Tampilkan postingan dengan label JOGJAKARTA BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JOGJAKARTA BIOSCOOP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juli 2020

JOGJAKARTA BIOSCOOP

Ada 23 Bioskop Di Jogjakarta dengan kejayaannya masing-masing

BIOSKOP AL-HAMBARA / INDRA

 


Bioskop Indra terletak di Jalan Margo Mulyo (dulu Jalan Jendral Ahmad Yani), kelurahan Ngupasan, kecamatan Gondomanan, Yogyakarta tepatnya di seberang Pasar Bringharjo Yogyakarta. Bekas bangunannya saat ini telah dibongkar. Penggunaan lahan bekas bioskop selanjutnya dibangun sebagai sentra Pedagang Kaki Lima (PKL) Malioboro.

Bioskop ini berdiri sejak jaman penjajahan Belanda, dahulu bioskop ini berada di bawah kepemilikan Nederlands Indische Bioscoop Exploitatie Maatschappij.

Awalnya nama bioskop ini bukanlah Indra, namun Al-Hambara, namun setelah kemerdekaan, namanya diubah menjadi Indra atau singkatan dari Indonesia Raya. Mengingat kebijakan pemerintah seusai merdeka saat itu, bahwa semua perusahaan ataupun usaha yang masih memiliki nama asing harus diubah menjadi terdengar lebih 'Indonesia'.

Bioskop ini semasa jaman Belanda merupakan bioskop dengan strata sosial yang tinggi, orang-orang dengan kemampuan finansial yang baik, menjadi penonton tetap di bioskop ini.
Pada tahun 70an juga merupakan titik puncak kejayaan Bioskop Indra, saat itu mereka bisa memutar hingga berkali-kali satu judul film dalam sehari.

Masuknya beberapa bioskop yang lebih modern dan adanya vcd menjadi titik balik runtuhnya masa keemasan bioskop ini.

"Pernah diperlihatkan oleh ibu saya,foto orang yang berangkat menonton bioskop mengendarai kuda, itu sekitar tahun 1945," Dahulu juga di depan gedung bioskop masih ada papan reklame yang digunakan untuk memasang poster film apa yang sedang diputar hari itu. Disayangkan, pada tahun 2010, bioskop ini harus tutup karena tidak ada lagi pengunjung yang berminat dengan film-film yang diputar disana.
 

Satu studio yang dimiliki Bioskop Indra ini cukup besar, bisa dibilang sebesar aula, atau dua kali besar studio bioskop sekarang. Masih terlihat kursi-kursi tampak berjejer di barisan paling belakang studio.Kursi kursi itu dibiarkan kotor berdebu begitu saja, kursi-kursi itulah yang menjadi saksi bisu era kejayaan dan kematian bioskop Indra.Di depan studio yang digunakan sebagai tempat layar film juga tampak kumuh dengan sampah. Langit-langit di dalam gedung bioskop pun seolah-olah hendak jatuh termakan usia yang tak lagi muda. Susunan bioskop ini seperti bioskop pada umumnya, yaitu di lobby akan ada loket tiket lalu akan ada pintu masuk menuju studio.
 
Yang berbeda dengan bioskop jaman sekarang adalah, bioskop ini hanya memiliki satu studio di dalamnya. Maka tidak heran jika dalam sehari bioskop ini hanya memutarkan satu judul film, berbeda dengan bioskop sekarang yang bisa memutar berbagai judul film dalam sehari. Bioskop Indra sendiri, selalu memutar judul film yang sama dengan bioskop tua lainya, yaitu bioskop Permata yang terletak di Pakualaman.

Meski dahulu pernah menjadi tempat para borjuis menyaksikan film, namun di akhir-akhir hidupnya, Bioskop Indra harus memutar film-film lawas bergenre horror dan erotis untuk dapat bertahan hidup, meskipun tetap tidak mampu menarik pengunjung. Menarik diikuti perkembanganya, apakah pemerintah daerah kelak tetap akan menghusur gedung bersejarah ini, atau dipertahankan.

BIOSKOP WIDYA

Bioskop Widya terletak di Jalan Ibu Ruswo
/Yudonegaran No. 7 Yogyakarta (barat plengkung Wijilan) atau dulu dikenal dengan nama daerah Yudonegaran. Bekas bangunannya saat ini sudah hilang tidak berbekas karena telah dirobohkan. Penggunaan lahan bekas bioskop selanjutnya dibangun untuk usaha ruamh makan Dapur Sambal. Namun usaha rumah makan tersebut tidak bertahan lama dan bangunan rumah makan kembali dibongkar. Saat ini lahan bekas bioskop menjadi area tanah kosong dan digunakan sebagai area parkir kendaraan roda empat.

Bioskop kelas-3. Walau masuk kategori kelas menengah-bawah, bioskop ini ada A.C. nya. Di WIDYA ini diputar film film Barat atau Hongkong dengan selisih sekitar 3 atau 4 bulan penayangan dari bioskop kelas-1. Jadi kalau ada film yang karena berbagai sebab terlewat di EMPIRE atau REGENT dan RATIH, maka kita bisa menunggunya disini. HTM tahun 1993-an sekitar Rp. 800,-. Di WIDYA ini pernah terjadi jeda sekitar setengah jam karena mati listrik. Penonton didalam kipas-kipas karena kepanasan, dan yang bikin dongkol banyak yang merokok sambil menunggu film diputar kembali. Bioskop ini memakai gedung PPBI (Persatuan Pengusaha Batik Indonesia) tetapi sekarang telah dirobohkan dan lahannya dipergunakan untuk warung makan.

BIOSKOP SOBOHARSONO


Aktif dari 1928, Bioskop Soboharsono terletak di Jalan Pekapalan Yogyakarta atau tepatnya di sudut timur laut Alun-Alun Utara Yogyakarta. Bekas bangunannya saat ini telah direnovasi dan menjadi bangunan Jogja Gallery, Royal Garden Restaurant, dan Pos Layanan Dagadu (Posyandu). Arsitektur bangunan bioskop masih terlihat jelas ketika memasuki dalam bangunan karena konstruksi bangunan asli masih dipertahankan.


BIOSKOP LUXOR / PERMATA

 
 
 


Bioskop Permata terletak di Jalan Gajah Mada No. 2, kampung Kauman PA, kelurahan Gunungketur, kecamatan Pakualaman, Yogyakarta. Pada awalnya bioskop ini bernama Bioskop Luxor dan kemudian berganti nama menjadi Bioskop Permata. Bekas bangunannya saat ini masih dipertahankan karena tergolong bangunan cagar budaya.
 


Adalah Bioskop Permata, salah satu pelopor tempat masyarakat Yogyakarta menghabiskan waktu untuk menonton film sejak zaman Belanda. Namun, kini Bioskop Permata hanya tinggal nama, tempat itu sudah tujuh tahun tidak aktif memutar film-film dalam maupun luar negeri.

Terletak di Jalan Sultan Agung yang merupakan salah satu jalan utama di kota Yogyakarta, tidak serta merta membuat bioskop ini selalu ramai. Hal ini terjadi karena persaingan dan pengelola bioskop Permata yang tidak melakukan inovasi atau kemajuan alat apapun pada bioskop ini. Alhasil, bioskop yang dibangun sejak zaman Belanda ini punah juga dan benar-benar tutup pada tahun 2012.

Padahal, jika dirunut masa lalunya, bioskop ini merupakan bioskop termegah dan teramai di Kota Yogyakarta. Ia mengalahkan beberapa pesaing lainnya seperti bioskop Presiden, Bioskop Indra, Mataram, Ratih, dan Widya yang ada di Kota Yogyakarta. Namun seiring berjalannya waktu, bioskop-bioskop lainnya pun hilang termakan zaman dan tergantikan dengan bioskop-bioskop baru.

Salah satu kuncen atau penjaga tempat yang kini dikenal sebagai Eks-Bioskop Permata ini, Arif Hidayat (44) mengatakan, dahulu Bioskop Permata memiliki nama Bioskop Luxor. Orang Belanda menamai tempat yang disebut-sebut sebagai bioskop pertama di Yogyakarta ini dengan nama tersebut. “Namun, setelah merdeka ganti nama jadi Bioskop Permata,” kata Arif.

Arif juga bercerita banyak tentang bioskop yang berdiri tahun 1940-an ini. Ia mengatakan bahwa dahulu sebelum menjadi bioskop, tanah ini adalah kuburan Jawa kuno. Ia mendapat cerita tersebut dari leluhur-leluhurnya. Arif sejak kecil memang tinggal di belakang bangunan bioskop itu. Tak mengherankan, ia tahu persis apapun kejadian yang ada pada Bioskop Permata. “Dulu itu tahun 1970-1990an masih jaya-jayanya, trus akhir 1990an udah mulai menurun penontonnya, filmnya juga sedikit dan gak menarik, tambah lagi banyak bioskop baru dan lebih bagus yang muncul,” terang Arif sembari mengingat bahwa ia dulu sering bermain di sekitaran bioskop ketika masih anak-anak.

Bioskop Permata memang sudah tidak bisa lagi disebut bioskop, karena alat-alat proyektor film dan alat untuk memutar film lainnya pun sudah ditarik dan dikembalikan kepada pemilik. Sebagai satu-satunya kuncen eks Bioskop Permata, tak heran jika Arif sempat mendengar orang-orang bercerita horor atau mistis di sekitar bioskop. Di Indonesia, tempat yang sudah lama tidak digunakan atau ditinggalkan, memang identik dan menarik untuk disisipi cerita-cerita mistis.

“Pernah denger, dulu ada tukang becak yang dikerjai wanita yang ternyata dhemit atau hantu dalam bahasa Indonesia, minta dianterin ke kuburan,” kata Arif sembari mengingat cerita tersebut yang sudah terlanjur fenomenal hingga saat ini. Pada tahun 2012, Bioskop Permata benar-benar menutup mata dalam aktivitas perbioskopan. Kala itu, ketika akhir senjakala, pengunjung yang datang untuk menonton hanya sekitar tiga sampai lima orang saja.

Sungguh ironis, mengingat bioskop yang pernah berjaya dan masih eksis sekitar tahun 1990-an, justru mati di tahun 2000-an, hanya butuh waktu dua dekade. Namun, kini masyarakat tak perlu risau, khususnya bagi pencinta sejarah dan dunia perfilman Indonesia. Rencananya, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) melalui DInas Kebudayaan (Disbud) DIY melakukan pemugaran bangunan cagar budaya eks Bioskop Permata ini. Bekas salah satu gedung bioskop yang legendaris ini disebut-sebut akan menjadi Pusat Perfilman di DIY.

BIOSKOP SENOPATI
Bioskop Senopati terletak di Jalan Pangeran Senopati No. 1-3 Yogyakarta dan masih satu lokasi dengan Bioskop Yogya. Posisi bioskop ini berada di sisi sebelah barat dari Bioskop Yogya. Dulu kawasan sekitar bioskop ini dikenal sebagai terminal lama dan Shopping Center. Bekas bangunannya saat ini telah direnovasi dan menjadi bangunan utama Taman Pintar Yogyakarta. Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu bangunan utama Taman Pintar Yogyakarta tersebut dulunya merupakan bangunan bioskop

BIOSKOP YOGYA / YOGYA THEATER


 
Bioskop Yogya terletak di Jalan Pangeran Senopati No. 1-3 Yogyakarta dan masih satu lokasi dengan Bioskop Senopati. Posisi bioskop ini berada di sisi sebelah timur dari Bioskop Senopati. Dulu kawasan sekitar bioskop ini dikenal sebagai terminal lama dan Shopping Center. Bekas bangunannya saat ini telah direnovasi dan menjadi bangunan utama Taman Pintar Yogyakarta. Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu bangunan utama Taman Pintar Yogyakarta tersebut dulunya merupakan bangunan bioskop.

