Selasa, 30 Maret 2010

POSTER FILM
Harus lah menarik, boombastis, dan yang paling penting adalah daya tarik agar menontonnya. Kalau jaman dulu, sebelum ada film, panggung teater dengan poster yang cukup menggoncang juga. Hanya berupa tulisan saja, karena photography belum ada, cuma sedikit gambar tunggal yang dihiaskan saja.

Tapi sebelum ada panggung, grup sirkus mengawali dengan iklan poster mereka, seperti layaknya samson yang bertarung melawan harimau dan sebagainya. Ini dilukis karena jauh sebelum photography di ketemukan.

Jauh sebelumnya, pengumuan para raja atas undian undangan rakyat, acara raja, dan sebagainya yang biasanya di bacakan oleh para prajurit dan lalu di tempelkan di setiap sudut kota/desa.

Jauh sebelumnya lagi sering digunakan untuk mencari seseorang Bandit dengan hadiah yang besar.

Poster terus maju sesuai dengan perkembangan jaman dan tehnologi, tetapi yang paling penting adalah, bagaimana caranya agar menarik penonton, tentu menggunakan hal-hal yang boombastis.

Dinegara mana pun, poster film tampak sama, tidak ada perbedaan sedikitpun, karena perkembangan film adalah perkembangan yang diikuti oleh semua negara, sudah pasti akan terbawa, terikut, bahkan hampir menyerupai. Poster film Indonesia tidaklah sejelek atau se horor, atau sesexy mungkin bila di bandingkan dengan poster film dari negara lain.

Tidak percaya, silahkan clik link saya di Poster Film of Arts dan Data MOvie All the World

Tanggapan dari...
Sundel Bolong: 100% Bitjara Melajoe 
Cantik.... Menggairahkan.... Tak kenal ampun…. 
Tiga kata itu tertera pada poster film Pembalasan Setan Karang Bolong dengan peran utama Farida Pasha dan Baron Hermanto (sutradara: Ratno Timoer, Rapi Film 1989). Ini mungkin mencerminkan resep gambar poster horor kita. Perhatikanlah setiap poster film horor Indonesia, pasti mereka mengandung dua unsur utama: sosok yang menyeramkan (tapi pada dasarnya sensual) dan gambar korban. 
Pengamat film dari Australia, Krishna Sen, pernah memiliki hipotesis, wanita dalam film Indonesia selalu ditampilkan sebagai sosok yang tergantung pada laki-laki. Citra perempuan yang pasif, terdomestivikasi. Tapi ia mungkin meleset dalam hal poster horor. Lihatlah bagaimana kebanyakan hantu Indonesia adalah perempuan. Dan itu dilukiskan sebagai sosok "gadis penakluk" yang bisa menghabisi nyawa. 
Memang, setiap periode memiliki penekanan yang berbeda. Poster tahun 1990-an macam Skandal Iblis lebih mengutamakan unsur yang menggairahkan. Sedangkan tahun 1970-an poster film horor lebih menekankan unsur tak kenal ampun. Toh, semua senapas: yang dijual adalah serangkaian sensasi. 
Ketika pada 1934 advertising "gambar hidoep" masih dilukis dengan tinta, dan selalu dibumbui kata-kata 100% bitjara Melajoe, iklan Ouw Peh Tjoa (Doea Siloeman Oeler Poeti en Item) dengan gambar ular berkepala wanita dengan berteks berbunyi: Satoe Manoesia kawin sama satoe siloeman. Sampe achirnja melahirkan satoe anak. Satoe anak moeda jang tjakap serta terpeladjar telah dipengaroein dan sampe kawin sama satoe oelar poeti jang beroepa seperti satoe prampoean tjantik. 
Simak poster Tengkorak Hidoep (1941), yang dibintangi Tan Tjeng Bok dan Moh Mochtar. Seorang wanita memeluk seorang laki-laki bertelanjang dada karena ada jerangkong di depannya. Lalu ada kalimat: Moh Mochtar, lebih gesit daripada dalem Alang-Alang! Lebih brani daripada dalem SRIGALA ITEM dan SINGA LAOET! — dalam satoe rol jang aken memboektiken, tida pertjoema poeblik namaken padanja Tarzan of Java"! 
Poster yang didominasi unsur "tak yang menampilkan Lenny Marlina dan Farouk Afero. Digambar dengan akrilik dan yang jadi fokus adalah seorang wanita meraung dengan bercak-bercak di mata kanan. Atau Beranak dalam Kubur (1971), film yang diangkat dari novel Ganes T.H. dengan peran utama Suzanna dan Mieke Widjaja, yang menampilkan sosok wanita buruk muka, tangannya memegang besi lancip yang tengah mencacah. Sedangkan di sampingnya ada wajah seorang laki-laki menjerit kesakitan. Dan orang menggotong keranda. 
Sejak itu, Suzanna memang kemudian merajai poster film misteri, karena film Beranak dalam Kubur adalah film horornya yang pertama dan meledak. Sebuah poster film yang dibintanginya bisa menampilkan wajahnya dengan berbagai ekspresi. Simak poster Ratu Buaya Putih (1988, sutradara Tjut Djalil), ia berkerudung merah, di sebelahnya ada buaya putih. Lalu di bawahnya ia berkemben, menengadah, menutup mata seperti meresapkan azimat. Malam Satu Suro (sutradara Sisworo Gautama Putra), yang melejitkan Suzanna sebagai sundel bolong, menampilkan poster foto dirinya bergaun putih panjang, berambut hitam terjuntai, lingkaran pelipis mata hitam, dengan pocong di sebelahnya. Wanita Harimau (Santet 2), produksi PT Soraya Intercine Film (1989, sutradara Sisworo Gautama Putra) menampilkan foto Suzanna tengah merapal dan Suzanna bertubuh harimau loreng. 
Yang menarik adalah bagaimana poster-poster memvisualkan kekerasan oleh binatang jadi-jadian, misalnya poster film Babi Ngepet. Film Warisan Terlarang (1990), yang dibintangi Yati Octavia, juga menampilkan sosok wanita bak seorang ratu dan manusia berjas berkepala babi. Lalu ada pula gambar seekor babi yang mengudal perut seorang laki-laki sampai berdarah. 
Dari kecenderungan poster-poster film horor Indonesia pada setiap periode, ada satu benang merah: poster film horor yang dilukis lazimnya lebih "dramatik" daripada poster film horor yang menggunakan fotografi. 
Bandingkan film Si Manis Jembatan Ancol, tahun 1973 (dengan pemain Lenny Marlina dan Farouk Afero, sutradara Turino Junaedi), yang masih menggunakan cat poster, dan Si Manis Jembatan Ancol tahun 1994 (pemain Diah Permatasari, sutradara Atok Suharto). Poster film versi tahun 1973 terasa lebih "artistik", yang mengingatkan kita pada ilustrasi komikus silat ala Teguh Santosa dan Djair. Poster film Peti Mati malah memberikan kesan "norak" karena harus perlu ditambah terjemahan bahasa Inggris The Coffin. Bahkan film Beranak dalam Kubur juga menampilkan terjemahan Inggris Birth in the Grave, adapun film Ratu Ular diberi judul Inggris Snake Queen. Tapi justru unsur "norak" itu terasa lebih klop dengan spirit goresan "silat" tahun 1970-an itu. 
Tahun 1990-an, menurut produser Ferry Anggriawan, di kala krisis, poster bisa menjadi senjata andal menggaet penonton. Bahkan dalam poster, sengaja ditampilkan adegan yang tak ada dalam film. Periode 1990-an adalah periode poster film misteri dengan visualisasi yang didominasi adegan berbau persenggamaan. Susuk Nyi Roro Kidul (Sally Marcelina, Ayu Yohana, Windy Chindyana) menyajikan poster yang menggambarkan seorang laki-laki yang tengah mengelamuti pundak Sally. Film Malam Pengantin (Kiki Fatmala dan Ibra Azhari) menyajikan poster dengan gambar adegan percumbuan dengan bibir mendesah. Pendeknya, imaji yang dijual bukan setan menakutkan, tapi keliaran libido. 
Syahdan, perupa Agus Suwage menggotong sebuah tenda militer nun jauh ke Aachen, Jerman, dan ke Amsterdam, Belanda. Di bagian dalam tenda, ia merekatkan poster-poster film misteri Indonesia yang menjual sensasi pornografis dan kekerasan. Para pengunjung dipersilakan masuk. Karya yang kemudian diberi berjudul Pressure and Pleasure itu maksudnya ingin menyatakan, inilah wajah Indonesia asli: seks, sadisme, dan klenik. Sundel Bolong—memang 100% Bitjara Melajoe. 
Seno Joko Suyono

Kenapa Poster film Indonesia Hampir sama dengan poster Film Asing?
Jawabanya hanya satu, selama kita terus mencari inspirasi dari film orang, maka kita akan terbawa ke film itu yang tanpa kita sadari kita mengikuti, menirunya, lalu munculah kalimat menjiplak.

Pembuat film Indonesia saat ini kurang percaya diri, kurang percaya diri disini banyak faktor, tapi yang jelas adalah, apa dia mampu membuat film? Atau memang tidak bisa buat film. Oleh karena itu dia lebih baik mencari reverensi sebanyak mungkin dari pada meningkatkan mutu pendidikannya tentang film dan mengasah kreativitasnya. Dia lebih senang membawa DVD yang banyak ke meja meeting para crew dari pada pengetahuan dan kreativitas di bangun dan di asal. Walhasil, semua serba ikut-terikut bahkan terjebak padan mencontek.

Tentu hal ini kurangnya pengetahuannya dan kreativitasnya sehingga kepercayaan diri hilang, dan untuk menyelamatkan muka itu., maka lebih baik mencari reverensi dari film orang sebabyak mungkin, bahkan scene by scenenya, juga shot-by shotnya, musik, drama, acting, art, photographynya,...bahkan ke poster. Dengan harapan orang belum pernah melihat film yang di reverensikannya itu. Tetapi tetapi dia lupa, mana mungkin mencapirkan semua budaya DVD tersebut ke dalam sebuah negara Indonesia ini, oleh karena itu....film Indonesia banyak yang ke Prancis-prancian, ke Korea-koreaan, ke Hollywood-holllywoodan dan sebaginya.Contoh yang paling nyata adalah, box telpon umum kota LOndon yang terkenal itu dengan warna merahnya, apa ada itu di Jakarata? Kalau atas nama art? Mendingan shooting dan settingan tempatnya di London saja, jauh lebih baik dari pada memaksakan diri memakai box telpon umum itu di Jakarata.

Yang lebih parah lagi, ini sering diledeki dengan DVD Institute oleh sejemulah teman saya. Mereka bangka akan penioruan scene tersebut serasa ingin berbicara pada penonton.......lihat Scene perkelahian ini, seperti film Matrix kan???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar