Tampilkan postingan dengan label DJALANG (Penjebar Maksiat) / 1970. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DJALANG (Penjebar Maksiat) / 1970. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

DJALANG (Penjebar Maksiat) / 1970

 

Karena dikhianati pacarnya, Kun Eng (Ida Abdi) dan kematian ayahnya, Beno (Danu Umbara) jadi membenci masyarakat dan pergi ke Jakarta. Ia lalu suka mengganggu istri orang, di antaranya, Yulia (Farida Arriany), istri seorang jaksa, Isbandi (Sukarno M. Noor). Karena kepergok, lalu Beno dan Yulia diusir. Dendam makin membara karena pekerjaan tak bisa didapat. Maka jalan kejahatan yang dipilih, sampai tiba-tiba mampu mengorganisir pemuda brandalan. Dikisahkan pula, anak Isbandi-Yulia, Hilda (Ida Nursally), lari dari rumah dan jadi salah satu pentolan gerombolan Beno, tanpa ketemu dengan ibunya. Kisah berakhir dengan terjungkirnya mobil Beno saat dikejar polisi. Ia mati dalam keadaan berpegangan tangan dengan Kun Eng, yang ditemukannya disia-siakan suaminya. Sebuah film yang jalannya tanpa sebab-akibat, bahkan tanpa alasan, hingga membuat bingung. Dan kata-kata besar bak slogan selalu jadi kesenangan sutradara seperti juga tampak dalam film-film berikutnya. Film ini bagai kumpulan adegan tanpa kesatuan.
 P.T. UMBARA FILM

DANU UMBARA
FARIDA ARRIANY
SUKARNO M. NOOR
SSRI HARTO
RATNO TIMOER
SUZAN TOLANI
IDA NURSALLY
IDA ABDI

News
16 Oktober 1971
Kaliwat jalang
FILM pertama Danu Umbara memang tidak pertjuma bernama Djalang (nama lain: Penjebar Maksiat). Disitu digambar kan anak muda jang membentji masjarakat hanja lantaran patjarnja, Kun Eng, seorang amoy, dipaksa kawin dengan pemuda Tjina djuga. Maka itu anak muda jang bernama Beno terpaksa meninggalkan kampung dan keluarganja untuk achirnja tiba di Djakarta. Dendamnja kepada masjarakat mendapatkan bentuk pertama ketika ia bertjinta dengan istri seorang djaksa jang beranak dua. Tidak djelas bagaimana, tapi tibatiba istri itu sudah dibawa oleh Beno keluar dari rumahnja setelah hubungan intens mereka ketahuan suami. Film biru. Kehidupan tak menentu bersama istri orang lain itu memaksanja untuk menerima tawaran mendjadi bandit. Tapi tahu-tahu Beno sudah djadi kepala bandit jang tidak tanggung-tanggung. Anak buahnja tidak hanja merampok dan memeras, tapi djuga membunuh menjelundup (dan bajangkan: jang diselundupkan adalah gandja, film biru, gambar-gambar tjabul dan barang-barang serem lainnja) dan mendjual gadis ke dalam dan keluar negeri. Seperti biasanja, semua kekedjaman dan kedjahatan akan berachir dengan kekalahan pada saat kebenaran tiba. Dan kebenaran jang telah didjandjikan almarhum ajah Beno itupun tiba, orang jang membentji masjarakat itu menemui adjalnja pada suatu ketjelakaan mobil setelah dengan sengit berada dalam kedjaran kendaraan polisi jang barangkali lebih menenteramkan perdjalanan roh sang Beno adalah matinja dalam keadaan berpegangan tangan dengan Kun Eng tertjinta, jang kemudian di temukan kembali setelah disia-siakan suaminja, untuk achirnja mendjadi perempuan lesbian bagi njonja djaksa jang dilarikan si-pembentji masjarakat. 
 
Bandit. Sebenarnja bukan tjuma itu jang dikisahkan Danu Umbara dalam film pertamanja ini. Disana djuga ada kisah tentang keluarga djaksa (Soekarno ocr) jang berantakan karena ditinggal istri. Anak perempuannja melarikan diri dalam keadaan sakit pajah tanpa di ketahui alasannja. Dan anak perempuan jang bemama Hilda (Ida Nursally) itu achirnja mendjadi anggota gerombolan bandit Beno, jang aneh bin adjaib, tidak pula sempat ketemu ibunja jang nota bene merupakan salah seorang pemimpin grup bandit tersebut. Kisah koruptor berkepala botak djuga ada. Maka inilah Hamidy T. Djamil bermain sebagai koruptor jang achirnja terseret kedepan pengadilan Sebeh itu, meskipun menpunjai istri jang tidak djelek sehari-harinja dikenal sebagai Nurhaningsih, Hamidy toch tidak membuang kesempatan untuk bermain tjinta dengan gula-gula jang bernama Susan Tolany. Tidak djelas, apakah Tolany satu ini djuga anak buah mas Beno, kendatipun achirnja sang koruptor terperas gara-gara foto indehoynja dengan Susan. Serem. Tentu sadja tidak ketinggalan adegan-adegan berkelahi pukul-pukulan serta tembak-tembakan. Bahkan kadang-kadang sampai berlebihan. Dan kawan beradu kawanpun terdjadilah ketika Rudy harus menantang Burhan pada tempat jang serem pula, meskipun achirnja adegan seru itu tjuma untuk lebih mendjalangkan kisah si-penjebar maksiat. Ada djuga tabrakan mobil, tapi tidak djelas achirnja. Walhasil, film ini sepintas lalu memang menggambarkan kedjalangan. 

Tjuma sadja kedjalangan matjam jang di gambarkan Danu Umbara ini tidak lebih dari chajalan anak baik tentang kedjalangan jang tentu sadja tidak pernah di kenalnja. Begitu besarnja hasrat sutradara muda dan bintang film Danu ini menggambarkan kedjalangan, sampai ia lupa menjertakan alasan bagi banjak peristiwa dalam filmnja. Mungkin sekali seseorang jang patah tjinta tiba pada keputus-asaan matjam Beno itu. Tapi penonton toch ingin tahu, tjinta matjam apa itu: kok dengan mudah Kung Eng (Ida Abdi) meninggalkan Beno pada saat mereka telah memutuskan untuk lari dari desa. Dan istri djaksa (Farida Arryani) jang tiba-tiba sudah dalam losmen bersama Beno, bukannja tidak membingungkan. Apakah lari atau diusir oleh suaminja. Dan andaikata keduanja benar, maka sang istri itu toch punja anak, dan persoalan jang timbul akibat perpisahan keluarga itu sama sekali dianggap sepi. Meluruskan. Walhasil, film Djalang ini -- sebagaimana kebanjakan film Indonesia tetap mempunjai segi menarik: melatih para penontonnja meluruskan hal-hal bengkok jang disadjikan senam seenaknja oleh sang sutradara. Kali ini tidak seluruhnja seenaknja, sebab nampaknja memang dengan sadar beberapa lompatan dibikin. Konon Umbara pernah berkata: "Saja tidak mau bikin film jang bertele-tele, dimana digambarkan orang membuka pintu, masuk, senjum-senjum untuk kemudian bertanja, 'Apa kabar"'. Tapi itu toch tidak berarti bahwa ia boleh memilih bagian jang di senanginja dari rentetan kedjadian tanpa memberi kesempatan kepada penonton untuk tahu kenapa demikian djadinja. Harus diakui bahwa usahanja untuk lain daripada lain, kali ini belum menolong Umbara. Akibatnja tjukup parah: film ini bagaikan kumpulan adegan jang tidak beres kesatuannja. Dan semuanja itu di tambah parah oleh dialog jang terlalu ingin mejakinkan penonton akan kedjalangan Beno, sampai-sampai Tuhan-pun diingkari dan jang maha esa itu terpaksa kirim telegram dengan tulisan Arab jang djelas terbatja dilangit lepas.