BIOSKOP MATARAM


Bioskop Mataram terletak di Jalan Dr. Sutomo Yogyakarta sebelah selatan Jembatan Layang Lempuyangan. Bioskop ini tergolong bioskop yang mewah dijamannya dan sebelum muncul bioskop modern seperti Empire XXI, Cineplexx, dan sebagainya. Bekas atau sisa-sisa bangunannya masih terlihat dalam kondisi yang rusak parah. Bangunan bioskop ini mengalami kerusakan yang cukup parah pada peristiwa Gempa Jogja 2006 dan selang waktu sekitar setahun bioskop ini tutup. Saat ini area parkir bioskop ini dimanfaatkan sebagai lahan parkir warung kakilima yang berada sekitar bioskop. 

BIOSKOP REGENT 1-4


Bioskop Regent terletak di Jalan Urip Sumoharjo Yogyakarta. Bekas bangunannya saat ini sudah hilang tidak berbekas karena mengalami kebakaran hebat yang membumihanguskan bangunan bioskop ini dan menimbulkan banyak korban jiwa. Hal itu menyebabkan munculnya cerita mistis di kalangan masyarakat dan membuat tempat tersebut terkenal angker. Saat ini bekas Bioskop Regent digunakan sebagai lokasi parkir tidak resmi sepeda motor dan mobil pengunjung Bioskop Empire XXI yang ada disebelah timurnya. Belum ada informasi rencana pembangunan di bekas bioskop Regent dan saat ini masih dibiarkan begitu saja.

Jumat, 24 September 1999
Berita duka menyeruak diseluruh penjuru jogja. Bioskop Regent Terbakar Habis. Belasan orang meninggal dunia, puluhan orang luka-luka dan beberapa jenazah belum diketemukan. Setelah Empire 21 sekarang Regent Terbakar Habis. Jogja sudah tidak memiliki bioskop untuk menayangkan film-film Box Office. Proses evakuasi pagi itu sangat menyayat hati. Belasan tubuh-tubuh gosong diketemukan diantara reruntuhan bangunan. Jerit tangis dan pilu dari kerabat, sanak saudara para korban memecah syahdunya hari jumat itu. Bau anyir dan gosong dari tubuh manusia yang terbakar hidup-hidup menusuk hidung dan menyayat hati yang melihat dan mencium aromanya. Manusia terbakar hidup-hidup. Yogyakarta kehilangan mahasiswa-mahasiwanya malam itu lebih menyakitkan daripada kehilangan bioskopnya.

BIOSKOP EMPIRE
Bioskop Empire terletak di Jalan Urip Sumoharjo No. 104, kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta 55221. Bioskop Empire memiliki nasib yang sama dengan bioskop Regent dimana mengalami kebakaran hebat yang menghancurkan seluruh isi bioskop dan supermarker Hero yang berada dalam satu bangunan. Bekas bangunan bioskop ini telah dibangun kembali menjadi bioskop modern bernama Empire XXI yang memiliki jaringan bioskop di berbagai kota di Indonesia.

BIOSKOP MITRA / PALACE
Bioskop Mitra terletak di di Jalan Urip Sumoharjo Yogyakarta. Bioskop ini pernah berganti nama menjadi Bioskop Palace.

BIOSKOP PRESIDENT
Bioskop Presiden terletak di di Jalan Jendral Sudirman Yogyakarta tepatnya di depan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Bekas bangunannya saat ini sudah hilang tidak berbekas dan digantikan oleh bangunan Novotel Yogyakarta yang termasuk hotel berbintang 4 (empat).

BIOSKOP RAHAYU


Bioskop Rahayu terletak di di Jalan Urip Sumoharjo Yogyakarta. Bekas bangunannya saat ini digunakan sebagai toko tekstil.


BIOSKOP ROYAL
Bioskop Royal terletak di di Jalan Urip Sumoharjo Yogyakarta. Bioskop ini tutup dan digunakan sebagai gudang toko ban.
 
BIOSKOP REX / RATIH


Bioskop Ratih terletak di Jalan Margo Utomo (dulu Jalan Pangeran Mangkubumi) Yogyakarta berdekatan dengan Kantor Kedaulatan Rakyat (koran KR) atau disebelah utara Toko Ice Cream TipTop. Bioskop Ratih terdiri dari Ratih 1 dan Ratih 2 dan letak keduanya berdampingan. Bekas bangunannya saat ini telah dibangun ulang menjadi Toko Kertas Champion.

Tahun 80 akhir dibelah jadi dua layar..Ratih 1 untuk memutar film Mandarin dan Indonesia, Ratih 2 untuk memutar film barat.

BIOSKOP GALAXY
Bioskop Galaxy terletak di Borobudur Plaza Jalan Magelang No. 80 Yogyakarta 55242. Bekas bangunannya saat ini masih ada dan digunakan sebagai area foodcourt.

BIOSKOP GOLDEN
Bioskop Golden terletak di Borobudur Plaza Jalan Magelang No. 80 Yogyakarta 55242. Bekas bangunannya saat ini masih ada dan digunakan sebagai area foodcourt.
 
BIOSKOP ARJUNA

 
Bioskop Arjuna terletak di Jalan Tentara Pelajar, Jetis, Yogyakarta atau ke arah selatan dari perempatan Pingit. Letak bioskop ini berdekatan dengan kantor Samsat Yogyakarta. Bekas bangunannya saat ini telah dibangun ulang menjadi salah satu gedung.

BIOSKOP ISTANA

 
Bioskop Istana terletak di pertigaan Jalan Kemasan Kotagede Yogyakarta.
Bioskop Istana di jalan kemasan di era 1970-an dan eksis bersama Bioskop Permata, Indra, Ratih, Rahayu, Soboharsono dan THR. Saat itu bioskop menjadi primadona dan selalu diburu masyarakat khususnya kawula remaja. Masa kemunduran bioskop di Yogyakarta dan Indonesia umumnya, berlangsung bersamaan dengan saat jebloknya masa perfilman nasional dan kehadiran teknologi video compact disc (VCD) dan digital video disc (DVD) pada era 90-an.

BIOSKOP MURBA
Bioskop Murba terletak di area Patuk Yogyakarta
 
BIOSKOP THR

 
Bioskop THR terletak di Jalan Brigjen Katamso Yogyakarta.

Terletak di bilangan Gondomanan. Bioskop kelas kambing yang memutar film dalam rantai bioskop paling bawah. Saat itu tiket seharga 300 rupiah. Tak ada lagi bioskop seperti ini. Pintu bioskop adalah rolling door, jadi jika hendak nonton Suzzana, hawa horornya sudah terasa. Lagipula, belakang bioskop ini adalah kuburan. Bebas merokok dan mau membawa gerobak angkringan dari luar pun boleh.

Kursi di bioskop ini ajaib, karena sekaligus sebagai tangga. Jadi semakin ke belakang, kamu harus naik tangga terbuat dari logam, mirip penjaga pantai. Jangan sampai tertidur karena bahaya. Jika terbangun tiba-tiba kamu bisa jatuh dari tempat yang lumayan tinggi. Bantalan kursi hampir semuanya koyak, keluar dari bioskop ini dijamin sekujur tubuh gatel karna dicokot tinggi. Toilet terletak di semua sudut bioskop. Jadi kalau kebelet kencing dan kamu males ke toilet beneran, tinggal turun dari kursi lalu surrrrr, kencing di pojokan atau samping kursi. Semua bagian bau pesing tapi orang mau menonton di sini karna murah dan bebas sebebas-bebasnya. Tak ada lagi bioskop seindah ini.

BIOSKOP TOEGOE 
Bioskop Toegoe terletak di Jalan Jendral Sudirman Yogyakarta
 

BIOSKOP REMAJA
Bioskop Remaja terletak di Jalan Wates Yogyakarta


KLATEN



Setidaknya di kota ini terdapat 3 bioskop lokal di waktu itu, yaitu bioskop Chandra sedangkan  di sebelah utaranya terdapat bioskop ramayana dan yag terahkir adalah bioskop rita. Kalo tidak salah untuk satu karcis bertarif Rp3000,-