Selasa, 25 Januari 2011

FRITZ G. SCHADT 1963-1986

 
 
Sutrdara berdarah Jerman ini lahir di Medan, 1940, mendapat pendidikan hingga tingkat 2 fakultas hukum. Terjun ke dunia film lewat peran kecilnya dalam film Kuala Deli 1955, setelah itu beberapa tahun menjadi anak didik Usmar ISmail di Perfini, bidang yang dipilihnya editing. Ia banyak mengedit film hingga menjadi sutradara pada tahun 1971, disamping itu juga mengajar di akademi sinematograpfi LPKJ

Nama :Fritz G. Schadt
Lahir :Medan, Sumatera Utara, 21 Mei 1940
Wafat :5 Maret, 2001
Pendidikan :SMA,Fakultas Hukum, tingkat II

Profesi :Sutradara,Editor,Pemain Film,Pengajar di Akademi Sinematografi LPKJ
Ia terjun ke dunia film pertama kali sebagai figuran untuk film Kuala Deli (1955), Fritz muncul kembali sebagai pemain pembantu dalam film Sungai Ular (1961) dan Penyeberangan (1963).
Tahun 1964, ia pernah bekerja di Perfini sebagai pembantu editor dalam film-film Anak-anak Revolusi, (1964), Liburan Seniman (1965), Insan Bahari (1966), Bima Kroda (1967). Tahun 1967, Fritz secara penuh mengedit film Operasi Tjendrawasih II (1967). Film Yudha Bhakti (1968) juga diedit olehnya.

Fritz kemudian menjadi pembantu sutradara untuk film-film Djampang Mentjari Naga Hitam (1968), Mat Dower (1969), juga sebagai pemain. Si Bego Menumpas Kutjing Hitam (1970), Si Bego dari Muara Tjondet (1971). Ia mulai menjadi sutradara penuh dalam film Si Gondrong (1970). Selanjutnya Fritz menyutradarai film-film Lingkaran Setan (1972), Ibu Sejati (1973), Bobby (1974), Jinak-jinak Merpati (1975), Balada Dua Jagoan (1977), Si Ronda Macan Betawi (1978).

Setelah jadi sutradara penuh ia juga masih menjadi editor untuk film-film Malin Kundang (1972) dan Ibu Sejati (1973). disamping kesibukan membuat film, Fritz juga menjadi pengajar di Akademi Sinematografi LPKJ (IKJ).

DARI dahulu hingga sekarang lekak-liku pembuatan film selalu menarik perhatian orang ramai. Aspeknya yang amat beragam menempatkan soal pembuatan film ini dalam posisi yang tidak bisa sekali dikisahkan pada halaman-halaman TEMPO yang juga terbatas ini. Lagi pula soal yang dihadapi tiap orang film, aktor, aktris, karyawan ataupun produser, tentulah berbeda-beda adanya.

Melalui wawancara mereka dengan kepala desk film Salim Said, mudah-mudahan para pembaca TEMPO yang berminat terhadap dunia perfilman bisa secara berdikit-dikit mengetahui apa yang lazim disebut kegiatan di belakang layar. Berturut-turut berikut ini dapat diikuti bagian-bagian penting percakapan Salim Said dengan sutradara muda Fritz G.Schadt, 33 tahun dan Washi Dipa, produser dan pemilik PT Dipa Djaja Film yang mempercayakan modalnya pada kreativitas sutradara muda kelahiran Medan itu.

FRITS G.SCHADT Tentang film terbaru saya: Takdir, produsernya, Washi Dipa, sebelumnya berpesan agar jadinya tidak macam Lingkaran Setan (LS). Menurut dia, LS ini terlalu berat buat penonton kita di sini' "Anda supaya membuatnya lebih ringan sedikit. Ya, seperti film-film India, begitu", kata Washi. Maka saya membuatnya secara biasa saja, tidak macam membuat LS yang saya kerjakan dengan segala daya kreatifitas dan intrepretasi, sehingga film tersebut menjadi karya kebanggaan saya. Jadinya saya hanya mengikuti hukum-hukum pembuatan film serta skenario yang ditulis oleh M.Aminudin. Ya, skenario itu sendiri telah diubah oleh Aminudin atas permintaan kita, dan dalam penuangannya ke dalam seluloid saya lakukan lagi perubahan- perubahan.

Pemain & keseimbangan. Kesanggupan para pemain kita tidak selalu mencapai keinginan saya untuk membuat sesuatu dalam satu shoot. Dengan Wolly Sutinah, misalnya, saya dihadapkan kepada soal tentang bagaimana mencegahnya agar dia tidak bermain rutin seperti yang selalu ia lakukan di panggung, di banyak film atau juga di depan kamera TVRI Mungkin sekali keterangan dan penjelasan saya sulit ditangkapnya, sehingga permainannya jadinya agak karikatural. Saya kurang puas dengan permainan Wolly Sutinah yang ini. Adegan introduksi Surabaya yang berakhir pada kelihatannya tugu pahlawan lalu meloncat (intercut) ke Jakarta kembali itu, saya kira bukan kekeliruan editing secara fisik.

Habis skenarionya mau begitu, mau apa lagi saya. Kalau harus merevisi seluruh skenario sambil membikin film, wah, ya, sulit dan tidak mungkin. Tapi saya sadar betul bahwa itu mengganggu ilusi penonton. Soal kekeliruan kesinambungan (continuity), ya, ini mungkin saja terjadi tanpa kita perhatikan karena yang kita edit adalah bahan yang hitam-putih belum dicetak warna, jadi sulit melihat perbedaan dari suatu yang mustinya memang sama. Tapi pangkal dari kekeliruan kesinambungan itu adalah karena saat pemotretannya tidak sekaligus. Ini bisa dikurangi kalau kita berpegang pada salah satu dari dua pendekatan: pendekatan pemain atau pendekatan tempat. Dengan pendekatan pertama, seorang pemain dipotret harus terus menerus sampai selesai, untuk kemudian, memberi giliran pemain lainnya. Sedang dengan pendekatan kedua, kita tergantung pada tempat. Kalau tempat itu A, misalnya, maka semua pemain yang kelihatan di A harus secara bersama dishoot di tempat tersebut, untuk kemudian pindah lagi ke tempat lain setelah seluruh adegan di sana selesai. Tapi merangkapnya, banyak artis pada beberapa produksi sekaligus tidak memungkinkan kita menganut satu dari dua pendekatan ini. Saya tidak mungkin terus menerus mendapatkan Rima Melati pada suatu tempat (set) yang sedang saya kerjakan, sehingga terpaksa harus kembali lagi menyambung adegan yang terputus beberapa waktu sebelumnya. Dari sinilah menyelinapnya ketidaksinambungan itu.

Kompromi & pemesan. Dengan producer kita memang harus berkompromi. Lagi pula saya bukan tipe sutradara yang terlalu bersikeras pada suatu prinsip. Saya tahu jumlah uang yang dipertaruhkan produser yang juga tidak berdiri sendiri. Ia juga masih harus berhadapan dengan pemesan (booker) film dan kadang-kadang bahkan pemilik gedung bioskop. Dalam film Takdir ini misalnya, kita merasa sudah menggunakan bintang-bintang terkenal macam Dicky Zulkarnaen. W.D. Mochtar, Rima Melati, Wolly Sutinah, dan sebagainya, tapi si pemesan masih saja mengeluh: "Wah, Dicky, ini kurang di daerah kami, kalau pakai Sophan dan Widyawaty, tutup mata saya beli, deh". Ini menjadi bahan pemikiran producer,
 

LINGKARAN SETAN1972FRITZ G. SCHADT
Director
NAGA MERAH 1976 FRITZ G. SCHADT
Director
IBU SEJATI 1973 FRITZ G. SCHADT
Director
MIDAH PERAWAN BURONAN 1983 FRITZ G. SCHADT
Director
ANAK YATIM 1973 FRITZ G. SCHADT
Director
SI BEGO MENUMPAS KUTJING HITAM 1970 LILIK SUDJIO
Director
SUZIE 1966 LILIK SUDJIO
Actor
PENJEBERANGAN 1963 GATUT KUSUMO
Actor
CACAT DALAM KANDUNGAN 1977 FRITZ G. SCHADT
Director
JAKA GELEDEK 1983 FRITZ G. SCHADT
Director
BUAYA PUTIH 1982 FRITZ G. SCHADT
Director
PEMBALASAN NAGA SAKTI 1976 FRITZ G. SCHADT
Director
BALADA DUA JAGOAN 1977 FRITZ G. SCHADT
Director
TJOET NJA DHIEN 1986 EROS DJAROT
Actor
TAKDIR 1973 FRITZ G. SCHADT
Director
KUPU-KUPU BERACUN 1984 FRITZ G. SCHADT
Director
SI GONDRONG 1971 FRITZ G. SCHADT
Director
BANG KOJAK 1977 FRITZ G. SCHADT
Director
BOBBY 1974 FRITZ G. SCHADT
Director
SAKURA DALAM PELUKAN 1979 FRITZ G. SCHADT
Director
MELATI HITAM 1978 FRED WETIK
Actor
MATT DOWER 1969 NYA ABBAS AKUP
Actor
BENYAMIN SI ABUNAWAS 1974 FRITZ G. SCHADT
Director
SI RONDA MACAN BETAWI 1978 FRITZ G. SCHADT
Director
CANTIK 1980 FRITZ G. SCHADT
Director
SI JAGUR1982FRITZ G. SCHADT
Actor Director

2 komentar:

  1. Dear Pak Ismail,

    Baru2 ini aku baca tulisan bapak di situs Blogger tentang almarhum bapak
    Fritz Schadt, teman baik dan sutradara saya pada tahun 1982-83.

    Pada waktu itu aku sedang menetap dan belajar di salah satu perguruan
    silat yg bernaung di Bogor dan Puncak, yaitu PGB Bangau Putih. Kakak
    perguruanku, Benny Gautama Rahardja, sedang main dibawa Pak Fritz, dan
    saya beserta beberapa teman seperguruan lain diajak main juga.

    Saya main di dua film Pak Fritz, yaitu "Keris Jagur" sebagai Kaptan
    Mauritz, dan di "Jaka Gledek" sebagai Kapten Belanda (nama peranan sudah
    lupa!). Aku juga sering membantu Pak Fritz di kamar syunting untuk
    "Keris Jagur" yang, kalau aku ingat dgn benar, pada waktu itu di gedung
    PERFINI di Cikini.

    Senang sekali menemui sedikit dokumentasi mengenai proyek2 tersebut ini.
    Terimakasih banyak atas usaha Pak Ismail untuk merekam sejarah
    perfiliman ini yg kian lama kian terlupa.

    Salaman dari California,
    Craig Louis

    BalasHapus
  2. Dear Pak Ismail,

    Kami sekeluarga sangat mengahargai tulisan di blog ini, truly appreciated. Semoga per-Fil-an Indonesia kian maju.

    Untuk saudara-saudara semua yang memberikan komentar, sangat membantu kami dalam mengetahui dan mengenal masa lalu dunia film Indonesia dari sisi Alm. ayahanda kepada kami generasi penerusnya.

    Wassalam,
    Attila A. Syach

    BalasHapus