Tampilkan postingan dengan label M.ARIEF 1941-1955. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M.ARIEF 1941-1955. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2020

M. ARIEF 1941-1955


Mohammad Arief, seorang putra tuan M. Mochtar, bekas Ass Wedana Cikampek. Tempat dan saat kelahirannya: Di Serang pada bulan Maret 1916. Mendapat didikan di HIS sampai tamat. Lepas dari sekolah, terus memulaikan debutnya di studio “STAR FILM COY”  di bawah pimpinan Tuan  Chok Tjin Shien. Hasilnya film-film: PAH WONGSO PENDEKAR BUDIMAN dan PAH WONGSO TERSANGKA. Dalam cerita itu, M. Arief berlakon bersama-sama Elly Junara< Abubakar Djunaedi dll.

Waktu pimpinan permainan erada di tangan R. Ariffien, dia berkesempatan main bersama Raden Sukran, Waldy, Satijem, Sarip, yang kemudian menghasilkan film: TJIUNGWANARA. Selesai film ini, Tuan Whu Chun memegang jabatan sutradara dan bertindak menyelenggarakan film LINTAH DARAT. Di sini pemain bertambah satu orang yaitu Primo Usman, jago tinju yang terkenal itu (kini telah pulang ke Rahmatullah ketika terjadi clash I di Cirebon. Dia gugur sebagai bunga bangsa setelah menembak mati beberapa orang musuhnya). Tak lama kemudian menyusul  film AJAH BERDOSA.

Di zaman Asia Timur Raya ala Dai Nippon, M. Arif naik panggung WARNASARI. Turut main di situ. Tetapi berhubung dengan dibutuhkannya tenaga oleh NIPPON EIGA SHA (PERSARI) , maka berpindahlah ia ke sana. Di mana Miss Surip, kartolo (almarhum), Dhalia, Astaman, dan Usman Tobing suda sama siap sedia menyelesaikan film DJATUH BERKAIT. Benar M. Arief lalu beraksi kembali  di layar putih bersama mereka itu. Filmnya yang kedua yang diusahakan oleh PERSARI ini ialah KE SEBERANG. Pelaku-pelaku utama tampak di sini, diantaranya: Nyi Rukiyah almarhum, Chatir Harro, Primo Usman almarhum dan R. barnas. Habis produksi itu, ia kembali ke panggung sandiwara, ikut M. Pandji Anom dan Djauhari Effendi dalam rombongan Garsia’s  SINARSARI. Hanya dua bulan dia aktif di sandiwara ini. Karena kemudian meletus revolusi besar di tanah air kita……

Pada akhir tahun 1945 dia menjadi anggota BARISAN BANTENG yang mempunyai tugas berat di dua tempat: Cikampek dan Purwakarta. Selama itu perhatiannya tidak lagi tercurah kepada LAKON MELAKON, tetapi ke Medan pertempuran. Sebagai seorang putera patriot M. Arief telah berbuat jasa di ajang juang, menyabung nyawanya. Sedemikian besar cintanya terhadap tanah airnya, sehingga tidaklah terlintas dalam ingatannya untuk meninggalkan barisannya sehingga melangkahi peristiwa: Aksi militer pertama dan kedua.

Setelah penyerahan kedaulatan, M. Arief muncul kembali di Jakarta Raya, sebagai penghubung  Detasemen V pimpinan letnan Supardi dalam kesatuan batalion L, (Mayor Darsono). Tatkala tuan Wu Chun memimpin studio filmnya kembali dan yang diberi nama GOLDEN ARROW itu, M. Arief mendapat tempat di situ. Turut serta dalam film-film DENDAM DAN ASMARA, dan MERATAP HATI. Tampak pula dalam cerita-cerita itu: Fifie Young, Sutrisni, R. Endang dan beberapa bintang baru.

Dengan berdirinya Perseroan Artis indonesia, maka banyaklah para artisten Indonesia yang berkumpul dan berlindung di dalamnya. Di antara mereka, Mohammad Arief inilah. Sebagaimana telah di katakan di atas tadi, M. Arief belum mendapat kesempatan untuk   menunjukkan permainannya dengan leluasa. Dan dalam film BAKTI BAHAGIA yang tengah dipersiapkan oleh PERSARI itupun, Arief hanya memegang peran yang belum boleh dikatakan berat. Sungguhpun rolnya di sini agak lebih besar daripada apa yang diterimanya dalam MARUNDA itu.

Dia bercita-cita menjadi pemain watak yang sempurna. Tetapi jalan untuk menuju ke pantai harapannya ini, tidak saja terletak pada kesungguhan hatinya. Namun juga sebahagian besar berpusat di dalam KESMPATAN yang mesti diterimanya itu.

Kini disamping turut opname “BAKTI BAHAGIA” , M. Arief diserahi kewajiban di sataf Tata Usaha. Dalam percakapan dengan seorang rekan, dia menyatakan bahwa pekerjaannya sebagai anggota tata usaha itu sebenarnya bukan pada tempatnya. Sebab pengalaman ditentang itu belum ada. Dan lagi memang belum pernah dia bekerja di kantor. Sangat diharapkan olehnya bukti daripada bunyi pepatah: The right man on the right place!!!

Seorang artis yang gemar bercocok tanam, itulah Mohammad Arief. Jika kita lihat rumahnya di Jalan Samba No. 27, Kebayoran Baru itu,  tampak di selebar halaman rumahnya, tertaman berbagai macam tanaman. Seperti cabe, tomat, dan lain sebagainya. Setiap hendak pergi atau pulang dari kantor (PERSARI POLONIA) dia selalu menjenguk “kebun kecil”nya itu tadi.

Dia mempunyai tiga orang anak. Tetapi ketiga-tiganya telah dipanggil Yang Maha Esa.

Kita hanya dapat memanjatkan doa ke Hadirat Illahi semoga saudara tidak dapat diputus asakan oleh satu dan lain hal yang berakibatkan terkandasnya cita-cita saudara sebagai seniman Indonesia. Semudah-moga, kesempatan yang saudara harapkan itu tidak lama lagi menjelma di alam wujud. Karena kita percaya, bahwa Perseroan Artis Indonesia yang ber-azas dab bertujuan suci mulia itu, tidak nanti membiarkan tenaga-tenaga baik begitu saja. Dan sangat boleh jadi, pihak pimpinan tengah mempertimbangkan sesuatu untuk mereka yang senasib dengan saudara, agar tidak lagi terulang penempatan tenaga-tenaga sebagai dalam …… MARUNDA!!!!

Ini nama film. Keluaran PERSARI. Cerita, skenario dan regie (borongan) dipegang oleh Ali Yugo. Seorang seniman kenamaan yang sudah banyak berpengalaman. Sementara pimpinan produksi tetap dalam genggaman M. Pandji Anom. Juga berpengalaman luas dalam soal kesenian lakon. Yang beruntung terpilih untuk memegang peranan-peranan utama dalam film ini ialah: Raden Mochtar, Komalasari, Sukarsih, A. Sarosa, dll. Ada sekelompok figuran (pemegang rol yang selintas dan enteng), tampak Awaluddin dan M. Arief. Kedua tenaga baik. Tetapi ditempatkan di tempat yang kurang cocok. Malah sebaiknya ditiadakan saja. Lebih tepat barangkali.

Jangankan si pemain, sedang penonton sendiri tidak puas dengan munculnya dua pemain ini hanya sepintas belaka.  Betapa kedudukan mereka ini sebenarnya? Mungkinkah hanya rol itu saja yang patut dibebankan? Atau memang sengaja kesempatan yang selayaknya mereka dapatkan itu diberikan kepada orang lain? Sebab M. Arief sudah mempunyai nama?

Padahal umum telah maklum, bahwa M. Arief adalah seorang tenaga baik dan mempunyai tempat di hati sidang penonton. Sebagai aktir yang harus berbuat “jahat” karena rol yang dipegangnya ialah “penjahat” permainannya boleh diharapkan. Malah caci makian dari mulut penonton di kala ia beraksi penjahat, itu sudah boleh menjadi ukuran. Memang senjatanyalah M. Arief seorang pemain yang tergolong baik. Dan seyogyanya bilamana diberi kesempatan oleh Sang Sutradara.

Untuk memperkuat pendapat di atas itu, baiklah kita bentangkan riwayat hidupnya.


SEBATANG KARA1954FRED YOUNG
Actor
TJIOENG WANARA 1941 YO ENG SEK
Actor
BANDAR DJAKARTA 1955 M. ARIEF
Director
BAKTI BAHAGIA 1951 MOH SAID HJ
Actor
PERKASA ALAM 1954 M. ARIEF
Director
KM-49 1952 M. ARIEF
Director
LENGGANG DJAKARTA 1953 M. ARIEF
Director
KISAH TUDJUH BIDADARI 1953 ONG KING HAN
Actor
LINTAH DARAT 1941 WU TSUN
Actor
ROSITA 1953 BAMBANG SUDARTO
Actor
AJAH BERDOSA 1941 WU TSUN
Actor

Rabu, 01 April 2020

KISAH PELAWAK / 1961

"Suatu film hiburan untuk anak-anak, tua dan muda! Jika anda merasa kesepian, hiburlah diri anda dengan menyaksikan film ini. Suatu film hiburan segar untuk segala lapisan masyarakat dengan bintang-bintangnya yang sudah terkenal dan beberapa lagu yang menarik."

Senin, 30 Maret 2020

LENGGANG DJAKARTA / 1953



Perkembangan Jakarta amat pesat setelah Indonesia berdaulat penuh (1950). Ibu kota RI ini jadi kota harapan dan impian orang-orang daerah. Salah seorang dari yang terpikat adalah Mulyono (Bambang Hermanto). Dia tinggalkan isterinya, Herawati, (Asmah) dan anak di desa. Jakarta ternyata tidak ramah. Kepahitan demi kegetiran dialami Mulyono sebelum akhirnya diterima bekerja sebagai tukang pompa bensin. Salah seorang langganannya adalah Nani (Mimi Mariani), yang mengajak kerja di kantor ayahnya. Bahkan kemudian mereka jadi pasangan suami-isteri. Mulyono lupa pada anak dan isteri di desa, tanpa memberi kabar, hingga isterinya menyusul ke Jakarta. Sesudah berjumpa, dan ternyata punya isteri lain, isteri Mulyono pulang ke desa. Perbuatan itu justru memberi pukulan, maka Mulyono malah menginsyafi kesalahannya. Mulyono kembali ke desa untuk hidup lagi sebagai orang desa.

Mimi Mariani alias Trully Callebaute, adalah bibi Doris Callebaute, aktris tenar tahun 70-an.

BINTANG SURABAJA

KM-49 / 1952

KM-49


Chatir Harro mendapat kepercayaan dari pemilik perusahaan padi Harapan (M. Budhrasa). Perusahaan itu terancam oleh perampokan dan pembunuhan oleh Kilometer (KM) 49. Inspektur wanita (Aminah) dibantu agen polisi (S. Poniman) mengadakan penyelidikan. Terbongkar bahwa pimpinan KM-49 itu tidak lain adalah Chatir Harro yang bermuka dua.

PERKASA ALAM / 1954

 

Sebagai anak tanpa orang tua, Yatim bermimpi disuruh oleh ayah dan ibu pergi ke utara. Hal itu dituruti, sehingga Yatim tiba di suatu pertapaan. Sesudah dewasa, Yatim melanjutkan perjalanan, berbekal jimat dari guru/pertapa. Di tengah jalan ia jumpa gerombolan yang hendak menculik putri mahkota Laila. Yatim membebaskan Laila. Raja amat gembira atas hasil jerih Yatim, yang lalu diberi pangkat Panglima Muda. Pengangkatan ini membikin Menteri Jabar dan pangeran Hamid jadi murka. Ketika putri diculik raksasa, kembali Yatim menunjukkan keperkasaannya, membebaskan (lagi) puteri Laila, dan Yatim diangkat sebagai raja muda dengan gelar Perkasa Alam.

BANDAR DJAKARTA / 1955

BANDAR DJAKARTA

FADJAR FILM