Kamis, 29 April 2021

BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1991

BERNAFAS DALAM LUMPUR 


Film ini hampir sama dengan tahun 1970 yang di bintangi Suzzana dan sama terrkenal dengan judul yang sama juga. BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1970


Supinah, kemudian bernama Yanti (Meriam Bellina) terpaksa meninggalkan anaknya di kampung untuk mencari suaminya yang sudah lama berusaha di Jakarta. Harapannya pupus ketika tahu suaminya sudah menikah lagi, dan malah mengusirnya. Terlunta-lunta di kota ia terperangkap masuk jaringan perdagangan wanita. Pertemuannya dengan Budiman (Rano Karno), anak orang berada yang bertaruh dengan kawan-kawannya agar membawa pacar pada suatu pesta, adalah awal dari perubahan perjalanan hidup Supinah. Lewat liku-liku peristiwa yang dialami Supinah (tekanan germo) dan Budiman (tekanan orangtua), Budiman akhirnya mengejar ke kampung dan mengajaknya menikah. Yanti meninggal. 
#filmindonesia #filmjadul #filmlawas #bernafasdalamlumpur
MERIAM BELLINA
RANO KARNO
FAROUK AFERO
TURINO DJUNAIDY
NINA MARTINI
NYOMAN AYU LENORA
PHIRDHANIE REKSA
USBANDA
HIDAYAT
ABDUH MURSID
SALIM BUNGSU
HENKY SOLAIMAN

Rabu, 30 September 2020

RD DADANG ISMAIL 1941-1956

RD DADANG ISMAIL

RADEN DADANG ISMAIL dilahirkan di Cianjur pada tanggal 10 April 1905. Semenjak kecil ia tinggal bersama keluarga Raden Ajeng Wiarsih, Putra RAA Prawiradirdja, bupati Cianjur almarhum. Setelah tamat dengan Sekolah Rakyat I di Cianjur, ia lalu meneruskan pelajarannya di sekolah Indische Bond di Sukabumi. Tahun 1921 ia tamat juga pada sekolahan ini dan terus bekerja di penggilingan padi kepunyaan orang tuanya sendiri.

Semenak kecil ia suka kepada sport dan musik, maka tidak heran bahwa gaji-gaji yang didapatnya pada waktu itu, dan sudah boleh dianggap lebih dari cukup, masih kurang memuaskan karena dipergunakan untuk membeli barang-barang musik dan sport. Sedemikian besar minatnya kepada sport sehingga ia mulai tahun 1925 sudah mulai naik panggung untuk bergulat (worstelen). Semenjak itu boleh dipukul rata bahwa ia seringkali mengadakan pertandingan di muka umum setiap bulan satu kali, bahkan pernah sampai seminggu dua kali. Sudah tentu pertandingan-pertandingan tidak saja membawa harum namanya ke seluruh pelosok dunia sport, akan tetapi di samping itu ia juga mendapat uang karena pertandingan-pertandingan itu . Maka tidak herankalau ia lebih-lebih tergila-gila keada adu gulat itu, dan menjauhi pekerjaan sebagai buruh di kantor, pertama karena adu gulat itu ia mendapat nama, kedua ia mendapat uang, belum lagi kesenangan yang ia dapatkan, oleh karena semua itu adalah kesukaannya sendiri.

Sedemikian tergila-gilanya kepada gulat, sehingga ayahnya yang mengharap-harap bahwa sekali ia akan menggantikan pimpinan penggilangannya, melarang dia untuk memakai nama Raden Dadang Ismail di gelanggang adu gulat. Itulah sebabnya maka di bawah  program dan dunia gulat pada waktu itu kita tidak mengenal nama Raden Ismail, melainkan R Milides, yang diambil dari huruf-huruf RD Ismail. Rupa-rupanya dengan nama ini nasibnya lebih mujur. Dan ia mendapat panggilan dari mana-mana antara dari Palembang di mana ia tinggal kira-kira tiga bulan untuk diadu.

