Jumat, 08 Januari 2010

MAP

Kenapa harus ada IndonesiaCinematheque

Berawal dari:
Orang muda lebih suka bilang, "SEJARAH ADALAH SEKARANG". Orang tua lebih suka bilang, "SEJARAH ADALAH BAGIAN DARI MASA LALU". Pujangga lebih suka bilang, "SEJARAH DITULIS OLEH PEMENANGNYA, makanya sejarah akan terus berubah sesuai dengan berputarnya kekuasaan". Tapi saya lebih suka pernyataan Pramudia, "KITA AKAN TERSESAT DIANTARA BANGSA-BANGSA LAIN BILA KITA MELUPAKAN SEJARAH". Ini sangat global sekali sifatnya, sejarah negara, bangsa, silsilah keturunan, film dan sejarah apa saja. Seperti Pak Pram juga dimasa akhirnya masih suka mengumpulkan klipingan-klipingan dari koran (ini yang pernah diajarkan di SD/SMP dulu), maka itu saya sangat menghargai pembuat film Indonesia saat dulu, mereka bukan JADUL (konotasi remehkan) karena itu mencoba mengumpulkannya.

Justru karena waktu saya sekolah dulu saya sempat main ke sinematek Indonesia di kuningan 1993, saya masuk ke gudang arsip film Indonesia yang dimana menyimpan banyak film Indonesia, tetapi tempatnya sangat menyedihkan sekali. Strukturnya memang standart penyimpanan film dunia, di bawah tanah dengan suhu yang terjaga untuk menghindari dari kerusakan sileloit. Tetapi entah kenapa hal ini tidak jalan. Beberapa kali tempat ini kebanjiran sehingga semua can film harus di keringkan. Belum lagi kasus roll film yang sudah lengket dan rusak. Belum lagi can film buat tempat duduk, atau ganjal pintu. Belum lagi hilangnya beberapa real can film dalam satu judul. Menyedihkan memang, tetapi inilah Indonesia yang tidak pernah melihat hal masa lalu. Inginnya terus maju ke depan, tanpa berpaling sedikitpun akan hal yang lampau. Belum tuntas dengan satu hal, inginnya ke hal yang lain, sama seperti karakter manusianya yang selalu membeli HP terbaru walapun tidak pernah tahu akan manfaat dan funsionalnya. Semua karena status.

Di semua negara, film adalah aset budaya dan barang seni sesuai dengan pembuatan dan settingan ceritannya. Hal itu terekam dalam film sebagai saksi akan masa itu. Kreatifitas, tehnologi, status sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama ada dalam setiap judul yang diproduksi pada tahunnya. Kita bisa melihat seperti apa situasi tahun 1960'an Indonesia melalui satu film saja. lagi-lagi hal itu hilang begitu saja.

Bukan hanya film saja, bahkan daftar film yang diproduksi saja sulit mencarinya, apalagi bendanya "Film". Film Indonesia tercecer di mana-mana, ada di perorangan, ada di arsip, ada di ph, ada di ph yang sudah bangkrut....hingga mungkin di jual di tempat pasar loak sebagai benda usang. Saya pernah menemukan satu can film Indonesia di jual di pasar ronsokan. Saya tanya ini di jual buat apa? Mereka jawab tidak tahu. Dari siapa film ini didapat, mereka bilang ada yang jual seseorang. Yang jual bilang lagi, mungkin untuk hiasan atau apalah....dijual murah. Film satu can yang dijual di pasar ronsokan bukan potongan film NG, tetapi satu can/real yang sudah married prit. Hanya saja nomor realnya saya lupa.

Saya sebagai orang film merasa tersinggung sekali, semurah ronsokan inilah profesi kita? Sangat marah juga bila melihat gedung bioskop yang bangkrut dan hancur atau dihancurkan.

Banyak data film yang saya dapat justru dari wesite luar negeri. Banyak orang yang bertanya bagaimana bisa mendapatkan film-film indonesia jaman dulu? Saya angkat tangan.

Saat ini Thailand sedang gencar membuat asrip film.musium filmnya.

Menelusurinya agak sulit karena banyak data yang beda dari data di luar negeri dengan di dalam negeri. Yang paling sering mendapat kesulitan adalah ketika menjadi data film, dan sutradaranya. Karena saat itu banyak yang merangkap kerjanya sehingga credit titlenya ada yang ganda. Data dari luar negeri ada yang menyebutkan satu film dan sutradaranya ganda. Adanya hal ini di cocokan dengan Indonesia punya sehingga makin beda juga.

Ini mungkin disebabkan adanya perbedan ejaan dulu dan sekarang, belum lagi adanya gelar di pakai di depan nama yang kalau di Indonesia itu di depan nama, tetapi data luar negeri itu ada di belakang nama. Belum lagi banyaknya yang memakai nama samaran sehingga banyak beda. Inilah kesulitannya tetapi inilah keasyikannya.

Dalam menelusurinya juga sedikit bingung, dari mana mulai, dari perorangan, dari perusahaan film, dari tahun pembuatan atau tahun, dari filmnya?

Jadi pembuat film pertama datang adalah golongan Dokumentar Belanda, orang China ada beberapa yang membuatnya juga lalu muncul pembuatan film cerita yang dimulai dari Belanda Totok hingga Indo, beberapa orang China sudah mulai ikut. Kesulitan dalam dana dan penonton sudah dirasakan diawal utuk menarik penonton kelas atas dan menengah yang memiliki uang untuk membeli karcis. Tetapi orang kelas atas cukup rewel ternyata sehingga banyak maunya dan film yang dihasilkan juga tidak sesuai dengan apa yang mereka mau. Karena mereka sudah sering menyaksikan film Import dari Eropha dan Amerika dengan cerita yang mereka suka, tehnik yang baik dan muttu yang bagus. Sehingga orang film mulai melirik penonton kelas menengah ke bawah. Tetapi ceritanya juga disamakan agar mereka mau menonton. Juga ongkos produksi juga harus di perkecil mengingat penonton kelas bawah tidak banyak yang memiliki uang untuk menonton. Tetapi dari niat baik pembuat film, mereka masih terus mencoba menggaet hati penonton kelas atas dengan membuat film dari cerita yang mereka suka. Tetapi ongkos produksi harus mahal juga karena cerita harus baik, pemain harus baik juga, tehnis dan muttu juga harus baik. Tetapi kerewelan orang kelas atas membuat pembuat film jera, dan kembali kepada penonton bawah saja. Tetapi kalau dikasih ide yang baik dan pembuatannya artistis dan enografi mereka tidak suka. Mereka suka mimpi dan legenda, juga mereka suka cerita yang dari panggung. Karena penonton panggung sangat banyak sekali hingga tidak kebagian tiket, dan penontonya juga ada golongan atas. Maka pembuat film mencoba mengabil cerita dari panggung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar