Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1988 Citra penuh tanda tanya

PIALA Citra, lambang supremasi keunggulan karya insan film nasional, baru dibagikan akhir pekan ini namun, sejumlah orang film menyebutkan FFI sudah berakhir Sabtu siang pekan lalu. Yakni, tatkala Sekretaris Dewan Juri, Dr. Salim Said, selesai membacakan keputusan juri tentang sejumlah nominasi di Studio VII TVRI Senayan Tjoet Nya' Dhien seperti yang disebut-sebut sebelumnya, sudah bisa diduga akan muncul sebagai nominasi film terbaik film ini. Film ini meraih 12 nominasi berdasarkan kriteria, atau 13 nominasi berdasarkan jumlah orang. Karena untuk kriteria pemain pembantu pria ada dua yang masuk nominasi sekaligus -- Slamet Raharjo dan Rudy Wowor. Semua kriteria penting untuk menentukan sebuah film menjadi film terbaik masuk nominasi dalam Tjoet Nya' Dhien. Eros Djarot (sutradara, skenario, dan cerita asli), Goerge Kamarullah (penata kamera), Karsono Hadi (penyunting), Idris Sardi (penata musik), Benny Benhardi (artistik), Pitradjaya Burnama (pemain utama pria) dan Christine Hakim (pemain utama wanita). Juri yang diketuai Asrul Sani hanya memilih tiga film nominasi dari lima yang diizinkan. Selain Tjoet Nya' Dhien adalah Istana Kecantikan dan Ayahku. Istana mendapatkan 6 nominasi dan semua penting, yakni Wahyu Sihombing (sutradara) Asrul Sani (skenario dan cerita asli), Mathias Muchus (pemeran utama pria), Nurul Arifin (pemain utama wanita) dan sebagai film nominasi. Ayahku hanya merebut 4 nominasi selain sebagai nominasi film terbaik, adalah juga skenario (Misbach Yusa Biran), Deddy Mizwar (pemeran utama pria), dan Darussalam (pemeran pembantu pria). Piala Citra tahun ini akan tetap diboyong pemain-pemain lama. Harapan untuk pemain muda hanya pada Ria Irawan, yang kemungkinan sebagai pemain pembantu wanita terbaik dalam Selamat Tinggal Jeanette. Nurul Arifin, yang banyak membintangi film remaja, mulai menunjukkan kemampuan aktingnya. Ia bermain bagus dalam film Istana -- juga dalam Ayahku. Namun, karena di kelasnya ada Christine Hakim, apa boleh buat, ia harus "tahu diri" Di bagian pria, Didi Petet punya masa depan yang baik -- mungkin menjadi aktor yang akan diperhitungkan kelak. Nasibnya tahun ini sungguh sial. Ia meraih nominasi sebagai pemain pembantu pria dalam film Cinta Anak Zaman dan di kelasnya itu ada Slamet Rahardjo dan Darussalam, yang lebih kuat. Kesialan Didi Petet adalah film Gema Kampus 66 tak diloloskan Komite Seleksi. Padahal, di situ Didi bermain cemerlang sebagai mahasiswa ITB yang punya idealisme tinggi di tahun 1966 tapi akhirnya kehilangan idealisme setelah sukses memimpin sejumlah proyek. Sejumlah pakar film dalam sebuah diskusi melemparkan penyesalan. Andai kata film ini lolos Komite Seleksi, cerita bisa berubah Didi akan bersaing dalam barisan nominasi pemain utama pria, dan tak mustahil bisa mengalahkan Deddy Mizwar. Seperti halnya FFI 1987, saat Komite Seleksi menendang film Keluarga Markum -- yang membuat Ikranegara dan Chaerul Umam kehilangan peluang -- meraih Citra -- tak lolosnya Gema Kampus segera menimbulkan gunjingan. Agaknya, tak ada FFI tanpa pergunjingan. Dan syukurlah, Panitia Tetap (Pantap) FFI, mulai tahun ini, ditetapkan dengan masa kerja lima tahun, sehingga punya kesempatan dan "kekuasaan" untuk melakukan perbaikan. Pantap yang diketuai M Johan Tjasmadi ini sudah punya ide untuk mengubah cara penjurian FFI. Sebagaimana yang dikatakan Johan Tjasmadi kepada Gunung Sarjono dari TEMPO, sejumlah perbaikan yang mendasar sudah dipikirkan berdasarkan kelemahan yang lalu-lalu. Termasuk lembaga Komite Seleksi itu. Johan melihat tugas Komite Seleksi cukup berat. Tahun ini, misalnya, Komite Seleksi yang diketuai Sadikin Nataatmaja hanya punya waktu 40 hari untuk menilai 83 film. Itu berarti setiap hari harus melihat 2 film Cara ini jelas tidak sehat "Kayaknya kok terburu-buru, kata Johan Tjasmadi. Karena faktor kelelahan, bisa jadi film yang ditonton lebih awal jadi "lupa" ketika diskusi untuk menentukan film yang lolos dilangsungkan. Begitu pula ketika juri FFI memulai kerjanya. Selain yang dinilai hanya film yang sudah diloloskan Komite Seleksi, para juri ini melakukan penilaian di suatu tempat khusus "Para juri tidak bisa melihat bagaimana reaksi penonton sewaktu film itu diputar," kata Johan. Padahal, itu penting sebagai pertimbangan, apakah sebuah film "menggigit' atau tidak. Johan punya ide, insya Allah, mulai tahun depan yang namanya Komite Seleksi akan bekerja sepanjang tahun. Mereka langsung menonton dan menilai film yang beberapa saat lolos sensor. Setiap bulan Komite Seleksi akan mengumumkan film pilihan, berdasar kriteria yang sudah disepakati. Dengan cara kerja seperti ini, film yang ditonton Komite Seleksi dalam keadaan masih baru. Tidak seperti sekarang, banyak film yang menjelang FFI sudah rusak kopinya karena sudah lama beredar. Tahun ini saja, menurut Ilham Bintang, Ketua Bidang Humas, Dokumentasi, dan Publikasi Pantap FFI, ada delapan film yang didiskualifikasi karena kerusakan itu. Dewan juri pun akan ditetapkan jauh sebelum puncak festival. Jika juri penasaran dengan keputusan Komite Seleksi, mereka masih punya kesempatan untuk menonton film-film yang "terdepak" "Semata-mata hanya untuk referensi," kata Johan lagi. Keuntungan sistem ini, kata Johan, produser bergairah memproduksi film sepanjang bulan. Produser dan sutradara tak harus mengulur-ulur penyelesaian filmnya mendekati FFI -- seperti yang terkesan belakangan ini. Kegairahan lain adalah dengan diumumkan film unggulan setiap bulan, seolah-olah sepanjang bulan ada "festival kecil". Produser pun diuntungkan dalam hal promosi. Yang tampak belum dipikirkan Johan Tjasmadi adalah siapakah mereka yang duduk di Komite Seleksi. Apakah tetap insan-insan film, yang punya berbagai kepentingan termasuk kepentingan bisnis, misalnya, menendang pesaing? Kini dipertanyakan (lagi) adakah FFI penting dalam hal meningkatkan mutu film, atau setidak-tidaknya FFI menjadi peristiwa budaya. Seorang pengamat film dan teater menyangsikan hal itu. Kegiatan hura-hura tak sepenuhnya lenyap. Pawai artis masih berlangsung di Surabaya dan di beberapa kota ketika pekan film di daerah. Kampanye Film Nasional tak keruan juntrungannya dengan berbondong-bondongnya penduduk di sekitar gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta untuk melihat bintang. Mereka yang berkampanye pun hanya mengucapkan slogan "Saya yakin dapat Citra" atau "Kalau juri serius, Citra di tangan saya" atau "Tontonlah Film Saya", atau yang lebih konyol lagi. Masalahnya adalah pengunjung tak diseleksi dan yang bicara pun asal ngomong "Jangan ditanya apa gunanya kampanye itu. Yang datang pun tidak tertarik pada filmnya tapi bintangnya," kata Arswendo Atmowiloto Pemred Monitor yang sempat menggebrak kampanye hari pertama. Karena itulah, ada yang menilai, FFI ini lebih banyak bobot bisnisnya dalam pengertian tempat produser mengukuhkan bintangnya. Dan bisnis film nasional, seperti diketahui, penuh liku-liku yang tak pernah jalan seiring dengan mutu. Film nasional yang selama ini adalah yang mengandalkan bintang, bukan aktor atau aktris. Namun, Teguh Karya, yang sudah 2 tahun absen dalam pertarungan FFI, tetap menilai penting sebuah festival film. Menurut Teguh, justru melalui festival itu nilai budaya film bisa diukur. "Setidak-tidaknya untuk membandingkan dengan budaya yang lain," ujarnya. "Secara rasional, FFI itu merupakan tantangan bagi perkembangan film di negeri kita. Terutama bagi pencipta film, seperti produser, sutradara, atau pemain" Johan Tjasmadi tentu bisa menyebut sejumlah manfaat festival film. Ia melihatnya dari bagaimana masyarakat mengapresiasi film nasional. Data statistik menunjukkan bahwa pada tahun 1973 persentase perbandingan antara penonton film asing dan film nasional adalah 90 : 10. Dan tahun 1986, tercatat 64,3 persen penonton film nasional dan 35,7 persen penonton film asing. Namun, diakuinya, dalam kurun waktu 1973-1980, film pemenang Citra bukan film yang laris, malah tergolong film kurang laku. "Setelah dekade 1980 antara pilihan juri dan pilihan masyarakat mulai mendekat," kata Johan. Ia menunjuk contoh film Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat. Dan itulah jasa FFI. Bagi Arswendo, pelaksanaan FFI tahun ini tetap saja mengulang FFI sebelumnya. Tak lebih dari, "ramai-ramai sejenak, dan aste-nya terlalu banyak," katanya. Bahkan tahun ini "Kita sudah kehilangan isu" Dulu, kata langganan juri sinetron ini, ada isu menjadikan film nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Isu itu sudah bertahun-tahun dilontarkan tapi keadaan perfilman kita tak beranjak sedikit pun. Mandeknya film nasional menjadi tanda tanya. Padahal, pada pengamatan Arswendo, orang Indonesia lebih suka menonton ketimbang membaca. Tenaga di bidang film pun cukup memadai, dari penulis cerita, skenario, sutradara, pemain "Kalau tetap mandek, mestinya ada yang tidak benar" Ataukah karena insan film terbiasa menggantungkan nasib pada pemerintah? Pemerintah pun kelihatannya belum rela melepaskan campur-tangannya. Misalnya, sejak skenario sebuah film sudah menghadapi "badan sensor". Suatu hal yang, menurut Arswendo sendiri, "tak lazim di negeri lain". Begitu pula pelaksanaan FFI, sejak kepanitiaan sampai pengangkatan dewan juri, campur tangan pemerintah sangat menentukan. Bahkan kini bukan saja Departemen Penerangan yang terlibat, tapi juga Departemen Dalam Negeri. Untuk menaikkan produksi, Menteri Dalam Negeri Rudini mengimbau agar pemerintah daerah memproduksi film yang bercorak kedaerahan. Dan itu sudah dilaksanakan di Jawa Barat dengan film Si Kabayan Saba Kota. Selamatan film ini sudah dilakukan Senin pekan lalu. Pemda Ja-Bar menanggung 40% biaya produksi, sisanya PT Kharisma Jabar Film "Biaya diperkirakan Rp 350 juta kendati kami mengharap biaya bisa lebih murah," kata Edison Nainggolan dari PT Kharisma. Film yang disutradarai Maman Firmansyah ini akan dibuat dua bahasa, Indonesia dan Sunda Kabayan diperankan "aktor lucu" Didi Petet -- yang tahun ini memperoleh nominasi Citra. Imbauan Rudini menggembirakan dari angka produksi. Tapi belum tentu menjawab kemandekan mutu itu. Sekarang ini, menurut seorang produser, "Sembilan puluh persen film-film kita masih kacangan, penggarapannya masih di bawah standar film yang seharusnya". Film dibuat asal cepat jadi. Asal ada seorang bintang sebagai pemikat, film akan ditonton di daerah, apa pun ceritanya dan bagaimanapun penggarapannya. Ini membenarkan ucapan Arswendo bahwa film Indonesia tidak dibuat berdasarkan aktor tetapi bintang. Katakanlah bintang itu Meriam Bellina "Tak penting apa peran Mer di situ. Mau ditaruh sebagai sutradara kek sebagai penulis cerita kek, pokoknya ada Meriam Bellina, supaya penonton tertarik," kata Arswendo. Karl G. Heider, guru besar antropologi dari Universitas South Carolina, AS, yang tengah melakukan penelitian antropologis film Indonesia, mengemukakan pendapatnya, antara lain, film Indonesia kebanyakan dibuat dengan formula yang sudah bisa ditebak "Seperti dongeng-dongeng rakyat," ujarnya. "Tapi, ya, yang begitu itu perlu untuk kehidupan sehari-hari. Seperti kita memerlukan nasi goreng. Cuma, nasi gorengnya harus dibuat dengan sebaik-baiknya." Karl Heider menyebutkan sejumlah pembuat "nasi goreng" yang baik seperti Usmar Ismail (almarhum), Asrul Sani, Teguh Karya. Tjoet Nya' Dhien-nya Eros Djarot juga dipuji Heider, seperti pula ia memuji Darah dan Doa-nya Usmar Ismail Putu Setia, Mohammad Cholid, Yusroni Henridewanto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar