Kamis, 23 Juli 2020

BANDOENG VAN BIOSCOOP

BANDOENG VAN BIOSCOOP

Walaupun bioskop sudah masuk Batavia pada tahun 1900, namun perlu tujuh tahun lagi sebelum hadir di Bandung. 

Dua bioskop pertama dibuat di Alun-alun, masing2 Oranje Electro Bioscope dan De Crown. Saat itu belum ada gedung permanen buat kedua bioskop itu, masih menggunakan tenda semi permanen dengan alas lantai berupa tikar. Film yang diputar pun masih film bisu dengan iringan orgel yang dimainkan secara live.

Bioskop Flora



BIOSKOP ELITA BIOGRAPH

Baru pada tahun 1908 muncul bioskop kelas atas dan permanen, Elita Biograph, yang dibangun di atas lahan bekas gudang di sebelah timur Alun-alun. Awalnya masih berupa gedung sederhana yang menjadi satu bagian dari sebuah kompleks yang disebut theatre atau menurut istilah saat itu, roemah komedie. Dalam sebuah roemah komedie terdapat ruang pemutaran film, aula pertunjukan kesenian, dan kamar/rumah bola (bilyard). Elita Biograph adalah satu bagian dari kompleks Scala Theatre.


Elita Bioscoop merupakan bioskop elit dengan orang-orang terpilih yang menonton dengan pakaian rapi dan memakai sepatu. Bioskop ini dimiliki oleh F. A. A Buse, seorang raja bioskop yang memiliki jaringan besar Elita Concern. Bioskop ini dibangun tahun 1910an dengan gaya arsitektur Art Nouveau dan sempat berganti nama menjadi Puspita tahun 1960an.


Pada tahun 1917 bangunan bioskop Elita dirombak menjadi bergaya Timur-Tengah yang kemudian terbakar pada tahun 1930 dan tahun 1931 didirikan lagi dengan bentuk bangunan yang lebih megah. Sementara rumah bola di sebelahnya hancur terkena bom pesawat Jepang pada tahun 1942 dan lahannya dipergunakan untuk mendirikan pertokoan Miramar pada tahun 1970-an. Saat ini seluruh kompleks bangunan ini sudah rata dengan tanah.

Pada sekitar tahun 1910, di Bragaweg hadir  kompleks Braga Theatre dengan bioskopnya, Helios, di pertigaan Jl. Braga dan Jl. Kejaksaan sekarang. Bioskop ini merupakan salah satu cabang usaha Th. Vogelpoel yang saat itu tinggal di Gg. Coorde (Jl. Kejaksaan) dan karena itu nama bioskop ini kadang disebut Bioskop Vogelpoel. Gedung bekas Helios kelak dipakai untuk kantor oleh pengusaha bioskop, J.F.W. de Kort.

Sekali waktu bioskop Vogelpoel pindah lokasi ke lahan yang kemudian ditempati oleh Societeit Ons Genoegen (Gedung YPK). Selain mengelola bioskop, Vogelpoel juga memiliki restoran Maison Vogelpoel di simpang Braga-Naripan (kemudian ditempati Baltic), rumah bola Vogelpoel di bagian bawah Bank DENIS.

Bioskop2 di Bandung tempo dulu juga menerapkan sistem kelas bagi para pengunjungnya. Masing-masing adalah balkon, loge, dan stales yang kemudian berubah menjadi kelas 1, 2, dan 3. Pada masa lalu itu terdapat juga pemisahan ruang tonton antara warga Eropa dengan pribumi, terkadang kaum pribumi hanya bisa menonton dari belakang layar sehingga film yang disaksikan menjadi terbalik.

Pengusaha Bioskop
Ada tiga pengelola utama perbioskopan di Bandung, yaitu F.A. Busse, J.F.W. de Kort, dan Thio Tjoan Tek. Yang paling menonjol dari ketiganya adalah F.A. Busse yang memiliki perusahaan jaringan dengan nama Elita Concern. Di bawah pengelolaannya adalah bioskop2 Elita, Varia, Oriental (Alun2), Luxor/Luxorpark & Roxy (Kebonjati), Majestic, Rex, Oranje/Oranjepark (Cikakak), Kosambi/Rivoli, Liberty (Cicadas), dan Rio (Cimahi). J.F.W. de Kort mengelola bioskop2 Radio City, Regol, Bison (Sukajadi), Taman Senang (Pagarsih), Warga (Cihaurgeulis), dan Taman Hiburan (Cicadas). Sedangkan Thio Tjoan Tek mengelola bioskop Siliwangi (Astana Anyar).

Kebanyakan bioskop utama didirikan di daerah pusat kota seperti di Alun-alun. Bioskop Elita memiliki feesterrein (pistren) yaitu semacam taman hiburan rakyat di sebelah selatannya. Feesterrein Elita dinamakan Varia. Pada tahun 1960-an Varia menjadi bioskop Nusantara (dan sempat bernama Dwikora). Di sisi paling selatan pada jajaran ini adalah bioskop Oriental. Di belakang Kantor Pos Besar Jl. Banceuy terdapat  bioskop Deca.

Sama dengan Elita, gedung bioskop Oriental dirancang oleh F.W. Brinkman dalam gaya art-nouveau. Pada tahun 1960-an namanya berubah menjadi Aneka. Jajaran bioskop yang terletak di timur Alun-alun ini dibongkar pada tahun 1980-an dan lahannya dipakai untuk mendirikan pertokoan Palaguna. Setelah menjadi Palaguna, masih ada dua grup bioskop di sini, Nusantara dan Palaguna.

Di sebelah tenggara Alun-alun berdiri sebuah bioskop dengan nama Radio City yang kemudian berganti nama menjadi Dian Theatre. Gedungnya masih berdiri namun dengan kondisi yang semakin tidak terawat. Saat ini bekas bioskop Dian dipakai untuk tempat olahraga futsal.

Di sebelah timur Dian, dekat belokan Jl. Pasundan terdapat bioskop Regol yang sekarang sudah berubah bentuk dan fungsi. Ke sebelah barat, pada lokasi Parahyangan Plaza sekarang terdapat kompleks bioskop Dallas. Belakangan, berseberangan dengan kompleks pertokoan Kings didirikan bioskop Galaxy.

Bioskop2 Lainnya
Di kawasan Cikakak (Jl. Sudirman) pernah ada bioskop Oranje. Bioskop ini kemudian dibangun ulang dan berubah nama menjadi Capitol, tahun 1960-an berubah lagi menjadi Kentjana. Oranje mempunyai pistren yang kemudian dijadikan bioskop Texas dan pada tahun 1960-an menjadi Parahyangan. Bioskop Capitol banyak memutar film silat klasik dengan bintang2 seperti Teng Kuang Yung, Fu Shen, Wang Yu, Chen Kuan Tai, Ti Lung, Wang Tao, dan Huang Ceng Lie (konon namanya berubah menjadi Billy Chong kemudian Willy Dozan). Sedangkan Texas menerima limpahan film yang sebelumnya sudah diputar di Capitol. Selain film silat, Texas juga memutar film2 India dengan bintang2 seperti Dharmendra, Sunil Dut, Shahsi Kapoor, Amitabh Bachan, Hemamalini atau Amjad Khan.

Lebih ke barat pernah berdiri sebuah bioskop yang dianggap elit pada tahun 1980-an, Paramount Theatre. Sekarang bekas lokasinya dipakai oleh sebuah night-club. Di Kebonjati ada bioskop Luxor. Awalnya berdiri sebagai Preanger Theatre, kemudian berturut2 menjadi Orion, Luxor, dan Nirmala hingga bubar pada tahun 1980-an. Luxor memiliki pistren di bagian belakangnya yang dinamakan Luxorpark (kemudian menjadi Taman Riang). Berbatasan dengan Luxorpark, sebelah selatan, adalah bioskop Roxy yang tahun 1960-an menjadi Kumala dan bubar di akhir tahun 1970-an. Luxor terkenal di Bandung karena merupakan bioskop pertama yang memutar film bicara, Rainbow Man, pada 15 Februari 1930.

Di sekitar Braga terdapat beberapa bioskop. Di selatan adalah Concordia Bioscope yang menjadi bagian dari Societeit Concordia. Gedungnya yang unik dibangun tahun 1925 dengan rancangan oleh C.P. Wolff Schoemaker. Kemudian bioskop ini lebih terkenal dengan nama Majestic hingga tahun 1960-an berubah menjadi Dewi. Bioskop ini hanya untuk kalangan elit Eropa saja. Di balkonnya tersusun meja kursi seperti dalam kafe atau restoran. Bioskop ini sering juga disebut dengan Metro House karena banyak memutar film2 keluaran MGM (Metro Goldwyn Meyer).

Ke sebelah utara, terdapat bioskop Braga Sky di Jl. Suniaraja. Setelah tutup pada tahun 1980-an, bekas bioskop ini berubah fungsi menjadi tempat hiburan malam dengan nama yang berubah-ubah. Di bagian atas bekas toko van Dorp terdapat bioskop Pop Theatre, sementara di seberangnya ada President Theatre. Di depan katedral dulu ada bioskop Rex. Bioskop ini menjadi Panti Budaja pada tahun 1950-an dan Vanda pada tahun 1970-an. Bioskop2 ini umumnya berhenti beroperasi pada awal tahun 1980-an.

Ke sebelah utara, di seberang BIP sekarang, adalah bekas bioskop Panti Karya yang bangunannya masih berdiri namun tidak terawat sekarang ini. Panti Karya sebenarnya merupakan gedung pertemuan milik PJKA yang dipakai untuk tempat pemutaran film pada masa maraknya dunia perbioskopan di Bandung tahun 1970-an. Panti Karya beroperasi hingga awal tahun 1980-an. Gedung lain yang pernah difungsikan pula sebagai bioskop adalah Aula BTN di Jl. Jawa dan ruang perkuliahan kampus ITB yang dipakai oleh LFM (Liga Film Mahasiswa) sebagai tempat pemutaran film sejak tahun 1960-an.

Setelah sempat agak surut, masa jaya perbioskopan naik kembali pada tahun 1990-an dengan kemunculan jaringan bioskop Studio 21 dari Jakarta. Namun berbagai permasalahan dalam dunia perfilman kemudian tidak hanya mematikan dunia bioskop melainkan juga dunia film Indonesia pada awal tahun 2000-an.

PREAGER THEATER/ ORION/  LUXOR/ NIRMALA

Berawal dari PREAGER THEATER, lalu menjadi ORION, lalu  LUXOR, lalu NIRMALA





Luxor terkenal di Bandung karena merupakan bioskop pertama yang memutar film bicara, Rainbow Man, pada 15 Februari 1930. 
 
Dan Film 3D yang pertama kali juga di Luxor pada tahun 1954, di mana setiap penonton diberi kacamata merah dan biru.


CONCORDIA / De MAJESTIC BANDOENG


Pada era 1920-an, kondisi ekonomi Hindia Belanda berada dalam keadaan yang sangat baik. Orang-orang Belanda yang tinggal di Bandung membutuhkan rekreasi berupa bioskop. Maka pada awal tahun 1920, Technisch Bureau Soenda diminta melaksanakan pembangunan gedung bioskop.  

Gedung ini dibangun pada tahun 1925 hasil rancangan Ir.C.P.Wolff Schoemaker. Susunan kursi penonton disini cukup unik, bila biasanya kursi penonton hanya berjejer satu arah, disini penyusunannya sama seperti di caf atau restoran yang memiliki meja dan penonton bisa saling berhadapan, sehingga penonton dapat menikmatinya sambil makan minum. Karena film yang sering diputar banyak dari MGM (Metro Goldwyn Meyer) membuatnya sering disebut bioskop Metro House. Di situ pula ditayangkan film mengenai penobatan Ratu Elisabeth II yang telah menjadi box office sehingga penontonnya berjibun.Keunikan lain yang dimiliki adalah bentuknya mirip biskuit kaleng sehingga masyarakat pada waktu itu menyebutnya bliken trommel yang artinya kaleng biskuit. 

Dalam perkembangannya, bioskop ini bayak dikenal dengan Majestic. Bioskop Majestic mewakili gaya campuran teknik konstruksi modern dari barat dengan seni ukir tradisional Indonesia yang sering disebut gaya arsitektur Indo-Europeeschen Architectuur Stijl. Pertunjukan film di Bioskop Majestic diadakan pukul 19.30-21.00. Siang sebelum pemutaran, pemilik bioskop berkeliling kota dengan kereta kuda untuk berpromosi sambil memperlihatkan poster film dan membagi selebaran. Di muka bioskop biasanya sudah banyak pedagang dan pemusik. Para pemusik masuk ke bioskop menjelang pertunjukan sambil membawa alat musik, seperti biola, gitar, cello, dan tambur untuk memberi musik latar pada film bisu yang diputar. Saat itu bioskop juga melengkapi film bisu dengan komentator. Proyektor yang ada hanya cukup untuk memutar satu reel film yang panjangnya sekitar 300 meter berdurasi 15 menit sehingga untuk film berdurasi satu jam, perlu jeda tiga kali. Saat jeda, ditayangkan iklan-iklan yang berupa gambar mati. Tempat duduk bioskop dibagi menjadi deret kiri dan kanan sebab penonton berbeda jenis kelamin harus duduk terpisah.

Dilansir dari demajesticbandung.com, Kawasan Braga sendiri yang pada abad ke-18 hanyalah jalur pedati, bertransformasi menjadi deretan pertokoan elite pada abad ke-19, pada saat gedung De Majestic ini pertama kali dibangun. Gedung bioskop itu menawarkan beberapa film dan banyak mengundang antusiasme penonton. Catatan sejarah dalam perfilman Indonesia adalah ketika bioskop ini menayangkan perdana film Loetoeng Kasaroeng. Pada 31 Desember 1926, film itu diputar pada bioskop ini. Film yang menceritakan sebuah legenda yang terkenal dari Tatar Sunda. Film ini menceritakan Purbasari yang berpacaran dengan seekor lutung. Lutung itu adalah Guru Minda, pangeran tampan yang yang dikutuk menjadi lutung oleh ibunya sendiri, Sunan Ambu. Panjang film ini sekitar satu jam atau sama dengan masa putar film produksi Hollywood saat itu. Bioskop Concordia/Majestic melayani pemutaran film ini hingga 6 Januari 1927 dan tergolong sukses.

Bioskop ini merupakan bioskop elit dengan aturan Verbodden voor Honder en irlander yang artinya “dilarang masuk bagi anjing dan pribumi”. Tempat duduknya berundak dan menunjukkan kelas dan harga tiket. Untuk kelas 1 terletak di balkon, kelas 2 terletak bagian bawah belakang, dan kelas 3 di paling depan.


BIOSKOP PANTI KARYA


Gedung ini didirikan pada tahun 1956. Pada tahun 1970-an gedung ini dipakai untuk bioskop hingga akhir tahun 1980-an. Selain bioskop gedung ini juga pernah dipakai sebagai kampus dan radio.

Gedung tua yang tidak terawat ini merupakan saksi sejarah bioskop di Bandung. Gedung ini adalah gedung Panti Karya yang berada di Jalan Merdeka, tepatnya di depan BIP. Gedung yang semula dimiliki PJKA ini diganti fungsinya sebagai bioskop karena pemutaran film sedang marak kala itu. Pada saat itu, Panti Karya kerap kali dikunjungi oleh anak sekolah, misalnya pelajar SD Ciujung.

De REX / VANDA THEATER / PANTI BUDAYA


Selain Panti Karya, di dekat Bank Indonesia juga pernah terdapat sebuah bioskop yang bernama De Rex yang kemudian diubah menjadi Panti Budaya tahun 1960an. Panti Budaya merupakan bioskop kelas 1 dan Panti Karya merupakan bioskop kelas 2. Karena rol film saat itu jumlahnya terbatas, bioskop harus menunggu giliran. Semakin rendah kelasnya maka semakin lambat menontonnya. Kaset film berakhir di layar tancap (feesterrein atau taman hiburan rakyat).

POP THEATER


Sebuah gedung bernama Landmark, pada saat ini gedung Landmark sering digunakan untuk kegiatan pameran dan lantai atasnya untuk diskotek. Pada awal pendiriannya gedung ini merupakan toko buku dengan nama van Dorp yang dibangun pada tahun 1922 oleh arsitek terkenal kala itu Ir. C.P. Wolff Schoemaker, toko buku berlangsung hingga tahun 1972. Setelah itu gedung ini digunakan sebagai bioskop pada tahun 1980-an dengan nama Pop Theater.

Pada tahun 70an bioskop ini merupakan bioskop untuk kalangan menengah ke atas. Film yang diputar kebanyakan film Hollywood. Di seberangnya dulu  berdiri juga President Theatre, yang kini menjadi kantor sebuah bank.

BRAGA SKY


Bioskop Braga Sky merupakan bioskop ke 14 di Bandung yang didirikan NV Sirna Galih dengan biaya Rp2,32 juta.  Diresmikan pada tanggal 22 Mei 1957. Pemutaran film perdana adalah   “The Teahouse of The August Moon” yang dibintangi Marlon Brando, Glen Ford dan Machiko Kio. Pada saat itu bioskop ini merupakan tempan menonton kalangan kelas atas, yang tidak memperbolehkan ada calo tiket berkeliaran.

Bioskop ini sering didatangi pemuda-pemudi untuk menonton film nusantara dan film silat pada tahun 1960-1970an. Bioskop ini merupakan bioskop menengah ke atas sehingga tidak semua orang bisa masuk.

 HELIOS

Di sebelah Jalan Kejaksaan, pernah ada sebuah bioskop namanya Helios yang dalam Bahasa Yunani memiliki arti Dewa Matahari. Gedung bioskop yang sekarang dipakai rumah makan ini dimiliki oleh seorang pengusaha penggadaian. Bioskopnya berupa layar tancap (feesterrein atau taman hiburan rakyat) yang berada di dalam gedung. Tidak hanya bioskop, gedung ini sering dipakai untuk acara kesenian. Helios merupakan salah satu cabang dari Bandung Theater yang dulu dikenal di depan Kosambi. 

Bioskop ini dulunya dimiliki oleh Th.Voegelpoel, masyarakat pada waktu juga kadang menyebutnya bioskop Voegelpoel.

  BIOSKOP REGOL


Gedung bioskop di area alun-alun Bandung letaknya berdekatan. Di Jalan Dalem Kaum terdapat sebuah ruko yang dulunya merupakan Bioskop Regol untuk kalangan kelas menengah ke bawah sehingga mereka baru bisa nonton film-film nusantara yang sudah ditayangkan berbulan-bulan sebelumnya di tempat lain.


RADIO CITY


Di sebelah pendopo Wali Kota Bandung terdapat Bioskop.Bioskop ini pada awalnya bernama Radiocity. Dibangun pada 1923 yang merupakan karya  Ir.C.P.Wolff Schoemaker juga. Lalu berganti nama menjadi bioskop Dian. Bangunan ini satu-satunya bangunan bioskop tua yang tersisa di kawasan alun-alun keadaannya pun kurang terawat.

Radiocity atau Dian yang dimiliki oleh J.F.W. de Kort dan menayangkan film-film India. Radiocity beroperasi di tahun 1940an. Walaupun untuk kelas menengah, bioskop ini memiliki balkon. Pengunjung diperbolehkan naik ke atas untuk melihat balkon dan ruang proyektor.

Bioskop yang berada di bilangan Jalan Dalem Kaum ini dibangun pada 1925. Dengan proyektor putar dan layar besar untuk menampilkan film, bioskop hanya dapat dinikmati oleh orang-orang Belanda saja. Sementara, orang pribumi hanya dapat mengigit jari dan pasrah menonton layar tancap di ruang terbuka dengan julukan “misbar” atau kependekan dari “gerimis bubar”, suatu hal yang berbeda sekali dengan gedung bioskop yang nyaman. Setelah Indonesia lepas dari kolonialisme barulah orang-orang pribumi dapat menonton film di bioskop.
 

Setelah kemerdekaan, Bioskop Dian lebih sebagai bioskop yang sering memutar film-film India. Bioskop Dian pun menikmati masa kejayaanya selama beberapa puluh tahun. Sayang pada era 1990-an Bioskop Dian mulai terseok-seok. Penonton secara pelahan-lahan mulai sepi sampai akhirnya terpaksa bioskop gulung tikar. Lampu gedung kemudian padam, bukan karena sedang memutar film, tapi padam karena tidak ada lagi gambar bergerak yang diputar di sana. Konsep gedung bioskop kemudian tersisihkan oleh bioskop-bioskop yang lebih moderen di pusat-pusat perbelanjaan Kota Bandung. 



Beruntung bagi Bioskop Dian, walaupun ditutup sampai saat ini bangunan masih kokoh berdiri. Muka bangunan sangat mudah dikenali karena masih dalam bentuk asli dan memiliki beberapa ciri khas. Bentuk bangunan simetris yang setengah membulat di bagian kanan dan kiri bangunan. Terdapat tujuh buah barisan jendela di bagian depan atas bangunan. Kemudian yang paling khas adalah terdapat relief dinding yang menggambarkan suasana pedesaan di samping kanan dan kiri pintu masuk.

VARIA PARK


Varia artinya serba-serbi.
Varia merupakan feesterrein atau taman hiburan, mungkin bisa dikatakan dari cikal bakalnya apa yang disebut bioskop Misbar (gerimis bubar). Varia hanya dikelilingi tembok yang didepannya ditampilkan layar tancap. Tidak hanya menampilkan film, pertunjukan seni musik tradisional sampai pertunjukan olahraga Tinju juga sering ditampilkan di tempat ini,”

ORIENTAL SHOW


Oriental Show dibangun tahun 1930an. Bangunan ketiga bioskop ini dihancurkan untuk menjadi Palaguna. Dimana Palaguna juga saat ini sudah rata dengan tanah.

RIVOLI THEATER


Rivoli Theater merupakan bioskop yang berada di kawasan Kosambi. Bioskop ini didirikan pada tahun 1935 dan sempat berganti nama menjadi Bioskop Fadjar pada 1970-an. Di bioskop ini sering diputar film mandarin. Sekarang gedung ini menjadi Gedung Pertunjukan Rumentangsiang.

  BANDUNG THEATER


Dulu di lantai 2 Pasar Kosambi terdapat bioskop Bandung Theater. Bioskop ini sering memutar film-film Indonesia dan Hollywood. Pada tahun 1990-an Bandung Theater akhirnya tutup dan bangunannya direnovasi untuk dijadikan pasar.

  BIOSKOP De ROYAL APOLLO di Banceuy

 BIOSKOP CAPITOL

BIOSKOP PRESIDENT



BIOSKOP NUSANTARA PALAGUNA

Direksi PT.Kharisma Jabar Film meresmikan Nusantara Theatre di gedung Palaguna Nusantara Jl Dalem Kaum Bandung pada pertengahan tahun 80an.Bioskop ini memiliki layar terbesar pada masa itu.Untuk yg pernah menyaksikan acara TVRI Apresiasi Film Indonesia pada thn 80an biasanya dibuka degan adegan layar terbuka diiringi lagu Bimbo "aku cinta buatan indonesia" layar bioskop inilah yg dipakai untuk stock shootnya Inframe : Bpk H.Nizar Ahmad Servia Bpk Ateng Wahyudi Bpk Chand Farwez Servia Bpk Naili

Dulu, lahan eks Palaguna dimiliki oleh Tuan Bused an kerajaan bioskopnya. Tiga bioskop, Elita Bioscoop, Oriental Show, dan Varia Park berdiri megah di sana. Tapi kemudian, lahan itu diambil alih oleh Gubernur Jawa Barat.

Ketika berganti menjadi Palaguna Plaza, area tersebut merupakan pusat perbelanjaan pertama dan tersohor pada dekade 1980-an di Kota Bandung. Juga merupakan bangunan dengan fasilitas eskalator pertama di tanah ibu pasundan.

Memiliki empat lantai sebagai pusat fesyen, kesenian, kuliner, dan hiburan. Namun pada awal abad milenia, sejumlah pusat perbelanjaan di area tersebut meredup. Sebut saja Romana dan Parahyangan Plaza. Puncaknya, bioskop Nusantara dan Teater Palaguna yang berhenti beroperasi yang menandakan berakhirnya masa kejayaan Plaza Palaguna.


LIBERTY BIOSCOOP dan BIOSKOP MISBAR TAMAN HIBURAN di CICADAS


Salah satu bioskop untuk ditonton rakyat kebanyakan dahulu di Bandung adalah bioskop “Taman Hiburan” yang berada di Cicadas. Saat itu populer dengan nama bioskop misbar, kalau gerimis bubar, mengapa begitu karena bioskop tersebut tidak beratap. Jadi disamping menonton film sekaligus melihat bintang di langit.

Di kota Bandung bukan hanya satu bioskop misbar semacam “Taman Hiburan”  Cicadas itu, akan tetapi ada banyak yaitu “Taman Senang” di Pagarsih, “Taman Siliwangi” di Astana Anyar, “Warga” di Cihaurgeulis, “Taman Riang”, “Tjoblong”, “Setia”, “Taman Sahati”, “Marga Senang”, “Wargi”, dan “Taruna”.

Bioskop misbar “Taman Hiburan” Cicadas Bandung berlokasi diantara dua jalan, jadi pintu masuk ke lapangan tempat nontonnya ada dua bisa dari jln Raya Timur atau jln Kiaracondong. Bioskop ini berada di keramaian Cicadas yang padat apalagi kalau malam hari ada pasar malam yang menutup jln Kiaracondong, terminal oplet Cicadas – Binong, dan di jln Raya Timur terminal oplet dan bemo Cicadas – Aloen-aloen.

Sebetulnya di jln Kiaracondong Cicadas itu ada lagi bioskop lain yang lokasinya bersebrangan dengan “Taman Hiburan” itu yakni bioskop “Liberty” yang kemudian diganti dengan nama bioskop “Tjahaya”. Hanya kalau yang ini bioskopnya beratap dan agak baikan dibanding “Taman Hiburan”.

Film-film yang diputar di bioskop misbar adalah film biasa dan bukan termasuk film top, kebanyakan film lama biasanya produk Asia. Film bagus yang diputar di sini nanti kalau sudah lama beredar di bioskop kelas elit.

Film yang ramai saat tahun 60-an misal film Indonesia berjudul:
A Sing Sing So, Antara Timur dan Barat, Daerah Tak Bertuan, Anak Perawan Disarang Penyamun, Toha Pahlawan Bandung Selatan, bintangnya adalah angkatannya Nani Widjaja, Zainal Abidin, Pitrajaya Burnama, Suzana, Dicky Zulkarnaen. Sutradaranya, Turino Djunaidy, Alam Surawidjaja, dan Usmar Ismail.

 

Demikian juga film dari luar seperti Jango, Ben Hur, Run Man Run, Ten Commandment,  terus yang paling sering diputar di bioskop misbar ini adalah  film-film silat Cina, dan yang paling populer adalah film dari India.

Nonton film di “Taman Hiburan” semacam ini betul-betul murah meriah, tapi ya begitu hampir tak beda dengan nonton film layar tancap, tempat duduknya seadanya terbuat dari lajur-lajur bangku tembok tempat duduk penonton. Jika filmnya ramai dan penuh penonton kadang tidak kebagian tempat duduk, ya berdiri saja tidak masalah.

Sebagaimana nonton di tempat terbuka tidak masalah kalau sambil merokok karena tidak ada peringatan “no smoking”  maklum ac terbuka. Tidak heran juga sebagaimana di bus Damri sekarang banyak pedagang asongan yang menjual rokok, permen, dan kacang, bahkan karena banyak penonton membawa anak juga penjual balon.

Yang dikatakan meriah nonton di misbar adalah ramai oleh penonton yang sorak sorai juga diselingi suara suit-suit jika yang punya lalakon menang berlaga. Kedua, sorak sorai dan teriakan juga sering terjadi karena filmnya sering putus, dan ketiganya sorak sorai terjadi jika tiba-tiba gerimis datang bahkan hujan lebat. Penonton yang penasaran akan akhir cerita agak mepet ke pinggir lapangan bagian belakang yang biasanya ada sedikit atapnya untuk berteduh. Bahkan ada yang rela hujan-hujanan melanjutkan menonton di tengah hujan. Makanya jika musim penghujan dan maksa ingin nonton bintang film India kesukaannya sebaiknya membawa payung.

Di “Taman Hburan” ini pada malam minggu sering diadakan midnight show yakni pemutaran 2 film sekaligus mulai jam 12:00 tengah malam, film berakhir betul-betul menjelang sholat shubuh jam 04:00 pagi. Kalau menonton midnight show jangan lupa memakai baju hangat yang tebal karena udara malam Bandung yang saat itu begitu dingin. Kalau tidak punya jaket ya sarungan saja, bahkan kalau semakin dingin kaki bisa diangkat ke bangku tempat duduk kemudian dikerudung sarung asyik juga.

50 tahun kemudian yakni akhir bulan Juli 2011 ini, saya mendatangi lokasi “Taman Hiburan” Cicadas itu sekarang betul-betul tinggal waasna, lapangan tempat penonton hanya menjadi tempat parkir mobil untuk pemain futsal seperti foto-foto berikut:

 

Bagian depan yang berada di jln Kiaracondong sudah tidak terurus lagi, lihat loket tempat membeli karcis dan pintu masuknya. Dahulu kalau malam sudah larut dan di luar gedung sudah sepi pintu itu dibuka saja meskipun film masih diputar. Lumayan bagi yang maksa ingin menonton bisa masuk gratis dan soal cerita film tinggal sepotong tidak masalah, bahkan sebelum “The End” justru sedang seru-serunya cerita.

Layarnya masih dibiarkan ada, tapi tempat duduk sudah tidak ada dan kini ditumbuhi rumput dan patok-patok tempat parkir mobil.

 

Bioskop “Liberty” yang berada di seberang “Taman Hiburan” kini telah menjadi pusat pertokoan.

 ASTOR


Sekitar tahun 1993 terdapat sebuah bioskop yang megah dan ramai pada zamannya yaitu "Bioskop Astor" yang terletak di dekat Pasar Ujung Berung Salah satu bioskop yang cukup punya andil di Bandung. Terutama bagi masyarakat sekitar Bandung Timur saat itu

REGENT



Regent, salah satu bioskop di Kota Bandung, yang sudah berusia lebih dari 20 tahun, akhirnya "tutup usia". Mantan teknisi bioskop Regent, Nana Supriatna, ketika ditemui di Bandung, Kamis, menuturkan bioskop yang terletak di Jalan Sumatra No.2 itu sudah berhenti beroperasi sekitar dua bulan lalu, tepatnya akhir Juli kemarin.

"Pokoknya sebelum Ramadhan, kami sudah berhenti beroperasi. Ya sekitar akhir Juli 2011," kata Nana. Nana yang sudah bekerja di Regent sejak 2002, mengaku tidak tahu pasti kenapa tempat bekerjanya itu ditutup oleh pihak perusahaan.


"Yang saya tahu mungkin karena jumlah pengunjungnya yang semakin hari semakin berkurang. Sekarang kan makin banyak bioskop-bioskop baru yang lebih bagus," kata Nana. Nana menuturkan, dia dan keduabelas karyawan lainnya pun cukup terkejut ketika mendapat pemberitahuan dari pihak perusahaan bahwa pekerjaan mereka diputus.


"Kaget ya karena pemberitahuannya juga cukup mendadak. Kami hanya diberi waktu tiga hari untuk beres-beres. Kami semua di-PHK," kata Nana. Akibatnya, sebanyak 13 karyawan yang rata-rata sudah mengabdi cukup lama itu kehilangan pekerjaan.


Meski kehilangan pekerjaan, kata Nana, pihak perusahaan telah membekali mereka uang pesangon sebesar sekitar Rp 5,8 juta per orang.


Nana mengaku sedih harus berhenti dari pekerjaannya tersebut. Namun, sudah sejak lama dirinya sudah siap jika sewaktu-waktu bioskop yang sudah cukup tua tersebut harus ditutup karena kehilangan pengunjung.


"Saya sudah siap. Karena sejak lama juga sudah mengira ini pasti akan terjadi. Tapi ya tidak apa-apalah, sekarang saya juga masih di sini jadi tukang parkir," kata Nana yang kini kesehariannya berganti menjadi juru parkir di bekas tempatnya bekerja.


Kehilangan juga dirasakan masyarakat kota Bandung. Selama beberapa hari ke belakang, pembahasan tentang ditutupnya bioskop Regent sempat ramai dibicarakan di beberapa situs jejaring sosial, seperti Twitter.


Rayinda, mahasiswa perguruan tinggi negeri di Bandung mengaku sedih dan kehilangan. Pasalnya, bagi Rayinda bioskop Regent telah menyimpan banyak kenangan. "Pertama kali saya nonton film di bioskop, ya di bioskop Regent. Jadi sedih banget, pas tahu Regent udah tutup," katanya.


Menurut Rayinda, bioskop Regent mempunyai daya tarik tersendiri, yaitu tiketnya yang terjangkau. "Dari dulu, saya dan teman-teman kalau lagi pengen nonton film tapi lagi tidak punya uang, ya datangnya ke Regent. Soalnya harga tiketnya murah. Pas banget buat anak muda," lanjutnya.


Hal serupa juga diakui Haekal Adzani, mahasiswa sekaligus penggemar film. Menurutnya, setelah bermunculan bioskop-bioskop besar yang menawarkan fasilitas yang lebih menjanjikan, nasib 'bioskop tua' seperti Regent mulai di ujung tanduk.


"Dominasi bioskop besar dengan tarif yang cukup murah, namun dengan fasilitas dan kualitas yang lebih baik, bikin orang lebih memilih nonton di bioskop baru itu," katanya.


Selain kehadiran bioskop baru, kata Haekal, kemunculan DVD bajakan dan teknologi internet pun menjadi faktor terbesar. "Sekarang kan DVD bajakan bisa dibeli dimana aja, bahkan bisa diunduh lewat internet. Jadi bagi masyarakat menengah ke bawah justru akan lebih memilih nonton di rumah," lanjut Haekal.


Berdasarkan pantauan siang tadi, bangunan dalam bioskop sudah kosong. Poster dan spanduk film yang biasanya terpampang di depan gedung pun sudah tak tampak. Baik Nana maupun karyawan lainnya mengaku tidak tahu pasti akan dijadikan apa bekas bangunan bioskop tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar