Rabu, 04 November 2009

ARSIP FILM NASIONAL, Tolong,...

ARSIP FILM NASIONAL INDONESIA
 


Kegiatan pengarsipan film dirintis oleh Sinematek Perancis sejak tahun 1936, segera diikuti oleh hampir semua negara maju. Yang terbesar adalah yang ada di Perancis dan Rusia. 
 
Di semua negeri komunis sinemateknya bagus, meskipun negerinya miskin, karena usaha arsip didukung pemerintah.
Lembaga arsip film di berbagai negeri menggunakan nama yang berbeda-beda, seperti: Cinematheque, Filmmuseum, Kinemateca, Film Archive. Istilah sinematek dikenar di seluruh dunia dengan pengertian sebagai lembaga pengarsipan serta pusat studi dan penelitian. Tugas tetap sinematek adalah memutar koleksi filmnya secara berkala, berdasarkan kriteria-kriteria tertentu untuk tujuan peningkatan apresiasi dan studi.
Di semua negara, sinematek merupakan lembaga otonom, terpisah dari Arsip Nasional. Ada yang didirikan oleh pemerintah dan banyak pula yang oleh non pemerintah. Di negeri Belanda, umpamanya, Nederlandsch Filmmuseum adalah sebuah yayasan, sedang Ned. Audiovisual Archieve adalah badan pemerintah. Cinematheque Francaise yang terkenal adalah lembaga non pemerintah. Negara-negara sedang berkembang (developing countries), baru akhir tahun 196O-an mulai mendirikan sinematek. Karena di negeri-negeri demikian arsip apapun belum dianggap penting.


RIWAYAT SINEMATEK INDONESIADirintis sejak Januari 1971 dalam lingkungan LPKJ (sekarang IKJ) dengan nama Pusat Dokumentasi Film. Jadi bukan arsip film, melainkan hanya menghimpun dokumen-dokumen untuk kepentingan penulisan sejarah film Indonesia guna diajarkan di LPKJ. Sejak tahun 1973, setelah mendapatkan orientasi di Nederland dan Eropa, barulah muncul gagasan mendirikan arsip film. 

Beayanya didapat sedikit dari subsidi DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dan usaha lain. pimpinan lembaga- itu tidak digaji, malah nomboki. Itu berlangsung sampai tahun 1975.
Sejak tahun 1973 badan ini selalu ikut memeriahkan FFI dengan penyelenggaraan Pameran Sejarah Film Indonesia, yang selalu menarik perhatian.

Pada 20 Oktober 1975 berdirilah Sinematek Indonesia (SI) dengan SK Gubernur DKI bersamaan dengan berdirinya gedung/lembaga Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. SI merupakan penghuni utama Pusat Perfilman, dan kepala Sinematek merupakan pimpinan PP bersama direktur. Pusat Perfilman menyediakan fasilitas ruangan bagi sekretariat semua organisasi perfilman dan Yayasan Artis Film. Semuanya berstatus sebagai penyewa.
SI merupakan arsip film pertama di Asia tenggara. Tahun 1978 diterima bergabung dalam FIAF (Federation Internasionale des Archives du Film), dan merupakan arsip pertama di Asia yang tergabung dalam asosiasi internasional.
Gaji dan beaya operasional disubsidi oleh Pemda DKI.Sejak 1978 subsidi dicabut, karena Pemda DKI (sesudah Ali Sadikin diganti) merasa tidak bertanggung jawab membina film. Selanjutnya nyawa SI tergantung dari ongkos sewa gedung. Maka gaji amat rendah, tidak ada beaya operasional, tidak bisa merawat gedung. Maka tahun 1980 SI akan dibubarkan, Dewan Film Nasional (DFN) melarang, karena dianggap sudah cukup jelas manfaatnya. Akan dicarikan jalan agar merijadi proyek DFN. Sejak tahun 1981 Dewan Film memberikan subsidi, sekedar agar SI jangan mati. Tapi DFN tak kunjung mengambil alih SI, bahkan tahun 1991 diputuskan bahwa Dewan Film tidak jadi mengambil SI, tapi subsidi diteruskan.
Akhir tahun 1994 didirikan Yayasan Pusat Perfilman H.Usmar Ismail, (YPPHUI). Tugasnya mengelola gedung Pusat Perfilman baru, yang kini kita tempati. SI dimasukkan menjadi salah satu proyek (YPPHUI). Maka selanjutnya gaji karyawan dibayar oleh Yayasan. Beaya operasional bulanan masih didapat dari BP2N, melanjutkan kebijaksanaan DFN. Sejak tahun 1998 subsidi SI dikurangi jadi Rp.6.000.000,- perbulan. Itu hanya cukup untuk menjalankan kegiatan rutin, yang terberat adalah perawatan film, tidak bisa menambah koleksi. 

Maka untuk pengadaan sarana/prasarana dan pengembangan dibantu oleh YPPHUI sebagai program tahunan.
Masalah1. Karyawan SI tidak ada yang akhli dan jumlahnya amat terbatas. Hal itu disebabkan karena kecilnya gaji dan ketidak pastian masa depan SI yang tidak bisa menarik minat tenaga ahli. Akibatnya: a. Kemampuannya tidak bisa ditingkatkan lagi. b. Karyawan yang sudah mulai lumayan kemampuannya lalu berhenti mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar c. Program pemutaran film, diskusi dan sebagainya tidak ada yang menangani. d. Koleksi dokumentasi dan data tidak bisa diolah menjadi informasi.
2. Sarana dan prasarana kerja amat kurang.
3. Orang film belum juga tergerak hatinya untuk membantu usaha ini. Baik menyerahkan produksi untuk diarsipkan apalagi memberikan sumbangan materiel. Bahan-bahan lain, seperti foto, poster, skenario juga sulit diperoleh.
4. Arsip Film belum tercantum secara eksplisit dalam UU ataupun Keputusan Pemerintah, hingga tidak bisa mengharapkan mendapat dana dari APBD ataupun APBN. Dengan keadan dana yang bisa diterima dewasa ini:
a. Tidak bisa membeli koleksi yang berarti
b. Tidak bisa mengadakan sarana kerja, bahkan tidak mampu beli kaleng film.
c. Tidak berani membuat rencana untuk jangka panjang.
d. Sejak tahun 1998 SI menyatakan keluar dari FIAF, karena tidak bisa membayar iurannya. Padahal masuknya susah. Arsip Film Fukuoka, Jepang, sampai sekarang belum berhasil diterima.
5. Tidak ada sumber pemasukan yang berarti. Semua film yang kita simpan, tidak dikenakan fee, supaya produser mau menyimpan di sini.
 
 
Solusi

1. Mengusahakan secara terus menerus agar SI dicantumkan secara eksplisit dalam UU Perfilman.

2. Meminta bantuan dari luar negeri. Yang pernah berhasil adalah :
a. Dari Australia berupa pemberian peralatan bekas, ex sekolah film, dan pencetakan film.
b. Dari Pemerintah Jepang, 1994 berupa peralatan editing dan peralatan pembersih film (Film Cleaning Machine). Dua tahun ini sudah diajukan lagi permohonan bantuan, belum ada kepastian
c. Pembuatan negative dari film "Antara Bumi dan Langit'" oleh Pusan Intemational Film Festival (Korea) Sekarang sedang diusahakan mendapatkan bantuan Jepang untuk tahun anggaran 2000-2001.

3. Mengadakan MOU dengan Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional (1999) dalam bidang pengarsipan film/karya rekam dan peningkatan SDM. Tapi sampai sekarang belum ada bantuan yang bisa diterima.

4. Mengadakan hubungan dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, sejak 1999. Dirjen yang lampau dan yang sekarang punya perhatian yang sungguh-sungguh terhadap SI. Tapi bantuan baru untuk ukuran kecil dan bersifat sporadik.

5. Terus berusaha memperluas hubungan internasional. Oktober yad film "Antara Bumi dan Langit" diputar pada pembukaan Hongkong Film Archive.

6. Sedang terus diusahakan agar adanya sumber bantuan tetap dari Pemda DKI. Sekarang ini bantuan diberikan sesekali dan belum ada jalur yang bisa diandalkan. Terakhir ini bantuan akan datang dari Wagub Bidang Kesra untuk membeli Ilcan" film.

7. Program pemutaran film ditumpangkan kepada kegiatan apresiasi yang dikelola oleh Sdr. Amak Baldjun (Kine Klub PPHUI).

8. Penyebaran Berita Berkala (Newsletter) SI.

Kegiatan Penting

1. Kegiatan penting yang sekarang sedang dilakukan adalah merawat negative dari lebih 400-an judul yang dipulangkan dari luar negeri. Film-film itu sudah mengeras dan kering. Sampai sekarang sudah digarap sekitar 50%, dan keadaannya sudah baik kembali.

2. Mengembangkan program komputerisasi Katalog Terpadu. Yakni program katalog koleksi film; personalia, dan katalog buku dokumentasi. Dengan adanya program ini diharapkan pengunjung akan lebih mudah mencari data/informasi yang diperlukan.

Harapan

1. Agar arsip film masuk dalam UU Perfilman sebagai lembaga yang harus dibantu pengembangannya.

2. Mendapatkan dana yang memadai dari program pengembangan perfilman/APBN

3. Mendapatkan bantuan tetap dari Pemda DKI dalam rangka pelestarian Budaya.

4. Mendapatkan bantuan dari UNESCO.

5. Mendapatkan tenaga-tenaga akhli dan tenaga bermutu

6. Memiliki gudang film (cold storage) khusus terletak di luar kota, untuk menyimpan copy arsip dari film dan video.

7. Mendapatkan sponsor untuk menunjang kegiatan. Umpamanya sponsor dari tabloid Detak untuk pencetakan Berita Berkala.

3 komentar:

  1. wauuuhh......seru nih blog..!! makasih bang ezther....
    info d'blog ini sangat membantu dan semoga para generasi muda tidak melupakan sejarah'nya krn bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarah'nya....hehehehehe

    tapi ngomong2, bang kalo film2 sejarah yg dibuat tahun 1980-an itu kita bisa dapat dmn yah....??
    soalx sy lagi cari film nih bang, judulnya "tapak-tapak kaki wolter monginsidi"

    thanks yah bang......hehehehe

    BalasHapus
  2. Kalau boleh tau Pusat Arsip Filmnya sekarang berlokasi dimana? di PPHUI kah?
    thanks :)

    BalasHapus