Rabu, 26 Januari 2011

TANGAN-TANGAN MUNGIL /1981

TANGAN-TANGAN MUNGIL


Lala (Kiki Amelia), anak perempuan usia 6 tahun punya sifat kelaki-lakian. Hal ini banyak disebabkan oleh ayahnya Anton Wijaya (Kusno Sudjarwadi) yang menghendaki kelahiran Lala sebagai laki-laki. Ny. Anton (Tutie Kirana) sangat mencemaskan tingkah laku anak bungsunya itu dan meminta bantuan kelompok bermain dan psikolog anak Kak Seto (Seto Mulyadi). Tingkah laku Lala yang bengal kerap kali menyulitkan semuanya. Bahkan sempat membuat renggang hubungan Kak Seto dengan pacarnya.

Kak Seto yang bisa lembut terhadap anak-anak juga dikagumi oleh Dina (Dina Mariana), kakak Lala, hingga ketika Dina kecewa dengan Kak Seto, sempat membuat marah Anton Wijaya. Ia menganggap Kak Seto ingin merusak keluarganya. Masalah berkembang dan semakin rumit. Untung ada tokoh lain bernama Bujel (Bujel Dipuro) yang gaya seenaknya dan tidak konvensional dapat mendekatkan kembali problem yang mereka alami.

Dari sinilah kemudian titik terang penyelesaian soal Lala dapat diatasi. Sebuah masalah psikologi anak-anak yang ditangani secara baik, sambil menyindir para psikolog.

Kuketuk pintu hatimu, tiada sahutan
Kucoba sentuh dirimu, hanya kehampaan
Betapa jauh rasanya, kau entah dimana
Laksana detik2 jam, bergema di tengah malam
Kelabu bayangan di malam gelap
Sinar harapan bagai impian
Baurkan pandangan pugar wajah ayu
Bersimbah kasih
(dimainkan oleh Lita dengan piano, dlm salah satu scene)


P.T. GRAMEDIA FILM

KIKI AMELIA
SETO MULYADI
DINA MARIANA
VITA YULIANTI
KUSNO SUDJARWADI
TUTY KIRANA
NIKEN BASUKI
BUJEL DIPURO
NAPIH

Film berjudul Tangan-Tangan Mungil ini kutonton semasa esde (kelas 4 klo ga salah). Saya rasa, itu film yang bagus. Entah untuk jaman itu atau sekarang yang jarang juga film bergenre anak2.

Bercerita tentang keluarga yang memiliki setelah kedua anak perempuannya, salah satunya diperankan oleh Dina Mariana, anak perempuan terakhirnya di”bentuk” menjadi seperti anak laki2 oleh sang bapak. Alhasil, si bungsu (diperankan oleh Kiki Amelia ---katanya pemain cilik berbakat saat itu) menjadi gadis cilik yang tomboy dan sangat nakal. Lalu kak Seto sebagai psikolog anak hadir untuk menangahi konflik (atau jadi sebaliknya ya? Entah :D). Cerita selebihnya, saya lupa.

Tapi beberapa adegannya masih ingat. Termasuk adegan yg menjadi favorit saya, yakni saat lagu ini dimainkan. Sempat membuat saya ingin belajar memainkan piano, sebelum akhirnya menyerah. (mending gitar atau harmonika, hehe).

Dan ajaibnya, saya bisa menghapal terus syair dan lagunya. Lalu sangat kesulitan menemukan orang yang pernah melihat film ini, untuk sekedar berbagi apresiasi.

Baru2 ini saya sempat gugling, dan senang banget bisa menemukan satu blogger yang memberikan kesan yang sama tentang film dan (terutama) lagunya. Hehe.Siapa lagi ya?

Buka pintu hatimu, terima salamku

Seluruh alam turut bernyanyi, bergandengan tangan

Merentangkan lingkaran, di seluruh dunia..
by: Ver02

film Tangan-tangan Mungil (TTM) yang diproduksi Gramedia Film tahun 1981.  
Saya yang menyutradarai, pemainnya Kiki Amelia yang berperan sebagai anak tomboi umur 8 tahun dan Kak Seto. Mungkin karena terkesan ilmiah dan temanya agak berat, tentang psikologi anak, film ini kurang sukses di pasaran. Kayaknya, cuma laris di kalangan psikolog saja.

31 Juli 1982
Ibarat Barang Yang Langka
TANGAN-TANGAN MUNGlL 
Pemain: Kiki Amelia, Dina Mariana, Kak Seto Skenario: Parakitri & Th. A. Budi Susilo Sutradara: Yazman Yazid ANAK perempuan kecil itu, Lala namanya, menyepak kaki asisten Kak Seto, membantah dengan kasar lalu tiba-tiba melemparkan kue yang kebetulan tergenggam di tangannya. Bersarang di blus asisten nan putih bersih, kue itu meninggalkan bercak cokelat yang lumayan besar. Seakan terkena lumpur: Ibu Lala minta maaf. Dia tahu anaknya bukan cuma nakal tapi tingkah-lakunya agak menyimpang.

Hal ini merisaukan hati si ibu (Tuti Kirana) tapi sebaliknya menyenangkan hati Anton Wijaya (Kusno Sudjarwadi), suaminya. Pada perbedaan sikap inilah terletak inti cerita. Meski mengangkat masalah kejiwaan, cerita yang dipilih Gramedia Film kali ini tidak begitu rumit. Di sini tidak ditemukan keluarga berantakan, anak morfinis atau gadis hamil di luar nikah. Tidak sedramatis itu, lebih sederhana. Tapi pentahapan cerita dikembangkan dengan rapi, mungkin sekali dengan perhitungan agar mudah diikuti anak-anak. Memang ada 3 anak: Lala, Mita dan Dina. Ketiganya perempuan memang, padahal sang ayah berharap setidaknya ada satu anak lelaki. Maka Anton, sang ayah, menciptakan bocah lanang itu dari raga Lala (Kiki Amelia), si bungsu. Sejak awal, informasi tentang anak ini cukup berwarna. Lala yang kelelaki-lakian leluasa mengusik kedua kakaknya dan selalu menggunakan tiap peluang untuk menggoda Bik Supi, pembantu rumahtangga. Ia pun berhak menikmati kasih sayang ayah yang nampaknya habis tercurah ke Lala seorang.



Tidak heran bila Dina yang perasa itu melarikan diri pada buku harian, piano atau puisi. Sampai pada suatu hari Kak Seto (diperankan oleh Kak Seto sendiri), yang memang sengaja didatangkan untuk "menyembuhkan" Lala, justru sebaliknya membawa kecerahan dalam hidup Dina. Sementara itu Lala masih saja menodongkan senapan, membawa cerek besar ke mana-mana atau menggendong ayam aduan. Dan Anton terkekeh-kekeh. Kehadiran Seto di antara mereka tidak segera mengubah keperkasaan Lala. Tapi psikolog muda ini terus berusaha. Malah ia menemukan, bahwa kasus Dina sebenarnya lebih serius dari Lala. Ia bermaksud menyembuhkan remaja tanggung itu lebih dahulu. Dan nampaknya berhasil. Tapi Seto tidak tahu satu hal. Bagi Dina, Seto adalah seorang idola, pengganti ayah yang "dirampas" Lala. Dina bahagia sebentar, tapi angan-angannya segera terhempas kala melihat Kak Seto berbimbingan tangan dengan seorang wanita. Dia kembali pada buku hariannya yang, karena ulah Mita, jatuh ke tangan Anton. 

Gara-gara buku ini sang ayah melabrak dan mempermalukan Kak Seto di depan orang banyak. Pendidik muda ini merasa karirnya tamat sudah. Banyak konflik terjadi, banyak tokoh terlibat, namun film ini menata semuanya dalam irama yang terpelihara. Musik yang digubah Gatot Sudarto, yang menjiwai isi cerita, dengan sopan mengantar film ke sebuah happy ending. Anton menyadari kesalahannya, Dina menemukan ayahnya kembali, dan si bungsu yang kelaki-lakian itu kini mengenakan baju renda dengan sebuah boneka di tangan. 

Tangan-Tangan Mungil memang menampilkan sebuah masalah kejiwaan secara demikian jernih dan cermat. Beberapa kejanggalan tak urung terselip juga di sana-sini. Anton sebagai sumber segala penderitaan, digarap kurang utuh. Ia disebut sebagai seorang eksakta, tapi yang bagaimana? Sebaliknya Kak Seto mendapat porsi lebih besar, hingga fokus bagai teralihkan. Kehadiran Bujel, musikus yang kocak urakan itu sempat membuat penonton bertanya-tanya. Penulis skenario mungkin terlalu sibuk dengan tiga pasang tangan mungil hingga Bujel agak terabaikan. 

Di samping itu pengisian titling dengan animasi, satu upaya yang tergolong baru di sini, nampak membawa kesegaran dan mampu mencerminkan jiwa cerita. Kalau tak salah beberapa variasi gerak tangan memang diulang, tapi kesan kelincahan tidaklah rusak. Pada masa para produser berlomba membuat film kekerasan, Gramedia membuat film tentang anak-anak yang bisa mengasyikkan orang dewasa. Ibarat satu jenis barang langka yang mudah-mudahan tidak senantiasa langka. Dan permainan Kiki Amelia yang demikian hidup dan mengesankan sebagai Lala adalah satu prestasi tersendiri. Ia juga merupakan satu sumbangan nyata. Tidak saja bagi seni peran, tapi bagi dunia anak-anak di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar