Tampilkan postingan dengan label RATNA / 1971. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RATNA / 1971. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

RATNA / 1971

 

Aida (Camelia Malik), yang ditinggal ibunya sejak kecil di Medan, datang ke Jakarta untuk menemui sang ibu. Ibunya menyembunyikan identitasnyadan mengaku bernama Tante Lili (Chitra Dewi), sambil menjelaskan bahwa ibunya yang bernama Ratna telah meninggal. Agaknya persembunyian itu supaya Aida tidak mencela ibunya yang kerjanya pergi malam hari dan pulang dini hari. Aida kemudian karib dengan Waty (Renny Asmara) dan Andi (Rachmat Kartolo), teman sekolahnya.

Andi ini hebatnya setelah tidur dengan Waty, bisa memacari dan meniduri Aida, waktu yang terakhir ini marah melihat “tantenya” di klab malam bermesraan dengan seorang pria, dan lalu pindah tidur di rumah Andi. Ketika “tantenya” sakit keras, Aida dan Andi dipanggil. Sang tante berterus terang bahwa dialah Ratna, ibu Aida. Giliran Andi yang kaget, karena telah meniduri Aida. Untung ayah Andi, Arifin (A. Hamid Arief) datang juga dan kaget ketemu istrinya yang sudah lama terpisah entah karena apa. Arifin menjelaskan bahwa Andi adalah anak pungutnya.

P.T. CHITRA DEWI FILM

RACHMAT KARTOLO
CAMELIA MALIK
RENNY ASMARA
CHITRA DEWI
ENTENG TANAMAL
A.N. ALCAFF
A. HAMID ARIEF

22 Januari 1972
Kebetulan, ratna

ALANGKAH nikmatnja hidup didunia ini andaikata seperti kebanjakan kisah dalam film-film Indonesia. Bajangkan misalnja djika kebetulan terdjadi peristiwa matjam ini: seorang jang merasa tidak berajah dan beribu lagi pada suatu malam terpaksa harus mendapatkan sebuah kamar untuk merebahkan diri.

Tiba seorang jang kaja dan baik budi memberinja tempat tidur, malahan ternjata adalah ajahnja jang sedjak ketjilnja tidak pernah dilihatnja. Lebih istimewa lagi djika kemudian terbukti bahwa orang jang ditinggalkannja sebelum bertemu dengan ajahnja itu tidak lain dari ibu kandungnja sendiri. Bajangan serba kebetulan matjam ini ternjata tidak sukar ditjari. Dengan menggunakan lajar lebar dan tatawarna, sebuah film telah disiapkan oleh sutradara Has Manan bagi mereka jang suka datang kegedung bioskop. Soal apa jang menjebabkan terpisahnja ibu dan ajah itu, tidak begitu penting nampaknja bagi penulis skenario film ini.

Dan para penonton sebaiknja mengalah, untuk menerima sadja suatu kisah jang serba kebetulan. Film Ratna jang diangkat dari komik Zaldy itu mengetengahkan Chitra Dewi sebagai Tante Lili jang mendjanda sedjak lama tapi toch hidup mewah. Gadis Aida (Camelia Malik) jang datang dari Medan sesungguhnja anak kandungnja sendiri. Hubungan itu di rahasiakan, karena prihidup sang tante jang suka keluar malam. Randjang. Ada djuga pemuda jang bernama Andy Arifin (Rachmat Kartolo). Karena Andy berteman dengan Wati jang kebetulan teman kuliah Aida, maka tidak kebetulan djika Andi dan Aida mengikat hubungan. Jang lebih kebetulan adalah bahwa nona Aida ini sesungguhnja putri tuan Arifin (A. Hamid Arief) jang mengambil seorang anak berumur 5 tahun sebagai anak angkat sambil diberi nama Andy.

Semua ini kemudian baru menbdjadi djelas ketika Sang tante mendekati achir hidupnja disebuah randjang rumah sakit. Dari sebuah kisah jang dilupakan udjung pangkalnja ini memang repot di buat sebuah film jang bisa dimengerti. Dan seorang sutradara jang buma setia kepada semangat dan kemauan si empunja tjerita, paling djauh memang hanja mentjapai film seperti ini. Andaikata Has Manan lebih tekun menggarap filmnja, tentulah kedataran jang makin menambah kebingungan itu tidak usah hadir. Misteri jang melingkupi Ratna, Aida dan Arifin sama sekali tidak terungkapkan setjara filmis, ketjuali melalui dialog pada achir tjerita. Tidak misalnja diusahakan perdjuangan batin Chitra Dewi jang hanja mengaku tante dan merahasiakan hubungannja dengan anak kandungnja sendiri.

Kurang terasa hasil tangan hasil tangan Has Manan dalam menundjukkan Rachmat Kartolo sebagai play boy, sehingga adegan tempat tidur Renny Asmara dan Rachmat achirnja tidak lebih dari usaha memperpandjang film sadja. Berlainan dengan film Jang Djatuh di Kaki Lelaki, maka dalam film produksi Giiprodfin ini djuru kamera Leo Fioole bekerdja sangat kurang tjermat. Semua adegan interior siang mendjadi gelap, sehingga diperlukan bantuan laboratorium untuk memperdjelasnja. Akibatnja selain kegelapan itu tidak bisa tertolong, warna film itupun mendjadi kebiru-biruan. Keadaan sedemikian itu ditambah pula dengan beratnja gerak kamera, sehingga sedikit sekali sudut-sudut pemotretan jang baik. Kalau editor Janis Badar bekerdja kurang teliti djuga, maka bisa dibajangkan mutu film itu. Jang menggembirakan dari film ini ialah: bahwa seorang bintang baru telah lahir: Camelia Malik. Pendatang baru ini bukan sadja tjantik, lebih dari itu, ia berbakat. Dalam tjerita matjam jang dipertontonkan dalam film Ratna ini sadja ia sanggup bermain baik sebagai anak jang inosen. Apalagi kalau ia mendapalkan tjerita dan skenario jang lumajan