Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri "Penyakit Kelamin". Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri "Penyakit Kelamin". Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Februari 2011

BAHAYA PENYAKIT KELAMIN / 1978


 
Film ini menyorot kasus yang lagi ramai di masyarakat, yaitu penyakit kelamin Spilist/Raja singa akibat gonta-ganti pasangan / pelacur.

Iwan (Rudy Salam) meninggalkan kota kelahirannya menuju Jakarta akibat goncangan jiwa sepeninggal orang tuanya. Di Jakarta ia berkenalan dengan Christine (Farida Pasha) yang banyak kesepian karena sering ditinggal berlayar suaminya, pelaut. Hubungan antara Iwan dan Christine sering berlangsung tanpa batas. Tetapi kemudian mereka berpisah beberapa tahun. Sementara Christine tak pernah tahu yang sebenarnya, bahwa Iwan adalah salah satu pimpinan gerombolan perampok.

Suami Christine yang sering berlayar ke luar negeri juga tak luput dari dunia pelacuran di kala kapalnya singgah di pelabuhan. Selama tidak bertemu Christine, Iwan juga sering berganti pasangan, termasuk dengan Doris (Doris Callebaute), teman sekolahnya dahulu yang kini menjadi fotomodel sambil melacur. Akibat hubungannya dengan Doris, Iwan tertular penyakit kelamin. Penyakit itu kemudian menular kepada Christine. Penyakit kelamin itu mengakibatkan anak Christine menderita kebutaan, bahkan kemudian meninggal. Saling tuduh antara Christine dan suaminya tentang siapa pembawa penyakit itu pun terjadi. Mereka kemudian saling menyadari, setelah Iwan ditembak kawannya sendiri saat peristiwa penguburan anak mereka.

Jumat, 04 Februari 2011

AKIBAT PERGAULAN BEBAS / 1977



Roy pacaran dengan Lia, gadis dusun yang bloon tapi berhasil memelihara keperawanannya untuk suatu ketika diikhlaskannya pada Roy. Lia berharap Roy mau mengawini Rita, kakak misan Lia yang dihamili Nico, yang ogah bertanggung jawab. Roy menolak. Ia sudah terjerat dan terdekap oleh Sandra, pelacur kelas tinggi, yang menularinya penyakit kotor. Rita yang hamil, jadi panik. Setelah ke dokter dan gagal, ia ke dukun pijat untuk menggugurkan kandungannya, sampai ajal. Nico menemui ajalnya ketika mobilnya masuk jurang, ketika membawa perempuan lain.

FULL MOVIE
 

News
22 April 1978

AKIBAT PERGAULAN BEBAS Sutradara: Matnoor Tindaon Cerita dan Skenario: Subagyo dan Narto Erawan Produksi: PT Rapi Film. JADI orang kaya repot juga. Para pembuat film Indonesia suka menuduh mereka a sosial, dan digambarkan merosot akhlaknya. Film Akibat Peraulan Bebas ini juga berangkat dari kisah sebuah keluarga yang menghuni rumah bertingkat, dengan mobil, seperangkat ensiklopedi, dan kebebasan yang dimiliki keluarga moderen. Rita (Yatie Octavia) anak orang kaya, yang telah diberi kebebasan ibunya, ternyata kemudian harus memakan buahnya.

Setelah cuma mengaku bersenggama sekali, Rita hamil. Pacarnya, kaya juga. Niko (Robby Sugara), setelah tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya tanpa alasan yang jelas, untuk kemudian mencari mangsa yang lain, akhirnya dibunuh saja oleh sang sutradara. Matinya serem lagi: mobilnya nabrak tembok--di film kelihatan ringan bagai kardus yang tersusun rapi--dan terbakar dari siang hingga malam tanpa pertolongan sedikit pun dari orang yang lewat di jalan seramai itu. Supaya lebih seru, ke dalam cerita disisipkan pula dua tokoh yang saling bercinta serta sama-sama siap berkorban bagi Rita yang hamil di luar perkawinan. Oh, ya, ini Rita jadi hamil lantaran pergi berdua dengan Niko ke sebuah pulau dengan restu sang ibu (Chitra Dewi) meski sang ayah (Kusno- Sudjarwadi) ada memberi peringatan. Ada pun fasal ibu yang bersifat begitu toleran terhadap kemungkinan pergaulan bebas, sudah tentu tidak harus dicari-cari soalnya di tempat lain. Sikap demikian sengaja diciptakan khusus untuk memungkinkan terjadinya pergaulan bebas, sesuai dengan judul cerita. Kelamin Masih belum puas dengan pergaulan bebas yang disebutkan tadi, pembuat film ini menghadirkan pula bintang film yang dianggap sexy, Doris Callebout. Dan ini bintang yang dulu terkenal ketika main jadi babu, diberi peran sebagai pelacur oleh sutradara Matnoor Tindaon.

 
Maka terjadilah pergaulan bebas antara Roy dengan sang pelacur. Tapi pembuat film ini tidak bisa dituduh menganjurkan pelacuran, sebab pada akhirnya Roy digambarkan menderita penyakit kelamin. Tentu saja ia tobat lalu kembali ke Lia. Setelah tobat itulah mereka berdua berkeputusan untuk menolong Rita. Hebat juga anak muda ini. Apakah Rita tertolong? Oh, tidak. Kenapa? Wah, bisa filmnya dianggap tidak mendidik. Dan Rita yang malang harus mati setelah perutnya diurut oleh seorang dukun. Denga mengakhiri nasib bintang utama seperti ini -- tidak peduli hal ini meyakinkan atau tidak si pembuat film nampaknya berharap betul agar para penontonnya sadar dan insyaf bahwa pergaulan bebas itu buruk. Ya, mudah-mudahan saja harapan itu terkabul, meski banyak anah muda yang menonton film ini terutama karena ingin melihat Yatie Octavia, Yennv Rahman, Doris dan Roy Marten beramai-lamai terlibat dalam suatu "pergaulan bebas". Dan anak-anak muda itu kabarnva senang dengan film ini. Selain karena di sana mereka bisa bertemu pujaan remaja masa kini, yakni bintang-bintang top yang ramai-ramai dimunculkan oleh sang produser, di film ini juga bisa didapatkan kepuasan-kepuasan kecil para remaja yang baru bernjak dewasa: celana dalam, paha perempuan, pinggul yang meliuk-liuk, gelut di ranjang maupun di ruang tamu, ciuman hangat yang merangsang dan seterusnya. Bahwa sensor meloloskannya, itu tentunya bukan akibat pergaulan bebas. E.H

20 Oktober 1979

HERMAN Yanto, pembunuh berusia 14 tahun itu, divonis 8 Oktober lalu. Keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu antara lain menyebut ia dibebaskan dari tuduhan primer, yaitu melakukan pembunuhan berencana. Tapi menurut hakim ia terbukti melakukan pembunuhan dan melanggar pasal 338 KUHP. Namun hakim tidak menjatuhkan sesuatu hukuman bagi Herman. Dengan melihat usia si terhukum dan pasal 45 KUHP Bismar Siregar SH, hakim ketua dalam peradilan itu, memutuskan Herman "sebagai anak negara". Berdasarkan vonis itu pula anak itu diserahkan kepada Soemarmo, Ketua Pelaksana Badan Sensor Film (BSF). Mengapa? Beberapa hari sebelum vonis, Soemarmo mengajukan kesediaannya mengasuh Herman--sambil membuktikan apakah benar perbuatan anak itu sebagai akibat film Akibat Pergaulan lebas yang pernah disaksikannya.

Sebab selama proses pengadilan, Bismar tampaknya yakin. pembunuhan yang dilakukan Herman terhadap gadis cilik Tjung Wan May, atau A Wan (10 tahun), tidak bisa tidak karena pengaruh film yang pernah ditontonnya. Seperti dituturkan hakim itu, 9 Februari 1979 -- tanpa sepengetahuan orangtua angkatnya--Herman menyaksikan film itu di Bioskop Garuda di Jalan Jembatan Dua Jakarta. Film itu seharusnya hanya ditonton oleh mereka yang telah berusia 17 tahun ke atas. Beberapa hari setelah menonton film itu Herman didatangi adik kelasnya, A Wan. Keduanya bercanda di kamar loteng tempat kediaman keluarga Herman. Mereka memutar lagu-lagu dari kaset. Tiba-tiba Herman membujuk temannya agar membuka celana dalam. Gadis kecil itu menolak. Karena kecewa Herman mengambil sebilah pisau dan seutas tali dari ruang bawah yang juga dipakai orang tuanya sebagai tempat bengkel servis dinamo. Menurut Herman di depan pengadilan, ia mendorong tubuh A Wan sampai tertelungkup di tempat tidur. Segera ia mengikat kedua tangan kawannya itu ke belakang.

Lalu menindih tubuh A Wan yang sudah tanpa celana. Tapi beberapa saat setelah itu sambil menutup mulut A Wan, tangan Herman yang lain menyayatkan pisau ke leher, disusul beberapa tikaman ke tubuh gadis kecil itu. A Wan tewas. Ini terjadi 9 Maret 1979. Menurut pengakuan Herman, perbuatannya menggagahi A Wan karena ingin meniru sebuah adegan film APB. Karena itu pertengahan bulan lalu, atas permintaan pengadilan, BSF memutar kembali film itu --khusus di hadapan para hakim dan jaksa yang menangani perkara Herman. SEKARANG siapa yang salah?" tanya Bismar sehabis menyaksikan film itu. Ia menyalahkan para pembuat film yang secara terperinci menggambarkan adegan-adegan ranjang. Bismar melihat, bahwa Herman masih terlalu anak-anak untuk melakukan kejahatan itu. Sehingga bagi hakim ini, selain karena faktor keluarga, perbuatan si anak tak lain karena terangsang adegan film tadi. Sejauh mana benarnya pendapat Hakim Bismar? BSF menugaskan beberapa anggotanya untuk menelitinya. "Saya percaya bukan film satu-satunya faktor yang berperan pada diri Herman," ungkap drs. H.M. Enoch Markum, psikolog anggota FSF yang pernah mewawancarai Herman. Menurut Enoch Markum, Herman mengaku menyaksikan film itu di Bioskop Garuda 9 Februari 1979.

Setelah diteliti, ternyata bioskop itu memutarnya April 1978. Anggota BSF ini bahkan meragukan apakah benar-benar Herman pernah menyaksikan film itu. Sebab selama diwawancarai anggota-anggota BSF Secara terpisah, ia tak pernah menyinggung soal film itu. Yang pasti menurut laporan pekerja sosial di Pamardi Siwi (tempat Herman "ditahan" sampai pekan lalu), Herman pernah diajak temannya ke tempat pelacuran. Soemarmo (63 tahun) sendiri, yang akan menjadi bapak angkat Herman, masih tetap belum percaya bahwa kejahatan yang dilakukan anak itu akibat film yang pernah disaksikannya. "Sampai sekarang saya masih ingin menuntut agar dibuktikan, ditunjukkan dan diyakinkan, bahwa ekses Yanto itu disebabkan film," kata Ketua BSF itu. Ia mengakui memang omong kosong kalau dikatakan film tak punya pengaruh. "Tapi manusia tak cuma memperoleh pengaruh dari fihn," tambahnya. Soemarmo menolak anggapa bahwa kesediamya mengangkat Herman Y anto sebagai anak karena merasa bersalah sebagai Ketua Badan Sensor. "Saya hanya ingin mengamalkan unsur prikemanusiaan," ucapnya. Ia menilai Herman sebagai anak yang cerdas dan "saya akan menyekolahkannya." la hanya punya seorang anak, yang sekarang sudah dewasa. Memang tak mudah dibuktikan sejauh mana film APB telah berpengaruh pada diri anak muda ini. Tapi film dengan judul serupa Maret 1979 lalu sempat menghebohkan sebagian penduduk Jalan Imam Bonjol Padang. Su, 20 tahun, suatu malam pulang dari nonton film APB yang diputar di lapangan Imam Bonjol. Beberapa menit kemudian dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan gadis kecil L (9 tahun). Anak ini dijanjikan akan dibelikan kue dan diajak nonton. Tapi sampai di sebuah sudut gelap di lapangan Imam Bonjol, tiba-tiba Su menutup mulut L. Anak itu meronta.

Tapi tangan Su telah menggerayanginya dan membuka celana dalam si anak sampai lutut. Tak terjadi apa-apa pada diri L. Namun pemuda itu kemudian puas. Dan di saat mulutnya lepas dari bungkaman, anak itupun menjerit. Penduduk berkumpul. Su menjadi urusan polisi. Selanjutnya pengadilan menghukumnya 3 bulan penjara. "Saya tak tahan sehabis menyaksikan film itu, sehingga terpaksa saya lakukan," kata Su di depan pengadilan. Pengadilan Negeri Tanjung Balai (Asahan, Sumatera Utara Januari 1976 juga pernah repot oleh perkara hampir serupa. Pa (12 tahun) telah memperkosa S.A. (6 tahun) anak tetanggan di Desa Petatel, Kecamatan Talawi Ashan Di hadapan hakim ia mengakui perbuatannya itu dilakukan karena sehari sebelumnya ia menonton bioskop keliling yang mempertunjukkan film The Young Passion, dibintangi Yenni Hu, bintang film seks Hongkong itu. Pa dijatuhi hukuman 9 bulan penjara. Di bulan Januari tahun berikutnya lagi-lagi Pengadilan Negeri Tanjung Balai menjatuhkan vonis 3 bulan penjara kepada Am alias An (15 tahun) penduduk Desa Mangkei Baru, Kecamatan Lima Puluh. Hakim mempersalahkannya telah memperkosa Sr (7 tahun), anak tetangga. Ketika membela diri, Am menyebut perbuatannya karena didorong oleh adegan ranjang dalam film-film yang sering disaksikannya lewat bioskop keliling. Tapi seminggu kemudian pengadilan serupa harus memvonis 3 orang anak sekaligus. Masing-masing S bin M (8 tahun), Lo (8 tahun) dan Ln (9 tahun).

Ketiganya telah bersama-sama memperkosa teman wanita mereka Ms (9 tahun) di Desa Binjei Baru, Talawi. Dalam pengakuan memang mereka tak menye but apa yang mendorong perbuatan itu, tapi ketiganya membenarkan sama-sama pencandu film India di bioskop keliling. Masih tersedia beberapa contoh kejadian dan penyebab serupa. Baik yang sempat terungkap di depan pengadilan maupun cukup berakhir di antara keluarga kedua pihak. Tapi yang pasti, di kawasan Sum-Ut akhir-akhir ini bioskop keliling muncul di mana-mana, terutama di pedesaan. Mudah dibayangkan, bahwa anak-anak adalah penonton setia pertunjukan yang hampir tak pernah memutar film yang pantas untuk usia mereka. Demikian jauh daerah ini diinfiltrasi bioskop keliling, sampai-sampai perselisihan antara dua suku di Bagan Asahan akhir Agustus lalu banyak yang menganggapnya sebagai akibat "pengaruh film-film sadis" yang sering mengunjungi daerah itu. Beberapa kejadian itu memang belum dapat dikatakan telah menjawab pertanyaan kasus Herman Yanto. Tapi berbagai judul film yang merangsang, iklan maupun poster-poster yang memancing akhir-akhir ini umumnya dipandang tak patut terutama bagi anak-anak. Seperti Ranjang Siang Ranjang Malam, Supirku Sayang, Pulau Birahi (diganti Pulau Cinta), Akibat Godaan, Tante Sex, Satu Malam Dua Cinta, Penyakit Kelamin, Pengalaman Pertama, Pahitnya Cinta Manisnya Dosa. Dan puluhan lainnya. Belum lai film-film penuh kekerasan. BSF sering dituding sebagai badan yang telah turut melemparkan film-film serupa itu di tengah masyarakat. Soemarmo segera menjawab: "Wewenang kami sebenarnya cuma sebatas pagar kantor BSF ini." Maksudnya badan ini hanya menyensor film yang disodorkan kepadanya, menggunting adegan yang dianggap kurang senonoh, menolak atau menerima satu film, menentukan batas umur penontonnya. Dan selesailah. Apa yang terjadi selanjutnya sudah di luar pagar Jangkauannya. Atau seperti kata Enoch Markum, "BSF tak punya aparat untuk mengontrol apakah film-film itu benar-benar ditonton oleh kelompok umur tersebut." Hal serupa itu juga akan terjadi, bila satu film yang telah disensor ternyata berbeda bila telah berada di layar bioskop. Karena film yang disodorkan ke BSF hanya satu kopi, sedang produser membuat satu film dengan beberapa kopi. "Kalau sudah begini kita tidak bisa mengatakan siapa yang jahat," kata Enoch. Tapi agak beruntung karena di beberapa daerah terdapat BAPFIDA (Badan Pembinaan Film Daerah), yaitu semacam badan sensor pula.

Tapi tak semua daerah memiliki badan ini, dan tidak semua yang memilikinya dapat bekerja efektif. Dan kenakalan produser serupa itu sering terjadi juga dalam hal poster. Scbual rencana poster berukuran mini yang telah disetujui sensor dapat saja berubah di kuas pembuatnya, sehingga yang tampil mungkin paha montok atau dua wajah yang bertangkupan. Menurut Bnoch, "seharusnya polisi atau masyarakat yang melihat poster-poster semacam itu melaporkannya kepada BSF." Untuk mengawasi pelaksanaan batas umur penonton seperti yang ditetapkan BSF juga tampaknya sulit. Badan ini mewajibkan batas umur penonton itu dicantumkan di depan loket penjualan karcis, dan slide sebelum film itu diputar. A. Karim, Sekretaris BSF, mengakui dalam pelaksanaannya batas umur itu sering dilanggar di bioskop-bioskop. Produser film tak mau disalahkan jika terjadi anak-anak di bawah umur sampai menonton film untuk orang dewasa. Sebab bertolak dari kasus Herman Yanto, produser film APB, Gope Samtani dari PT Rapi Film merasa tak punya andil dalam kejadian itu. Ia, katanya, membuat film itu mcmang untuk penonton 17 tahun ke atas. Sambil menghitung keuntungan dari penonton yang menyaksikan film itu, Samtani menunjuk pemilik bioskop telah tidak tegas memilih umur penontonnya. Johan Tjasmadi, Sekjen Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) menolak pendapat itu.

Secara yuridis formil, kata Johan, bioskop tak punya hak untuk melarang tiap penonton yang memiliki karcis, sekalipun ia anak-anak dan film yang diputar untuk 17 tahun ke atas. "Yang punya wewenang adalah petugas berwajib," katanya. Yitu Polisi. KARENA itu Johan berpendapat Ordonansi Film sudah tak sesuai lagi. Sebab ordonansi yang menetapkan bahwa bioskop bertanggungjawab terhadap batas usia dan keselamatan penonton, sudah sulit ditaati, meskipun bioskop sudah mencantumkan peringatan-peringatan. Ia mengungkapkan penjaga bioskop yang sering kena maki atau bahkan ditampar penonton yang hendak memaksakan agar anaknya dapat dibawa masuk nonton film untuk orang dewasa. "Yang seharusnya dibina adalah masyarakat, bukan pemilik bioskop" ucap Johan. Tapi mungkin karena kesal melihat ulah pemilik bioskop, di Ujung Pandang Agustus lalu seorang pengusaha bioskop dan booker film divonis 14 hari kurungan ditambah masa percobaan. Sebab seorang penonton yang menemani anaknya menyaksikan film Dang Ding Dong (untuk anakanak) telah mengadukan pengusaha itu karena memutar adegan-adegan ranjang dari film Lakilaki Dalam Pelukan sebagai trailer dan lisaksikan penonton-penonton cilik itu. Kalau pengawasan terhadap penon ton menjadi tanggung-jawab polisi, seperti menurut Johan Tjasmadi, sebaliknya pula pendapat pihak kepolisian. "Pengusaha bioskop itu jangan hanya pertimbangkan uang masukaja, juga ketertiban, keamanan dan kesehatan," kata Kolonel (Pol) Darmawan, Kepala Dinas Penerangan Mabak.

Ia mengakui "penertiban oleh polisi sudah dilakukan, tapi tak dapat terus menerus, karena tergantung tenaga yang ada." Karena itu yang penting, menurut Darmawan, pengusaha bioskop itu sendiri. Tapi rupanya untuk menentukan satu film boleh disaksikan anak-anak atau tidak memang tak mudah. "Karena yang semata-mata film seks itu tidak jelas," ujar A. Karim lagi. Ia mencontohkan film-film komidi yang juga menyelipkan adegan-adegan yang dapat dianggap porno untuk menambah kelucuan. Karena itu menurut Karim, salah satu kriteria film untuk orang dewasa, adalah, "jika film tersebut bisa menimbulkan shock bagi anak-anak." Sedangkan bagi film untuk 13 tahun ke atas, Karim mengambil contoh film perang. "Asal sekedar pertempuran biasa, tidak ada unsur sadisme dan kejahatan yang menyolok, kita lepas untuk 13 tahun," tutur Karim. Namun, di mana sebenarnya film untuk anak-anak? Jumlahnya memang terlampau kecil. BSF mencatat, selama 1978 terdapat 208 film untukorang dewasa, 42 untuk 13 tahun ke atas dan hanya 19 film untuk semua umur. Dan sampai Oktober tahun ini, baru terdapat 19 buah film untuk semua umur, 169 untuk orang dewasa dan 33 buah untuk 13 tahun ke atas. Semua untuk film impor maupun buatan dalam negeri. Untuk membuat film anak-anak, "biayanya sama besar dengan untuk orang dewasa," seperti diungkapkan Direktur PT Garuda Film, Hendrick Gozali. Padahal film anak-anak cukup sulit dipasarkan, karena bioskop hanya mungkin memutarnya hanya pada hari Mingu atau hari libur. Hendrick mencontohkan film Ranjang Pengantin (dewasa dengan biaya Rp 45 juta) dan Yoan (film anak-anak dengan biaya Rp 7 5 juta). Yang pertama katanya hanya dalam waktu tahun modal sudah kembali, sedangkan film Yoan sudah lebih 2 tahun sekarang belum kembali modal. Karena itu produser enggan membuat film anak-anak. Sedangkan rangsangan yang diberikan Deppen bagi pengimpor film anak-anak belum banyak menarik minat importir kita. Alasan perdagangan memang lumrah dalam pikiran para produser, yang telah menghabiskan puluhan juta rupiah.

Yang menjadi soal ialah bagaimana kontrol terhadap yang mungkin timbul terhadap motif laba itu. Sebab film memang punya andil bagi penontonnya. Terutama kaum remaja. Hal ini diakui juga oleh Dr. Soerjono Soekanto SH, MA, ahli sosiologi hukum dari Universitas Indonesia. "Tetapi apakah pengaruh yang ditimbulkan negatif atau positif, belum dapat diketahui karena di Indonesia mungkin belum pernah diadakan penelitian," kata Soerjono. Ia menilai film Indonesia kebanyakan berbau seks dan sadisme murahan. Hal ini katanya lebih mudah mempengaruhi remaja. Adegan semacam itu mudah ditiru, apalagi bila orang tua memberi uang yang cukup untuk itu. Di daerah-daerah pengaruh film agak berbeda. Menurut Soerjono di kota-kota kontrol sosial sudah longgar, sehingga pengaruh film akan lebih mudah terlihat. Tapi di daerah, terutama pedalaman, film tidak akan terlalu berpengaruh karena masyarakat masih saling mengontrol dengan cukup kuat. Tapi Dr. Soerjono tak melupakan faktor keluarga yang dapat juga memberi peranan terhadap pengaruh baik maupun buruk satu film terhadap kaum remaja. Semakin harmonis satu keluarga, semakin kecil kemungkinan bagi si anak untuk melakukan perbuatan negatif. Hampir serupa dengan pendapat Dr. Soerjono adalah Dr. Singgih Dirgagunarsa, psikolog anak-anak yang menjadi Pembantu Dekan Fakultas Psikologi UI. Menurut Singgih, seorang akan mempersepsikan apa yang ia lihat di layar. Kemudian setelah diolah, ia saring. Dan akhirnya ia melakukan pilihan. Dalam kasus Herman Yanto, kata Singgih, ia dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti latar belakang kehidupan, keadaan keluarga dan ia juga sedang dalam masa pancaroba sehingga ia belum mampu menyarmg mana yang baik bagi dirinya. Namun Singgih tak melepaskan faktor perangsang yang ditimbulkan film APB pada diri Herman. "Kalau setiap orang mau mengaku jujur, maka semua orang akan mengatakan bahwa ia terpengaruh oleh apa yang dilihatnya di layar putih," ucap Singgih, "karena itu sesuatu yang waJar. hanya cara penyalurannya berbeda-beda." Psikolog ini menghargai keputusan pengadilan terhadap Herman. Karena, katanya, pengadilan tidak semata-mata memandang kejahatan si anak, tapi juga latar belakangnya.

Dr. Singgih sendiri merasa cukup punya pengalaman menghadapi kasus anak yang dipengaruhi film, televisi dan video. Tapi sebegitu jauh, menurutnya, akibat-akibat yang ditimbulkan hanya terbatas pada kenakalan-kenakalan seperti ingin berkelahi, ingin membunuh orang dan sebagainya. Yang mengakibatkan kejahatan jarang terjadi. Karena itu ia menyarankan agar BSF lebih ketat menyensor film dan bioskopbioskop memperkeras batasan umur penonton. Sejalan dengan itu, menurut Singgih, sebaiknya juga iklan dan poster film tidak terlalu menonjolkan segi pornografisnya. "Karena hal itu dapat mempengaruhi keinginan si anak untuk menyaksikannya," katanya. Apapun yang diakibatkan satu film terhadap penonton remajanya, kasus Herman Yanto agaknya tetap penting. Seperti kata Soemarmo, agar dari kejadian ini, "semua pihak dapat mengambil hikmah dan manfaatnya." Itu artinya termasuk produser, bioskop dan terlebih-lebih lagi para orang tua.


ORBA PENERTIPAN SEXSUAL BERKAMPANYE MELALUI FILM
 
 
 
1971 rezim Orde Baru merombak struktur Badan Sensor Film (BSF) secara besar-besaran. Keanggotaannya dikurangi dengan menyisakan lebih banyak orang-orang dari pemerintahan dan Golongan Karya. Pada kesempatan yang sama Menteri Penerangan Boediardjo mengeluarkan keterangan agar BSF mulai mendorong rencana penertiban perilaku seksual anak muda melalui film.

Beberapa tahun kemudian ucapan Boediardjo benar-benar menjadi kenyataan. Keputusan Menteri Penerangan No. 194A tahun 1977 menganjurkan kepada produser film untuk membuat film yang sesuai dengan program pemerintah. Film-film yang masuk kategori ini disebut sebagai “Film Cerita Indonesia Teladan”.

Kebetulan di saat bersamaan, pemerintah tengah gencar mengampanyekan pemberantasan kenakalan remaja yang berkaitan dengan seks bebas. Dari sanalah, baik sineas maupun pemegang otoritas sensor, mulai secara terbuka menerima seks dalam film. Film drama berjudul Akibat Pergaulan Bebas (1978) buatan rumah produksi Rapi Films menjadi salah satu film seks yang paling banyak mendapat perhatian.

 Di masanya, Akibat Pergaulan Bebas adalah film yang sangat fenomenal. Film yang dibintangi nama-nama besar seperti Roy Marten dan Yenny Rachman ini sempat merajai bioskop tanah air. Pemutaran perdananya di Jakarta pada 1978 menyedot lebih dari 300.000 penonton.

Di balik namanya yang bersinar, film besutan sutradara Matnor Tindaon ini menampilkan banyak sekali adegan seks pasangan muda. Tapi itu tak lantas membuatnya kena gunting sensor Orde Baru yang terkenal tajam. Sebaliknya, Akibat Pergaulan Bebas malah menjadi film seks andalan Orde Baru untuk menertibkan generasi muda.

Menurut wartawan dan sastrawan merangkap anggota BSF, Gayus Siagian, sebagaimana diutarakannya dalam majalah Merdeka (1/11/1979), Akibat Pergaulan Bebas bukan film porno. Alasan Gayus sederhana: APB mengemban misi pemerintah melalui kisah kemerosotan moral anak muda. Di belakang Gayus, anggota BSF lain juga menganggap film ini baik dengan mengesampingkan adegan-adegan intimnya.

Gayus menuturkan bahwa Moh. Said Reksohadiprodjo, anggota tim kecil penyensor APB, turut memberikan penghargaan. Pamong Taman Siswa yang dikenal konservatif dalam perkara sensor itu dikabarkan malah mendorong para produser film Indonesia untuk membuat film serupa.

Moh. Said memang berasal dari kalangan yang berkeinginan menertibkan perilaku seks pranikah. Misi penertiban perilaku seksual generasi muda Orde Baru memang sudah berjalan sedari awal 1970-an. Kala itu seks bebas dianggap sebagai dampak negatif derasnya arus kebudayaan populer di perkotaan. Pemerintah pun bergegas melakukan penertiban.


Pada Oktober 1971 dibentuklah sebuah tim yang bertugas menyusun siasat penanggulangan kenakalan remaja. Menurut ketua tim, Brigadir Jenderal H. Soejadi, seperti dikutip dalam Pornografi dalam Media Massa (1995: 8-9) karya Tjipta Lesmana, kenakalan remaja saat itu lebih banyak terjadi dalam bentuk seks bebas. Ini menjadi pekerjaan yang benar-benar baru bagi pemerintah.

Latar belakang penertiban perilaku seksual yang jarang dikemukakan adalah pemerintah sebenarnya gelisah dengan maraknya penyimpangan seksual di perkotaan. Tema penyimpangan seksual ini sempat diangkat ke layar perak dengan judul Tiada Maaf Bagimu dan Jang Djatuh di Kaki Lelaki. Keduanya mengangkat tema lesbianisme dan dipublikasikan pada waktu yang berdekatan, tepatnya pada Juli 1971, beberapa saat sebelum gerakan penertiban perilaku seksual dimulai.

Ujung dari produksi film lesbian tersebut tidak berbuah manis. Sementara Jang Djatuh di Kaki Lelaki bernasib lebih baik berkat penuturannya yang simbolis, Tiada Maaf Bagimu benar-benar dihabisi sensor. Penolakan terhadap tema-tema semacam ini sempat dilontarkan Moh. Said dalam pewartaan Tempo (10/7/1971).

 Dekade 1970-an adalah titik kebangkitan industri perfilman Indonesia. Di saat yang bersamaan sebagian masyarakat juga baru mulai mengenal bahwa adegan hubungan intim dapat dinikmati lewat pertunjukan layar perak. Ini menarik minat kalangan pemuda dan pemudi yang tengah dimabuk asmara.

Sebuah data menunjukk
an bahwa jumlah penonton muda mengalami peningkatan pesat. Satu tahun setelah Akibat Pergaulan Bebas mencetak rekor nasional, hasil penelitian terhadap usia penonton bioskop mulai dibuka pada 1979. Hasilnya, penonton muda mendominasi kursi bioskop pada pengujung 1970-an.

Hasil penelitian yang dilakukan Subagyo Martosubroto dan dimuat dalam Berita Buana (7/11/1979) mencatat mayoritas penonton bioskop rata-rata berusia 15-24 tahun. Menurut pengamatan Martosubroto, hampir tidak ada penonton di atas usia 30 tahun.

Menyambung temuan tersebut, Karl G. Heider dalam Indonesian Cinema: National Culture on Screen (1991: 21) mendiskusikan kolerasi usia pembuat film dengan penontonnya. Menurut Heider, usia dan latar belakang sosial-budaya pembuat film secara tidak langsung merepresentasikan ide dan gagasan yang tercermin dalam bahasa visual film, kemudian menarik perhatian para penonton.

Sementara catatan Salim Said dalam Profil Dunia Film Indonesia (1982: 110) menunjukkan sutradara film angkatan 1970-an sebagian besar tidak mengenyam pendidikan tinggi. Maka tidak mengherankan jika Indonesia tahun 1970-an dibanjiri film-film yang terkesan murahan. Tinggal bertutur tentang perjalanan cinta anak muda beserta segala aktivitas seksualnya, sudah bisa mendatangkan penonton.


 Hasil dari gerakan penertiban perilaku seksual tidak membuat pemerintah merasa puas. Saya S. Shiraishi berpendapat dalam Young Heroes: The Indonesian Family in Politics (1997: 149) bahwa anak muda dalam tradisi politik Orde Baru cenderung dilabel-labeli. Bagi rezim Soeharto, term "remaja" cenderung tidak berbahaya karena memiliki karakteristik yang bising, konsumeris, dan lebih mudah dialihkan perhatiannya kepada hiburan. Sebaliknya, julukan “pemuda” atau “pelajar” terdengar lebih mengancam karena punya sifat memaksa dan lebih revolusioner.

Gambaran pemuda revolusioner ini salah satunya muncul dalam representasi mahasiswa yang ditampilkan Rendra, Umar Kayam dan Sjuman Djaya melalui film Yang Muda Yang Bercinta (1977). Tak berbeda dibandingkan Akibat Pergaulan Bebas, film yang dibintangi Rendra ini juga mempertunjukkan adegan hubungan intim anak-anak muda.

Namun Yang Muda Yang Bercinta tidak sekadar mengangkat serangkaian konflik pemudi yang hamil di luar nikah. Ada upaya para dramawan terkemuka di balik layar untuk mengangkat kritik sosial melalui kisah cinta seorang mahasiswa merangkap penyair yang dimainkan Rendra.


 Sayang, nasib Yang Muda Yang Bercinta tak semanis Akibat Pergaulan Bebas. Meski dinyatakan lolos sensor dengan pemotongan sepanjang 20 menit, film ini dilarang beredar di Jakarta karena dinilai berusaha menghasut generasi muda lewat pertunjukan propaganda politik.

Sebagaimana dilaporkan Tempo (24/6/1978), Menteri Penerangan Ali Moertopo menyayangkan keputusan Sjuman memilih Rendra sebagai pemeran utama lantaran aksi teaternya yang dinilai gemar menyudutkan rezim Soeharto. Beberapa anggota DPR yang tidak pernah tertarik membicarakan film pun turut berkomentar. Bagi mereka, “Film ini bisa menimbulkan interpretasi yang keliru.”

Argumen Shiraishi tentang penjinakan anak muda oleh rezim Orde Baru kemudian dilengkapi oleh Virginia Matheson Hooker dan kawan-kawan dalam pengantar antologi Culture and Society in New Order Indonesia (1995: 12). Hooker menyebut bahwa Orde Baru sempat menyaksikan pertambahan jumlah kalangan muda berpendidikan tanpa pekerjaan. Penguasa khawatir para pemuda tersebut akan berperilaku seksual menyimpang sekaligus menjadi musuh politik pemerintah.

Senin, 06 Juli 2020

BAPAK BERSALAH / 1955


Film ini melukiskan bahaya penyakit kelamin langsung maupun tak langsung. Sebuah film yang boleh dianggap berani. Cuma yang agak janggal adalah para tokohnya berasal dari kalangan terpelajar yang sudah kenal dokter. Lebih masuk akal bila mereka berasal dari kalangan yang takut berobat dan lebih mempercayai dukun.
GUMFIC

SRI I. UNIATI
AMRAN S. MOUNA
TINA MELINDA
RENDRA KARNO
ZAINAL ABIDIN
LEILY SULASTRI
TAN TJENG BOK

Sabtu, 29 Januari 2011

MENANTI KELAHIRAN / 1976



Karena maksudnya hendak membuat film tentang pendidikan seks, maka tiga dokter tampil berbicara dan memberikan "pidato" tentang segala sesuatu yang bersangkutan dengan masalah kehamilan, kemandulan dan penyakit kelamin. Tapi, karena ini juga film cerita, maka tampillah kisah tentang Arman (Deddy Mizwar) yang lemah spermanya, hingga meski sudah lima tahun kawin, Nina (Vonny Pawaka) istrinya, belum juga punya anak. Upaya mendapat anak ditambah sedikit pertengkaran keluarga jadi jalur cerita.

P.T. CINERAMA FILM

Selasa, 16 Maret 2010

EL BADRUN / BACHRUN DJAMALI (Penata Artistik Film)

EL BADRUN / BACHRUN DJAMALI


Lahir Rabu, 25 Januari 1950 di Tegal. Pendidikan : SLA (1969), KPU Sinematografi (KFT) dan Kursus Pendidikan Sutradara (1992). Sebelum ke film El Badrun pernah mendesain sepatu, pakaian, batik dan sablon. Di ajak oleh abangnya Imam Tantowi, ia mulai menjadi Asisten Penata Artistik dalam Biarkan Musim Berganti (1971) produksi PT Chandra Motion Pictures. Setelah menjadi ass Penata artistik untuk beberapa film, dalam Musuh Bebuyutan (1974) mulai sebagai penata artistik. Untuk bidang efek khusus di tekuninya sejak Si Boneka Kayu (1979). Bersama abangnya menggarap seri Saur Sepuh antara 1988 dan 1991. Salah satunya, Saur Sepuh IV (Titisan Darah Biru), menghasilkan nominasi pada FFI 1981. Ia juga nominasi FFI 1980 dalam Donat Pahlawan Pandir dan Ratu Ilmu HItam (FFI 1982). Selain itu ia juga menulis tentang "Front Projection" dan juga mengajar pengetahuan property di TVRI serta pengetahuan spesial efek di kursus pendidikan penata artistik-KFT.

Penata Efek Khusus
• Ratu Ilmu Hitam (1979) • Mistik (1981) • Lebak Membara (1983) • Golok Setan (1984) • Pasukan Berani Mati (1985) • Saur Sepuh: Satria Madangkara (1988) • Saur sepuh II: Pesanggrahan Keramat (1989)

Penata Artistik
• Buaye Gile (1974) • Musuh Bebuyutan (1974) • Tiga Cewek Badung (1975) • Malam Pengantin (1975) • Detektif Dangdut (1976) • Kampus Biru (1976) • Sejuta Duka Ibu (1977) • Sisa Feodal (1977) • Tante Sundari (1977) • Donat Pahlawan Pandir (1977) • Gara-gara Janda Kaya (1977) • Manager Hotel (1977) • Remaja Pulang Pagi (1978) • Bahaya Penyakit Kelamin (1978) • Cubit-cubitan (1979) • Ira Maya dan Kakek Ateng (1979) • Si Boneka Kayu, Pinokio (1979) • Ratu Ilmu Hitam (1979) • Wanita Segala Zaman (1979) • Aduh Aduh Mana Tahan (1980) • Kemilau Kemuning Senja (1980) • Aladin Dan Lampu Wasiat (1982) • Golok setan (1984) • Mistik (1981) • Jaka Sembung dan Bajing Ireng (1983) • Si Buta lawan Jaka Sembung (1983) • Menumpas Teroris (1986) • Kelabang Seribu (1987) • Siluman Serigala Putih (1987) • Saur sepuh II: Pesanggrahan Keramat (1988) • Mistri Dari Gunung Merapi (1989) • Mistri Dari Gunung Merapi II: Titisan Roh Nyai Kembang (1990) • Jaka Swara (1990) • Saur Sepuh IV: Titisan Darah Biru (1991) • Fatahillah (1997) • Ketika Cinta Bertasbih (2009)

Penata Rias
Pembalasan Ratu Pantai Selatan (1988)

Tata Artistik
• FFI 1980 - Nominasi untuk Donat Pahlawan Pandir (1977) • FFI 1982 - Nominasi untuk Ratu Ilmu Hitam (1979) • FFI 1987 - Nominasi untuk Menumpas Teroris (1986) • FFI 1991 - Nominasi untuk Saur Sepuh IV: Titisan Darah Biru • FFI 1992 - Nominasi untuk Saur Sepuh IV: Titisan Darah Biru


El Badrun banyak dibicarakan orang luar negeri, karena film-film yang dikeluarkan di luar negeri kebanyakan film silat, horor dan lainnya. Oleh karena iotu yang paling menonjol dari itu semua adalah artistik Badrun, juga effek-nya. Karen aapa yang tampak dalam gambar selain pemain adalah set, dan e

Efek khusus, oleh master Indonesia El Badrun (Mistik di Bali), adalah sorotan film ini. Berkali-kali, El Badrun telah menunjukkan dirinya seorang ahli dalam memanfaatkan anggaran sangat kecil. Di sini, centerpieces-nya adalah Cyclops papier-mâché yang matanya tampak seperti lampu sepeda motor, patung berputar yang menembakkan sinar laser dan berisi penyembur api yang berfungsi dan, tentu saja, para lelaki buaya. Beberapa dari orang-orang ini hanyalah penghuni bawah tanah kotor yang mengenakan kulit buaya yang compang-camping, tetapi yang lain mengenakan kepala buaya yang penuh sesak dan potongan dada dari kulit buaya yang membuat lengan manusia mereka terbuka, lebih baik mengayunkan pedang bergerigi besar mereka. Mereka juga mampu melompat keluar dari air menggunakan kekuatan fotografi terbalik.

Selasa, 06 Desember 2011

DORIS CALLEBAUTE, Si Inem Sexy



Doris Callebaute/Doris Aphrodita
Lahir di Jakarta.Salah satu dari Aktris laris tahun 1977 ini mendadak terkenal setelah muncul dalam film "Inem Pelayan Sexy" (1976) yang di sutradarai Nya Abbas Acup. Pernah juga menggunakan nama Doris Aprodita, sedangkan dalam film pertamanya "Embun Pagi" (1976) dia memperoleh nama Doris Trissyanthy. 


Nama "Inem" yang telah menempel pada dirinya menyebabkan ada produser yang memberinya Peranan Utama dalam "Inem Nyonya Besar", sementara pembikin "Inem Pelayan Sexy" juga me "nyambung" nya dalam dua seri sekaligus, "Inem Pelayan Sexy II" dan "Inem Peiayan Sexy III" dengan Sutradara tetap dipegang oleh Nya Abbas Acup. Banyak film lain yang diselesaikan Doris selama tahun 1977. Di antaranya film-film "Marina", "Sejuta Duka Ibu", "Akibat Pergaulan Bebas", "Warung pojok" lalu menyusul "Penyakit Kelamin" (Raja Singa) "Salah Kamar" pada tahun 1978, "Akibat Bercinta" (1979), Mat Peci 1978. Dia mengaku pernah jadi pramuria (hostess) dan juga jadi guru taman kanak2 karena katanya punya pendidikan SGTK. Diakhir 1978 bikin perusahaan sendiri, PT Doristi Film.

Minggu, 30 Januari 2011

BARANG TERLARANG / 1983

I WANT TO GET EVEN


Film ini banyak judul lainnya Violent Killer dan I Want To Get Even.

Kehidupan rumah tangga yang sederhana dan bahagia dialami oleh Irma yang bekerja sebagai kasir restoran dan juga Rudy yang bekerja sebagai supir taxi. Irma yang hamil muda menambah kebahagiann keluarga itu. Ternyata setelah menikah Irma mengetahui kalau suaminya mengidap Sex Maniac dan Irma terpaksa menerima kondisi suaminya. Komplotan penjahat yang sering menyelundupkan morpin, narkotik, senjata gelap dan obat terlarang lainnya dibawah pimpinan Cobra 2 melakukan operasinya hingga mempengaruhi moral bangsa dan anak-anak muda. Cobra 2 memiliki anak buah bernama Rony yang bertugas menyalurkan barang-barang terlarang itu dan juga mencarikan wanita untuk kepuasan Cobra 2. Pihak berwajib telah mencurigai kegiatan Roni dan komplotannya namun mereka belum memiliki bukti akurat mengenai kegiatan tersebut. Di acara pesta disco, Cobra tertarik dengan penampilan Irma dan dia ingin mendapatkannya melalui Rony. Rony dan komplotannya berhasil menculik Irma. Disebuah gudang tua tempat markas Cobra melakukan kegiatannya kehormatan Irma direnggut oleh Cobra 2 dan juga anak buahnya.

Di saat mengalami sekarat Irma diseamatkan oleh seorang tukang becak yang kemudian melaporkannya ke pihak berwajib. Namun komplotan Cobra 2 mengetahui rencana polisi yang ingin menggrebek markas mereka. Rudy yang mengetahui kejadian yang menimpa isterinya sangat marah sekali. Akibat kejadian tersebut keluarga Rudy dan Irma selalu diwarnai pertengkaran karena Rudy tidak menerima kehamilan isterinya dan menginginkan kandungannya digugurkan namun ditolak oleh Irma. Irma akhirnya diusir oleh Rudy karena tidak mau mengikuti keinginannya. Irma yang wajahnya lembam karena pukulan Rudy bertemu dengan Ratih yang mempunyai anak putri cacat akibat terjangkit penyakit kelamin dari almarhum suaminya. Rudy yang frustasi menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukan dan terkadang melarikan kendaraannya dengan kencang. Akhirnya Rudy mencari tukang becak yang menemukan Irma untuk mengetahui Keberadaan Rony. Tukang becak membawa Rudy ke gudang tempat dimana dia menemukan Irma. Ditempat itu Rudy mengamuk menghancurkan semua barang-barang, tukang becak menghubungi polisi. Ketika terjadi perkelahian yang tidak seimbang antara Rudy melawan Rony Cs datang bantuan polisi yang berhasil menangkap sebagian komplotan Rony dan Rony berhasil lolos. Ketika Rudy dirawat Irma datang menemui dengan diantar Ratih yang meminta pada Rudy untuk mau menerima Irma yang tengah hamil tua. Kelahiran bayi Irma melalui operasi, namun bayinya yang cacat tidak tertolong bahkan kandungan Irma pun dinyatakan rusak oleh dokter. Rudy yang tidak menerima kenyataan itu ingin menuntut balas pada para penjahat-penjahat itu. Tanpa sengaja Rudy bertemu dengan Mia, adik kandung Rony. Dan Rudy merencanakan untuk menculik dan merengut kegadisan Mia.

Mia yang mengetahui dia terkena akibat dari perbuatan kakaknya menuntut Rony, namun Rony justru menaruh dendam pada Rudy. Rony berhasil menghancurkan rumah Rudy dan menangkap serta menganiaya Rudy di gudang tua. Mia yang mencoba untuk bunuh diri berhasil digagalkan oleh Cobra, namun Cobra berhasil membius dan menggauli Mia. Rony yang ingin memberikan laporan penangkapan Rudy kaget melihat kondisi Mia yang telah digauli seenaknya oleh Cobra. Dan akhirnya terjadi perkelahian tidak seimbang antara Rony dengan anak buah Cobra. Mia yang ingin membantu kakaknya tewas tertusuk pisau anak buah Cobra. Polisi berhasil menangkap Rony dan anak buah Cobra, namun Cobra dan Tohir berhasil melarikan diri. Namun pelarian Cobra dan Tohir diketahui oleh Irma dan Rudy yang telah siap dengan senjata yang diambil dari gudang milik Cobra. Mereka berdua berhasil membunuh Cobra dan Tohir yang telah merengut kebahagiaan mereka dan mereka memutuskan untuk menyerahkan diri ke pihak berwajib.


SAYA INGIN MENDAPATKAN BAHKAN (1987) - Indonesia: Di mana semua orang tahu bagaimana bertarung, wanita itu murah dan orang jahat botak. Setidaknya dalam film mereka. Film pemerkosaan / balas dendam Indonesia ini (dari Rapi Films, penyedia hiburan utama di Indonesia) dibuka dengan seorang lelaki botak berkeringat yang mencoba memperkosa seorang wanita di tempat tidurnya. Ketika dia berkelahi kembali, dia menyerah dan menyuruh anak buahnya melemparkannya keluar dari rumah (anak buahnya menutup mata dan mengikat tangannya di belakangnya dengan potongan kain yang robek dari gaunnya dan kemudian menggulingkannya menuruni bukit!). Si botak (semua orang memanggilnya "Boss", nama yang cukup umum di film bergenre Indonesia) kemudian merokok bersama sementara wanita berpakaian minim berlatih seni bela diri di sekitarnya. Kami kemudian memotong untuknya minum dalam disko, di mana kami mengetahui bahwa nama aslinya adalah Cobra (Rengga Takengon). Dia memukul kasir Irma (Eva Arnaz), tetapi dia menolaknya, yang tidak membuat Cobra bahagia sama sekali. Film ini kemudian beralih ke Rudy (Clift Sangra), yang merupakan suami dari Irma, yang sedang hamil. Rudy memiliki masalah amarah yang besar, terutama ketika dia bersemangat secara seksual. Setiap kali dia terangsang, dia berubah menjadi kekerasan, yang bukan kabar baik bagi Irma dan bayi di perutnya, terutama karena dokternya memperingatkan Irma bahwa dia akan mengalami kehamilan yang kasar dan setiap sentakan atau tarikan yang keras dapat membahayakan bayinya. Sementara itu, Cobra meminta anak buahnya kembali ke disko dan menculik Irma (Apa ???). Mereka menembaknya dengan heroin dan menempatkannya di ranjang Cobra (Salah satu pria Cobra berkata kepadanya, "Nikmati dirimu!").

Ketika Irma berkelahi kembali, Cobra memberikannya kepada anak buahnya dan mereka memperkosanya (ketika satu pria selesai, yang lain berkata kepadanya, "Itu cepat!"). Dia melarikan diri sebelum mereka dapat membunuhnya dan dia dijemput oleh seorang pengemudi becak yang ramah dan dibawa pulang. Kami kemudian beralih ke Rudy, yang membuang Irma dari mobilnya yang kencang ketika dia mengetahui bahwa bayinya adalah produk pemerkosaan geng oleh pasukan Cobra (Dia berkata kepada Irma, tepat sebelum dia terbang keluar pintu, "Kamu dan kamu bayi akan langsung ke Neraka! "). Setelah menampar seorang pelacur, Rudy mempertanyakan pengemudi becak yang mengantar pulang Irma dan dia kemudian pergi untuk memukuli orang-orang Cobra (dalam tampilan seni bela diri yang mengerikan), tetapi sebaliknya dia malah dipukuli dengan kasar. Untungnya, polisi muncul dan menyelamatkannya, tetapi orang-orang jahat lolos. Rudy kemudian melemparkan Irma keluar dari rumah mereka ketika dia menolak untuk melakukan aborsi ("Pergi sekarang! Aku tidak pernah ingin melihat wajahmu lagi!"). Segalanya berubah menjadi Twilight Zone ketika Rudy memperkosa Mia (Nenna Rosier), saudara perempuan antek Cobra, Ronnie (Hendro Tangkilisan), sebagai balasan atas pemerkosaan Irma. Ronnie dan anak buahnya kemudian mengendarai sepeda motor mereka melewati rumah Rudy, mengikatnya, menyeretnya ke belakang sepeda motor sampai mereka tiba di tempat persembunyian Ronnie dan kemudian memukulinya hingga menjadi bubur berdarah ("Aku akan mengajarimu untuk bermain-main dengan adikku!" ). Irma mendapatkan aborsi (Kita bisa melihat janin yang berdarah dan diaborsi!) Dan Rudy membawanya kembali. Rudy kemudian pergi ke tempat persembunyian Ronnie dan membunuh beberapa orang Ronnie dengan tembakan.

Dia kemudian menuju ke rumah Cobra, di mana Ronnie, Mia, Cobra, Rudy dan polisi berkelahi habis-habisan. Irma kemudian muncul berpakaian seperti Rambo (!) Dan membunuh Cobra dengan peluncur roket yang bagus. Apa apaan?!? Sangat sulit untuk tetap mengikuti film ini karena diceritakan dengan cara yang membingungkan dan tidak linier. Sulih suara, seperti biasa, sangat lucu (Anda tidak pernah tahu apa yang akan keluar dari mulut orang, seperti ketika Cobra memperkosa Mia. Dia berkata kepadanya, "Adikmu bilang kau akan menyukainya!" yang mendengarkan di lantai bawah, melakukan fellatio dengan ibu jarinya sendiri!). Mari kita bicara tentang Cobra sejenak. Selain terlihat seperti saudara terbelakang Sid Haig, tampaknya ia menghabiskan 90% dari waktu layarnya memperkosa wanita sambil mengenakan pakaian putih. Dia juga pemerkosa yang tidak efektif, karena satu-satunya wanita yang benar-benar diperkosa adalah Mia. Ketika wanita lain melawan, dia kehilangan minat dengan cepat dan melemparkannya ke pria. Untuk sebuah film yang berhubungan dengan banyak pemerkosaan, ada sedikit ketelanjangan. Para wanita biasanya menyimpan bra dan celana dalam mereka atau difilmkan di sudut di mana objek di garis depan menutupi potongan nakal mereka. Ada beberapa ketelanjangan, tetapi hanya beberapa frame cepat dan Anda harus menekan tombol Pause jika Anda ingin mendapatkan tampilan yang baik.





Sutradara Maman Firmansjah (ESCAPE FROM HELL HOLE - 1983) tidak memiliki petunjuk sedikit pun bagaimana membangun kontinuitas atau memfilmkan adegan aksi. Garis waktu tidak ada (saya menggaruk-garuk kepala pada beberapa kesempatan, terutama dengan adegan Irma) dan penutupnya berisi pengejaran mobil paling lambat dan adegan perkelahian dengan koreografi buruk yang pernah saya lihat dalam seorang aktor Indonesia (dan itu mengatakan banyak ). Itu memang berisi ledakan tubuh yang bagus, diikuti oleh kutipan dari Alkitab! Masih sulit untuk menyalahkan film ketika karakter yang paling simpatik adalah Ronnie, seorang pengedar narkoba dan penyelundup senjata, karena dialah satu-satunya anggota pemeran pria yang tidak memperkosa siapa pun! Dia juga memberikan pidato berapi-api di akhir musim, memohon anak buahnya untuk menyerah kepada polisi dan acc

Kamis, 01 Desember 2011

KASIYO H / KASIYO 1970-1988

KASIYO

Lahir di Cilacap. Pendidikan : Tamat STM, mengikuti photo Mechanic Education I.A.F. Madras, India. Sebagai pembuat still photo AURI (1962-1969), ikut sebagai pembantu juru kamera dalam Nenny (1968). Jabatan juru kamera (penuh) disandangnya sejak Si Pitung (1970). Hingga Harga Sebuah Kejujuran (1988) telah menyelesaikan 50-an film cerita, kebanyakan disutradarai Nawi Ismail (1918-1990). Disusul untuk sinetron mulai tahun 1995.

MEREKA KEMBALI1972NAWI ISMAIL
Director Of Photography
DR. SITI PERTIWI KEMBALI KE DESA1979AMI PRIJONO
Director Of Photography
WAROK SINGO KOBRA1982NAWI ISMAIL
Director Of Photography
SYAHDU1975JOHN TJASMADI
Director Of Photography
SERIBU KENANGAN1975SLAMET RIYADI
Director Of Photography
I.Q. JONGKOK1981IKSAN LAHARDI
Director Of Photography
BAYANG-BAYANG KELABU1979FRANK RORIMPANDEY
Director Of Photography
APA INI APA ITU1981ELANDA ROSSI RS
Director Of Photography
KISAH CINTA1976JOHN TJASMADI
Director Of Photography
KONTRAKTOR1984WAHAB ABDI
Director Of Photography
ORANG-ORANG SINTING1981NAWI ISMAIL
Director Of Photography
JALAL KOJAK PALSU1977MOTINGGO BOESJE
Director Of Photography
ITA SI ANAK PUNGUT1973FRANK RORIMPANDEY
Director Of Photography
ROSITA1977DASRI YACOB
Director Of Photography
SEANDAINYA AKU BOLEH MEMILIH1984WAHAB ABDI
Director Of Photography
BAHAYA PENYAKIT KELAMIN1978MOTINGGO BOESJE
Director Of Photography
ENAK BENAR JADI JUTAWAN1982NAWI ISMAIL
Director Of Photography
SENYUMMU ADALAH TANGISKU1980DASRI YACOB
Director Of Photography
PENGORABANAN1974SUSILO SWD
Director Of Photography.




BIANG KEROK BERUNTUNG 1973 NAWI ISMAIL
Director Of Photography
AL KAUTSAR 1977 CHAERUL UMAM
Director Of Photography
BANTENG BETAWAI 1971 NAWI ISMAIL
Director Of Photography
PELANGI DI LANGIT SINGOSARI 1972 ISHAK SUHAYA
Director Of Photography
ANTARA DIA DANS AKU 1979 DASRI YACOB
Director Of Photography
HARGA SEBUAH KEJUJURAN 1988 HENKY SOLAIMAN
Director Of Photography
MIDAH PERAWAN BURONAN 1983 FRITZ G. SCHADT
Director Of Photography
NODA X 1984 ACKYL ANWARI
Director Of Photography
LAGU UNTUKMU 1973 ISHAK SUHAYA
Director Of Photography
ANAK YANG MENDERITA 1974 DJAMAL HARPUTRA
Director Of Photography
SI BAGONG MUJUR 1974 JOHN TJASMADI
Director Of Photography
MERANGKUL LANGIT 1986 M.T. RISYAF
Director Of Photography
PERMATA BUNDA 1974 WISJNU MOURADHY
Director Of Photography
PEMBALASAN NAGA SAKTI 1976 FRITZ G. SCHADT
Director Of Photography
GARIS-GARIS HIDUP 1977 DASRI YACOB
Director Of Photography
BISIKAN SETAN 1985 B.Z. KADARYONO
Director Of Photography
CINTA PUTIH 1977 CHAERUL UMAM
Director Of Photography
RATU DISCO 1978 A. MALIK ZAKARIA
Director Of Photography
LONCENG MAUT 1976 FRANK RORIMPANDEY
Director Of Photography
GE...ER 1980 NAWI ISMAIL
Director Of Photography
SARITEM PENJUAL JAMU 1977 SYAMSUL FUAD
Director Of Photography
SI PITUNG 1970 NAWI ISMAIL
Director Of Photography.

Selasa, 07 Juli 2020

GATOT SUDARTO (Komposer)


Satu lagi penata musik film Indonesia. Ia bisa dibilang setelah Idris Sardi, dan stylenya juga beda. Idris mencampur unsur klasik dan musik trend saat itu. Tapi Gatoto justru di era modern, dimana dia memakai Electronic Instrumen dengan synthesizer. Tapi kiprahnya cukup banyak musik film yang di hasilkannya, ada 138 Film.


Lahir di Mojokerto. Pendidikan : Akademi Seni Rupa (tk. II) IKIP Surabaya, Akademi Musik (tk. I) LPKJ/TIM Jakarta. Ayahnya yang pemusik semula tidak menghendaki Gatot Sudarto menjadi pemusik pula, sebab si Bapak tidak bisa hidup enak dari musik. Tapi Gatot jadi pemusik juga, dan bisa hidup enak dari musik. Tentu saja baru tahun-tahun belakangan ini. Tadinya Gatot adalah "anak band" yang memulai karirnya di "Bhatara" Surabaya pada 1967, lalu hijrah ke Jakarta pada 1969. Setelah berpindah-pindah dari band yang satu ke band yang lain, Gatot menetap pada The Beibs (sejak 1973) dan Irama Nada (sejak 1974) sampai sekarang, 1978. Sejak 1973 itu pula Gatot mulai ditarik untuk menangani illustrasi musik film "bing Slamet Dukun Palsu", atas ajakan Sutradara Motinggo Busye. Sejak itu hampir 40 film telah ditanganinya. Diantaranya "Ateng Minta Kawin" (1974), "Sayangilah Daku" (1974), "Tarzan Kota" (1975), "Sebelum Usia 17" (1975), "Buaye Gile" (1975), "Tiga Cewek Indian" (1976), "Inem Pelayan Sexy" (1976), "Menanti Kelahiran" (1976), "Cinta Abadi" (1977), "Ateng Bikin Pusing" (1977), "Akibat Pergaulan Bebas" ('77), "Sejuta Duka Ibu" (1977), "Si Genit Poppy" (1978), dll.


SALAH PENCET1992ARIZAL
Composer
BEGADANG KARENA PENASARAN 1980 LILIK SUDJIO
Composer
DIA YANG TERCINTA 1984 GATOT SUDARTO
Composer
SALAH KAMAR 1978 LILIK SUDJIO
Composer
MALU-MALU KUCING 1980 ISHAQ ISKANDAR
Composer
MUSUH BEBUYUTAN 1974 SYAMSUL FUAD
Composer
PINTAR-PINTAR BODOH 1980 ARIZAL
Composer
GAYA MERAYU 1980 WISJNU MOURADHY
Composer
SUNDEL BOLONG 1981 SISWORO GAUTAMA
Composer
DAMARWULAN - MINAKJINGGO 1983 LILIK SUDJIO
Composer
PRIMITIF 1978 SISWORO GAUTAMA
Composer
GAWANG GAWAT 1984 PITRAJAYA BURNAMA
Composer
DARI MATA TURUN KE HATI 1979 JOPI BURNAMA
Composer
KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN 1985 ARIZAL
Composer
NIKMATNYA CINTA 1980 ARIZAL
Composer
MENANTI KELAHIRAN 1976 S.A. KARIM
Composer
JANGAN PAKSA DONG 1990 CHRIST HELWELDERY
Composer
JANGAN COBA RABA-RABA 1980 JOPI BURNAMA
Composer
PELAJARAN CINTA 1979 MATNOOR TINDAON
Composer
KARMINEM 1977 NYA ABBAS AKUP
Composer
BUNG KECIL 1978 SOPHAN SOPHIAAN
Composer
BUNGA CINTA KASIH 1981 DANU UMBARA
Composer
DANGER -KEINE ZEIT ZUM STERBEN 1984 HELMUT ASHLEY Adventure Composer
BERGOLA IJO 1983 ARIZAL
Composer
KAWIN KONTRAK 1983 MAMAN FIRMANSJAH
Composer
PINTAR-PINTARAN 1992 YAZMAN YAZID
Composer
TANTE SUN 1977 BUDI SCHWARZKRONE
Composer
PERKAWINAN NYI BLORONG 1983 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Composer
SEMUA KARENA GINAH 1985 NYA ABBAS AKUP
Composer
DONGKRAK ANTIK 1982 ARIZAL
Composer
LARA JONGGRANG 1983 JIMMY ATMAJA
Composer
KESAN PERTAMA 1985 M.T. RISYAF
Composer
MERANGKUL LANGIT 1986 M.T. RISYAF
Composer
DANG DING DONG 1978 HASMANAN
Composer
SEBELUM USIA 17 1975 MOTINGGO BOESJE
Composer
INEM PELAYAN SEXY 1976 NYA ABBAS AKUP
Composer
PENGINAPAN BU BROTO 1987 WAHYU SIHOMBING
Composer
PENGANTIN BARU 1986 ARIZAL
Composer
SANGKURIANG 1982 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Composer
LEMBAH DUKA 1981 JOPI BURNAMA
Composer
WAROK SINGO KOBRA 1982 NAWI ISMAIL
Composer
LUKA HATI SANG BIDADARI 1983 NICO PELAMONIA
Composer
ATENG BIKIN PUSING 1977 HASMANAN
Composer
ATENG MATA KERANJANG 1975 ASRUL SANI
Composer
ATENG KAYA MENDADAK 1975 PITRAJAYA BURNAMA
Composer
ATENG PENDEKAR ANEH 1977 HASMANAN
Composer
ATENG SOK AKSI 1977 HASMANAN
Composer
ATENG RAJA PENYAMUN 1974 PITRAJAYA BURNAMA
Composer
CEWEK JAGOAN BERAKSI KEMBALI 1981 DANU UMBARA
Composer
PLIN PLAN 1992 YAZMAN YAZID
Composer
MAJU KENA MUNDUR KENA 1983 ARIZAL
Composer
JAKA GELEDEK 1983 FRITZ G. SCHADT
Composer
ATENG SOK TAU 1976 HASMANAN
Composer
ATENG THE GODFATHER 1976 HASMANAN
Composer
PEMBALASAN RAMBU 1985 JOPI BURNAMA
Composer
INEM PELAYAN SEXY II 1977 NYA ABBAS AKUP
Composer
INEM PELAYAN SEXY III 1977 NYA ABBAS AKUP
Composer
TAHU BERES 1993 ARIZAL
Composer
TAHU DIRI DONG 1984 ARIZAL
Composer
JAKA SEMBUNG DAN BAJING IRENG 1983 TJUT DJALIL
Composer
JAKA SEMBUNG SANG PENAKLUK 1981 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Composer
DARAH PERJAKA 1985 ACKYL ANWARI
Composer
SAYANGILAH DAKU 1974 MOTINGGO BOESJE
Composer
SEGI TIGA EMAS 1986 ARIZAL
Composer
PENCURI 1984 PITRAJAYA BURNAMA
Composer
HAMIL MUDA 1977 S.A. KARIM
Composer
BUAH HATI MAMA 1980 SOPHAN SOPHIAAN
Composer
GANTIAN DONG 1985 ARIZAL
Composer
GOLOK SETAN 1983 RATNO TIMOER
Composer
KOBOL SUTRA UNGU 1981 NYA ABBAS AKUP
Composer
MERINDUKAN KASIH SAYANG 1984 C.M. NAS
Composer
LIMA CEWEK JAGOAN 1980 DANU UMBARA
Composer
GURUKU CANTIK SEKALI 1979 IDA FARIDA
Composer
MEMBAKAR MATAHARI 1981 ARIZAL
Composer
TUAN BESAR 1977 MOCHTAR SOEMODIMEDJO
Composer
SATU MAWAR TIGA DURI 1986 FRANK RORIMPANDEY
Composer
KECUPAN PERTAMA 1979 ARIZAL
Composer
JERITAN SI BUYUNG 1977 PITRAJAYA BURNAMA
Composer
KEJAMNYA IBU TIRI TAK SEKEJAM IBU KOTA 1981 AZWAR AN
Composer
TARSAN KOTA 1974 LILIK SUDJIO
Composer
BISIKAN SETAN 1985 B.Z. KADARYONO
Composer
BINALNYA ANAK MUDA 1978 ISMAIL SOEBARDJO
Composer
SI GENIT POPPY 1978 JOPI BURNAMA
Composer
AKIBAT GODAAN 1978 MATNOOR TINDAON
Composer
AKIBAT PERAULAN BEBAS 1977 MATNOOR TINDAON
Composer
TRAGEDI TANTE SEX 1976 BAY ISBAHI
Composer
NONA MANIS 1990 YAZMAN YAZID
Composer
SI BUTA LAWAN JAKA SEMBUNG 1983 DASRI YACOB
Composer
PERHITUNGAN TERAKHIR 1982 DANU UMBARA
Composer
BUNGA-BUNGA PERKAWINAN 1981 ISHAQ ISKANDAR
Composer
APANYA DONG 1983 NYA ABBAS AKUP
Composer
SRIGALA 1981 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Composer
RATU ILMU HITAM 1981 LILIK SUDJIO
Composer
BODOH-BODOH MUJUR 1981 ARIZAL
Composer
KISAH CINTA ROJALI DAN ZULEHA 1979 NYA ABBAS AKUP
Composer
SI BONEKA KAYU, PINOKIO 1979 WILLY WILIANTO
Composer
SENGGOL-SENGGOLAN 1980 DANU UMBARA
Composer
BILA HATI PEREMPUAN MENJERIT 1981 ARIZAL
Composer
TEMPATMU DI SISIKU 1980 JOPI BURNAMA
Composer
BANG KOJAK 1977 FRITZ G. SCHADT
Composer
BARANG TERLARANG 1983 MAMAN FIRMANSJAH
Composer
PAK SAKERAH 1982 B.Z. KADARYONO
Composer
SEMBILAN JANDA GENIT 1977 IKSAN LAHARDI
Composer
TIGA CEWEK INDIAN 1976 AZWAR AN
Composer
TIGA COWOK BLOON 1977 AMIN KERTARAHARDJA
Composer
CINTA ABADI 1976 WAHYU SIHOMBING
Composer
FAJAR YANG KELABU 1981 SANDY SUWARDI HASSAN
Composer
BOBBY 1974 FRITZ G. SCHADT
Composer
JALAL KOJAK PALSU 1977 MOTINGGO BOESJE
Composer
JALAL KAWIN LAGI 1977 MOTINGGO BOESJE
Composer
NUANSA BIRUNYA RINJANI 1989 JIMMY ATMAJA
Composer
MISTIK 1981 TJUT DJALIL
Composer
DI LUAR BATAS 1984 JOPI BURNAMA
Composer
KEMELUT HIDUP 1977 ASRUL SANI
Composer
RAHASIA PERKAWINAN 1978 MAMAN FIRMANSJAH
Composer
BUSANA DALAM MIMPI 1980 IDA FARIDA
Composer
GADIS BERWAJAH SERIBU 1984 RATNO TIMOER
Composer
PEREMPUAN BERGAIRAH 1982 JOPI BURNAMA
Composer
BUMI BULAT BUNDAR 1983 PITRAJAYA BURNAMA
Composer
ITU BISA DIATUR 1984 ARIZAL
Composer
TANGKUBAN PERAHU 1982 LILIK SUDJIO
Composer
LENONG RUMPI II 1992 YAZMAN YAZID
Composer
LENONG RUMPI 1991 YAZMAN YAZID
Composer
DALAM PELUKAN DOSA 1984 MAMAN FIRMANSJAH
Composer
TANTANGAN 1969 PITRAJAYA BURNAMA
Composer
NYI BLORONG 1982 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Composer
TIGA SEKAWAN 1975 CHAERUL UMAM
Composer
BIRAHI DALAM KEHIDUPAN 1987 MAMAN FIRMANSJAH
Composer
ALADIN DAN LAMPU WASIAT 1980 SISWORO GAUTAMA
Composer
BENYAMIN SI ABUNAWAS 1974 FRITZ G. SCHADT
Composer
BENYAMIN TUKANG NGIBUL 1975 NAWI ISMAIL
Composer
PUTRI GIOK 1980 MAMAN FIRMANSJAH
Composer
ROMANTIKA REMAJA 1979 JOPI BURNAMA
Composer
MUMPUNG ADA KESEMPATAN 1993 ARIZAL
Composer
IRA MAYA PUTRI CINDERELLA 1981 WILLY WILIANTO
Composer
USIA DALAM GEJOLAK 1984 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Composer
POKOKNYA BERES 1983 ARIZAL
Composer
NASIB SI MISKIN 1977 JOPI BURNAMA
Composer
BAYAR TAPI NYICIL 1988 ARIZAL
Composer
DILIHAT BOLEH DIPEGANG JANGAN 1983 DANU UMBARA
Composer
SERBUAN HALILINTAR 1982 ARIZAL
Composer
JOHNY INDO 1987 JIMMY ATMAJA
Composer
BUKAN MAIN 1991 YAZMAN YAZID
Composer
GENTA PERTARUNGAN 1989 ACKYL ANWARI
Composer
BAHAYA PENYAKIT KELAMIN 1978 MOTINGGO BOESJE
Composer
KAMP TAWANAN WANITA 1983 JOPI BURNAMA
Composer
TANGAN-TANGAN MUNGIL 1981 YAZMAN YAZID
Composer
BOLEH DONG UNTUNG TERUS 1992 YAZMAN YAZID
Composer
MODAL DENGKUL KAYA RAYA 1978 PITRAJAYA BURNAMA
Composer
SENYUM NONA ANNA 1977 SOEGIMAN DJAJAPRAWIRA
Composer
SUNAN KALIJAGA 1983 SOFYAN SHARNA
Composer
KAMPUS BIRU 1976 AMI PRIJONO
Composer
GEJOLAK KAWULA MUDA 1985 MAMAN FIRMANSJAH
Composer