Tampilkan postingan dengan label POTRET / 1991. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POTRET / 1991. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

POTRET / 1991

POTRET

 
Karya terbaru Buce Malauw. Sentuhan Teguh Karya sangat terasa. POTRET Pemain: Rachmat Hidajat, Nani Somanegara, Ully Artha, Gusti Randa Skenario/Sutradara: Buce Malauw Produksi: PT Ratna Mutiara Film "TIDAK ada yang baru di bawah matahari," demikian kata sang sutradara, Buce Malauw, pada awal cerita dibarengi musik Idris Sardi yang menyayat hati. Baru belakangan penonton film Indonesia akan mengerti. 

Tema film ini agak mengingatkan pada film Ayahku karya Agus Elias. Syahdan, Herman Kawilarang (Rachmat Hidajat) adalah seorang bekas playboy yang sudah tua, buta, dan ditinggal pacarpacarnya, juga istrinya yang ketiga, Lisa (Ully Artha). Pada masa lalu, Herman sudah meninggalkan istri pertamanya, Mira (Nani Somanegara), dan ketiga anaknya. Seolah tertimpa karma, Herman terpaksa menghabiskan sisa hidupnya di rumah jompo karena Lisa lebih asyik dengan lelaki lain karena "sungguh tak enak punya suami cacat." Sementara itu, Victor (Asrul Zulmi), si sulung, tak sudi memaafkan dosa bapaknya. Sampai di sinilah persamaan jalan cerita antara film Ayahku dan Potret. Akting si sulung dalam Ayahku yang diperankan Deddy Mizwar tentu saja jauh di atas permainan Asrul Zulmi. 

Namun, film Potret menjadi lebih menarik karena selain kisahnya lebih dinamis, karakter para tokohnya lebih berkembang. Lisa, yang genit menyebalkan, belakangan menimbulkan simpati karena ia memperlihatkan kemanusiaannya kepada Mira. Anton (Gusti Randa), adik Victor, adalah seorang anak muda biasa yang sering mendatangi pelacur tapi tetap mencintai ayahnya. Keberhasilan Buce Malauw untuk memperlihatkan perkembangan watak setiap tokohnya juga diperkuat oleh bakat alamiah para pemain. Perhatikan betapa santainya akting para pemain di rumah jompo (Leila Sari dan Pak Tile) serta adegan "pembicaraan lelaki" antara Rachmat Hidajat dan Gusti Randa. Hanya pemainpemain berbakatlah yang dapat memperlihatkan bahwa kejadiankejadian itu adalah potret sehari-hari. Meski Buce bukan "murid resmi" Teguh Karya, harus diakui bahwa sentuhan "suhu perfilman Indonesia" itu tetap terasa. Jika film ini berakhir dengan kembalinya Herman ke pelukan keluargadengan begitu mudahnyatentu saja karena kita ingin pulang dengan rasa lega dan bahagia. Namun, ini sekaligus berarti bahwa Buce menutup potret sehari-harinya yang begitu menyentuh dengan sebuah potret fantasi. Leila S. Chudori.
 P.T. RATNA MUTIARA INDAH FILM

NANI SOMANEGARA
RACHMAT HIDAYAT
ULLY ARTHA
ASRUL ZULMI
GUSTI RANDA
NANI VIDIA
MEGA SYLVIA
ATY CANCER