Pada waktu itu sport boksen (tinju) sudah mulai terkenal di kalangan jago-jago gulat kita, dan RD Ismail pun turut serta mempelajari sport baru ini. Tahun 1928 hasilnya ialah bahwa ia tidak saja terkenal sebagai seorang jago gulat, melainkan juga seorang jago boksen.

Tahun 1934 adalah tahun kebesaran baginya, oleh karena dalam tahun itu ia mengelilingi seluruh kepulauan Indonesia untuk mengadakan perlawanan di mana-mana.

Sekembalinya dari perjalanan ini, ia lalu mengaso dan setelah merasa bahwa tenaganya semakin lama semakin berkurang karena sudah menjadi tua, maka pada tahun 1936 ia mulai memberikan pelajaran boksen dan gulat kepada beberapa murid-murid di Jakarta.

PERLU diketahui di sini bahwa dia pernah menjadi Ketua Umum dari bagian Boksen dan Gulet Ikatan Sport Indonesia, bersama-sama dengan Zonder, Primo Usman, dll jago-jago Indonesia lagi.

Diantara murid-muridnya yang ikut pada waktu itu adalah Raden Kosasih dan Raden Mochtar. Kedua murid ini sudah menjadi bintang film pada Tan & Wong Bross Film co. Oleh karena Tan & Wong pada waktu itu sungguh-sungguh membutuhkan seorang tenaga yang pandai mendidik orang berkelahi, maka RD Ismail ditetapkan sebagai boksleraar pada perusahaan film tersebut.

Dari pelatih menjadi bintang film pada waktu itu walaupun agak susah, akan tetapi bagi bung kita rupanya tidak, dan waktu ia dibutuhkan untuk ikut bermain maka dengan senang hati ia ikut pertama dalam film “Siti Akbari” kemudian dalam “Sorga Ketujuh”, “Rukihati”, “Pusaka Terpendam”, “kuda Sembrani”, dan banyak film lain lagi, dalam mana ia selalu diberikan rol sebagai seorang jahat, yang pada zaman sekarang lajimnya disebut pengacau.

Semasa kependudukan Jepang, iapun telah ikut bermain dalam beberapa film, antaranya “Kesebrang”.

Kalau revolusi sedang meluap di Jakarta, pada waktu tiap malam kamp-kamp Nica digempur  di sana-sini, maka bung Ismail kita terdengar pernah ikut menggempur Kamp jaga Monyet bersama beberapa jago tinju Jakarta juga. Setelah itu, karena merasa kurang aman, katanya ia pulang ke Cianjur. Dari Bung Ismail sendiri kita mendengar bahwa Ia pernah ditawan Belanda 3 kali. Mungkin karena ini, maka merasa ia lebih aman kalau kembali lagi ke Jakarta untuk mengerjakan lagi pekerjaannya sebagai boksleraar pada perusahaan film tan & Wong.

Tahun 1948 kita lihat ia muncul kembali d “Air Mata Mengalir di Citarum”, masih juga sebagai seorang jahat, dan kali ini mengejar-ngejar Sofia, akan tetapi dalam “Bengawan Solo” kita lihat ia menjadi serang hartawan tua, dermawan dan seorang yang bijaksana. Di “Bantam” kembali lagi ia memegang peran buruk, begitu juga di “Terang Bulan”, dan waktu itu kelihatan seperti ia tidak akan dapat melepaskan dirinya dari peran-peran jahat. Dengan Remong Batik (di sini ia bermain sebagai dokter)  dan Kembang Katjang (disini ia bermain sebagai Komik) ia dapat membuktikan bahwa sebetulnya dia pandai juga bermain rol-rol lain.

Kini ia sedang siapkan permainannya dalam “Pantai Bahagia” “Siti Aminah”, dan “Fadjar Menjingsing”, tiga produksi kepunyaan Tan & Wong sedangkan di samping itu, filmnya sebagai Minakjinggo di “Damarwulan” pada Bintang Film Coy sudah selesai.

Kini Rd Ismail beristri S Sadiah, juga seorang pemain tetap pada Tan & Wong Bross. Istri pertamanya S Hadidjah, dengan siapa ia kawin pada tahun 1926, telah meninggal pada 1942. Dengan S Sadiah ia mendapat 2 anak perempuan. (***)

DENDANG SAJANG1953S. WALDY
Actor
MALU-MALU KUTJING 1954 S. WALDY
Actor
DJANDJIKU DJANDJIMU 1954 RD DADANG ISMAIL
Actor Director
BENGAWAN SOLO 1949 JO AN TJIANG
Actor
KEMBANG KATJANG 1950 HENRY L. DUARTE
Actor
KORUPSI 1956 RD ARIFFIEN
Actor
MUSAFIR KELANA 1953 S. WALDY
Actor
KOEDA SEMBRANI 1941 WONG BERSAUDARA
Actor
FADJAR MENJINGSING 1951 RAMLI RASJID
Actor
MAS KAWIN 1952

Actor
BULAN PURNAMA 1953 HENRY L. DUARTE
Actor
SENEN RAJA 1954 S. WALDY
Actor
BANTAM 1950 WONG BERSAUDARA
Actor
ABUNAWAS 1953 RD DADANG ISMAIL
Director
REMONG BATIK 1950 HENRY L. DUARTE
Actor
MUSTAFA DAN TJINTJIN WASIATNJA 1953 RD DADANG ISMAIL
Director
DAMARWULAN 1950 FRED YOUNG
Actor
TIRTONADI 1950 HENRY L. DUARTE
Actor
EULIS ATJIH 1954 RD ARIFFIEN
Actor
RODA DUNIA1950HENRY L. DUARTE
Actor

ABUNAWAS / 1953

 ABUNAWAS

Bermacam ulah dilakukan oleh Abunawas, yang konon hidup di masa pemerintahan Harun al Rasid. Dalam film ini dikemukakan antara lain bagaimana Abunawas tidak mau jadi kadi, lantas berpura-pura gila.

 ARDJUNA FILM COY


Z. GANGGA
S. WALDY
EMMA GANGGA
WISJNU MOURADHY
DAMPU AWANG
ELLYA ROSA
ZUBAIDA
W.D. MOCHTAR
SUHAIMI

DJANDJIKU DJANDJIMU / 1954

DJANDJIKU DJANDJIMU 

Hayati (Sri I. Uniati) saling janji untuk sehidup semati dengan Surya (Amran S. Mouna). Walau sebetulnya anak bangsawan, tapi Hayati dipungut anak oleh seorang mandor, pak Sastra (Husien). Karena terlibat hutang pada lintah darat Salim (S. Poniman), pak Sastra terpaksa menyetujui usul si lintah darat itu. Hutang bebas, asal Hayati untuk Salim. Tentu saja Hayati menolak, meski ayahnya ngamuk. Bu Sastra (Sulastri) menyuruh Hayati pergi untuk mencari ayah kandung, yang konon telah jadi wedana (Rd Dadang Ismail). Sementara itu Surya telah jadi seorang dokter. Maka, tak ada lagi halangan bagi Hayati dan Surya untuk memenuhi janji mereka.

 ARDJUNA FILM COY


SRI I. UNIATI
AMRAN S. MOUNA
DJURIAH
PAULINA ROBOT
S. PONIMAN
RD DADANG ISMAIL
HUSIEN
SULASTRI
SUHAIMI

Minggu, 13 September 2020

KUMALA DEWA DEWI / 1952

KUMALA DEWA DEWI

  Film ini di sutradarai oleh

Dua tukang sihir, Lahab dan Zambia berhasil memporak-porandakan kerajaan. Raja dibikin tertarik pada wanita jelmaan Zambia. Permaisuri dan para pembantu dekat dibuang ke hutan. Belakangan juga dua khadam. Di hutan kedua khadam bertemu dengan permaisuri. Datang pertolongan dari orang suci yang memberi mereka batu sakti "kumala dewa dewi". Permaisuri dan pengikut setianya merebut kembali istana. Tentu saja sesudah terlebih dulu permaisuri menjelmakan diri sebagai pangeran Akhmadsyah.

BINTANG SURABAJA
ASIATIC FILM COY


ROOSTIJATI
NUR HASANAH
KUNTJUNG
SALEH
CHAIDAR DJAFAR
DJONI SUNDAWA
BOES BOESTAMI

Rabu, 02 September 2020

A. CANON (1951)

A. CANON

MEREBUT KASIH1951A. CANON
Director
PEMBALASAN 1951 A. CANON
Director



Selasa, 01 September 2020

ONG KING HAN (1953-1955)

 ONG KING HAN

KASSAN1953ONG KING HAN
Director
KISAH TUDJUH BIDADARI 1953 ONG KING HAN
Director
KALAU DJODOH MASA KEMANA 1955 ONG KING HAN
Director

KALAU DJODOH MASA KEMANA / 1955

KALAU DJODOH MASA KEMANA 


 SURABAJA FILM COY


BAMBANG HERMANTO
NANY ROCHIMAT

KISAH TUDJUH BIDADARI / 1953

 KISAH TUDJUH BIDADARI

Waktu Raja ke luar negeri, putri Mawar Putih (Paulina Robot) dibuang oleh permaisuri Maja (Mien Sondakh) sekaligus ibu tirinya. Namun Mawar Putih selalu dilindungi tujuh bidadari, Pertolongan datang. Sekali waktu putri sakit, hingga diutuslah dua pesuruhnya (Poniman, Kuntjung) ke istana. Belum sampai ke tujuan, kedua utusan dikejar-kejar pengawal, hingga sampai ke tempat persembunyian putri. Tahulah raja di mana anak kesayangannya. Putri kembali ke Istana.

 GOLDEN ARROW
DJAKARTA FILM


MIEN SONDAKH
S. PONIMAN
KUNTJUNG
M. ARIEF
SALIM HAMID
PAULINA ROBOT

KASSAN / 1953

 KASSAN

 ASIATIC FILM COY
BINTANG SURABAJA FILM

 MOH ARIEF
MIEN SONDAKH
R. SUKARNO
AMRAN S. MOUNA

MOH ARIEF (1951-1955)

 MOH ARIEF

Dia memulai membuat film di tahun 1951, Hidup Baru, lalu menjadi aktor di film Kassan tahun 1953, lalu membuat film lagi di tahun 1955, Mata Duitan. Ternyata hidupnya bukan di dunia film dan peran.

MATA DUITAN1955MOH ARIEF
Director
KASSAN 1953 ONG KING HAN
Actor
HIDUP BARU 1951 MOH ARIEF
Director

HIDUP BARU / 1951

 HIDUP BARU

Di masa revolusi fisik, Mukahar (Rd Mochtar) menikah dengan gadis desa Marsih (Netty Herawati). Sesudah Indonesia berdaulat penuh (1950) Mukahar dan isteri pindah ke kota, namun tetap hidup sederhana seperti masih di desa. Hal itu membikin ayahnya (A. Hadi) marah. Sang ayah memaksa Mukahar agar menikah dengan Suprapti (Komalasari), gadis kota. Marsih dipersilahkan pulang ke desa, tapi dibela oleh ibu Mukahar (Sukarsih). Nyatanya pilihan ayah meleset, nurani sang ibu lebih tepat. Suprapti meninggalkan Mukahar dalam keadaan sakit. Sedangkan Marsih secara diam-diam membantu biaya pengobatan Mukahar hingga sembuh. Tentu saja Mukahar kembali bersatu dengan Marsih.

 PERSARI


RD MOCHTAR
NETTY HERAWATI
KOMALASARI
SUKARSIH
A. HADI

MATA DUITAN / 1955

 MATA DUITAN

 ARDJUNA FILM COY


NUR HASANAH
W.D. MOCHTAR

Rabu, 26 Agustus 2020

KEBAJA FANTASI 1954

 KEBAJA FANTASI

S. WALDY memakai nama Fata Djelata

Muljono menaruh hati pada Susilowati, yang digelari si "Kebaya Fantasi", tapi tak direstui Dahlan, ayah Susilowati. Muljono cuma sopir, sedangkan sebagai pengusaha bengkel mobil, Dahlan ingin menantu yang kaya pula. Dahlan telah mencalonkan si "Kebaya Fantasi" itu dengan Darwis, anak orang kaya. Padahal Darwis ditaksir Siti, seorang wanita-bandit. Gara-gara Siti, Darwis ditangkap polisi. Ia terlibat perampokan yang diotaki Siti. Tak ada lagi halangan bagi Muljono untuk mendampingi Susilowati. Apalagi ternyata Dahlan membuka usaha bermodalkan harta Amijaya, ayah Muljono, yang selama ini dicari-carinya.

PANDJI SEMIRANG 1953

 PANDJI SEMIRANG 

Film ini S.Waldy memakai nama Fata Djelata

Liku, selir kesayangan Raja Daha, meracuni permaisuri, hingga ia bisa jadi permaisuri bernama Djaganaga. Kemudian ia merancang muslihat agar putrinya, Galuh Adjeng, bisa dijodohkan dengan Pangeran Inu Kertapati, tunangan, Tjandra Kirana, putri mendiang permaisuri. Hasilnya, Inu Kertapati melupakan Tjandra Kirana.

Inu juga diperintah ayahnya, Raja Kuripan, untuk mengirim boneka emas yang dibungkus kain buruk dan boneka perunggu yang dibungkus kain sutra. Djaganaga mengambil boneka terbungkus sutra dan diberikan kepada putrinya. Galuh marah ketika tahu Tjandra Kirana bermain dengan boneka emas. Galuh berusaha merebut boneka emas itu. Raja memerintahkan Tjandra menyerahkan boneka emasnya pada Galuh.

Tjandra meninggalkan istana dan masuk hutan. Di sana ia mendirikan kerajaan baru dan mengumpulkan pasukan untuk mengganggu Daha. Ia selalu mengenakan pakaian pria dan menamakan dirinya Pandji Semirang. Raja Daha mengirimkan pasukannya untuk membasmi pasukan Pandji Semirang yang dibantu Inu Kertapati. Setelah mengalahkan pasukan ayahnya, Tjandra dan Inu nikah.

Selasa, 25 Agustus 2020

RAMLI RASJID 1942-1957

RAMLI RASJID

 Ramli Rasjid, Ramly Rasjid


Pada tahun 1935, Ramli terjun dalam dunia film sebagai pemain antara lain dalam film "Sorga Ketujuh" produksi 1941 Tan & Wong Bros Film. Dalam masa pergolakan revolusi 1945 dia aktif dalam kegiatan bawah tanah. Pernah ditangkap dan ditahan di Glodok selama 5 bulan. Pulang dari tahanan, karena tidak ada kegiatan film (1950), ia kembali berdagang. Tapi karena tidak bermodal, merantau ke Jawa Tengah mengikuti sandiwara "Dewi Mada" sampai 1951, sebagai pemain terompet. Lalu ke Jakarta ikut "Tjahaja Timur" di bawah pimpinan Andjar Asmara. Tahun ` 1954 Ramli kembali ke film sebagai pemain di bawah sutradara Nawi Ismail. Film-filmnya : "Mobil Baru" (1955), "Tiga Pendekar Teruna" (1952).Film film yang disutradarainya: "Gara Gara Mobil Baru", produksi Tjendrawasih (1953), "Empat Pendekar" (1954). Dalam dunia film Ramli Rasjid juga pernah sebagai illustrator musik dan penulis skenario.
   

TERNODA 1952 JO AN DJAN
Actor
AJATI 1954 RAMLI RASJID
Director
BERMAIN API 1957 RAMLI RASJID
Director
SELENDANG PELANGI 1951 RAMLI RASJID
Director
PERKASA ALAM 1954 M. ARIEF
Actor
FADJAR MENJINGSING 1951 RAMLI RASJID
Director
GARA-GARA MOBIL BARU 1955 RAMLI RASJID
Director
MR. X 1955 HASAN BASRY RM
Actor
TIGA PENDEKAR TERUNA 1952 RAMLI RASJID
Actor Director
POELO INTEN 1942

Actor

Rabu, 19 Agustus 2020

HASAN BASRY RM 1955-1960

 HASAN BASRY RM 

PERISTIWA SURABAJA GUBENG1956DJOKO LELONO
Director
GATOTKATJA KROMO 1960 HASAN BASRY RM
Director
MR. X 1955 HASAN BASRY RM
Director

GATOTKATJA KROMO / 1960

GATOTKATJA KROMO 

 Berbahasa Jawa. Pengambilan gambar dilakukan dengan cara "playback".


BASUKI FILM


GRUP W.O. TJIPTO KAWEDAR

MR. X (UANG PALSU) / 1955

 MR. X

 BUDHAYA FILM


 MUNI CADER
DELIANA
WAHID CHAN
JUSMAN
RAMLI RASJID
ANAS S. BEY

Selasa, 18 Agustus 2020

PERAN SENIMAN DALAM REVOLUSI KEMERDEKAAN

Tak sedikit dari seniman, terutama yang bergelut di panggung dan film, ikut serta dalam perjuangan itu.

Seniman Panggung
Selepas proklamasi, perkumpulan-perkumpulan sandiwara banyak yang mengadakan pertunjukan keliling, untuk mengobarkan semangat kemerdekaan. Bakri Siregar dalam tulisannya di Mimbar Indonesia edisi 4 Juni 1949, menyebut rombongan sandiwara Pantjawarna, Bintang Timoer, Warnasari, PPPI (Pusat Peredaran Pilem Indonesia), dan Seniman Merdeka yang berkeliling menebarkan semangat kemerdekaan.

Mulai 1947, usaha sandiwara mengalami masa suram. Bakri Siregar memberikan sedikit gambaran tentang situasi beberapa perkumpulan sandiwara pada masa ini. Menurutnya, Pantjawarna menetap di Yogyakarta, Bintang Soerabaja mencari ”lapangan” di kota-kota kecil sekitar Yogyakarta, Dewi Mada “tertahan” di Cirebon. Kemungkinan, selain Agresi Militer Belanda I, perkumpulan-perkumpulan ini kehabisan dana untuk mengadakan pertunjukan keliling, seperti yang pernah mereka lakukan pada masa pendudukan Jepang. Wajar saja. Saat masa Jepang, mereka disokong habis-habisan, untuk mengadakan pementasan propaganda.

Ada sejumlah tokoh sandiwara yang cukup menonjol perannya di masa revolusi kemerdekaan. Salah satunya Dewi Dja. Primadona rombongan sandiwara Dardanella yang populer dan besar pada masa Hindia Belanda itu, menetap di Amerika Serikat, usai perjalanan keliling negara Asia dan Eropa bersama rombongannya pada 1936. Pada 1947, Dja bersua sejumlah tokoh politik nasional, Sutan Sjahrir dan Agoes Salim.

