Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Akibat Terlalu Genit. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Akibat Terlalu Genit. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

BENYAMIN SUEB 1971-1992

BENYAMIN S


Ia menjadi figur yang melegenda di kalangan masyarakat Betawi khususnya karena berhasil menjadikan budaya Betawi dikenal luas hingga ke mancanegara. Celetukan ‘muke lu jauh’ atau ‘kingkong lu lawan’ pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb, seniman Betawi serba bisa yang sudah menghasilkan kurang lebih 75 album musik, 53 judul film serta menyabet dua Piala Citra ini. Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya.

Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai ‘imbalan'. Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak. Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung, pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat - menurunkan darah seni itu dan Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda.

Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng. Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan ‘alat musik’ itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu. Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni.

Dari tujuh saudara kandungnya, Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan Saidi (ketujuh), tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi. Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya. SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, “Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!” Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat. Benyamin mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. “Tergantung kondisi,” kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara dilarang ibunya.
 
 

Ia akhirnya menjadi pedagang roti dorong. Pada 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bis PPD, langsung diterima . “Tidak ada pilihan lain,” katanya. Pangkatnya cuma kenek, dengan trayek Lapangan Banteng - Pasar Rumput. Itu pun tidak lama. “Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu,” tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan. Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bis PPD. Kabur, daripada diusut. Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop. Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan yang ‘serius’ diantaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).

Dari berkesenian, hidup Benyamin (dan keluarganya) berbalik tak lagi getir. Debutnya Si Jampang, mengalir setelah itu Kompor Mleduk belakangan dinyanyikan ulang oleh Harapan Jaya, Begini Begitu (duet Ida Royani), Nonton Bioskop (dibawakan Bing Slamet) dan puluhan lagu karya Benyamin yang lain. Tidak puas dengan hanya menyanyi, Benyamin lalu main film. Diawali Honey Money and Jakarta Fair (1970) lalu mengucur deras puluhan film lainnya. Seniman yang suka ‘mengomel’ bila melawak ini menjadi salah satu pemain yang namanya sering digunakan menjadi judul film.

Selain Benyamin tercatat diantaranya Bing Slamet,Ateng, dan Bagio. Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975). Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo'on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974), Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976), Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973. Benyamin juga membuat perusahaan sendiri bernama Jiung Film - diantara produksinya Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975) - bahkan menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976).
 
 
 
Sayang, usahanya mengalami kemunduran, dan PT Jiung Film dibekukan tahun 1979. Benyamin tidak selalu menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti layaknya semua orang, ada proses dimana Benyamin "hanya" menjadi figuran atau paling mentok menjadi aktor pembantu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya. Walau sudah merintis karir sebagai "bintang film" lewat film perdananya, Banteng Betawi (Nawi Ismail,1971) yang merupakan lanjutan dari Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), tetapi kedua nama besar itulah yang mempertajam kemampuan akting Benyamin. Dalam "berguru" dengan Bing Slamet, Benyamin tidak saja bekerja sama dalam hal musik - seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Tapi dalam hal film pun dilakoninya. Terlihat dengan jelas, di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) -sebuah "komidi musikal" yang diotaki oleh Bing Slamet - Benyamin menjadi teman sang aktor utama, Bing Slamet menjadi penyiar Undur-Undur Broadcasting. Di film ini, sudah terlihat gaya "asal goblek" Benyamin yang penuh improvisasi dan memancing tawa. Di sini, dia berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Tukang Sayur. Tetapi, sebenarnya, setahun sebelumnya, Benyamin juga diajak ikutan main Bing Slamet Setan Djalanan (Hasmanan, 1972). Karena itulah, saat sahabatnya itu wafat pada 17 Desember 1974, Benyamin tak dapat menahan tangisnya. Dengan Sjuman Djaya, Benyamin diajak main Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973).

Dirinya menjadi ayah si Doel, yang diperankan oleh Rano Karno kecil. Perannya serius tapi, seperti stereotipe orang Betawi, kocak dan tetap "asal goblek". Adegan terdasyat film ini adalah saat pertemuan antara abang-adik yang diperankan oleh Benyamin dan Sjuman Djaya sendiri, terlihat ketegangan dan kepiawaian akting keduanya yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Talenta itu direkam oleh ayah dari Djenar Maesa Ayu dan Aksan Syuman, dan dua tahun kemudian Benyamin pun main film sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Kali ini Benyamin menjadi bintang utamanya, dan meraih Piala Citra. Yang menarik, lebih dari dua puluh tahun kemudian Rano Karno membuat versi sinetronnya. Castingnya nyaris sama: Rano sebagai Si Doel, Benyamin sebagai ayahnya - selain theme song-nya dan settingnya yang hanya diubah sedikit saja.
 

Lagi-lagi Benyamin menjadi aktor pendukung, tapi kehadirannya sungguh bermakna. Sebenarnya ada satu lagi film yang dirinya bukan aktor utama, tetapi sangat dominan bahkan namanya dijadikan subjudul atawa tagline: Benyamin vs Drakula. Film itu adalah Drakula Mantu, karya si Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974. Film bergenre komedi horor itu "memaksa" Benyamin beradu akting dengan Tan Tjeng Bok, si aktor tiga zaman. Begitulah, meski beberapa kali pernah tidak "menjabat" sebagai aktor utama, tetapi kehadirannya mencuri perhatian penonton saat itu. Penyanyi Beneran Tahun 1992, saat sibuk main sinetron dan film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) Benyamin mengutarakan keinginannya pada Harry Sabar, "Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran." Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Gambang Kromong Al-Haj dengan album Biang Kerok. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut. Inilah band dan album terakhir Benyamin. "Di lagu itu, entah kenapa, Ben menyanyi seperti berdoa, khusuk. Coba saja dengar Ampunan," jelas Harry, sang music director. "Mungkin sudah tahu kalau hidupnya tinggal sebentar," imbuhnya. Memang betul, setelah album itu keluar, Benyamin sakit keras, dan rencana promosi ditunda dan tak pernah lagi terwujud kecuali beberapa pentas. Di album ini, Benyamin menyanyi dengan "serius". Tetapi, lagi-lagi, seserius apa pun, tetap saja orang-orang yang terlibat tertawa terpingkal-pingkal saat Benyamin rekaman lagu I’m a Teacher dan Kisah Kucing Tua dengan penuh improvisasi. Sementara lagu Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok bernuansa cadas. Dan Ampunanmu kental dengan progressive rock, diantaranya nuansa Watcher of the Sky dari Genesis era Peter Gabriel. Yang menarik, masih menurut Harry, saat Benyamin menonton Earth, Wind, and Fire di Amerika - saat menjenguk anaknya yang kuliah di sana - dia langsung komentar, "Nyanyi yang kayak gitu, asyik kali ye?", dan nuansa itu pun hadir di beberapa lagu di album itu, salah satunya dengan sedikit sentuhan Lady Madonna dari The Beatles. Benyamin yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia seusai main sepakbola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung.

Ia bukan lagi sekadar sebagai tokoh masyarakat Betawi, melainkan legenda seniman terbesar yang pernah ada. Karena itu banyak orang merasa kehilangan saat dirinya dipanggil Yang Maha Kuasa. Dari pelawak yang pernah tampil dalam variety show Benjamin Show sambil tour dari kota ke kota sampai Malaysia dan Singapura ini muncul banyak idiom atau celetukan yang sampai kini masih melekat di telinga masyarakat, khususnya warga Jakarta. Sebut saja, aje gile, ma'di kepe, atau ma'di rodok, yang semuanya lahir dari lidah Benyamin.




NEWS 1977.

Benyamin s gagal jadi pilot, malah jadi kondektur bis, pegawai pn, penyanyi dan pemain film. sejak dinobatkan sebagai aktor terbaik tahun 1973 menjadi terkenal dan laris.

SETELAH Bing tiada, setelah Kwartet Jaya pecah, setelah Gudel berhenti pada langkah kecil, sering ditanyakan pada siapa lagi kita letakkan harapan sebagai penghibur kita semua.

Banyak grup bermunculan di ibukota. "Surya Grup" misalnya. Tapi ada seorang yang jauh lebih menampakkan potensi, karena dia berjuang sendiri. Setidak-tidaknya bahaya laten berupa perpecahan yang selalu melanda "grup" yang baru saja sukses, tidak jadi momoknya.

Dan orang itu adalah Benyamin. Lengkapnya: Benyamin S. Ia sudah tegak di antara kita, meskipun dimulai dengan banyak ganjelan. Tatkala seorang penyanyi dan pelawak dari kampung dinobatkan sebagai aktor terbaik pada tahun 1973, banyak orang melongo. Sedikit sekali yang benar-benar percaya, bahwa sebuah film komedi yang bernama Intan Berdun telah sanggup menyulap seorang penyanyi "gambang keromong" menjadi orang yang berhak menerima kehormatan yang diidamkan oleh setiap Bintang Film itu.

Benyamin - sang aktor - barangkali membuka juga telinganya pada waktu itu. Tetapi hatinya tetap tenang. Ia terus membuka mulutnya untuk mengucurkan lagu "pop" Betawi dengan lirik-lirik yang menyentuh hati masyarakat kelas bawah. Sementara itu tangannya mulai sibuk menandatangani kontrak film, untuk muncul dalam beberapa dagelan-dagelan konyol.

Kombinasi ini ternyata merupakan alat yang efektif sekali untuk menjadi orang yang populer dan kaya. Tiba-tiba saja anak bungsu keluarga Syuaib ini, sekarang sudah menempati sebuah rumah baru di Pondok Labu yang berharga sekitar Rp 100 juta. Tak kurang dari itu banyak orang menyangkakan permainannya dalam film Si Doel Anak Modern amat meyakinkan. Memang, Benyamin lebih dianggap sebagai seorang badut biasa. Tapi kini mungkin mulai terpikir juga apa yang ada sebenarnya di balik banyolan-banyolannya yang sederhana Sebab jelas ia tak lagi cuma badut. Setidaknya ia kini menjadi seorang produser yang antara lain menghasilkan film Koboi Ngungsi dan Hipies Lokal

Pada masa Rachmat Kartolo dipuja karena kecengengan dalam lagu "Patah Hati", Benyamin masih menjadi anggota rombongan yang berbunyi "cuap-cuap". Ia menempuh jalan yang cukup panjang sebelum mengecap enaknya macam sekarang.

Anak nomor 8 yang lahir dengan pertolongn dukun Saodah ini (5 Maret 1939) pernah bercita-cita untuk menjadi pilot. Setengah jam bergaul dengan dia sudah bisa terasa bahwa pilot gagal ini tidak hanya mengandelkan spontanitas dan lirik-lirik lagu yang bisa menukik cabul. Tapi juga punya "wawasan" tentang hidup. Ia tidak hanya tangkas, tukang sabet yang cerdik dari kenyataan sehari-hari yang kecil, tetapi juga manusia yang berpikir.

Ambisinya untuk mencuat sebagaimana seorang artis tidak sempat mematok dia jadi semata-mata robot penangkap duit. Ada gagasan moral yang selalu dicoba untuk dipeliharanya. Kalau kita katakan bahwa dia moralis, barangkali terlalu mengagetkan. Tetapi sesungguhnyalah dia tidak acuh tak acuh dan blo'on sebagaimana yang mungkin terkesan dari wajahnya. Barangkali perlu disebutkan di sini bahwa setelah tamat SMA (Taman Madya) bagian C, ia pernah menjadi mahasiswa Universitas Sawerigading jurusan Management sampai hampir tingkat II.

Kendati pada masa kecilnya tak pernah bermimpi akan jadi penyanyi dan bintang film, caranya mengutarakan kariernya pada saat ini, tidaklah dramatis. Benyamin memandang dengan biasa saja dan bercerita, betapa ibunya tidak berkenan memberi dia izin jadi pilot. Dengan kepintarannya sebagai tukang bola ia berhasil diterima sebagai pegawai PPD (Perusahaan Pengangkutan Djakarta) sebagai kondektur. Sebulan ia melayani rute Banteng-Jalan Minangkabau, Manggarai lalu berhenti. Ia tidak puas ijazah SMA-nya disamakan dengan SD. "Kerja saya suka brantem sama penumpang", kata Benyamin.

Tahun 1961 ia tercatat sebagai pegawai PN Asbes Semen selama 7 tahun. Tapi kemudian tatkala ada rasionalisasi ia keluar. "Saya keluar, saya nggak mau dipindah ke DKI untuk mulai dari nol lagi. Saya berhenti kerja, lalu ngandelin dari musik saja", kata Ben selanjutnya. "Saya nggak pikir, apakah saya bisa hidup atau nggak, pokoknya jalan terus!"

Kekerasan hati ini tidak dibarengi oleh kekonyolan, tapi perhitungan. Waktu itulah dia mengendarai DKW Humell milik kantor menyerahkan lagu "Nonton Bioskop" di studio DIMITA pada Bing Slamet. Almarhum Bing pada waktu itu hanya berkata: "Gua tahu lu bisa nyanyi, coba aja nyanyi". Benyamin tak berpikir lagi. Ia masuk ke studio. Kemudian lahirlah sebuah LP Pop Betawi yang berisi "Teisennya", "Kembang Jatoh", "Asal Mogok Genjot". Lagu yang disebutkan terakhir lahir karena DKW-nya mogok-mogok melulu di tengah jalan. "Asal mogok genjot", kata Ben sambil ketawa.

Caranya menulis lagu, yang bisa lahir di mana saja, barangkali dapat jadi gambaran hahwa orang ini telah berusaha tampil apa adanya. Kekasaran dalam lirik-liriknya, irama yang diketemukannya, dan kadangkala ke sentimentilan yang mencuat keluar dari lagu-lagunya, di samping merupakan ekspresi yang jujur juga merupakan satu cara supaya bisa komunikatif.

Dengan mengandelkan segi-segi yang murah dalam lagu-lagu itu kemudian Ben mencoba menitipkan sedikit pesan moral. Banyak orang dengan tidak sengaja hafal lagu-lagunya. Barangkali mula-mula karena tertarik oleh kemungkinan-kemungkinannya untuk memberi asosiasi cabul, tapi lama-lama ternyata Ben berusaha mengingatkan pada sesuatu tanpa kesan mendikte. Sampai di sini orang mau tak mau jadi berpikir bahwa di balik segala kejenakaan Benyamin yang spontan, tersimpan disiplin yang baik untuk melempengkan kenyataan yang timpang sehari-hari. Maka tak heranlah berkata seorang Mus Mualim: "Hanya satu yang tidak diketahui orang tentang Benyamin. Dia menghidupkan lagu Betawi yang nyaris mati, itu jasanya. Sebaiknya memang kepadanya diberikan penghargaan".

Benyamin sendiri tak bisa berkata-kata terhadap hal ini. Barangkali ia tidak tahu benar apakah dia menggali atau mengacaukan kebudayaan Betawi. Seperti dinyatakannya sendiri, setelah ia tidak berhasil menjadi pilot, cita-citanya yang lain yakni menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Dan itu telah terlaksana haru-baru ini. Kini ia Haji dan ayah dari anak laki-laki. Dan ia sekarang lebih banyak memikirkan hari depan anak-anaknya, di samping sibuk main flm dan rekaman manakala ada kesempatan, dengan grup pengiringnya yang bernama The Bebi's.

Dengan didampingi oleh Noni, isterinya yang dinikahnya waktu tamat dari SMA (waktu dia berumur 19 tahun sedangkan Noni 17 tahun) Benyamin jadi salah seorang artis yang paling sibuk kini di Ibukota. Tahun ini (1976) saja ia sempat menolak beberapa film, karena tak mungkin bisa dilayaninya lagi. Sedangkan tahun depan (1977) hampir sepanjang tahun telah penuh.

Toh ia masih merencanakan melakukan beberapa tour ke daerah. Ia menulis lagu, juga kini mulai menulis cerita untuk film-fllm yang digarapnya sendiri. Selain itu ia membiarkan juga putera sulungnya Beib Habani (17 tahun) mendirikan band yang kini sudah menghasilkan dua buah kaset lagu-lagu, yang tak jauh warnanya dari lagu-lagu Ben sendiri. Anak-anaknya yang lain Bob Benito (14), Beim Triani (12), Beno Rachmat (10) dan Benny Pendawa (7) ada kemungkinan juga akan men8ikuti jejaknya, sebagai penyanyi atau pemain film.


PUJIAN DARI PARA SUTRADARA, DAN KOLEGAN KERJA

BERIKUT ini adalah komentar dari beberapa kalangan yang lebih merupakan parade pujian. Mudah-mudahan tidak terasa sebagai sekedar "kecap" saja.

Turino Junaidi (produser dan sutradara Intan Berduri)

Aktor Benyamin adalah gambaran dari orang yang ulet, kritis dan tahu menyampaikan pesan dalam film. Ini menyebabkan aktingnya selalu mengena dan bagus. Itu sebabnya kalau dia main film dan kebetulan sutradaranya kurang mampu bisa termakan oleh Benyamin. Ia akan menjadi aktor yang baik, asal dia bisa lebih teliti dalam memilih peran. Karena selama yang saya lihat ia hanya main begitu saja dalam banyoian yang konyol. Mau tak mau masyarakat penonton kalau disuguhi yang begitu-begitu saja tentu bosan. Akibatnya orang tidak gandrung lagi pada Benyamin, padahal sekarang ini dia cukup berakar di masyarakat, terutama di angan masyarakat Betawi.

S.M. Ardn (penulis dan sutradara Lenong)

Benyamin adalah orang Betawi yang ikut menggali kebudayaan Betawi. Walaupun itu dilakukan dengan caranya sendiri, tapi memang kebanyakan orang Betawi cara hidupnya seperti yang dinyanyikan oleh Benyamin. Sok keren, tapi tidak mau kerja. Di sinilah baiknya Benyamin. Ia tidak hanya menunjukkan kelakuan orang Betawi tapi juga memperlihatkan pada orang Betawi bahwa cara yang semacam itu bisa terlintas, zaman.

Sebetulnya tidak hanya Benyamin, para penulis dan pengarang lagunya juga ikut berjasa. Tapi biasanya yah siapa yang menyanyikan, itu yang menonjol. Satu hal yang menggembirakan adalah bahwa Benyamin tetap bertahan dengan Kebetawiannya. Ia tidak tergoda menyanyikan lagu selain dengan gaya dan lagu Betawi. Walaupun iramanya hard rock tapi syairnya letap Betawi, bahkan lagu Melayu pun gayanya tetap Betawi. Itulah yang menyebahkan dia tetap bertahan di hati masyarakat Betawi. Memang lagu-lagunya tidak bersumber pada lenong, cokek maupun topeng Betawi, tapi gaya pembawaannya boleh dikatakan ia meniru atau berkiblat pada kebudayaan teater asli Betawi tersebut.

Syuman Jaya (sutraara Si Doel Anak Modern)

Benyamin punya bakat dan bakat alam. Dia bisa menjadi aktor besar asal diarahkan sutradara yang tahu betul-betul bakatnya. Dia pencipta lagu, penyanyi, pemain film, bisa jadi pelawak tapi bukan down dalam jasmani ataupun ucapan yang disalah-salahkan. Ia melawak untuk menyindir suasana. Ia adalah gambaran dari kehidupan orang Betawi. Ia juga bisa menulis sajak walau pun masih acak-acakan. Dari semua itulah saya melihat kemampuannya yang belum dipunyai oleh orang lain, katakanlah aktor lain .

Saya katakan berbakat alam, karena ia tidak pernah menginjak bangku akademi. Ia anak Betawi yang jenial. Lawakan maupun lagu-lagunya selalu hasil pengamatan dari fenomena keadaan Betawi, ini menyebabkan dia berakar di kalangan rakyat Betawi, meskipun memang belum bisa berakar pada tingkat nasional seperti Bing Slamet. Tetapi kalau dia tidak terlalu sering mengobral banyolan dalam film-film yang konyol, pada suatu saat nanti Benyamin akan mencapai akar yang sama dengan Bing.

Mus Mualim (musikus)

Meskipun Benyamin kuat di panggung dan layar putih, yang pertama lebih bisa diterima karena dia mula-mula lahir sebagai penyanyi. Sejak dia tampil ke depan publik dengan lagu "Nonton Bioskop" (karangan Benyamin) yang dibawakan almarhum Bing, sampai ia memperoleh pasangan baru Lina Effendy, tidak ada yang berubah dalarn dirinya. Dia lebih menonjol ketimbang Rachmat Kartolo atau Lily Suhaeri yang menyanyikan gambang kromong, karena kedua penyanyi ini terlalu asli. Lagu-lagu Betawi Benyamin lebih pop, mempunyai banyak variasi dan tidak mengganggu. Dia juga kaya dalam berimprovisasi dan spontan. Dia telah menghidupkan lagu Betawi yang nyaris mati. Sebaiknya kepadanya diberikan penghargaan.

Oma Irama dan Benyamin mempunyai persamaan, dua-duanya berada di kalangan bawah. Cuma saja lagu-lagu Oma ada falsafahnya sedikit, seperti lagu "Rupiah" yang bikin heboh itu. Secara musikal Oma lebih berbobot. Tapi letak kekuatan Benyamin bukan pada lagu tapi pada lirik -- yang sering bikin geger. Tapi lirik itu kalau tidak dibawakan oleh Ben sendiri jadi jelek. Karena bicara tentang Benyamin adalah bicara soal dialek. Kalau dia habis nyanyi, selesai. Sedangkan pada Oma baik lirik musik, lagu dan aransemen semuanya rapih ada yang bisa diomongkan. Untunglah Benyamin mempunyai medium lain, film. Kalau tidak ia akan terdesak Oma.

Nonton Benyamin di film jangan bicara soal akting, selama ini kita nonton dia membadut saja. Badutannya memang cocok untuk konsumsi golongan bawah apalagi Jakarta. Nggak ada gunanya dia melompat ke tengah atau ke atas. Dia harus dipelihara untuk bawah, kalau dia pergi dari situ, berarti akan terjadi kekosongan. Belakangan mungkin dia bisa jadi aktor. Tapi untuk film Si Doel Anak Modern misalnya justru jadi tanda tanya, soalnya digarap serius. Seperti halnya pada lagu, kalau digarap serius, menimbulkan tanda tanya.

Junaidhi (pelawak Yogya - duplikat Beryamin)

Sebagai seorang pelawak saya sukar untuk tertawa. Tapi melihat Benyamin saya jadi heran kok bisa menarik. Padahal melihat wujudnya dia itu nggak bagus. Dia ini punya ilmu apa?

Saya ini, terus terang saja, sekarang ini banyak meniru Benyamin, baik logatnya, nyengirnya. Dia membongkar peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat, terutama melalui lirik lagunya. Semua orang kena, baik yang lagi pacaran, yang utang maupun yang kredit. Lawaknya memang bawaan bukan dibuat-buat. Dia memang sudah ditakdirkan jadi pelawak sendirian. Jorok dan porno memang kadang-kadang perlu kalau mau tenar.

Yasir Syam (pengarang lagu)

Ciri lagu Benyamin: humor, suka ngeledek dan sekenanya. Tapi tidak menyeleweng dari perasaan, sebab dia selalu membuat lagu itu apa adanya. Notnya gamblang, bisa difahami. Saya menghargai lirik-lirik lagu yang dihasilkannya. Apalagi kalau sudah diselingi oleh banyolan Ida yang genit, sedikit binal.

Lagu "Kompor Meleduk" dibandingkan dengan lagu-lagunya yang dulu seperti "Ondel-Ondel", "Panjat-Panjatan" sebenarnya sudah kurang kena. Kenapa? Chordnya sudah kebarat-baratan. Rock'n Roll, itu kan beat Barat. Menurut saya"Ondel-Ondel" rasa lndonesianya masih kuat. Saya sarankan agar Benyamin kembali ke jalan yang dulu, terutama pada jenis lagu dan lirik lagu. Sebab akhir-akhir ini saya lihat Betawinya hilang.

Saya terapkan taktik napoleon...

Wawancara dengan benyamin tentang menyanyi, lagu betawi, mengarang lagu, serta main film. juga tentang sikap hidupnya.

DI bawah ini wawancara dengan Benyamin yang dilakukan di tempat kediamannya yang baru di Pondok Labu. Ini adalah gedung beton dengan halaman seluas lebih dari 500 mÿFD dengan perlengkapan sebuah ~VW Beetle, Peugeot Coklat sebuah VW Combi, meja bilyard dan Ensiclopaedia Britanica Rumah ini tampaknya tenang dan orang-orangnya rukun.

Tanya: Mengapa ar~da menyanyikan pop Betawi?

Jawab: Bersamaan dengan masa konfrontasi Malaysia, lagu ngak-ngik-ngok diganyang. Lagu-lagu Minang kemudian mengorbit. Dalam hati saya timbul pertanyaan, lagu Betawi 'kan banyak? Saya kan orang Betawi, kenapa nggak bisa? Kemudian lagu-lagu itu saya gali. Tadinya sih cuma ngarang lagu, misalnya saja "Ade-Ade Saja" dan "~ujan Cerimis" Kemudian Bing memberi kesempatan.

T: Bagaimana caranya anda bisa mengarang lagi begitu banyak?

J: Inspirasi timbul di mana saja, kapan saja. Sering di kakus jadi. Pada hal kebanyakan orang kan bengong di kakus. Lagu "Lampu Merah" lahir di perempatan jalan, lagu "Si Jampang" dikarang waktu anak saya main gambar tempel di baju kaosnya.

T: Lirik-link anda sering menjurus jadi jorok, apa disengaja?

J: Kadang disengaja, kadang tidah. Biar kayak pisau mata dua. Naa, tinggal asosiasi kita saja, sebab pikiran orang 'kan selalu menjurus ke sana. Kalau kita belajar Etnologi, manusia 70% cenderung berbuat kejahatan, naa yang cenderung ini saya ambil. Mereka tidak sadar, asal kita sendiri jangan sampai menjurus ke sana. Manfaatnya, kayak lagu "Lampu Merah", dia kan akhirnya tahu peraturan lalu lintas.

Saya nggak berani bikin lagu yang sifatnya mendikte. Sebab saya sendiri nggak mau dinasehati, makanya saya kasih humor saja, supaya ingat. Sebab harus kita akui pikiran manusia itu kriminil. Lagipula sifat orang Indonesia kan humoristis, biar di rumah berkelahi. di jalanan bertemu teman bercanda. Ini sifat dari Sabang sampai Merauke.

T: Untuk siapa anda menyanyi?

J: Saya pikir dulu saya nyanyi untuh lokal Jakarta, ternyata sekarang sampai luar negeri. Tanya deh mahasiswa yang baru pulang dari luar negeri pasti punya lokasi, eh, koleksi kaset saya. Baili lia di Jerman atau London. Saya tidak bcrpikir untuk golongan manakah saya nlenyanyi. Saya mencoba mengetrapkan lagu-lagu Betawi - kayak lagu-lagu Minang.

T: Apa anda punya guru?

J: Guru dalam spirit almarhum Bing Slamet. Waktu Bing nyanyi saya tanya pada diri sendiri kapan saya bisa nyanyi kayak dia. Gua nggak mau nyanyi kalau nggak kayak dia. Saya sering berkunjung ke rumahnya. Bing sering pesan: "Kalau kita mau nyanyi jangan malu-malu dan jangan lupa asal mula".

T: Kenapa anda sering main film-film konyol?

J: Ibarat dalam lagu, kita bedakan ada lagu yang serius dan rusak-rusakan. Jadi ada pemisahan menurut kemauan produser dan sutradara. Kalau misalnya filmnya dibikin brengsek seperti Biang Kerok, mau nggak mau saya mesti main begitu. Kalau diminta lagi kayak si Doel saya berusaha menyesuaikan bagaimana kemauan Syumanjaya (sutradara). Jangan lupa si Doel skenarionya saya baca beberapa kali. Di film lainnya, begitu saya tahu jalan ceritanya, saya improvisasi saja.

T: Apa karier anda tidak mempengaruhi kehidupan keluarga anda?

J: Tidak. Sebab isteri saya dapat mengerti dan membantu saya. Itu sebabnya saya jarang pergi sama-sama dengan dia khawatir kalau-kalau ada perlakuan dari orang-orang terhadap saya yang tidak bisa diterimanya. Cuma satu hal yang saya takutkan dalam hal ini, efek terhadap anak. Dalam film perasaan orang awam sudah ngecap: "Oh Benyamin itu begitu!" Saya takut kalau dalaun hati anak-anak itu lalu bilang: "Oh bapak lu begitu". Untuk ini saya selalu berikan mereka kebesaran hati, itu hanya dalam film. Pada isteri saya bilang: Saya tidak bercita-cita untuk jadi bintang, itu terbawa hidup saja.

T: Apa anda banyak membaca atau punyaa hobi lain?

J: Ya. Saya baca buku karangan Hamka. Dan saya senang filsafat. Filsafat hidup saya: dalam jejak kita harus menengok ke belakang, musuh yang utama adalah diri sendiri. Saya senang membaca riwayat hidup orang-orang besar. Bismarck dan Napoleon misalnya. Saya terapkan taktik Napoleon dalam lagu. Menurut dia sebelum kita tanyakan rencana kita pada seorang Jenderal lebih baik tanyakan dulu pada seorang Kopral. Jadi dalam lagu, sebelum saya tanyakan pendapat orang pinter tentang lagu saya, saya tanya dulu anak saya sendiri.

T: Bagaimana sikap anda terhadap kritik atau kecemburuan orang terhadap sukses anda?

J: Sebetulnya dulu saya tukang ribut, fisik, orang ngeliatin saja nggak boleh. Tapi sekarang lain. Di dunia ini tak semua orang benci pada kita tapi juga tidak semuanya senang sama kita, itu kan baik buat balans. Menghadapi serangan saya lebih banyak diam, karena saya ibaratkan sebagai bantingan bola bekel, makin keras bantingnya makin keras juga mumbulnya.

Dulu pernah ada kasus Persoalan Bintang Mirip, ada orang yang mirip saya yang mau menantang ngadu akting, ada tulisan yang sifatnya menyerang menjelek-jelekkan, tapi tidak saya ladeni. Belakangan orangnya datang sendiri secara baik-baik tanya mengapa saya tidak balas. Saya bilang pada dia: "Kamu kan sebagian kecil dari embel-embel yang diadu oleh orang. Kalau saya layani itu kan ngotor-ngotorkan mulut saja". Bagi saya andaikan ada orang berbuat kesalahan lalu datang pada kita, kita jangan memberi hukuman, biarkan hati kecilnya yang menghukum dirinya sendiri.

T: Kadangkala terselip pula lagu sentimentil dalam alum anda, apa anda punya masa lalu yang menyedihkan?

J: Karena saya senang pada Percy Sledge, di samping senang yang jantan-jantan seperti Marlon Brando, Kirk Douglas dan Charles Bronson. Terus terang barangkali karena saya anak bungsu kurang sekali yang menyedihkan. Tapi itu terbawa sampai sekarang, saya suka ngambek. Kepada isteri saya juga begitu, saya kira saya lebih manja daripada dia.

T: Apa harapan anda untuk masa datang?

J: Dulu saya bercita-cita jadi penerbang, sekarang apalagi cita-cita saya kalau bukan membesarkan anak. Tapi di depan Ka'bah saya minta supaya orang Indonesia semuanya disiplin dalam segala hal. Tapi saya sadar semuanya tidak bisa diminta saja, tapi harus dijalankan.

T: Bagaimana dengan pasangan baru Herlina Effendy, puas?

J: Saya merasa paling cocok dengan Ida. Lina Effendy dalam penyesuaian. Insya Allan bisa, tapi harus usaha cari bentuk. Ida kan sampai 5 tahun, dari tahun 1971 sampai kawin. Bahkan kemarin dulu setelah kawin masih mau saya ajak ke Ujung Pandang.

Pilih bing atau ben
Animo masyarakat terhadap kaset maupun film benyamin di kota kota kisaran, asahan, tanjung tiram, yogya, surabaya dan semarang.
DI Kisaran, Kotamadya Tanjung Balai, Tanjung Tiram, berkatalah A Kang pemilik toko kaset Matahari: "Orang mau Benyamin, bukan Ida Royani atau Herlinanya. Siapa saja pasangan Benyamin nampaknya tidak akan berpengaruh".

Memang di kabupaten Asahan, propinsi Sumatera Utara ini, Benyamin disambut lumayan. Barangkali karena penduduknya heterogen. Terbukti semua pengusaha kaset yang dihubungi TEMPO di sana menyatakan kelarisan Benyamin. Pembelinya meliputi segala lapisan masyarakat. Memang kebanyakan di antaranya adalah orang-orang kebon - karyawan perkebunan - yang berasal dari Jawa. "Lagu Benyamin banyak lucu, pokoknya lucu mereka senang", ujar Minarni, pengusaha toko Sanyo. Disebutkannya juga bahwa lirik-lirik yang cenderung menjadi jorok tidak membendung orang tua membelikan kaset untuk anak-anaknya.

Tapi 27 Km dari Kisaran, di Tanjung Balai. Benyamin tak bisa berkutik. "Payah", kata orang sana. Per bulan paling banter hanya bisa terjual 20 buah, sementara tak kurang 2000 buah kaset setiap bulan disabet oleh para pembeli. "Paling yang tanya kaset Benyamin orang-orang kota sini, yaitu bapak-bapak pejabat, yang lain jangan harap", kata pengusaha toko Victory.

Untuk layar perak, nasib Benyamin di daerah ini lebih terang. Bahkan film Karmila yang meledak di Ibukota dan di sini dipublikasikan besar-besaran hanya mampu bertahan 3 malam. Sedangkan Benyamin selalu sempat mengeruk penonton kelas bawah, tengah dan atas meskipun yang disebutkan terakhir memasuki gedung untuk mengantar anak-anaknya.

Ada yang mencoba menganalisa ini karena adanya kegemaran untuk berbahasa Betawi sedikit-sedikit dalam pergaulan seperti memprgunakan kata deh, sih, dong dan ente. Bahkan di Kisaran ada yang merasa lebih gagah kalau memakai istilah-istilah Betawi dalam bicara. Di Tanjung Tiram Benyamin bahkan mampu menggeser film India dan Mandarin. "Peranan yang dibawakan Benyamin selalu akrab dengan rakyat kecil, meski dibawakan dengan lawakan, selalu mencerminkan sketsa kehidupan rakyat kecil", kata Camat Tanjung Tiram mencoba cari alasan. "Orang tak peduli apakah filmnya itu bermutu atau tidak, pokoknya lucu dan akrab, habis perkara, penontonnya banjir".

Satu-satunya yang mampu mengalahkan film Benyamin adalah film-film dari Bing Slamet. Film Dukun Palsu dan Setan Jalanan pernah diputar selama 2 malam berturut-turut dengan 14 kali show. Ternyata tempat padat. Sampai saat ini Benyamin belum mampu demikian.

Kekalahan Ben kontra Bing juga terjadi di Yogya. Baik Biang Kerok I, Biang Kerok II maupun Si Jimat selalu keok kalau berhadapan dengan film-film Bing. Si Jimat misalnya seperti diungkapkan oleh Kiatantho pengusaha bioskop Soboharsono hanya mampu menarik sepertiga kali penonton Setan Jalanan. Ini menyebabkan dia tidak punya ambisi lagi memegang film Benyamin. Pengusaha ini menyangkakan dialek Betawi Benyamin serta guyonnya yang kasar tidak berkenan di hati Wong Yogya. Sebagaimana diketahui Yogya adalah kota mahasiswa, Kiatantho merasa Benyamin belum mampu menembus masyarakat elite. Publiknya adalah anak-anak 15 tahun ke bawah. Apalagi belakangan ini dirasanya permainan Benyamin kurang mantap, sedangkan pembuatan filmnya sembrono. Sedangkan segi lain dari Benyamin, sebagai penyanyi (dengan pasangan Ida Royani) dahulu pernah posisinya cukupan. Kini grafiknya menurun, bukan saja karena Herlina Effendy pasangan barunya dianggap belum setarap dengan Ida, juga karena publik sana lebih doyan kalau Ben menyanyikan pop Indonesia ketimbang gambang kromong.

Di Surabaya dahulu kaset-kaset Benyamin sehari bisa sampai laku 10 biji dalam sebuah toko di Pasar Turi. Tapi kini jarang yang menjajakannya. Diperkirakan karena tertutup oleh popularitas kaset Edy Silitonga, Koes Plus atau Bimbo. Tapi alasan yang lebih banyak disebut adalah karena Herlina memang belum bisa menggantikan tempat Ida.

Beruntunglah bahwa dalam gedung bioskop Benyamin masih mampu berkutik, meskipun hanya untuk bioskop golongan D. Untuk daerah Jawa Timur yang memiliki 152 bioskop yang tersebar di 54 buah kota Benyamin pernah mencatat angka 60.000 penonton untuk Koboi Ngungsi dan sekitar 45.000 untuk film Samson Betawi dan Traktor Beyamih.

Kejenakaan Benyamin dalam lagu untuk kota Semarang rupanya bukan apa-apa. Tapi ini bukan gara-gara lenyapnya Ida. Sejak lama sudah Benyamin memang tak punya pasaran di kota ini. Beberapa cukong yang sering mengundang artis untuk show di Gelanggang Olah Raga kurang yakin kalau mendatangkan Benyamin akan bisa meraih uang, kecuali kalau didampingi oleh tokoh lain. Memang film-film Benyamin laris, juga filmnya yang terakhir Si Doel Anak Modern Tapi itu amat terbatas pada masyarakat bawah.

Hanya saja ada terasa bahwa kendati logat Betawi Benyamin serta kekasarannya membuat dia hanya dinikmati kelas bawah, kemajuannya sebagai pemain film akan menolong dia menembus kelas elite. Sebagaimana Oma Irama yang juga bertekad membawa dang-dutnya ke kalangan atas, Ben mungkin masih menunggu waktu saja untuk menjadi milik setiap orang, sebagaimana halnya almarhum Bing.Majalah Tempo 1 Januari 1977


TANTE GARANG                                    1983IDA FARIDA
                    Actor
SAMA GILANYA 1983 NAWI ISMAIL
Actor
MUSUH BEBUYUTAN 1974 SYAMSUL FUAD
Actor
BIANG KEROK BERUNTUNG 1973 NAWI ISMAIL
Actor
BING SLAMET SETAN DJALANAN 1972 HASMANAN
Actor
SELANGIT MESRA 1977 TURINO DJUNAIDY
Actor
RAJA COPET 1977 SYAMSUL FUAD
Actor
CUKONG BLO'ON 1973 C.C. HARDY
Actor
SI KABAYAN SABA METROPOLITAN 1992 MAMAN FIRMANSJAH
Actor
HIPPIES LOKAL 1976 BENYAMIN S
Actor Director
PINANGAN 1976 SJUMAN DJAYA
Actor
BETTY BENCONG SLEBOR 1978 BENYAMIN S
Actor Director
DUYUNG AJAIB 1978 BENYAMIN S
Actor Director
AKHIR SEBUAH IMPIAN 1973 TURINO DJUNAIDY
Actor
BUAYE GILE 1974 SYAMSUL FUAD
Actor
MUSANG BERJANGGUT 1983 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
LIMA SAHABAT 1981 C.M. NAS
Actor
DUKUN KOTA 1978 SYAMSUL FUAD
Actor
BERSEMI DI LEMBAH TIDAR 1981 FRANK RORIMPANDEY
Actor
TUAN, NYONYA DAN PELAYAN 1977 SYAMUL FUAD
Actor
BAPAK KAWIN LAGI 1973 LILIK SUDJIO
Actor
TARSAN PENSIUNAN 1976 LILIK SUDJIO
Actor
TARSAN KOTA 1974 LILIK SUDJIO
Actor
SORGA 1977 TURINO DJUNAIDY
Actor Composer
PERCINTAAN 1973 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
SI DOEL ANAK BETAWI 1973 SJUMAN DJAYA
Actor
SI DOEL ANAK MODERN 1977 SJUMAN DJAYA
Actor
ANGKARA MURKA 1972 CHAIDIR RACHMAN
Actor
HOSTESS ANITA 1971 MATNOOR TINDAON
Actor
DRAKULA MANTU 1974 NYA ABBAS AKUP
Actor
RATU AMPLOP 1974 NAWI ISMAIL
Actor
SETAN KUBURAN 1975 DAENG HARRIS
Actor
INTAN BERDURI 1972 TURINO DJUNAIDY
Actor
DUNIA BELUM KIAMAT 1971 NYA ABBAS AKUP
Actor
SAMSON BETAWI 1975 NAWI ISMAIL
Actor
TIGA JANGGO 1976 NAWI ISMAIL
Actor
BENYAMIN RAJA LENONG 1975 SYAMSUL FUAD
Actor
BENYAMIN KOBOI NGUNGSI 1975 NAWI ISMAIL
Actor
BENYAMIN SPION 025 1974 TJUT DJALIL
Actor
BENYAMIN SI ABUNAWAS 1974 FRITZ G. SCHADT
Actor
BENYAMIN BRENGSEK 1973 NAWI ISMAIL
Actor
BENYAMIN BIANG KEROK 1972 NAWI ISMAIL
Actor
BENYAMIN TUKANG NGIBUL 1975 NAWI ISMAIL
Actor
AMBISI 1973 NYA ABBAS AKUP
Actor
JIMAT BENYAMIN 1973 BAY ISBAHI
Actor
KOMEDI LAWAK 88 1986 SYAMSUL FUAD
Actor
SI RANO 1973 MOTINGGO BOESJE
Actor
TRAKTOR BENYAMIN 1975 LILIK SUDJIO
Actor

Jumat, 11 Februari 2011

LUKMAN HAKIM NAIN 1963-1991


LUKMAN HAKIM NAIN

Dia banyak menjadi DOP (Director of Photography)/Cinematography sutradara-sutradara besar.

Dibesarkan di Bukittinggi 2 Febuari 1931, hingga kelas I SMA, anak bungsu 5 bersaudara ini tak kuat lagi menahan godaan untuk merantau. Ayahnya pensiunan guru Nain Datuk Majolelo melepas luk berangkat ke Bandung. Rupanya tak berniat meneruskan ke perguruan tinggi, selagi duduk di kelas terakhir SMA ia sudah bercita-cita menjadi fotografer. Demikianlah Luk mulai bekerja sebagai pegawai sipil pada staf A Inspektorat Infantri di Bandung, dengan jabatan fotografer. Hanya 2 tahun, 1954 ia melangkahkan kaki ke Jakarta dan diterima sebagai pembantu juru-kamera pada perusahaan Garuda Film.

Lima tahun menjadi pembantu juru kamera, tahun 1959, Luk dipercaya pertama kali sebagai juru kamera penuh dalam pembuatan film Holupis Kuntul Baris, sebuah film anak-anak. Mulai saat itu, tak kurang dari 46 film cerita ditanganinya sebagai juru kamera, disamping film dokumenter dan iklan.

Menjadi juru kamera film Di Bawah Lindungan Kabah, tahun 1978, dia harus ke Mekah. Sampai pada urusan paspor dan visa, cerita dimulai. Pihak imigrasi menolak memberi visa. Dia dikira Lukman Hakim aktivis dan Ketua Dewan Mahasiswa UI. Padahal bedanya banyak. Yang satu mahasiswa, yang pakai Nain hanya pernah duduk dikelas III SMA Bandung, lalu belajar memotret. Namun urusan baru rampung setelah istrinya turun tangan. Ibu 4 orang anak ini menulis surat pernyataan bahwa suaminya betul pekerja film, bukan mahasiswa.

Tak betah menetap di suatu tempat, setelah 5 tahun bekerja sebagai pembantu juru kamera di Sanggabuana Film, ia pindah ke Anom Pictures. Hanya setahun, Luk, nama panggilannya pindah lagi ke Gema Masa Film. Setelah itu, ia memutuskan untuk berdiri sendiri sebagai juru kamera lepas. Perkenalannya dengan Wim Umboh membuat Luk betah bekerjasama dengan sutradara itu. Ia banyak membantu pembuatan film-film Wim, yang pada gilirannya memberi banyak peluang baginya untuk memenangkan Piala Citra.

Tahun 1974 ia melangkah sejenjang, dipercayai sebagai sutradara untuk film Dikejar Dosa. Kemudian disusul film-film berikutnya, antara lain Malam Pengantin, dan Cinta Rahasia ditahun 1976. Ia adalah juru kamera film nasional yang paling banyak menerima Piala Citra.

Film Perkawinan yang paling banyak meninggalkan kesan buat Luk. Untuk opname film tersebut, ia mendapat kesempatan keliling Eropa, Zurich, Amsterdam, Paris, Jenewa, juga ke Tokyo. Tapi selama keliling Eropa itu ia terus deg-degan kalau shooting ketemu polisi. Soalnya disana mereka tak pernah melapor, apalagi minta izin mau opname film, seperti kebiasaan di Indonesia. Padahal oleh petugas disana ditanya saja pun tak pernah, apa lagi ditegur.

Lukam, selain menjadi DOP (Director of Photography) ia juga menyutradarai sendiri filmnya. Biasanya DOP menjadi Director juga dalam filmnya diawali dari adanya sesuatu yang tidak puas atas karya sebelumnya, ada juga kasus karena fantasi/keinginan membuat sebuah film bergendre yang diinginkan, tetapi dipasaran film itu tidak ada yang memproduksi, sehingga ingin membuatnya, atau adanya penguasaan tehnis tersendiri yang kebanyakan memakai tehnis cinematography dari pada dramanya. Tetapi dalam kasus yang banyak, banyak juga dari DOP ke Director yang sukses. Biasanya di film awalnya Dop terlalu banyak kosentrasi ke gambar dari pada ke adegannya (asal jangan film drama, bisa hancur dramanya), untung filmnya diawali dengan horor, jadi tehnis cinematography memang menjadi fokus tersendiri dalam menciptakan sesuatu atau hal yang lain. Seterusnya, DOP merasa ketagihan untuk menyutrdadarai filmnya. Selebihnya hanya menjalankan tugas kerja callingan sutradara lainnya.

Penghargaan :
Piala Citra dalam 

film Perkawinan 1973,
Dikejar Dosa (FFI) 1975,
Cinta (FFI) 1976,
Badai Pasti Berlalu (FFI) 1978


Lukman with director Wim Umboh



NJANJIAN DILERENG DIENG1964BACHTIAR SIAGIAN
Director Of Photography
CATATAN SI DOI1988ATOK SUHARTO
Director Of Photography
DENDAM SI ANAK HARAM1972SISWORO GAUTAMA
Director Of Photography
MENDUNG TAK SELAMANYA KELABU1982LUKMANTORO DS
Director Of Photography
SALOME1980RATNO TIMOER
Director Of Photography
BELAIAN KASIH1966TURINO DJUNAIDY
Director Of Photography
KOMAR SI GLEN KEMON MUDIK1990MAMAN FIRMANSJAH
Director Of Photography
PAHALAWAN GOA SELARONG1972LILIK SUDJIO
Director Of Photography
MAWAR CINTA BERDURI DUKA1981FRANS TOTOK ARS
Director Of Photography
PERKAWINAN1972WIM UMBOH
Director Of Photography
DAERAH TAK BERTUAN1963ALAM SURAWIDJAJA
Director Of Photography
SI KABAYAN SABA KOTA1989MAMAN FIRMANSJAH
Director Of Photography
PARA PERINTIS KEMERDEKAAN1977ASRUL SANI
Director Of Photography
TAMU TENGAH MALAM1989ATOK SUHARTO
Director Of Photography
PENGANTIN REMAJA1971WIM UMBOH
Director Of Photography
PENGANTIN REMAJA1991WIM UMBOH
Director Of Photography
KEMBANG-KEMBANG PLASTIK1977WIM UMBOH
Director Of Photography
SI KABAYAN DAN GADIS KOTA1989MAMAN FIRMANSJAH
Director Of Photography
LUKA TIGA KALI1965ALAM SURAWIDJAJA
Director Of Photography
LAKI-LAKI TAK BERNAMA1969WIM UMBOH
Director Of Photography
PENGAKUAN1988MAMAN FIRMANSJAH
Director Of Photography
KEMASUKAN SETAN1974LUKMAN HAKIM NAIN
Director
EXSPEDISI TERAKHIR1964ALAM SURAWIDJAJA
Director Of Photography
SIRKUIT KEMELUT1980LUKMAN HAKIM NAIN
Director
BIARLAH AKU PERGI1971WIM UMBOH
Director Of Photography
BADAI PASTI BERLALU1977TEGUH KARYA
Director Of Photography
JAKA TINGKIR1983BAY ISBAHI
Director Of Photography
PENDAWA LIMA1983LUKMAN HAKIM NAIN
Director
PERMAINAN BULAN DESEMBER1980NICO PELAMONIA
Director Of Photography
DISELA-SELA KELAPA SAWIT1967WAHYU SIHOMBING
Director Of Photography
DJALANG1970DANU UMBARA
Director Of Photography
BERCINTA1985LUKMAN HAKIM NAIN
Director
SI GONDRONG1971FRITZ G. SCHADT
Director Of Photography
AKIBAT TERLALU GENIT1988HADI POERNOMO
Director Of Photography
DIKEJAR DOSA1974LUKMAN HAKIM NAIN
Director
PENGEMIS DAN TUKANG BECAK1978WIM UMBOH
Director Of Photography
SUAMIKU SAYANG1990HENKY SOLAIMAN
Director Of Photography
BERANAK DALAM KUBUR1971AWALUDIN
Director Of Photography
OPERASI HANSIP 131965TURINO DJUNAIDY
Director Of Photography
BAKTI1963SJAHIL GANI
Director Of Photography
TOKOH1973WIM UMBOH
Director Of Photography
MAMA1972WIM UMBOH
Director Of Photography
IMPIAN BUKIT HARAPAN1964WAHYU SIHOMBING
Director Of Photography
SEMBILAN1967WIM UMBOH
Director Of Photography
CINTA1975WIM UMBOH
Director Of Photography
BALLADA KOTA BESAR1963WAHYU SIHOMBING
Director Of Photography
DAN BUNGA-BUNGA BERGUGURAN1970WIM UMBOH
Director Of Photography
INTAN MENDULANG CINTA1981DJAMAL HARPUTRA
Director Of Photography
HIDUP SEMAKIN PANAS1989HENKY SOLAIMAN
Director Of Photography
KUGAPAI CINTAMU1977WIM UMBOH
Director Of Photography
RINTIHAN GADIS BUTA1976IKSAN LAHARDI
Director Of Photography
PEREMPUAN1973PITRAJAYA BURNAMA
Director Of Photography
CHEQUE AA1966ALAM SURAWIDJAJA
Director Of Photography
SESUATU YANG INDAH1976WIM UMBOH
Director Of Photography
BILA SAATNYA TIBA1985EDUART P. SIRAIT
Director Of Photography
GADIS KAMPUS1979ISHAQ ISKANDAR
Director Of Photography
GAIRAH PERTAMA1984MATNOOR TINDAON
Director Of Photography
MEDALI BUKIT SELATAN1981FRANS TOTOK ARS
Director Of Photography
ACH YANG BENERRR...1979MUCHLIS RAYA
Director Of Photography
BUKAN SANDIWARA1980SJUMAN DJAYA
Director Of Photography
SENYUM DIPAGI BULAN DESEMBER1974WIM UMBOH
Director Of Photography
SIMPHONY YANG INDAH1981PITRAJAYA BURNAMA
Director Of Photography
MALAM PENGANTIN1975LUKMAN HAKIM NAIN
Director
MADJU TAK GENTAR1965TURINO DJUNAIDY
Director Of Photography
CINTA RAHASIA1976LUKMAN HAKIM NAIN
Director.

Kamis, 03 Februari 2011

SAMIUN DAN DASIMA / 1970

SAMIUN DAN DASIMA


Betapa terasing Dasima (Chitra Dewi) dalam pergaulan Edward William (A. Hamid Arief) dan kawan-kawannya, hingga ia memilih pergi dari rumah gedung dan tinggal di rumah pembantunya, Mak Buyung (Fifi Young) di kampung. Tokoh Samiun (W.D Mochtar) dan Hayati (Sofia WD), juga diberi latar belakang yang lebih masuk akal. Samiun adalah pedagang barang-barang gelap yang terjerat hutang. Sedang Hayati adalah perempuan gila judi. Ketika kepepet tidak bisa bayar hutang, maka Samiun minta kawannya Puasa (Wahid Chan) untuk pura-pura merampok dirinya bersama Dasima yang saat itu hendak pulang ke kampungnya, setelah hartanya diludeskan Samiun dan Hayati, Dasima dibunuh. Samiun dan Puasa ditangkap polisi. Nancy (Astri Ivo), anak Dasima dan William, diajak ayahnya pergi ke negerinya.

20 Maret 1971
Dasimah & hasmanan
"SAJA ibarat sedang mentjetak kartu nama", ia berkata seperti mengedjek diri sendiri seraja tersenjum tipis. "Sekarang orang menjebut-njebut Wim Umboh, Turino Djuneidi -- dan saja toch kepingin disebut". Kartu-nama Hasmanan kini ditjetak dengan dua film tatawarna salah satunja ialah Dasimah & Saimun produksi Chitra Dewi Film. Kritikus madjalah Aneka jang kemudian mulai djadi sutradara ditahun 1962 Bermalam di Solo ini setelah lama diam memang memerlukan kartu-nama baru. Dipertengahan 30-an tahun, dengan dahi lebar jang keras dan pandangan seperti pemain silat serta rambut seperti orang baru tidur, Hasmanan banjak merokok membatja, kadang-kadang menulis resensi jazz ataupun novel seorang jang nampaknja kapan sadja selalu siap dengan waktu senggang sebelum suatu kerdja kreatif jang makan tenaga dan waktu. Pinggiran. "Kini generasi setelan Asrul Sani sedang memperoleh giliran dan kesempatan", katanja. "Kini film Indonesia djuga sedang ramai dengan tatawarna dan sampai batas tertentu dengan tjara-tjara baru.

Dan bioskop-bioskop kini sudah lebih tersebar kepinggiran kota, hingga orang-orang jang Iebih enak memakai bahasa Indonesia tanpa Iewat teks lebih banjak jang menonton. Semua itu menundjukkan bahwa kelarisan film Indonesia kini bukan semata-mata lantaran unsur sex....". Mungkin. Tapi Dasimah & Samiunnja bukannja tanpa sadjian erotik, jang apabila tidak dipotong sensor akan merupakan adegan-adegan paling berani sex selama ini: ada tjiuman pada buahdada terbuka ada buahdada terbuka tanpa tjiuman. Ada kain terlepas meninggalkan bokong. "Kita kadang lupa menggunakan erotisme jang paling asal", kata Hasmanan "jang kita ambil hanja kulitnja sadja -- termasuk film saja". Namun Hasmanan tak bisa menjetudjui, bahwa seluruh adegan jang menampilkan sex dalam Dasimah hanjalah padjangan jang bisa ditjopot begitu sadja. "Dalam film itu adegan tjium tetek saja anggap penting: pada moment itu Njai Dasimah melihat sendiri suaminja orang Inggeris itu melakukan perbuatan jang sebelumnja tjuma didengarnja sendiri dari luar kamar, dari suara mengkikik si noni jang ditjumbu tuan besar. Dari situlah timbul tekad Dasimah untuk meninggalkan Williams, satu hal jang tak bisa diterangkan apabila seluruh adegan dipotong".

Interpretasi Hasmanan terhadap kisah mashur Njai Dasimah memang Iebih kontemporer: lebih banjak berupa konflik psikologis dan djuga sosial daripada konflik tjinta akibat guna-guna. Mungkin oleh sebab itulah film 2 djam ini agak terasa lamban - meskipun kelambanan itu tentu djuga disebabkan oleh banjaknja peran dan adegan jang sebenarnja bisa ditaruh diantara kurung sadja kalau tak dibuang. Sudah bagus sebenarnja bila peran Saimun (W.D. Mochtar) bukanlah peran tukang delman seperti dalam lenong, melainkan seorang penadah dan pedagang barang gelap, sehingga djatuhnja Dasimah kepelukannja Iebih logis. Tapi untuk apa tokoh si Banteng dan wanita jang diperkosanja? Adegan membudjuk Mak Bujung (Fifi Young) oleh anak-anak muda suruhan Saimun untuk mengguna-gunai Dasimah pun kurang mejakinkan: humor disana bisa disingkirkan. Begitu pula muntjulnja buaja-buaja krontjong seolah- olah hanja ornamen jang dipasang dibagian awal, untuk kemudian lenjap, tak merupakan bagian penting buat Iatar belakang. Fifi.

Walaupun begitu, film jang kurang memanfaatkan ruang ini bukannja tanpa bintang-bintang jang naik. Kamera mungkin agak malas, kostum kelihatan terlalu baru meskipun untuk djagoan-djagoan, tapi siapapun jang disana melihat Fifi Young akan merasa menemukan sesuatu sebagai Mak Bujung, jang oleh Hasmanan dilukiskan bukan sekedar tukang guna-guna jang dibajar, tapi seorang ibu buat Dasimah jang sendirian, Fifi Young mejakinkan sekali. Asli, tanpa script Fifi bisa mengharukan hanja dengan wadjah jang berubah diantara kata-kata sederhana logat Betawi. Tjuma mungkin dia akan terpaksa menjimpang dari keseluruhan perwatakan ketika ia melajani rajuan anak buah Saimun jang membudjuk seperti menghafal teks: Fifi setjara kurang lutju mendjadi genit dan berkata "Nggak usjah, je". Anakronisme ini bisa terdjadi dalam lenong, tapi Dasimah & Saimun tak bermaksud mendjadi lenong.

Diluar kechilafan jang mungkin bukan kehendaknja ini, dalam Dasimah Fifi Young membuktikan bahwa ia tetap seorang bintang terbagus selama ini. Sesudah dia, mungkin Sofia W.D. sebagai Halimah, isteri Saimun. W.D. Mochtar bermain lumajan, dan bisa baik apabila ada kesempatan jang lebih baik. Jang harus disajangkan ialah Wahid Chan. Dengan destar mengkilat seperti goloknja, pemegang peran Bang Puasa jang achirnja membunuh Njai Dasimah ini tak banjak berbuat untuk menampilkan watak apapun -- baik jang kedjam, ganas ataupun jang lainnja. Ia berbitjara seperti orang malu kepada suara dan perannja sendiri Dan bagaimana dengan Citra Dewi? Dia masih tjantik. Dia tidak menondjol. Tapi peran Dasimah memang lebih banjak terseret daripada menjeret seorang wanita malang.