Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri BERNAFAS DALAM LUMPUR. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri BERNAFAS DALAM LUMPUR. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1970


   
 
Triologi, yang pertama "Bernafas dalam Lumpur" dan kedua "Noda Tak Berampun" yang terakhir, "Kekasihku, Ibuku".
 
Film ini cukup menghebohkan, cukup berani di saat itu, produksi tahun 1970 banyak menampilkan seks, perkosaan dan dialog kasar.Cerita aslinya, "Berenang dalam Lumpur" dimuat bersambung dalam majalah "Varia". Kerja sama dengan Prospex Trading Coy. (Hongkong). Film Indonesia pertama yang menonjolkan seks, perkosaan dan dialog-dialog kasar seperti "daripada dijepitin pintu", "sundel" dll. Pernah dilarang diputar di Bandung oleh Kodim setempat. Film yang laris dan cukup menghebohkan. Sukses ini membuat produser/sutradaranya membuat lanjutannya menjadi sebuah trilogi, Noda Tak berampun & Kekasihku Ibuku

Melalui “Bernafas dalam Lumpur” (1970) arahan sutradara Turino Djunaidy, Suzanna menerima penghargaan Runner Up I aktris terbaik versi Persatuan Wartawan Indonesia (1970-1971). Dalam film ini ia berperan sebagai perempuan desa yang berangkat ke kota dan terjebak kehidupan keras di kota. Film ini sempat dilarang diputar oleh Kodim Bandung karena penggunaan kata-kata kasar di dalamnya. Melalui film ini citra Suzanna berubah seiring pertambahan usianya, dari aktris cilik ia menjadi salah satu simbol erotisme perempuan dalam film Indonesia, lalu ke Ratu Horor.

Dan juga disaat produksi film Indonesia setelah lesu sekian lama. Film ”panas” Bernafas Dalam Lumpur (1970) yang dibintangi Suzanna disebut-sebut sebagai pendongkrak maraknya produksi film di awal era 1970.

Supinah kemudian bernama Yanti (diperankan Suzanna) terpaksa meninggalkan anaknya di kampung untuk mencari suaminya yang sudah lama berusaha di Jakarta. Harapannya pupus setelah mengetahui bahwa suaminya sudah menikah lagi dan malah mengusirnya.



Dalam keadaan terlunta-lunta, ia terperangkap dalam jaringan perdagangan wanita. Pertemuannya dengan Budiman (Rachmat Kartolo), anak orang berada yang bertaruh dengan kawan-kawannya agar membawa pacar pada suatu pesta, adalah awal dari perubahan perjalanan hidup Supinah. 
Lewat liku-liku peristiwa yang dialami Supinah dan Budiman, akhirnya mereka menikah di kampung halaman Supinah. Bagian cerita Triologi Yang pertama "Bernafas dalam Lumpur" yang Kedua "Noda Tak Bertuan "dan yang terakhir, "Kekasihku, Ibuku".


27 Maret 1971
Idris yang laris
DIACHIR film, Rima Melati hilang ingatan dan djatuh kedjurang. Ia bangun, melangkah terbata-bata dan djatuh lagi. Dan dari belakang lajar terdengar suara -- bukan musik, tapi sebuah njanjian tunggal: ** Ditengah fadjar baru menjinari hidupnja Datang angin membadai, menghempaskan mawar kembali lunglai ** Dengan memasukkan vokal -- dibawakan Tanti Josepha -- pada bagian Noda Tak Berampun itu, Idris Sardi membuat sesuatu jang terhitung baru dalam ilustrasi film di Indonesia dan tjukup memuaskan. Ini diakuinja ketika ia berkata: "Itulah puntjak karja saja selama membuat ilustrasi". Lumpur-djahanam. Tidak salah. Idris, jang berkat iringannja untuk Bernafas Dalam Lumpur mendapat hadiah pertama pada Festival Film Asia ke-16 di Djakarta tahun lalu, konon menginginkan beberapa perbaikan dalam lapangan dimana ia turut bekerdja. Usaha ini musti datang pertama kali dari sang musikus sendiri: "Itu berarti pengertian kepada musik ilustrasi sebagai satu bagian jang harus sinkron dengan keseluruhan film", ia berkata. Dan dengan tidak lupa menjebut komposisi Trisutji Djulham dengan orkestrasi mewah dari Adi Dharma. Idris memberi tjontoh sebuah gubahan jang "baik untuk didengar bukan untuk ilustrasi". Sebagai ilustrasi musik film memang diharap menterdjemahkan suasana dari semua jang dilihat penonton. Ini pun bisa ditjapai dengan mempertebal warna pada tema. Untuk Malam Djahanam misalnja, jang bermain didaerah Lampung, Idris mentjoba mengangkat warna dasar lagu-lagu daerah itu. Tapi untuk tugas-tugas lebih landjut -- termasuk usaha penondjolan suasana batin jang berhubungan dengan watak peran-peran -- konon musik film di Indonesia belum begitu dipertjaja, setidaknja belum setingkat dengan kepertjajaan jang diberikan kepada sound-effect. Terhadap ini Idris mengeluh: "Pengertian sutradara kita mengenai ilustrasi musik sudah kuno sehingga bertubrukan dengan pengertian saja. Padahal dia bertindak seperti Tuhan!" 

Dan, dibawah sorot mata Beethoven didinding, pemusik jang pada umur 17 sudah menggondol hadiah pertama musik sentimentil pada Festival Pemuda Sedunia di Warsawa ini menempelkan telapak tangannja kedjidat, kemudian mengkombinir berbagai matjam nada jang riuh: sebuah peperangan. "Nah, sama sekali tidak ada sound-effect disitu. Dari mula sampai achir musik, musik semata-mata". Pitung. Musik semata-mata, itulah jang masih sulit di Indonesia -- walaupun tanpa mengingkari seratus persen djasa operator jang menanggapi sound-effect. Pun itu kabarnja belum perlu. Hubungan elementer antara crew sendiri masih mungkin dibangun lebih baik. "Saja meminta satu pengertian seragam antara sutradara, operator dan ilustrator sebelum sebuah film dibuat", Idris berkata. "Harus ditjari kesamaan pendapat dibagian-bagian mana sadja suara pemain, sound-effect atau musik jang menondjol". Dengan tidak lupa memudji pelaksanaan kerdjasama dengan Turino Djunaidi, musikus 30 tahun jang sudah menangani sekitar 25 film dan merasakan sukses materiil ini mengeluh dengan wadjahnja jang putjat: "Saja menghadapi pekerdjaan bukan asal dapat duit. Kalau timbul ketidak-tjotjokan, saja sebenarnja ingin mengundurkan diri tapi sudah tidak mungkin toch? Kotrak sudah ditanda-tangani. Itulah jang kadang-kadang menekan saja. Perasaan saja tak puas". Dan batuk tiba-tiba menggojangkan tubuhnja jang terbungkus dalam djas kuning -- sedang sakit pegel-linu. "Tjoba pikirkan kerdja produser. Untuk Si Pitung saja cuma diberi waktu sekali buat menjaksikan film jang harus saja buat ilustrasinja, dan kerdja saja dibatasi tjuma sehari. Besoknja harus ikut ke Djepang untuk prosesing". Tapi apakah Idris tjukup puas dengan dirinja sendiri? Biolawan jang pernah dituduh mendjiplak Zacharias ini -- "Hanja karena karakter gesekan kami sama dan saja suka memainkan partitur jang dia bawakan", katanja -- berhenti bitjara tentang film, dan berpindah kepada musim: "Memang saja sedang mengalami musim lagi, seperti dulu. Tapi musim di Indonesia ini sangat singkat. Saja ingin melalui musim saja dengan mendjaga diri dari kemerosotan mutu. Saja ingin beladjar ilustrasi film di Perantjis atau Djerman misalnja, atau setidaknja berhenti sementara dan mentjari nilai-nilai baru. Sebab diluar, musik sudah begitu madjunja". Benar. Hanja apakah setelah ketemu jang baru dia masih akan laris. Itulah soalnja.


KE HEBOHAN SUZZANA
06 Maret 1971
Dan bintang-bintang berbitjara

SUZANNA: Tak ajal lagi dialah salah satu bintang wanita terbaik kini dengan harga tertinggi -- sekitar Rp 1 djuta tiap kontrak. Paling tidak ia telah kembali dengan kemenangan baru lewat Bernafas Dalam Lumpur. Saja seperti tak melihat apa-apa selama bermain aktor jang begitu dekatpun hanya seperti bajang-bajang hitam -- djuga ketika adegan perkosaan itu. Dalam memerankan satu tokoh, saja merasa bukan Suzie (jang beraksen Djawa dalam bitjara, jang grapjak, jang ramai terus seperti anak-anak sepandjang usia) ketika film selesai dan dibidangkan dalam preview. "Dalam preview itu saja melihat bagaimana saja disana, dan agak kaget: kok begitu". "Dalam BDL pada adegan buka-pakaian saja bertanja pada bung Turino: kutang djuga dibuka atau tidak? Turino berfikir sebentar. Dia tahu saja tak berkeberatan djika memang seharusnja demikian, tapi achirnja mendjawab: Tak usah, toch akan dipotong sensor". Lalu, seraja terus dengan kakinja jang bergojang-gojang dibangku -- seperti ia tak pernah bisa djenak duduk -- ia menambahkan: "Saja tak berkeberatan apa-apa tentang sex itu meskipun lama-lama bisa membosankan karena hanja soal buka-membuka pakaian terus-menerus. Saja setudju tjiuman dalam film, dan saja tak berkeberatan melakukannja, meskipun 10 tahun jang lalu saja tak akan berani. Dulu ada adegan dimana saja pakai pakaian-mandi duduk dengan satu kaki melipat, dan itu dipotong sensor. Sekarang sudah lebih banjak kebebasan, dan mungkin lima atau sepuluh tahun lagi orang akan menerima sex dalam film dengan wadjar. Tidak baik djika sex terlalu ditutup-tutupi, tidak baik djuga terlalu terbuka. Sekarang orang bikin film untuk sex-nja dan tidak untuk tjeritanja: terlalu dipaksa-paksakan". Film apa misalnja? "Saja nggak mau bilang". Anaknja jang tertua 10 tahun. Adakah anak itu melihat filmnja? Ibu dari dua anak itu mendjawab: "Tidak. Belum boleh". 

Tapi pada suatu ketika ia mendengar anak-anak tetangganja berbitjara dengan anaknja tentang beberapa adegan dalam BDL. Esoknja si anak bertanja: "Mama, benarkah oom Farouk menempeleng mama?" Farouk adalah Farouk Avero, jang memainkan peran Rais sang germo, dan Suzie mendjawab: "Benar, tjuma main-main". "Dan mama buka badju?" "Benar", djawab sang ibu, "seperti jang Ari lihat sekarang". Dengan menatap djauh keluar pintu studio ia kemudian berkata: "Saja tidak bisa berbohong kepadanja, itu tidak baik. Dia seperti anak-anak lain sekarang, sudah sering melihat gambar wanita-wanita buka badju, dan buka beha, di madjalah-madjalah jang toch tidak bisa saja sembunjikan. Nampaknja ia sudah terbiasa dengan itu dan tak punja fikiran djelek. Saja djuga tjeritakan kepadanja bahwa djaman dulu pun perempuan Bali tidak pakai kutang, dan itu tidak apa-apa". *** NURNANINGSIH: "Suzanna berani", kata Nurnaningsih. "dan saja terharu melihatnja dalam Bernafas. Tapi saja tahu Suzie telah berfikir agak pandjang. Ia memikirkan perkembangan anak-anaknja bagaimana anak itu nanti kalau diledek teman sekolahnja sebagai anak dari bintang film jang dituduh suka telandjang." Nurnaningsih sendiri seorang ibu bersama 3 anak jang berasal dari 3 suami. Siapapun jang kini berumur diatas 5 tahun akan mengingat wanita ini karena gambar telandjangnja jang menggemparkan orang kurang lebih 15 tahun jang silam: seorang perempuan Indonesia jang begitu berani, begitu nekad dan mungkin djuga begitu banjak ditjertja. "Waktu itu saja hanya ingin terkenal seperti Marilyn Monru. Waktu itu saja ingin semua mulut laki-laki menjebut nama saja seperti menjebut nama MM". Nurnaningsih kini tinggal disebuah alamat jang sulit diketemukan, disebuah bilik ketjil didjalan Tebet Utara berpapan nama "Kerontjong Harapan Masa", sebuah bangunan mirip rumah jang bukan rumahnja. Ia mendjadi penjanji tetap rombongan musik itu, sambil membuka usaha ketjil mendjahitkan pakaian wanita, sambil memberi kursus bahasa Inggeris buat anak-anak rekan artisnja dan sambil sekali-kali main film. 

Dalam film Sarinande Noda Tak Berampun dia mendjadi seorang perempuan setengah baja jang membajar laki-laki untuk menidurinja. Disana ia hanja membuka badju, mentjubit-tjubit sambil tertawa-tawa -- sonder telandjang. "Sex bukan kemauan manusia", dibiliknja jang sempit itu ia berkata kepada reporter TEMPO Harun Musawa, "sex termasuk pemberian Tuhan. Tuhan membiarkannja sedang Ia Maha Kuasa, mengapa? Why? Dan manusia djuga tidak melarang sedang sebenarnja mereka bisa melarang kalau film-film atau kehidupan sex jang sekarang dianggap salah". Kini, 46 tahun, ia masih rupawan, riang, ramah dan bertekad: "Sampai mati saja akan tetap main film". Ia minum pil pemberian Suzanna, Bon Korets, untuk melangsingkan tubuh. Adakah ia akan memerankan adegan berani sex? "Tidak, saja tahu diri. Sudah tua". Dan anaknja, Julius, 15 tahun, menjela pertjakapan: "Ibu 'kan sudah tua. Tidak boleh telandjang-telandjang lagi. Biar Suzanna sadja, jang masih muda". Lalu seperti menjesal: "Dulu saja tanpa fikir-fikir berani melakukan itu, karena tak ada ingatan kepada anak-anak. Kini Paula Rumokoy djuga berani dengan adegan-adegan sex mungkin karena tak ada penghalangnja. Paula 'kan masih gadis dan bebas?" *** PAULA RUMOKOY: Paula memang gadis, bebas dan berani -- paling tidak untuk ukuran jang berlaku kini. 

Ia, 22 tahun mungkin prototip anak sekarang dikota besar: pernah ditahan polisi karena ngebut, mendjadi model gratis untuk fotograf-fotograf -- diantaranja sebuah pose telandjang dari belakang -- mengikuti perlombaan ketjantikan, bertjita-tjita djadi peragawati lalu masuk kedunia film, dan sedjak beberapa lama hidup bersama Bobby Suhardiman meskipun mereka "belum punja rentjana untuk menikah". Matanja memandang kuat, berani, djeli dan indah: milik seorang gadis jang bangga akan kemudaannja dan bersahadja ditengah kemewahan sekitarnja. Tapi sebagaimana banjak anak-anak jang satu generasi dan satu lingkungan hidup dengannja, ia lurus, tidak banjak berfikir tentang apa jang telah terdjadi dan akan terdjadi. "Apa jang sekarang ja sekarang", katanja. Dan jang sekarang ialah reputasinja sebagai bintang baru dengan 17 buah film dan satu sikap enggan dengan adegan-adegan berani sex -- meskipun nampaknja ia tak ingin reputasi itu melekat pada dirinja: "Oh, jang lebih berani dari saja banjak sekali. Terutama figuran-figuran. Mereka mau seluruhnja telandjang, hanya pakai tjelana dalam". Adakah Paula bersedia bertjiuman dalam film? "Nggak enak kalau harus bertjiuman. Mana panas, banjak lampu-lampu, banjak orang. Lagi kalau tidak perlu buat apa. Seperti telandjang: kalau mau ditondjolkan itunja sadja ja djorok. Bisa djadi tjemplang. Seperti Farida dalam Palupi. Buat apa? Lagi pula mainnja djelek ...". Adakah Paula masih bersedia main film dengan adegan-adegan tempat tidur? "Saja sudah kapok. Film saja jang baru tidak punja adegan-adegan begitu". Ibunja tidak setudju dengan karir anaknja sekarang, dan menangis waktu menonton Bunga-Bunga Berguguran. Mengapa? Menurut Paula, karena "saja menangis dalam film itu". Sebagaimana ibunya, saudaranja di Menado djuga tidak setudju. "Kakak saja laki-laki menjuruh saja djadi pendeta seperti dia. Tentu sadja saja tidak mau. Kalau dia djadi pendeta, mengapa saja harus ikut-ikutan djadi pendeta". Tapi Paula tiap hari Minggu pergi ke geredja. 

Dalam kata-kata Rima Melati jang pernah mengasuh Paula: "Biar dia pulang djam 4 pagi, tapi djam 9 dia mesti kegeredja". Dan menurut pengakuannja sendiri dan pengakuan Rima, ia bahkan tidak suka kenightclub, tidak suka dansa, tidak merokok dan tidak minum. Lalu apa jang diingininja? "Kalau bisa terus main film sampai tua, seperti tante Fifi". Jang dimaksudkannja ialah Fifi Young. *** FIFI YOUNG: Tante Fifi berkata, dengan wadjah tjapek: "Saja kini merangkap mendjadi ibu mendjadi bapak dan pentjari nafkah buat anak-anak". Tidak mengherankan bila pelindung anak-anaknja ini, dalam usia jang lebih dari setengah abad, punja pendirian tersendiri: "Saja heran bahwa sensor begitu berani sekarang dengan membiarkan adegan-adegan sex. Dalam film Kris Mataram saja mengenakan rok untuk main tennis dan itu dipotong habis. Sekarang ini saja bertanja-tanja: adakah semua itu memang harus ada sex-nja? Apa tidak laku kalau itu tidak ada?". Bagi Fifi Young, nampaknja semua itu harus diterimanja dengan perasaan tertekan. "Tapi saja takut berbitjara kurang enak tentang film-film jang berani sex sekarang. Saja takut orang akan bilang: dia ngomong begitu lantaran sudah tua, djadi karena tidak bakal dapat peranan. Saja takut orang akan berkata lagi: tjoba seandainja dia masih muda, pasti dia djuga mau". Tapi memang menarik untuk mengetahui bagaimana sikap Fifi Young seandainja dia masih lebih muda sekarang. Beranikah? "Tidak, saja tidak berani. Terlalu risih rasanja". Dan ditjeritakannja bagaimana anak-anak sekarang dengan beraninja melepaskan pakaian dimuka kamera, meskipun itu hanja untuk stand-in sadja. "Sungguh terlampau berani. Ngeri deh, tante", sambungnja. Diantara bintang jang berani menurut Fifi Young, adalah Tuty Suprapto. *** TUTY SUPRAPTO: "Kebanjakan dari adegan-adegan sex di lajarputih itu hanja tipuan permainan kamera", kata Tuty - jang dalam Bunga-Bunga Berguguran disebut dengan Tuti S. sadja. Diatas tubuhnja jang tidak seramping sepuluh tahun jang lalu terpatjak wadjahnja jang ketjil dan masih nampak muda. Bagi beberapa sutradara, agaknja Tuty adalah tipe jang tjotjok untuk setiap tante girang jang sensuil, hangat, haus. "Saja djuga mendjadi sulit bila saja harus pergi dengan anak laki-laki saja: orang bisa menjangka saja adalah tante girang jang pergi dengan gigolonja". Mungkin karena itu, seperti kebanjakan bintang-bintang film Indonesia lain, Tuty seperti tidak ingin memelihara image lajar-putih itu. Meskipun melihat foto-foto dari filmnja jang terachir, Dibalik Pintu Dosa, ia nampaknja tidak enggan-enggan membuka pakaian untuk sebuah peran jang diberikan, Tuty berkata: "Saja tidak mau memainkan peran jang lebih berarti, misalnja buka beha. Sebagai wanita timur ........". Tuty berasal dari Djawa Barat.

TURINO DJUNAIDY 1951-1991



Nama :Teuku Djuned
Lahir :Padang Tiji, Nangro Aceh Darussalam, 6 Juni 1927
Wafat :Jakarta, 8 Maret 2008
Pendidikan :
Kursus Radio Telegrafis di Medan (1943),
Sinematografi dan Produksi Film di Tokyo

Selama ini dikenal sebagai pendiri PT Sarinande Film pada saat dunia film dilanda kelesuan pada 1960-an. Turino aktif memproduksi film, dan sampai awal 1978 sudah memproduksi lebih dari 30 film. Turino juga aktif dalam organisasi seperti Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) dan Yayasan Naional Festifal Film Indonesia (YFI).

Buku Katalog Film Indonesia 1926--2007 yang disusun JB Kristanto mencatat, film garapan Turino Djunaidy ini Bernafas dalam Lumpur sebagai film Indonesia pertama yang menonjolkan seks, perkosaan, dan dialog-dialog kasar

Minat kepada film dimulai ketika ia mengedarkan film-film Mesir di Sumatera. Ketika untuk pertama kalinya ia melihat film Indonesia Menanti Kasih tahun 1949, ia langsung tertarik kepada film yang di bintangi A. Hamid Arief itu. Lalu Turino mencoba mendapatkan film-film Indonesia di Jakarta. Sampai di Jakarta malah ditawari bermain film oleh perusahaan Golden Arrow. Tawaran itu diterimanya dengan rasa bingung. Dan bermainlah ia dalam film-film Meratap Hati tahun 1950, Seruni Layu tahun 1951 dan Si Mientje tahun 1952.

Perusahaan dagang G.A.F. Sang Saka yang di dirikannya di awal 1950-an diubahnya menjadi perusahaan pembuat film. Produksi pertamanya film Pulang tahun 1952. film Rentjong dan Surat tahun 1953, film Sri Asih tahun 1954 dan film Kopral Djono tahun 1954. Dalam semua film tadi ia bermain sebagai pemain utama. Dalam film Sri Asih, Turino merangkap sebagai sutradara. Bermain bersama Mimi Mariani yang kemudian menjadi istrinya. Kemudian ia bermain dalam perusahaan film lain antara lain, Oh Ibuku tahun 1955 dan Taman Harapan tahun 1957. Turino kemudian mendirikan perusahaan P.T Sarinande Film pada tanggal 13 Desember 1959.

Produksi pertama Sarinande adalah Iseng tahun 1959 yang mengorbitkan nama pelawak Alwi dan Oslan Hussein. Sarinande telah memproduksi lebih dari 40 judul film sampai tahun 1980. Turino juga membimbing Pembantu Sutradara seperti Has Manan, Bay Isbahi dan Arizal. Filmnya Bernafas dalam Lumpur ditahun 1970 telah menghasilkan uang yang besar saat itu namun film-filmnya yang kemudian tidak dapat lagi mengulang sukses, sekalipun keuntungan tetap diperolehnya.

Dikenal sebagai direktur, produser, sutradara, penulis PPFI (Perhimpunan Produser Film Indonesia). Kemudian dalam Yayasan Nasional Festival Film Indonesia. Yayasan ini sejak tahun 1973 mengadakan FFI setiap tahun. 

Pada hari Sabtu, 8 Maret 2008, Turino Djunaedi manghembuskan nafas terakhirnya akibat stroke, jenazah dimakamkan keesokan harinya di pemakaman keluarga di Gadog, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Turino Djunaedi akan selalu dikenang sebagai perintis industri perfilman nasional.

Tokoh paripurna perfilman Indonesia, Turino Djunaedi, meninggal dunia Sabtu 8 Maret 2008 pukul 20.55 pada usia 80 tahun di RS Setia Mitra, Jakarta. Aktor film, sutradara, produser, penulis cerita dan skenario film, kelahiran Padang Tiji, Nanggroe Aceh Darussalam, 6 Juni 1927, itusudah lama menderita sakit karena stroke.

Jenazah tokoh pembangkit perfilman nasional itu disemayamkan di rumah duka Jalan Gaharu I No 26 Cipete, Jakarta Selatan, dan dimakamkan Minggu 9 Maret 2008 pukul 13.00, di pemakaman keluarga di Gadog, Ciawi, Kabupaten Bogor.

Kolega seangkatannya, sutradara H Misbach Yusa Biran (74), mengatakan, Turino, bersama tokoh lain seperti Usmar Ismail, adalah perintis industri film nasional setelah era kemerdekaan.

Peraih penghargaan Lifetime Achievement Award dalam Festival Film Asia Fasifik di Jakarta, 2001dan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI Megawati Soekarnoputri, 2004, itu menguasai hampir semua profesi di bidang perfilman, mulai dari aktor, penulis skenario, sutradara, hingga produser.

Turino telah terjun ke dunia film sejak tahun 1950 dengan bermain dalam film Meratap Hati produksi perusahaan film Golden Arrow. Minatnya kepada film bermula saat dia mengedarkan film-film Mesir di Sumatera. Lalu dia tertarik pada film Indonesia ketika untuk pertama kalinya menionton film Indonesia Menanti Kasih, yang di bintangi A. Hamid Arief, tahun 1949.

Setelah itu Turino berangkat ke Jakarta dalam upaya mendapatkan film-film Indonesia. Tetapi sedampai di Jakarta, dia malah ditawari bermain film oleh perusahaan Golden Arrow. Sejenak dia ragu dan bingung sebelum akhirnya menerima tawaran itu. Itulah awalnya dia bermain film, ikut membintangi film Meratap Hati tahun 1950. Kemudian berlanjut pada film Seruni Layu tahun 1951 dan Si Mientje tahun 1952.

Dalam rangka menunjang karir, perusahaan dagang GAF yang didirikannya pada awal 1950-an diubah menjadi perusahaan pembuat film. Selain sebagai produser, dia juga berperan sebagai pemain utama dalam produksi pertamanya, film Pulang tahun 1952. Begitu juga dalam produksi film berikutnya yakni film Rentjong dan Surat tahun 1953, film Sri Asih tahun 1954 dan film Kopral Djono tahun 1954.

Tokoh paripurna dalam profesi perfilman itu, telah pula merangkap sutradara sejak (dalam) film Sri Asih. Dalam film ini, Turino bermain bersama Mimi Mariani yang kemudian menjadi istrinya. Beberapa film dia bintangi dan sutradarai. Kemudian dia mendirikan perusahaan PT Sarinande Film pada tanggal 13 Desember 1959. Produksi pertama Sarinande Film ini adalah Iseng (1959). Film Iseng ini mengorbitkan nama pelawak Alwi dan Oslan Hussein.

Sarinande telah memproduksi lebih dari 40 judul film sampai tahun 1980. Turino juga membimbing Pembantu Sutradara seperti Has Manan, Bay Isbahi dan Arizal. Salah satu filmnya yang paling terkenal dan tentu telah menghasilkan uang yang besar adalah Film Bernafas dalam Lumpur (1970 dan 1991) 

Turino Djunaedi yang bernama ssli Teuku Djuned, itu juga dikenal sebagai salah satu pendiri Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Dia juga berperan dalam Yayasan Nasional Festival Film Indonesia yang sejak tahun 1973 mengadakan FFI hampir setiap tahun.


KEBANGKITAN ORDE BARU, KANGKITAN FILM KEKERASAN, MISTIK DAN SEX
“Pembuat film pada periode [Orde Baru] tidak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan kreativitas mereka, jadi mereka duduk dengan tenang dan berjuang melawan sistem represif melalui film. Kejahatan dan sifat penghancur yang ditunjukan dalam film dapat dilihat sebagai simbolisme dari pemerintah Orde Baru sendiri.”

Demikian kutipan yang disarikan Ekky Imanjaya berdasarkan wawancara dengan Imam Tantowi, sineas yang kerap terlibat dalam pembuatan film eksploitasi sepanjang tahun 1980-an. Tantowi mengawali debut sutradaranya melalui film Pasukan Berani Mati (1982). Sebelumnya, pernah juga terlibat dalam pembuatan Primitif (1980) dan Jaka Sembung Sang Penakluk (1981) sebagai penulis naskah.

Ekky Imanjaya melalui makalah “The Other Side of Indonesia: New Order’s Indonesian Exploitation Cinema as Cult Films” yang dipublikasikan dalam jurnal Colloquy (2009, hlm.146) menyebut film-film garapan Tantowi cukup populer di Australia, Eropa, dan Amerika Serikat. Distribusinya ditempuh melalui kanal khusus film-film kelas B. Kali pertama dilepas ke pasar internasional, film-film tersebut belum diketahui klasifikasi atau genrenya.

Lama-kelamaan, distributor film asing dan penonton di negara-negara Barat menemukan kesamaan antara film eksploitasi dengan film-film buatan orang Indonesia. Menurut pemaparan Imanjaya, film eksploitasi yang dimaksud meliputi film dengan anggaran rendah, menonjolkan sisi sensasional dengan mengumbar seks, ketelanjangan, kejahatan, dan kekerasan. Tidak jarang, film jenis ini juga mempertontonkan penggunaan narkoba, orang-orang aneh, darah, monster, perusakan, pemberontakan, dan kekacauan.

Indonesia pernah menyaksikan zaman keemasan film-film semacam itu. Dimulai sejak Orde Baru mulai berkuasa, film eksploitasi mencapai puncak kejayaan pada dekade 1980-an. Pesonanya mulai menghilang tatkala persaingan dengan televisi semakin sengit dan industri film mengalami mati suri sampai tamatnya Orde Baru.

Ditolak di Negeri Sendiri

Jenis film yang dipaparkan Imanjaya sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang di Indonesia. Kecenderungan ini sudah muncul sejak tahun 1968. Kala itu, sutradara Turino Djunaidy pernah bereksperimen dengan sedikit unsur seks dan kekerasan melalui film Djakarta, Hong Kong, Macao. Jika film tersebut bisa disebut film eksploitasi, artinya film genre ini menjamur seiring dengan kemunculan pemerintahan Orde Baru.

Pada praktiknya Orde Baru memiliki kebijakan sensor yang cukup membingungkan bagi sebagian sineas. Di satu sisi, otoritas sensor mengizinkan pemanfaatan unsur-unsur seks dan kekerasan ringan, namun di sisi lain sangat keras mengatur kritik dan pertunjukan yang mempertentangkan kelas sosial. Ditambah lagi, kebijakan yang sering berubah-ubah tidak jarang membuat produser film sering merugi.

Tidak heran jika pada akhirnya dunia perfilman pada periode 1970-an mulai kedatangan tema-tema baru yang terkesan menentang nilai-nilai normatif. Agar bisa terus menjual karya-karyanya, sebagian sineas merasa perlu mengeksploitasi rasa takut, birahi, hingga perasaan jijik. Semuanya dibawakan dengan dalih menjunjung film sebagai alat pendidikan.

Pada 1970, istilah seksploitasi dalam film mulai diperdebatkan di muka publik. Musababnya adalah penggambaran seks dan kata-kata cabul dalam film buatan Turino Djunaidy yang berjudul Bernafas dalam Lumpur. Selang tiga tahun kemudian, film arahan penulis dan sutradara Ali Shahab yang berjudul Bumi Makin Panas kembali mengangkat tema serupa.

 Puncaknya pada 1978, Sisworo Gautama Putra yang kelak tenar berkat mengarahkan film-film horor Suzanna, berhasil menghebohkan publik melalui film garapannya yang berjudul Primitif. Kontroversi timbul akibat tema kanibalisme dan kemunduran peradaban yang menjadi tema sentral film tersebut. Orang-orang film pun saling berdebat hingga membawanya sampai ke acara Festival Film Indonesia 1978.

“Adegan-adegan sex tahun ini relatif berkurang dalam hal penyajian yang menyolok [...] film yang mengemukakan cerita tentang kekerasan dan sadisme dan semacamnya tahun ini meningkat,” kata Rosihan Anwar dalam laporannya pada FFI 1978 yang dikutip Tempo (20/5/1978).

Sebelumnya, kecaman serupa sudah pernah diutarakan oleh kelompok seniman film idealis dalam FFI 1977. Mereka menganggap film dalam negeri sudah tidak ada lagi yang berwajah Indonesia karena semuanya penuh dengan ciri eksploitasi naluri rendah manusia. Catatan Taufiq Ismail yang dikumpulkan Tempo (12/3/1977) menyebut keberatan itu beralasan karena sebanyak 40 persen film Indonesia saat itu memang bertutur tentang prostitusi dan kriminalitas.

Bagi sebagian kritikus dan otoritas sensor Orde Baru, film eksploitasi sering kali tidak dianggap bagian Film Indonesia. Ekky Imanjaya kembali menyoroti masalah ini melalui makalah berjudul “Mondo Macabro as Trashy/Cult Film Archive: The Case of Classic Indonesian Exploitation Cinema yang terbit di jurnal Plaridel (2018, hlm.116).

Ia menuliskan: “Pemerintah Orde Baru dan elit budaya Indonesia selalu berusaha untuk mengecualikan film eksploitasi lokal dari wacana konsep sinema nasional dan budaya film nasional, karena mereka percaya film harus mewakili budaya sejati Indonesia, menggambarkan wajah asli Indonesia, dan menyinggung masalah pendidikan dan budaya”.

Menentang Gelombang Pasang

Perasaan ganjil saat menonton film eksploitasi pernah diutarakan oleh Eros Djarot dalam Kompas (16/1/1983). Ia mengaku sangat kesal saat menyaksikan film Nyi Blorong (1982) arahan Sisworo Gautama Putra. Menurutnya, film tersebut “tidak lebih dari usaha menggalakan kembali kepercayaan pada takhyul yang bersifat membodohkan masyarakat.”

Eros Djarot lantas melanjutkan uraiannya dengan menyinggung anjuran pembuatan Film Kultural Edukatif yang pertama kali disinggung oleh kelompok budayawan sekitar tahun 1979. Usulan ini didukung oleh pemerintah yang kemudian merilis Pedoman Sensor Film dan Kode Etik Produksi Film Nasional tahun 1981. Menurut penjelasan yang dipaparkan Novi Kurnia, dkk., dalam Menguak Peta Perfilman Indonesia (2004, hlm.57), langkah ini dinilai dapat meningkatkan kualitas produksi film dalam negeri.

Kode etik produksi 1981 berisi instruksi kepada setiap pembuat film agar mengedepankan tema sentral yang berlatar budaya dan kondisi sosial Indonesia. Peraturan yang dirancang melalui Seminar Kode Etik Produksi Film Nasional tanggal 4-8 Mei 1981 ini secara tidak langsung juga mengatur representasi visual dan dialog film yang bermuatan nilai-nilai religius dan disiplin nasional.

Bukan kebetulan jika semenjak kode etik produksi 1981 diberlakukan, film-film bertema sejarah, legenda, dan horor bermunculan bak jamur di musim hujan. Alih-alih membuat film yang sarat akan nilai-nilai yang disarankan pemerintah, sineas yang berkecimpung dalam pembuatan film komersial memilih mengeksploitasi tema-tema lokal menggunakan cara mereka sendiri. Tidak jarang, mereka memberlakukan cara-cara brutal dengan cara menjiplak film-film asing yang disesuaikan dengan selera lokal.

Dalam Indonesian Cinema: National Culture on Screen (1991, hlm. 40-41), Karl G. Heider mencoba mengklasifikasikan genre atau jenis film komersial yang populer pada periode 1980-an. Selain legenda dan horor, ada pula genre kompeni, genre periode Jepang, dan genre perjuangan. Kelimanya sering menjadi tema dasar pembuatan film eksploitasi Indonesia.

Perusahaan Rapi Film menjadi salah satu rumah produksi yang paling sering memproduksi film-film yang diklasifikasikan Heider. Pada titik ini gambaran tentang keganjilan praktek perdukunan yang berdarah-darah acap kali dipertontonkan untuk mendukung premis kebaikan agama mengalahkan ilmu hitam. Sebut saja seperti tokoh kyai dalam Pengabdi Setan (1980) atau tokoh pendeta yang muncul dalam Ranjang Setan (1986).

Selain itu, ada pula genre periode Jepang yang kemudian berkembang menjadi medium untuk membawakan tema penyekapan dan penyiksaan terhadap perempuan. Seperti yang tampak pada Tujuh Wanita dalam Tugas Rahasia (1983), Kamp Tawanan Perempuan (1983), dan Perawan di Sarang Sindikat (1986). Pada jenis film ini bentuk kejahatan itu ada pada kubu penjajah dan organisasi kriminal yang digambarkan gemar menyiksa, melecehkan, dan menyekap perempuan.

Apabila argumen yang dikemukakan Imam Tantowi sebelumnya memang berlaku umum, maka film eksploitasi barangkali memang sangat ampuh mengakomodasi kekesalan sineas yang mengaku kesulitan menyalurkan ekspresi kesenian di bawah tekanan politis Orde Baru. Sebagai bentuk pemberontakan, tokoh dan bentuk-bentuk kekuatan penghancur dalam film dibuat sebagai bentuk simbolis kekuatan politik Soeharto.


Tokoh perfilman nasional yang dikenal membangkitkan perfilman Indonesia pada era 1970-an, H Turino Junaidy, wafat pada usia 80, di RS Setia Mitra Jakarta, Sabtu (8/3) malam, pukul 21.00 WIB.

Lahir di Padangtiji, Nangro Aceh Darussalam, 6 Juni 1927, sebelum terjun ke dunia film, namanya adalah Teuku Djuned. Tetapi, seperti banyak orang yang mengganti nama setelah terjun sebagai pemain film, ia pun menggganti namanya dan menjadi lebih dikenal dengan nama Turino Junaedi. Sebagai orang Aceh, Turino pernah menjadi ketua umum Taman Iskandar Muda, organisasi masyarakat Aceh se-Jabotabek.
Minat kepada film dimulai ketika Turino mengedarkan film-film Mesir di Sumatera. Ketika untuk pertama kalinya ia melihat film Indonesia Menanti Kasih (1949), ia langsung tertarik kepada film yang di bintangi A Hamid Arief itu. Lalu Turino mencoba mendapatkan film-film Indonesia di Jakarta. Sampai di Jakarta malah ditawari bermain film oleh perusahaan Golden Arrow. Tawaran itu diterimanya dengan rasa bingung. Dan bermainlah ia dalam film-film Meratap Hati (1950), Seruni Layu (1951), dan SiMientje (1952). Ketertarikannya pada industri film membuat pria itu mengalihkan usaha yang ia miliki. Perusahaan dagang GAF Sang Saka yang ia dirikan di awal 1950-an menjadi perusahaan pembuat film.

Selain sebagai produser, dalam semua produksi filmnya ia bermain sebagai pemain utama. Filmnya Bernafas dalam Lumpur yang dibintangi oleh Suzanna dan (alm) Farouk Affero di tahun 1970 telah menghasilkan uang yang besar saat itu. "Kesuksesan film itu dianggap menjadi titik kebangkitan film Indonesia saat itu yang sebelumnya didominasi film impor," ungkap pengamat film Yan Wijaya. Namun film-filmnya yang ia produksi kemudian tidak dapat lagi mengulang sukses, sekalipun keuntungan tetap diperolehnya. Diapun dikenal menjadi pengusaha film yang sukses dengan bendera Sarinande Film.

Produksi pertama Sarinande adalah Iseng (1959) yang mengorbitkan nama pelawak Alwi dan Oslan Hussein. Sarinande telah memproduksi lebih dari 40 judul film sampai 1980. Turino juga membimbing Pembantu Sutradara seperti Has Manan, Bay Isbahi dan Arizal. Turino dikenal sebagai pelopor kebangkitan film nasional pada 1970-an dengan menyutradarai dan memproduseri film Bernafas Dalam Lumpur, Petualang Cinta, dan Selangit Mesra. Pada 1995, Turino masih memproduseri film And The Moon Dances yang disutradari Garin Nugroho. "Dia adalah orang yang sangat komitmen pada dunia film. Di usia tuanya ia tetap ingin menjalankan dan menggeluti bisnis perfilman," ungkap Garin.

Turino juga dikenal sebagai direktur, produser, sutradara, penulis PPFI (Perhimpunan Produser Film Indonesia). Kemudian dalam Yayasan Nasional Festival Film Indonesia. Yayasan ini sejak 1973 mengadakan FFI setiap tahun. Pada 2001, almarhum mendapat penghargaan Lifetime Achievement Award dalam ajang Festival Film Asia Pasific yang diadakan di Jakarta. Saat menerima penghargaan pria yang pernah mengecap pendidikan film di Kursus Radio Telegrafis di Medan (1943), dan Sinematografi dan Produksi Film di Tokyo, sudah sakit. Sehingga, ketika maju ke atas panggung harus dipapah oleh dua orang.
 
Berdasarkan Keppres No 016/TK/2004 tertanggal 13 April 2004, oleh Presiden Megawati Soekarnoputri Turino meraih penghargaan Satya Lencana Wirakarya, bersama dengan tokoh film lainnya seperti Soetarto RM dan Njoo Han Siang.


MEREBUT KASIH 1951 A. CANON
Actor
NODA TAK BERAMPUN 1970 TURINO DJUNAIDY
Director
SI MANIS JEMBATAN ANCOL 1973 TURINO DJUNAIDY
Director
BERNAFAS DALAM LUMPUR 1991 TURINO DJUNAIDY
Actor Director
BERNAFAS DALAM LUMPUR 1970 TURINO DJUNAIDY
Director
SELANGIT MESRA 1977 TURINO DJUNAIDY
Director
PETUALANG CINTA 1978 TURINO DJUNAIDY
Director
BELAIAN KASIH 1966 TURINO DJUNAIDY
Director
ANTARA TIMUR DAN BARAT 1963 TURINO DJUNAIDY
Director
MERATAP HATI 1950 RD ARIFFIEN
Actor
PULANG 1952 BASUKI EFFENDI
Actor
KABUT ASMARA 1994 TORRO MARGENS
Actor
KABUT BULAN MADU 1972 TURINO DJUNAIDY
Director
PAHIT-PAHIT MANIS 1952 L. INATA
Actor
KOPRAL DJONO 1954 BASUKI EFFENDI
Actor
AKHIR SEBUAH IMPIAN 1973 TURINO DJUNAIDY
Director
HANTJURNYA PETUALANG 1966 TURINO DJUNAIDY
Director
PEMBALASAN 1951 A. CANON
Actor
TAKDIR MARINA 1986 WAHAB ABDI
Actor
KEKASIHKU IBUKU 1971 TURINO DJUNAIDY
Director
OH, IBUKU 1955 ALI YUGO
Actor
ISENG 1959 TURINO DJUNAIDY
Director
DJAKARTA - HONGKONG - MACAO 1968 TURINO DJUNAIDY
Director
MAUT MENDJELANG MAGRIB 1963 TURINO DJUNAIDY
Director
KRISIS X 1975 TURINO DJUNAIDY
Director
GANASNYA NAFSU 1976 TURINO DJUNAIDY
Director
SORGA 1977 TURINO DJUNAIDY
Director
SI MIENTJE 1952 BASUKI EFFENDI
Actor
SRI ASIH 1954 TURINO DJUNAIDY
Actor Director
PUTERI REVOLUSI 1955 ALI YUGO
Actor
1000 LANGKAH 1961 TURINO DJUNAIDY
Director
LIKU-LIKU PANASNYA CINTA 1976 TURINO DJUNAIDY
Director
OPERASI HANSIP 13 1965 TURINO DJUNAIDY
Director
PACAR 1974 TURINO DJUNAIDY
Director
AKU DAN MASJARAKAT 1951 MHD A. CANON
Actor
RENTJONG DAN SURAT 1953 BASUKI EFFENDI
Actor
LORONG HITAM 1971 TURINO DJUNAIDY
Director
KASIH TAK SAMPAI 1961 TURINO DJUNAIDY
Director
KASIH DIAMBANG MAUT 1967 TURINO DJUNAIDY
Director
SERUNI LAJU 1951

Actor
PENGAKUAN SEORANG PEREMPUAN 1926 TURINO DJUNAIDY
Director
ORANG-ORANG LIAR 1969 TURINO DJUNAIDY
Director
INTAN BERDURI 1972 TURINO DJUNAIDY
Director
GADIS DISEBERANG DJALAN 1960 TURINO DJUNAIDY
Actor Director
DETIK-DETIK BERBAHAJA 1961 TURINO DJUNAIDY
Director
HADIAH 2.OOO.OOO 1962 TURINO DJUNAIDY
Director
KARTIKA AJU 1963 TURINO DJUNAIDY
Actor Director
BUDI UTAMA 1951 RD ARIFFIEN
Actor
BUNGALOW DI LERENG BUKIT 1976 TURINO DJUNAIDY
Director
DARMAWISATA 1961 TURINO DJUNAIDY
Actor Director
MATAHARI-MATAHARI 1985 ARIFIN C. NOER
Actor
RELA 1954 DJA'FAR WIRJO
Actor
MADJU TAK GENTAR 1965 TURINO DJUNAIDY
Actor Director
KUTUKAN IBU 1973 TURINO DJUNAIDY
Director

NODA TAK BERAMPUN / 1970

NODA TAK BERAMPUN




Triologi, yang pertama "Bernafas dalam Lumpur" dan kedua "Noda Tak Berampun" yang terakhir, "Kekasihku, Ibuku".
 
Rais (Farouk Afero), sang germo (lihat "Bernafas dalam Lumpur") menjadi penganggur. Istrinya, Marina (Rima Melati) yang tak tahu masa lalu suaminya, tak bahagia meski Rais mencintainya. Untuk mengatasi kesulitan uang, Marina jadi sopir taksi. Dalam pekerjaan ini ia berjumpa dengan Budiman yang masih membujang setelah Yanti, istrinya, meninggal (Bernafas dalam Lumpur). Cinta tumbuh, sementara Marina tahu bahwa Rais disewa tante Utari (Nurnaningsih), seorang tante girang. Cekcok terjadi dan cerai. Hubungan Marina-Budiman berlanjut. Marina jadi sekretarisnya dan akhirnya nikah dan punya anak. Rais ternyata kemudian jadi perampok, tertangkap, dibui dan bebas. Ichtiarnya untuk jadi orang baik-baik, gagal. Dan ia masih memendam cinta pada Marina. Untuk itu ia menculik anak Marina-Budiman. Penculikan gagal. Rais dikejar polisi sampai mobilnya terjungkal dan terkesan meninggal. Rina terkejut dan hilang ingatan.

P.T. SARINANDE FILMS

RIMA MELATI
RACHMAT KARTOLO
FAROUK AFERO
SOFIA WD
ISMED M. NOOR
BAY ISBAHI
SUZAN TOLANI
NURNANINGSIH
GODFRIED SANCHO
HARUN SYARIEF

Kamis, 29 April 2021

BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1991

BERNAFAS DALAM LUMPUR 


Film ini hampir sama dengan tahun 1970 yang di bintangi Suzzana dan sama terrkenal dengan judul yang sama juga. BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1970


Supinah, kemudian bernama Yanti (Meriam Bellina) terpaksa meninggalkan anaknya di kampung untuk mencari suaminya yang sudah lama berusaha di Jakarta. Harapannya pupus ketika tahu suaminya sudah menikah lagi, dan malah mengusirnya. Terlunta-lunta di kota ia terperangkap masuk jaringan perdagangan wanita. Pertemuannya dengan Budiman (Rano Karno), anak orang berada yang bertaruh dengan kawan-kawannya agar membawa pacar pada suatu pesta, adalah awal dari perubahan perjalanan hidup Supinah. Lewat liku-liku peristiwa yang dialami Supinah (tekanan germo) dan Budiman (tekanan orangtua), Budiman akhirnya mengejar ke kampung dan mengajaknya menikah. Yanti meninggal. 
#filmindonesia #filmjadul #filmlawas #bernafasdalamlumpur
MERIAM BELLINA
RANO KARNO
FAROUK AFERO
TURINO DJUNAIDY
NINA MARTINI
NYOMAN AYU LENORA
PHIRDHANIE REKSA
USBANDA
HIDAYAT
ABDUH MURSID
SALIM BUNGSU
HENKY SOLAIMAN

Kamis, 24 Februari 2011

SUZANNA, LEGEND BINTANG PANAS HINGGA IKON HOROR




1982
Unggulan di Festival Film Indonesia, Indonesia
Kategori: Pemeran Utama Wanita
Penghargaan: Piala Citra
Pada film: Ratu Ilmu Hitam
1979
Unggulan di Festival Film Indonesia, Indonesia
Kategori: Pemeran Utama Wanita Terbaik
Penghargaan: Piala Citra
Pada film: Pulau Cinta
1972
Pemenang di Aktor-Aktris Terbaik PWI, Indonesia
Kategori: Runner Up 4 Aktris
Penghargaan: Penghargaan
Pada film: Air Mata Kekasih (Lover's Tears)
1971
Pemenang di Aktor-Aktris Terbaik PWI, Indonesia
Kategori: Runner Up 1 Aktris
Penghargaan: Penghargaan
Pada film: Bernafas dalam Lumpur

Banyak filmmaker kita yang membuat film horor saat ini. Tetapi mereka bingung untuk gandre film horor yang akan mereka buat itu. Karena terlalu banyaknya film dalam bentuk DVD yang beredar, maka mereka memilih untuk membuat film horor yang lagi-lgi mengikuti korea-jepang-thailand.

Sehingga semakin hilanglah budaya atau ciri khas film Indonesia sendiri. Sebenarnya mereka menginginkan hal itu adalah semata-mata biar tampak keren saja, biar tampak beda dengan film horor Indonesia yang pernah ada, oleh karena itu korea-jepang-Thailand adalah baik untuk diikuti, karena yah,...pasti beda dengan film horo indonesia yang pernah ada. Padahal ada film Horor Indonesia yang sudah memiliki ciri khas, dan juga sayang untuk di Tinggalkan. Banyak yang bilang hantu Indonesia jauh lebih serem dari pada Jepang-Korea-Thailand. Jawaban saya,...iya memang serem. Tapi apakah si pembuat filmnya sendiri mampu membuat film yang serem, dan berkwalitas.

Permasalahannya bukan pada serem apa tidak, tetapi mampu apa tidak, percaya apa tidak bahwa hantu Indonesia jauh lebih serem dari pada hantu manca negara lainnya.??? SUZZANA,adalah contoh film horor yang paling unik, dan belum pernah ada sebelumnya, walaupun dari negara manapun. Hantu Suzaana adalah semacam super herro. Mungkin ini imajinasi dari si pembuatnya saat itu. Karena hantu yang bisa melakukan hal apa saja yang di luar orang normal. Bahkan jauh lebih hebat dari pada superman, dia mampu tembus tembok, terbang dan lainya. Hantu suzzana super hero ini semacam membasmi kejahatan. Dari ceritanya yang ada penjahat merampok rumahnya, membunuh anak dan suaminya dan juga memperkosa suzzana dan juga membuang mayat suzzana, menjadi kan suzzana hantu yang siap menumpas kejahatan/ balas dendam.

Hanya penjahat itu yang dia takuti, dan dia dendam dan inginkan mati. Bahkan dialoq hantu suzzana membawa kebajikan, contohnya beberapa adegan yang pemunculan hantu suzzana diantara orang yang melakukan kejahatan atau perusakan atau hal yang tidak baik. Contoh dukun bokir sangat sering dihadirka sebagai dukun penipu, kerapkali suzzana muncul untuk memberitahukan hal yang baik pada dukun bokir. Kalimat yang paling sering muncul adalah, "Jangan kau melakukan kejahatan, jangan kau merusak, jangan kau mencelakakan orang.". Bahkan dalam ceritannya, penjahat itu adalah penjahat yang paling sadis, istilahnya sindikat lah. Yang dimana polisi saja berusaha menumpasnya. Sering kali di akhir cerita ketika suzzana selesai membunuh para penjahat itu, polisi datang bersama kiayai. Karena hantu yang membunuh tidak tersentuh oleh hukum negara, maka polisi itu hanya mengurus penjahat yang ditumpas oleh suzzana, namun peran kiayai yang datang bersama polisi adalah bagian menyelesaikan persoalan suzzana agar ia bisa tenang di-alamnya itu., Kiayi inilah yang menyelesaikan hal tersebut.

Jadi ini sangat menarik, dimana hantu menumpas kejahatan. Dan juga manfaat penonton yang didapat adalah, agar ketika melakukan kejahatan, bisa berfikir panjang. Kalau seandainya yang mereka bunuh itu nantinya menjadi tuntut balas dendam menjadi hantu bergentayangan. SEhingga diharapkan orang akan takut melakukan pembunuhan terhadap orang lain. Ini sangat menarik pesannya. Dan juga format hantu itu sendiri yang menjadi super herro. Film Perjanjian Dimalam Keramat adalah film terakhirnya. Suzanna setelah film terakhirnya pada tahun 1991 (Perjanjian di Malam Keramat), berhenti muncul dalam film Indonesia. Saat itu ia dikenal sebagai ratu film horor. Hanya sedikit penonton film yang tahu bahwa Suzanna adalah aktor yang cukup banyak menerima penghargaan dalam berbagai peran yang tak tanggung-tanggung ragamnya. Pada awal karirnya sebagai aktor, Suzanna menerima penghargaan sebagai aktris cilik terbaik dalam film Asrama Dara (1958). Penghargaan ini tidak hanya ia terima dari Festival Film Indonesia 1960, tapi juga dari Festival Film Asia pada tahun yang sama. Dalam film drama seperti Asrama Dara yang disutradari Usmar Ismail, ia membawakan peran Ina, gadis remaja yang menghadapi perpisahan ayah dan ibunya. Sejauh penelusuran saya, ia adalah aktor anak pertama dari Indonesia yang pernah memenangkan penghargaan nasional dan internasional sekaligus melalui film yang sama.

Melalui Bernafas dalam Lumpur (1970) arahan sutradara Turino Djunaidy ia menerima penghargaan Runner Up I aktris terbaik versi Persatuan Wartawan Indonesia (1970-1971). Dalam film ini ia berperan sebagai perempuan desa yang berangkat ke kota dan terjebak kehidupan keras di kota. Film ini sempat dilarang diputar oleh Kodim Bandung karena penggunaan kata-kata kasar di dalamnya. Melalui film ini citra Suzanna berubah seiring pertambahan usianya, dari aktris cilik ia menjadi salah satu simbol erotisme perempuan dalam film Indonesia. Meskipun sudah bermain dalam film horor sejak tahun 1971, karir Suzanna sebagai bintang cerita hantu baru dikukuhkan pada tahun 1980-an. Kisah-kisah seram yang dimainkannya, seperti yang diingatkan seorang kawan kepada saya, selalu saja punya basis legenda lokal. Karenanya peran apapun yang dibawakan Suzanna, baik sebagai Ratu Kidul, Calon Arang maupun Nyai Blorong – dengan mudah meresap ke dalam ingatan penonton sebagai hantu perempuan yang selalu meremangkan bulu kuduk. Untuk perannya dalam Ratu Ilmu Hitam (1981), Suzanna menjadi salah satu Unggulan FFI 1982 untuk pemeran utama wanita. Menjelang kembalinya Suzanna ke dunia film Indonesia, ada baiknya kita tinjau lagi karir aktris ini. Ia barangkali satu di antara sedikit sekali aktris Indonesia yang mampu menguasai ingatan penonton dengan peran apapun dan citra apapun yang ia tampilkan.



Suzanna 1958
SUATU hari di tahun 1958, seorang gadis cantik, baru 15 tahun, ikut kontes "Tiga Dara" yang audisinya ditangani sineas besar Usmar Ismail. Seperti kepada peserta audisi lain, Usmar meminta gadis itu memeragakan adegan bertelepon. Ia terlihat gugup dan tak bisa menyelesaikan adegan dengan baik. Maklum, sebelum itu ia sama sekali tak pernah memegang gagang telepon, apa lagi bertelepon.

Merasa gagal, si cantik patah arang dan menganggap telah kehilangan kesempatan. Namun di luar dugaan, Usmar Ismail justru meloloskannya. Intuisi Usmar mengatakan, di balik keluguannya, gadis itu menyimpan potensi besar. Terlebih, ia sebelumnya sudah punya pengalaman berakting dalam film "The Long March" yang diproduksi pada 1950. Sebuah peran dalam Asmara Dara pun didapat. Dan di bawah besutan Usmar Ismail, gadis bernama Suzanna Martha Frederika van Osch itu berhasil menampilkan kemampuan aktingnya secara optimal. Tak tanggung-tanggung, atas perannya sebagai Ina di Asmara Dara, ia beroleh penghargaan The Best Child Actrees pada Festival Film Asia di Tokyo pada 1960. Selain itu juga menjadi pemain harapan pada FFI 1960. Inilah untuk kali pertama, seorang aktor anak pertama Indonesia yang pernah memenangkan penghargaan nasional dan internasional sekaligus melalui film yang sama. Sukses dalam Asmara Dara, Suzanna yang dijuluki ”The Next Indriati Iskak” itu lantas membintangi sejumlah film bergenre drama, seperti Bertamasja (1959), Mira (1961) Antara Timur dan Barat, Aku Hanja Bajangan (1963), Segenggam Tanah Perbatasan (1965), Suzie (1966), dan Penanggalan (1967). Kendati demikian, film-film itu tak melambungkan namanya. Terangkat Baru pada Bernapas dalam Lumpur (1970), popularitas Suzanna terangkat. Dalam film gubahan sutradara Turino Djunaidy dari sebuah novelet berjudul Berenang dalam Lumpur karya Zainal Abdi itu, Suzanna berperan sebagai pelacur. Nah, di situlah ia harus beradegan panas. Atas aktingnya di film ini, Suzanna menerima penghargaan Runner Up I aktris terbaik versi Persatuan Wartawan Indonesia (1970-1971). Drama, seks, dan misteri menjadi tren perfilman era 1970-1980-an.

Di situlah, Suzanna sebagai bintang papan atas, memainkan peran yang lebih luas. Tahun 1971 ia bermain dalam film horor Beranak dalam Kubur. Sejak 1980, Suzanna lebih banyak bermain dalam film horor yang dibungkus kisah mitos dan legenda. Taruh misal, Sundel Bolong, Ratu Ilmu Hitam (1981), Nyi Blorong (1982), Nyi Ageng Ratu Pemikat, Perkawinan Nyi Blorong (1983), Telaga Angker (1984), Ratu Sakti Calon Arang, Bangunnya Nyi Roro Kidul (1985), Malam Jumat Kliwon, Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986), Santet, Ratu Buaya Putih, Malam Satu Suro (1988), Wanita Harimau (1989), Pusaka Penyebar Maut, Titisan Dewi Ular (1990), Perjanjian di Malam Keramat (1991), dan Ajian Ratu Laut Kidul (1991). Selain layar lebar, Suzanna juga membintangi beberapa sinetron bergenre serupa. Antara lain Selma dan Ular Siluman. Demikian sering ia bermain di film misteri hingga masyarakat menjulukinya Ratu Film Horor Indonesia. Jejuluk ini amat melekat. Alhasil sosok perempuan berdarah campuran Jerman, Belanda, Manado, dan Jawa itu identik dengan peran-peran yang dimainkannya, seperti sundel bolong, Nyi Roro Kidul, kuntilanak, atau Nyi Blorong.


Suzanna, Legenda dari "Asrama Dara"
Rabu, 22 Oktober 2008 , 18:43:00

BINTANG legendaris perfilman nasional itu telah tiada. Rabu (15/10) malam, Suzanna pergi ke alam keabadian di Magelang. Namun, kepergian aktris bernama lengkap Suzanna Martha Frederika van Osch itu, tak akan mengubur reputasinya dalam perjalanan panjang riwayat perfilman di negeri ini.

Tentu saja karena Suzanna jadi sebuah nama fenomenal, yang popularitasnya menembus batas generasi. Tak hanya konsumen film tempo dulu di putaran tahun 1960-an, remaja masa kini pun masih sempat mengenali pamornya di film "Hantu Ambulance" (2008). Film terakhir yang "memanjangkan umur" kemashurannya!

Semua orang kenal Suzanna. Kondisi ini tercipta, dimungkinkan, terdukung dengan penayangan ulang sejumlah film legenda misteri di layar kaca, yang menampilkan artis kelahiran Bogor 13 Oktober 1942 itu. Memang, Suzanna pernah jadi "cap dagang film laris" untuk lakon hantu-hantuan Indonesia.

Sosok almarhumah lalu identik dengan perwajahan film horor dan mistik, sejak film "Sundel Bolong" (1981) karya almarhum Sisworo Gautama, sukses merebut pasar film nasional. Formula mistik ini yang menderaskan penampilannya dalam banyak film lain, seperti film "Nyi Blorong", "Perkawinan Nyi Blorong", "Malam Jumat Kliwon", "Ratu Ilmu Hitam", maupun "Nyi Ageng Mangir".

Terlebih, karena kekuatan pasar film, Suzanna mendapat pengakuan FFI (Festival Film Indonesia) 1983 di Medan, yang menganugerahkan Piala Antemas untuk film "Nyi Blorong", lambang film terlaris sepanjang tahun 1982. Itu pula yang menguatkan jaminan sukses komersial, untuk pemasaran film bermuatan legenda populer "Ratu Pantai Selatan" dan "Sangkuriang". Lalu, Suzanna bagai wujud lain Dayang Sumbi dari cerita rakyat Jawa Barat itu. Dalam kehidupan sebenarnya, "Sang Puteri" tak lagi kuasa memadamkan api cinta Sangkuriang, yang diketahui sebagai anak kandungnya.

Saat berstatus janda aktor film almarhum Dicky Suprapto, Suzanna pelakon Dayang Sumbi dalam "Sangkuriang" menikah dengan Clift Sangra pemeran Sangkuriang, yang usianya terpaut jauh, seumpama ibu dan anak. Mereka menjalani kebersamaan hidup, hingga kematian datang memisah keduanya.

Apa pun kenyataan di balik layar keartisan, Suzanna memang seorang pelaku legenda perfilman nasional, yang turut mengantar kelangsungan dunia film sejak tahun 1958 hingga kondisi kekinian. Kemenangan juara kedua dalam kontes film "Tiga Dara" di Magelang, dan "Delapan Pendjuru Angin" di Yogyakarta, membawa Suzanna bermain film "Asrama Dara" karya almarhum Usmar Ismail.

Kehadiran belia enam belas tahun itu, bersambut sukses gemilang. Film penapak kepopuleran "Tiga Dara" berbintangkan Chitra Dewi, Mieke Widjaya, dan Indriati Iskak itu, melambungkan Suzanna sebagai Aktris Harapan Terbaik di Pekan Apresiasi Film Indonesia 1960, arena festival film kedua setelah tahun 1955. Pamor Suzanna mengemuka di tengah sukses almarhum Soekarno M. Noer dan almarhumah Farida Aryani, Aktor dan Aktris Terbaik dari film "Anakku Sajang" karya Liliek Sujio. Bahkan, "Asrama Dara" menobatkan pula Suzanna sebagai The Best Child Actress di pentas FFA (Festival Film Asia) 1960.

Beralasan, walau iklim produksi perfilman nasional masih terlindung mega mendung, namun sepanjang enam tahun sampai 1966, Suzanna tampil saban tahun. Film-filmnya bertitel "Mira" dan "Bertamasya" karya M. Sharieffudin A. Lalu, film "Gara-Garamu" (Fred Young), "Antara Timur dan Barat" (Turino Junaedi), "Segenggam Tanah Perbatasan" (Djamal Halputra), dan "Suzie" (judul film dengan nama akrab keseharian sang bintang) karya Liliek Sujio.

Kelangsungan karier filmnya yang biasa-biasa itu, seketika sontak jadi luar biasa, manakala Suzanna berani tampil beda di film "Bernapas Dalam Lumpur" karya Turino Junaedi. Itu tergelar empat tahun setelah absen bermain film! Terbukti, film tentang pelacur dari novel populer Zainal Abdi itu, mampu membangunkan pamor film nasional tahun 1970, dari panjangnya kemuraman pasar.

Formula seks ramuan "Bernapas Dalam Lumpur" mencapai takaran film box office. Film "panas" yang menghebohkan dengan keberanian Suzanna beradegan ranjang, dihargai sebagai legenda perfilman Indonesia. Tampilan "formula baru" filmnya memanggang film nasional, dengan perdagangan adegan panas. Reputasi Suzanna pun menguat sebagai "bintang panas" terlaris.

Sejumlah film lainnya seperti "Tuan Tanah Kedawung" (1971), "Air Mata Kekasih" (1971), "Beranak Dalam Kubur" (1972), "Bumi Makin Panas" (1973), "Ratapan dan Rintihan" (1974), maupun "Nafsu Gila" (1974), menggetarkan pasar film dalam negeri. Tapi, Suzanna bukan sekadar "bintang ranjang" tanpa pujian.

Dalam jaringan "aktris terbaik" di pentas The Best Actor/Actress versi PWI Jaya Seksi Film 1970, almarhumah bergelar Aktris Harapan Terbaik I melalui film "Bernapas Dalam Lumpur". Satu tingkat di bawah Rima Melati (film "Noda tak Berampun"), namun mengungguli Chitra Dewi (film "Nyi Ronggeng"), Widyawati (film "Hidup Cinta dan Air Mata"), dan Mieke Widjaya (film "The Big Village").

Saat Lenny Marlina berjaya atas film "Biarlah Aku Pergi" (1971), Suzanna terempas ke peringkat "Aktris Harapan Terbaik IV" (film "Air Mata Kekasih"). Itu tak memudarkan pamornya. Justru Suzanna melalui film "Ratu Ilmu Hitam" terjaring ke dalam nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 1982 Jakarta, membayangi sukses Jenny Rachman (film "Gadis Marathon"). Kharisma keartisan Suzanna seakan tak pernah lekang. Predikat "bintang panas", tak terpadamkan kehadiran artis lainnya, yang jauh lebih muda. Di musim tema mistik dan horor berjaya, gelar "ratu horor" masih juga berharga menjadi cap dagang film laris. Pamor Suzanna yang cantik dan seksi tiada duanya. Totalitas pemeranan yang terkadang panas, masih belum lagi tergantikan. Dunia film nasional kehilangan...***



17 Februari 2003

Seperti film-filmya, Suzanna menyimpan enigma. Jejak panjang sudah diukirnya di jagat film mistik, seram yang menggedor nyali penonton. Beranak dalam Kubur, Bernapas dalam Lumpur, Sundel Bolong, Nyi Blorong, Bangunnya Nyai Roro Kidul, Ratu Ilmu Hitam, juga Santet, telah mengukuhkan posisinya sebagai "Ratu Horor".

Tetapi bukan film misteri itu saja yang membuat sosoknya menarik ditelusuri; kehidupan pribadinya yang tragis dan penuh warna—perkawinannya pertama dengan Dicky Suprapto yang runtuh; tewasnya putranya yang tampan, Ari, dan perkawinan keduanya dengan Cliff Sangra—akhirnya membuat Ratu Enigma ini semakin masuk ke dalam sebuah sel kehidupan yang tertutup. Tak mengherankan jika wartawan adalah makhluk yang tak mudah masuk dalam lingkar hidupnya.

Pembalasan Ratu Pantai Selatan, akhir 1992, adalah film layar lebar terakhir yang dibintangi Suzanna. Lalu, seiring dengan sekaratnya industri film lokal, pamor bintang berkulit seputih pualam ini seakan ikut tenggelam. Baru dua tahun lalu Suzanna kembali turun gelanggang. Sinetron Misteri Sebuah Guci atau Misteri Nyai Walet tak ubahnya sebagai proklamasi kembalinya sang ratu.

Uniknya, kehidupan ratu yang tetap cantik di usia 60 tahun ini relatif jauh dari hiruk-pikuk panggung selebriti. Perempuan kelahiran Bogor ini tak pernah jadi obyek berita tayangan infotainment di televisi swasta yang membanjir belakangan ini. Kehidupan rumah tangga artis yang bersuami aktor Cliff Sangra ini juga aman dari gempuran gosip. Kabarnya, itu semua karena Suzanna—lebih akrab dipanggil Mbak Suzie—memang sengaja tak mau obral diwawancarai wartawan. Wawancara dilakukan amat selektif, dengan menghitung hari baik dan bulan baik menurut peruntungan Suzanna.

Tim TEMPO juga tak mudah menemui Suzanna. Dua wartawan, Ecep S. Yasa dan L.N. Idayanie, berhari-hari nongkrong menunggu datangnya "hari baik" Mbak Suzie. Keduanya silih berganti menyambangi rumah sang bintang di Kebon Dalem, Magelang, kota kecil di Jawa Tengah. Tak berhasil di sini, TEMPO mencoba menjumpai Suzanna di vilanya yang sejuk di Kopeng, Salatiga, Jawa Tengah. Tetap gagal.

Akhirnya, hari baik pun tiba. Melalui budi baik sang suami, Cliff Sangra, sang ratu yang jelita dengan nama asli Suzzanna Martha Frederika van Osch Boyoh ini bersedia diwawancarai TEMPO melalui surat elektronik. Berikut ini kutipan wawancaranya.

Hingga kini, Anda adalah bintang film misteri yang tak tertandingi di negeri ini. Bisakah Anda mengisahkan awal mula perjalanan karier sebagai bintang film?

Saya pertama kali diorbitkan oleh sutradara Usmar Ismail dalam film Asrama Dara (1958). Ini film pertama saya, masih black & white, yang paling berkesan. Saya langsung mendapat penghargaan Best Child Actress in Asia di Tokyo pada 1960.

Anda sempat membintangi beberapa film drama sebelum banting setir ke film horor. Adakah alasan khusus?
Sederhana saja. Saya jenuh bermain film drama dan kepingin bermain film horor. Beranak dalam Kubur, 1971, adalah film horor saya yang pertama dan mencapai sukses luar biasa. Jadi box office. Ketagihan, deh. Tema-tema horor langsung digemari penonton Indonesia pada waktu itu. Sekitar 14 film horor yang saya bintangi sukses besar.

Sejumlah media menjuluki Anda sebagai "Ratu Horor" yang tak tertandingi, bahkan sampai kini. Ada komentar?
Terima kasih. Saya bersyukur telah bisa menghibur dan menakut-nakuti Anda semua selama ini. Tapi jangan takut beneran. Wong, saya ini paling seneng disayang, dan saya juga sayang sama Anda.

Dari sisi cerita, bagaimana Anda menilai film horor kita pada 1980-an dan 1990-an?
Sebetulnya film horor kita dulu lebih seram karena temanya lebih sederhana, diceritakan dengan gaya sederhana, dan pas juga (dengan keinginan pasar—Red.), karena belum banyak saingannya.

Tapi banyak juga kritik, film horor kita di tahun 1990-an kental bermuatan seks, dengan alur cerita yang gampang ditebak. Apa yang salah menurut Anda?
Sebetulnya tidak ada yang salah. Ada penonton yang senang film horor yang tegang menakutkan dari awal sampai akhir. Ada juga penonton yang suka ditakut-takutin tapi juga mau dihibur dengan adegan seks. Dan, produser film sangat jeli akan hal itu, sehingga jadilah film yang sesuai dengan keinginan penonton.

Anda sekarang beralih pada sinetron televisi. Apa yang membedakannya dengan film layar lebar?
Saya bermain sinetron tetap dengan serius. Hanya, memang sinetron lebih santai ketimbang film. Ada waktu untuk break, istirahat. Kalau bikin film, kita bisa begadang terus selama 3-4 bulan, syuting sore pulang subuh, syuting pagi pulang pagi.

Di tengah tren sinetron horor saat ini, apakah Anda kebanjiran tawaran?
Bukannya mau menyombongkan diri, tetapi sudah puluhan tawaran sinetron bertema horor yang saya tolak. Saya tidak peduli honornya selangit untuk ukuran artis Indonesia. Saya hanya membintangi Misteri Sebuah Guci dan Selma dan Ular Siluman, yang keduanya punya unsur keanehan yang menarik. Syuting sinetron Selma sedang berlangsung dan ini saya bintangi bersama Cliff.

Mengapa Anda menolak main di sinetron?
Sudah terlalu banyak sinetron dengan tema horor yang ditayangkan di televisi setiap hari. Kesannya, tontonan itu sekadar seram, pokoknya nakutin. Akhirnya, penonton mengeluh jenuh. Ceritanya dicomot dari situ, ditambah dari sini, alur ceritanya hampir sama, hanya berbeda artis dan lokasi syuting. Itulah sebabnya saya tidak mau lagi main sinetron horor.

Ada keinginan tertentu di dunia akting?
Saya ingin berakting lagi dalam film-film drama yang bagus alur ceritanya. Toh, sebenarnya saya beranjak ke dunia film dengan diawali bermain dalam cerita drama.

Adakah pengalaman buruk selama Anda syuting film horor?
Tidak ada pengalaman buruk. Hantu-hantu kan sebetulnya takut pada manusia. Kita saja yang sering ngeri duluan. Tapi, memang ada banyak kejadian luar biasa yang membuat saya terperangah. Kalau diceritakan tersendiri, kejadian-kejadian ini bisa mencapai 500 episode.

Apa contohnya?
Saat pembuatan film Beranak dalam Kubur dengan lokasi syuting tanah pekuburan Bergota, Semarang.
Lubang kubur yang sedianya digali untuk kepentingan syuting ternyata diisi dengan jenazah orang yang meninggal pada hari itu. Jadilah kru menggali lubang baru tepat di sebelah kuburan yang baru itu. Saat syuting, para kru kamera berseru, "Mbak, kain kafan kuburan itu goyang-goyang, lo." Karena saya sedang konsentrasi, saya tidak menanggapi komentar-komentar seperti ini. Terus in action.

Malam makin larut. Saya harus melakukan adegan tidur bersebelahan dengan mayat yang kain kafannya menempel di badan saya. Lalu, saya pun ditimbuni tanah, mata tertutup rapat, sunyi, gelap-gulita di dalam kubur.

Saat itu, meskipun kami sudah berdoa dan melakukan selamatan minta izin, benar-benar terasa ada yang menggelitik kaki saya. Cacing tanah lagi iseng, pikir saya. Tapi, lalu siapa pula yang mengusap-usap telinga dan tangan saya? Hi….

Saya tidak menceritakan apa yang saya alami pada teman-teman kru. Kasihan, nanti pada takut dan bisa break, deh. Yang penting kami semua selamat dan syutingnya sukses.

Ada alasan khusus kenapa Anda memilih tinggal di Magelang? Sengaja menyepi dari keriuhan Jakarta agar bisa lebih menghayati peran-peran misteri?
Ah, tidak juga. Sebetulnya saya ini pulang kampung. Nenek-moyang saya turun-temurun, sudah sekitar 150 tahun, tinggal di sini, dan sekarang anak-cicitnya sudah tersebar ke lima benua.

Ini juga karena permintaan saudara-saudara yang kangen. Dulu, sewaktu sibuk main film, banyak saudara dan sahabat saya yang jengkel karena saya begitu susah ditemui. Akhirnya saya kembali ke sini bersama Cliff. Kadang kami mendaki gunung, berkebun, dan bertani kecil-kecilan.

Capek memang, harus bolak-balik Jakarta-Magelang. Tapi capek ndak perlu dirasain. Yang penting happy.


24 September 1977
"KETIKA kami dalam kemelut dulu, kami punya rencana bunuh diri bertiga. Kamar sudah kami siram dengan bensin. Saya sudah siap dengan pistol dames. Tapi Arie tiba-tiba berkata: "Jangan mama, kita tidak boleh mati. Saya tidak mau mati, saya belum bisa membalas kebaikan mama. Arie belum membahagiakan mama." Ini cerita Suzanna, aktris termahal untuk Indonesia, kepada wartawan Benta Buana dalam perjalanan di mobil.

Waktu itu mereka dari RS Pertamina ke rumah, setelah usaha untuk menolong nyawa Arie Adrianus Suprapto tidak berhasil. Arie, selesai dari SMP Pangudi Luhur, enggan melanjutkan sekolah. Bukan berarti menganggur total. Dia gemar kerja bengkel. Motornya Yamaha selalu di tanganinya sendiri. Juga mengisi acara 'Arena Remaja' di Radio Amigos. Bisa mencapai semester ke-V untuk kursus musik di LPKJ, dan ibunya bahkan berniat mengirimnya ke Amsterdam, Belanda, untuk belajar lebih dalam tentang musik. Kamis 8 September malam, Arie pergi ke rumah temannya wanita, Wiwiek. Kepada Wiwiek Arie memberikan sajaknya: "Seorang pemabuk berjalan dengan langkah gontai/Ia sedang dilanda duka/Tiada kata tiada sapa/Ia mati tak tersangka." Sekitar jam 01.30 malam yang sama, di depan rumahnya, Arie dikeroyok - orang pemuda. Teman Arie bisa selamat, tapi Arie ketusuk dari lambung hingga tenggorokan. Jam 0.04 pagi, dia meninggal. Arie banyak teman. Bergaul tanpa pandang kelas (bahkan tukang parkir, tukang rokok, turut melawatnya). Di rumahnya ada lapangan badminton, dan lapangan ini selalu ramai oleh teman-teman Arie. "Dia sakit hati kepada papanya," lanjut Suzanna. "Papanya sering datang menengok, tapi selalu berakhir dengan: 'Papa pulang disikyo,' dan inilah kalimat yang dibencinya." Keluarga Suzanna memang goyah ketika Dicky Suprapto (pacar Suzanna ketika remaja dan bertempat tinggal berdekatan di Magelang) tidak kembali lagi ke rumah mereka.

Dicky, waktu itu 33 tahun, bertemu dengan Rahmawati Sukarno, waktu itu janda 24 tahun,di suatu klab malam. Kabarnya mereka terus saling jatuh cinta. Dicky kontan meninggalkan isterinya Suzanna dan kedua anaknya Arie dan Kiky. Dicky dan Rahmawati hidup bersama di rumah Rahmawati selama 4 bulan. Kemudian menikah secara Islam: seorang penghulu datang ke rumah Rahmawati di suatu sore jam 5, tanggal 27 Pebruari 1975. Dicky belum cerai secara resmi dengan Suzanna waktu itu. Kepada pers pernah terlontar ucapan Dicky: "Saya tidak pernah menikah sah dengan dia," maksudnya Suzanna. Dua keluarga Indo (Suzanna dan Dicky) dari Magelang ini dibesarkan dalam ajaran Katolik. Mereka juga menikah secara Katolik -- tidak mungkin cerai. Terutama Arie terpukul sekali. Sebentar dia jadi morfinis. Kemudian membentuk gang bernama 'Ereran,' yang untuk daerah Kebayoran terkenal sebagai tukang-tukang ngebut. Sesekali terlibat perkelahian, tanpa menggunakan senjata. "Bulan-bulan terakhir dia manis sekali," demikian sang ibu. "Malah sering keluar alemamlya." Juga sebelum jam 11.00 di malam yang naas itu: dia baru menstarter Yamahanya setelall jauh dari rumah. Ini bukan kebiasaannya.

Ketika teman-temannya bertanya, Arie berkata: "Ah, nggak enak aja ama enyak." Dan secara bergurau: "Gua mau ngeledek polisi nih. Abis kacamata gua diambil." Arie, langsing dan berambut gondrong manis, memang mengenakan kacamata. Malam itu, ketika seorang pastor sembahyang terakhir kalinya, Arie terbaring dalam peti dengan dua buket anggrek. Mengenakan celana putih, hem putih dan sepatu karet putih. Di dadanya diletakkan sebuah kitab suci dan tangannya menggenggam seuntai rosario merah muda. Keesokan harinya, Arie dikuburkan di Bogor di pekuburan Batu Tulis. Banyak rekan-rekan artis melawat. Antara lain produser Turino Junaedi, Kris Pattikawa dan isterinya Rina Hasyim, Tina Melinda, Roy Marten alias Salam, Titiek Puspa yang berbusana kebaya renda siklam dengan bunga di kedua kuping. Dicky Suprapto yang tampak dalam posisi serba-salah dan bingung, turut mengantar Arie ke Bogor bersama Rahmawati yang tampak subur. Suzanna, dalam kesedihan yang parah, kelihatan mengendalikan diri. Rencananya, sebenarnya tanggal 10 bulan ini dia teken kontrak film lagi. "Hasil film itu," demikian Suzanna, "untuk menyenangkan kedua anak saya." Setelah Dicky lari pada Rahmawati, Suzanna memang boleh dikata hilang dari peredaran dunia film.

Dia lebih senang di rumahnya yang kokoh dan besar itu, beryoga sampai 5 atau 6 kali sehari, mengayuh sepeda pagi-pagi sekali atau pergi ke tempat kakak perempuannya di Bogor. Di tahun 1971 Suzanna adalah aktris pertama yang mendapat honor paling tinggi. Waktu itu dia mendapat 1 juta rupiah untuk film Bernafas Dalam Lumpur. "Mama, benarkah Oom Farouk menempeleng mama?" tanya Arie yang waktu itu masih 10 tahun. "Benar. Cuma main-main," jawab sang ibu. "Dan mama buka baju?" "Benar, seperti yang Arie lihat sekarang," ujar Suzanna, tentang anaknya yang masih di bawah umur tapi mendengar segala macam reaksi penonton BDL. Dan kata Suzanna lagi: "Saya paling tidak bisa berbohong terhadap anak." Arie sekarang, 17 tahun, telah tiada.

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kabar duka menyelimuti blantika film Indonesia. Bintang film horor Suzanna meninggal dunia pada Rabu (15/10) malam akibat sakit diabetes di Rumah Sakit Harapan Magelang.

Suzanna Martha Frederika van Osch lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 14 Oktober 1942. Bungsu dari lima bersaudara ini memiliki darah Jerman-Belanda-Jawa-Manado. Suzanna mengawali karier di dunia peran lewat film "Darah dan Doa" yang disutradari Usmar Ismail pada 1950. Setelah itu, Suzanna kembali bekerja sama dengan Usmar Ismail lewat film "Asmara Dara" pada 1958. Lewat film 'Asmara Dara', Suzanna meraih penghargaan The Best Child Actress di Festival Film Asia 1960 di Tokyo. Suzanna juga menyabet gelar Aktris Terpopuler se-Asia di Festival Film Asia Pasifik di Seoul pada 1972. Namun, nama Suzanna mulai mencuat di blantika perfilman Indonesia lewat film horor seperti Beranak dalam Kubur, Sundel Bolong dan lain-lain. Tidak jarang bintang-bintang film muda yang tampil dalam film horor meminta saran dari Suzanna. Di antaranya Cut Memey ketika hendak membintangi 'Film Horor'. Suzanna pernah menikah dengan Dicky Suprapto yang juga lawan mainnya di film Beranak dalam Kubur. Setelah cerai dengan Dicky, Suzanna menikah dengan aktor Clift Sangra pada 1983. Suzanna juga memiliki seorang putri bernama Kiki Maria yang mengikuti jejak ibunya.

Meski harus bekerja di Jakarta, Suzanna lebih senang tinggal di Magelang. Setelah absen dari dunia peran, Suzanna bersama Clift Sangra hidup seperti orang biasa dengan berkebun dan bercocok tanam.

Suzanna sempat diisukan meninggal dunia karena jarang tampil di media massa. Ia pun pernah dikabarkan koma dua kali yaitu pada Februari 2006 dan Juni-Juli 2006. Namun, Suzanna tampil kembali dalam film berjudul Hantu Ambulance. Film itu dirilis pada 21 Februari 2008. Berbeda dengan film-film sebelumnya, pada film ini Suzanna tidak berperan sebagai hantu. Suzanna pada film ini berperan sebagai nenek dari tokoh protagonis yang mengalami teror dari makhluk halus. Menurut produser Indika Entertainment yang memproduksi 'Hantu Ambulance', Shanker, Suzanna telah mencapai semua yang ia inginkan sebagai seorang aktris.

Suzanna dimakamkan di Pemakaman Giriloyo, Magelang, Kamis (16/10). Selamat tinggal Suzanna!



PENANGGALAN1967TULSI RAMSAY
Actor
PUSAKA PENYEBAR MAUT 1990 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
SUNDEL BOLONG 1981 SISWORO GAUTAMA
Actor
SAMSON DAN DELILAH 1987 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
BERNAFAS DALAM LUMPUR 1970 TURINO DJUNAIDY
Actor
PETUALANGAN CINA NYI BLORONG 1986 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
SANTET 1988 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
PERKAWINAN NYI BLORONG 1983 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
ANTARA TIMUR DAN BARAT 1963 TURINO DJUNAIDY
Actor
BANGUNNYA NYI LORO KIDUL 1985 SISWORO GAUTAMA
Actor
SANGKURIANG 1982 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
LEMBAH DUKA 1981 JOPI BURNAMA
Actor
SUZIE 1966 LILIK SUDJIO
Actor
RATU SAKTI CALON ARANG 1985 SISWORO GAUTAMA
Actor
PULAU CINTA 1978 ALI SHAHAB
Actor
MIRA 1961 M. SHARIEFFUDIN A
Actor
BERTAMASJA 1959 DJOKO LELONO
Actor
AIR MATA KEKASIH 1971 LILIK SUDJIO
Actor
PERMAINAN BULAN DESEMBER 1980 NICO PELAMONIA
Actor
TUAN TANAH KEDAWUNG 1970 LILIK SUDJIO
Actor
RATAPAN DAN RINTIHAN 1974 SANDY SUWARDI HASSAN
Actor
WANITA HARIMAU 1989 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
SEGENGGAM TANAH PERBATASAN 1965 DJAMAL HARPUTRA
Actor
NAPSU GILA 1973 ALI SHAHAB
Actor
BERANAK DALAM KUBUR 1971 AWALUDIN
Actor
RATU ILMU HITAM 1981 LILIK SUDJIO
Actor
RATU BUAYA PUTIH 1988 TJUT DJALIL
Actor
AKU HANJA BAYANGAN 1963 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
MALAM JUMAT KLIWON 1986 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
TITISAN DEWI ULAR 1990 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
MALAM SATU SURO 1988 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT 1991 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
BUMI MAKIN PANAS 1973 ALI SHAHAB
Actor
TELAGA ANGKER 1984 SISWORO GAUTAMA
Actor
NYI AGENG RATU PEMIKAT 1983 SISWORO GAUTAMA
Actor
NYI BLORONG 1982 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
DIA SANG PENAKLUK 1984 IMAM TANTOWI
Actor
USIA DALAM GEJOLAK 1984 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
ASRAMA DARA 1958 USMAR ISMAIL
Actor
LONG MARCH, THE 1950 USMAR ISMAIL
Actor
AJIAN RATU LAUT KIDUL 1991 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor