Tampilkan postingan dengan label RUMAH GILA / 1955. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUMAH GILA / 1955. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

RUMAH GILA / 1955


Wiranta (Udjang) adalah seorang lintah darat. Isterinya (Fifi Young) tuli serta anak-anaknya manja, baik Ningrum (Norma Sanger), Ningsih (Nanny Ruchimat) maupun Kosasih (Ping Astono). Yang berbeda adalah Sanusi (Bambang Hermanto) yang sederhana dan jujur. Di rumahnya menumpang keponakan, Ratnawati (Mardiana), anak adik Wiranta. Oleh saudara-sadaranya Ratnawati diperbudak, malah namanya pun diganti, babu Minah. Muncul seorang pemuda ganteng (Zainal Abidin), yang semula tertarik ke Ningsih dan Ningrum, tapi akhirnya terpikat oleh "babu Minah". Setelah di"petik" si pemuda, bebaslah Ratnawati dari "rumah gila" itu.
 
 Aktor Udjang, oleh Wim Umboh

MENGAPA Udjang bernama udjang? Tak tahu aku (hanya yang menarik perhatianku ialah udjang dalam istilah Menado berarti hujan dan dalam bahasa Minangkabau si Bujang, atau A Kew panggilan Tionghoa sehari-hari). Karena Udjang sendiripun tak ada bahagiannya dalam memberikan nama itu. Itu adalah kewajiban Ibu dan ayahnya. Tetapi bagi pembaca yang kritis, tentu tak akan puas kalau tidak diterangkan mengapa Udjang bernama Udjang, apa dan siapa Udjang itu?

Aku kenal Udjang sejak dua bulan yang lalu, ketika kami dengan seorang teman mengunjungi Studio Film Golden Arrow. Kedatangan kami pada hari yang tepat, karena kebetulan di Studio Golden Arrow sedang sibuk opname film cerita BERMAIN API (sekarang sudah siap). Sehingga dapatlah kami menyaksikan dari dekat bagaimana sebenarnya sepak terjang seorang bintang film   (yang kumaksudkan penghidupannya) di belakang kamera. Dengan perantaraan Ngko Tann Sing Hwat, itu sutradara baru Golden Arrow yang jangkung, tetapi ramah tamah terhadap tamu. Aku dipekernalkan pada Bung Udjang. Kusangka dia bukan pemain film. Karena melihat raut mukanya mungkin juga, tetapi kalau ditilk dari caranya berpakaian, dan rantai arlojinya yang terurai dari kantong celana barangkali dia manager sari salah satu perusahaan setidak-tidaknya pedagang besar.  Juga pada pendapatku tidak mungkin seorang Bintang Film akan datang sepagi ini di Studio (waktu itu baru jam 8 pagi)/ kukeluarkan sebungkus rokok Escort sambil menawarkannya (acara pertamaku) tetapi dengan tersenyum dan sopan ia menolak. Karena katanya Escort tak sesuai dengan mulutnya, tetapi kalau (sambil berkata dikeluarkannya se pak rokok Menakdjinggo) “Ini….. boleh deh,” katanya sambil mempersilahkan padaku. Kuambil juga sebatang sungguhpun kretek tak aku suka, tetapi pertalian persaudaraan mungkin menjadi erat karenanya. “Kretek adalah rokok elgendom (pusaka) ku,” sambungnya dengan tertawa. Aku tersenyum mendengar  perbandingannya itu. Mulanya aku berniat hendak memajukan beberapa pertanyaan padanya, tetapi akhirnya niatan itu kuurungkan, mengingat ia sedang sibuk opname. Hanya tidak lupa aku  meminta alamatnya supaya dapat aku menjumpainya di rumahnya saja.

DUA hari kemudian aku mengunjungi rumahnya yang terlatak di kampung Tangki berdekatan dengan Prinsen Park. Aku diterimanya dengan ramahtamah dilayani terus menerus dengan senyuman. Setelah kurang lebih tiga jam bercakap-cakap dengan Bung Udjang, dapatlah aku menarik kesimpulan bahwa Bung udjang adalah seorang pengabdi seni film yang tabah, berani menghadapi segala kemungkinan baik dari teman-teman pemain film sendiri maupun dari sang tauke (majikan). Dan tahan uji, terbukti setelah tiga puluh tahun lamanya, bermain, beraksi, dipanggungkan dan di layar perak, dan sekarang setelah hampir menjadi kakek, masih saja ia dipandang sebagai seorang pemain film yang kuat, sekalipun banyak tenaga muda yang bakal menggantikan kedudukannya. Malah ia bangga melihat generasi muda yang dianggapnya adik atau keponakan berkecimpung dalam dunia film.

Udjang dilahirkan di Bandung pada tanggal 23 Desember 1904, anak dari Moch. Tahir, lading clerk KPM. Bersekolah di Sekolah Rakyat sampai kelas II lalu pindah ke sekolah Indische Bond (petang) tapi tidak tamat, karena pikirannya masih terganggu, terpengaruh kepada sandiwara, yang pada waktu itu dinamai Opera. Tidak jarang ia tertidur di meja sekolah karena mengantuk, disebabkan menonton sandiwara hingga jauh malam dengan tidak bosan-bosannya. Sekali sesudah habis menonton ia pulang ke rumah tidak dibukakan pintu karena hari sudah larut malam, terpaksa ia kembali ke gedung sandiwara dan tidur di depan gedung, di salah satu bangku dengan berbantalkan tangan berselimutkan embun. Tetapi semua itu tak dihiraukannya karena pikirannya sedang melayang, angan-angannya menjulang langit menuruti cita-citanya yang setinggi bintang. Dalam tidur Ia  bermimpi telah menjadi seorang pemain sandiwara yang ulung. Mendapat julukan “Jagoan” dari khalayak ramai. “Ah, jangan percaya saudara…. Itu hanya mimpi, bayangan hampa belaka, karena hingga kini saya tetap si Udjang kecil dan bukan jagoan….” Katanya dengan senyum penuh arti.

Pada tahun 1921 ia datang ke Jakarta. Tempat pelesir yang mula-mula dikenalnya adalah Sirene Park, karena dengan uang yang sedikit dapatlah ia menyaksikan dengan sepuas-puasnya para anak buah JULIANA OPERA berkasi dia tas panggung. Dan setelah menonton sandiwara itu, hasratnya untuk menceburkan diri ke lapangan sandiwara semakin meluap hingga apa saja yang akan dikerjakan ia mau asal saja dapat senantiasa berdampingan dengan pemain-pemain sandiwara yang pada masa itu dianggapnya sebagai Dewa-Dewi (Bukan Dewa-Dewi Bintang Surabaja loh). Ia diterima menjadi penjual karcis di sandiwara Juliana Opera, setahun kemudian dijadikan penjaga pintu, dan akhirnya dipekerjakan di bahagian dekor. Cita-citanya untuk bermain sandiwara belum juga terkabul. Karena selama kurang lebih bekerja tiga tahun di Opera Juliana ia tidak pernah diberikan kesempatan memegang suatu peran. Namun tidak juga ia berputus asa. Akhirnya dengan susah payah ia diterima di sandiwara MISS RIBUT, sebagai pemain percobaan dalam cerita NUR TJAHAJA sebagai “Jin Setantang Bukit”. Sungguh kecil roll itu baginya, tetapi dengan demikian dapatlah ia melepaskan sebahagian dari bakatnya, yang selama ini terpendam saja dalam gunung cita-cita tak pernah menjelma nyata. Dari Sandiwara Miss Ribut ia melompat ke Dhalia Opera, dan tahun 1925 ia meloncat lagi ke Sandiwara ORPHEUS, pimpinan M.A. Manuk, manager R. Ariffien.

Pada tahun itu juga ia mengikat hidup di Malang, tetapi malang baginya, istrinya meninggal dunia pada tahun 1940 dengan meninggalkan seorang anak laki-laki yang sekarang telah berusia 15 tahun (di tahun 1947 ia kawin lagi, tapi hingga kini, belum juga dikaruniai seorang anak).

Dari Sandiwara ORPHEUS ia naik setingkat lebih tinggi lagi dengan memasuki dunia film. Film-filmnya yang permulaan ialah: KEDOK KETAWA regie Mr Hu, produksi Union Film Coy. Setelah Kedok ketawa ia bermain dalam film HARTA BERDOSA, BAJAR DENGAN DJIWA, SUARA BERBISA, Disamping Rd. Sukarno yang sekarang telah menjadi bintang film nomor 1 Indonesia dan MEGA MENDUNG regie Bun Kim Nan. ;

DI ZAMAN Bangsai ia bermain dalam film BUNGA SAMBODJA regie Jo Andjar. Sesudah Bunga Sambodja karena semua perusahaan film disita Jepang, ia terpaksa kembali lagi ke Sandiwara dengan memasuki Sandiwara Bintang Surabaja. Di Zaman revolusi ia menjadi pengikut dari Sandiwara Pantjawarna mengelilingi Indonesia yang berakhir di kota Baru (Kalimantan). Sesudah KMB ia masih berdiam di Kota Baru. Kemudian pada tahun 1951 ia kembali ke Jakarta, dan terus terjun di dunia film, dan bermain pada Perusahaan Film Golden Arrow. Filmnya yang pertama sesudah penyerahan kedaulatan ialah SURJA dan yang baru saja selesai ialah BERMAIN API semuanya produksi Golden Arrow.

Nah, demikianlah sedikit ringkasan biografi Udjang, yang telah banyak merasakan pahit-getirnya, suka-duka dalam mengabdi kepada seni film, yang telah beruban karena sorotan lampu yang beribu-ribu watt tetapi senantiasa muda pendirian, dan dapat mengikuti masa.

Memang kalau ditilik dari wajah dan umurnya tidak sepadan. Artinya  melihat kepada mukanya yang dianugerahi senyum menarik, dengan umurnya tiada seimbang. Pergaulannya lemah lembut menandakan ia seorang yang berpengalaman. Tiada suka temberang (ngomong besar).

Sampai sekarang     masih terngiang-ngiang  dalam telingaku, ucapan pengharapannya ketika aku hendak pulang. “Kalau para pahlawan mempunyai Taman bahagia sebagai tempat peristirahatan terakhir, sayapun ingin dibariskan di makam seniman-seniman yang telah terdahulu. Sayang, pemakaman tersebut sampai saat ini belum ada…..”