebut berwujud naga. Ki Ageng Selo mengikatnya ke sebuah pohon Gandrik.

Ketika dibawa kepada Sultan Demak, naga tersebut berubah menjadi seorang kakek. Kakek itu kemudian dikerangkeng oleh Sultan dan menjadi tontonan di alun-alun. Kemudian datanglah seorang nenek mendekat, lalu menyiram air dari sebuah kendhi ke arah kakek tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara petir menggelegar dan kakek nenek tersebut menghilang.

Dari kisah tersebut berkembang mitos kalimat, “Gandrik, aku iki putune Ki Ageng Selo” yang artinya, “Gandrik, saya ini cucunya Ki Ageng Selo.” Kalimat itu, bagi sebagian penduduk daerah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu misalnya, dipercaya dapat menghindarkan mereka dari sambaran petir ketika hujan datang.

Sigit Prawoto, dosen Antropologi Sosial dan Etnologi Universitas Brawijaya, dalam bukunya Hegemoni Wacana Politik menyebut, “pernyataan klaim kekeluargaan ini mengandung keyakinan kultural bahwa seseorang yang berasal dari keturunan orang yang memiliki kualitas (kasekten) tertentu akan mewarisi kualitas tersebut.”

Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir diabadikan dalam ukiran pada Lawang Bledheg atau pintu petir di Masjid Agung Demak. Ukiran pada daun pintu itu memperlihatkan motif tumbuh-tumbuhan, suluran (lung), jambangan, mahkota mirip stupa, tumpal, camara, dan dua kepala naga yang menyemburkan api.

Lawang bledheg sekaligus menjadi prasasti berwujud sengkalan memet (chronogram) dibaca “naga mulat salira wani” yang menunjukkan angka tahun 1388 S atau 1466 M. Tahun tersebut diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Masjid Agung Demak.

Lawang bledheg memiliki makna lain selain sebagai penggambaran kisah Ki Ageng Selo. Supatmo dalam "Ikonografi Ornamen Lawang Bledheg Masjid Agung Demak" yang terbit di Jurnal Imajinasi, September 2018, menyebut Lawang Bledheg berisi makna simbolis nilai-nilai pra-Islam.
 
 “Dalam dimensi ikonografis, keberadaan motif-motif tradisi seni hias pra-Islam (Jawa, Hindu, Buddha, dan China) pada ornamen lawang bledheg Masjid Agung Demak merupakan pernyataan simbolis tentang toleransi terhadap pluralitas budaya masyarakat yang berkembang pada masa awal budaya Islam di Jawa (Demak),” tulis Supatmo, dosen Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang.
 
Menurut Soetardi dalam Pepali Ki Ageng Selo, Ki Ageng Selo merupakan keturunan Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Prabu Brawijaya, dari istrinya yang paling muda yang berasal dari Wandan atau Bandan atau Pulau Banda Neira, mempunyai anak bernama Bondan Kejawen. Ki Ageng Selo merupakan cucu dari Bondan Kejawen.

Ki Ageng Selo hidup di masa Kerajaan Demak. Tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Trenggana, awal abad ke-16. Dia lahir sekitar akhir abad 15 atau awal abad 16. Ki Ageng Selo pernah ditolak menjadi anggota Prajurit Tamtama Pasukan Penggempur Kerajaan Demak.



Sang pencipta Komik.
Hasmi dilahirkan 25 Desember 1946 (62 tahun) di Yogya. Sekarang masih tinggal di sebuah gang sempit di kawasan Karangwaru Lor, Yogya. Sama seperti tahun 1969 waktu pertama kali menciptakan Gundala. Pendidikan formalnya bukan di gambar-menggambar tetapi lulusan Bahasa Inggris ABA Yogya. Lama membujang baru menikah tahun 2003, kala usia mencapai 50-an. Memiliki 2 anak Batari Sekar Dewangga (10) dan Ainun Anggita Mukti (4). Dua buah komik Gundala, dilatarbelakangi kegagalan dan asa cintanya, yaitu Gundala Jatuh Cinta (1972) dan Pengantin Buat Gundala (1977). Saat ini bekerja sebagai komikus lepas, editor, ilustrator, dan penulis skenario bagi beberapa program TV dan teater. Selain itu namanya masih tercantum sebagai art manager PT Bumi Langit.

Setelah lama tidak terdengar, tahun 2005 agak sering diberitakan media karena rencana Penerbit PT Bumi Langit menerbitkan ulang semua karya Gundala yang mencapai 23 buku. Dan tahun 2009 ini sehubungan dengan rencana peringatan 40 tahun Gundala dan pembuatan film Gundala The Movie.

Ada beberapa fakta menarik yang berhasil saya kumpulkan mengenai Gundala dan Hasmi:

1. Gagasan Gundala diinspirasi oleh tokoh komik The Flash yang dipadukan dengan cerita legenda Ki Ageng Selo.
2. Tokoh Nemo di komik Gundala adalah cerminan Hasmi. Kebetulan Nemo adalah nama panggilannya.
3. Pengakuan terakhir Hasmi, Gundala adalah seorang insinyur bukan peneliti, dosen sebagaimana yang disebutkan di Wikipedia. Ini mungkin ada hubungannya dengan cita-citanya yang gagal menjadi seorang insinyur karena gagal masuk UGM.
4. Dalam Gundala The Movie yang akan masuk bioskop bulan Juni 2009, Gundala diceritakan sebagai arkeolog. Dalam hal ini nampaknya Hasmi keberatan. Rencana film ini nampaknya menjadi tidak jelas sesuai konfirmasi terakhir Hasmi (12/3) ke Jawa Pos. Apa yang ada di Facebook bukan resmi dari Bumi Langit tetapi merupakan inisiatif para penggemar Gundala.
5. Saat ini dia sedang sibuk menyiapkan edisi 40 Tahun Gundala bersama tim dari Bumi Langit yang rencananya diterbitkan September, sesuai kelahiran Gundala.

GundalaPuteraPetir(1969)

Komigrafi Gundala:
1. Gundala Putera Petir (UP Kentjana Agung, 1969)
2. Perhitungan di Planet Covox (UP Kentjana Agung,1969)
3. Dokumen Candi Hantu (UP Kentjana Agung,1969)
4. Operasi Goa Siluman (UP Kentjana Agung,1969)
5. The Trouble (UP Kentjana Agung,1969)
6. Tantangan buat Gundala (UP Kentjana Agung,1969)
7. Panik (UP Kentjana Agung,1970).
8. Kuntji Petaka (UP Prasidha,1970).
9. Godam vs Gundala (UP Prasidha,1971)
10. Bentrok Jago-jago Dunia (UP Prasidha,1971)
11. Gundala Jatuh Cinta (UP Prasidha,1972).
12. Bernafas dalam Lumpur (UP Prasidha,1973)
13. Gundala Cuci Nama (UP Prasidha,1974)
14. 1000 Pendekar (UP Prasidha,1974)
15. Dr. Jaka dan Ki Wilawuk (UP Prasidha,1975)
16. Gundala sampai Ajal (UP Prasidha,1976)
17. Pangkalan Pemunah Bumi (UP Prasidha,1977)
18. Penganten buat Gundala (UP Prasidha,1977)
19. Bulan Madu di Planet Kuning (UP Prasidha,1978)
20. Lembah Tanah Kudus (UP Prasidha,1979)
21. Gundala Sang Senapati (UP Prasidha,1979)
22. Istana Pelangi (UP Prasidha,1980)
23. Surat dari Akherat (UP Prasidha,1982)

Semuanya diterbitkan ulang oleh PT Bumi Langit, kecuali Bentrok Jago-jago Dunia karena masalah hak cipta.

Tahun 1988, Gundala pernah muncul di Jawa Pos sebagai komik strip.

Filmografi:
1. Gundala Putra Petir (1981, Teddy Purba sebagai Gundala, Sutradara Lilik Sudjio).
2. Gundala The Movie (rencana Juni 2009, Sandy Mahesa sebagai Gundala, Sutradara Alex J. Simal, Produksi Langit Bumi Pictures).

Fan Made Komik:
1. Gundala The Reborn (1999, Adurahman Saleh)
2. Putra Petir (2001, Riri Dewi)
3. Sancaka (2005, Ahmad Ilyas)
4. Gundala (2005, Asrulloh)

Rabu, 04 November 2009

ARSIP FILM NASIONAL, Tolong,...

ARSIP FILM NASIONAL INDONESIA
 


Kegiatan pengarsipan film dirintis oleh Sinematek Perancis sejak tahun 1936, segera diikuti oleh hampir semua negara maju. Yang terbesar adalah yang ada di Perancis dan Rusia. 
 
Di semua negeri komunis sinemateknya bagus, meskipun negerinya miskin, karena usaha arsip didukung pemerintah.
Lembaga arsip film di berbagai negeri menggunakan nama yang berbeda-beda, seperti: Cinematheque, Filmmuseum, Kinemateca, Film Archive. Istilah sinematek dikenar di seluruh dunia dengan pengertian sebagai lembaga pengarsipan serta pusat studi dan penelitian. Tugas tetap sinematek adalah memutar koleksi filmnya secara berkala, berdasarkan kriteria-kriteria tertentu untuk tujuan peningkatan apresiasi dan studi.
Di semua negara, sinematek merupakan lembaga otonom, terpisah dari Arsip Nasional. Ada yang didirikan oleh pemerintah dan banyak pula yang oleh non pemerintah. Di negeri Belanda, umpamanya, Nederlandsch Filmmuseum adalah sebuah yayasan, sedang Ned. Audiovisual Archieve adalah badan pemerintah. Cinematheque Francaise yang terkenal adalah lembaga non pemerintah. Negara-negara sedang berkembang (developing countries), baru akhir tahun 196O-an mulai mendirikan sinematek. Karena di negeri-negeri demikian arsip apapun belum dianggap penting.


RIWAYAT SINEMATEK INDONESIADirintis sejak Januari 1971 dalam lingkungan LPKJ (sekarang IKJ) dengan nama Pusat Dokumentasi Film. Jadi bukan arsip film, melainkan hanya menghimpun dokumen-dokumen untuk kepentingan penulisan sejarah film Indonesia guna diajarkan di LPKJ. Sejak tahun 1973, setelah mendapatkan orientasi di Nederland dan Eropa, barulah muncul gagasan mendirikan arsip film. 

Beayanya didapat sedikit dari subsidi DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dan usaha lain. pimpinan lembaga- itu tidak digaji, malah nomboki. Itu berlangsung sampai tahun 1975.
Sejak tahun 1973 badan ini selalu ikut memeriahkan FFI dengan penyelenggaraan Pameran Sejarah Film Indonesia, yang selalu menarik perhatian.

Pada 20 Oktober 1975 berdirilah Sinematek Indonesia (SI) dengan SK Gubernur DKI bersamaan dengan berdirinya gedung/lembaga Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. SI merupakan penghuni utama Pusat Perfilman, dan kepala Sinematek merupakan pimpinan PP bersama direktur. Pusat Perfilman menyediakan fasilitas ruangan bagi sekretariat semua organisasi perfilman dan Yayasan Artis Film. Semuanya berstatus sebagai penyewa.
SI merupakan arsip film pertama di Asia tenggara. Tahun 1978 diterima bergabung dalam FIAF (Federation Internasionale des Archives du Film), dan merupakan arsip pertama di Asia yang tergabung dalam asosiasi internasional.
Gaji dan beaya operasional disubsidi oleh Pemda DKI.Sejak 1978 subsidi dicabut, karena Pemda DKI (sesudah Ali Sadikin diganti) merasa tidak bertanggung jawab membina film. Selanjutnya nyawa SI tergantung dari ongkos sewa gedung. Maka gaji amat rendah, tidak ada beaya operasional, tidak bisa merawat gedung. Maka tahun 1980 SI akan dibubarkan, Dewan Film Nasional (DFN) melarang, karena dianggap sudah cukup jelas manfaatnya. Akan dicarikan jalan agar merijadi proyek DFN. Sejak tahun 1981 Dewan Film memberikan subsidi, sekedar agar SI jangan mati. Tapi DFN tak kunjung mengambil alih SI, bahkan tahun 1991 diputuskan bahwa Dewan Film tidak jadi mengambil SI, tapi subsidi diteruskan.
Akhir tahun 1994 didirikan Yayasan Pusat Perfilman H.Usmar Ismail, (YPPHUI). Tugasnya mengelola gedung Pusat Perfilman baru, yang kini kita tempati. SI dimasukkan menjadi salah satu proyek (YPPHUI). Maka selanjutnya gaji karyawan dibayar oleh Yayasan. Beaya operasional bulanan masih didapat dari BP2N, melanjutkan kebijaksanaan DFN. Sejak tahun 1998 subsidi SI dikurangi jadi Rp.6.000.000,- perbulan. Itu hanya cukup untuk menjalankan kegiatan rutin, yang terberat adalah perawatan film, tidak bisa menambah koleksi. 

Maka untuk pengadaan sarana/prasarana dan pengembangan dibantu oleh YPPHUI sebagai program tahunan.
Masalah1. Karyawan SI tidak ada yang akhli dan jumlahnya amat terbatas. Hal itu disebabkan karena kecilnya gaji dan ketidak pastian masa depan SI yang tidak bisa menarik minat tenaga ahli. Akibatnya: a. Kemampuannya tidak bisa ditingkatkan lagi. b. Karyawan yang sudah mulai lumayan kemampuannya lalu berhenti mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar c. Program pemutaran film, diskusi dan sebagainya tidak ada yang menangani. d. Koleksi dokumentasi dan data tidak bisa diolah menjadi informasi.
2. Sarana dan prasarana kerja amat kurang.
3. Orang film belum juga tergerak hatinya untuk membantu usaha ini. Baik menyerahkan produksi untuk diarsipkan apalagi memberikan sumbangan materiel. Bahan-bahan lain, seperti foto, poster, skenario juga sulit diperoleh.
4. Arsip Film belum tercantum secara eksplisit dalam UU ataupun Keputusan Pemerintah, hingga tidak bisa mengharapkan mendapat dana dari APBD ataupun APBN. Dengan keadan dana yang bisa diterima dewasa ini:
a. Tidak bisa membeli koleksi yang berarti
b. Tidak bisa mengadakan sarana kerja, bahkan tidak mampu beli kaleng film.
c. Tidak berani membuat rencana untuk jangka panjang.
d. Sejak tahun 1998 SI menyatakan keluar dari FIAF, karena tidak bisa membayar iurannya. Padahal masuknya susah. Arsip Film Fukuoka, Jepang, sampai sekarang belum berhasil diterima.
5. Tidak ada sumber pemasukan yang berarti. Semua film yang kita simpan, tidak dikenakan fee, supaya produser mau menyimpan di sini.
 
 
Solusi

1. Mengusahakan secara terus menerus agar SI dicantumkan secara eksplisit dalam UU Perfilman.

2. Meminta bantuan dari luar negeri. Yang pernah berhasil adalah :
a. Dari Australia berupa pemberian peralatan bekas, ex sekolah film, dan pencetakan film.
b. Dari Pemerintah Jepang, 1994 berupa peralatan editing dan peralatan pembersih film (Film Cleaning Machine). Dua tahun ini sudah diajukan lagi permohonan bantuan, belum ada kepastian
c. Pembuatan negative dari film "Antara Bumi dan Langit'" oleh Pusan Intemational Film Festival (Korea) Sekarang sedang diusahakan mendapatkan bantuan Jepang untuk tahun anggaran 2000-2001.

3. Mengadakan MOU dengan Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional (1999) dalam bidang pengarsipan film/karya rekam dan peningkatan SDM. Tapi sampai sekarang belum ada bantuan yang bisa diterima.

4. Mengadakan hubungan dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, sejak 1999. Dirjen yang lampau dan yang sekarang punya perhatian yang sungguh-sungguh terhadap SI. Tapi bantuan baru untuk ukuran kecil dan bersifat sporadik.

5. Terus berusaha memperluas hubungan internasional. Oktober yad film "Antara Bumi dan Langit" diputar pada pembukaan Hongkong Film Archive.

6. Sedang terus diusahakan agar adanya sumber bantuan tetap dari Pemda DKI. Sekarang ini bantuan diberikan sesekali dan belum ada jalur yang bisa diandalkan. Terakhir ini bantuan akan datang dari Wagub Bidang Kesra untuk membeli Ilcan" film.

7. Program pemutaran film ditumpangkan kepada kegiatan apresiasi yang dikelola oleh Sdr. Amak Baldjun (Kine Klub PPHUI).

8. Penyebaran Berita Berkala (Newsletter) SI.

Kegiatan Penting

1. Kegiatan penting yang sekarang sedang dilakukan adalah merawat negative dari lebih 400-an judul yang dipulangkan dari luar negeri. Film-film itu sudah mengeras dan kering. Sampai sekarang sudah digarap sekitar 50%, dan keadaannya sudah baik kembali.

2. Mengembangkan program komputerisasi Katalog Terpadu. Yakni program katalog koleksi film; personalia, dan katalog buku dokumentasi. Dengan adanya program ini diharapkan pengunjung akan lebih mudah mencari data/informasi yang diperlukan.

Harapan

1. Agar arsip film masuk dalam UU Perfilman sebagai lembaga yang harus dibantu pengembangannya.

2. Mendapatkan dana yang memadai dari program pengembangan perfilman/APBN

3. Mendapatkan bantuan tetap dari Pemda DKI dalam rangka pelestarian Budaya.

4. Mendapatkan bantuan dari UNESCO.

5. Mendapatkan tenaga-tenaga akhli dan tenaga bermutu

6. Memiliki gudang film (cold storage) khusus terletak di luar kota, untuk menyimpan copy arsip dari film dan video.

7. Mendapatkan sponsor untuk menunjang kegiatan. Umpamanya sponsor dari tabloid Detak untuk pencetakan Berita Berkala.