Dja bahagia, akhirnya Indonesia merdeka. Meski menetap di Amerika, dan sudah menyandang kewarganegaraan Paman Sam pada 1951, artis Indonesia yang pertama kali bermain di sejumlah film Hollywood itu tetap cinta negerinya. Dalam sebuah kesempatan, Dja ikut bersama para pemuda yang berdemonstrasi di depan kantor PBB di New York, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Kisah tadi ditulis apik oleh Ramadhan KH, dalam bukunya Gelombang Hidupku; Dewi Dja dari Dardanella (1982). Selain Dewi Dja, seniman peranakan Tionghoa mantan kolega Dja di Dardanella, Tan Tjeng Bok memiliki peran dalam usahanya mengumpulkan dana untuk perang kemerdekaan. Disebutkan di majalah Djaja, edisi 18 September 1965, ketika menetap di Bojonegoro, Tjeng Bok merupakan pemimpin bagian kesenian Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BEPRI) pimpinan Bung Tomo.

Tugas Tjeng Bok dan kelompoknya adalah menghibur para pejuang di garis depan. Selain itu, ia membentuk kelompok sandiwara bernama “Merdeka”, untuk menghimpun dana bagi gerilyawan. Uniknya, Tjeng Bok merekrut tukang sayur, pedagang kecil, tukang sate, dan pengangguran untuk dijadikan para pemain sandiwaranya. Alatnya pun seadanya. Hasil pertunjukan, disumbangkan kepada para pejuang.

Kebencian Tjeng Bok kepada Belanda sesungguhnya dipupuk oleh rasa dendam pribadi. Di usia 13 tahun, dirinya pernah ditampar komisaris polisi Belanda, kala sedang kalang-kabut memikirkan nasib ibu angkatnya yang terancam tatkala terjadi kebakaran hebat di dekat rumahnya di Ciwaringin, Bandung.

Geramnya komisaris polisi Belanda itu bukan tanpa alasan. Disebutkan dalam Selecta, 10 September 1964, amarah komisaris polisi Belanda disebabkan lantaran Tjeng Bok tak sengaja menginjak selang pipa pemadam kebakaran. Beruntung, ibu angkatnya selamat dari peristiwa kebakaran itu. Kesadaran Tjeng Bok, yang sangat produktif bermain film pada 1950-an hingga 1984 itu, sesungguhnya dipupuk saat ia menjadi anggota rombongan sandiwara Dardanella, pada masa Hindia Belanda.

 Dardanella sendiri sudah menggunakan bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa persatuan dalam pertunjukan mereka, yang ditegaskan dalam peristiwa kongres pemuda pada 1928. Dardanella terbentuk pada 1926. Menurut Dja, dalam buku Gelombang Hidupku; Dewi Dja dari Dardanella, Dardanella juga sudah memelopori persatuan bangsa. Dardanella adalah wujud dari Indonesia kecil, begitu katanya. Di dalam rombongan ini, terdapat bintang-bintang yang berasal dari berbagai etnis, tapi disatukan dengan bahasa yang sama.

Terkait tertangkapnya Soekarno dan sejumlah tokoh pergerakan pada 1930, juga menjadi bahan diskusi anggota Dardanella. Menurut Dja, pemimpin Dardanella yang orang Rusia, A.Piedro, sangat hormat terhadap perjuangan Soekarno dan kawan-kawannya. Piedro pernah berkata kepada salah seorang anggota Dardanella, Astaman, “Perjuangan tak akan berhenti. Biar ia ditangkap sekalipun, perjuangan kemerdekaan ini tak akan berhenti. Pasti ada yang melanjutkan.”

Pidero sendiri, menurut Selecta, 10 September 1964, adalah pelarian dari Uni Soviet usai jatuhnya Tsar Nicholas II pada 1918. Cukup aneh. Padahal Piedro mengaku sebagai seorang komunis tulen.

Orang-orang Film
Orang film pun ikut berjuang ketika Indonesia merdeka. Menurut H. Asby dalam tulisannya berjudul “7 Tahun Merdeka, Sampai di Mana Hasil Film Indonesia?” dalam majalah Aneka edisi 1 September 1952, para bintang film di masa revolusi ikut angkat senjata.

