Selasa, 25 Januari 2011

TAKDIR / 1973

 
 
 
Kehadiran mertuanya (Wolly Sutinah) membuat ketentraman Martini (Rima Melati) bekas pelacur berakhir. Ia diteror terus, hingga akhirnya lari dari rumah dan mencoba bunuh diri. Sepasang suami istri Mardi (WD Mochtar, Aminah Cendrakasih) memergoki, menolong dan membawa Martini ke Surabaya dan bekerja di perusahaannya. Suami Martini Kardiman (Dicky Zulkarnaen, tetap tak mau mengikuti anjuran ibunya untuk kawin lagi. Keteguhannya terbukti. Pada saat dia menunggu ibunya di rumah sakit karena menderita kebutaan, dia melihat anaknya Henny (Bulan Surawidjaja) tengah mengiringi seorang perempuan yang berlumuran darah. Perempuan itu adalah Martini yang ingin menemui anaknya, namun mendapat kecelakaan tertabrak mobil. Ketika Martini tahu mertuanya membutuhkan cangkok mata, ia merelakan matanya untuk mertuanya dan ia akhirnya meninggal.
 P.T. DIPA JAYA FILM

News
Takdir pesanan

Film "takdir" yang cerita dan skenarionya ditulis m. aminudin & disutradarai fritz g schadt ternyata cukup memusingkan penonton dengan kejanggalan-kejanggalannya serta alasan yang dicari-cari.

SEORANG pelacur kawin dengan seorang insinyur. Siapa bilang 
tidak mungkin? Untuk dipercakapkan saja menarik, apa lagi kalau 
ada yang menganggapnya patut dikisahkan kepada jutaan penonton 
yang ada minat melewatkan sekedar uang pembeli karcis. Tapi 
kalau saatnya tiba untuk mengundang lebih banyak perhatian 
kepada suatu kisah dengan mempersembahkannya lewat layar 
bioskop, persyaratan teknis mengintai mereka yang berhasrat 
mengundang perhatian orang lain kepada kisah pelacur mendapatkan 
insinyur ganteng ini. Dan dengan amat kurang sabar, cepat-cepat 
harus dikatakan bahwa M. Aminudin yang menulis cerita dan 
skenario kisah yang bisa menarik ini ternyata tidak terlalu 
banyak tahu peta bumi soal-soal yang ia ingin dongengkan.

Larinya Martini. 

Syahdan, Insinyur Kardiman (Dicky Zulkarnaen) yang mendapatkan 
pelacur Martini (Rima Melati) hidup rukun dengan putri tunggal 
mereka, Henny (Bulan Surawijaya) sebelum ibu Kardiman (Wolly 
Sutinah) muncul dengan segala ulahnya. Bisa ditebak bahwa si ibu 
ini keberatan dengan perkawinan anaknya dengan bekas pelacur 
itu. Tapi apa kekuatan yang berada di belakang sang ibu sehingga 
berani ngotot macam demikian, tidak pernah diungkapkan oleh sang 
empunya cerita dan skenario dari film yang bernama Takdir. Si 
ibu ini sungguh bagaikan ibu ajaib yang tiba-tiba muncul untuk 
mengganggu rumah-tangga, menteror anak kecil tak berdosa untuk 
akhirnya menyebabkan larinya Martini dari rumah keluarganya.



Ini adalah tipe-tipe cerita yang sudah ditetapkan bagian-bagian 
sedih dan gembiranya guna memancing air mata dan ketawa 
penonton, dan kepada kedua muara inilah semua logika dan 
akal sehat harus hanyut. Dengan meminta sekedar akal sehat 
tentulah tidak lantas saya mempersetankan adanya ibu-ibu jahat 
macam yang dimainkan oleh Wolly Sutinah, tapi tokoh psikopath 
sekalipun pastilah punya akar dalam masa lalu. Maka kecuali 
hubungan biologic nyaris tidak ada kisah hubungan masa lalu 
antara Ir Kardiman dan ibunya. Akibatnya, kehadirannya di rumah 
itu tidak lebih dari seorang yang dibayar produser untuk 
menteror agar ada alasan bagi pembeli karcis untuk menangis, 
atau merasa puas ketika ia mendapatkan kecelakaan pada 
bagian-bagian terakhir film. Malangnya pula, Wolly 
Sutinah berasyik-asyik, dengan tokoh konyol yang ia mainkan, 
dan makin karikatural tokoh ibu yang entah dari mana dipungut 
oleh Aminudin.

Pakaian Henny. 

Maka jangan langkah kita berbicara tentang dialog yang semerawut 
dalam film berwarna cerah milik Dipa Djaja Film ini. Semua itu 
lebih diperparah lagi oleh struktur skenario yang bahkan 
memenuhi persyaratan dasar skenariopun tidak. Tapi di sini 
agaknya tangggung jawab sutradara yang harus digugat. Dengan 
melupakan keteledoran yang mengakibatkan ketidaksinambungan 
pakaian Henny pada adegan Martini melarikan diri dari rumah 
sudah seharusnya. Ritz G. Schadt yang memikul tanggung jawab 
bagi permainan Wolly Sutinah yang menganut gaya rutinnya yang 
amat karikatural terhadap permainan Dicky Zulkarnaen dan Rima 
Melati yang bermain amat wajar.

Tapi kesalahan editing yang tampak dengan jelas pada introduksi 
adegan Surabaya (berakhir pada gambar tugu pahlawan) yang 
mendadak loncat (intercut) pada close up mesin mobil di Jakarta, 
pastilah, dosa film tak terampunkan yang selama ini pernah 
diperbuat oleh Fritz. Adapun introduksi Surabaya melalui 
gambar-gambar bagian kota yang dikenal masyarakat luas pastilah 
dengan maksud menciptakan ilusi mengenai kejadian berikutnya 
yang dianggap berlaku di Surabaya. Tapi dengan kecerobohan 
demikian, ilusi menjadi buyar -- sementara penonton besar 
kemungkinan ada juga sedikit pusing.

Yang amat memusingkan tentulah jalan kisahnya yang merangkak 
berlarat-larat dan dengan alasan yang dicari-cari untuk 
menggiring penutup kisah yang diduga dramatis. Mengingat sasaran 
pemasarannya yang terutama di daerah (lihat: Schadt & Washi 
angkat bicara), orang tentulah suka memaafkan kisah melodramatis 
macam demikian.

Tapi sepanjang soalnya bukanlah sekedar 
mendapatkan uang dari penjualan karcis, nampaknya perlu 
difikirkan perbaikan pembuatan sebuah film atas sebuah cerita 
yang, katakanlah, amat berbau India. Melihat bahwa film-film 
India merupakan saingan film-film Indonesia, orang semestinya 
menarik pelajaran yang amat berharga dari kenyataan bahwa film 
India boleh kita cemooh kisahnya yang terkadang konyol tapi 
sebagai suatu hasil pekerjaan tangan, ia sepenuhnya memenuhi 
persyaratan teknis sebuah film. Setuju atau tidak pada pesan 
yang dititipkan si pembuat film di sana, orang baru mengakui 
bahwa film India adalah sebuah ilusi yang selesai utuh dan 
sempurna.

Tarian Ellya. 

Ilusi itulah yang jarang ditemukan dalam film-film Indonesia 
yang mengaku perlu meniru film-film India -- lengkap dengan 
nyanyian dan kadang-kadang tarian Ellya Khadam -- dengan alasan 
"untuk merebut sasaran di kalangan lapisan bawah". Entah karena 
alasan ini juga atau cuma lantaran ketidak mampuan, tapi hasil 
kerja Fritz G. Schadt kali ini patut disayangkan antara lain 
oleh ketidak telitiannya mengeliminer mata banyak penonton -- 
ketika film dibuat -- yang terpaksa secara grafis ikut hingap di 
layar lebar.

Oh, Tuhan, ada pula adegan cangkok kornea mata pelacur -- yang 
mati ketabrak mobil ketika mengejar anak yang telah lama ia 
tinggalkan -- ke mata sang ibu yang rusak setelah jatuh 
terguling di tangga. Penonton lapisan bawah memang bisa dibikin 
terharu, tapi kalau suatu kali mereka tahu bahwa sumbangan 
kornea mata orang yang mati hanya bisa diterima oleh orang yang 
korneanya juga rusak -- dan bukan syarafnya putus lantaran jatuh 
di tangga -- tentulah mereka pada suatu hari bakal menyesali 
kebodohan mereka ketika terharu menyaksikan bagian terakhir film 
Takdir ini. Tapi hari demikian nampaknya masih akan lama 
datangnya. Dan penonton Indonesia boleh puas dengan keharuan 
pesanan yang dihias dengan musik petikan dari seri James Bond 
seri kesekian yang bernama Goldfinger

Salim Said

Tidak ada komentar:

Posting Komentar