Rabu, 26 Januari 2011

DARAH DAN MAHKOTA RONGGENG / 1983

DARAH DAN MAHKOTA RONGGENG


Sebuah film adaptasi dari Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari diberi judul “Darah dan Mahkota Ronggeng” dikerjakan oleh Gramedia Film dibawah sutradara Yazman Yazid dan kameramen Anthony Depary. Salah satu lokasi yang dipakai untuk pengambilan gambar adalah Imogiri.
 

Cerita ini juga Adaptasi dari novel "Ronggeng Dukuh Paruk", yang pertama kali dimuat secara bersambung di Kompas.
 
Di desa Paruk seorang gadis cilik dianggap memiliki darah ronggeng yang sudah lama tak dimiliki desa, yang hidup karena ronggeng. Itulah kepercayaan penduduk setempat yang diwariskan oleh almarhum perintis desa, yang terletak di wilayah tandus dan gersang. Ronggeng dianggap penyelamat baik material maupun rohani. Maka gadis cilik itu dipelihara dan diarahkan oleh Kartareja dan istrinya (Hassan Sanusi, Dhalia), tetua dan dukun desa, untuk jadi ronggeng.
 
Perkiraan itu benar. Setelah cukup umur, sang gadis, Srintil (Enny Beatrice) harus menjalani upacara pokok "buka klambu", alias menyerahkan keperawanannya pada mereka yang membayar termahal. Pacar Srintil, Rasus (Ray Sahetapy), mencoba melarikan kekasihnya, tapi digagalkan oleh jagoan desa tetangga, Sulam (Syamsuri Kaempuan) dan kawan-kawannya, yang menginginkan keperawanan Srintil.
 
Srintil digiring pulang, Rasus dibuang ke jurang. Upacara buka kelambu dilanjutkan. Pada saat kritis, Rasus yang ternyata selamat, muncul lagi dan bertindak bak Rambo. Anak buah Sulam satu per satu dijebaknya dan tewas. Yang terakhir Sulam. Maka larilah Rasus dan Srintil meninggalkan desa yang mereka anggap punya adat aneh itu.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 KAJIAN STILISTIKA NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK 
KARYA AHMAD TOHARI DAN PEMAKNAANNYA
Oleh Ali Imron A.M.

A. PENDAHULUAN 
Struktur novel dengan segala sesuatu yang dikomunikasikan, selalu dikontrol langsung oleh manipulasi bahasa pengarang (Fowler, 1977: 3). Demi efektivitas pengungkapan, bahasa sastra disiasati, dimanipulasi, dieksploitasi, dan diberdayakan sedemikian rupa melalui stilistika. Oleh karena itu, bahasa karya sastra memiliki kekhasan yang berbeda dengan karya nonsastra (Wellek dan Warren, 1989: 15), yakni penuh ambiguitas dan memiliki kategori-kategori yang tidak beraturan dan tidak rasional, asosiatif, konotatif, serta mengacu pada teks lain atau karya sastra yang diciptakan sebelumnya. 
Style, 'gaya bahasa' dalam karya sastra merupakan sarana sastra yang turut memberikan kontribusi signifikan dalam memperoleh efek estetik dan penciptaan makna. Style membawa muatan makna tertentu. Setiap diksi yang dipakai dalam karya sastra memiliki tautan emotif, moral, dan ideologis di samping maknanya yang netral (Sudjiman, 1995: 15-16). Istilah deep structure (struktur batin) dan surface structure (struktur lahir) menurut Chomsky (dalam Fowler, 1977: 6), identik dengan isi dan bentuk dalam style. Struktur lahir adalah performansi kebahasaan dalam wujudnya yang konkret, dan itulah gaya bahasa. Adapun struktur batin merupakan gagasan yang ingin dikemukakan pengarang melalui gaya bahasanya. 

Sesuai dengan konvensi sastra, gaya bahasa merupakan tanda yang menandai sesuatu (Pradopo, 2004: 8). Wahana karya sastra adalah bahasa yang merupakan sistem tanda tingkat pertama (first order semiotics). Dalam karya sastra gaya bahasa itu menjadi sistem tanda tingkat kedua (second order semiotics). Gaya, bagi Junus (1989: 187-188), adalah tanda yang mempunyai makna dan gaya bahasa itu menandai ideologi pengarang. Oleh karena itu, demikian Junus (1989: xvii), stilistika, studi tentang gaya yang meliputi pemakaian gaya bahasa dalam karya sastra, merupakan bagian penting bagi ilmu sastra sekaligus bagi studi linguistik. 

Kajian ini bertujuan untuk:
(1) mendeskripsikan stilistika RDP yang difokuskan pada diksi, bahasa figuratif, dan citraan;
(2) mengungkapkan makna stilistika RDP dalam kaitannya dengan latar sosiohistoris pengarang, kesemestaan, dan tanggapan pembaca.

 
B. STILISTIKA RONGGENG DUKUH PARUK
Stilistika RDP karya Ahmad Tohari memiliki keunikan dan kekhasan ala Tohari yang tidak ditemukan dalam karya sastra lain. Keistimewaan stilistika RDP terletak pada pemberdayaan segenap potensi bahasa sebagai sarana sastra yang memiliki daya ekspresif, makna asosiatif, dan kaya akan kata konotatif dan berunsur alam. Mayoritas stilistika RDP merupakan hasil kreasi Tohari yang orisinal. Orisinalitas stilistika RDP mencerminkan individuasi Tohari yang tampak pada bentuk ekspresi, keselarasan bentuk dan isi (harmoni), kejernihan dan kedalaman tujuan yang berkaitan dengan intensitas bahasa. 

Stilistika RDP kaya nuansa intelektual, sarat muatan filosofis budaya Jawa, dan wawasan religius. Hal itu tidak terlepas dari latar sosiohistoris Tohari yang hidup dan dibesarkan dalam keluarga Jawa santri dan akrab dengan masyarakat peronggengan. Stilistika RDP sebagai sarana sastra tersebut terkesan ekspresif, asosiatif, dan provokatif. Ekspresif karena stilistika RDP mampu menghidupkan lukisan suasana, kondisi, dan peristiwa dalam imajinasi pembaca seolah-olah lukisan itu hidup. Asosiatif karena berbagai kreasi bahasa dan gaya bahasa yang diciptakan dan dimanfaatkan Tohari mampu menimbulkan asosiasi makna bagi pembaca sehingga memudahkan pemahaman akan gagasan dalam RDP. Adapun provokatif karena gaya bahasa dalam RDP dikolaborasikan sedemikian rupa antara gaya kata (diksi), kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan sehingga mengesankan pembaca. Adanya kolaborasi dengan sarana retorika menimbulkan unsur permainan bunyi berupa asonansi dan aliterasi sehingga melahirkan orkestrasi bunyi yang indah dalam eufoni dan kokofoni. 

Kekhasan stilistika RDP terlihat pada pemanfataan bentuk-bentuk kebahasaan antara lain pada diksi, bahasa figuratif, dan citraan. Diksi dalam RDP demikian kaya dan variatif. Di antara diksi dalam stilistika RDP, kata konotatiflah yang paling dominan, disusul kosakata bahasa Jawa, kata serapan dari bahasa asing, kata dengan objek alam. Kata sapaan khas dan nama diri, kata seru khas Jawa dan kata vulgar juga mewarnai RDP. Dominasi kata konotatif menunjukkan hakikat karya sastra sebagai karya fiksi yang memiliki sifat polyinterpretable dan kaya makna. Diperlukan ekspresi kata yang asosiatif dan prismatif dalam karya sastra. Sebagai saranaekspresi, tiap diksi memiliki fungsi masing-masing dalam mendukung gagasan yang dikemukakan. Khususnya kosakata bahasa Jawa yang bertebaran di RDP digunakan Tohari untuk menciptakan latar sosial budaya masyarakat Banyumas sesuai dengan latar cerita.
Sebagai ilustrasi, berikut dipaparkan contoh diksi dalam RDP. 
(1) Kelak Srintil bercerita padaku bahwa dia segera terjaga kembali ketika Dower membangunkannya dengan dengus napas lembu jantan. Srintil tidak mengatakan apa yang dialaminya kemudian sebagai suatu perkosaan. (hlm. 76) 

Bentuk dengus napas lembu jantan dengan gaya metaforis pada data di atas merupakan pelukisan khas tentang keadaan seseorang yang dilanda birahi. Ungkapan itu orisinal kreasi Tohari, tidak ditemukan pada karya sastra lain. Dengan ungkapan metaforis, dengus napas lembu jantan, pembaca akan memperoleh kesan lebih dalam sehingga dapat membayangkan lebih jelas bagaimana gejolak jiwa seorang lelaki yang sedang dikuasai renjana berahi . Lembu merupakan hewan yang dipandang oleh masyarakat Jawa sebagai simbol kekuatan/ kejantanan lelaki. Tentu berbeda efeknya jika keadaan lelaki yang sedang dilanda birahi dilukiskan dengan kalimat biasa, misalnya ... dengan nafsu birahi yang membara .

Bahasa figuratif yang unik dan khas Tohari juga cukup dominan dalam RDP yang meliputi pemajasan, tuturan idiomatik, dan peribahasa. Melalui bahasa figuratif maka stilistika RDP menjadi lebih hidup, ekspresif, dan sensual. Majas dalam RDP memberi daya hidup, memperindah, dan mengefektifkan pengungkapan gagasan. Bahasa figuratif dalam RDP dominan dimanfaatkan oleh Tohari. Di antara jenis bahasa figuratif, majaslah yang paling dominan dibanding tuturan idiomatik. Majas dalam RDP didominasi oleh Metafora, disusul kemudian oleh Personifikasi, dan Simile. Adapun majas Metonimia sedikit, demikian pula Sinekdoki (pars pro toto dan totum pro parte). Ilustrasi berikut menunjukkan keunikan dan kekhasan majas dalam RDP. 


(2) Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang. (hlm. 14)

Metafora pada data di atas melukiskan keindahan dunia anak-anak di pedukuhan kecil yang masih tradisional, serba gembira, bebas bermain, belum memiliki tanggung jawab keluarga, dan fisik masih prima. Dunia anak-anak merupakan fase kehidupan yang indah dan tidak mungkin terulang lagi pada kehidupan seseorang. Banyak kenangan yang tidak terlupakan, baik yang menggembirakan maupun yang menyedihkan. Tohari mengibaratkannya sebagai surga yang hanya sekali datang. Demikian plastis pelukisan dunia anak-anak dengan metafora tersebut. Yang lebih mengesankan, metafora itu dirangkai dengan gaya bahasa paralelisme di atasnya, Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang. Bila diekspresikan dengan bahasa biasa, misalnya, ...masa kanak-kanak adalah masa yang sangat indah dan hanya sekali terjadi dalam hidup ini , lukisan itu tentu tidak menarik, tidak mengesankan pembaca sehingga tidak memiliki daya pikat. Lebih memikat lagi metafora itu dipadukan dengan unsur permainan bunyi vokal /a/ dan konsonan /k/ dan /m/, asonansi dan aliterasi sehingga menimbulkan irama indah sebagai eufoni dan kokofoni.
Tuturan idiomatik cukup banyak dimanfaatkan dalam RDP. Tuturan idiomatik dalam RDP dapat dibagi menjadi dua jenis yakni tuturan idiomatik klise dan orisinal kreasi Tohari. Tuturan idiomatik klise mengindikasikan bahwa Tohari menguasai bentuk-bentuk idiom lama yang efektif dari segi ekspresi dan makna. Adapun tuturan idiomatik orisinal menunjukkan bahwa Tohari adalah pengarang yang kreatif dalam pemberdayaan segenap potensi bahasa.
Keunikan dan kekhasan tuturan idiomatik RDP terlihat dalam ilustrasi berikut.


(3) Dia yang hidup atas dasar kepercayaan menjalani alur cetak biru seorang ronggeng. (hlm. 231)

Idiom kreasi Tohari cetak biru pada data tersebut secara harfiah adalah blue print yang berarti suratan takdir yang harus dijalani oleh manusia sebagai jalan hidup yang harus dilaluinya. Diterimanya profesi sebagai ronggeng sebagai tugas hidup yang harus dijalaninya, yakni menjadi pemangku naluri primitif; naluri berahi yang membebaskan diri dari norma dan etika. Menjadi ronggeng, itulah dunianya, kesadarannya. Ronggeng adalah keperempuanan yang menari, menyanyi, serta kerelaan melayani kelelakian. Itulah cetak biru yang dipahami Srintil sebagai ronggeng.

Citraan dalam RDP meliputi tujuh jenis citraan. Dari ketujuh jenis citraan dalam RDP, citraan intelektual yang dominan, disusul citraan visual, gerak, pendengaran, dan perabaan. Dominasi citraan intelektual dalam RDP menunjukkan bahwa Tohari sebagai pengarang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi di samping keunggulan bercerita tentang masalah sosial, budaya, moral, jender, humanitas, dan religiositas.

Tohari memanfaatkan citraan dalam RDP untuk menghidupkan lukisan keadaan, peristiwa, latar cerita, penokohan, dan suasana batin tokoh dan menimbulkan imajinasi yang indah pada pembaca. Dengan citraan, berbagai gagasan menjadi memiliki daya ekspresif, indah, dan sensual. Citraan semakin indah karena dikolaborasikan dengan sarana retorika tertentu seperti Metafora, Simile, Personifikasi, dan Hiperbola. Kolaborasi itu menimbulkan eofoni dan kokofoni sehingga melahirkan orkestrasi bunyi dengan irama yang indah.

Ilustrasi berikut merupakan citraan intelektual dalam RDP yang khas Tohari.


 
(4) Selera agung yang transendental terhadap segala citakarsa manusia dan karena keagungannya manusia diminta untuk runduk oleh suara bening di dalam jiwa. Runduk dalam cita dan perilaku, runduk dalam karsa dan karya. Dan kemudian Srintil dengan nilai kemanusiaannya sendiri merasa selera agung, meski tanpa sepatah kata jua, membuka pintunya bagi segala manusia dan kepada tiap-tiap jiwa untuk masuk dan menyelaraskan diri kepadanya (hlm. 355)

Data di atas menunjukkan intensitas Tohari dalam memahami aspek transendental yang esensial bagi kehidupan manusia. Melalui citraan intelektual dengan majas Metonimia, Tohari menggelitik pembaca agar dalam berbuat dan berkarya selalu mengikuti suara hati nurani yang tidak pernah salah, selalu berbisik ke arah kebenaran. Manusia harus berusaha menyelaraskan segala perilakunya dengan ajaran Tuhan dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Agaknya pada bagian ini Tohari terilhami oleh makna firman Tuhan: Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji ii ilaa rabbiki radhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fi ibaadii wadkhulii jannatii, artinya, Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu agar memperoleh keridhaan-Nya dan masuklah ke dalam golongan hamba-Ku (yang beriman) dan masuklah ke dalam surga-Ku (Q.S. al-Fajr: 27-30).


Dapat dikemukakan bahwa stilistika merupakan sarana sastra yang berperan penting dalam menciptakan daya estetis karya sastra. Sebagai sarana sastra, stilistika RDP diciptakan Tohari untuk mengekspresikan gagasan sebagai esensi sastra. 

C. GAGASAN MULTIDIMENSI DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK: 
SEBUAH PEMAKNAAN 
Melalui kajian stilistika RDP dan pemaknaan dengan menggunakan teori Semiotik, Resepsi Sastra, ditemukan bahwa RDP merupakan karya sastra yang mengandung gagasan multidimensi yang kaya nuansa. Multidimensi karena RDP mengandung gagasan-gagasan yang beragam dan penuh kejutan. Keberagaman itu dapat dilihat pada gagasan-gagasan yang meliputi dimensi kultural, sosial, moral, humanistik, jender, dan religiositas. Penuh kejutan karena ada beberapa gagasan yang selama ini belum pernah diungkapkan oleh kritikus/ peneliti RDP sebelumnya bahkan mengalami dekonstruksi. 

Adapun gagasan multidimensi itu adalah: 
(1) dimensi kultural meliputi: kesenian ronggeng sebagai kebudayaan lokal yang berdimensi global; ronggeng sebagai duta budaya; ronggeng dan pengukuhan mitos; kearifan lokal (local genius) pada zaman global (intertekstualitas dengan ajaran Islam); 
(2) dimensi sosial: empati terhadap rakyat kecil yang terpinggirkan; 
(3) dimensi humanistik: pembunuhan mental sebagai tragedi kemanusiaan yang terabaikan; (4) dimensi moral: moralitas yang terpinggirkan oleh budaya; 
(5) dimensi jender: resistensi perempuan terhadap hegemoni kekuasaan laki-laki gaya ronggeng; 
(6) dimensi religiositas meliputi: reaktualisasi ajaran tasawuf wahdatusy syuhud dan dakwah kultural; 
(7) dimensi multikultural: Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) sebagai sastra multikultural yang kaya makna. Stilistika RDP memiliki daya ekspresi yang kuat sebagai media artikulasi gagasan multidimensi yang tidak terlepas dari latar sosiohistoris pengarang dan kondisi social budaya pada dekade1 960-an berdasarkan resepsi pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar