Rabu, 16 Februari 2011

Ke semarang dengan tantangan

AKHIRNYA ketiga film produksi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) lolos juga. Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 1980 -- setelah pekan lalu menerima surat Dirjen Radio, Televisi dan Film -- segera memberi lampu hijau kepada juri untuk menilai ketiganya sebagai film cerita. Film Harmonikaku dan Yuyun, keduanya karya sutradara Arifin C. Noer, dan Si Pincang (sutradara Kadirman) semula ditolak mengikuti FFI di Semarang pekan ini. Sebab ketiganya ternyata menggunakan izin produksi film bukan cerita (dokumenter). "Kami harus cermat dan teliti dalam soal prosedur, dan perizinan," kata T.B. Maulana Husni, Sekretaris FFI. "Yang tidak menaati aturan main tentu saja ditolak." Hal ini hanya merupakan keteledoran administrasi, yang baru diketahui panitia menjelang saat terakhir penilaian. Dirjen RTF Drs. Sumadi yang mengabulkan permohonan izin produksi itu, menurut panitia FFI, sudah menyatakan maaf atas kekhilafannya. Juga Direktur PFN, Drs. fron Dwipayana, mengaku khilaf. Film Cerita Menurut Dwipayana, permohonannya semula memang dimaksud untuk produksi film cerita, bukan film dokumenter. Tapi karena biasanya PPFN membuat film dokumenter, baik Direktur PPFN maupun Dirjen RTF, sampai khilaf meneliti materi permohonan tadi. "Kesalahan administrasi ini kami akui," kata Atmoko, Sekretaris Dirjen RTF. Kalau tidak segera dijernihkan, FFI pekan ini pasti akan berakhir dengan keributan. FFI 1978 di Ujungpandang pernah hampir ricuh gara-gara aktor pemenang Citra, Kaharuddin Syah. Ketika festival berakhir, dan ia dinyatakan sebagai aktor terbaik, baru diketahui ia tak mengisi suaranya sendiri. Sedang seharusnya aktor bersangkutanlah yang mengisi suaranya. Berbeda dengan FFI 1979 di Palembang, FFI di Semarang tampak dirundung keprihatinan. Panitia sekali ini hanya mampu mengumpulkan dana Rp 30 juta, dibanding pembiayaan di Palembang Rp 70 juta. Sedang tahun ini pesertanya: 41 film cerita dan 12 film dokumenter, dibanding yang di Palembang 38 film cerita dan 14 film dokumenter. "Bagaimana kelak hasil kerja kami dengan dana tipis, silakan dinilai nanti sesudah festival berakhir," kata Soekarno M. Noer, Ketua FFI 1980. Apa yang menarik kali ini? Berbeda dengan festival terdahulu, tahun ini setiap penerima piala Citra akan menerima perangsang Rp 7,5 juta dari Dewan Film Nasional. Pembagiannya: Rp 5.25 juta untuk produser, dan Rp 2,25 juta untuk artis atau karyawan yang memenangkan Citra. Film terbaik juga memperoleh perangsang Rp 7,5 juta. Dengan pembagian Rp 3,75 juta untuk produser, dan Rp 3,75 untuk karyawan dan artis pendukung film tersebut. FFI Semarang merupakan babakan baru bagi PPFN. Selain ketiga film cerita di atas, ia juga menyertakan sebuah film semi dokumenter Sinila, Peristiwa Gunung Dieng (sutradara Kornain Suhardiman). "Kami tidak berambisi untuk menang," kata Dwipayana. PPFN tampaknya sedang berusaha memulihkan kembali nama besar yang pernah dimilikinya. Ketika masih bernama Perusahaan Film Negara tahun 50-an, ia dikenal sebagai wahana yang menghasillin film bermutu. Dalam tahun anggaran 1980/81, dengm dana Rp 1,9 milyar, PPFN merencanakan memproduksi sekitar 100 judul film, baik film cerita maupun dokumenter. Itu berarti sekitar Rp 20 juta untuk setiap judul film yang akan diproduksinya. Biasanya produksi sebuah film dengan bintang-bintang sedang memerlukan biaya Rp 50 juta. Bandingkan, misalnya, dengan biaya Rp 375 juta yang ditelan film Janur Kuning. Mampukah PPFN dengan dana kecil? Terbukti Harmonikaku, film ceritanya yang pertama, sudah memasukkan uang Rp 30 juta lebih dalam masa edar yang relatif singkat. Film anak-anak itu antara lain dibintangi Sofia W.D., Nani Widjaja dan W.D. Mochtar -- memang menyedot banyak penonton. Malaysia, menurut Dwipayana, sudah memesan Harmonikaku. PPFN juga menjagokan film Yuyun sebagai tak kalah hebat. "Secara jujur produksi PPFN harus dianggap sebagai tantangan bagi perfilman nasional," kata Dwipayana. Kini PPFN sedang menyelesaikan film serial boneka untuk anak-anak. Film itu berdasar ide cerita Kornain Suhardiman dan dikerjakan Suryadi. Direncanakannya film serial itu mulai September mengudara lewat TVRI. Sekalipun dianggap tidak komersial, Dwipayana yakin anak-anak akan tertarik pada serial baru itu. PPFN juga masih setia memproduksi film Gelora Pembangunan yang diedarkan ke bioskop-bioskop. Tapi entah karena apa, film yang memamerkan otot proses pembangunan itu sudah lama tak muncul di bioskop Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar