Tampilkan postingan dengan label GOTOT PRAKOSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GOTOT PRAKOSA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2011

GOTOT PRAKOSA

GOTOT PRAKOSA

Nama :Gotot Prakosa
Lahir :Padang, Sumatera Barat,
10 Desember 1955

Pendidikan :
Taman Siswa Ibu Pawiyatan, Yogyakarta,Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI),Jurusan Film FFTV IKJ, Jakarta (1981),Animation Workshop, University of Phillipines (1982),
Pendidikan Pengajar Sinematografi (1984),
Pendidikan Animasi di Laussane, Swiss (1984),
IKJ Jurusan Filmologi,
S-2 Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, UGM Jogyakarta (1992-2002)

Profesi :
Pembuat Film,
Pengajar bidang Film dan Multimedia,
Pelukis,
Penulis

Lukisan Warna,
Telur & Singkong,
Jakarta-Bandung

Penghargaan :
Festival Film Mini DKJ (1976-1981),
Experimental Work Film (1987),
Art Houses Association (Kanada),
International Film Forum Jerman,

Film Dokumenter Kantata Takwa yang dibuat bersama Erros Djarot dan Slamet Rahardjo meraih penghargaan Golden Hanoman dan Geber Award pada Jogja Netpac Asian Film Festival 2008

Filmografi :
Sepasang Tanduk (Animasi, 1975),
Impuls (Animasi, 1976),
Meta-Meta (Animasi,1977),
Dialog (Animasi, 1978),
Koen Faya Koen (Animasi, 1980),
Genesis-Genesis (Animasi, 1981),
Self Potret (Animasi, 1982),
Ular Besi (Animasi, 1983),
Kosmopolis (1982-1984),
Gamelan Series (U-Matic, 1986),
Infermental (Betamac, 1987),
Bedoyo Sokamaya (U-Matic, 1988),
Wahyu and His Works (Video-8, 1989),
Kantata Takwa (1990),
Kosmopolis II (Animasi, 1992),
Sinyo Salam (1994),
Sakura di Bumi Nusantara (Betacam, 1995)

SINYO SALAM1993GOTOT PRAKOSA
Director

Sejak kecil hingga remaja, salah satu putera pasangan Drs. Hengky Soemarso dan Penny Soedarpendah ini, memang dibesarkan dalam tradisi lingkungan Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta. Sempat serius menekuni seni lukis di Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia (SSRI). Selepas dari Yogyakarta, Jakarta menjadi tujuan hidupnya, sembari terus ikut berbagi dan menimba ilmu. Setelah lebih kurang enam tahun, ia lantas melanjutkan studi ke Sekolah Film LPKJ-TIM, untuk bidang Penyutradaraan dan Animasi Eksperimental.

Perkenalannya dengan dunia animasi ini sebenarnya lahir tanpa sengaja. Pasalnya, karir pasangan hidup dari Susy Natalia ini, bermula dari kebiasaannya melukis. Kesenangannya itu kemudian ia salurkan saat mengumpulkan beberapa seluloid film milik Sjumandjaja. Selanjutnya dari seluloid bekas ini, ia mulai menggambar beberapa cerita yang membentuk sebuah story-board dan kemudian dijadikan film kreasinya. Semua itu ia lakukan selama studi di LPKJ-TIM, selain juga ikut menjadi salah satu tenaga pengajarnya sejak tahun 1978. Mendapat kesempatan khusus untuk belajar animasi di Filipina dan Singapura. Kemudian dilanjutkan ke Swiss pada tahun 1984, selama satu tahun. Di sini ia bertemu dengan dua pekerja animator handal, Robi Engler asal Swiss, dan Carl Fugun asal Austria-Jerman, dari Studio Imagination, di Kota Laussane, Swiss.

Sekitar 30 karya film pendek eksperimentalnya dibuat tahun 1970-an, sejak tahun 1991 sudah direservasi ulang oleh National Film Archive, Canberra, Australia sebagai bahan studi khusus di Monash University, dan beberapa universitas lainnya di Australia. Kemunculannya karya-karyanya di akhir tahun 1970-an cukup memberi catatan tersendiri dalam perjalanan karirnya. Mengingat di era sebelumnya, Indonesia lebih banyak dikenal dengan garapan-garapan film dokumenter yang banyak menjual eksotisme seni dan budaya. Tak heran, jika karya-karya film eksperimentalnya banyak dianggap aneh oleh beberapa pengamat film saat itu. Beberapa karya garapnya yang sempat mengemuka adalah Lukisan Warna, Telur & Singkong, dan Jakarta-Bandung. Sebagai pekerja seni, selain akrab dengan dunia produksi, Ketua Program Studi Animasi FFTV-IKJ ini, sering menjadi langganan juri untuk berbagai festival bergengsi dari kelas independen sampai komersil setingkat Festival Film Indonesia.

Kiprahnya di dunia film secara keseluruhan juga sudah diakui baik di tingkat nasional maupun mancanegara. Beberapa penghargaan itu, di antaranya datang dari ajang Festival Film Mini-DKJ (1976-1981), dan Experimental Work Film (1987), dari Art Houses Association (Kanada), serta International Film Forum Jerman.

Energi ayah dari putera semata wayang, Nur Langit Lembayung itu, seolah tak pernah habis untuk mensosialisasikan animasi. Selain masih terus keliling berbagi ilmu, ia juga masih terbilang aktif di sejumlah tim produksi sebagai sutradara. Selain itu, ia juga pernah ikut menggarap beberapa film layar lebar besutan sutradara Teguh Karya (alm), Eros Djarot, dan Slamet Rahardjo. Dari sinilah mereka kemudian sepakat mendirikan PT. Ekapraya Tata Cipta, yang digawangi oleh Eros Djarot, Slamet Rahardjo, Rahim Latif, dan Christine Hakim.

Gotot Prakosa, kerap menjadi salah satu sumber informasi yang paling sering dicari atau dijadikan narasumber seputar keberadaan perjalananan panjang animasi tanah air. Ia adalah Ketua ANIMA (Asosiasi Film Animasi Indonesia). Selain itu, sejak Mei 2006 lalu, ia juga menjadi Board Member ASIFA (Asosiasi Film Animasi Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara.

Seiring maraknya kembali dunia perfilman tanah air beberapa tahun terakhir, jadwal mantan Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta itu, selalu disesaki dengan beragam seminar dan penjurian seputar dunia film. Dalam sebulan, ia bahkan bisa berada di beberapa tempat untuk maksud dan tujuan yang sama. Bukan tanpa alasan, jika alumni Program Sastra-Humaniora, Pasca Sarjana UGM Yogyakarta ini terlihat begitu getol menyuarakan nasib animasi tanah air di berbagai kesempatan.

Pekerja Film alumni Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ) ini, sudah amat mahfum dengan seluk-beluk perjalanan dunia animasi tanah air, yang baginya harus segera dicarikan solusinya. Hampir semua memanfaatkan pendekatan budaya dalam filmnya, yang berangkat dari cerita rakyat seperti legenda atau mitologi. “Harus disadari, film animasi yang beredar di televisi nasional masih dikuasai oleh pasar impor. Suatu saat nanti kondisi ini harus berubah, mengingat jumlah SDM kita yang besar dan pasar yang belum tergarap. Mungkin kita harus belajar dari Jepang dan juga harus berbuat hal yang sama,” katanya. “Film-film impor ini bisa bertahan karena memiliki modal dan tenaga besar yang sabar menaklukkan waktu dalam sebuah sistem industri hiburan. Seperti halnya Jepang yang kini sudah melampaui Amerika,” tambahnya.”

Film Pendek dan Karya Animasi oleh Gotot Prakosa
Adegan kelompok dari 'Meta Ekologi' dengan anak-anak setempat menyaksikan acara pertunjukan dipentaskan di halaman Institut Seni Jakarta

Sembilan film pendek - awalnya diproduksi pada film 16mm, beberapa di antaranya animasi - dan dua video pendek, semua oleh Gotot Prakosa, disuplai pada satu video kompilasi dengan waktu pemutaran sekitar 105 menit.

Gotot Prakosa adalah pembuat film pendek eksperimental terkemuka di Indonesia. Sebagian besar koleksi di sini adalah pekerjaan yang dilakukan antara 1974 dan 1987 pada saat ia masih seorang siswa dan guru muda di Fakultas Sinematografi di Institut Seni Jakarta. Karya-karya tersebut berkisar dari animasi yang dihasilkan dengan menggambar langsung pada film (Meta-meta dan Impulse), atau dengan memotret gambar (Koen Faya Koen, dan A = Absolute, Z = Zen) atau benda-benda seperti buah dan telur (Dialog dan Genesis-Genesis) ), ke jenis "dokumenter" yang lebih teratur (Jalur, perjalanan cepat ke Bandung) ke "sinematisasi" seni pertunjukan (Meta-ekologi) yang mendalam dan halus, berdasarkan peristiwa kinerja tahun 1979 dengan nama yang sama dengan pertunjukan terkemuka di Indonesia artis, Sardono W. Kusuma, atau Vancouver-Borobodur, sebuah video, juga dilakukan dengan Sardono, kali ini di Vancouver di stan Indonesia di International Expo pada tahun 1986). Sebagian besar dari karya-karya ini memiliki kualitas eksperimen yang muda dan tidak sopan. Terkadang mereka relatif abstrak dan minimalis dan mengejutkan singkat. Sebagian besar bermain di sepanjang spektrum yang mencakup rasa tajam akan kekhasan budaya Indonesia dan kesadaran akan gaya dan suara internasional modern yang menarik.
Catatan tentang Film

Catatan dalam koma terbalik telah disediakan oleh Gotot Prakosa.

Meta Meta ('Gambar') (awalnya dilukis di atas film 16mm, warna, 3 mnt, 1975-6) "Gambar-gambar kekuatan kehidupan membuncah. Ini adalah film yang menggambarkan mimpi visual yang saya miliki ketika saya baru 12 tahun "Saya membuat film ini dengan cara yang sama seperti saya melukis."

Impuls (awalnya dilukis pada film 16mm, warna, 2 mnt.) Animasi abstrak eksperimental awal, dibuat dengan menggambar langsung ke film 16mm

Dialog (aslinya 16mm; warna; 3 mnt) Karya eksperimental awal, dibuat dengan menjiwai buah dalam mangkuk. Berbagai macam dialog - menggunakan bahasa tubuh - terjadi di antara buah.

Jalur ('Lane') (awalnya dibuat pada film 16mm, berwarna, 11 menit, 1977) "Perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Film ini adalah ekspresi dari perjalanan, seolah-olah itu adalah meditasi, sebuah perjalanan di mana Anda mengabaikan semua yang ada di sekitar Anda. "

Non KB ('Keluarga Berencana') (Animasi, awalnya diambil pada 16mm, warna, 2 mnt, 1979) "Huruf KB merujuk pada istilah resmi` Keluarga Berencana ', yaitu `Keluarga Berencana'. Ini adalah" Non KB "Film. Visi spontan tentang pengenalan keluarga berencana."

Koen Faya Koen (Animasi, aslinya diambil pada 16mm, warna, 3 menit, 1979) "Koen Faya Koen!" adalah tangisan dalam bahasa Arab yang digunakan oleh pesulap jalanan Jakarta (dengan isyarat permohonan) ketika ia pergi untuk menyulap sesuatu. Koen Faya Koen adalah film ironis tentang penciptaan dunia, di mana Tuhan adalah semacam pesulap jalanan.

Salah satu peserta dalam 'Meta Ekologi'

Meta Ekologi (Awalnya dibuat pada film 16mm di Institut Kesenian Jakarta, B. & W., 14 mnt, 1979). Disutradarai oleh Gotot Prakosa dan berdasarkan pada acara pertunjukan yang dikembangkan oleh Sardono W. Kusuma. "Film ini merupakan tanggapan terhadap upaya untuk berdialog dengan ekologi bumi dan air. Kemanusiaan mengungkapkan perasaannya melalui tubuhnya dengan berusaha untuk menjadi satu dengan alam semesta. Ini seperti petani yang bekerja di tanah, ditutupi dengan lumpur. Suatu proses poeticisation. " Salah satu film paling luar biasa yang pernah dibuat di Indonesia.

Genesis, Genesis (Animation, aslinya dibuat pada 16mm, color, 12 min., 1981) "Sebuah film yang terinspirasi oleh mitologi kehidupan manusia dari bagian Indonesia, yang berbicara tentang kelas dan karakter". (Telur yang dicat, apel dan pawai ubi jalar dalam formasi mirip militer di lanskap pegunungan.)

A = Absolute, Z = Zen (Animasi, aslinya diambil pada film 16mm, warna, 4 mnt, 1983) Memulai setiap bagian dengan mudra baru (isyarat tangan) dari Sang Buddha, "seri penglihatan oleh Borobodur Buddha ini terkait ke Buddhisme Zen Jepang, sebagai serangkaian refleksi atas sifat masyarakat konsumeris ".

Vancouver-Borobodur (Video dengan koreografi dan pertunjukan oleh Sardono W. Kusuma, 1986, 20 menit.) Videografi oleh Gotot Prakosa di Vancouver di the Indonesian Expo). Dipotret pada pita rendah U-matic, kualitas teknis dari kaset ini bervariasi.

Wahyoe dan Karyanya (Video, 20 mnt., 1989, Videographer: Gotot Prakosa). "Bali sering menyimpan misteri, dan mungkin salah satu dari misteri ini adalah eksotisme Bali. Tapi bagi orang Bali, mungkin eksotisme itu adalah para turis itu sendiri. Wahyoe dibesarkan di Bali, tetapi dia telah tersentuh oleh nilai-nilai Barat. Meskipun dia telah bepergian di Amerika dan Eropa, dia masih memilih Bali, tinggal di sana sebagai pelukis modern, dan memiliki wanita kulit putih yang berbeda sebagai mitranya. Sebuah potret sisi lain kehidupan di Bali. " Dipotret pada pita rendah U-matic, kualitas teknis dari kaset ini bervariasi.

KANTATA TAKWA

PROSES PANJANG KANTATA TAKWA


Berawal dari Konser musik besar dan megah dalam sejarah blantika musik Indonesia, dimana musisi ternama dan idealis berkumpul, mereka sang maestro. Dari sini perjalanan film dokumenter tentang pementasan akbar ini. Film ini menggabungkan pementasan Kantata Takwa dengan adegan ilustrasi yang di buat untuk menjelaskan maksud dan tujuan lirik lagunya, sosial dan politik dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Saat itu banyak orang yang merasakan kok bisa lirik lagu yang menghujat pemerintah ORBA ini bisa pentas sebesar ini di masa ORBA.
Film ini adalah sebuah puisi kesaksian dari para seniman Indonesia tentang masa represif rezim Orde Baru Soeharto. Sebuah masa yang banyak diwarnai dengan korupsi, kolusi, nepotisme, dan banyaknya penangkapan, penculikan, bahkan pembunuhan para aktivis yang tidak memiliki ideologi yang sama dengan pemerintah penguasa saat itu.
Termasuk dalam orang-orang tadi adalah WS Rendra, seorang penyair yang harus keluar-masuk penjara karena karya-karyanya dianggap menyindir dan mengkritisi pemerintah. Seniman dan penyanyi Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan Setiawan Djodi yang sering menyuarakan keadaan sosial masyarakat Indonesia pada saat itu juga harus berhadapan dengan kemungkinan pencekalan oleh pemerintah penguasa. Suara kesaksian para seniman tersebut ditumpahkan dalam konser akbar mereka, sebuah pertunjukan seni Kantata Takwa.
Konser Kantata Takwa yang ditampilkan dalam film ini adalah yang diadakan pada bulan April 1991, yang kemudian dilarang tampil setelah penampilan selanjutnya di Surabaya. Konser ini adalah simbol perlawanan dan oposisi terhadap pemerintah penguasa saat itu, disuarakan dengan lantang dalam konser tersebut melalui syair dan lagu yang sarat dengan nuansa teatrikal.
Pembuatan film ini dimulai dari Agustus 1990 dan baru dirilis September 2008. Rol filmnya harus disimpan selama kurang lebih 18 tahun karena berbagai kesulitan, salah satunya krisis finansial Asia 1997.
Saat awal proses pembuatannya, film ini didukung oleh banyak sineas Indonesia, dimana banyak di antaranya tergabung dalam Institut Kesenian Jakarta. Banyak yang diantaranya telah meninggal sebelum film ini diselesaikan dan dirilis. Film yang pada awalnya di-shoot dengan kamera 35mm ini tidak dapat dirilis pada era pemerintahan Orde Baru. Setelah diselesaikan dan dirilis tahun 2008, perbedaan dengan versi awalnya hanya dalam format digital mediumnya saja.
2008
Pemenang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival
Kategori: Feature Film
Penghargaan: Golden Hanoman Award
Penerima: Setiawan Djodi, Gotot Prakosa, Eros Djarot
Unggulan di Asia Pacific Screen Awards
Kategori: Documentary
Penghargaan: Best Documentary Film
Penerima: Eros Djarot, Gotot Prakosa, Setiawan Djodi



Film ini disutradarai Oleh Eros Djarot Dan Gatot Prakosa.
Diskusi Edukatif dari film Kantata Takwa arahan Gatot Prakosa ( IKJ ) diruang teater mini fakultas desain komunikasi visual Universitas Widyatama bagian dari kegiatan rutin bedah film yang bersifat pembelajaran bagi para mahasiswa. Peserta diskusi edukatif ini banyak diminati baik dari kalangan internal maupun eksternal sebagai ajang menumbuhkan sikap profesional di kemudian hari.

Film yang banyak dilakoni sederet artis/aktor lama yang bersifat musikal itu dapat menjadi bahan renungan atas sikap dua generasi dibawah sistem pemerintahan yang sedang berjalan, walaupun film tersebut rada agak telat sebagai corong reformasi dinegeri ini tetapi kekuatan sebagai cerita dokumenter dapat memberikan pelajaran tersendiri sebagai landasan berbikir generasi selanjutnya dikemudian hari./ Selamat dan Sukses.

"Setelah jadi, film ini saya simpan di rumah," kata Gatot Prakosa salah satu produser film ini yang ditemui di seusai "preview" film tersebut di Jakarta, Rabu (17/09).

Menurut Gatot, saat itu (masa ORBA) tidaklah dimungkinkan untuk mengedarkan film tersebut di bioskop. "Siapa yang berani?" katanya.

Menyambung ucapan rekannya, Eros Djarot mengatakan bahwa hal itu ada dampak positifnya. "Kalau dulu diedarkan, pasti lah tidak jadi karena banyak sekali yang dipotong," katanya.

Berdurasi 72 menit, film KANTATA TAKWA menggambarkan kehidupan para seniman dan aktivis yang diburu aparat karena aksi-aksinya yang mengecam pemerintah lewat puisi, musik, dan lagu.

Kecaman-kecaman itu diperlihatkan melalui beberapa lagu KANTATA TAKWA seperti Bongkar, Hati Nurani, dan Bento.


19 Sep 2008
Film Kantata Takwa, sebuah karya yang diangkat dari keberhasilan konser kelompok musik tersebut di Stadion Utama Senayan Jakarta pada 1991, siap beredar di jaringan bioskop Bliz Megaplex. "Film ini akan beredar mulai 26 September," kata Clara Sinta dari Ekapraya Tata Cipta Film & Sedco Indonesia, dalam jumpa pers yang digelar usai preview film tersebut di Jakarta, Rabu, 17/9-2008. Diproduseri Erros Djarot, Setiawan Djody, dan Gatot Prakosa, film itu dibintangi oleh seluruh personil Kantata Takwa, termasuk Iwan Fals, Sawung Jabo, Setiawan Djody, Yocky Suryoprayogo, dan kelompok Bengkel Teater Rendra. Erros, yang juga penulis naskah dan sutradara, mengatakan, film itu berangkat dari ide gila WS Rendra. Inti cerita film semi dokumenter itu merupakan kesaksian para seniman Indonesia tentang masa represi Orde Baru yang sarat korupsi, nepotisme, aksi penculikan dan pembunuhan para aktivis yang berseberangan ideologi dengan pemerintah. "Para seniman itu termasuk saya, yang dulu harus keluar masuk penjara," kata WS Rendra. Erros secara berkelakar mengatakan, "Karena idenya gila, ya saya pikir harus melibatkan orang-orang gila," katanya, seraya menyebut beberapa nama termasuk Setiawan Djody, Iwan Fals, Sawung Jabo, Gatot Prakosa, dan produser Abdurrahim yang disebutnya sebagai "Pakistan gila".

Abdurrahim pun protes dengan mengatakan, "Saya memang gila, tetapi saya orang India muslim." Disimpan Berbeda dari film lain yang umumnya hanya menunggu 1-2 tahun sebelum diedarkan, Kantata Takwa sebenarnya sudah dibuat pada 18 tahun lalu. "Setelah jadi, film ini saya simpan di rumah," kata Gatot Prakosa. Menurut Gatot, saat itu (masa ORBA) tidaklah dimungkinkan untuk mengedarkan film tersebut di bioskop. "Siapa yang berani?" katanya. Menyambung ucapan rekannya, Erros mengatakan bahwa hal itu ada dampak positifnya. "Kalau dulu diedarkan, pastilah tidak jadi karena banyak sekali yang dipotong," katanya. Berdurasi 72 menit, film Kantata Takwa menggambarkan kehidupan para seniman dan aktivis yang diburu aparat karena aksi-aksinya yang mengecam pemerintah lewat puisi, musik, dan lagu. Kecaman-kecaman itu diperlihatkan melalui beberapa lagu Kantata Takwa seperti Bongkar, Hati Nurani, dan Bento. Rendra mengatakan, konser Kantata Takwa di Senayan dan beberapa kota besar lain di Indonesia bukanlah pertunjukan musik biasa melainkan sebuah peristiwa budaya, karena melibatkan banyak seniman dari berbagai bidang, musisi, penyanyi, penari, dan penyair.



PERTUNJUKAN MUSIK YANG AKBAR
23 Juni 1990. Stadion Utama Gelora Bung Karno dijejali ratusan ribu manusia. Mereka datang untuk satu tujuan: menonton konser akbar yang diadakan supergrup bernama Kantata Takwa.

Pertunjukan dilangsungkan di atas panggung seluas 60 x 23 meter, lengkap dengan tiruan kepala rajawali berukuran besar serta deretan sinar laser yang membikin panggung nampak begitu megah tanpa tanding.

Sejak siang, keriuhan sudah menyelimuti seisi stadion. Orang-orang seperti tak sabar untuk menyaksikan pementasan kolosal. Memasuki malam, kerumunan makin bergerak liar demi menyambut para bintang panggung. Barikade dilibas dan pagar pembatas dirobohkan; membikin pasukan keamanan kelimpungan.

Ketika yang dinanti akhirnya tiba, penonton berteriak lantang. Di hadapan Iwan Fals, W.S. Rendra, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, dan Setiawan Djody, mereka ngalap berkah.
Bagaimana Kantata Takwa bisa terbentuk adalah kisah yang menarik untuk diceritakan ulang. Lebih tepat menyebut Kantata Takwa sebagai padepokan seni, alih-alih grup band yang membawakan pakem rock, sebagaimana band-band yang tumbuh di era Orde Baru pada umumnya.

Konteks penyebutan “padepokan seni” tentu tak bisa dilepaskan dari latarbelakang para personel Kantata Takwa yang beragam rupa. W.S. Rendra, misalnya, adalah penyair dan dramawan yang besar dengan Bengkel Teater; Sawung Jabo merupakan instrumentalis yang punya reputasi mentereng; Yockie Suryoprayogo, komposer dan arranger jenius yang pernah membidani musik Chrisye hingga God Bless; sementara Iwan Fals adalah musisi yang bisa membakar gairah penonton.

Keempat orang tersebut lantas disatukan oleh Setiawan Djody, pengusaha yang doyan berkecimpung di ranah kesenian. Di era Orde Baru, nama Djody identik dengan pengusaha kelas kakap. Bisnisnya, SETDCO Group, merambah bidang telekomunikasi, konstruksi, sampai kelapa sawit. Ia juga dikenal dekat dengan lingkaran kekuasaan Soeharto yang membikin Djody punya pengaruh yang cukup besar. Untuk itulah, Djody berperan sebagai maesenas (penyandang dana) di samping pula jadi salah satu penentu arah kreatif Kantata Takwa.

“Jadi pengusaha bukan hanya profit oriented. Sekarang, buat saya, jadi pengusaha mengisi lubang-lubang aset bangsa ini. Lewat musik, kan, menyuarakan yang kurang-kurang. Karena musik didengarkan orang banyak. Kalau enggak ada musik, paling didengarkan 100 orang. Tapi, dengan Kantata, kita ngomong message-message itu bisa ratusan ribu orang yang dengar,” kata Djody tentang alasannya turun bermusik kepada Republika.

Kisah mula Tantata Takwa berasal dari perkenalan Djody dan Rendra. Djody sudah lama jadi donatur Bengkel Teater. Aliran duitnya bahkan berjasa dalam membawa Bengkel Teater melakoni pementasan di negeri Abang Sam. Dari situ, ia kemudian berkenalan dengan Sawung Jabo. Djody kagum dengan sikap kritis Jabo terhadap rezim. Bersama Iwan Fals, mereka lantas mendirikan Swami, yang melejit lewat lagu bertajuk “Bongkar.”

Namun, Djody terus menggali sisi kreatifnya. Pada satu kesempatan, ia berjumpa dengan Yockie Suryoprayogo yang saat itu telah merampungkan tur bersama God Bless. Keduanya ngobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya Djody mengajak Yockie untuk bikin proyek baru.


“Setelah ketemu dengan Setiawan Djody, saya menyayangkan kalau kita bikin band yang seperti itu-itu saja,” Yockie bilang. “Saya ingin ini jadi sesuatu yang punya makna lebih dalam dari sekadar main musik. Kebetulan juga saya dikenalkan dengan W.S. Rendra.”

“Kami ngobrol, merumuskan, ‘Yuk, kita bikin kelompok musik yang bicara mengenai masalah sosial, politik, ekonomi, dan segala macam.’”

Dari situ, lahirlah Kantata Takwa.

Menyiasati Rezim
Usai terbentuk, Kantata Takwa langsung tancap gas di dapur rekaman. Yockie, Jabo, dan Iwan bertugas menggarap aransemen musiknya. Sedangkan Rendra dan Djody lebih berfokus pada penulisan lirik, demikian tulis Raka Ibrahim dalam “Menyanyikan Lagi Kantata Takwa” (2016) yang dipublikasikan Jurnal Ruang. Proses rekaman tak sekadar melibatkan personel asli, melainkan juga para musisi tambahan seperti Raidy Noor, Embong Rahardjo, serta Donny Fattah.

Proses tersebut akhirnya menghasilkan mahakarya bertajuk Kantata Takwa, yang dirilis pada 1990. Lewat album ini, Kantata Takwa memainkan banyak warna musik. Pop disikat, rock pun dihajar habis. Semua dibungkus secara rapi dan terkonsep. Mendengarkan keseluruhan album Kantata Takwa ibarat seperti menyaksikan pementasan opera yang mengajak kita menyelami satu demi satu dimensi yang ada.

Selain musikalitas yang unggul, album ini juga punya muatan kritik yang kuat. Tiap nomor merupakan representasi dari apa yang sedang terjadi di Indonesia pada masa itu, kala Orde Baru belum menandakan tanda-tanda bakal runtuh, dan apa yang diharapkan di masa mendatang masihlah sebatas angan. Lewat “Kesaksian,” “Balada Pengangguran,” sampai “Paman Doblang,” Kantata Takwa menyerang perilaku buruk aparat, pemerintah yang korup, dan keculasan rezim yang menyebabkan kesengsaraan masyarakat. Lirik-lirik itu tajam, meluncur dengan cepat, dan tepat menyasar di ulu hati penguasa.

“Kesadaran adalah matahari,” gema koor massal Bengkel Teater di antara rapalan kata-kata Jabo, pukulan perkusi yang ritmis, serta alunan keyboard Yockie yang sungguh magis.

“Kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!”

Dengan lagu-lagu yang sengaja dibikin untuk menyerang penguasa, konsekuensi paling buruk yang bisa mereka terima ialah dibungkam. Akan tetapi, berkat pengaruh Djody, Kantata Takwa relatif aman terkendali dari risakan rezim.

“Paling yang menanyakan kepada saya Pangab [Panglima ABRI] pada saat itu, Jenderal Benny Moerdani. Beliau tanya, ‘Kantata artinya apa, Djod? Kenapa [judulnya] “Orang Kalah”? Yang kalah siapa?’ Semua pertanyaan itu saya jawab. Jadi, begitu gunanya saya di Kantata Takwa,” kenang Djody.

Meski demikian, terang Andreas Harsono dalam “Dewa dari Leuwinanggung” (2002) yang terbit di Pantau, tak semua pihak suka dengan kolaborasi yang disajikan Kantata Takwa. Para penggemar Iwan Fals, contohnya, menilai idolanya kehilangan jati diri selepas bergabung dengan Kantata Takwa. Sementara suara ketidaksukaan yang lain ditujukan pada sosok Djody yang dianggap kelewat mendominasi keseluruhan proyek.

Suara-suara sumbang tersebut nyatanya tak mampu menghentikan niat Eros Djarot untuk membikin film tentang Kantata Takwa. Bersama Gatot Prakosa, Eros mengikuti perjalanan konser Kantata Takwa di Jakarta, Solo, dan Surabaya. Hasilnya yakni film semi-dokumenter yang menggabungkan footage konser, narasi fiktif, lagu-lagu protes dan pemujaan kepada Islam, hingga monolog dari Rendra berjudul (lagi-lagi) Kantata Takwa.

David Hanan dan Suzan Piper dari Monash University mengatakan bahwa film ini menghadirkan banyak adegan alegori yang mendramatisir penindasan politik dan dilema seniman pada saat itu. Rendra, si Burung Merak, punya andil cukup besar untuk membungkus narasi-narasi di film dengan aksi teatrikal yang mumpuni. Berkat Rendra, film Kantata Takwa punya energi, mimpi, sekaligus suara ketidakpuasan yang menyerang ekses Orde Baru di bawah komando Soeharto.

“Saya menggarap film ini sembari menerjemahkan puisi-puisi Rendra, sebab kalau sekadar membuat film dokumenter, ya, pinjam rekaman TVRI saja,” ucap Eros.

Walaupun dibikin pada awal dekade 1990-an, film Kantata Takwa tak pernah bisa dinikmati sampai 2008, melewati tiga rezim kepemimpinan berbeda, dari Soeharto, Gus Dur, sampai SBY. Spekulasi ihwal mengapa film ini tak bisa diputar lantas berkembang, termasuk anggapan bahwa film Kantata Takwa dilarang beredar karena terlalu vokal menyerang Orde Baru. Faktanya, alasan pendanaan merupakan faktor utama yang menyebabkan film Kantata Takwa harus mangkrak selama belasan tahun.

Memasuki akhir 1990-an, seiring dengan kolapsnya Orde Baru, eksistensi Kantata Takwa juga ikut-ikutan memudar. Dua hal yang memicunya: kesibukan masing-masing personel dengan proyeknya serta mulai seretnya pasokan rupiah dari Djody.

“Harus diakui bahwa selepas Setiawan Djody sebagai pengusaha berfungsi menjadi maesenas, ketika dia membiayai Kantata, biayanya besar sekali,” jelas Yockie. “Tentu itu berdampak pada kemampuan finansial dia. Itu antara lain kenapa Kantata Takwa mati suri selama 17 tahun.”

Membicarakan Kantata Takwa, pada akhirnya, adalah berbicara tentang kelompok seni yang mewadahi pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personelnya. Pandangan yang kuat lagi kritis terhadap dinamika yang berkembang menjadikan Kantata Takwa sebagai wujud representasi baru atas perjalanan panjang serta gelombang kehidupan masyarakat Indonesia di bawah rezim Orde Baru.

Untuk Kantata Takwa, berkesenian, dalam hal ini menggunakan medium musik, adalah ruang untuk menyampaikan gagasan mengenai potret kehidupan, dari yang paling religius sampai tragis, keadilan, kebebasan, serta kekejaman penguasa. Kantata Takwa dan lagu-lagunya merefleksikan upaya manusia dalam mencari jalan keluar sekaligus pulang di tengah kebesaran Tuhan dan pemerintahan yang tiran.