Perjuangan orang film diletupkan dengan mengambil alih studio film di daerah Bidaracina, Jakarta. Studio, yang akhirnya menjadi gedung Perum Produksi Film Negara (PPFN) itu, menurut Asby, diserbu para artis film usai proklamasi kemerdekaan.
Asby pun mengisahkan soal perjuangan artis film di medan perang dalam tulisannya itu.

Saja masih ingat. Disaat itu banjak kaum artisten film kita jang kemudian turut serta beraksi dimedan kuru. Para bintang film memanggul sendjata. Para cameramen dan teknisi jang lain ikut serta berdjuang sepandjang kemampuan masing-masing. Kesemuanja mereka angkat sendjata memberantas pengatjau kemerdekaan tanah air dan bangsa,” tulis Asby.

Djoemala, seorang artis film sebelum masa pendudukan Jepang, diketahui dari buku Apa dan Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (1979) juga ikut angkat senjata saat revolusi. Selain Djoemala, ada nama Usmar Ismail, mantan penulis drama dan pendiri rombongan sandiwara Maya di masa Jepang yang kelak menjadi sutradara terkenal. Ketika ibu kota pindah ke Yogyakarta, karena Jakarta berhasil dikuasai pasukan Sekutu, Usmar Ismail direkrut Zulkifli Lubis dari Bagian V, Intelejen dan Propaganda. Pangkat Usmar Mayor TNI.

Namun, anehnya, meski ikut berjuang, saat Belanda mengaktifkan studio film South Pacific Film Corp (SPFC) pada 1948, Usmar ikut di dalamnya. Usmar muncul di produksi ketiga studio ini, Gadis Desa, sebagai asisten sutradara Andjar Asmara. Ia menjadi asisten sutradara di studio milik Belanda itu, usai keluar dari penjara Cipinang. Usmar diciduk Belanda setelah meliput Perjanjian Renville pada 1947. Is dibebaskan atas jaminan dari Chairil Anwar.

 Kenapa Usmar ikut di dalam studio bentukan Belanda? Menurut Misbach Yusa Biran dalam bukunya Film Indonesia 1900-1950; Bikin Film di Jawa (2009), ia berada di Jakarta setelah keluar dari penjara, karena desakan kawan-kawan sesama seniman di Jakarta dan Yogyakarta. Alasannya, demi perjuangan. Setelah Andjar angkat kaki, Usmar naik jadi sutradara. Ia sempat menyutradarai Tjitra (1949) dan Harta Karun (1949). Setelah itu, ia mengundurkan diri. Namun, Usmar tak pernah mengakui dua film itu adalah karyanya. Ia hanya mengakui Darah dan Doa (1950) sebagai karyanya yang perdana. Alasannya, seperti dikutip dari buku Katalog Film Indonesia 1926-2007 karya JB Kristanto, karena penulisan dan pembuatannya terlalu ditekan produser, yang tak selalu ia setujui.

Artis lain yang cukup fenomenal adalah Ratmi B29 mungkin yang paling fenomenal. Pemain film era 1970-an dan komedian ini ikut mengangkat senjata di masa perang kemerdekaan. Kisah heroik Ratmi pernah ditulis Tempo edisi 14 Januari 1978. Di masa revolusi fisik, artis dengan nama asli Suratmi itu masuk dalam Barisan Srikandi/Laswi dan anggota staf Batalyon Brigade D/X-16 di Jawa Tengah. Pangkatnya sersan dua. Ia tercatat pula memiliki tanda jasa berupa Bintang Gerilya, SLPK I dan II, serta GOM I dan V. Wafat karena serangan jantung pada 31 Desember 1977 di Makassar, Ratmi akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta. Ia satu-satunya artis yang bersemayam di sana.

Seniman, tak hanya bisa menghibur di atas panggung. Perannya dalam sejarah bangsa ini terbilang cukup penting, meski jarang disorot. Di masa Hindia Belanda, mereka murni penghibur. Di masa Jepang, mereka dijadikan corong untuk menebar propaganda pemerintah fasis Jepang. Di masa revolusi, mereka ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan.