Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri CINTAKU DIKAMPUS BIRU. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri CINTAKU DIKAMPUS BIRU. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Januari 2011

KAMPUS BIRU / 1976

 




   
 
 

 
Film ini di sutradarai Ami Prijono dan
Ada  2 hal film ini menarik untuk ditonton. Selain novel ini karangan Ashadi  Siregar memang populer juga ceritanya sepenuhnya bermain di kampus.  Karena untuk dunia pendidikan, baru kali ini kampus muncul dengan penuh  dan utuh, tentu menarik bagi mahasiswa dan mantan mahasiswa. Mengambil  kampus Bulak Sumur Universitas Gajah Mada sebagai lokasi dan film ini  berputar sekitar buku, pesta, dan cinta. Tokoh utamanya Anton (Roy  Marten) mahasiswa cerdas, aktivis dan playboy.

P.T. SAFARI SINAR SAKTI FILM

ROY MARTEN
ENNY HARYONO
RAE SITA
YATIE OCTAVIA
FAROUK AFERO
EL MANIK

Film  ini dimulai dari adegan ciuman dalam semak-semak depan kampus Bulak  Sumur. Ciuman ini tidak hangat karena Anton memikirkan ujiannya yang  gagal untuk kesekian kalinya, tidak dalam keadaan siap untuk berciuman  dengan pacarnya itu, Marini ( Yatti Octavia) yang agresif. Dan hulu  malang kegagalan akademis itu adalah juga seorang gadis cantik dan  cerdas, angkuh, tetapi juga berumur. Namanya Dra. Yusnita (Rae Sita)  jabatannya Dosen.

Konflik  langsung terjadi antara dosen sama sejumlah mahasiswa yang dipimpin  oleh Anton. Ketegangan makin memuncak oleh tangan-tangan jahil yang  melempari rumah Yusnita serta menempelkan plakat dikampus. Dosen yang  amat tersinggung itu nyaris berhasil mendesak dekan untuk memecat Anton.  Kendati ia mendapat sejumlah simpatik dari para dosen.

Nampaknya  Ashadi Siregar ingin membuktikan bahwa antara benci dan cinta tipis  sekali perbedaannya. Ternyata Anton mahasiswa idaman Yusnita yang tidak  pernah ditemukannya  ketika ia dulu jadi mahasiswa. Kebencian sang dosen  kepada Anton bertumbuh subur lewat sebuah pertanyaan mengenai terori  Freud dirasakan amat menyinggung perasaan Yusnita yang perawan tua itu.

Ami menggambarkan adegan itu dengan baik sekali pengakuan Yusnita di tempat penelitian di panggung itu. Cuma sayang tidak sempat dijelaskan mengapa  ketersingungan oleh tingah Anton membawa korban sejumlah mahasiswa yang  juga ikut-ikutan tidak lulus.

Mendinginnya  sikap Anton terhadap Marini, terlibatnya Marini dalam hubungan baru dengan Kusno (Farouk Afero) yang juga teman Anton, semua digambarkan  dengan baik oleh Ami. Bahkan lebih hidup dari cerita aslinya. Juga  hubungan Anton dengan gadis Erika (Enny Haryono) dan Widyasari yang  cantik dikerjakan dengan rapi. Adegan Anton pertamakali mengunjungi  rumah Erika yang sudah bertunangan menjadi amat mengasyikan dengan  digunakannya Simphoni no 9 Beethoven ketika sang Playboy memulai  penerangannya yang amat mendadak itu. TEtapi mungkin lantaran keasyikan  dengan adegan yang bagus dan hidup itu maka Ami melupakan beberapa hal  yang sudah lebih dahulu ia perkenalkan.

Ini  produksi Safari film rasanya cukup beralasan untuk merenungkan  pertanyaan; setelah resert selesai, apa kabar dengan keputusan dewan  dosen mengenai Anton? Hubungan baik antara Anton dan Yusnita sama sekali  tidak dibarengi dengan pembicaraan soal ujian yang menjadi akar  konflik. Lalu, bagaimana dengan Anton yang sebentar lagi akan berhenti  menerima kiriman dari rumah? Hubungan yang tiba-tiba mesra dan amat  menyolok antara Anton dan Yusnita mengapa sama sekali tidak menjadi  bahan pembicaraan kawan maupun lawannya yang ingin menjatuhkannya dari  pimpinan senat mahasiswa. Anton jatuh dari pimpinan senat mahasiswa pada  pemilihan yang ke dua kalinya.

Walaupun  skenario ini ditulis oleh Nyaa Abbas Akup, tampaknya penulisannya ini  terburu-buru dalam pengalihan novel ke skenario. Sedangkan Ami tidak  menyempatkan diri untuk meneliti skenarionya. Persoalan ini tidak banyak  mengganggu film itu sendiri. Gambar yang hidup dan susana kampus yang  nyata sudah pasti ditulis oleh oranmg yang tahu sekali tentang kampus.  Dan pemainnya bermain bagus, termasu Drs.Yusnita.

Dari novel "Cintaku di Kampus Biru", awal dari trilogi dengan "Kugapai  Cintamu" dan "Terminal Cinta Terakhir" yang difilmkan menjadi "Terminal Cinta”. Film terlaris III di Jakarta, 1976, dengan 168.456 penonton, menurut data Perfin.

 








 20 November 1976
ClNTAKU DI KAMPUS BIRU 

Sutradara: Ami Prijono 
Skenario: Nya Abbas Akub 
Cerita: Ashadi Siregar 
Produksi: PT Safari Sinar Sakti 
Film PALING sedikit dua hal yang menyebabkan film Cintaku Di Kampus Biru menarik untuk ditonton. Selain novel karya Ashadi Siregar itu memang populer, juga ceritanya sepenuhnya bermain di kampus. Dalam sejarah film Indonesia, untuk pertama kalinya dunia kampus muncul dengan utuh, dan ini tentu menarik para mahasiswa dan bekas mahasiswa. Mengambil kampus Bulak Sumur Universitas Gajah Mada sebagai tempat kejadiannya, film ini berputar di sekitar "buku, pesta dan cinta". Tokoh utamanya, Anton (Roy Marten) adalah mahasiswa cerdas, aktivis, tapi sekaligus juga suka pacaran. 

Film ini dimulai dengan adegan ciuman dalam semak belukar di depan kampus Bulak Sumur. Ciuman itu tidak hangat, sebab Anton yang sedang memikirkan ujiannya yang gagal untuk kesekian kalinya, tidak dalam keadaan siap untuk bercumbu dengan pacarnya Marini (Yatty Octavia) yang agresif. Dan hulu malang kegagalan akademis itu adalah juga seorang gadis cantik, cerdas, angkuh tapi juga berumur. Namanya: Dra Yusnita (Rae Sita), jabatannya dosen. Konflik memang lantas terjadi antara sang dosen dengan sejumlah mahasiswa yang dipimpin oleh Anton. Ketegangan menjadi makin memuncak oleh tangan-tangan jahil yang melempari rumah Yusnita serta menempelkan plakat di kampus. Dosen yang amat tersinggung itu nyaris berhasil mendesak dekan memecat Anton -- kendati ia dapat simpati sejumlah dosen. Sebuah penelitian yang harus segera dikerjakan di bawah koordinasi Anton, dan segala soal, jadi tertunda. Teori Freud Nampaknya Ashadi Siregar ingin membuktikan bahwa antara benci dan cinta terhampar jarak yang amat pendek. Ternyata Anton adalah mahasiswa idaman Yusnita yang tidak pernah ditemukannya ketika ia dulu jadi mahasiswa. Kebencian sang dosen kepada Anton bertumbuh subur lewat sebuah pertanyaan mengenai teori Freud yang dirasakan amat menyinggung perasaan Yusnita yang perawan tua itu. Ami Prijono menggambarkan dengan baik sekali adegan-adegan pengakuan Yusnita di tempat penelitian di pegunungan itu. 

Cuma sayang tidak sempat dijelaskan mengapa ketersinggungan oleh tingkah Anton membawa korban sejumlah mahasiswa yang juga ikut-ikut tidak lulus. Mendinginnya sikap Anton terhadap Marini, terlihatnya Marini dalam hubungan baru dengan Kusno (Farouk Afero) yang juga teman Anton, semua digambarkan dengan baik oleh Ami, bahkan lebih hidup dari cerita aslinya. Juga hubungan Anton dengan gadis Erika (Enny llaryono) dan Widyasari yang cantik dikerjakan dengan rapi. Adegan yang menggambarkan Anton pertama kali ke rumah Erika yang sudah bertunangan menjadi amat mengasyikkan dengan digunakannya Simponi nomor 9 Beethoven ketika sang "play boy" memulai penyerangannya yang amat mendadak itu. Tapi mungkin lantaran keasyikan dengan adegan-adegan yang bagus dan hidup itu maka Ami melupakan beherapa hal yang sudah lebih dahulu ia perkenalkan. 

Kawan & Lawan Setelah menonton film produksi Safari yang terbaru ini, rasanya cukup beralasan untuk merenungkan pertanyaan ini: setelah riset selesai, apa kabar dengan keputusan dewan dosen mengenai soal Anton? Hubungan yang amat membaik antara Anton dan Yusnita sama sekali tidak dibarengi dengan pembicaraan soal ujian yang jadi akar konflik. Lalu bagaimana dengan Anton yang sebentar lagi akan berhenti menerima kiriman dari rumah? Hubungan yang tiba-tiba mesra dan amat menyolok antara Anton dan Yusnita, mengapa sama sekali tidak jadi bahan pembicaraan kawan mau pun lawan yang ingin menjatuhkannya dari pimpinan senat mahasiswa? Dan Anton yang populer itu, mengapa pula tiba-tiba menjadi nrimo untuk dengan gampang dijatuhkan dari kedudukannya dalam pemilihan ketua senat? Bagi mereka yang sempat membaca novel Cintaku Di Kampus Biru, akan amat jelas bahwa pertanyaan ini sebagian timbul dalam proses pengalihan novel ke skenario film. 

Nya Abbas Akub nampaknya tergesa-gesa mengerjakannya, dan Ami Prijono tidak pula menyempatkan diri untuk meneliti skenario. Kendati demikian, harus cepat-cepat dikatakan bahwa untuk ukuran film Indonesia, kelemahan macam begini boleh digolongkan dalam kategori tidak amat mengganggu. Lepas dari kenyataan bahwa novel mau pun film Cintaku Di Kampus Biru masih merupakan impian Ashadi sebagai bekas mahasiswa yang kini jadi dosen di kampus Bullk Sumur, Yogyakarta -- tontonan yang satu ini harus diakui membawa kesegaran baru ke dalam dunia film Indonesia. Gambaran yang hidup dan suasana khas kampus yang terpancar dari layar sudah pasti bersumber pada cerita yang ditulis oleh orang yang memang tahu kampus. Ami Prijono yang memberi banyak janji lewat film Karmila, ternyata juga tidak mengecewakan. Bekas penala artistik (art director) ini bekerja dengan rapi dengan penuh selera, meskipun ia tidak amat berhasil dalam pengisian suara (dubbing), sehingga adeagan di perpustakaan dan di atas bus menjadi terganggu. Hasil istimewa Ami dalam Kampus pastilah ini: seorang bintang telah lahir, dan ia adalah Rae Sita, Roy Marten, Farouk Afero dan Maruli Sitompul (Gunawan) memang bermain baik, tapi Rae Sita adalah Dra. Yusnita yang sebenarnya, tidak bisa lain dari itu. Salim Said.