Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri BERNAFAS DALAM LUMPUR. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri BERNAFAS DALAM LUMPUR. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 April 2021

BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1991

BERNAFAS DALAM LUMPUR 


Film ini hampir sama dengan tahun 1970 yang di bintangi Suzzana dan sama terrkenal dengan judul yang sama juga. BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1970


Supinah, kemudian bernama Yanti (Meriam Bellina) terpaksa meninggalkan anaknya di kampung untuk mencari suaminya yang sudah lama berusaha di Jakarta. Harapannya pupus ketika tahu suaminya sudah menikah lagi, dan malah mengusirnya. Terlunta-lunta di kota ia terperangkap masuk jaringan perdagangan wanita. Pertemuannya dengan Budiman (Rano Karno), anak orang berada yang bertaruh dengan kawan-kawannya agar membawa pacar pada suatu pesta, adalah awal dari perubahan perjalanan hidup Supinah. Lewat liku-liku peristiwa yang dialami Supinah (tekanan germo) dan Budiman (tekanan orangtua), Budiman akhirnya mengejar ke kampung dan mengajaknya menikah. Yanti meninggal. 
#filmindonesia #filmjadul #filmlawas #bernafasdalamlumpur
MERIAM BELLINA
RANO KARNO
FAROUK AFERO
TURINO DJUNAIDY
NINA MARTINI
NYOMAN AYU LENORA
PHIRDHANIE REKSA
USBANDA
HIDAYAT
ABDUH MURSID
SALIM BUNGSU
HENKY SOLAIMAN

Sabtu, 18 Juli 2020

BIOSCOOP DI TANAH MINANG (SUMBAR)

PADANG

Padang dengan wilayah yang bagus dan pelabuhan yangbesar pintu masuk dari berbagai negara juga, sehingga kebudayaan dan modrenisasi cepat, tidak heran wilayah ini paling cepat menikmati film.

Di Padang saja tak kurang ada 23 bioskop. Dengan luas wilayah 694,96 km persegi, berarti ada satu bioskop di setiap 30 km. 

Jalan Raya Padang-Indarung merupakan jalur terbanyak tempat bioskop berada. Mulai dari Indarung Theatre, Bandar Buat Theatre, Aru Theatre di Lubuk Begalung, Simpangaru Theatre, Bhakti Theatre di Tarandam, Raya Theatre, Karia Theatre, Padang Theatre, Satria Theatre, Imam Bonjol Theatre dan Mulia Theatre. Ke arah utara akan ditemukan Arjuna Theatre, Jati Theatre, Alai Theatre, Siteba Theatre, President Theatre, Saranggagak Theatre, Indah Theatre, dan Angkasa Theatre. Sedangkan ke arah utara tercatat, Kencana (Buana) Theatre, Purnama Theatre, Paraklaweh Theatre dan Gauang Theatre.

Di luar daerah bisa ditemukan Karia Pariaman, Karia dan Wirayudha di Solok, bioskop Karia dan Jaya di Padangpanjang, Gloria, Eri di Bukittinggi dan Adikaria di Pasaman.

Banyaknya bangsa eropha Belanda yang mendiami wilayah itu karena sumber alamnya, menjadikan butuh hiburan yang bersifat modern, waktu itu gambar hidup masih sebuah fenomena modern yang di gemari. Dan acara nonton film bersama dengan para pembesar pun di lakukan di ruangan-ruangan khusus. Tidak banyak film yang di putar, paling hanya film Dokumenter untuk propagandasaat itu, Jepang melawan Soviet dan lainnya. Mereka senang karena takjub akan gambar bergerak itu. 

Bioskop-bioskop baru berdiri pada dekade 1920an. Empat bioskop pertama di Padang, yakni Cinema Bioscoop, Apollo Bioscoop, Rio Bioscoop, Capitol Bioscoop dan New Rex, dimiliki oleh pengusaha Cina dan Eropa. 

Sampai sekarang belum diketahui letak persisnya keempat bioskop itu. Pada masa itu, pengusaha Cina memang banyak menanam saham untuk membangun bioskop, karena usaha perbioskopan begitu menjanjikan. Selain itu, para pengusaha Cina juga menganggap pengusaha Eropa telah gagal dalam berbisnis bioskop. Mereka yakin mereka bisa lebih baik dari orang-orang Eropa. Dalam berbisnis bioskop, pengusaha Cina cenderung mendirikan banyak bioskop dalam satu payung kepemilikan. Contohnya adalah Cinema Bioskop, yang dirintis pada 1921 oleh perusahan Maskapay Handle Industri. Ang Eng Kwan, pemimpinnya, kemudian mendirikan Appolo Bioscope pada 1926 dan Rio Bioskop pada 1936

Waktu itu harga karcis terbagi menjadi tiga klasifikasi: kelas satu ƒ 1,25; kelas dua ƒ 0,75; kelas tiga ƒ 0,25. Kelas menentukan posisi tempat duduk: kelas satu paling belakang, kelas dua di tengah, dan kelas tiga di depan. Penempatan ini selaras dengan stratifikasi sosial yang ditegaskan pemerintahan kolonial kala itu: kelas satu untuk orang-orang Belanda; kelas dua untuk orang Cina, India, Amerika, dan Eropa; dan kelas tiga untuk kaum pribumi atau Kelas Kambing yang duduk di lantai depan kursi kelas tiga. Mereka selalu berbisik, meribut seperti kambing. Mereka berisik karena terpukaunya dengan gambar bergerak itu sehingga emosional pun larut dalam film. Apa lagi kalau ada cewek cantik dan sexynya,...bisa ramai sekali. 

 

Melihat potensi penonton yang tinggi di kalangan penonton pribumi, para pengusaha Cina membuka bioskop mereka sepenuhnya untuk orang pribumi. Di Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh sudah mulai bertumbuhan bisokop.Walhasil, banyak yang pulang menonton dengan gaya layak koboi, dengan cara merokok dan sedikit aksyen ala jagoan, bahkan banyak yang meniru adegan sehingga banyak kasus kejahatan yang meniru salah satu adegan film, contohnya penjahilan tukang minyak keliling yang bocor sehingga minyaknya tercecer.

1930'an perang dunia 1 terjadi sehingga import film pun terganggu sehingga otomatis bioskop pun tidak ada film. Dan menghasilkan Gabungan Pengusaha Bioskop Hindia Belanda. Holthaus dari Centraale Theater, Buitenzorg (Bogor), terpilih sebagai ketua; Liono, manajer perusahaan film Remaco, terpilih sebagai sekretaris; dan Van Der Ie dari Centraale Bioscoop, Batavia, terpilih sebagai bendahara. Ada pula Yo Hen Siang dari Globe Bioscoop dan Oey Soen Tjan dari Cinema Palace, Batavia, terpilih sebagai komisaris. Pertemuan itu juga menetapkan iuran bioskop per bulan berdasarkan kelasnya: ƒ 15 untuk bioskop kelas I, ƒ 10 kelas II, dan ƒ 5 kelai III. Di Padang, bioskop kelas I meliputi Cinema Bioscoop, Rio Bioscoop, Capitol Bioscoop, dan Rex Bioscoop. Bioskop kelas II hanya Apollo Bioscoop.

Masuknya Jepang,  mendirikan Sindenbu alias Badan Propaganda dan Penerangan. Salah satu dampak dari kehadiran Sindenbu adalah pelatihan dan pendidikan seniman Indonesia, termasuk para sineas. Dampak lainnya adalah penutupan atau pengambilalihan semua bioskop milik warga Cina peranakan. Jepang tidak percaya kepada orang-orang Cina. Sebagai gantinya, pemerintah kolonial Jepang mendatangkan film-film dari negeri mereka, lengkap dengan subtitel supaya mudah dipahami warga setempat. Jepang juga mengatur harga karcis menjadi lebih murah, kira-kira 10 sen, sehingga warga pribumi miskin sekalipun bisa menonton di bioskop. Selain itu, Jepang turut menyelenggarakan pemutaran di ruang terbuka untuk daerah-daerah kecil yang tidak berbioskop.

Sehingga film pun berubah, sebuah film tentang pesawat tentara Jepang yang menembak jatuh pesawat sekutu.Hal ini untuk meyakinkan dan kegirangan penonton karena ikut merasakan kekuatan dari pasukan Jepang. pasukan Jepang adalah pasukan nomor satu di dunia. Selain film-film yang didatangkan dari Jepang, cuma ada film-film produksi sineas setempat yang diizinkan Jepang, dan jumlahnya tidak banyak. Pemutaran selalu diulang-ulang. Belum lagi krisis ekonomi yang melanda Sumatera Barat tidak kunjung membaik.

Saat Jepang kalah tanpa syarat, tidak sehebat di filmnya, Indonesia pun merdeka. Film-film dari luar Indonesia kembali banyak, tidak saja dari Amerika, tapi juga Uni Soviet dan Prancis. Bioskop-bioskop di Padang, salah satunya Capitol Bioscoop, juga kembali sering menayangkan film baru. 

Bioskop kala itu hanya mengadakan satu pemutaran tiap harinya, yakni pada jam tujuh malam. Selang satu dekade, hadir Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berusaha menghentikan pemutaran “film-film imperialis” di bioskop. Beberapa kader PKI, juga Lekra, membentuk PAPFIAS alias Panitia Aksi Penggayangan Film-film Imperialis Amerika Serikat sebagai ekpsresi ketidakpuasan terhadap masuknya pengaruh budaya barat, terutama Amerika, ke Indonesia. Bioskop pun berhenti menayangkan film-film Amerika, namun tetap memutar film-film dari Hongkong, Cina, Jepang, dan Italia. Budi dan Susi jadi tak antusias pergi ke bioskop lantaran tak suka atau tidak tahu filmnya. Selain itu, situasi nasional yang tak menentu 

Setelah peristiwa 30 September 1965, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengganti nama bioskop berbau asing ke nama yang lebih Indonesia. Cinema Bioscoop ganti nama jadi Bioskop Karia, Apollo Bioscoop jadi Bioskop Satria, Rio Bioscoop jadi Bioskop Mulia, Capitol Bioscoop jadi Bioskop Raya, dan New Rex jadi Bioskop Kencana.

Dekade 1970an sampai 1990an Boleh dibilang masa itu adalah masa keemasan bioskop di Padang. Masa-masa mencekam sudah berakhir, dan orang-orang kembali aktif berkegiatan di luar rumah.

Menonton di bioskop kala itu menghadirkan pengalaman yang khas. Selain perangkat pemutaran film dan tata suara bioskop, setiap studio turut dilengkapi skuadron nyamuk, pendingin ruangan yang entah ke mana, dan suara ribut orang-orang. Namun yang paling menjengkelkan adalah film yang mendadak berhenti di tengah-tengah pemutaran. Sebabnya adalah gulungan rol film berisikan paruh kedua film belum sampai di bioskop. Di tengah-tengah layar akan muncul tulisan “Mohon Maaf”. sepontan semua teriak,...dan memaki-maki,...pemilik bioskop yang keturunan Cina.

Seperti kota-kota lainnya, pembagian penonton menurut selera, Di Padang, misalnya, Bioskop Karia lebih banyak menayangkan film-film asing, dari Amerika, Eropa, Cina, Hongkong, dan Taiwan. Beberapa film Mandarin tonton di Karia adalah The Chance (1977), Hit Team (1982), dan Chow Yun Fat The Killer (1982). Bioskop Mulia adalah spesialis film India, sementara Bioskop Raya lebih sering memutar film-film Indonesia, seperti Lelaki Binal, Susuk Nyi Roro Kidul, Kenikmatan Tabu, Bernafas dalam Lumpur, Raja Copet, dan Raja Dangdut.

BUKIT TINGGI

Bukittinggi juga sama menariknya. Bioskop Eri cenderung memutarkan film India dan film-film misteri. Bioskop Sovia lebih dekat dengan film-film drama Indonesia macam Catatan Si Boy (1987), sementara Bioskop Gloria banyak menayangkan film-film Barat seperti Breakdance (1987) dan Top Gun (1987).


SOLOK
Di Solok, ketika sedang menonton di Bioskop Karia, bioskop itu selalu membicarakan tentang Roma Irama, Amitabacan, dan Sanjadut.

Animo masyarakat yang begitu tinggi mendorong pengusaha bioskop di Padang untuk mengembangkan bioskop-bioskop murah atau THR, karena masyarakat yang ingin menonton tidak bisa ditampung lagi oleh bioskop yang ada. 

Kehadiran bioskop-bioskop baru ini menambah jumlah bioskop di Padang mencapai 28 bioskop: Bioskop Karia, Bioskop Satria, Bioskop Raya, Purnama Theater, Kencana Theater, THR Irama Bahari, Padang Theater, Indah Theater, Bioskop Buana, THR Purnama, THR Angkasa, THR Bhakti, THR Imam Bonjol, THR Simpang Haru, THR Jati, THR Alai, THR Siteba, THR Karia Bandar Buat, THR Lubuk Begalung, THR Teluk Bayur, THR Bungus, THR Sarang Gagak, Indarung Theater, THR Yani, Arjuna Theater, Bioskop President, dan THR Parak Laweh.

Sarana menonton lainnya yang tersedia bagi masyarakat Sumatera Barat adalah bioskop misbar alias gerimis bubar. Pemutarannya berlangsung di lapangan terbuka, dengan harga tiket yang relatif murah, mulai dari Rp. 100 sampai Rp. 10.000, tergantung posisi tempat duduk yang ditentukan oleh warna tiket: merah, kuning, dan hijau. Bioskop Raya memiliki harga tiket paling mahal, yakni Rp. 10.000.

Masa kejayaan bioskop di Sumatera Barat tidak berlangsung lama. Tanda-tanda keruntuhan bioskop sudah terbaca sejak 1985, ketika teknologi video tape memungkinkan orang untuk menonton film di televisi. Maraknya pembajakan film membuat orang-orang lebih memilih menonton film dengan video tape yang diputar di televisi mereka (jika ada) atau tetangga mereka (jika tidak ada).


BUYA HAMKA PUN NONTON BIOSKOP
“Di bawah panggung itu, karena kenakalan anak-anak itu, telah mereka tembus sengaja dan mengintip dari sana dengan sepuas-puas hati. Rupanya kelakuan djahat ini ketahuan oleh pendjaga panggung, sehingga pendjaga panggung, melumar lobang-lobang intipan itu dengan ‘tahi ajam’. Alangkah lutjunya seketika segumpal tahi ajam melekat di hidung kawan kita. Dengan berbisik-bisik karena kebusukannja, diadjaknja kawan-kawannja itu ‘mengundurkan diri’ dari sana. Ada jang kena badjunja, ada jang kena hidungnja, dan ada pula jang kena kain sarung sembahjangnya. Pendjaga panggung terdengar tertawa terbahak-bahak” (Hamka, 1951:32-33).

BIOSCOOP CINEMA / KARIA


Dalam bukunya, Kenang-Kenangan Hidup, terbitan 1951, Buya Hamka menuturkan kenangan masa kecilnya saat nonton bioskop. Sayang, meski sudah mencoba mengintip layar dengan hati-hati, penjaga bioskop tetap saja tahu.

Hamka bercerita, penjaga bioskop kala itu terpaksa melumeri lubang-lubang di dinding bioskop dengan kotoran ayam. Alhasil, Hamka dan teman-temannya undur dari dari tayangan film gratisan yang mereka saksikan.

"Alangkah lutjunya seketika segumpal tahi ajam melekat di hidung kawan kita. Dengan berbisik-bisik karena kebusukannja, diadjaknja kawan-kawannja itu mengundurkan diri dari sana. Ada jang kena badjunja, ada jang kena hidungnja, dan ada pula jang kenal kain sarung sembahjangnya. Pendjaga panggung terdengar tertawa terbahak-bahak!" tulis Buya Hamka dalam bukunya.

Begitu pula di Kota Padang, Ibu Kota Provinsi Sumatra Barat sekaligus gerbang budaya Eropa untuk masuk ke Tanah Minang. Padang merupakan kota pertama di Sumatra yang mengecap kemajuan teknologi perfilman pada zamannya.

Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas Anatona mengungkapkan, keberadaan bioskop bisa memberikan gambaran bagaimana kehidupan masyarakat Padang dalam bersosialisasi. Seiring majunya teknologi, khususnya gambar bergerak, Padang menjadi kota di Sumatra pertama yang diincar pengusaha Belanda dan Cina untuk mengembangkan usaha bioskop.

Anatona juga menambahkan, keberadaan bioskop sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan hiburan. Bioskop Mulia yang berada di area Pasar Raya, misalnya, dengan setia menayangkan film-film India.

Bioskop Purnama terkenal dengan film-film aksi Hollywood. Sementara bioskop Raya, Karya, dan New Rex yang berada di Pondok tergolong bioskop elite yang memfasilitasi kaum Eropa dan pribumi berduit saat itu.

Pakar filologi Universitas Leiden Belanda, Suryadi, mengungkapkan Padang pada masa kolonial erat kaitannya dengan segala perkembangan yang terjadi di Batavia. Ia memisalkan, bila suatu media sudah dikenalkan di Batavia, tak lama berselang akan merambat ke Kota Padang.

Hal ini bisa dilihat dari perkembangan mesin bicara atau phonograf yang mulai dikenalkan di Padang pada 1898, setelah teknologi ini ditularkan dari Eropa ke Jawa beberapa tahun sebelumnya. Menyusul setelahnya, teknologi fotografi yang berkembang dan perfilman di era 1900-an yang masuk ke Batavia

Akhirnya, sejak awal abad ke-20 tersebut warga Kota Padang sudah mulai menyicip rasanya nonton layar lebar atau bioskop, yang diserap dari kata bioscoop dalam bahasa Belanda. Suryadi, dalam penelitiannya, merangkum terdapat empat bioskop pertama yang dibangun di Padang.

Empat bioskop tersebut yakni Royal Excelsior Bioscope, Biograph Bioscope, Scala Bioscope dan Cinema Theatre. Memasuki 1920-an, bioskop juga dibangun di Padang Panjang, Fort de Kock (Bukittinggi), dan Payakumbuh.

Seiring berjalannya waktu, seni perfilman yang dinikmati masyarakat Minang pada awal abad ke-20 memengaruhi tatanan budaya saat itu. Misalnya, nonton bioskop dianggap sebagai suatu identitas kemodernan.

Suryadi menilai, fenomena tersebut sejalan dengan semakin berkurangnya angka buta huruf. Pada masa kolonial, kegiatan membaca surat kabar atau buku-buku saja sudah dianggap intelek. Seiring berkembangnya budaya membaca, masyarakat Minang memang gemar cerita-cerita berbalut kisah romantisme anak muda.

Saat itu, roman-roman seperti Melati van Agam, Roos van Pajacomboe, Njai Sida: Roos van Sawah Loento, Orang Rantai dari Siloengkang, Hantjoer-leboernja Padang Pandjang, Zender Nirom, dan roman lainnya laris di pasaran. Di dalamnya sering ditemukan narasi mengenai tokoh-tokoh utamanya yang bergaya pergi nonton bareng ke bioskop.

Dalam penelitiannya, Suryadi juga menyebutkan keberadaan bioskop di Tanah Minang di medio 1920-1950 belum lekat dengan citra sebagai tempat untuk bergaya. Maksudnya, bioskop saat itu belum mampu membuat anak-anak muda berpakaian kebarat-baratan, meski saat itu masih berseliweran noni-noni Belanda yang ikut menikmati gambar bergerak di bioskop.



Pada masa lampau, menurut Suryadi, orang nonton film di bioskop masih mengenakan sarung dan peci. Bahkan, sebelum demam rok dan blus merebak, perempuan-perempuan Minang masih gemar mengenakan kebaya untuk ke bioskop.

Artinya, busana yang dikenakan pemuda-pemudi saat pergi ke masjid atau surau dan bioskop, sama saja.  "Harus diakui bahwa Padang sudah lama menjadi kota bandar yang ‘modern’. Sayang sekali belum ada studi historis yang komprehensif tentang  sejarah urban entertainment di Padang. Keberadaan bioskop tua, tentu harus ada upaya-upaya untuk menjaga nilai sejarahnya," kata Suryadi saat diwawancara via surat elektronik

Raya dan Karya merupakan bioskop peninggalan Belanda yang masih bertahan. Berdasarkan catatan Mardanas Safwan dkk dalam buku Sejarah Kota Padang, hingga dekade 1970-an masih bertahan tujuh bioskop peninggalan Belanda.

Ketujuh bioskop tersebut adalah Raya yang dulunya bernama Capitol Theatre, Karya yang dulunya Cinema, Satria, Purnama, New Rex Theatre, Padang Theatre, dan Mulia. Satu dekade berikutnya pada 1980-an, jumlah bioskop di Padang melonjak hingga 14 buah, termasuk bioskop Indah di Ulak Karang dan Terandam.

Kini, tiga dekade setelahnya, hanya dua bioskop tua yang bisa bertahan hidup. Itu pun, keduanya berjuang merebut hati penonton yang semakin hari semakin beralih ke jaringan-jaringan bioskop modern.

Persoalan penonton menjadi tantangan nomor wahid yang dihadapi pengelola bioskop sejak dulu kala, termasuk Karya dan Raya. Medio 1990-an, sejak industri perfilman Indonesia meredup dan ditambah dengan 'berkuasanya' grup 21, pemain-pemain bioskop lokal di daerah mulai kehabisan napas. Kondisi ini juga terjadi di Kota Padang, di mana perlahan bioskop-bioskop tua bertumbangan.

Hingga masuk 2000-an, hanya Karya dan Raya yang bisa bertahan. Namun, Karya dan Raya harus berbenah kalau ingin bertahan dalam kompetisi dengan jaringan bioskop modern.

Yolanda mengatakan perbaikan fasilitas, mulai dari sistem tiket hingga kursi, memang menjadi syarat untuk bertahan. “Dulu pernah nonton Jailangkung, saking banyaknya yang nonton, nggak kebagian kursi. Terpaksa ngampar di tangga sama penonton lain," ujar ibu muda ini.

Dedi (25 tahun), seorang pekerja swasta, mengatakan akan sangat disayangkan kalau bioskop Karya dan Raya tak bisa mengimbangi kemauan pasar. Menurut dia, pembenahan menyeluruh perlu dilakukan terhadap fasilitas bioskop-bioskop tua.

Dedi mengaku mengagumi kondisi gedung-gedung bioskop tua yang masih bisa bertahan hingga saat ini. "Dua bioskop itu bioskop bersejarah di Padang. Renovasi bisa menjadi jalan keluar. Dengan mempertahankan ornamen asli, bioskop-bioskop tua pasti akan diminati kembali. Namun tentu, butuh investor," ujar dia.

Masukan yang disuarakan oleh penonton seperti Yolanda dan Dedi seolah menggambarkan permintaan masyarakat pada umumnya. Padang merupakan Ibu Kota provinsi yang relatif besar. Sejumlah kampus mentereng bisa dijumpai di kota pinggir laut tersebut, dan 'memasok' belasan hingga puluhan ribu pendatang yang menuntut ilmu. Alhasil, Padang kebanjiran anak-anak muda yang mulai menggilai modernisasi. Hal ini juga berdampak dengan bioskop


 BIOSKOP CAPITOL / RAYA





 
PAYAKUMBUH

BIOSKOP KARYA



 
BUKIT TINGGI

BIOSKOP SOVIA


Semasa les itulah kami cabut – atau bolos bahasa Orang Jakartanya – dan kemudian pergi menonton ke Bioskop Gloria yang ada di Pasa Ateh Bukit Tinggi. Jam menontonnya ialah dari pukul dua hingga pukul empat atau setengah lima, tiket kalau kami tak salah ialah Rp.1.500 s/d Rp. 2.500,-. Jam menonton siang dengan jam menonton malam dibedakan harganya. Tidak ada pembedaan harga tiket berdasarkan jenis tepat duduk, sama saja dan bergantung kepada keberuntungan kita.

Terkadang kami menonton bersama kawan-kawan, terkadang kami hanya sendiri saja masuk, kelam setibanya di dalam, kami meraba-raba. Tempat duduk di sini masih dari rotan, ada yang telah dicoret-coret, ditempeli permen karet, ataupun telah rusak. Kami suka duduk di bagian tengah-tengah, kalau terlalu ke muka akan tidak nikmat menontonnnya, kalau terlalu ke belakang tidak pula suka, karena terlalu jauh.


 
Bioskop ini memiliki wc pada pintu yang berlawanan arah, apabila kita keluar dari ruangan tempat menonton maka kita harus berbelok ke kiri dimana di sanalah wc, apabila kita berbelok ke kanan maka kita akan sampai ke pintu yang diberi teralis dimana di mukanya terdapat orang berjualan rokok. Bagi penonton yang perokok maka mereka akan membeli rokok di sana dan menghisapnya di sana, ada jua yang merokok di dalam bioskop, asapnya akan tampak melayang-layang apabila terkena lampu sorot dari proyektor ke layar. Demikianlah kerja kami kalau cabut.


Sebenarnya Bukit Tinggi memiliki dua bioskop lainnya, satu terletak di samping Hotel The Hills sekarang, Sovia namanya, satu lagi di dekat Kantor Pegadaian (atau dekat bangunan tempat parkir sekarang) Bioskop Eri namanya. Pada saat sekarang, hanya Bioskop Eri yang masih jalan, itupun hanya satu-satu saja lagi filem yang diputar, entah ada jua yang menonton, entah tidak.

 Dahulu Bioskop Sovia jarang buka, sesekali saja, padahal gedungnya merupakan yang paling menarik, indah, dan mewah. Di bioskop inilah kami menonton filem Titanic untuk pertama kalinya, diputar pukul empat petang, akibatnya kami terlambat pulang. Pulang malam ialah terpantang, bisa mendapat murka. Dan memang itulah yang kami dapat.


Adapun dengan Bioskop Eri merupakan bioskop yang khusus memutar filem India atau filem-filem lokal yang judul beserta poster filemnya memprovokasi orang untuk menonton. Kami hanya sekali pernah menonton filem disini, dibawa oleh kawan, filem India yang tiada sampai usai kami tonton.


Pada saat penutupan filem melantun sebuah lagu “Itu Michel Jackson yang menyanyi ya tuan..” Tanya isteri kami.

“Entahlah..” jawab kami sambil terus searching di internet, setelah dapat synopsis filemnya “Hebat dinda, benar tebakan dinda rupanya..” seru kami. Isteri kamipun tersenyum kegirangan.

Demikianlah, filem Free Willy terbilang sukses meraup untung dan dibuat beberapa lanjutannya selepas filem pertama ini.

Kami berharap suatu saat kelak bioskop di Bukit Tinggi akan kembali hidup..

BIOSKOP ERI 


 
 
 
 

Bioskop Eri merupakan dua dari tiga bioskop yang masih bertahan hingga saat ini, bioskop ini merupakan sentra perfilman di Bukittinggi pada tahun 1980.

Bioskop Eri ini adalah satu-satunya bioskop jadul berkonsep PHR (panggung hiburan rakyat) dengan kursi kayu-rotan yang masih beroperasi di Bukittinggi, menayangkan film Indonesia dan film impor yang waktu rilisnya 5-6 tahun lalu dengan HTM 15 ribu rupiah.

Rabu, 08 Juli 2020

HARYA SURAMINATA (Si Putra Petir)

HARYA SURAMINATA
 (Si Putra Petir)


Di tengah gempuran superhero impor asal Jepang dan Amerika Serikat, Hasmi tetap setia menghadirkan sosok pahlawan super namun bercitarasa lokal. Alhasil, Gundala ciptaanya itu sangat digemari oleh mereka yang hidup di era 80-an hingga 90-an. Kisahnya bermula ketika Hasmi sedang kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia atau ASRI.

Saat itu, usianya menginjak 23 tahun. Tokoh Gundala ciptaanya terinspirasi dari The Flash buatan DC Comic Amerika.

Meski sama-sama mengusung tema superhero yang mempunyai kecepatan kilat, Hasmi membedakannya dengan sentuhan lokas khas Indonesia. Nama Gundala sendiri berasal dari Bahasa Jawa ‘gundolo’ yang artinya bledek atau petir.

Hasmi pun mulai dikenal berkat sosok Gundala Putra Petir ciptaanya. Bersama dengan Wid NS yang juga menciptakan tokoh bernama Godam Manusia Besi. Terlalu larut dengan keasyikannya bersama Gundala, Hasmi pun harus rela mengubur impiannya menjadi sarjana alias drop out dari bangku kuliah. “Sementara saya lebih berat memikirkan membuat jalan cerita Gundala karena sudah bisa menghasilkan uang pada saat itu,” lanjut Hasmi.

Karena mengorbankan pendidikannya, Hasmi pun terpacu untuk membuat Gundala menjadi karya terbaik. Selama 14 tahun menjalani proses kreatif, Ia telah membuat Gundala dalam 23 judul antara tahun 1969 hingga1982. Di mana kisah Surat dari Akherat merupakan kisah yang terakhir dari awal terciptanya Gundala. Hingga pada puncaknya, karya Hasmi itu menjadi ikon bagi generasi tahun 70-an hingga 80-an.
 
Penciptaan Gundala oleh komikus Harya Suraminata disebut-sebut terinspirasi oleh Ki Ageng Selo, tokoh legenda yang diceritakan bisa menangkap petir. Nama Gundala sendiri berasal dari kata "gundolo" yang artinya petir.

Dalam tradisi lisan di beberapa daerah di Jawa Tengah, Ki Ageng Selo merupakan tokoh yang terkenal bisa menangkap petir. Diceritakan, suatu hari Ki Ageng Selo sedang mencangkul di sawah. Langit mendung lalu turun hujan dan tiba-tiba petir menyambarnya. Namun, dengan kesaktiannya, dia berhasil menangkap petir itu. Petir tersebut berwujud naga. Ki Ageng Selo mengikatnya ke sebuah pohon Gandrik.

Ketika dibawa kepada Sultan Demak, naga tersebut berubah menjadi seorang kakek. Kakek itu kemudian dikerangkeng oleh Sultan dan menjadi tontonan di alun-alun. Kemudian datanglah seorang nenek mendekat, lalu menyiram air dari sebuah kendhi ke arah kakek tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara petir menggelegar dan kakek nenek tersebut menghilang.




Dari kisah tersebut berkembang mitos kalimat, “Gandrik, aku iki putune Ki Ageng Selo” yang artinya, “Gandrik, saya ini cucunya Ki Ageng Selo.” Kalimat itu, bagi sebagian penduduk daerah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu misalnya, dipercaya dapat menghindarkan mereka dari sambaran petir ketika hujan datang.

Sigit Prawoto, dosen Antropologi Sosial dan Etnologi Universitas Brawijaya, dalam bukunya Hegemoni Wacana Politik menyebut, “pernyataan klaim kekeluargaan ini mengandung keyakinan kultural bahwa seseorang yang berasal dari keturunan orang yang memiliki kualitas (kasekten) tertentu akan mewarisi kualitas tersebut.”

Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir diabadikan dalam ukiran pada Lawang Bledheg atau pintu petir di Masjid Agung Demak. Ukiran pada daun pintu itu memperlihatkan motif tumbuh-tumbuhan, suluran (lung), jambangan, mahkota mirip stupa, tumpal, camara, dan dua kepala naga yang menyemburkan api.

Lawang bledheg sekaligus menjadi prasasti berwujud sengkalan memet (chronogram) dibaca “naga mulat salira wani” yang menunjukkan angka tahun 1388 S atau 1466 M. Tahun tersebut diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Masjid Agung Demak.

Lawang bledheg memiliki makna lain selain sebagai penggambaran kisah Ki Ageng Selo. Supatmo dalam "Ikonografi Ornamen Lawang Bledheg Masjid Agung Demak" yang terbit di Jurnal Imajinasi, September 2018, menyebut Lawang Bledheg berisi makna simbolis nilai-nilai pra-Islam.

 “Dalam dimensi ikonografis, keberadaan motif-motif tradisi seni hias pra-Islam (Jawa, Hindu, Buddha, dan China) pada ornamen lawang bledheg Masjid Agung Demak merupakan pernyataan simbolis tentang toleransi terhadap pluralitas budaya masyarakat yang berkembang pada masa awal budaya Islam di Jawa (Demak),” tulis Supatmo, dosen Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang.

Menurut Soetardi dalam Pepali Ki Ageng Selo, Ki Ageng Selo merupakan keturunan Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Prabu Brawijaya, dari istrinya yang paling muda yang berasal dari Wandan atau Bandan atau Pulau Banda Neira, mempunyai anak bernama Bondan Kejawen. Ki Ageng Selo merupakan cucu dari Bondan Kejawen.

Ki Ageng Selo hidup di masa Kerajaan Demak. Tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Trenggana, awal abad ke-16. Dia lahir sekitar akhir abad 15 atau awal abad 16. Ki Ageng Selo pernah ditolak menjadi anggota Prajurit Tamtama Pasukan Penggempur Kerajaan Demak.

Tak sekedar menggambar Gundala, Hasmi juga melebarkan bakat seninya ke berbagai bidang. Seperti bermain sinetron, tampil di sejumlah acara TV, serta menulis skenario film. Gundala ciptaan Hasmi, bahkan telah dibuatkan filmnya yang dirilis pada 1981.GUNDALA PUTRA PETIR

Saking digandrungi kawula muda saat itu, Preseiden Soeharto pun menyuruhnya agar dibuatkan sebuah seri komik bercerita. Alhasil, tawaran proyek yang datang membuat Hasmi dan seniman lainnya seperti Wid NS, menghentikan aktivitas menggambarnya untuk fokus membuat jalan cerita komik.

Menginjak sekitar tahun 1986, banyak penerbit menghentikan percetakan komik lokal. Tentu saj hal ini merupakan berita buruk bagi Gundala dan tokoh imajinatif lainnya. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1988, eksistensi komik lokal Indonesia benar-benar hilang dari peredaran. Seiring redupnya popularitas Gundala dan sosok lainnya, kartun manga dari Jepang perlahan mulai menyita perhatian mulai dari awal 1990-an hingga saat ini.

Setelah lama tidak terdengar, tahun 2005 agak sering diberitakan media karena rencana Penerbit PT Bumi Langit menerbitkan ulang semua karya Gundala yang mencapai 23 buku. Dan tahun 2009 ini sehubungan dengan rencana peringatan 40 tahun Gundala dan pembuatan film Gundala The Movie.

Ada beberapa fakta menarik yang berhasil saya kumpulkan mengenai Gundala dan Hasmi:

1. Gagasan Gundala diinspirasi oleh tokoh komik The Flash yang dipadukan dengan cerita legenda Ki Ageng Selo.
2. Tokoh Nemo di komik Gundala adalah cerminan Hasmi. Kebetulan Nemo adalah nama panggilannya.
3. Pengakuan terakhir Hasmi, Gundala adalah seorang insinyur bukan peneliti, dosen sebagaimana yang disebutkan di Wikipedia. Ini mungkin ada hubungannya dengan cita-citanya yang gagal menjadi seorang insinyur karena gagal masuk UGM.
4. Dalam Gundala The Movie yang akan masuk bioskop bulan Juni 2009, Gundala diceritakan sebagai arkeolog. Dalam hal ini nampaknya Hasmi keberatan. Rencana film ini nampaknya menjadi tidak jelas sesuai konfirmasi terakhir Hasmi (12/3) ke Jawa Pos. Apa yang ada di Facebook bukan resmi dari Bumi Langit tetapi merupakan inisiatif para penggemar Gundala.
5. Saat ini dia sedang sibuk menyiapkan edisi 40 Tahun Gundala bersama tim dari Bumi Langit yang rencananya diterbitkan September, sesuai kelahiran Gundala.

GundalaPuteraPetir(1969)

Komigrafi Gundala:
1. Gundala Putera Petir (UP Kentjana Agung, 1969)
2. Perhitungan di Planet Covox (UP Kentjana Agung,1969)
3. Dokumen Candi Hantu (UP Kentjana Agung,1969)
4. Operasi Goa Siluman (UP Kentjana Agung,1969)
5. The Trouble (UP Kentjana Agung,1969)
6. Tantangan buat Gundala (UP Kentjana Agung,1969)
7. Panik (UP Kentjana Agung,1970).
8. Kuntji Petaka (UP Prasidha,1970).
9. Godam vs Gundala (UP Prasidha,1971)
10. Bentrok Jago-jago Dunia (UP Prasidha,1971)
11. Gundala Jatuh Cinta (UP Prasidha,1972).
12. Bernafas dalam Lumpur (UP Prasidha,1973)
13. Gundala Cuci Nama (UP Prasidha,1974)
14. 1000 Pendekar (UP Prasidha,1974)
15. Dr. Jaka dan Ki Wilawuk (UP Prasidha,1975)
16. Gundala sampai Ajal (UP Prasidha,1976)
17. Pangkalan Pemunah Bumi (UP Prasidha,1977)
18. Penganten buat Gundala (UP Prasidha,1977)
19. Bulan Madu di Planet Kuning (UP Prasidha,1978)
20. Lembah Tanah Kudus (UP Prasidha,1979)
21. Gundala Sang Senapati (UP Prasidha,1979)
22. Istana Pelangi (UP Prasidha,1980)
23. Surat dari Akherat (UP Prasidha,1982)

Semuanya diterbitkan ulang oleh PT Bumi Langit, kecuali Bentrok Jago-jago Dunia karena masalah hak cipta.

Tahun 1988, Gundala pernah muncul di Jawa Pos sebagai komik strip.

Filmografi:
1. Gundala Putra Petir (1981, Teddy Purba sebagai Gundala, Sutradara Lilik Sudjio).
2. Gundala The Movie (rencana Juni 2009, Sandy Mahesa sebagai Gundala, Sutradara Alex J. Simal, Produksi Langit Bumi Pictures).

Fan Made Komik:
1. Gundala The Reborn (1999, Adurahman Saleh)
2. Putra Petir (2001, Riri Dewi)
3. Sancaka (2005, Ahmad Ilyas)
4. Gundala (2005, Asrulloh)
Hasmi lahir di Yogyakarta pada 25 Desember 1946. Ia menempuh pendidikan di SD Ngupasan 2 Yogyakarta, kemudian melanjutkan ke SMP Bopkri 1 Yogyakarta. Setelah SMP, Hasmi melanjutkan sekolahnya di SMA Bopkri 1 Yogyakarta. Setelah lulus SMA, Hasmi memasuki bangku perkuliahan di Akademi Seni Rupa Indonesia selama dua tahun. Namun, pendidikan di akademi seni ini tak diselesaikannya. Sejak 1968 hingga 1995, ia aktif membuat komik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Harya "Hasmi" Suraminata, Komikus di Balik Gundala Putra Petir", https://www.kompas.com/tren/read/2019/08/29/152734165/mengenal-harya-hasmi-suraminata-komikus-di-balik-gundala-putra-petir?page=all.
Penulis : Dandy Bayu Bramasta
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Sabtu, 04 Juli 2020

ROEKIAH 1937-1944



Roekiah; 1917–1945, sering ditulis sebagai Miss Roekiah,
adalah aktris dan penyanyi keroncong Indonesia. Seorang putri dari pasangan pemain sandiwara, ia memulai kariernya pada usia tujuh tahun; pada tahun 1932 ia terkenal di Batavia, Hindia Belanda (kini Jakarta, Indonesia), sebagai penyanyi dan pemain sandiwara. Pada masa ini, ia bertemu dengan Kartolo, yang ia nikahi pada tahun 1934. Pasangan ini bermain dalam film Terang Boelan pada tahun 1937. Dalam film tersebut, Roekiah dan Rd Mochtar berperan sebagai sepasang kekasih.

Setelah film tersebut sukses secara komersial, Roekiah, Kartolo, dan sebagian besar pemeran dan kru Terang Boelan dikontrak oleh Tan's Film, dan pertama kali bermain dalam film Fatima yang diproduksi oleh perusahaan tersebut pada tahun 1938. Roekiah dan Mochtar kembali beradu akting dalam dua film sebelum Mochtar hengkang dari Tan's Film pada tahun 1940; melalui film-film ini, Roekiah dan Mochtar menjadi pasangan layar lebar pertama di Hindia Belanda. Pengganti Mochtar, Rd Djoemala, beradu akting dengan Roekiah dalam empat film, meskipun film-film tersebut tidak begitu sukses. Setelah Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, Roekiah hanya bermain dalam satu film menjelang kematiannya; sebagian besar waktunya ia habiskan untuk menghibur para tentara Jepang.

Semasa hidupnya, Roekiah adalah seorang ikon mode dan kecantikan, penampilannya dalam sejumlah iklan dan lukisan kerap dibandingkan dengan Dorothy Lamour dan Janet Gaynor. Meskipun sebagian besar film-film yang ia bintangi saat ini sudah hilang, ia tetap dikatakan sebagai seorang pelopor perfilman, dan sebuah artikel tahun 1969 menyatakan bahwa "pada zamannya [Roekiah] telah mencapai suatu popularitas yang boleh dikatakan sampai sekarang belum ada bandingannya". Dari kelima anaknya dengan Kartolo, salah satunya – Rachmat Kartolo – juga berkecimpung di dunia akting.

Roekiah lahir di Bandung, Jawa Barat, Hindia Belanda, pada tahun 1917, putri dari pasangan Muhammad Ali dan Ningsih, pemain sandiwara pada rombongan Opera Poesi Indra Bangsawan Ali berasal dari Belitung, sedangkan Ningsih berdarah Sunda dan berasal dari Cianjur.[3] Selain belajar akting dari kedua orang tuanya, Roekiah juga belajar kerajinan tangan bersama para anggota rombongan lainnya. Roekiah dan kedua orang tuanya terus-terusan bepergian, sehingga Roekiah tidak mempunyai waktu untuk menempuh pendidikan formal. Pada pertengahan 1920-an, mereka bergabung dengan rombongan sandiwara lain bernama Opera Rochani.

Meskipun ditentang oleh keluarganya, Roekiah bersikeras ingin ikut serta main sandiwara, dan meminta izin pada ibunya untuk tampil di atas panggung. Ningsih setuju, dengan syarat ia hanya diperbolehkan tampil sekali. Saat berusia tujuh tahun, Roekiah tampil di panggung untuk pertama kalinya, Muhammad Ali – yang tidak mengetahui perjanjian antara istri dan putrinya – bergegas ke atas panggung dan menyuruh Roekiah agar berhenti bernyanyi. Akibatnya, Roekiah menolak makan sampai kedua orang tuanya akhirnya mengalah. Setelah itu, Roekiah tampil secara rutin bersama rombongan sandiwara.

Pada tahun 1932, saat bergabung dengan Palestina Opera di Batavia (kini Jakarta), Roekiah berhasil menjadi seorang aktris sandiwara dan penyanyi keroncong terkenal. Ia dikagumi tidak hanya karena suaranya, tetapi juga karena kecantikannya. Saat bersama Palestina Opera, ia bertemu dengan calon suaminya, Kartolo; seorang aktor, pianis, dan penulis lagu dalam rombongan. Mereka berdua menikah saat Roekiah berusia tujuh belas tahun. Pasangan baru ini mengambil cuti selama sebulan dan kemudian bergabung dengan grup Faroka untuk menjalani tur di Singapura, dan kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1936.

Pada tahun 1937, Roekiah bermain film untuk pertama kalinya dengan berperan sebagai aktris utama dalam film Terang Boelan karya Albert Balink. Ia dan lawan mainnya, Rd Mochtar, berperan sebagai sepasang kekasih yang kawin lari agar karakter Roekiah tidak dinikahi oleh seorang penyelundup opium Kartolo juga memiliki peran kecil. Film ini sukses secara komersial, meraup lebih dari 200.000 Dolar Selat saat dirilis secara internasional sejarawan film Indonesia, Misbach Yusa Biran, menyebut Roekiah sebagai "dinamit" yang menyebabkan kesuksesan film.

Setelah kesuksesan Terang Boelan, Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat yang memproduksi film tersebut memutuskan untuk berhenti memproduksi film fiksi. Menurut wartawan W. Imong, akibat tidak memiliki pekerjaan dan depresi setelah kematian ibunya, Roekiah "suka diam-diam, bermenung-menung sebagai seorang yang mengandung sakit jiwa". Untuk mengalihkan perhatian istrinya, Kartolo mengumpulkan para pemeran Terang Boelan lainnya dan mendirikan Terang Boelan Troupe. Grup ini menggelar tur ke Singapura dan akhirnya berhasil membuat Roekiah melupakan kesedihannya. Setelah rombongan ini kembali ke Hindia Belanda, sebagian besar pemeran bergabung dengan Tan's Film termasuk Roekiah dan Kartolo; pasangan ini juga bergabung dengan grup musik keroncong Lief Java.

Bersama Tan's Film, para pemeran Terang Boelan bermain dalam film sukses Fatima pada tahun 1938, yang dibintangi oleh Roekiah dan Rd Mochtar. Dalam film ini, Roekiah memainkan peran utama – seorang gadis muda yang menolak rayuan seorang pemimpin geng karena jatuh cinta pada seorang nelayan (Rd Mochtar). Fatima secara teliti mengikuti pola produksi yang diterapkan pada Terang Boelan. Akting Roekiah dalam film ini dipuji secara luas. Salah seorang pengulas dari Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië menulis bahwa "pemeranan Roekiah yang sederhana mengenai ketidakadilan dalam pernikahan adat Melayu bahkan telah memikat para penonton Eropa", sedangkan pengulas lainnya dari Bataviaasch Nieuwsblad menyatakan bahwa penampilan Roekiah diapresiasi oleh semua orang.

Fatima sukses besar secara komersial; dengan anggaran 7.000 gulden, film ini berhasil meraup 200.000 gulden. Setelah kesuksesan film ini, Tan's terus memasangkan Roekiah dan Rd Mochtar dalam film-filmnya. Mereka berdua menjadi pasangan selebriti layar lebar pertama di Hindia Belanda, dan dijuluki dengan Charles Farrell–Janet Gaynor Indonesia. Kepopuleran Roekiah-Rd Mochtar sebagai pasangan layar lebar menyebabkan studio-studio lainnya mengikuti jejak Tan's dengan membentuk pasangan romantis ciptaan mereka sendiri. The Teng Chun misalnya, memasangkan Mohamad Mochtar dan Hadidjah dalam film Alang-Alang pada tahun 1939.

Untuk mempertahankan bintang baru mereka, Tan's Film menghabiskan uang dalam jumlah besar. Roekiah dan Kartolo menerima gaji bulanan sebesar 150 dan 50 gulden masing-masingnya, dua kali lebih besar dari honor yang mereka terima saat bermain Terang Boelan. Mereka berdua juga diberi sebuah rumah di Tanah Rendah, Batavia. Roekiah dan Kartolo terus bermain dalam film-film produksi Tan's; Kartolo sering diberi peran-peran kecil dan komedi, sedangkan Roekiah menyanyikan lagu-lagu yang ditulis oleh suaminya. Pada tahun 1939, mereka bermain film bersama, dengan Rd Mochtar berperan sebagai pasangan Roekiah, yakni dalam film Gagak Item yang terinspirasi dari cerita Zorro. Meskipun tidak sesukses film-film sebelumnya, film ini masih menguntungkan. Seorang pengulas dari Bataviaasch Nieuwsblad memuji akting Roekiah yang "bersungguh-sungguh".

Film terakhir Roekiah bersama Rd Mochtar adalah Siti Akbari, yang dirilis pada tahun 1940. Cerita film ini kemungkinan terinspirasi dari syair berjudul sama karya Lie Kim Hok, dan menampilkan Roekiah sebagai pemeran utama. Filmnya sendiri mengisahkan mengenai seorang istri teraniaya yang tetap setia kepada suaminya meskipun ia telah berselingkuh. Siti Akbari diterima dengan baik, memperoleh pendapatan sebesar 1.000 gulden pada malam pertama pemutarannya di Surabaya, meskipun pada akhirnya tidak berhasil meraup keuntungan yang setara dengan Terang Boelan atau Fatima.

Ditengah-tengah perselisihan mengenai upah, Rd Mochtar keluar dari Tan's Film dan bergabung dengan pesaingnya, Populair Films, pada tahun 1940. Oleh sebab itu, Tan's mulai mencari pasangan baru untuk Roekiah. Kartolo meminta seorang kenalannya, pengusaha jahitan bernama Ismail Djoemala, untuk menjadi lawan main baru bagi Roekiah. Meskipun Djoemala tidak pernah berakting sebelumnya, ia telah bernyanyi bersama grup Malay Pemoeda pada tahun 1929. Setelah Kartolo memintanya enam kali, Djoemala akhirnya setuju. Perusahaan menganggap bahwa Djoemala yang rupawan dan berperawakan tinggi adalah pengganti yang cocok dan mempekerjakannya dengan nama panggung Djoemala.

Roekiah dan Djoemala pertama kali beradu akting dalam film Sorga Ka Toedjoe pada akhir 1940. Dalam film ini, Roekiah berperan sebagai seorang gadis muda yang dengan bantuan kekasihnya mampu mempersatukan kembali bibinya yang buta (Annie Landouw) dengan suaminya (Kartolo) setelah bertahun-tahun berpisah Seperti film-film sebelumnya, film ini juga sukses secara komersial dengan ulasan yang positif. Soerabaijasch Handelsblad berpendapat bahwa Djoemala berakting sebaik, jika tidak lebih baik dari Rd Mochtar. Ulasan lainnya di Singapore Free Press menulis bahwa "Roekiah memainkan peran pahlawan wanita dalam cara yang paling terpuji". Bulan April tahun berikutnya, Tan's merilis Roekihati, dibintangi oleh Roekiah yang berperan sebagai gadis muda yang pergi ke kota demi mencari uang untuk keluarganya yang melarat, dan akhirnya menikah. Penampilannya dalam film ini dipuji oleh Bataviaasch Nieuwsblad, yang menulis bahwa ia berhasil dengan baik memerankan peran yang sulit.

Pada tahun 1941, Roekiah dan Djoemala menyelesaikan Poesaka Terpendam, film aksi yang mengisahkan mengenai dua kelompok – ahli waris yang sah (termasuk Roekiah) dan segerombolan penjahat – yang berlomba menemukan harta karun terpendam di Banten. Roekiah dan Djoemala terakhir kali bermain bersama dalam film Koeda Sembrani pada awal 1942. Dalam film tersebut, yang diadaptasi dari Kisah Seribu Satu Malam, Roekiah berperan sebagai Putri Shams al-Nahar yang menunggangi seekor kuda terbang.[34] Film ini masih belum rampung ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada bulan Maret 1942, dan baru ditayangkan pada bulan Oktober 1943.

Secara keseluruhan, Roekiah dan Djoemala telah bermain dalam empat film dalam dua tahun. Biran berpendapat hal ini membuktikan bahwa Tan's Film telah "menyia-nyiakan hartanya", karena pesaingnya memanfaatkan bintang-bintangnya untuk bermain dalam lebih banyak film; Java Industrial Film misalnya, pada tahun 1941 saja mampu memproduksi enam film yang dibintangi oleh Moh. Mochtar. Meskipun terus sukses secara komersial, film-film tersebut masih belum mampu menghasilkan keuntungan sebesar yang dihasilkan oleh film-film Roekiah sebelumnya.

Produksi film di Hindia Belanda menurun setelah pendudukan Jepang pada awal 1942; penguasa Jepang memaksa untuk menutup semua, kecuali satu, studio film. Jepang membuka studio film milik mereka sendiri di Hindia Belanda bernama Nippon Eigasha, yang ditugaskan memproduksi film-film propaganda untuk kepentingan perang. Tanpa Roekiah, Kartolo bermain dalam film satu-satunya yang diproduksi oleh studio tersebut, Berdjoang, pada tahun 1943. Setelah absen selama beberapa tahun, Roekiah juga bermain dalam film produksi Nippon dengan membintangi sebuah film pendek propaganda Jepang berjudul Ke Seberang pada tahun 1944. Meskipun demikian, Roekiah menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berpergian ke seluruh Jawa bersama perusahaan teater untuk menghibur para tentara Jepang.

Roekiah jatuh sakit pada bulan Februari 1945, tak lama setelah merampungkan film Ke Seberang. Meskipun sedang sakit, juga keguguran, ia tidak diperbolehkan beristirahat; tentara Jepang bersikeras bahwa ia dan Kartolo harus menjalani tur ke Surabaya, Jawa Timur. Sekembalinya ke Jakarta, kondisinya semakin memburuk. Setelah menjalani pengobatan selama beberapa bulan, ia meninggal dunia tak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Roekiah dikebumikan di Kober Hulu, Jatinegara, Jakarta. Pemakamannya dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Menteri Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Roekiah berkata bahwa Kartolo adalah pasangan yang tepat baginya, mengungkapkan bahwa pernikahannya mendatangkan "banyak rezeki". Pasangan ini dikaruniai lima anak. Sepeninggal Roekiah, Kartolo membawa kelima anaknya ke kampung halamannya di Yogyakarta. Untuk menafkahi keluarga, Kartolo bekerja di Radio Republik Indonesia sejak tahun 1946. Di sana, ia melewati Revolusi Nasional Indonesia yang sedang berlangsung, konflik bersenjata dan perjuangan diplomatik antara Indonesia yang baru merdeka dengan Kerajaan Belanda yang bertujuan untuk meraih pengakuan internasional atas kemerdekaan Indonesia. Setelah Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 dan berhasil merebut Yogyakarta, Kartolo menolak bekerja sama dengan penjajah. Tanpa adanya sumber penghasilan, ia jatuh sakit dan meninggal dunia pada tanggal 18 Januari 1949.

Salah seorang anak Roekiah dan Kartolo meninggal di Yogyakarta saat berusia sepuluh tahun. Anak yang selebihnya dibawa ke Jakarta setelah Revolusi Nasional Indonesia berakhir pada tahun 1950. Di Jakarta, mereka dirawat oleh teman dekat Kartolo bernama Adikarso. Salah seorang anak mereka, Rachmat Kartolo, kelak menjadi penyanyi dan aktor yang aktif pada tahun 1970-an, ia dikenal atas lagu-lagu seperti "Patah Hati" dan film-film seperti Matjan Kemajoran (1965) dan Bernafas dalam Lumpur (1970). Dua putra mereka yang lainnya, Jusuf dan Imam, membentuk sebuah grup musik sebelum berkarier di tempat lain. Putri mereka, Sri Wahjuni, tidak ikut berkecimpung dalam industri hiburan.

Media memandang Roekiah dengan penuh kasih, dan film-film terbarunya secara konsisten selalu menerima ulasan positif. Di puncak popularitasnya, para penggemar meniru busana yang dikenakan oleh Roekiah di film-filmnya. Roekiah muncul secara rutin dalam berbagai iklan, dan sejumlah rekaman yang berisikan suaranya tersedia di pasaran. Dalam wawancara pada tahun 1996, salah seorang penggemar mengungkapkan bahwa Roekiah adalah "idola setiap pria", sedangkan penggemar lainnya menyebut Roekiah sebagai Dorothy Lamour-nya Indonesia. Penggemar lain, yang telah menyaksikan film-filmnya lima puluh tahun sebelumnya, menyatakan:

Roekiah selalu membuat penonton terlena di bangkunya saat ia mengalunkan lagu keroncong. Ia selalu mendapatkan tepuk tangan, sebelum atau sesudah bernyanyi. Bukan hanya kalangan pribumi. Banyak Belanda yang rajin menonton pertunjukan Roekiah!

Setelah kematian Roekiah, industri perfilman Indonesia berupaya untuk mencari pengganti dirinya. Pakar film Ekky Imanjaya memberi contoh ketika sebuah film diiklankan dengan kata-kata "Roekiah? Bukan! Tetapi Sofia dalam film Indonesia baru: Air Mengalir di Tjitarum". Film-film Roekiah dulunya ditayangkan secara rutin, namun saat ini sebagian besarnya sudah hilang. Film-film Hindia Belanda direkam dalam bentuk film nitrat yang mudah terbakar, dan setelah kebakaran memusnahkan sebagian gudang Produksi Film Negara pada tahun 1952, film-film lama yang direkam dalam bentuk nitrat juga ikut musnah. JB Kristanto dari Katalog Film Indonesia menyatakan bahwa dari keseluruhan film-film Roekiah, hanya Koeda Sembrani yang masih tersimpan di Sinematek Indonesia.
 
FATIMA                             1938JOSHUA WONG
           Actor

SORGA KA TOEDJOE1940JOSHUA WONG
Actor
KESEBERANG 1944 RD ARIFFIEN
Actor
POESAKA TERPENDAM 1941

Actor
SITI AKBARI 1939 JOSHUA WONG
Actor
TERANG BOELAN 1937 ALBERT BALINK
Actor
ROEKIHATI 1940 JOSHUA WONG
Actor
KOEDA SEMBRANI 1941 WONG BERSAUDARA
Actor
GAGAK ITEM1939JOSHUA WONG
Actor
 





Sebuah film yang lengkap. Ada petualangan, ada perkelahian, ada nyanyian, ada lawakan. Masih dilengkapi lagi dengan pemandangan indah di Serang dan Priangan. Ceritanya mengenai harta yang disimpan secara rahassia. Harta itu jadi rebutan para ahli waris, dan "diramaikan" lagi oleh kawanan penjahat yang ikut memburu.