Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Krakatau. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Krakatau. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

KRAKATAU / 1977

 
 
Somad (Dicky Zulkarnaen), dan Biang Terona (Rd. Mochtar) diutus guru silatnya dari Perguruan Krakatau, untuk mencari murid pembangkang perguruan, Bodin (WD Mochtar), ayah Somad sebenarnya. Bodin ini berhasil menikahi istri tuan tanah dan merebut kekayaannya. Dia menjadi zalim. Lebih-lebih anak mereka, Tirta (Awang Darmawan), yang berhasil menggeser kedudukan Surya (Muni Cader), sebagai pewaris kekayaan. Surya adalah anak ibu Tirta dengan suami terdahulu. Akhirnya Bodin kalah ditangan Biang Terona, dan Somad mengakui bahwa Bodin itu ayahnya. Film usai dengan meletusnya Gunung Krakatau.

Selasa, 21 Juni 2011

KOSNEN 1971-1977



Lahir di Bukittinggi. Meninggal di Jakarta. Pendidikan: Lulus MULO (SLP) di tahun 1936.Kosnen mula mula bekerja sebagai mon-tir tenun pada pabrik "Balairung". Se-mentara bekerja ia juga mengikuti kur-sus bahasa Inggeris. Pekerjaan montiritu dipegangnya sampai tahun 1945, tapipada masa pendudukan Jepang ia men-jadi Juru Penerangan dan Pengawas darikantor "Toa Kotsu Kosya" (Kantor LaluLintas Asia Timur). Ini berkat kepan-daiannya berbahasa Jepang yang dipelajarinya selama dua tahun. Baru pada tahun 1946 Kosnen terjun ke dunia fotografi dan memiliki foto studio sendiri. Pada tahun 1953 ia pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai Pembantu Juru Kamera di Studio PERFINI. Tahun 1954 Kosnen sudah dipercayai menjadi Juru Kamera penuh untuk produksi produksi luar yang mempergunakan studio PERFINI. Produksi PERFINI yang pertama dikerjakan adalah "Lahirnya Gatot Katja" (I960).Sejak tahun 1970 ia menjadi tenaga lepas. Hingga kini telah lebih dari 50 film yang pernah dikerjakannya. Diantara karyanya adalah film "Masa Topan dan Badai" (1963), "Ratapan Anak Tiri" (1973), "Krakatau" (1977), "Jalur Penang" (1978), dll.
 
NJANJIAN AIR MATA 1972 DJAMAL HARPUTRA Director Of Photography
TIMANG-TIMANG ANAKKU SAYANG 1973 SANDY SUWARDI HASSAN Director Of Photography
TJISDANE 1971 ASKUR ZAIN Director Of Photography
JALUR BALI 1977 SOENDJOTO ADIBROTO Director Of Photography
RATAPAN SI MISKIN 1974 SANDY SUWARDI HASSAN Director Of Photography
RATAPAN DAN RINTIHAN 1974 SANDY SUWARDI HASSAN Director Of Photography
RATAPAN ANAK TIRI 1974 SANDY SUWARDI HASSAN Director Of Photography
TIADA WAKTU BICARA 1974 SANDY SUWARDI HASSAN Director Of Photography
KRAKATAU 1977 SANDY SUWARDI HASSAN Director Of Photography
GARA-GARA GILA BUNTUT 1977 SANDY SUWARDI HASSAN Director Of Photography
INTAN PERAWAN KUBU 1972 A.N. ALCAFF Director Of Photography
PENASARAN 1977 A. HARRIS Director Of Photography.

Rabu, 25 Juli 2012

SANDY SUWARDI HASSAN / 1962-1993

 

Lahir Jumat, 22 Maret 1929 di Lampung. Meninggal dunia Sabtu, 03 Pebruari 1996 di Jakarta. Pendidikan : SMA (tidak selesai) Aktor yang biasanya membawakan peran kasar ini, pernah merasakan kerja jadi kenek dan montir keliling. Gemblengan langsung dari Usmar Ismail ini mulai terjun ke film dengan jadi figuran dalam Djanjiku (1956). Merebut gelar Mr. Romeo, lalu punya saham dalam filmnya (sebagai pemain), Anak Perawan Disarang Penyamun (1962, Perfini.) Baru pada tahun 1970 ia buat perusahaan sendiri, Indonesia Film Production. Dalam Rakit memang tidak main, tetapi memegang 4 jabatan, produser, sutradara, pengarang cerita dan penulis skenario. Lewat Serayu Agung Jaya sempat merasakan nikmat komersial lewat Ratapan Anak Tiri (1973). Lewat film tersebut juga melejitkan nama anaknya, Faradilla Sandy. Setelah menyutradarai Krakatau (1977), ia menghilang sebentar lalu kembali lagi untuk menyutradarai Ratapan Anak Tiri II (1980). Dan untuk yang kedua kalinya menghilang lagi untuk bermukim di Sukabumi setelah menyutradarai Pengantin Remaja II (1982). Kembali lagi untuk buat film dengan produksi sendiri, Sandy Film, yang berjudul Kembali Lagi (1993).
 
 
DJAMPANG MENCARI NAGA HITAM 1968 LILIK SUDJIO
Actor
DJAMPANG 1968 LILIK SUDJIO
Actor
PELANGI DI LANGIT SINGOSARI 1972 ISHAK SUHAYA
Actor
TIMANG-TIMANG ANAKKU SAYANG 1973 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
NILA DI GAUN PUTIH 1981 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
APA SALAHKU 1976 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
SI PITUNG 1970 NAWI ISMAIL
Actor
LAKI-LAKI TAK BERNAMA 1969 WIM UMBOH
Actor
KEMBALI LAGI 1993 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
PEMBALASAN SI PITUNG 1977 NAWI ISMAIL
Actor
MANA YANG BENAR 1977 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
DI BALIK KELAMBU 1983 TEGUH KARYA
Actor
RATAPAN SI MISKIN 1974 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
RATAPAN DAN RINTIHAN 1974 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
RATAPAN ANAK TIRI III 1990 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
RATAPAN ANAK TIRI II 1980 SANDY SUWARDI HASSAN
Director Composer
RATAPAN ANAK TIRI 1974 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
KUTUKAN 1970 NAWI ISMAIL
Actor
APA JANG KAU TJARI, PALUPI? 1969 ASRUL SANI
Actor
TIADA WAKTU BICARA 1974 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
KRAKATAU 1977 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
PENGANTIN REMAJA II 1982 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
GARA-GARA GILA BUNTUT 1977 SANDY SUWARDI HASSAN
Actor Director
FAJAR YANG KELABU 1981 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
RAKIT 1971 SANDY SUWARDI HASSAN
Director
LIBURAN SENIMAN 1965 USMAR ISMAIL
Actor
PEREMPUAN HISTRIS 1976 RATNO TIMOER
Actor
DERU CAMPUR DEBU 1972 MARDALI SYARIEF
Actor
GADIS KERUDUNG PUTIH 1967 DJAMAL HARPUTRA
Actor
AWAN DJINGGA 1970 LILEK SUDJIO
Actor
JIN GALUNGGUNG 1982 RATNO TIMOER
Actor
IMPAS 1971 SANDY SUWARDI HASSAN
Actor Director
BAJANGAN DIWAKTU FADJAR 1962 USMAR ISMAIL
Actor
TANGAN-TANGAN JANG KOTOR 1963 SOENDJOTO ADIBROTO
Actor
MATAHARI PAGI 1968 BAMBANG IRAWAN
Actor
MINAH GADIS DUSUN 1966 S. WALDY
Actor
NJI RONGGENG 1969 ALAM SURAWIDJAJA
Actor

Selasa, 18 Desember 2012

DEBBY CYNTHIA DEWI (Perawan, Tiada Jalan Lain)

DEBBY CYNTHIA DEWI



Tahun 1972 ikut bermain dalam film Tiada Djalan Lain besutan sutradara Hasmanan. 
Debby beradegan panas dengan aktor Mandarin Alan Teng Kuang Yung. Debby juga tampil menggoda dalam film silat Krakatau (1977). Dia muncul berani di Intan Perawan Kubu.

Debbie adalah anak dari aktor S. Bono dari pernikahannya dengan seorang wanita Manado yang bernama Dorothea Tambajong yang merupakan sepupu dari aktris Marleentje Tambajong atau yang dikenal sebagai Rima Melati. Ketika ia masih kecil orang tuanya bercerai, S. Bono kemudian menikahi aktris Lies Permanasari yang kelak melahirkan aktris Rini S. Bono (mantan istri penyanyi rock Ahmad Albar). Ibunda Debbie sendiri setelah bercerai dari S. Bono menikah lagi dengan seorang pria berdarah Indo Manado keturunan Yahudi, dan Debbie menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di Bandung di mana ia diasuh dan dibesarkan oleh ibu dan ayah tirinya.

PUKULAN BERANTAI                            1977SYAMSUL FUAD
                  Actor
PENANGKAL ILMU TELUH1979S.A. KARIM
Actor
NAFSU BESAR TENAGA KURANG 1977 B.Z. KADARYONO
Actor
DEWI MALAM 1978 EDDY SAJOEDIE
Actor
PINTAR-PINTAR BODOH 1980 ARIZAL
Actor
ANAK-ANAK TAK BERIBU 1980 MAMAN FIRMANSJAH
Actor
PERAWAN MALAM 1974 BAY ISBAHI
Actor
BUNGA CINTA KASIH 1981 DANU UMBARA
Actor
TABAH SAMPAI AKHIR 1973 LILIK SUDJIO
Actor
ANAK YANG MENDERITA 1974 DJAMAL HARPUTRA
Actor
CEWEK-CEWEK PELAUT 1988 IMAM PUTRA PILIANG
Actor
CEWEK JAGOAN BERAKSI KEMBALI 1981 DANU UMBARA
Actor
LIMA CEWEK JAGOAN 1980 DANU UMBARA
Actor
AULA CINTA 1977 ARIZAL
Actor
PERCINTAAN 1973 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
SI GENIT POPPY 1978 JOPI BURNAMA
Actor
DISKOTIK D.J. 1990 DHANY FIRDAUS
Actor
COWOK KOMERSIL 1977 ARIZAL
Actor
CUBIT-CUBITAN 1979 MAMAN FIRMANSJAH
Actor
KARENA DIA 1979 NICO PELAMONIA
Actor
BALADA CEWEK JAGOAN 1986 EDDY G. BAKKER
Actor
SUSUK 1989 IMAM PUTRA PILIANG
Actor
CINTA REMAJA 1974 LILEK SUDJIO
Actor
TIADA JALAN LAIN 1972 HASMANAN
Actor
TIADA SEINDAH CINTAMU 1977 DASRI YACOB
Actor
KRAKATAU 1977 SANDY SUWARDI HASSAN
Actor
BUNGA ROOS 1975 FRED YOUNG
Actor
GARA-GARA 1973 WISJNU MOURADHY
Actor
SRIGALA JALANAN 1990 DHANY FIRDAUS
Actor
FAJAR YANG KELABU 1981 SANDY SUWARDI HASSAN
Actor
BANDIT-BANDIT INTERNASIONAL 1977 F. SUTRISNO
Actor
CATATAN HARIAN SEORANG GADIS 1972 NYA ABBAS AKUP
Actor
MISTIK 1981 TJUT DJALIL
Actor
MEKAR DIGUNCANG PRAHARA 1987 HASMANAN
Actor
PUTRI SOLO 1974 FRED YOUNG
Actor
GAUN HITAM 1977 ALI SHAHAB
Actor
TUYUL EEE KETEMU LAGI 1979 LILIK SUDJIO
Actor
TUYUL 1978 BAY ISBAHI
Actor
MARTINI 1978 M. SHARIEFFUDIN A
Actor
REMANG-REMANG JAKARTA 1981 LUKMANTORO DS
Actor
SARAH 1974 BONO PARTOSANJOYO
Actor
MUTIARA 1977 FRANK RORIMPANDEY
Actor
MUSTIKA PEMIKAT 1990 IKSAN LAHARDI
Actor
MUSTIKA IBU 1976 WISJNU MOURADHY
Actor
KETIKA SENYUMMU HADIR 1991 SOPHAN SOPHIAAN
Actor

Sabtu, 05 Februari 2011

MISBACH JUSA BIRAN / 1962-1970



Profesi:
Wartawan, Pencatat skrip, Pembantu Sutradara, Penulis Skenario,

Ketua Redaksi Mingguan Abadi ( 1958 -1960),

Ketua Redaksi Majalah Purnama (1962- 1963),

Redaktur Duta Masyarakat (1964-1965),

Redaktur Abad Muslimin (1966),

Anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968-1981),

Anggota Dewan Film Nasional (1969-1970)

Pengajar tetap pada Akademi Sinematografi LPKJ/IKJ untuk mata kuliah Sejarah Film Indonesia dan Teknik Penulisan Skenario (1971-1995),

Ketua I Ikatan

Karyawan Film & Televisi

(1972-1975),

Wakil Direktur TIM Bidang Artistik (1973-1975)

Kepala Sinematek /Pusat Dokumentasi Film Usmar Ismail (1975-2005)

Ketua Umum Ikatan

Karyawan Film & Televisi

(1978-1984 & 1987-1991),
Direktur Pelaksana DKJ (1980-1981),





MISBACH JUSA BIRAN

Lahir Jumat, 22 September 1933 di Rangkasbitung
Mengecap pendidikan di Taman Siswa . Sejak beberapa tahun lalu, ia menikmati masa pensiun sebagai Kepala Sinematek (Pusat Dokumentasi Film Usmar Ismail) yang di emban sejak Oktober 1975. Awalnya Misbach lebih dikenal sebagai sutradara dan penulis skenario.

Misbach, aktif dibidang penyutradaraan sandiwara sejak masih sekolah di tahun ’50-an’. Termasuk salah seorang seniman Senen’ yang membukukan kisah-kisah temannya (orang-orang film dan sandiwara) di bawah judul Keajaiban di Senen Raya”dan Oh Film.

Masa mudanya pernah aktif sebagai wartawan disamping kegiatannya dalam dunia film, dimulai sebagai pencatat skrip untuk film Putri Dari Medan”tahun 1954 yang dibintangi oleh Titien Sumarni, dengan sutradara D. Djajakusuma. Setahun kemudian mendapat kepercayaan untuk menjadi pembantu sutradara dalam Tamu Agung”di tahun 1955 yang disutradarai Usmar Ismail. Lalu lebih banyak bekerja sama dengan sutradara Wim Umboh sebagai co-sutradara dan pengarang cerita/penulis skenario. Dimulai dengan Istana Jang Hilang”tahun 1960, kemudian Djumpa Diperjalanan”tahun 1961, Bintang Ketjil”tahun 1963, yang sukses komersil, Matjan Kemajoran”tahun 1965,”…Bunga-bunga Berguguran”tahun 1970, Biarlah Ku Pergi”tahun 1971.

Misbach Jusa Biran juga menyutradarai film misalnya ‘Pesta Musik Labana”tahun 1959, Holiday in Bali”tahun 1962, film berwarna produksi Persari bekerjasama dengan perusahaan“Sampaguita”/Philipina. Operasi X”ditahun 1968 cerita tentang penumpasan G. 30. S/PKI, dan lain-lain. Terpilih sebagai Sutradara Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional tahun 1967 untuk karyanya Dibalik Tjahaja Gemerlapan”yang dibuat tahun 1966 dan Penulisan Cerita Terbaik Menjusuri Djedjak Berdarah”tahun 1967.

Misbach menolak menyutradarai setelah timbul musim ‘film seks diawal thun ’70-an. Karena, film seks dipandang kurang etis. Ia hanya bersedia menulis skenario, Romansa”tahun 1970, Samiun dan Dasima” tahun 1970, Bandung Lautan Api”tahun 1974, Krakatau”tahun 1976, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”tahun 1977.

Sesudah menyelesaikan, Honey, Money, and Djakarta Fair”di tahun 1970 dimana istrinya NaniWidjaja menjadi peran utama, Misbach lebih banyak memusatkan pikiran dalam Pusat Dokumentasi Film yang kemudian dikenal sebagai Sinematek Indonesia, Pusat Perfilman H.Usmar Ismail. Predikat ‘haji’ diperolehnya sejak ikut membantu sutradara Asrul Sani menyelesaikan film cerita tentang haji berjudulTauhid”pada tahun 1964.


Resep Skenario dari Misbach
Ada tanggung jawab sosial dalam membuat film dan menulis skenario. Bakat bagian yang sangat menentukan keberhasilannya.

Tahun 1970-an, film Indonesia sedang terkena wabah pornografi. Rahayu Efendy menjadi simbol seks ketika tampil bugil dengan Dicky Soeprapto dalam Tante Girang (1974). Suzanna tampil sebagai bintang film berani di adegan ranjang dalam film Bernapas dalam Lumpur (1970).

Serbuan film jenis ini membuat Misbach Yusa Biran geram. Dia memprotes keras, seraya memutuskan berhenti menyutradarai film. Tapi aksi ini ternyata tidak sanggup menahan laju film-film berbau porno. Tema kekerasan dan seks masih menjadi arus utama hingga dua dekade selanjutnya, bahkan masih menjadi konsumsi masyarakat hingga saat ini. Kini, tiga dasawarsa setelah itu, Misbach melukiskan perannya saat itu: ”Arus utama tetap dominan, tapi perlu ada figur idealis.”

Misbach, Teguh Karya, Arifin C. Noer, atau Slamet Rahardjo termasuk kaum idealis. Mereka yakin film ikut mengantar penontonnya berpikiran maju, punya hati nurani, punya cita rasa. Misbach menilai masyarakat Indonesia harus mendapat pendidikan film sehingga bisa menakar kualitas film. Lihat Iran.

Kubu idealis memang kecil, sanggup bergerak dari festival ke festival dan mendapat tempat terhormat dalam peta film internasional.

Di mata Misbach, pembuatan film bermutu harus dibangun dari awal sekali: penulisan skenario. Dan dia pun membuat Teknik Menulis Skenario Film Cerita. Misbach mengumpulkan materi kuliah sinematografi sewaktu menjadi dosen di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta pada 1972 hingga 1996. Diktat itu pula yang menjadi pegangan Mira Lesmana dan Riri Reza sewaktu menjadi mahasiswa Misbach.

Dalam kata pengantarnya, Misbach mengajukan asumsi yang selalu menjadi perdebatan panjang: perlu-tidaknya bakat. Misbach percaya calon penulis skenario harus lebih dulu mempunyai bakat mengarang. Dia menganalogikan penulis skenario dengan penyanyi. ”Biar belajar pada guru nyanyi paling hebat di ujung langit, kalau tidak ada bakat tidak bakal jadi pandai menyanyi,” katanya.

Tentu saja Misbach, misalnya, berbeda dengan Elizabeth Lutters. Sosok yang menulis Kunci Sukses Menulis Skenario ini merasa tidak punya bakat menulis. Elizabeth hanya punya kebiasaan menulis buku harian sejak masa sekolah menengah pertama.

Bakat juga bukan menjadi persoalan bagi Enang Rokajat Asura, penulis buku Panduan Praktis Menulis Skenario, dari Iklan sampai Sinetron. Menurut dia, kunci sukses penulis skenario adalah latihan. Bukan mengandalkan pemberian alam. ”Alam memang telah memberi talenta. Tapi talenta tidak akan menjadi apa-apa kalau tanpa proses latihan,” kata Enang dalam bukunya.

Misbach termasuk penulis skenario yang otodidaktik. Dia pertama menulis skenario dengan judul Kroncong Kemayoran pada tahun 1955, tanpa belajar teori dan teknik. Misbach hanya mengandalkan pengalaman mengetik ulang skenario karya S. Sumanto dan menjadi asisten sutradara Usmar Ismail. Studio Persari membeli naskah Misbach, yang kemudian difilmkan dengan judul Saodah (1956).

Misbach terus menulis skenario tanpa pijakan pemahaman teknik dan teori. Dia mampu merampungkan karya Istana yang Hilang, Matjan Kemajoran (1965), dan Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966). Misbach mengerjakan semua skenario itu dalam tempo yang cepat dan tanpa kesulitan. Hanya, dia tidak bisa menganalisis kesalahan konstruksi dramatik skenarionya. Misbach akhirnya berpendapat, bakat tetap harus mendapat polesan dengan teknik dan teori penulisan skenario.

Skenario merupakan desain penyampaian cerita dengan media film. Cerita asalnya bisa berupa karya tulis seperti novel atau cerita pendek. Dalam bab awal, Misbach memberi bekal bagi calon penulis skenario soal cerita yang bisa dijadikan skenario. ”Sebuah karya sastra yang bagus belum tentu bagus dituturkan dalam bahasa film,” ujarnya.

Misbach juga memberi landasan pemahaman yang mendalam mengenai detail skenario. Menurut dia, penulis skenario yang baik harus menguasai prinsip kerja kamera, penataan visual, komposisi, editing, ilustrasi musik, dan akting. Misbach pun memerinci unsur media visual dan audio dalam skena-rio. Media visual terdiri dari aktor, tempat kejadian, properti, dan cahaya. Sementara audio berupa dialog, efek suara, dan ilustrasi musik. Misbach pun memberikan contoh karya film klasik seperti The Godfather.

Dalam setiap pembahasannya, Misbach selalu memberikan penekanan soal hak cipta. Bahkan dia memberikan ruang khusus pada halaman akhir. Menurut dia, penjiplakan adalah kejahatan dalam dunia seni. Misbach mencontohkan karya filmnya Ayahku yang diilhami naskah drama Jepang Cici Kaeru, atau Irisan-irisan Hati (1988) dari film Italia Sunflower (1960). Setelah menjadi film, ternyata produser tidak mencantumkan titel kreditnya. ”Ada produser yang dengan ringan menugaskan penjiplakan,” katanya.

Penulis skenario adalah sebuah profe-si. Untuk itu, Misbach mengharapkan calon penulis harus menguasai konsep dasar penulisan skenario. Dia pun berharap penulis pemula punya pemahaman soal tanggung jawab sosial sebuah skenario. ”Jangan orientasinya selalu uang. Kalau mutunya sudah terjamin, hal itu pasti menyusul,” ujarnya. Tapi, soal tanggung jawab sosial ini juga yang membuat Misbach bingung saat mendapat order menulis skenario yang menampilkan konflik keluarga secara berlebihan.

BINTANG KETJIL1963WIM UMBOH
Director
DIBALIK TJAHAJA GEMERLAPAN 1966 MISBACH JUSA BIRAN
Director
HOLIDAY IN BALI 1962 TONY CAYADO
Director
APA JANG KAUTANGISI 1965 WIM UMBOH
Director
PESTA MUSIK LA BANA 1960 MISBACH JUSA BIRAN
Director
OPERASI X 1968 MISBACH JUSA BIRAN
Director
PANGGILAN NABI IBRAHIM 1964 MISBACH JUSA BIRAN
Director
MENJUSURI DJEDJAK BERDARAH 1967 MISBACH JUSA BIRAN
Director
HONEY, MONEY AND DJAKARTAF FAIR 1970 MISBACH JUSA BIRAN
Director

Rabu, 26 Januari 2011

TUAN TANAH KEDAWUNG / MASTER OF KEDAWUNG, THE/ 1970

 

Nawi Ismail mungkin tidak salah mengatakan penonton Indonesia ibarat orang makan, selalu ingin disuguhi hingga perutnya kenyang dan meledak. Tapi melihat film import yang bukan mengenyangkan penonton hingga perutmnya buncit lalu timbul pertanyaan, apakah penonton Indonesia menggunakan ukuran ganda?

Film ini produksi Tidar Film, disana dikisahkan keluarga tuan tanah (awaluddin) yang disebabkan oleh kecurangan istri mudanya yang bernama Zubaidah (Tina Melinda). Sang bini tidak main sendiri, sebab sang kasir Samirun (Ami Priyono) ternyata punya hasrat besar terhadap kekayaan tuannya. Berbagai cara dilakukan, tetapi yang menyebabkan kematiannya oleh racun istrinya sendiri yang tidak mampu memindahkan kekayaan itu ke tangan Samirun dan Zubaidah. Pewaris sah dan putera tunggal tuan tanah Giran (Dicky Suprapto) disiasati oleh ibu tirinya dengan menyuruhnya ke Kalimantan mengurusi kekayaan ayahnya di sana. Dibelakang, kasir Samirun memaksa istri Giran, Ratna (Suzzana) menyerahkan kotak yang berisi surat wasiat almarhum. Semula bisa berhasil andai kata tidak ada pelayan setia Samolo (Maruli Sitompul) walaupun ia harus mengorbankan sebelah matanya membunuh Samirun dan pelayan Sarkawi (Kusno Sudjarwadi). Ketika Giran pulang dari Kalimantan ia memang bisa di perdaya oleh ibu dan adik tirinya, Mitra (Farouk Afero), tetapi semuanya berakhir ketika pelayan setia Nyai Ronde (Marliah Hardi) buka mulut.
 
Biografi Tuan Kedawung ini diangkat dari komik karyanya Ganes Th, ini bukunya tidak menarik walaupun kepanjangan untuk film. Dan menurut orang Lilik terlalu setia dengan lukisan Ganes, soalnya barangkali ia setia atau berkhianat. Karena komik yang baik harus mirip skenario yang dilukiskan dan bedanya cuma dikamera. Banyak yang bilang film ini kurang bagus, dibandingkan dengan Si Buta dari Goa Hantu skenario film ini jauh dari persyaratan. Film ini dirasa panjang dan menjenguhkan. Padahal film Si Buta dari Goa Hantu dulu yang dibuat yang mendapat sambutan baik, setelah itu ia membuat film Tuan Tanah Kedaung yang mengecewakan.
 



NEWS Ganes TH 
Ganes TH. (1935-1995) nama lengkapnya Ganes Thiar Santoso Ganes lahir pada tanggal, 10 Juli 1935, di Tanggerang, anak ke 4 dari 5 bersaudara. Terlahir dari seorang ayah yang bernama; Thirta Yahya Santosa dan seorang ibu yang bernama; Sofiah Linawati. Telah memiliki bakat melukis dan mulai menekuninya ketika SMP di THHK (Tiong Hoa Hwee Koan). Membuat merek/gambar di tirai kedai tukang bubur kacang hijau adalah pekerjaan awalnya. Kemudian hampir semua warung memanfaatkan keahiannya menggambar.Setelah lulus SMA, Ganes TH mencoba melanjutkan kuliah di ASRI-Yogyakarta, namun tak pernah tuntas lantaran kesulitan keuangan. Lantaran semua itu maka dia kemudian mengikuti kursus melukis, lantas menjadi asisten pelukis Lee Man Fong. Diawali hanya menjadi tukang cuci kuas sambil mempelajari teknis melukis pada pelukis terkenal tersebut.

Ia adalah seorang penulis (komik Silat) Cerita Silat Bergambar Indonesia terkenal. Ia merupakan salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Pada masanya Ganes TH. merupakan salah satu dari “tiga dewa komik Indonesia” bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an.

Ganes TH. menciptakan tokoh “Si Buta Dari Goa Hantu” yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Komik Si Buta Dari Goa Hantu adalah komik silat Indonesia pertama. Terbitan perdananya langsung "meledak" sehingga komik Indonesia seperti dilanda demam silat sehingga banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta. Kabarnya komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar.

Serial Si Buta dari Goa Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan orang. Petualangan Si Buta mulai dari Jawa Barat sampai ke Bali, Flores, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kecintaan pada tanah air yang begitu dalam. Sebelum sukses dengan kisah Si Buta Dari Goa Hantu-nya, sebelumnya Ganes TH telah lebih dahulu menghasilkan komik dengan judul sebagai berikut: "Api di Hutan Rimba","Mutiara dari Tanusa", "Di Bawah Naungan Flamboyan", dan banyak lagi lainnya

Ganes TH dengan "Si Buta Dari Gua Hantu" bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa merupakan salah satu ikon puncak sejak Kho Wan Gie, R.A. Kosasih, Zam Nuldyn, dan Taguan Hardjo. Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes TH sebagai salah satu legenda komikus Indonesia.

Karya Ganes TH
Si Buta dari Goa Hantu Si Buta dari Goa Hantu: “Misteri di Borobudur“ Si Buta dari Goa Hantu: “Kabut Tinombala” Si Buta dari Goa Hantu: “Iblis Pulau Rakata” Si Buta dari Goa Hantu: “Banjir Darah di Pantai Sanur” Si Buta dari Goa Hantu: “Bangkitnya Si Mata Malaikat” Si Buta dari Goa Hantu: “Pamungkas Asmara” Si Buta dari Goa Hantu: “Mawar Berbisa” Si Buta dari Goa Hantu: “Misteri Air Mata Duyung” Si Buta dari Goa Hantu: “Neraka Perut Bumi” Si Buta dari Goa Hantu: “Manusia Kelelawar dari Karang Hantu” Si Buta dari Goa Hantu: “Badai Teluk Bone” Si Buta dari Goa Hantu: “Tragedi Larantuka” Si Buta dari Goa Hantu: “Sorga yang Hilang” Si Buta dari Goa Hantu: “Manusia Serigala dari Gunung Tambora” Si Buta dari Goa Hantu: “Prahara di Donggala” Si Buta dari Goa Hantu: “Prahara di Bukit Tandus” Si Buta dari Goa Hantu: “Perjalanan ke Neraka” Djampang Jago Betawi Pendekar Selebor Pengantin Kelana Api di Langit Kulon Zomba Reo Anak Serigala Taufan Cobra Petualang Tjisadane (1968-1969) Krakatau (1970) Tuan Tanah Kedawung (1970) Nilam dan Kesumah (1970) Kunjungan di Tengah Malam

Minggu, 03 Januari 2010

RD MOCHTAR 1935-1990



Raden Mochtar (lahir di Cianjur pada tahun 1918) adalah pemeran Indonesia. Ia telah mengawali karier di film layar lebar sejak dekade tahun 1930 hingga tahun 1990an. Film pertamanya pada tahun 1935 yang berjudul Pareh, Het Lied Van Der Rijst dengan sutradara Mannus Franken dari Belanda. Filmnya didukung oleh Doenaesih, Soekarsih, dan T. Effendy.

Pemain yang diinginkan Balink ditemukan secara tidak sengaja saat ia, Joshua dan Otniel sedang menemani Balink minum kopi di depot. Balink teriak senang sampai Otniel dan Joshua terkejut. Peria itu ia temukan. Tetapi peria itu melintas dewngan sepeda motor, dan mereka mengejarnya dengan mobil. Melihat pemuda itu dikejar oleh orang pakai mobil dan didalamnya ada Belanda totok, maka pemuda itu melarikan diri karena takut akan Homo Seksual (saat itu sedang ramainya homoseksual). Setelah ditemukan, Balink masih kurang puas juga, Mochtar nama pemain itu harus diberi gelar ningrat. Mochtar memang berdarah bangsawan, tetapi orang tuanya meninggalakan.

Masalah darah biru itu karena urusan politis. Dan Balink ingin Mochtar harus memakai gelar ningratnya lagi. Balink sendiri menyelusuri gelar itu dan Mochtar memang berhak menyandang gelar Raden lagi. Dan Balink ingin Mochtar jadi Rd.Mochtar. Jadilah pemuda ini terkenal.

Raden Mochtar merupakan seorang bangsawan Jawa. Ia berpendidikan Taman Siswa di Bandung, Jawa Barat.

Pada 1935 Mochtar berperan dalam peran utama Mahmud dalam film Albert Balink Pareh. Balink keluar dengan kopi dengan Joshua dan Otniel Wong dan melihat Mochtar, yang dianggapnya tinggi, kuat, dan tampan, mengemudi oleh. Balink dan Wongs mengejar Mochtar dalam mobil mereka dan menangkapnya. Untuk film Mochtar diberitahu untuk menggunakan judul Raden, yang ia dan keluarganya sudah ditinggalkan. Menurut antropolog Indonesia Albertus Budi Susanto, penekanan pada judul Mochtar ini dimaksudkan sebagai cara untuk menarik penonton kelas yang lebih tinggi. Film yang biaya 75.000 gulden untuk memproduksi, adalah kegagalan komersial. Namun, itu secara finansial bermanfaat bagi Mochtar, yang membayar punggawa bulanan 250 gulden.

Balink ingat Mochtar untuk film berikutnya, Terang Boelan, pada tahun 1937 Meskipun peran menyerukan Mochtar menyanyi ia tidak mampu melakukannya. Dengan demikian, komposer Ismail Marzuki dipanggil untuk memberikan suara menyanyi Mochtar ini. Film ini sukses secara komersial, mengumpulkan lebih dari 200.000 Dolar Singapura selama rilis internasional. Hal ini menyebabkan Mochtar menjadi bintang bankable dan sering bermain bersama Roekiah. Film ini juga memainkan peran dalam pembentukan sistem bintang di bioskop di negara itu. Segera setelah rilis Terang Boelan Mochtar menikah dengan aktris Soekarsih, siapa dia bertemu di lokasi syuting Pareh.

Setelah sukses dengan Terang Boelan dan emigrasi Balink ke Amerika Serikat, sebagian besar cast   - termasuk Mochtar   - telah ditandatangani dengan Tan's Film. Film pertama Mochtar dengan perusahaan, Fatima (1938), ini sukses secara komersial, produktif 200.000 gulden pada anggaran 7.000 gulden. Setelah membuat beberapa film lebih lanjut, berdasarkan 1940 Mochtar telah meninggalkan Tan atas sengketa upah. Dia membuat lebih tiga film dengan Yo Kim Tjan Populair Film ini sebelum pindah ke film aksi

Selama pendudukan Jepang (1942-1945) dan berikutnya revolusi empat tahun, Mochtar bertindak dalam beberapa kelompok teater, termasuk Terang Boelan, Bintang Soerabaja, dan Pantai Warna. Sebagai industri film Indonesia mendapatkan uap selama tahun 1950, Mochtar terus bertindak. Selain film Indonesia, ia juga memiliki peran dalam Rodriguo de Villa, oleh perusahaan Filipina Pictures LVN.

Pada akhir 1950-an industri film lokal surut dan Mochtar menjadi seorang pengusaha, kemudian petani. Pada pertengahan 1960-an ia pergi haji ke Mekkah, dan pada tahun 1970 ia mulai bertindak lagi. Selama periode ini ia menerima penghargaan dari kedua Javan Barat dan pemerintah Jakarta yang untuk aktingnya.[1] Ia terus aktif dalam film sampai 1991



Pasangan romantis pertama dalam film Indonesia, Rd Mochtar & Roekiah. Keduanya pertama kali dipasangkan dalam Terang Boelan (1936). Penampilan romantis mereka bahkan dianggap salah satu penyebab sukses komersial film buatan Indonesia terlaris pertama itu. Mereka pun dipasangkan lagi dalam tiga film berikutnya: Fatima (1938), Siti Akbari (1939), dan Gagak Item (1939). Popularitas pasangan itu juga melahirkan "sistem bintang" (star system) dalam perfilman Indonesia, yang mulai memberi perhatian besar akan pentingnya kedudukan pemain.

Sebagaimana kebanyakan pasangan romantis setelahnya, Rd Mochtar dan Roekiah bukanlah pasangan dalam kehidupan nyata. Saat itu Roekiah yang dalam film pertamanya berusia 19 tahun sudah menikah dengan seniman Kartolo. Sang suami bahkan ikut bermain juga dalam film-film tersebut, di samping menggubah lagu dan mengerjakan ilustrasi musiknya. Pasangan itu mempunyai lima anak. Salah satunya, Rachmat Kartolo, mengikuti jejak sang ayah sebagai pemusik dan pekerja film.

JANGAN MENANGIS MAMA                         1977SOFIA WD
                                                 Actor
HAMIL MUDA                          1977 S.A. KARIM
                                                 Actor
SITI AKBARI                                                      1939JOSHUA WONG
                                         Actor
RODRIGO DE VILLA1952GREGORIO FERNANDEZ
Actor
SURJANI MULIA 1951 MOH SAID HJ
Actor
LEILANI 1953 REMPO URIP
Actor
KAMAR KOSONG 1956 L. INATA
Actor
JEMBATAN MERAH 1973 ASRUL SANI
Actor
ASMARA DAN WANITA 1961 REMPO URIP
Actor
IBU SEJATI 1973 FRITZ G. SCHADT
Actor
DJANDJIKU 1956 B.K. RAJ
Actor
BOEDJOEKAN IBLIS 1941 JO AN DJAN
Actor
DOSA DI ATAS DOSA 1973 ASKUR ZAIN
Actor
TIRAI MALAM PENGATIN 1983 IDA FARIDA
Actor
BENGAWAN SOLO 1949 JO AN TJIANG
Actor
BENGAWAN SOLO 1971 WILLY WILIANTO
Actor
TUTUR TINULAR 1989 NURHADIE IRAWAN
Actor
TUTUR TINULAR II 1991 ABDUL KADIR
Actor
LIMAPULUH MEGATON 1961 RD ARIFFIEN
Actor
COBRA 1977 REMPO URIP
Actor
PERKAWINAN 1972 WIM UMBOH
Actor
MOESTIKA DARI DJENAR 1941 JO AN DJAN
Actor
MAIN-MAIN DJADI SUNGGUHAN 1951 L. INATA
Actor
MEI LAN, AKU CINTA PADAMU 1974 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
PEMBALASAN NAGA SAKTI 1976 FRITZ G. SCHADT
Actor
BALADA DUA JAGOAN 1977 FRITZ G. SCHADT
Actor
MARUNDA 1951 ALI YUGO
Actor
GAROEDA MAS 1941 JO AN DJAN
Actor
TERANG BULAN 1950 M. BUDHRASA
Actor
TERANG BOELAN 1937 ALBERT BALINK
Actor
RINDU 1951 REMPO URIP
Actor
GAGAK ITEM 1939 JOSHUA WONG
Actor
DI SINI CINTA PERTAMA KALI BERSEMI 1980 WIM UMBOH
Actor
KARATE SABUK HITAM 1977 WISJNU MOURADHY
Actor
SI DOEL ANAK MODERN 1977 SJUMAN DJAYA
Actor
SI GONDRONG 1971 FRITZ G. SCHADT
Actor
BERDJUMPA KEMBALI 1955 HU
Actor
WANITA INDONESIA 1958 RD ARIFFIEN
Actor
BERCANDA DALAM DUKA 1981 ISMAIL SOEBARDJO
Actor
KRAKATAU 1977 SANDY SUWARDI HASSAN
Actor
GARA-GARA HADIAH 1953

Actor
GARA-GARA DJANDA MUDA 1954 L. INATA
Actor
TOKOH 1973 WIM UMBOH
Actor
BANTAM 1950 WONG BERSAUDARA
Actor
SEDAP MALAM 1950 RATNA ASMARA
Actor
GADIS SESAT 1955 L. INATA
Actor
MERENDA HARI ESOK 1981 IDA FARIDA
Actor
TAUHID 1964 ASRUL SANI
Actor
TAK TERDUGA 1960 L. INATA
Actor
HARTA ANGKER 1956 REMPO URIP
Actor
HIDUP BARU 1951 MOH ARIEF
Actor
DERU CAMPUR DEBU 1972 MARDALI SYARIEF
Actor
DUNIA GILA 1951 MOH SAID HJ
Actor
REMAJA IDAMAN 1979 ARIZAL
Actor
REMAJA 76 1976 ISMAIL SOEBARDJO
Actor
SUNAN KALIJAGA DAN SYECH SITI JENAR 1985 SOFYAN SHARNA
Actor
DALAM SINAR MATANYA 1972 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
HADIAH 10.000 1955 REMPO URIP
Actor
NYI MAS GANDASARI 1989 M. SHARIEFFUDIN A
Actor
SEPANDJANG MALIOBORO 1951 H. ASBY
Actor
FATIMA 1938 JOSHUA WONG
Actor
MALIN KUNDANG 1971 D. DJAJAKUSUMA
Actor
PEGAWAI TINGGI 1954 REMPO URIP
Actor
PAREH, HET LIED VAN DER RIJST 1935 MANNUS FRANKEN Documentary Actor
SINGA BETINA DARI MARUNDA 1971 SOFIA WD
Actor
KETIKA DIA PERGI 1990 BUCE MALAWAU
Actor





Minggu, 19 Juli 2020

SERANG - LEBAK - CILEGON - BANTEN BIOSCOOP

Serang sebagai wilayah Keresidenan Banten sangat ramai. Masa itu, ada sekira 40 persen orang China, 15 persen orang Belanda, dan palancong lainnya. Peluang dibaca dan masuk sebagai strategi pemerintah kolonial dalam menompang investasi pembangunan ekonominya.

Pemerintah pada masa itu menganggap, orang-orang yang lelah berdagang atau bekerja pasti membutuhkan ruang hiburan. Karenanya, perlu wadah sehingga perputaran ekonominya tidak keluar daerah.

BANTEN

BIOSKOP PELITA


Dibangun sekira tahun 1920-an. Dugaannya berdasar arsitektur bangunannya. Juga beberapa arsip dalam pemberitaan di koran De Banten Bode dan koran-koran lokal masa itu.

Pada masa pemerintah kolonial, gedung Pelita bernama Teater Banten. Tempat pertunjukan atau opera yang dibangun pengusaha Tionghoa. Status Banten sebagai residen jadi alasannya. Gedungnya menunjukkan ruang ekspresi budaya. Tak heran, pemerintah Hindia Belanda mewajibkan adanya gedung pertunjukan. Baik dikelola swasta atau pemerintah. Untuk kepentingan, mempropagandakan budaya Belanda. Lalu, menjaga perputaran ekonomi agar tidak keluar daerah. Terlebih, masa itu banyak pegawai dan pedagang tinggal di Serang. Dalam aktivitas yang padat, mereka butuh saluran hiburan. “Fasilitas itu akan membuat ekonomi berputar di tempat,” Yang tidak kalah penting, gedung pertunjukan menjadi arena mengekspresikan budaya. Menjadi saluran merawat dan mengembangkan budaya anak bangsa. Dan, Banten adalah tempat persemaian budaya dari berbagai belahan dunia. “Gedung pertunjukan bagi sebuah kota itu wajib, sebagai sarana ekpresi budaya,”

Bahkan sejak masa Sultan Banten, ruang pertunjukan sudah berkembang. Tempatnya di panayagan (tempat bermain musik) di pelataran Surosowan. “Dari situ banyak kisah tentang kesatria yang menjadi cikal bakal pendidikan karakter,”

Saat film mulai menggeliat di era 1932, Banten Teater difungsikan juga sebagai bioskop. Tak hanya tempat pertunjukan, film-film dari Eropa pun mulai diputar. “Banten Teater itu tontonan kelas bangsawan Eropa,”

Pemutaran film dan pertunjukan sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang. Bahkan, gedung Banten Teater dijadikan tempat tahanan politik dalam kurun waktu 1942 sampai 1945. Era itu, masa memudarnya bioskop dan tempat-tempat pertunjukan.

Bioskop kembali beroperasi pada tahun 1953. Hanya saja, sudah berubah dengan nama dari Teater Banten menjadi Banten Park. Sebelum menjadi Pelita, nama Banten Park dan Sampurna lebih dahulu digunakan.    
          
Baru sekira tahun 1960-an, nama Pelita resmi disematkan hingga tutup pada 1997-an. Tak hanya bioskop, pada tahun 1973, Pelita punya sarana bagi kawula muda bermain bola sodok.

Kisah Bioskop Merdeka juga familier di kalangan masyarakat Kota Serang. Bioskop itu berdiri selang lima tahun dari berdirinya Pelita. Mulanya bernama Royal Park. Senasib dengan Teater Banten, gedungnya juga pernah dijadikan rumah tahanan orang Australia hingga Jepang tunduk kepada sekutu.

Gedung yang konon awalnya dijadikan tempat opera itu tak jauh dari jalan raya. Hanya seratus langkah untuk berdiri di muka gedung. Tepatnya, di gang Jalan P Purbaya, belakang Pasar Swalayan atau Departemen Store Serang, Pasar Lama, Kota Serang. “Sudah lama tutup, hampir dua tahun,”

Mengenang seputar masa-masa gedung Pelita sebagai tempat melepas penat warga. Dari sekadar nongkrong, nonton film, sampai bermain biliar atau bola sodok.

gedung Pelita beberapa kali berganti nama. Mulai dari Banten Teater, Banten Park, Sampurna, hingga Pelita, hingga Pelita. “Tahun 1997-an sudah mulai tutup. Enggak dipakai lagi,”

“Dulu tiketnya mulai Rp50 sampai paling mahal Rp200,”
Di samping kanan dan kiri ruang bioskop terdapat anak tangga. Bioskop Pelita dibagi menjadi dua kelas. Kelas I, dengan kursi kayu panjang tiga saf berjajar. Posisinya tepat berada di depan layar. Sedangkan kelas balkon, posisinya berada di atas dekat proyektor. Dalam sehari, hanya satu film yang diputar. Kecuali pada akhir pekan, yang biasanya juga memutar film malam.

“Macem-macem filmnya. Ada film kolosal Spartakus dan film Indonesia seperti Panji Tengkorak. Macam-macamlah,”

Konon, pengusaha Tionghoa muslim yang mendirikan gedung itu. Bioskop Merdeka kelasnya di bawah Banten Teater. Di masa kolonial, di gedung bioskop inilah masyarakat pribumi bisa menikmati film. Juga melakukan pementasan pertunjukan atau opera pada masa itu.

Sayang, nasib Bioskop Merdeka lebih tragis. Tak ada jejak bangunannya yang bisa ditelusuri. Pada 2004, gedung diratakan dengan tanah. Sekarang, hanya ruko-ruko yang berjajar yang berlokasi di kawasan Royal, Kota Serang itu.

Tak jauh dari bekas gedung Bioskop Pelita, juga berdiri bekas gedung Bioskop Plaza Serang. Jaraknya sekira 200 meter dari gedung Pelita, di Jalan Maulana Hasanuddin, Pasar Lama. Bioskop itu, berdiri di lantai dua Plaza Store. Kabarnya, bioskop mulai beroperasi tahun 1980-an dan tutup tahun 1998.

Jejak bangunannya masih terlihat kasat mata. Hanya saja, menjadi ruang kosong tanpa penghuni. Beberapa ruko di bawahnya masih digunakan untuk berdagang. Namun, tampak tak beraturan. Kumuh dan jauh dari kesan rapi, apalagi bersih.

Selain tiga bioskop itu, Bioskop Dewi di Kedalingan melengkapi cerita kisah bioskop di Kota Serang. Nasibnya sama dengan Bioskop Merdeka, tanpa jejak artefak bangunannya.

Bioskop Dewi berdiri tahun 1960-an. Lebih awal daripada Bioskop Plaza Serang. Informasinya, tempat nonton film itu tutup bersamaan permindahan Terminal Kedalingan ke Ciceri, sebelum akhirnya terminal dipindahkan lagi di Pakupatan hingga sekarang. “Dampak dari itu, orang ke bioskop sepi. Bioskop tutup lebih awal sekira 80-an,”

BIOSKOP MERDEKA


Hindia Belanda itu. Padahal, kawasan Royal tidak lepas dari namanya. Royal Park yang pada tahun 1953 berubah nama menjadi Bioskop Merdeka. Bioskop dibangun pengusaha muslim Tionghoa. Sebagai media hiburan warga pribumi. Pemberitaan koran De Banten Bode menyebut, bioskop berdiri lima tahun pasca Banten Teater (Bioskop Pelita) yang dibangun sekira 1920-an.

Tak hanya tempat hiburan, bioskop itu memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan. Penyandang dana pengembangan Holland Indlands School (HIS) met de Koran Kaloran Serang. Sekolah itu dirintis Perhimpunan Tirtayasa pada 1931. 

Tepatnya, pada Juni 1934. Perkumpulan drama Darnalella menggelar malam pertunjukan di Royal Park. Hasil penjualan karcisnya disumbangkan sebagai kas HIS Tirtayasa. Konon, penontonnya membeludak. Mereka datang dari berbagai daerah di luar Serang.

Perkumpulan Tirtayasa sebagian anggotanya orang Banten yang tinggal di Batavia dan Bandung. Pemilik Royal Park masuk Perkumpulan Tirtayasa. Pemilik Royal Park turut mempedulikan pendidikan untuk pribumi. “Hasil dari bioskop sebagian untuk pembangunan sekolah,”

Pada buku Banten dan Sejarah Pembaratan Sejarah Sekolah 1833-1942 karya sejarawan Mufti Ali tercatat, gedung sekolah itu hibah pengusaha Tionghoa Serang, Lie Soe Foeng. Gedung sekolahnya bekas tempat tinggal keluarga Lie. Sebelum akhirnya pindah ke Batavia setelah agresi militer Belanda.
 
Senasib dengan Banten Teater, Royal Park tutup saat pendudukan Jepang. Bekas gedung bioskop menjadi rumah tahanan tentara sekutu. Gedungnya kembali difungsikan pada 1953. Dan, resmi menyandang nama Merdeka. 

“Banyak film India, Arab, dan Mesir di bioskop ini,”

Film Arab Umi Kulsum, Hamzah, jadi yang favorit masa itu. Kata Yadi, banyaknya film dan lagu Timur Tengah hingga 1963, berpengaruh pada bacaan arab di Banten. Masyarakat berbondong-bondong mengubah sistem nada pembacaan dari langgam Jawa menjadi langgam Arab. “Termasuk sejarah MTQ mulainya dari film-film dan lagu itu,” 

Bioskop Merdeka mulai meredup di era 1980-an. Hingga akhirnya tutup pada 1997-an. Puncaknya, ketika gedungnya rata dengan tanah pertengahan tahun 2004. Peristiwanya tercatat dalam pemberitaan media lokal Banten. Salah satunya edisi September Radar Banten.
Secara beruntun Radar Banten menurunkan peristiwa pembongkaran gedung cagar budaya di Serang ini. Pada 10 September dengan judul Bangunan Bersejarah Rata dengan Tanah, Kantor Purbakala Kecolongan. Berita berikutnya dengan judul Riwayat Bioskop Merdeka yang Rata dengan Tanah.

Gedung bioskop itu menyimpan banyak hal. Secara sosio kultural, Malik menyebut sebagai jejak awal modernisasi di Serang. Sekaligus tanda munculnya sejarah perkotaan.

Apalagi, sebutan Royal sebagai kawasan niaga, berawal dari Royal Park atau Royal Room. “Hancurnya Bioskop Merdeka adalah malapetaka sejarah. Kota Serang menjadi ahistoris. Disbudpar dan DKB ikut andil hilangnya jejak sejarah itu,”

Bioskop Bhumiyamka atau dikenal dengan Bioskop Bumex. 
Bioskop ini kerap paling sering memutar film-film Billywood yang pada saat itu sedang berkibar. Letaknya di Jl. Raya Serang (sekarang jadi Jl. Merdeka) di Kampung Gerendeng.


CILEGON
Salah satu tempat yang banyak dikunjungi pasangan muda mudi atau keluarga pada malam minggu adalah bioskop yang terdapat di lantai dua sebuah mall di lingkungan Sukmajaya, Cilegon.

Selain bioskop tersebut, ternyata di Kota Cilegon pernah beroperasi tiga bioskop lainnya, yakni: Bioskop Apollo, Krakatau Ria (KR) dan Cilegon Theatre.


BIOSKOP APOLLO
Khusus mengenai Bioskop Apollo adalah bioskop pertama dan tertua di Kota Cilegon. Terletak di Jl. Bioskop Apollo, Kampung Baru, Jombang Wetan atau di belakang SMP Negeri 1 Cilegon.



Di masa kejayaannya di tahun 1980an, Bioskop Apollo ini memberi gengsi tersendiri bagi mereka yg pernah datang menonton. Terlebih jika bisa duduk di kursi balkon (VIP).

Beberapa film yang diputar di bioskop ini yang dibintangi oleh aktor laga Barry Prima dan Advent Bangun, seperti: Jaka Sembung Sang Penakluk, Nyi Blorong, Pasukan Berani Mati, Si Buta Lawan Jaka Sembung, Nyi Ageng Ratu Pemikat, Jaka Sembung Vs Bergola Ijo, Golok Setan, Bajing Ireng & Jaka Sembung, dsb.

Selain film laga, ada juga film bertema Romantis Narsis yang dibintangi oleh Rhoma Irama, antara lain: Oma Irama Penasaran, Gitar Tua, Begadang, Berkelana I, Berkelana II, Perjuangan dan Doa, Satria Bergitar, Kemilau Cinta di Langit Jingga dan Dawai 2 Asmara.

Atau beberapa film Bollywood yang dibintangi oleh aktor jadul Amitabh Bachchan, Sri Devi, Jaya Prada, Sadashiv Amrapurkar, Anil Kapoor, Amrish Puri, seperti: Saat Hindustani, Barsaat Ki Ek Raat, Roti, Kapda Aur Makaan, Inquilaab, Shakti dll.

Salah satu hal unik yg pernah ada di bioskop Apollo ini yakni dalam event tertentu, dengan beberapa lembar bungkus kosong rokok kretek Djarum Cokelat kita dapat menukar dengan tiket tanda masuk untuk menonton.

Namun kini Bioskop Apollo tinggal kenangan.

PADA ERA tahun 80 hingga 90-an, Bioskop Apollo yang berada di Kampung Baru, Kelurahan Jombang, Kecamatan Jombang Kota Cilegon, merupakan bioskop yang amat terkenal di kalangan warga Cilegon. Terutama saat perayaan lebaran Idul Fitri tiba, bioskop tersebut amat ramai menjadi hiburan rakyat dengan menonton film.

Tapi siapa yang tahu, ternyata di bangunan yang kini tidak terpakai lagi itu adalah bekas makam kuburan orang belanda yang meninggal di Kota Cilegon, hingga bioskop itu dibangun kuburan tersebut tidak dipindah.

Gedung bioskop tersebut dibangun sekitar tahun 70-an, dimana sebelumnya saya sebagai penulis pernah bersekolah di sekolah dasar (SD) Mardiyuana (1966) yang kini telah menjadi SD Negeri 7 Kota Cilegon. Setiap pulang sekolah selalu melewati makam tersebut, karena gedung SD tempat sekolah berseberangan dengan makam belanda yang kini menjadi gedung tidak terpakai Ex bioskop Apollo.

Diceritakan Nenek saya, yang merupakan keturunan pejuang Geger Cilegon, Haji Akhiya, bahwa kuburan tersebut bernama kuburan Kerkhoff atau kuburan khusus bagi orang Belanda.

Mengapa di Kota Cilegon ada kuburan orang belanda? Hal ini dikarenakan pada masa lalu Cilegon menjadi pusat pemerintahan afdelingen sehingga merupakan tempat tinggal pejabat-pejabat pamongpraja, baik bangsa Eropa maupun pribumi. Maka sangat wajar jika di Cilegon terdapat tempat pemakaman bagi orang-orang Eropa di era pemerintahan kolonial Belanda.

Begitu juga ketika terjadi peristiwa Geger Cilegon 1888, dan semua pejabat pemerintah Belanda yang mati dibantai dikuburkan di tempat itu juga. Diantaranya Asisten Residen Gubbels beserta istri dan kedua anaknya, Kepala Penjualan Garam Ulrich Bachet, Juru Tulis kantor asisten residen Hendrik Francois Dumas, dan Kepala Pemboran J. Grondhout.

Kemudian sebagai penghormatan kepada mereka yang menjadi korban pada tragedi berdarah 9 Juli 1888, Residen Banten pada masa itu membangun monumen peringatan berupa tugu, yang tujuannya agar sanak sodara beserta anak keturunanya kelak dapat datang dan berziarah ke Cilegon.

Namun ketika bioskop Apollo dibangun di bekas lahan pemakaman itu, semua kuburan diratakan dan tugu peringatan itu pun dibongkar tanpa sisa.

Sejak saat itu, setiap malam selalu terdengar orang yang bercakap-cakap. Kebetulan Jarak dari rumah saya memang tidak terlalu jauh, sekitar 10 menit berjalan kaki ke Selatan dan menyebrang jalan raya Cilegon-Serang, namun masa itu tidak seramai seperti sekarang.

Pada suatu hari, sehabis Isya saya berangkat kesana, tapi tidak mendatangi loket penjual karcis karena memang saya tidak bawa uang. Tentu saja tanpa pamit pada orang tua, sebab tak mungkin mengizinkan anaknya yang masih kelas 5 SD pergi sendiri ke gedung bioskop, terlebih lagi pada malam hari.

Di bagian kanan gedung bioskop Apollo terdapat sebuah selokan atau got yang ukurannya cukup besar, apalagi buat badan saya yang cilik kentring. Sepanjang permukaan selokan itu ditutupi oleh papan-papan sehingga orang bisa berjalan di atasnya. Karena saya ingin sekali mengetahui apa yang ada di dalam, maka tanpa pikir panjang saya langsung masuk ke dalam selokan melalui ujung bagian depan gedung dan muncul di bagian dalam sana.

Pada saat memasuki selokan, saya berjalan tanpa menyentuh permukan air kotor. Namun dengan cara menapakan kedua belah kaki dan tangan pada kedua sisi tembok selokan yang mempunyai kemiringan tiga puluh derajat.

Dalam keadaan gelap dan pengap, perlahan tapi pasti saya terus bergerak menelusuri selokan itu menuju seberkas sinar yang tampak di ujung sana. Samar-samar terdengar suara jerit dan teriakan yang sangat mengerikan. Saat itu saya memang tidak merasa ketakutan karena memang tidak mengetahui kalau tempat ini bekas kuburan.

Apalagi kisah tragis yang menimpa anak Asisten Residen. Elly dan Dora, gadis kecil, yang mati dicincang dan kepalanya pecah setelah dihajar oleh batu besar. Mereka meregang nyawa, ketika gerakan perlawanan yang dipimpin oleh para kiyai dari seantero Banten meletus, yang kemudian dikenal dengan istilah Geger Cilegon 1888. Andai saja saya sudah mendengar cerita tragis tentang peristiwa itu, pasti merinding dan saya juga tidak berani masuk ke tempat dimana mereka pernah dikuburkan.

Namun di masa kini, peristiwa sejarah terutama keberadaan kuburan belanda sudah tidak ada yang tahu, sehingga saya menulis kisah ini untuk mengingatkan kembali kisah perjuangan para pahlawan Geger Cilegon yang telah gugur demi merebut kemerdekaan, namun sayangnya jasa-jasa mereka kini terlupakan.

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawannya. Dalam tulisan ini kita bisa melihat bagaimana bangsa Belanda menghormati jasa para pahlawannya yang meninggal dalam tragedi berdarah dengan membangun sebuah tugu, yang pada setiap sisi-sisinya bertuliskan nama-nama mereka yang meninggal dalam tugas.

Namun, apakah bangsa kita juga sudah berbuat hal yang sama bagi para syuhada yang gugur dalam perjuangannya dalam menumpas penjajahan Belanda


LEBAK

Antara Lebak, Rangkasbitung, dan film Lebak Membara.

filem Lebak Membara. Filem itu diputar di sebuah bioskop bernama Apollo. Terletak di sisi selatan pasar Rangkasbitung. Kini gedungnya sudah tak berbekas karena sudah tergantikan oleh kawasan pertokoan. Usiaku sekitar 6 tahun memasuki kelas 1, Sekolah Dasar saat diajak bapak pergi menonton. Kebiasaan seorang bapak mengajak anaknya untuk menonton sudah sangat wajar di Rangkasbitung. Tempat yang dituju ialah bioskop kebanggaan masyarakat Lebak, Apollo namanya. Pengunjung yang berjejal antri karena banyak masyarakat yang mau menonton. Dan aku melihat jelas kumpulan orang-orang yang mengantri panjang menuju pintu masuk bioskop. Aku sendiri melihat di atas gendongan bapakku.


Kursi penonton yang terbuat dari kayu, aku dengan bapak mendapat kursi yang paling depan. Dengan jelas kami melihat layar berukuran sangat besar memantulkan cahaya putih. Tempat duduk yang leluasa dan bisa bersandar dengan bebas cukup nyaman untuk anak seusiaku. Sinar lampu proyektor mulai menyinari layar. Selang beberapa lama mulailah layar yang besar itu menampakan gambarnya. Suara penonton bergemuruh, bersorak, dan kegirangan karena filem yang akan diputar adalah filem tentang pemberontakan penduduk Lebak terhadap penjajah Jepang. Bapakku menuturkan dengan cakapnya saat itu. Syutingnya dilakukan di Lebak, sekitar wilayah Labuan. Bapakku menambahkan ia melihat sendiri bagaimana syutingnya. Ketika adegan pencopotan rel kereta api oleh para penduduk yang kelaparan, karena pada saat itu seluruh hasil pertanian diambil oleh penjajah jepang dan dibawa ke pusat, yaitu Jakarta untuk keperluan perangnya. Akibatnya para penduduk dan para petani jadi kelaparan dan mengakibatkan pemberontakan. Aku terbayang jika saat itu mereka semua berpura-pura. Ingatanku tentang filem itu pun selalu pada adegan tersebut.

Bapakku sering menceritakan adegan itu ketika berada di rumah, diulang dan diulang terus. Adegan tersebut begitu sangat mengharukan dan menyedihkan sekaligus juga membanggakan, ujarnya. Aku kira, saat kecil aku merasakan hal yang sama. Selanjutnya aku memastikan ke sebuah Sekolah Dasar yang seingatku mewajibkan menonton film itu. Sayang tidak ada banyak keterangan yang didapat. Ibu guru Yani (45) salah satu guru sekolahku. Dari hasil obrolan, hanya didapat pemaparan dan pembenaran tempat shooting filem itu di rumah tua milik Ibu Kania, di daerah Pasir Waru dan Kadu Agung. Selebihnya mereka menjawab lupa akan peristiwa yang mewajibkan anak muridnya menonton filem itu. Tetapi mereka paling tidak memberikan banyak petunjuk sederhana padaku.

Pertama kali aku menonton filem tersebut, aku baru duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, aku benar-benar tidak tahu sama sekali kalau sebenarnya filem itu ada kaitannya dengan sejarah tempat kelahiranku, Lebak saat pendudukan Jepang. Waktu itu, aku hanya ingin menonton aksi laga George Rudy, tokoh utama film Lebak Membara. George Rudy sebagai pemuda pemberani dari Lebak melawan penjajahan Jepang dengan peran sebagai Herman, pemuda yang gigih membela rakyat Lebak dari penderitaan serta penindasan dari tentara Dai-Nippon Jepang yang sangat kejam. Ia rela mengorbankan nyawanya demi membela tanah air yang dicintainya. Berikut kira-kira inti dari film Lebak Membara yang masih aku ingat, detailnya aku benar-benar sudah lupa karena memang sudah 25 tahun yang lalu.

Bintang film favoritku saat itu adalah Barry  Prima dan Advent Bangun.

Cuaca malam itu sangat dingin, hembusan anginnya yang kencang sewaktu-waktu membuat orang-orang  yang berada di sekitar lapangan alun-alun kota Rangkasbitung memeluk erat-erat lutut masing-masing. Berusaha mengusir rasa dingin yang menusuk kulit. Perkiraanku saat itu menunjukan jam tiga pagi. Keinginan yang besar beserta rombongan teman-teman dari kampungku rela berjalan sejauh satu kilometer demi menonton filem layar tancap di alun-alun kota Rangkasbitung.

Tiga minggu yang lalu aku menanyai rumah dinas yang terletak di samping Taman Makam Pahlawan. Maksud hati mendapat petunjuk lebih  jelas atau minimal mempertegas asumsi pengalaman lampau. Entah penampilanku yang tidak sopan atau mereka sedang sibuk rapat dinas. Aku hanya dilayani di pintu masuk saja. Dengan berat hati mereka tidak mengiyakan pengalamanku. Penelusuranku jelas tidak menghasilkan secuil keterangan, bahkan arsip tentang kegiatan tahun itu.

Kembali ke masa lampau, layar berukuran besar yang terbuat dari kain warna putih terbentang. Sesekali layarnya bergoyang-goyang karena terpaan angin. Pemutaran filem belum juga dimulai padahal ratusan orang sudah berkumpul di depan dan di  belakang layar yang ditancapkan. Aku lebih senang melihat dari arah yang terbalik karena takut akan terhimpit, di tengah alun-alun. Hampir semua orang yang ada di situ sengaja membawa selimut atau kain sarung untuk menutupi badannya dari hembusan angin malam yang dingin. Dengan bermodalkan kain sarung dan koran bekas yang aku bawa dari rumah aku berniat menonton filem-filem itu sampai habis. Dan biasanya alas itu sangat berguna jika aku sudah mengantuk ataupun kedinginan.

Menonton film Lebak Membara setidaknya akan menyeret aku pada masa kanak-kanak. Masa yang begitu menggairahkan bagiku. Apapun itu. Aku mau tahu, dan ingin sekali mencobanya. Di tahun 1989, genap umurku menginjak usia sembilan tahun. Kursi yang kududuki saat itu bangku kayu keras yang terbuat dari pohon Jati. Bangku yang disediakan oleh si pendidik untuk kelas enam Sekolah Dasar. Ibu Marsinem (58) salah satu guru SDN Leudimar 09. Saat itu, dialah yang aku ingat dan sekarang masih ada. Dia pula seorang yang mewajibkan aku dan lainnya untuk menonton filem. Dugaanku saat itu, sudah pasti filem perang Janur Kuning yang kesohor di masyarakat akar rumput. Satu dari sekian banyak filem nasional yang harus aku tonton dan menyerahkan rangkuman hasil tontonan. Ternyata filem itu berjudul Lebak Membara. Produksi 1983 karya Imam Tantowi.  Filem yang diamini sebagai filem kebanggan masyarakat Lebak. Masyarakat Lebak yang tersebar di berbagai pelosok perbukitan ataupun di jantung kota sekalipun tahu filem itu. Pengakuan kecil ibu guru Sekolah Dasar, saat itu guru-guru  diinstruksikan untuk mewajibkan anak didiknya menonton filem. Prasangka muncul atas terjadinya pengalaman visual. Jelas jika itu semata-mata atas perintah dari Dinas Pendidikan, tanpa itu aku tidak akan menontonnya. Atau mungkin hanya menonton di layar tancap saat acara pernikahan atau hajatan. Kami asyik berbicara masa lampau dan hanya kata “perintah” itu yang terucap dari orang terpuji yang aku temui. Selebihnya dia banyak menanyakan kabar terakhir tentang kehidupanku.
 
Dari tulisan terbata-bata itu, aku coba menemui si pemilik gedung bioskop yang pernah kami datangi saat menonton filem Lebak Membara. Dengan susah payah aku menelusuri perkampungan bekas jalan kereta jurusan Bayah. Aku memulai dari kampung Pasir Jati. Perkampungan yang bisa melihat dengan jelas tempat tinggalku dan rumah orang yang akan aku temui untuk diajak berbagi. Setelah mendapat petunjuk dari beberapa kawan di kampung Pasir Jati akupun turun ke kampung Lebak Picung. Setelah bertanya-tanya lagi, akhirnya aku bisa menemuinya di ruangan sederhana miliknya. Ika (75) salah satu keluarga pendiri bioskop pertama di Lebak dengan tegar dan nada keras bertukar cerita di kediamannya beberapa minggu lalu. Berikut petikan wawancaranya dengan pemilik gedung bioskop pertama di Lebak.


Fuad (Fd):  Apakah bapak tahu bioskop pertama di Lebak?
Ika: Saya tahu bioskop pertama di Lebak. Bioskop pertama, berbadan swasta satu-satunya dimiliki satu keluarga. Keluarga Marjuk. Dan itu keluarga saya. Kita memang pemilik tanah itu sejak tahun 1955. Kita pertama kali mendirikan bioskop di tempat itu. Atas nama bioskop KAMI, KAMI merupakan singkatan dari Kartinah, Afifah, Marjuk, dan Ika. Bapak Marjuk ketika itu tidak banyak anak. 

 

Ketika itu bioskop mengalami kemunduran karena masuknya televisi yang berdampak pada kebangkrutan. Saya kira bukan hanya di Rangkasbitung saja tetapi di seluruh Indonesia juga. Gedung bioskop seperti gudang. Dengan ukuran dan bentuk yang sama dengan gudang. Ya kalau nggak ada filem buat apa digunakan gudang itu. Disewakan nggak ada objeknya. Tidak ada yang menyewa. Tidak ada yang nonton. Akhirnya kita jual sajalah. Saat itu saya engga mau ambil pusing. Ya sekarang baru merasakan pusing. Kalau tidak dijual mungkin sudah menjadi milyaran uang saya. Pemilik baru juga bernama Apollo mengalami kebangkrutan. Tidak lama setelah terjadi pembelian.

Fd: Kenapa bapak membuat Bioskop, dan bisa tidak diceritakan proses awal pembuatannya?
Ika: Ya! Kita yang membuatnya. Awalnya kita memulai dari panggung sandiwara.
Fd: Maksud bapak?
Ika: Ya sandiwara, namanya apa yah?. Saat itu kita mendirikan sandiwara.
Fd: Semacam opera?
Ika: Eee…bukan, kalau sekarang disebutnya apa yah?
Fd: Teater!
Ika: Ya..!! Mungkin sekarang namanya teater. Teater lama yang mengacu pada sejarah. Gajah Mada, Hayam Wuruk, terus ini apah..? Lutung Kasarung. Sejarah lama begitu. Setelah itu, karena mengurus orang lebih pusing, akhirnya kita mendirikan bioskop di tahun 1955. Sejak tahun 1955, kita terus memulai operasi. Ada kemajuan, terjual, ganti pimpinan, ya..  Apollo itu. Chow Sun waktu itu dulu. Sekarang dia sudah almarhum. Chow Sun itu, dulunya kuasa dari rokok Djarum.

Kan, dulu sebelum nonton di Apollo kita harus bayar tiket dengan menukar dengan bungkus rokok Djarum. Kamu belum pernah mengalami itu?

Usia kamu berapa tahun?

Fd: Benar? Jika Lebak punya bioskop satu-satunya?
Ika: Salah. Rangkasbitung memiliki dua bioskop. Yang pertama terletak di wilayah pasar dekat stasiun kereta api. Yang kedua di Jalan Sunan Kali Jaga. Yang sebelah selatan bernama Seminar. Dan yang sebelah utara namanya KAMI. Bioskop Seminar pada awalnya bernama bioskop Gembira. Setelah berhenti penguasanya atau manajer digantilah dengan Seminar. Mereka hanya merombak nama. Karena tanah di situ milik pemerintah. Hak guna pembangunan barangkali. Habis waktu diambil sama Pemda. Jadi rupanya diganti rugi saja oleh Pemda. Kemudian dijadikanlah pasar. Saat itu kami mendirikan bioskop bersamaan. Di Serang juga ada dua bioskop, yang pertama di Royal dan yang kedua di pasar. Nama bioskop di Royal bernama Gembira. Yang tidak ada bioskop mungkin hanya daerah Pandeglang. Masyarakatnya fanatik –agama.red.

Fd: Saya dengar di Labuan ada bioskop?
Ika: Ya memang ada di Labuan. Namanya bioskop Murni. Pemiliknya kawan saya. Tempatnya dekat stasiun kereta api tempo dulu. Persisnya yang sekarang dijadikan pangkalan bus Murni. Di situlah bioskop. Si pemiliknya kenal dengan saya dari awal berdiri. Kalau anda ke sana terus tanya nama saya. Dia pasti tahu. Umur dia lebih muda dari saya. Jikalau perbioskopan saya berani jamin. Rangkasbitung lebih ramai dari Labuan dan yang lainnya. Rangkasbitung punya dua bioskop dan bersaing ketat antara bioskop KAMI dan Seminar.


Fd: Anda kenal dengan pemilik bioskop Seminar?
Ika: Ya! Saya kenal. Dia itukan orang Jakarta. Dia itu orang Chinese. Tapi saya hanya kenal saja. Berbeda dengan yang di Labuan. Saya kenal dekat dengannya. Mungkin karena kami di bawah pengusaha filem yang sama. Terkadang adiknya disuruh cari filem ke Jakarta. Dan saya sering join dengannya.
Fd: Apakah alat untuk bioskop saat itu mahal?
Ika: Saat itu hanya bikin gedung, bangku, kan pake bangku bukan pake jok. Kemudian mesin. Filem sewa, listrik PLN. Dulu kursinya kursi kayu. Masih ada saya contoh kursinya dulu. Ini kursi bioskop dulu semacam ini. Tapi jati –kayu jati.red– loh. Ini salah satu peninggalan sisa dari mana saya tidak tahu. Ya semacam begini, terus diikat belakangnya pake bambu. Supaya tidak bisa di geser-geser. Saya masih punya kursi beginian, habisnya antik.

Fd: Bagaimana dengan pajak pemerintah?
Ika:  Pemerintah. Ya kitakan bayar pajak. Untuk bioskop, setiap menjual satu karcis itu. Pemda mendapat pajak sekian persen dari pada satu nilai karcis. Jadi, kalau satu rol filem harganya lima ratus rupiah untuk lima ratus orang. Kita masuk ke Pemda. Sebelum dijual karcis itu haruslah lapor dulu ke Pemda. Stempel tiap karcis lalu bayar. Dulu mereka enak, maka Pemda banyak duit. Seandainya sekarang lebih banyak duitnya Pemda. Jelas, sekarang sudah salah sistemnya. Sekarang toko Alya itu di flat. Toko-toko yang jualan milyaran itu kan. Ratusan juta semen dan yang lainnya. Ratusan juta itu. Semen, besi dan sebagainya itu. Itukan di flat oleh pajak. Kamu bayar dia sekian juta untuk satu tahun misalnya. Kalau dulu itu ada PPN . barang yang dijual itu diambil sekian persen.

Fd: Siapa yang membeli bioskop Bapak?
Ika: Saat itu, KAMI kesulitan uang dan kawan dari Jakarta membelinya. Dikarenakan di Lebak tidak ada yang mau membeli. Kemudian saya mencari pembeli. Kebetulan ada kawan di pasar ikan, usahanya. Dia ada duit dan join dengan kawannya lalu membeli bioskop saya. Tetapi tidak lama, dia tidak kuat, akhirnya dia jual lagi. Pindah tangan lagi. Itu pada Apollo. Apollo juga tidak kuat, akhirnya dijual lagi. Sekarang. Orang berebut membeli lahan itu buat Rumah Toko (RUKO). Dibuat sekian pintu menjadi sewa kontrak. Atau dijual. Dan itu bagi orang-orang yang punya uang.
Fd: Tahun berapa menjualnya?
Ika: Kita jual bioskop tahun 1969.
Fd: Itukan berdekatan dengan tahun pemberontakan?
Ika: Apaan sih..?! orang saat gerakan G30S kita masih membukanya. Saat itu kita dilempari batu oleh Gerakan Pemuda Rakyat. Karena saat itu kita putar filem Amerika. Pemuda Rakyat tidak senang. PKI itu. Kita banyak didemo. Saya tidak banyak mengerti soal politik. Saya tidak pernah ikut perpolitikan. Hanya saat itu, jika mereka melihat filem Amerika ditayangkan pasti marah. Marahnya kepada yang punya bioskop. Yang marah itu warga Lebak yang ikut dalam organisasi kepartaian. Yang tidak, ya pasti tidak. Ya penonton mereka terus saja menonton. Kalau misalkan pas lagi mau nonton ribut-ribut, paling-paling bubar dan tidak jadi filemnya diputar. Kejadian itu sering terjadi saat perpolitikan PKI. Sebelumnya tidak pernah ada. Jadi kalau dihitung dari tahun 1955 sampai 1965 belum pernah terjadi kerusuhan.

1965… mmm, sekitar 1968an lah kita menjualnya. Bioskop itu. Nah.. Setelah bioskop itu dijual kepada Djarum. Dibangun sedikit. Dibangun lagi bioskop. Tapi engga berapa lama. Sudah bikin bioskop, dijual lagi. Ya.. Kemudian jadilah yang sekarang ini. Oleh saudara Bhun Tiaw. Beruntung dia. Yang sekarang ini. Yang punya hotel Kharisma. Itu sebelahnya hotel punya saya yang dijual kepada dia. Hotel KAMI juga. Kita mempunyai bangunan dua. Hotel KAMI, yang sekarang jadi pertokoan, yang dibuat tingkat, sama yang sekarang dibuat pertokoan lagi. Yaitu bioskop KAMI. Tanah itu luasnya 1.600 meter. Sudah habis semuanya. Ya, kita akhirnya pindah ke Lebak Picung. Kira-kira sejak tahun 1980. Karena inflasi uang. Saat itu kita jual seharga Rp. 17.000.000,-. Hotel sebegitu besarnya sekarang harganya berapa Milyar itu. Haa…haa..haa..!! kalau ingat ke situ waduuuhhh.. bisa tiring istilahnya. Tapi ya sudahlah. Benar, dulu kita menjualnya segitu. Bioskop itu kita jual Rp. 1.000.000,-. Orang dulu di Rangkasbitung disuruh beli segitu tidak ada yang berani membeli. Seluruh Rangkasbitung nggak ada yang punya uang. Seluruh Rangkasbitung. Yang beli juga orang Jakarta. Jadi kuatnya uang dulu dengan kuatnya uang sekarang bayangkan saja. Sekarang sudah tidak aneh lagi. Di kampung saja uang sekarang bisa milyaran. Di kota banyak orang susah. Pekerja pabrik dan sebagainya.
Fd: Filem apa saja yang dipertontonkan tahun 1950an di bioskop KAMI?
Ika: Saat itu filem yang diputar ialah film X Am Pay. Amerika. Itu semua produser orang Amerika. Filem-filem itu masih black and white. Belakangan ini saja color.
Fd: Film eropa tidak ada?
Ika: Ya Eropa termasuknya amerika juga. Ada Eropa film Italia, Rusia ada, Prancis, ya dunialah..!! Tapi pada umumnya disatukannya oleh pengusaha Amerika. Yang ada di Jalan Segara Satu. Dekat istana itu. Dulu. Segara satu, Segara dua, Segara Tiga. Di situ blok filem semuanya. MGM, Twentieth Century Fox, RKO, Columbia, dan sebagainya. Itu semua assembling Amerika, hanya pindah kantor-kantor saja. Saya hafal soal filem itu mah.
Fd: Bapak dapat filemnya?
Ika: Kita dapat sewa filemnya dari sana. Kan sistemnya sewa. Sewa tiga hari flat berapa? Rp.500,-. Tiga hari lima ratus perak. Karcisnya hanya seperak dulu. Bayangkan saja. Haa..haaa..!! nonton satu perak, sewanya lima ratus. Itu tiga hari belum tentu banyak orang yang nonton karena kalau orang seneng baru banyak, tapi kalau engga ya rugilah kita. Sewa lima ratus bisa rugi kita.
Fd: Saat itu ramai?
Ika: Weitss.. Jangan salah, ramai lah… Ramai sekali. Kursi lima ratus habis jikalau ramai.
Fd: Emang mereka ngerti bahasanya?
Ika: Orang-orang Indonesia segala bahasa senang kok! Ada filem Cina, orang seneng. Asal filemnya action. Filem yang dia bisa ngerti. Filem India, Italia juga senang. Sejarah itu. Gladiator, Ben Hur itu, kan, Italia.
Fd: Kalau filem Rusia?
Ika: Ya itu..!! Filem Rusia orang kurang seneng. Cara berpakaiannya juga kurang seneng. Pokoknya urusan filem saya mencari sendiri, dan sewa juga sendiri. Saya kalau ke Jakarta setiap hari atau dua kali sehari. Saya juga memutar sendiri. Pekerja bioskop tidak ada lagi. Kami sekeluarga yang mengerjakannya. Ibu, bapak, anak, dan yang lain-lain hanyalah karyawan kecil lah. Tapi kalau yang potensi urusan filem saya. Dan sayalah yang bertugas mengambilnya ke Jakarta. Kantor filem mana saja di Jakarta saat itu saya tahu.
Fd: Mungkin bapak banyak tinggal di sana?
Ika: Ya..! Saya sering tinggal di Jakarta. Saat itu saya sekolah. Di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Saya masuk kuliah tahun 1960 dan tahun 1959 saya sudah lulus dari Sekolah Lanjutan Atas (SLA), Serang. Dulu SLA di sini tidak ada. Kita sekolah ke Serang, tiap paginya kita naik kereta. Jam empat pagi, kita sudah jalan naik kereta yang menggunakan bahan bakar arang. Terkadang perih jika kena mata. Sekarang saya lihat anak-anak sekolah tinggal enaknya. Kemana-mana pake angkot. Jarak dekat juga pake angkot, dulu kita tidaklah begitu. Saya dulu tiga tahun sekolah di Serang. Berangkat pagi pulang siang. Dulu, kita belum pernah disuruh-suruh sama orang tua untuk sekolah.. sekolah..!! bangun pagi..!! Engga tuh. Bangun dan sekolah sendiri. Kalau anak-anak sekolah sekarang harus dipukul dan dibangunkan, kalau tidak, mana mau sekolah. Itu bedanya sekarang. Kita bicara realitanya saja.
Fd: Saat menyewa filem ke Jakarta apakah tidak mengalami kesulitan transportasi?
Ika: Tidak. Saya terkadang pakai kereta api dan kendaraan roda dua. Rutenya cukup jauh karena harus ke Serang dulu. Tiga hari sekali biasanya saya naik motor ke Jakarta. Bayangkan, dari sini ke Pandeglang saja 20 kilo, dari Pandeglang ke Serang jaraknya 23 kilo. Dari Serang ke Jakarta jaraknya 91 kilo. Di daerah Lebak Timur tidak ada jalan menuju Jakarta. Hanya ada satu jalan ke timur, yakni menuju Bogor saja. Jarak yang jauh saya tempuh puluhan tahun. Di jalanan kecepatan kendaraan sepeda motor mencapai 100 km/jam, itu tidak ada apa-apanya. Lari terus ke Jakarta. Kalau saya berangkat dari Rangkasbitung jam 5 pagi, jam 7 saya sudah sampai di jalan Istana Jakarta.

Fd: Bagaimana dengan sensor?
Ika: Dulu sangatlah ketat. Saya harus menyetorkan terlebih dahulu filem yang akan diputar ke polisi. Tetapi sebelumnya kami sudah memotong bagian-bagian yang vulgar supaya dipermudah. Saat pemutaran, biasanya polisi terlibat pemeriksaan secara ketat. Dia biasanya naik ke tempat proyektor dan menyalakan lampu besar. Anak buahnya dan saya menelusuri satu persatu kursi bioskop. Pernah ada kejadian saya dengan polisi terlibat pertengkaran hebat. Gara-garanya ada sepasang suami istri yang masuk bioskop terus dikeluarkan. Saya tidak terima. Penonton itu sudah menunjukan KTP dan surat nikah. Mungkin polisi hanya melihat dari tubuh dan tampang saja. Mereka memiliki tubuh yang kecil. Pokoknya polisi sering kami kritik saat itu karena biasanya ada saja masalah.

Fd: Bapak kenal dengan Misbach?
Ika: Kok kamu tahu? Misbach Yusa Biran kan? Kamu tahu darimana si Misbach?
Berapa umurmu?
Fd: Umur saya antara 26 sampai 27 tahun. Saya hanya kenal sedikit. Itupun hanya dari buku saja dan cerita-cerita kawan diskusi dari Forum Lenteng. Kalau ada waktu, saya ingin ketemu dia.

Ika: Dia itu kakak kelasku saat SMP. Waktu itu saya hanya teman bermain dengannya. Tetapi dengan Dorodjatun Kuntjorojakti saya teman sebangku. Misbach orangnya alim, dan pendiam sekali. Dia sungguh berbeda dengan kami. Dia tidak senang main bola. Dari keluarganya ada keturunan darah seni. Sehingga ada adiknya bernama Ida Farida seorang sutradara juga. Misbach Yusa Biran, foto-fotonya banyak. Dia sih hobinya memfoto. Minta sama dia saja di studio miliknya. Mungkin bisa kamu dapatkan di studio Bantam. Kami sering bermain bahkan nonton bareng di bioskop milik saya. Bilang jika ketemu dia. Ada salam dari KAMI, pasti dia tahu. Orang waktu kecil kami sering kali bermain. Tetapi saat itu dia melanjutkan SLA di Jakarta bersama Dorodjatun Kuntjorojakti. Kabarnya Kuntjoro jadi menteri yah. Benerkan? Katanya sih begitu. Saya pernah nyari-nyari buku di kediamannya di Gang Tarman. Tapi saat itu saya tidak mendapat izin oleh penjaga rumahnya.

Fd: Filem apa yang bapak suka?
Ika: Saya jenis filem apa saja suka. Asal ada sifat action. Walaupun bohong tapi saya senang melihatnya. Saya senang filem yang bisa membawa hati saya jadi keras. Tekniknya terkadang bagus. Ceritanya juga bagus. Misalkan perang, penyelundupan, saya hobi yang nonton begitu-begitu. “Intel dimasukkan ke wilayah terlarang yang tidak aman. Saya senang walau pada kenyataannya bohong. Semua filem-filem bohong, tapi kalau action dibohonginya tidak jelas-jelas.

Fd: Bapak tahu filem action Lebak Membara?
Ika: Itu, kan, sejarah. Saya, sih, senang saja. Jadi meningkatkan pengetahuan kita pada sejarah. Itu sebetulnya bagus. Tetapi gimana, saya sudah tahu itu filem.
Fd: Apa selanjutnya yang anda lakukan setelah menjual bioskop?
Ika: Saat itu, saya beralih-alih profesi. Dari mulai jadi pemborong, penjual minyak kelapa, pokoknya ikut segala macam urusan dengan kawan-kawan yang bernasib baik. Saat itu karena banyak kawan jadi saya bisa ikut mereka. Sekarang saya berumur 70 tahun lebih. Bukannya mengurangi kawan malah nambah kawan. Setiap ketemu saya dia pasti jadi kawan saya, termasuk anda. Di Lebak ini saya tidak memiliki musuh sepotongpun. Sampai ke selatan sana. Bayah.
Fd: Apakah ada yang tersisa dari dokumentasi atau arsip bioskop KAMI?
Ika: Itu dia..!! Itu kelemahan saya. Dari dulu saya tidak suka foto-memfoto bahkan mengarsipkan sesuatu. Atau intinya menyisakan untuk kenangan. Saya tidak hobi.