Jumat, 04 Februari 2011

"Holiday In Bali" Serba Besar Untuk Serba Singkat

HOLIDAY IN BALI

Film ini disutradarai oleh Misbach Jusa Biran (Indonesia) dan Tony Cayado (sutradara Philipine).- dalam foto

Dalam data film Misbach juga masuk dalam sutradara juga dan penulisan skenario filmnya. Sedang produksinya pihak Indonesia Persari dan Philipines. Tony Cayado.

Dan USmar Ismail lah yang mendorong Misbach untuk terlibat dalam film ini, padahal Misbach belum pernah menyutradari film sama sekali, selain hanya sebagai pembantu sutradara sebelumnya. Disaat Misbach masih ragu, justru Usmar yang memberi semangat padanya, itung-itung latihan dan study juga.

Film ini adalah film berwarna, disaat itu film indonesia masih hitam putih, walaupun pertamakali film berwarna tahun 1952 itu film kerja sama.

Ketika belajar di Filipina, Cokorde Gde Rai (Johny Misa) berkenalan dengan Angelo Reyes (Luis Gonzales), yang akan ke Indonesia untuk memperdalam pengetahuannya sebagai ahli tumbuhan. Sebelum ke Bali, Cokorde mengantarnya dulu melihat Borobudur dll. Sesudah beberapa waktu di Bali, pacar Reyes, Liza Presler (Daisy Romualdez), datang. Maka terjadi konflik, karena Reyes sudah jatuh hati pada Aryani (Josephine Estrada), adik Suryati (Chitra Dewi), pacar Cokorde. Liza mencoba menghalangi hubungan pacarnya dengan Aryani. Gagal. Akhirnya Liza malah mendapatkan Raka (Jusman) yang berniat mengawini Aryani, tapi gagal, karena Aryani memilih Reyes.

"Holiday In Bali" Serba Besar Untuk Serba Singkat Oleh: Djamaluddin Malik
Joint-Productions Persari dan Sampaguita (Pilipina) melahirkan film "Holiday in Bali` merupakan wujud kembalinya Persari dan dipergunakan Djamaluddin Malik sebagai bantahan atas adanya kerusuhan di perfilman Indonesia. Film "Holiday in Bali" merupakan suatu sinar bagi perfilman Indonesia karena dalam melakukan pembuatan pile mini banyak hal-hal yang bertemali dengan problem perfilman Indonesia. 
Soal yang menarik dari pembuatan film adalah masa pembikinan yang direncanakan hanya dalam tempo 2 bulan ternyata Sampaguita telah selesai menawarkan film tersebut pada bioskop-bioskop di Filipina untuk diputar. Sementara pihak Sampaguita sendiri merencanakan tanggal 22 Desember yang akan datang film "Holiday in Bali" harus sudah selesai direlease. Untuk memperkokoh barisan pemain sesuai dengan dasar kontrak yang menyebutkan bahwa semua dilakukan dengan joint antara bintang Indonesia dengan bintang Pilipina. Keanehan lain yang ditemui dalam film berwarna ini adalah bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris dan Indonesia, sementara untuk peredarannya masih akan dilihat perkembangan selanjutnya apakah bahasa lain yang akan didubbing ke dalam film ini
NEWS

Joint-Productions Persari dan Sampaguita (Pilipina) melahirkan film "Holiday in Bali` merupakan wujud kembalinya Persari dan dipergunakan Djamaluddin Malik sebagai bantahan atas adanya kerusuhan di perfilman Indonesia. Film "Holiday in Bali" merupakan suatu sinar bagi perfilman Indonesia karena dalam melakukan pembuatan pile mini banyak hal-hal yang bertemali dengan problem perfilman Indonesia. Soal yang menarik dari pembuatan film adalah masa pembikinan yang direncanakan hanya dalam tempo 2 bulan ternyata Sampaguita telah selesai menawarkan film tersebut pada bioskop-bioskop di Filipina untuk diputar. Sementara pihak Sampaguita sendiri merencanakan tanggal 22 Desember yang akan datang film "Holiday in Bali" harus sudah selesai direlease. Untuk memperkokoh barisan pemain sesuai dengan dasar kontrak yang menyebutkan bahwa semua dilakukan dengan joint antara bintang Indonesia dengan bintang Pilipina. Keanehan lain yang ditemui dalam film berwarna ini adalah bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris dan Indonesia, sementara untuk peredarannya masih akan dilihat perkembangan selanjutnya apakah bahasa lain yang akan didubbing ke dalam film ini.

Apakah joint-productions Persari Sampaguita (Pilipina) untuk melahirkan “Holiday in Bali” jang djuga merupakan come backnja Persari setelah “tidur2an” sedjak tahun 1958, dipergunakan Djamaluddin Malik sebagai bantahan atas adanja “kerusuhan” diperpileman Indonesia tidaklah menarik perhatian kita, karena sebenarnja masaalah itu bukanlah masaalah jang harus ditjari2 pemetjahannja. Jang pokok, dengan adanja joint antara Persari dan Sampaguita ini tidaklah berarti tahun 1962 berlalu tanpa kesan, chusus dibidang produksi. “Holiday in Bali” merupakan suatu “sinar” bagi perfilman Indonesia, karena dalam melakukan pembuatan pile mini banjak hal2 jang bertemali dengan problem perfilman Indonesia.
Mungkin untuk pertama kalinja dalam sedjarah perfilman Indonesia dilahirkan sebuah film jang memakan biaja begitu besar seperti jang dialami “Holiday in Bali”. Dalam kontrak telah ditetapkan Persari menanggung segala biaja jang dikeluarkan dengan rupiah dengan pengertian selama diadakan lokasi di Indonesia, Persari-lah jang mendjadi “bandar”nja dan menurut kalkulasi kasar jang sudah terkira selama “Holiday in Bali” masih dikerdjakan di Indonesia, Persari harus mengeluarkan wang sedjumlah Rp. 9.000.000,- Kemudian apabila film ini nanti selesai lokasi di Indonesia dan penggodogannja dilakukan di Pilipina, seluruh biaja ditanggung pula oleh Sampaguita, termasuk honorarium artis2 Pilipina dan crew jang datang dari Manila. Lokasi jang dilakukan di Pilipina hanja ketika artis2 tersebut akan “terbang” ke Djakarta sadja. Berdasarkan kenjataan2 jang ada sekarang, sedikitnja Sampaguita akan menarik wang dari sakunja sedjumlah 150.000,- pesos. Kalau dipindahkan mendjadi wang rupiah dengan nilai SIVA, paling tidak wang jang 150.000 pesos itu akan mendjadi Rp. 35.000.000,-

Dengan demikian total djenderal “Holiday in Bali” keseluruhannja akan menekan biaja Rp. 44.000.000,-

TJUMA DUA BULAN

Lain soal jang menarik adalah masa pembikinan jang direntjanakan hanja dalam tempo 2 bulan, djusteru Sampaguita pada saat ini telah selesai menawarkan film tersebut pada bioskop2 di Pilipina untuk diputar. Pihak Sampaguita merentjanakan tgl. 22 Desember jad., “Holiday in Bali” harus sudah selesai direlease. Kalau memang nanti benar2 “Holiday in Bali” ini bisa diselesaikan dalam tempo jang telah direntjanakan tersebut, “kerdja Pilipino” ini harus mendjadi soko guru bagi pekerdja2 film Indonesia karena meski perfilman di Pilipina nampak lebih “tjemerlang” djika dibandingkan dengan Indonesia, namun perlengkapannja sama sadja dengan Indonesia, malah kalau dinilai dengan apa jang kini sudah dimiliki PFN, Indonesia sudah lebih baik.

Untuk memperkokoh barisan bermain2 sesuai dengan dasar kontrak dimana disebutkan semuanja dilakukan dengan joint, pendukung “Holiday in Bali” ini djuga adalah joint antara bintang Indonesia dengan bintang Pilipina. Indonesia memadjukan artis2 jang sudah tjukup tenar namanja seperti Bing Slamet, Chitra Dewi, pasangan old- crack Rd. Ismail dan Fifi Young serta Jusman, sedang dari pihak Pilipina ditemui Josephino Estrada, Deasy Romualdes dengan aktor2nja jg gagah Luiz Gonzal Johnny Misa. Selain bintang2nja djuga sutradaranja dilakukan joint, dimana akan bertemu sutradara Pilipina Tony Cayado dengan Misbach Jusa Biran, sedang tjerita dan scenario diserahkan kepada scenario- writer dari Pilipina Luciano B. Carlos jang djuga merangkap associate director.

Mengenai sutradara Tony Cayado dapat diterangkan, bahwa ia pernah menjadi best director hasil filmnja, " I sold my son"e Estrada Sebelum itu pada tahun 1956, ia menghasilkan pula seorang actor terbaik. “Holiday in Bali” adalah filmnja jang ke-17. Sebuah karyanja jang dianggap besar ketika ia memfilmkan novel Jose Leonard jang berdjudul “Big Broadcast” dan berhasil keluar sebagai best musical choreography untuk tahun 1962.
Untuk “Holiday in Bali” ini Ratu Kentjantikan Pilipina Josephin dan actor “tjakap” Johnny Misa akan memegang peranan sebagai gadis dan pemuda Bali.

DENGAN BAHASA INGGERIS
Suatu “keanehan” lain jang ditemui dalam film berwarna ini adalah bahasa jang dipakai jakni bahasa Inggeris dan Indonesia dengan pengertian kalau artis Indonesia berhadapan dengan artis Pilipina dipakai bahasa Inggeris, demikian djika sesame artis Pilipina berhadapan. Tapi djika jg. harus berdialog sesama
artis Indonesia bahasa jang dipakai adalah bahasa Indonesia pula.
Untuk peredarannja nanti masih akan dilihat perkembangan apakah bahasa lain jang akan didubbing kedalam film ini.
Dalam melaksanakan pembuatan film ini dipergunakan 4 buah truck jang membawa generator jang akan menjusuri Bali dan pulau Djawa. Opname pertama jang jg. semula direntjanakan di Djakarta tidak djadi dilakukan dan pada tgl. 15 Oktober’62 telah dimulai di Bali untuk seterusnja berpindah2 tempat kebeberapa kota di Djawa seperti Jogja, Solo, Bandung, Bogor dan tempat2 tourus jang terkenal Borobudur, Mendut, Kebon Raya dll. Crew dan artis2 jang ber “Holiday in Bali” selama dua bulan ini tertjatat 60 orang.

DIDAHULUI “HOLIDAY IN HONGKONG”
Sampaguita jang mendjadi “akrab” Persari kali ini adalah sebuah perusahaan film terbesar di Manila dan dengan “Holiday in Bali” perusahaan film ini sudah dua kali melakukan joint. Pertama kalinja Sampaguita mengadakan joint dengan perusahaan film Hongkong dan menghasilkan “Holiday in Hongkong”.*


1962: Holiday in Bali

In 1962, Persari brought some of Sampaguita’s stars and director to make a film in Bali (Indonesia). Tony Cayado and Misbach Yusa Biran directed Holiday in Bali.


Holiday in Bali was produced in one version with English language, and Indonesian and Philippines actors and actresses playing in the same movie. Luis Gonzales, Josephine Estrada, and Daisy Romualdez came to Bali and joined with Chitra Dewi, Johny Misa, and Jusman to play their characters.
The film is about a complicated love story between a Filipino and a Balinese woman and used some tourist destination in Indonesia. Luciana Carlos started the story with the encounter between Cokorde Gede Rai (Johny Misa), who is studying in the Philippines, and Angelo Reyes (Luis Gonzales), the botanist. Reyes decides to research about plants in Bali, but before he arrives in Bali, Cokorde accompanies him to see some tourist spots Borobudur, Buddhist’s temple. While conducting his research, Reyes falls in love with a Balinese girl, Aryani (Josephine Estrada). Aryani is a sister of Suryati (Chitra Dewi), Cokorde’s lover. Problem happens when Reyes’ lover, Liza (Daisy Romualdez), comes to Bali and knows that Reyes is falling in love with Aryani. Liza tries to stop his lover relation but she fails, Reyes and Aryani become lovers. Finally, Liza has a new lover, Raka (Jusman) who fails to marry Aryani (Kristanto 62). Technically, there was no significant constraint in terms of shooting time. Difficulty in the making was coming from the producer viewpoint is related to the marketing. The main difficulties were from the producer who wanted to mainly display the scenes that have selling power even though they conflicted with esthetics and ethics. For instance, the Philippines’ producers preferred to modify the scenes to be more stylish which was not common in Balinese culture. For instance, the producer wanted to modify the scene of walking girls on the side of the street by adding a conversation between lovers. Originally, in the Balinese culture, there was no activity like that.
Since this is a co-production, problems should be discussed together. Tony Cayado was the leading director and Misbach Yusa Biran was the co-director. Both of them support each other by giving ideas or corrections. They always had discussion before they decided to take pictures. Regarding the modified scene, both directors and screenwriter discussed it and Tony Cayado decided to obey Balinese culture. Stagnation in this movie making was avoided because of full understanding from Tony Cayado and support from Misbach Yusa Biran.
During its premier show, there was a slight doubt that the movie would be successful among the moviegoers. It happened because of the abundance of foreign movies especially from India and America, and the falling number of Indonesian movies from 37 (1961) to 15 (1962) were challenging the Holiday in Bali’s circulation. Political condition in Indonesia, with the rise of Communist party and anti-foreign products, would have been an obstacle for the movie. Fortunately, this condition did not bring any negative response because the story is sensible and in accordance with Indonesian culture.
The movie’s marketing in Indonesia was not very successful because the economic condition at that time was not so good and the inflation rate was high. It gave significant effect on the Indonesian public’s purchasing power, which was low causing the movie to be circulated moderately. However, in the international level Holiday in Bali received a special award in the 1963 Asian Film Festival in Tokyo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar