Rabu, 09 Februari 2011

KRISIS / 1953


KRISIS

Bercita-cita menaikkan mutu film Indonesia, ternyata Perfini mengalami krisis, karena produksinya kurang diminati penonton. Usmar Ismail mencoba kompromi dengan film ini. Ternyata laris dan bisa mengatasi krisis keuangan Perfini. "Krisis" adalah film terlaris Indonesia sesudah sukses besar "Terang Boelan" (1938). Reddin adalah anak Usmar Ismail.


Saat dilokasi shooting film Krisis


Sejarah perfilman Indonesia pernah mencatat bahwa Usmar ismail dengan film Krisisnya (Krisis Perumahan) mampu menggeser keberadaan film-film inport di bioskop kelas satu. Pada masa itu belum pernah terjadi sebuah film mampu bertahan selama 35 hari , dengan penonton yang relatif besar jumlahnya. Dimana pada saat itu film Indonesia harus selalu berhadapan dengan dominasi film import, tidak saja secara komersial-ekonomis tetapi juga sosial-politis. Krisis ini mencerminkan dimana problem pemasaran masih terletak pada sikap pengusaha bioskop, sehingga film indonesia belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.







Waktu mengungsi dimasa revolusi, Jaka (Rd Sukarno) menitipkan rumahnya kepada husin (Udjang), yang lalu menyewa – kontrakkannya. Maryam (Tina Melinda) harus menerima kenyataan pahit yang masih harus di tambah lagi dengan kedatangan saudaranya, Danu (Wahid Chan) dan istrinya Ratih (Risa Umami). Danu ini menggunakan uang negara untuk memanjakan istrinya. Ia ditangkap ketika sedang mengadakan selamatan tujuh bulan kandungan istrinya. Karena kaget, Ratih melahirkan mendadak dan mengeluarkan banyak darah.. sementara yang lain panik, pemuda acuh tak acuh Ridwan (Aedy Moward) menyumbangkan darah. Hal ini membuat Ros (Nurnaningsih) tertarik, padahal sebelumnya ia lebih menaruh perhatian pada Surya (Ismail Saleh), yang ternyata seorang pengecut. Dan film ini dilanjutkan lagi dengan judul Lagi-Lagi Krisis.
News
TIDAK kurang dari almarhum Umar Ismail sendiri ketika itu yang telah memainkan tangan. Bukan sebagai tanda Cut buat juru kamera melainkan sebagai sebuah kepalan yang di Jotoskan kerahang seorang bernama Weskin, pemegang kuasa tunggal soal perbioskopan di kawasan Jawa Barat termasuk Jakarta. Itu peristiwa di tahun 1954. Mengapa sang sutradara yang terkenal bertangan halus itu sampai main tonjok? Tentu ada pasal. Di tahun-tahun itu produksi film pribumi keadaannya bagai kaum paria. Bioskop-bioskop kelas wahid membarikade dirinya bagi kemungkinan giliran masuknya film jenis ini. Dan ketika menerima jotosan Usmar konon Weskin hanya balas berkata "Saya memahami sikapmu, karena untuk kepentingan tanah airmu". Tidak terjadi duel. Juga tidak tersiar sentimen rasial. Sebab tak lama kemudian gedung Metropole satu-satunya yang termewah waktu itu--mulai membuka pintu buat memutar film "Krisis". Sekaligus dengan hasil yang lumayan mengagetkan: sanggup bertahan 35 hari, bahkan di hari terakhir masih tetap penuh. Soalnya kemudian Metropole menghentikan pertunjukan karena ada ancaman dari MGM, bila giliran tak juga disediakan bagi film yang diageninya kontrak niscaya bubar. Cabe rawit. Film memang barang dagangan, setidaknya begitu satu-satunya kesimpulan yang ada di kalangan pedagang film dan pengusaha bioskop. Hasrat memperjanjikan bahwa film itu bukan semata-mata barang dagangan, melainkan alat pendidikan, penerangan dan sebangsanya, seperti telah tercantum dalam ketetapan MPRS, nampaknya sementara ini boleh tinggal sebagai cita-cita. Sebab bioskop yang berserakan di pelbagai kota, dijalankan pemiliknya menurut pola untung-rugi. Sehingga boleh berpikir bolak-balik lebih dulu buat memprodusir sebuah film yang bertema pendidikan. Kenyataan pula sebelum sebuah film sampai pada publik, yang menentukan patut tidaknya diputar adalah pedagang film Jan pemilik bioskop.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar