Minggu, 30 Januari 2011

JANUR KUNING / 1979



SYNOPSIS
Film Janur Kuning di buat untuk mengenang mereka yang telah tiada semasa perjuangan merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia. Film Perjuangan yang saat ini sudah sangat susah sekali untuk di temui di TV.

Jenderal Sudirman (Deddy Soetomo) meski dalam kondisi sakit dan ditandu namun ia masih memimpin perang gerilya. Jenderal Sudirman meragukan perjalanannya ke Jogya karena kuatir perjanjian Roem Royen akan sama dengan perjanjian-perjanjian sebelumnya. Namun Letnan Suharto(Kaharuddin Syah) meyakinkan Jenderal Sudirman untuk memasuki kota Jogya karena Belanda telah kalah perang. Apalagi Presiden dan wakil presiden telah kembali ke Jogya hanya tinggal TNI yang belum kembali ke Jogya. Kalau Jenderal Sudirman menolak kembali Ke Jogya maka pemerintahan akan timpang dan tidak berjalan. Akhirnya Jenderal Sudirman luluh dan mau dibawa ke Jogya dengan ditandu.

Dalam upacara ketika memeriksa barisan prajurit TNI, Jenderal Sudirman menghampiri seorang prajurit gagah berani benama Komarudin. Komarudin meminta maaf pada Jenderal Sudirman karena ia pernah melakukan kesalahan dalam menghitung hari, namun sebagai seorang prajurit yang gagah berani, ia dianggap tidak bersalah oleh Jenderal Sudirman. Dalam pidatonya Jenderal sudirman menekankan kalau kita adalah cinta damai namun lebih cinta Kemerdekaan dari Belanda yang telah membuat persatuan dan kesatuan Indonesia bercerai berai. Dalam kondisi sakit Jenderal Sudirman tidak bisa tenang, ia tidak habis piker kenapa Belanda membatalkan perjanjian Renville. Sementara Jenderal Sudirman kalau boleh memilih ia akan mati di medan perang di bandingkan ia harus mati di tempat tidur.

****

Di kediamannya Istri Suharto, Siti Hartinah yang sedang hamil tua memiliki perasaan yang tidak enak. Ia menanyakan apakah latihan perangnya jadi atau tidak.  Namun Suharto meyakinkan kalau perasaan itu adalah bawaan bayi.

Sementara itu rakyat Jogya di kejutkan dengan suara raungan kapal terbang di atas langit Jogya. Termasuk juga dengan Sri Sultan Hamengku Buwono dan Suharto yang di buat kaget. Pada awalnya penduduk mengira kalau itu adalah latihan perang, namun Suharto segera tanggap dan meminta istrinya untuk menyiapkan perlengkapan. Suharto segera mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya ia mengambil kesimpulan kalau Belanda ingin merebut lapangan terbang Maguwo.

Suharto memerintahkan untuk menyiarkan melalui RRI Jogya dengan poin-poin sebagai berikut :  Kita telah di serang, Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda menyerang Kota Jogyakarta dan lapangan terbang Maguwo(lebih di kenal dengan Agresi Militer Belanda 2), Angkatan Perang Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata dan terakhir Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah diadakan u ntuk menghadapi serangan Belanda. Suharto pun berharap agar Pasukan Siliwangi turut berjuang untuk mempertahankan ibukota Republik Indonesia ini. (Jogya kala itu, skg Ibukota Indonesia adalah Jakarta). Namun sayang sekali Pasukan Siliwangi telah ditarik kembali ke Jawa Barat.

Akhirnya terjawab sudah oleh Suharto, perasaan tidak enak yang di alami oleh istrinya adalah karena Ibukota akan di serang. Akhirnya Istri Suharto disuruh untuk mengungsi, sementara itu Jenderal Sudirman disinyalir sudah keluar dari istana Jogyakarta. Sedangkan Suharto menyuruh anak buahnya untuk membakar markas setelah dokumen-dokumen penting telah ia singkirkan.

Baku tembak antara pasukan TNI dengan Belanda pun terjadi. Belanda bergerak memasuki ibukota. Demi perjuangan, maka Jenderal Sudirman untuk sementara waktu di suruh menyingkir dari Jogya. Sedangkan Suharto mencoba memberi perlawanan terhadap Belanda. Jenderal Sudirman tidak mengira kalau Belanda menyerang Belanda dari Maguwo. AKhirnya demi perjuangan, Jenderal Sudirman pun menyingkir dari Jogya. Rakyat pun di buat kalang kabut akibat pendudukan Belanda di Ibukota Jogyakarta. Sementara dari pihak Indonesia jatuh banyak korban dari para pejuang. Pos Pertolongan pun terpaksa di didirikan di pinggiran kota karena kuatir Belanda akan segera memasuki kota. Yang menonjol, Di Indonesia memiliki prajurit yang gagah berani bernama Komarudin. Ia menantang Belanda dengan dadanya.

Belanda berhasil menduduki kota Jogya. Untuk mengamankan jika terjadi keadaan yang darurat, Presiden Sukarno kekuasaan kepada  menteri kemakmuran untuk membentuk pemerintahan di Sumatera Barat jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat di Ibukota, maka pemerintahan akan di pindahkan ke Sumatera Barat. Akibat pendudukan Belanda, rakyat menjadi susah dibuatnya, orang-orang yang dicurigai sebagai TNI di tangkap.  Sedangkan Suharto dan anak buahnya terus melanjutkan perang gerilya. Dengan menyamar sebagai petani Suharto dan anak buahnya dengan berjalan kaki menyingkir dari kota Jogya melalui hutan-hutan sambil memberikan perintah setiap singgah di komandan perang di sector yang di lewati. Suharto juga menyiapkan strategi untuk membuat serangan balasan terhadap Belanda.

Pasukan Belanda semakin bertindak sewenang-wenang terhadap warga pribumi yang tidak tahu apa-apa. Yang dianggap ekstrimis ditangkap. Dalam pelariannya pasukan yang di pimpin Suharto berhadapan dengan prajurit Belanda. Dalam baku tembak yang terjadi dengan Belanda, Suharto di isukan mati tertembak. Hingga membuat kemarahan prajuritnya. Namun isu tersebut tidak berlangsung lama, karena Suharto akhirnya muncul ditengah-tengah mereka.

Sementara itu Belanda terus berusaha memecah belah penduduk dengan membuat kekacauan. Belanda dibantu oleh pengkhianat-pengkhianat bangsa melakukan kegiatan yang meresahkan masyarakat. Rakyat yang sudah menderita dari kekejaman Belanda, namun masih ditambah menderita dengan ulah para pengkhianat bangsa. Sementara itu SUharto menyiapkan Serangan balasan kepada pihak Belanda. Untuk menandai serangan yang kedua, maka tanda yang akan di gunakan adalah Janur Kuning.

*******

Suharto menerima surat dari Istrinya yang mengabarkan bahwa ia akan segera melahirkan. Disaat demikian sebenarnya ia ingin di temani oleh suaminya, Suharto, namun mengingat tugas Suharto yang berat maka ia pun mengerti dan mendukung perjuangan Suharto.

Untuk menyusun strategi penyerangan, Suharto mengkoordinasikan rencana penyerangan secara matang. Rencana penyerangan akan di lakukan pada 1 Maret 1949.  untuk menyemangati perjuangan rakyat, Suharto memberikan keyakinan kalau Indonesia masih mampu. Suharto ingin menunjukkan pada dunia kalau Indonesia masih memiliki angkatan perang yang tangguh. Untuk memberi tanda pada serangan nanti, maka Suharto menyuruh untuk memakai tanda Janur kuning yang di kalungkan. Dengan di Bantu oleh elemen masyarakat dan TNI yang bersatu , maka Serangan umum 1 Maret 1949 pun terjadi. Indonesia memiliki seorang pejuang yang gagah berani dan tidak takut mati seperti Komarudin. Meski seringkali bertindak di luar kendali namun keberanian yang ditunjukkan untuk membela Indonesia membuat prajurit yang lain ikut bersemangat.

Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan belanda yang di pimpin oleh Kolonel Van Langen Kocar Kacir. Pasukan Indonesia terus maju dan memukul jantung pertahanan Belanda. Akhirnya pertempuran selama 6 Jam di Jogya membuahkan hasil bagi Indonesia. Jogya kembali di kuasai oleh RI.






FILM
https://www.youtube.com/watch?v=UOzeQWqp8t4


NEWS
Film  ini sarat dengan kotroversi, tapi entah kenapa ketika Soeharto turun  baru dipermasalahkan. Seakan semua orang tidak ada yang berani  mengutarakan itu saat Soeharto berkuasa. Banyak tudingan bahwa film ini  adalah orderan dari Soeharto sendiri sebagai presiden yang ingin  mempropagandakan dirinya dalam perjuangan dan sejarah melalui film.  Entah kenapa Alam mau membuatnya, apa karena uang dan tekanan, tidak ada  yang tahu. Tapi Alam memang kerap kali membuat film-film tentang  perjuangan Indonesia dalam revolusi.

Film ini menceritakan tentang perjuangan kemerdekaan dalam  meraih kembali kemerdekaannya yang direbut kembali oleh pasukan sekutu.  Latar belakang yang diambil adalah di sekitar peristiwa. Tokoh-tokoh nyata yang ditampilkan di sini di antaranya adalah Soeharto dan Jendral Sudirman.

Janur kuning adalah lambang yang dikenakan para pejuang di lengan sebagai tanda perjuangan kemerdekaan tersebut.

Film kedua tentang peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Film dengan biaya  termahal di zamannya, sekitar Rp 375 juta. Sempat macet sebulan saat shooting, karena kehabisan biaya.

AGAK  istimewa peringatan sekali ini di Yogya. Pada 1 Maret pagi sekitar  400 anggota eks Resimen XXII, yang memegang peranan "Serangan Oemoem  1 Maret 1949", bersama ratusan pemuda, kembali     memperagakan  peristiwa bersejarah itu. Benteng Vredenburg yang     terletak di  seberang Gedung Agung dijadikan sasaran utama, sekaligus pusat  upacara. Bioskop Plaza, Jakarta, yang biasanya memutar film kung fu,  pada tanggal yang sama mempertunjukkan film Janur Kuning. Wakil      Presiden Adam Malik dan Gubernur Jakarta Tjokropranolo --     seorang  bekas pelaku S.O. 1 Maret 1949 -- tampak menonton.     Film JK yang  dibiayai Metro 77, P.T. Daya Karya Mandiri dan     sebuah yayasan,  menghabiskan Rp 375 juta -- film Indonesia     termahal selama ini.  Lebih Rp 100 juta di atas biaya film     November 1828. Disutradarai  Alam Rengga Surawidjaja, ia sempat     macet hampir sebulan karena  kehabisan uang.

Mantan  presiden Soeharto dituding telah memanipulasi fakta sejarah, kali ini terkait dengan proses pembuatan film perjuangan Janur Kuning yang mengambil lokasi syuting di Yogyakarta.

Panjang film yang dibuat oleh produser Metro 77 dari  Kepolisian pada tahun 1979-1980 itu semula berdurasi enam  jam. Kemudian setelah proses editing oleh Perusahaan Film  Negara, maka tinggal tersisa tiga jam dan telah Soeharto  ikut campur tangan dalam proses itu.

Film itu masih diedit lagi oleh Badan Sensor Film sehingga  tinggal  berdurasi 105 menit dengan isi yang lebih  menonjolkan peran Soeharto  dalam kisah Serangan Oemoem 1  Maret 1949.

Menurut supervisor pembuatan film itu, Brigjen (Purn)  Marsudi kepada wartawan di Hotel Garuda, Yogyakarta, Kamis  (14/2), ada adegan penting berdurasi sekitar 30 menit yang  sengaja dihilangkan oleh Soeharto.

Adegan itu adalah pertemuan Soeharto dengan (almarhum)  Sultan Hamengku Buwono IX di rumah Prabuningrat, di kawasan  Kraton Kilen.

Dalam pertemuan itu Sultan HB IX memberikan perintah  kepada Soeharto agar melakukan serangan ke Belanda yang  menguasai kota Yogya kala itu. Pertemuan itu hanya empat  mata dan terjadi pada 14  Februari 1949 pukul 24.00 sampai  pukul 01.00 WIB 15 Februari 1949,”  kata Marsudi.

Film Janur Kuning itu akhirnya memang dipasarkan pada tahun  1981 dan kemudian menjadi film wajib tonton bagi para  pelajar SD sampai dengan SMA kala itu. Pencekokan film  sejarah itu terus dilakukan hingga tahun 1998, sampai  Soeharto dilengserkan dari kedudukannya oleh rakyat  Indonesia. Dan tentu saja, yang ditonton para pelajar itu  tidak terdapat adegan peran penting Sultan HB IX dalam memberi perintah kepada Soeharto.

Menurut Marsudi, HB IX mengikuti terus perkembangan berita  luar negeri lewat Suara Amerika. Ketika Sultan mengetahui  bahwa Belanda menyiarkan berita buruk bagi Republik  Indonesia, maka ia berpikir untuk melakukan gerakan cepat  berupa show of force.

”Sultan memberi perintah agar seluruh pasukan gerilya yang  kala itu dipimpin oleh Soeharto masuk kota dan menyerang  Belanda pada siang bolong. Dalam serangan itu akhirnya  memang tidak menang, hanya ingin menunjukkan kepada mata  internasional bahwa Republik Indonesia masih ada,” ujar  kakek ini.

Marsudi sendiri pada masa perang gerilya di Yogya menjabat  sebagai              salah satu dari empat perwira staf di bawah komando  Soeharto. Ia              menjabat sebagai Perwira Staf Kepala Seksi I  di bagian inteljen.

Adegan yang dipotong Soeharto itu, ujar Marsudi, ada  beberapa dialog antara Sultan dan Soeharto. ”Waktu itu  Sultan bertanya kepada Soeharto: Soeharto, sanggupkah  melakukan serangan ini? Bila sanggup, jangan sampai gagal!”  kata Marsudi, menirukan adegan pertemuan HB IX  dan  Soeharto dalam film.

Pengatur pertemuan antara Soeharto dan Sultan HB IX adalah  Marsudi dan Prabuningrat, orang kepercayaan Sultan.

Soeharto diwajibkan mengenakan pakaian adat Jawa. Dalam  adegan itu -dan memang sudah disetujui oleh Sultan HB IX  karena berdasarkan fakta yang sebenarnya - Soeharto tidak  langsung menjawab. Ia diam beberapa saat untuk berpikir.

”Itu wajar saja, sebab pasukan tersebar di banyak tempat  dan di luar kota. Kala itu sulit menghubungi pasukan dengan  cepat karena keterbatasan alat komunikasi. Tidak ada  telepon waktu itu,” ujar Marsudi.

Yang menyedihkan adalah, HB IX yang meninggal pada 3  Oktober 1987 itu belum diketahui apa komentarnya setelah  film itu jatuh ke tangan  Soeharto dan kemudian dikebiri  habis-habisan hingga tinggal 105 menit, termasuk  menghilangkan bagian adegan pertemuannya dengan Soeharto.

”Kami sendiri saat ini berusaha mengumpulkan kembali  seluruh adegan film tersebut, terutama yang 30 menit  tersebut. Saya sendiri kecewa adegan itu dihilangkan,”  tutur Marsudi.

Sementara itu menurut mantan Kepala Badan Sensor Film  Thomas Sugito yang juga hadir dalam pertemuan di Hotel  Garuda itu, pada tahun 1981 ia masih menjabat, ia menerima  film Janur Kuning itu berdurasi tiga jam dari Produser Film  Nasional yang dikepalai oleh Dipoyono M.

”Itu merupakan moeder (master) film. Dari sana masih disensor lagi sehingga tersisa 105 menit.

Dalam film yang tiga jam itu adegan pertemuan Sultan HB IX  dan Soeharto juga sudah tidak ada,” katanya.

 Soeharto Murka Bahkan soal pemotongan film oleh Soeharto itu ia dengar  langsung  dari Dipoyono (almarhum). ”Pak Dipoyono mengaku  sempat dipanggil sebanyak tiga kali oleh Soeharto dan  dimarahi setelah melihat film Janur Kuning hasil editing PFN. Film itu masih harus dipotong di beberapa bagian lagi.  Ketika menjadi tiga jam, peran HB IX memang sudah banyak  yang hilang,” katanya.

Sementara itu jika dalam film Janur Kuning peran Soeharto  tampak  menonjol, bagi Marsudi memang wajar saja karena  memang ia komandan  pasukan. ”Tapi saya tetap menyesalkan  adanya pemotongan adegan fakta  sejarah selama 30 menit  itu,” ujar Marsudi.

Untuk mengenang perjuangan para veteran perang itu, maka di Yogyakarta akan digelar acara peringatan 53 tahun Serangan  Oemoem 1  Maret 1949 dan Yogya Kembali 29 Juni 1949 yang  dipusatkan di halaman  Hotel Garuda. Sebab di sanalah dahulu  para gerilyawan itu memulai              serangannya kepada pasukan  Belanda yang berada di Hotel Tugu yang  berjarak sekitar 100  meter di sisi utara Hotel Garuda.

Untuk mengenang perjuangan para veteran perang itu, maka di Yogyakarta akan digelar acara peringatan 53 tahun Serangan  Oemoem 1  Maret 1949 dan Yogya Kembali 29 Juni 1949 yang  dipusatkan di halaman   Hotel Garuda. Sebab di sanalah dahulu  para gerilyawan itu memulai              serangannya kepada pasukan  Belanda yang berada di Hotel Tugu yang  berjarak sekitar 100  meter di sisi utara Hotel Garuda.

Acara itu akan dimulai pada 18 Februari mendatang dengan  tirakatan  dan doa perdamaian, disusul lomba lukis (3  Maret), lari marathon 10 K (14 April), karya tulis ilmiah  (31 Mei), dan apel pejuang (29 Juni  2002). ”Film Janur  Kuning tidak akan kami putar karena memang tidak  lengkap.  Mungkin nanti jika yang dipotong itu sudah kami temukan, kami akan memutarnya untuk generasi muda sekarang,” tutur Marsudi yang juga menjadi ketua panitia peringatan tersebut.

Film Janur Kuning
Dibuat Seasli Mungkin, tetapi Menyesatkan Oleh J.E.Siahaan.

JAKARTA – Film Janur Kuning (1979) tidak lepas dari Serangan Oemoem 1 Maret 1949 (SO) yang dilancarkan TNI terhadap Belanda yang sedang menduduki Ibu kota RI Yogyakarta dan menduduki kota itu selama 6 jam. Ada kesan film Janur Kuning dibuat seasli mungkin agar menjadi rekonstruksi SO 1 Maret 1949.

Hal ini terbukti pada penggunaan nama pelaku peristiwa menjadi nama pelaku film meski pendekatan yang dipakai berlandaskan film-bioskop sementara disiplin sinematografi mengisyaratkan bahwa pendekatan fiksi selalu melibatkan aspek rekreasi.

Konsekuensi pendekatan yang dilakukan kepada Janur Kuning, cenderung mengundang pertanyaan misalnya, benarkah adegan itu terjadi? Kelihatan asli tetapi menyesatkan.

Akan tetapi dalam hal kebenaran fakta sejarah pantas dipertanggungjawabkan. Maka pertanyaannya adalah: siapa yang harus bertanggung jawab dalam film ini? Konvesi yang berlaku umum dalam kerja film menetapkan, bahwa orang yang bertanggung jawab atas sebuah karya sinematografi pertama-tama adalah sutradara terutama dalam hal isi, segi-segi artistik mau pun bentuk. Akan tetapi di masa Orde Baru nyatanya tidak selalu demikian. Terlalu banyak disiplin pembuatan film yang dicampuri pihak lain, terutama oleh pihak kekuasaan, sebab di atas sutradara ada otoritas lain yang merasa lebih tahu soal-soal film di antaranya aparat Deppen, produser, dan pemilik uang atau sponsor.

Dalam hal Janur Kuning mestinya Alam Surawijaya yang bertanggung jawab. Dia yang berwewenang mengubah-ubah film. Akan tetapi informasi yang disebarkan oleh supervisor pembuatan Janur Kuning, Marsudi, 20 tahun sesudah film dibuat memberi petunjuk bernada gugatan, bahwa orang yang bertanggung jawab tidak lain dari mantan Presiden Suharto.

Ada adegan penting berdurasi sekitar 30 menit yang sengaja di dihilangkan oleh Soeharto’, katanya kepada wartawan Sinar Harapan. Gugatan ini diperkuat Thomas Sugito, mantan Kepala Badan Sensor Film (BSF) yang mengaku membabat film dari durasi 3 jam menjadi 105 menit. (SH, 15/2/2002). Tetapi dalam katalog Film Indonesia 1926-1995 J.B.Kristianto, 1995, menyebut 178 menit atau 3 jam masa putar kurang 2 menit.

Kalau pun informasi Marsudi akurat (pengebirian film dari 3 jam menjadi 105 menit) masih bisa diterima akal, kendati bukan akal yang tidak sehat, sebab pertama, nama Soeharto sebagai pelaku otentik peristiwa dipakai untuk pelaku film.

Kedua, motif pembuatan film selain berkaitan dengan bisnis pihak-pihak tertentu juga akan menjadi film sebagai’ bagian dari upaya membangun legitimasi historis rezim Orde Baru’ (Dr Asvi Warman Adam, Kompas, 1 Januari 2000).

Ketiga, Soeharto telah mengucurkan dana Rp 385 juta, (suatu jumlah yang bisa membiayai 2 film biasa waktu itu). Oleh karena itu bagi Soeharto yang memerintah secara otoriter sah-sah saja kalau dia ikut mengendalikan pembuatan film yang membawa namanya ini.

Namun di atas masalah pengebirian yang digugat Marsudi masih ada yang perlu digugat dalam film Janur Kuning adalah mengenai kebenaran fakta sejarah dari SO.

Pertama menyangkut pertanyaan ‘siapa pencetus serangan dan kedua masalah pengabaian fakta serta eliminasi tokoh-tokoh sejarah.

Mengenai pertanyaan pertama sudah pernah diajukan oleh almarhum Mr Soedarisman Poerwokusumo kemudian ditindaklanjuti oleh mingguan Tempo kepada tangan pertama: yakni Presiden Soeharto. Namun jawaban Suharto cukup sederhana Tanyakan saja kepada yang bersangkutan yang masih hidup. Apakah (saya) pernah memberi komando Serangan Umum 1 Maret atau tidak. (Tempo, 9-11-85)

Jawaban ini tentu saja tidak ‘nyambung’, dengan pertanyaan Soedarisman, sebab yang ingin diketahui oleh Rektor Universitas Janabadra ini bukan siapa pelaksana SO. Yang diperlukan adalah pengakuan yang lebih jujur tentang kenyataan sejarah. Perkara orang yang memberi komando atau pelaksana serangan tidak lagi dipersoalkan.

Sebagai mantan Walikota Yogyakarta 1947-1966 niscaya dia lebih tahu.
Tidak mustahil pula apabila pertanyaan tersebut muncul setelah menonton film Janur Kuning atau pun setelah membaca buku-buku ‘wajib’ tentang SO 1 Maret 1949 apalagi informasi yang lebih awal mengenai hal itu sudah ada dalam Laporan Dari Banaran (LDB) karya Kol Simatupang, terbit hampir lebih dari 20 tahun sebelumnya Janur Kuning. Itulah bukti yang lebih otentik tentang siapa pencetus pertama SO.

Pada catatan harian tanggal 18-2-1949, Simatupang justru menyebut nama Kol Bambang Sugeng sebagai pencetus serangan. Yogya harus direbut dengan senjata, katanya kepada Simatupang dalam satu pertemuan di markas Banaran sebulan sebelum SO. Bambang Sugeng menginginkan Yogyakarta diserang secara spektakuler ‘agar menjadi jelas bagi sejarah tidak menerimanya sebagai hadiah. Menurut catatan tersebut kedua perwira tinggi itu masih membahas gagasan Kol Sugeng, termasuk mengenai besar kekuatan yang dapat dikumpulkan untuk melakukan serangan ke Ibukota RI yang sedang diduduki Belanda tersebut (hl 60). Malah sumber lain yang muncul belakangan menyebut bahwa serangan resmi hanya boleh dilakukan sesudah Sri Sultan Hamengku Buwono IX meneruskan Instruksi Rahasia dari Kol Bambang Sugeng kepada Let Kol Suharto (Vence Sumual, Hanya Menatap Ke Depan, 1998) artinya, masih ada keputusan lain yang perlu ditunggu Suharto sebelum serangan dilancarkan.
Karena itu cukup alasan untuk menerima kesimpulan Hamish McDonald yang mengatakan:.. the idea of the attack not from the young army colonel but from higher authorities and was conveyed to him through Sultan Hamengku Buwono (catatan kaki dalam Indonesian Cinema, Framing the New Order l994, (hl 169). (Gagasan Serangan Umum bukan berasal dari seorang letnan kolonel AD, melainkan dari pangkat yang lebih tinggi kemudian diteruskan kepadanya melalui Sri Sultan Hamengku Buwono IX.)

Secara eksplisit film Janur Kuning tidak menyebut Letkol Soeharto sebagai pencetus SO ‘Pengakuan’ hanya dapat ditangkap melalui dialog dalam berbagai adegan. Pada salah satu adegan (dalam skenario Sc 77) misalnya, Letkol Suharto membaca surat Sri Sultan. ‘Pak Harto yang terhormat .....dan seterusnya, dan pada akhir surat terdengar suara Sri Sultan:. Bagaimana pendapat Pak Harto...dan seterusnya. Pada adegan lain (Sc 82c dalam skenario) Sri Sultan mengulangi ucapannya dalam pertemuan dengan Letkol Soeharto: Sebelum sidang Dewan Keamanan kita harus dapat membuktikan bahwa kita masih memiliki kekuatan untuk merebut kemerdekaan kita dan serangan ini harus dilakukan siang hari...(Let Kol Soeharto memotong) ...Saya sudah merencanakannya Pak....” agar (lanjut Sri Sultan) Belanda jangan menuduh tentara kita sebagai ekstrimis atau perampok...

Dari dialog tersebut dapat disimpulkan bahwa para perancang film telah merekayasa tokoh utama sebagai orang yang paling tahu tentang situasi politik yang berkembang saat itu sehingga tega ‘menyuruh’ Sri Sultan meminta pendapat kepada Letkol Soeharto. Dan yang paling ‘lucu’ adalah bahwa ‘ tokoh utama begitu berani memotong pembicaraan atasannya yang notabene adalah seorang Sultan, hanya untuk memberi kesan kepada penonton bahwa dia yang lebih kuasa waktu itu.

Kultus individu
Tidak bisa disangkal bahwa film ini adalah upaya pengkultusan, suatu cara yang pernah dirintis para diktator di berbagai negara. (Hitler pada kekuasaan rezim Nazi Jerman, Stalin di negara komunis Rusia (Uni Soviet dulu) Pengkultusan dalam Janur Kuning sangat kental pada adegan-adegan film. Ketika pasukan gerilya masuk ke sebuah kampung Soeharto heran setelah melihat penduduk rame-rame mengelu-elukannya. Ternyata anak buah Soeharto telah lebih dulu menyebarkan berita bahwa Soeharto kena tembak namun bisa lolos dengan selamat. Dalam salah satu dialog dia berkata: Memang benar, kami diberondong tetapi berhasil menyelusup di antara kedua regu bren itu...” tanpa memperlihatkan bagaimana penyusupan dilakukan.

Pengkultusan lain juga dilakukan melalui surat isteri. Pelaku utama: Perampokan dan penggedoran sudah tidak ada sejak ada gerilyawan bernama Marsudi (supervisor film ini) yang paling ditakuti Belanda...

Tokoh Jend Sudirman juga memuji Letkol Soeharto sebagai prajurit yang hebat ketika dia mengungkapkan kegundahannya mengenai perjanjian yang diingkari Belanda. Tetapi dengan penuh semangat Soeharto menjawab: ”Bila Belanda mengkhianati kita lagi, mereka tidak hanya menghadapi tentara nasional...dan seterusnya. Ini telah terbukti selama saya memimpin Brigade Sepuluh untuk melumpuhkan pertahanan musuh di Kota Yogya... Mendengar jawaban tersebut Sudirman secara spontan memuji:”Kau adalah Komandan Wehkreise III Yogyakarta...”
Tidak hanya petinggi Indonesia yang dikerahkan memuji kehebatan Soeharto tetapi juga serdadu-serdadu Belanda bahkan anggota Komisi Tiga Negara KTN). Prajurit Belanda bahkan menyatakan tokoh utama bagai siluman. Pada upacara penarikan mundur pasukan Belanda dari Yogyakarta sekaligus menyambut TNI yang baru turun dari medan gerilya, Jendela Meyer dari KTN didampingi Sri Sultan Hamengku Buwono IX berjalan memeriksa barisan TNI bersama Jenderal Meyer. Di hadapan Suharto Sri Sultan sengaja berhenti sejenak sambil berkata:. Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10. (pada deskripsi skenario ditulis : Jenderal Meyer tertegun, seolah tidak percaya). Jenderal Meyer: Inikah yang namanya Soeharto (deskripsi skenario: Jenderal Meyer menggoyang-goyang tangan Letkol Soeharto sambil menepuk-nepuk bahunya): Bukan main, (dia berkata).

Reduksi dan eliminasi fakta
Menjelang akhir cerita atau awal film (film dibuat menurut struktur flash back) tokoh Jend. Sudirman tampak sedang menuruni bukit ditandu menuju kota Yogyakarta. Adegan ini mengacu pada Kisah-Kisab Zaman Revolusi (1977) karya Rosihan Anwar yang kemudian dikutip oleh Dr Mestika Zed untuk disertasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, Sebuah Mata Rantai Sejarah Yang Terlupakan, 1997) Mestika Zed menulis a.l: ”Rosihan Anwar masih ingat saat mereka menjemput Sudirman, mula-mula naik jip sampai Wonosari, kemudian sepeda, dan akhirnya berjalan kaki hingga tiba di tempat Panglima Besar tinggal di rumah lurah setempat. Esoknya Pak Dirman yang sedang sakit kembali ke Yogyakarta dengan ditandu dan diiringi oleh utusan dan pasukannya. (hal 287,288)

Akan tetapi dalam LDB (terbit ulang 1980) T.B Simatupang menulis, bahwa dia bersama Pak Hardjo menjemput Sudirman dengan sedan ke Wonosari dan pada hari itu juga bersama-sama Pak Dirman ke Yogyakarta (hl176). Selanjutnya Simatupang menulis: ”... Tanpa mengucapkan kata-kata, Pak Dirman dan kami saling merangkul waktu Pak Dirman bangkit dari tandu yang telah diturunkan ke tanah oleh para pengangkut. Kemudian mereka bercakap-cakap sebentar di dalam rumah sambil menunggu kedatangan Pak Dirman. Beberapa saat kemudian, mereka masuk mobil lalu menuju Yogyakarta dan sorenya Simatupang menyertai Pak Dirman ke istana (hl 195) dan dari istana ke Alun-alun Utara menghadiri parade penyambutan pasukan TNI. (hal. 196). Setelah Pak Dirman memeriksa parade, Sudirman bersalaman dengan Mr Syafruddin Prawiranegara (hl 198).

Dalam film Janur Kuning adegan penyambutan dengan sedan, percakapan Simatupang dengan Sudirman di rumah Pak Lurah, pertemuan dengan Bung Karno dan Bung Hatta di istana, bahkan sosok Mr Syafruddin, Ketua PDRI yang tiba hari di Yogyakarta setelah 3 bulan bergerilya di tengah rimba Sumatera, tidak mendapat perhatian yang wajar dalam adegan film, bahkan terkesan menyepelekan tokoh yang mempertahankan eksistensi Republik Proklamasi itu. Tidak hanya itu. sidang kabinet pagi 19 Desember 1948, dan penangkapan tokoh-tokoh puncak Republik Indonesia oleh tentara Belanda tidak mendapat digubris dalam Janur Kuning Dari segi teknis produksi, membuat adegan-untuk fakta di atas tidak lebih sulit ketimbang pembuatan adegan-adegan sensasional fiktif seperti pertempuran spektakuler dan penggempuran kota dengan pesawat tempur dalam adegan prolog SO. Dengan rekayasa seperti ini sadar atau tidak sadar para pembuat Janur Kuning telah terperosok pada penggunaan idiom-idiom pembodohan lewat pengkultusan. Tugas yang diemban Letkol Suharto dalam melaksanakan SO tidak lebih sebagai tugas profesional biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan lewat rekonstruksi fiktif dan menyesatkan. Apa yang dilakukan Letkol Suharto tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh prajurit TNI dimana pun di Indonesia waktu itu. Oleh karena itu pernyataan seorang perwira militer berbisnis film yang akan menggunakan Janur Kuning sebagai ‘a lesson in history particularly for the younger generation (Khrisna Sen, hl 102) patut ditolak. Film-film propaganda semacam itu tidak sejalan dengan proses demokratisasi yang kini sedang berlangsung. Film ini hanya layak untuk studi kepustakaan di sinematek dengan catatan: dilarang dipertunjukkan di muka umum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar