Tampilkan postingan dengan label RANJANG SIANG RANJANG MALAM / 1976. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RANJANG SIANG RANJANG MALAM / 1976. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Januari 2011

RANJANG SIANG RANJANG MALAM / 1976

RANJANG SIANG RANJANG MALAM


Karno (Robby Sugara) dan Dina (Tanty Josepha) besar di kampung nelayan dan berhubungan terlalu jauh hingga Dina hamil. Karena malu, mereka pergi ke kota. Karno bekerja sebagai sopir truk, dan Dina menjadi penjahit. Nasib buruk menimpa mereka. Karno menabrak orang hingga harus masuk penjara, sementara bayi mereka harus dirawat khusus di rumah sakit, karena lahir prematur. Dina masuk perangkap Ibu Syam (Ruth Pelupessy), yang ternyata seorang germo. Karno curiga akan perubahan Dina, hingga tak mau dijenguk lagi. Dina frustrasi, jadi peminum, sampai berjumpa dengan Trisno (Rachmat Hidayat), sang penyelamat. Karno lari dari penjara dan menumpas sarang germo Ibu Syam, dan memohon Trisno untuk menjaga Dina.
P.T. SUGAR INDAH FILM

TANTY JOSEPHA
ROBBY SUGARA
RUTH PELUPESSY
RACHMAT HIDAYAT
PARTO TEGAL
YAMSIN YUNIARTI FARIDA
YATIE OCTAVIA
TAN TJENG BOK
WOLLY SUTINAH
DARUSSALAM
AEDY MOWARD

NEWS
05 Februari 1977
 Pokoknya: ranjang

RANJANG  SIANG RANJANG MALAM Cerita, Skenario & Sutradara: Ali Sahab  Produser: PT Sugar Indah Film RANJANG -- siang atau malam adalah  kombinasi menarik buat nama Ali Shahab. Dari film pertamanya, Bumi Makin  Panas, ranjang senantiasa memainkan peranan penting buat Ali. Dalam  film Ranjang Siang, Panjang Malam, yang kini sedang beredar, ranjang  lagi-lagi memainkan peranan istimewa. Kelanjutan cerita amat tergantung  pada ranjang. Tanti Josepha, isteri sopir truk, Robby Sugara, dibikin  sedemikian rupa sehingga memang cuma bisa terdampar ke ranjang  pelacuran. Sudah tentu Tanti tidak senang jadi pelacur, meski wajah dan  tubuhnya memang terlalu berlebihan untuk jadi istri sopir truk. Tapi  inilah Ali Shahab, penulis cerita, skenario dan sutradara yang  berkemauan keras. Begitu keras kemauannya melihat Tanti jadi pelacur,  hingga semua orang yang ketemu perempuan malang itu dipaksa saja jadi  jahat sejadi-jadinya. Pemilik truk yang dikemudikan Roby Sugara itu  bahkan mendesak untuk meniduri Tanti sebelum memberi uang membayar rumah  sakit bersalin -- ketika isteri sopir belum lagi melampaui masa 40 hari  setelah bersalin. Rumah pelacuran yang dipimpin oleh Ruth Pellupessy  juga disulap oleh Ali menjadi semacam rumah penjara bagi wanita yang  pernah berkolaborasi dengan musuh dalam zaman Perang Dunia kedua di  Eropa.

Kalau  dalam kehidupan sehari-hari sang mucikari yang banyak tergantung pada  kebaikan hati sang WTS, maka dalam film ini -- demi memperlihatkan  kemalangan Tanti - kenyataan disesuaikan saja dengan harapan-harapan  Ali. Tapi sutradara yang satu ini masih melihat ada manusia baik, meski  jumlahnya sedikit. Rahmat Hidayat dimunculkan Ali sebagai pengarang yang  amat baik, jago berkelahi meski juga suka minum lebih dari sebotol  wiski sebelum mengemudikan mobil dengan selamat hingga ke tujuan. Maka  meski Rahmat hidup membujang, kecewa terhadap pacarnya, tidur serumah  dengan Tanti semalam suntuk, tapi toh isteri sopir selamat dari  kejahilan sang pengarang. Seperti biasa, Ali masih tetap terampil. Sudut  pemotretan tetap mengasyikkan. Tapi potret tentang manusia yang baru  diimpikan, pastilah tetap sebuah potret belum selesai. Dan impian  tentang manusia yang cuma hitam atau cuma putih, rasanya tidak akan  pernah bisa dipotret dengan kamera sebaik apapun, dengan sutradara  setrampil macam apapun.