Selasa, 25 Januari 2011

BENYAMIN SI ABUNAWAS / 1974

 

Karena didesak pacarnya, Warni (Ida Royani), Napi (Benyamin S) yang sudah ngebet kawin, mencari kerja ke Jakarta. Begitu tiba di stasiun Gambir, sudah terjadi salah paham. Marni (Rosaline Oscar), yang karena konflik dengan suaminya, Pinarto (Benyamin S.) pengusaha meubel, mengira Napi adalah suaminya yang sengaja mau memata-matai. Nasib mempertemukan Napi dan Pinarto. Napi diterima jadi pegawai dan setelah dicoba berbagai macam kerja, akhirnya jadi tukang antar barang dan tukang tagih. Kelucuan diekploitasi karena kekembaran dua orang yang berbeda pangkat itu: soal penguangan cek, kesalahpahaman istri, rekan-rekan usahawan, bahkan Napi digunakan oleh pegawai Pinarto yang dipecat untuk mencurangi perusahaannya tanpa tahu, karena Napi tak bisa baca-tulis. Anehnya, mereka sungguh-sungguh tak mencari tahu kemiripan mereka. Di akhir cerita baru diberi tahu bahwa mereka anak kembar yang terpisah waktu revolusi.

News
05 Oktober 1974
Se'gitu doang

DI tahun limapuluhan, penonton film Indonesia sempat menikmati film dengan judul Abunawas. Cerita kocak yang dibintangi oleh Raden Syamsit (kini anggota tetap Komedia Jakarta di TVRI) mendasarkan kisahnya pada dongeng-dongeng 1001 malam yang memang amat populer. Di tahun 1974 ini, Dipa Djaya Film muncul pula dengan Abunawas, pada layar lebar dan berwarna-warni. Tapi harap perhatian anda semua: ini film sama sekali tidak berurusan dengan kisah 1001 malam yang barangkali dianggap berlindung di balik film yang dimainkan Benyamin Suaeb dan Ida Royani.

Hanya untuk menyelamatkan jumlah maka di bagian akhir film ini, Tien Rengat, penulis skenario, merasa terpaksa untuk menyelipkan dialog yan menyerempet nama Abunawas. Nama Abunawas memang tidak dikunjungi oleh kantor patent tapi popularitasnya dengan konotasi yang khas dalam masyarakat, paling sedikit harus dihormati oleh setiap orang yang ingin mem-perdagangkannya. Barangsiapa yang sempat menyaksikan Abunawas versi Wiashi Dipa ini, tentulah akan sampai pda kesimpulan betapa jalan memintas telah ditempuh oleh sang produser untuk meraih sebanyak mungkin uang. Sudah jelas tidak ada sedikitpun karakter Abunawas dalam film yang disutradarai oleh Fritz G. Schadt ini. Tokoh Napi (Benyamin) memang konyol, tapi tidak lihay macam Abunawas yang konon selalu berhasil mengecoh raja Harun Al-Rasyid di kota Bagdad. Keberuntungan Napi dalam film Dipa Djaya ini justeru bukan karena kepandaiannya, tapi melulu lantaran mukanya mirip dengan saudagar Pinarto (juga dimainkan oleh Benyamin). Bisa Diterka Kisah kehidupan rakyat kecil ini bermula ketika seorang perempuan menolak kawin dengan lelaki konyol tanpa kerja. Bisa diterka yang laki adalah Benyamin, yang perempuan dimainkan Ida Royani. Dorongan untuk kawin itulah yang menyeret Naii ke Jakarta. Orang kampung yang memang sudah konyol ini tentu saja makin jadi konyol di mata penduduk Jakarta. Dan dari situasi macam ini terlalu banyak lelucon yang suka ditimba oleh para produsen sebelum akhirnya dijual massal kepada para pembeli karcis. Puncak keko- nyolan muncul ketika di layar lebar bertemu muka dua Benyamin. Maka terciptalah berkarung-karung lelucon akibat kerja kamera K Husein yang cukup teliti dengan adegan kembarnya. Melewati serentetan banyolan yang dibuat-buat, cerita berakhir pada suatu kenyataan bahwa kedua Benyamin dalam tim Washi Dipa ini sesungguhnya memang saudara kembar.

Habis perkara. Dan polisi boleh kalang kabut kocak juga kalau diingat bahwa tokoh polisi diperankan oleh Haji Mansyur Syah yang akhir-akhir ini sibuk dengan peran-peran konyol) sementara yang akhirnya harus diborgol adalah nereka yang memancing di air keruh, yakni mereka yang memperalat Napi konyol untuk mengambil uang Pinarto dari Bank. Maka kembali judulnya yang bisa mengecoh, juga yang istimewa dari tontonan ini adalah permainan kembar Benyamin. Tapi kombinasi Benyamin-Ida Royani (yang konon masih tetap komersiil), ternyata tidak menghasilkan apa-apa yang baru terasa sekali bahwa yang dijual hanya nama mereka, dan bukan kebolehan mainnya. Skenario yang amat lemah juga tidak merangsang Fritz G Schadt untuk lebih gesit dengan aksi tambal sulam. Hasil kerja sutradara dan awak produksi memang tidak lebih dari sebuah tontonan dengan lawakan dari itu ke itu saja. Dan jelas hal semacam itu amat membosankan adanya. Salim Said

Tidak ada komentar:

Posting Komentar