Selasa, 27 April 2010

Perjalanan Satu Abad Kesenian Indonesia Modern


  • 1841
    • Kamera fotografi masuk Batavia, dibawa oleh perwira Belanda atas perintah Kementerian Urusan Negara Jajahan di Belanda. Pemotretan yang dilakukan di Jawa Tengah gagal menghasilkan gambar.
    1844
    • Adolph Schaefer menjadi orang pertama yang berhasil membuat gambar foto di Hindia Belanda. Ia mendapat tugas dari pemerintah kolonial di Hindia Belanda untuk untuk membuat foto-foto koleksi Batavia Society of Arts and Sciences. Setahun kemudian, ia memotret Candi Borobudur.
    • (Clik here for Photo By Adolph Schaefer)
    • News : A collection of the Prentenkabinet Leiden Pioneer photography from the Dutch Indies Adolf Schaefer (Clik) Borobudur gallery, Schaefer, 1844The German daguerreotypist Adolph Schaefer had a photo studio in The Hague. The Ministry of Colonies commissioned him to photograph the Borobudur and other art treasures on Java in 1844. This was the first time that the medium of photography was used to support Dutch archaeological research. In that time, it was still customary to have professional artists copy down the temple reliefs and other archaeological findings on paper.

      Schaefer was forced to work under primitive circumstances. There was for instance no useful space for him to prepare his plates or develop the photographs, which was difficult anyway in the hot, humid climate. On top of this, the Borobudur galleries were too narrow to get the required distance from the reliefs.

      Schaefer was unable to frame a complete relief on a single plate. He finally delivered fifty-eight photographs of the Borobudur. But archaeologist Van den Ham wasn't convinced of the usefulness of the daguerreotypes for scientific research. Due to his negative advice to the government and Schaefer's high financial demands, the project wasn't continued.

      These daguerreotypes by Schaefer are the first photographs of the archaeological treasures on Java.
      From: H.J. Moeshart, Adolph Schaefer and Borobudur, in Toward Independence, A Century of Indonesia Photographed, San Francisco 1991, pp. 20-28
      H.J. Moeshart, Adolph Schaefer, A History of Dutch photography in monographs en themed articles, Antwerpen (Voetnoot) 1984-present (in episodes)

    1857
    • Albert Woodbury dan James Page mendirikan studio foto Woodbury and Pages di Batavia, yang menjadi studio foto paling sukses dan bertahan hingga awal abad ke-20.
    •  
    • News: Sebetulnya Indonesia atau Hindia Belanda saat itu adalah termasuk negara yang paling awal menerima kehadiran teknologi fotografi. Teknologi ini dibawa oleh Juliaan Munnich pada tahun 1841, hanya berselang dua tahun sejak ditemukannya teknologi fotografi oleh Louis Daguerre pada tahun 1839.

      Walaupun fotografi sudah masuk sejak tahun 1841, perkembangan secara pesat baru terjadi pada tahun 1857, yaitu saat dua bangsa Inggris Walter Bentley Woodbury dan James Page tiba di Batavia dan mulai membuka studio fotografi pada tanggal 5 Juni 1857. Tanggal 8 Desember 1858, mereka mulai mengiklankan usahanya di harian Java Bode dan menawarkan jasa pemotretan bagi umum. Walter Woodbury dan James Page bekerja sama hingga akhir tahun 1860, pada bulan Desember 1860 James Page pulang ke tanah airnya, sementara Walter tetap menekuni bisnisnya di bidang fotografi komersial bersama dengan saudaranya Henry James.

      Tanggal 18 Maret 1861, Walter Woodbury membuka studio foto atas namanya di Batavia dengan nama Photographisch Atelier van Walter Woodbury atau lebih dikenal dengan nama Atelier Woodbury yang berlokasi di sebelah Hotel der Nederlander atau sebelah Bina Graha sekarang. Usaha ini mendatangkan kemakmuran bagi Woodbury bersaudara, dikabarkan bahwa penghasilan mereka dari setiap foto yang dibuat adalah 20 hingga 120 rupiah. Sebagai gambaran, harga beras saat itu adalah 5 rupiah per picol (picol = 62 kilogram). Selain jasa potret, Walter juga menjual album fotografi yang berjudul Gezigten van Batavia atau View of Batavia yang merupakan foto topografis pertama yang dijual secara umum, diiklankan pada harian Java Bode tanggal 31 Agustus 1861.

      Studio ini semakin berkembang dan menjadi pusat fotografi terpenting di Batavia . Usahanya bukan saja menjual foto tetapi termasuk album lanskap Pulau Jawa, stereotype photo, kamera, lensa, photographic chemical dan semua hal yang berbau fotografi. Iklan studio ini selalu muncul di koran lokal, setidaknya seminggu sekali. Walter Woodbury meninggalkan Jawa dan kembali ke Inggris pada bulan Januari 1863, dan usahanya diteruskan oleh adiknya Henry James Woodbury bersama dengan James Page yang kembali ke P. Jawa. Tanggal 1 Januari 1863 nama studionya berubah menjadi Woodbury & Page Atelier dan mereka bekerja sama hingga tahun 1864. Pada bulan Agustus 1864, Studio ini dijual kepada bangsa Jerman bernama Carl Kruger. James Page sendiri kembali ke Inggris pada tahun 1864 dan Henry James Woodbury menyusulnya pada tahun 1866.

      Pada tanggal 1 Maret 1870, studio Woodbury & Page dibeli lagi oleh saudara ketiga Woodbury yaitu Albert Woodbury (1840-1900). Dan ditangan Albert inilah studio ini berkembang pesat dan mencapai puncak keemasannya. Firma ini bukan saja melayani jasa fotografi di Batavia saja tetapi juga seluruh pelosok Hindia Belanda. Apalagi saat itu Hindia Belanda dibanjiri para pengunjung dari Eropa, akibat dibukanya terusan Suez pada tahun 1869, sehingga Studio Woodbury & Page kebanjiran order. Dan puncak pencapaian Woodbury & Page adalah pada tahun 1879 yaitu mendapatkan penghargaan berupa gelar kebangsawanan dari Raja Belanda Willem III.

      Studio Woodbury & Page mengalami kelesuan bisnis sejak tahun 1890, hal ini dikarenakan banyaknya pesaing-pesaing baru yang muncul dengan teknologi kamera terbaru. Selain itu kamera juga mulai dijual massal, sehingga jasa pemotretan berkurang drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya firma ini bangkrut dan bubar pada tahun 1908.

    1885


    • News: Kassian Cephas (15 Februari 1844 - 1912) dapat dianggap sebagai pelopor fotografi Indonesia. Ia adalah seorang pribumi yang kemudian diangkat anak oleh pasangan Adrianus Schalk dan Eta Philipina Kreeft. Nama Kassian Cephas mulai terlacak dengan karya fotografi tertuanya buatan tahun 1875.
      Cephas lahir dari pasangan Kartodrono dan Minah. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah anak angkat dari orang Belanda yang bernama Frederik Bernard Fr. Schalk. Cephas banyak menghabiskan masa kanak-kanaknya di rumah Christina Petronella Steven. Cephas mulai belajar menjadi fotografer profesional pada tahun 1860-an. Ia sempat magang pada Isidore van Kinsbergen, fotografer yang bekerja di Jawa Tengah sekitar tahun 1863-1875. Tapi berita kematian Cephas di tahun 1912 menyebutkan bahwa ia belajar fotografi kepada seseorang yang bernama Simon Willem Camerik.
      Publikasi luas foto-foto Cephas dimulai pada tahun 1888 ketika ia membantu membuat foto-foto untuk buku karya Isaäc Groneman, seorang dokter yang banyak membuat buku-buku tentang budaya Jawa, yang berjudul: In den Kedaton te Jogjakarta. Pada buku karya Groneman yang lain: De Garebeg's te Ngajogjakarta, karya-karya foto Cephas juga ada disitu.
      Dengan kamera barunya yang bisa dipakai untuk membuat "photographe instanee", Cephas mulai menjual karya-karya fotonya. Sejak itu karya-karyanya mulai dikenal dan dipakai sebagai suvenir atau oleh-oleh bagi para masyarakat elit Belanda ketika mereka akan pergi ke luar kota atau ke Eropa. Misalnya ketika JM. Pijnaker Hordijk, pemilik sewa dan seorang Vrijmetselaar terkemuka akan meninggalkan Yogyakarta, ia diberi hadiah album indah berisi kompilasi karya-karya foto Cephas dengan cover indah yang dilukis oleh Cephas sendiri dan bertuliskan "Souvenir von Jogjakarta". Album-album semacam itu yang berisi foto-foto sultan dan keluarganya juga kerap diberikan sebagai hadiah untuk pejabat pemerintahan seperti residen dan asisten residen. Keadaan seperti ini tentunya membuat Cephas dikenal luas masyarakat kelas tinggi, dan memberinya keleluasaan bergaul di lingkungan mereka.
      Cephas mulai bekerja sebagai fotografer kraton pada masa kekuasaan Sultan Hamengkubuwono VII. Karena kedekatannya dengan pihak kraton maka ia bisa memotret momen-momen khusus yang hanya diadakan di kraton semisal tari-tarian untuk kepentingan buku karya Groneman.
      Cephas juga membantu pemotretan untuk penelitian monumen kuno peninggalan zaman Hindu-Jawa yaitu kompleks Candi Loro Jonggrang di Prambanan yang dilakukan oleh Archaeologische Vereeniging di Yogyakarta. Proyek ini berlangsung tahun 1889-1890. Dalam bekerja, Kassian Cephas banyak dibantu Sem, anak laki-lakinya yang paling tertarik pada dunia fotografi seperti ayahnya. Kassian Cephas memotret sementara Sem menggambar profil bangunannya.
      Ia juga membantu memotret untuk lembaga yang sama ketika dasar tersembunyi Candi Borobudur mulai ditemukan. Ada sekitar 300 foto yang dibuat Cephas untuk penggalian ini. Pemerintah Belanda mengalokasikan dana 9000 gulden untuk penelitian ini. Cephas dibayar 10 gulden per lembar fotonya. Cephas mengantongi 3000 gulden (sepertiga dari seluruh uang penelitian). Jumlah yang sangat besar untuk ukuran waktu itu.
      Cephas adalah pribumi satu-satunya yang berhasil menguasai alat peradaban modern, itu juga yang membuatnya diakui di kalangan golongan masyarakat kelas tinggi. Buktinya ia bisa menjadi anggota istimewa Perkumpulan Batavia yang terkenal itu. Tahun 1896 ia dinominasikan menjadi anggota KITLV15 Juni 1896. Ketika Raja Chulalongkorn dari Thailand1896, ia mendapat hadiah berupa tiga buah kancing permata. Bahkan Ratu Wilhelmina dari Belanda memberi penghargaan berupa medali emas Oranje-Nassau kepada Cephas pada tahun 1901. (Lembaga Linguistik dan Antropologi Kerajaan) atas dedikasinya memotret untuk penelitian Archaeologiche Vereeniging. Ia benar-benar diterima menjadi anggota KITLV pada tanggal berkunjung ke Yogyakarta tahun
      Cephas sendiri sudah sejak tahun 1888 memulai prosedur untuk mendapatkan status "gelijkgesteld met Europeanen" atau "disetarakan dengan kaum Eropa" untuk dirinya sendiri dan anak-anak laki-lakinya: Sem dan Fares; suatu prosedur yang dimungkinkan oleh UU Kewarganegaraan Hindia Belanda pada masa itu.
      Baris Waktu Kassian Cephas (Sumber: KNAAP, GERRIT (WITH A CONTRIBUTION BY YUDHI SOERJOATMODJO) Cephas, Yogyakarta. Photography in the service of the Sultan. . Leiden, KITLV Press, 1999)
      15 januari 1845 Lahir di Yogyakarta, dari pasangan pribumi Kartrodono dan Minah
      Menurut H.J. de Graaf, Cephas adalah keturunan biologis dari Frederik Bernard Franciscus Schalk, warga Belanda yang tinggal di Yogyakarta pada pertengahan abad ke-19. (De Graaf 1981:47)
      27 Desember 1860 Usia 15 tahun, dibabtis di gereaja Bagelen- Purworejo dan melengkapi nama belakang keluarga menjadi Cephas; dari bahasa Aramic. Pada masa ini, ia mengabdi sebagai pembantu rumah tangga untuk Christina Petronella Steven (Mrs. Phillips-Steven) di Bagelen.
      1860-an Kembali ke Yogyakarta
      22 Januari 1886 Menikahi seorang wanita pemeleuk Kristen-Protestan pribumi, bernama Dina Rakijah di gereja Yogyakarta
      1861-1871 Belajar fotografi dari Simon Willem Camerik, pelukis dan fotografer untuk sultan HB VI, Yogyakarta (Locomotief 13:29-8-1864)
      1860-an Belajar fotografi pada Isidore van Kinsbergen, yang bekerja untuk mendokumentasikan barang antik penginggalan Hindu-Jawa antara tahun 1863 hingga 1875. (De Graaf, 1981:49)
      1869 Berkenalan dengan Isaac Groenaman, seorang dokter. Groenaman diangkat menjadi dokter pribadi sultan tahun 1885.
      1885 Bergabung di Vereeneging voor Oudheid-, Land-, Taal- en Volkenkunde te Jogjakarta. (Persatuan untuk Arkeologi, Geografi, Bahasa dan Etnograpfi Yogyakarta) yang didirikan oleh Isaac Groenaman.
      28 Juni 1866 Lahir anak perempuan pertama Naomi. Pada November 1882, menikah pada Christiaan Beem. Tahun 1868, Lahir anak laki-laki kedua, Jacob dan meninggal pada tahun yang sama.
      15 Maret 1870 Lahir anak laki-laki ke-tiga, Sem. Pada tahun berikutnya, mengikuti jejak ayahnya menjadi pelukis dan fotografer istana.
      30 Januari 1881 Farez, lahir. Tahun selanjutnya, 4 Juli 1881 Josef, lahir.
      1877 Mendirikan studio foto di Lodtji Kecil Wetan (sekarang jalan Mayor Suryotomo) disamping kali Code. Teknik fotografi yang digunakan adalah cetak carbon (carbon print) yang disebut pula Chromo Photographs. Diantaranya menerima foto portrait, jalan dan monumen, bangunan tua.
      1884 Melalui artikel yang ditulis Isaac Groeneman di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, atau perhimpunan seni dan ilmu pengetahuan Batavia, memuat karya Kassian Cephas foto bangunan Taman Sari, sebagai fotografer bangsa pribumi (Jawa)
      1871 Diangkat menjadi pelukis dan fotografer untuk sultan VI, Yogyakarta
      1884 Masuk ke dalam team pemotretan istana air taman sari, untuk royal Batavian society of art and science. (karya pemotretan yg pertama)
      1885 Isaac Groeneman membuat draft untuk buku berjudul In den Kedaton dan De garebeg’s te Ngajogyakarta, masing-masing memuat photograpm karya Cephas ke KITLV (Institut Kerajaan untuk Linguistik dan antropologi, yang kini berada di Leiden) di Hague Belanda.
      1886 Membeli kamera paling canggih saat itu, “Photographie Instantee”. Tipe kamera seperti ini bisa merekam hingga kecepan 1/400 detik.
      1888 Karya pertama yg dapat dilihat oleh publik, buku “ In den Kedaton te Jogjakarta “ oleh issac groneman. Buku itu berisi 16 karya collotype print yang memperlihatkan karya tari klasik Hindu-Jawa yang ditarikan oleh bangsawan keraton di kesultanan Yogyakarta, pada saat pemerintahan Sultan HB VII. Tahun ini pula, Cephas mengajukan prosedur naturlisasi derajat sosialnya, disejajarkan dengan bangsa eropa, yang disebut gelijkteld met Europeanen, untuk Cephas sendiri, Sem dan Fares anaknya.
      1890 Groeneman mempublikasikan tulisan dan gambar littograph yang berasal dari foto Cephas, tentang tarian Hindu-Jawa. Tarian ini dilaksanakan pada saat perayaan penobatan Patih, Kanjeng Raden Adipati Danureja V, bulan Agustus 1888.
      1889 Perayaan upacara sunatan pangeran Gusti Raden Mas Akhadiyat atau Hamengkunegara I. Cephas mengambil beberapa gambar tarian Hindu-Jawa, namun karyanya tidak pernah dipublikasikan pada saat itu.
      1889-1890 Masa-masa paling sibuk bagi Cephas. Dalam rangkaian pengambilan gambar untuk Perhimpunan Arkeologo Yogyakarya, dalam rangka sebagai bahan studi dan pelestarian. Diantaranya monumen, candi Loro Jonggrang, di komplek candi Prambanan. 1890, pemerintah Hindia-Belanda, menyediakan dana sebesar f. 3.000 untuk proyek dokumentasi ini. Kassian Cephas melakukan pemotretan dari tahun 1889 hingga 1890, sedangkan anaknya, Sem Cephas menggambar letak ruang komplek candi. 1891, Isaac Groenaman, mengirimkan karya Cephas ke KITLV di Hague, untuk bahan publikasi, kemudian terbit tahun 1893, terdiri dari 62 Callotype.
      1890-1891 Cephas memotret bagian dasar candi Borobudur hingga mendapatkan 164 foto, terdiri dari 160 relief dan 4 foto yang memperlihatkan keseluruhan struktur bangunan. Untuk proyek ini, Cephas memperhitungkan, akan membutuhkan 300 foto untuk memotret keselurhan candi. Karena menggunakan teknik rekam dry plate gelatin, maka dibutuhkan waktu setengah jam untuk setiap kali pemotretan, hingga total keselurhan waktu yang dibutuhkan adalah 150 jam, atau 30 hari pengerjaan, untuk setiap lima jam setiap harinya.
      1899 Proyek terakhir bersama Groeneman, mendokumentasikan pada penampilan panggung tari klasik, yang membutuhkan waktu empat hari di keraton. Sendra tari ini berdasarkan karya Gusti Pangeran Harya Surya Mataram, kakak dari HB VII. Lebih dari 150 orang terlibat dan persiapannya membutuhkan waktu setengah tahun, dan menghabsikan biaya f.30,000. Pada saat pementasan, dihadiri lebih dari 36.000 penonton. Peliputan lengkap ini, meliputi sembilan buku dengan teknik proses blok print karya fotografi Cephas, dipublikasikan di Semarang. Tahun 1902, buku ini dipesembahkan sebagai hadiah perkawinan ratu Welhelmina dan pangeran Frederik.
      Pada tahun yang sama, mendapatkan anugerah “Orange-Nassau” bersama Isaac Groneman atas hasil karyanya melakukan pemotretan budaya dan antropologi Jawa.
      1902 Membuat beberapa foto dokumentasi untuk upacara Wayang Beber, di kampung Gelaran Gunung Kidul.
      1903 Cephas pensiun dan menjadi abdi dalem di keraton sebagai mediasi untuk pengiriman pesan surat. Aktifitas memotret dilanjutkan oleh Sem
      16 Nopember 1911 Istri Kassian Cephas, Dina meninggal dunia dan karena sakit berkepanjangan, tanggal 16 November 1912 (usia 67) Kassian Cephas tutup usia. Tahun 1918, Sem Cephas meninggal dunia karena terjatuh dari kuda.

    1891
    • Pementasan Teater Bangsawan dari Penang, Malaysia, di Surabaya mendapat sambutan hangat. Pada saat bersamaan, muncul “Komedi Stamboel” yang diprakarsai August Mahicu yang mengangkat tema cerita 1001Malam.
    • News: Masih ingat August Mahieu dengan Komedle Stamboer? Mahieu bagai trend setter di Jawa. Ia membuat orang lain meniru tontonan panggung ala Komedle Stamboel atau dkenal sebagai Komedle Bangsawan. Padahal. Mahieu meniru pula dari pertunjukan Abdul Muluk. Banyak orang bilang. Abdul Muluk pun meniru pertunjukan serupa asal Iran. Sepanjang sejarah pergerakan manusia, tentu saja perihal tina meniru. adaptasi, kolaborasi, percampuran. penggabungan, atau pengaruh unsur seni dan budaya tak terelakkan. Mahieu membius masyarakat di Hindia Belanda dan merangsang seniman lain mendirikan komedi alias pertunjukan. Sebut saja Komedie Opera Samboel. Opera Sri Permata. Opera Bangsawan, dan Indra Bangsawan. Tak seperti rombongan Mahieu yang berisi pemain Indo Jawa, rombongan baru tersebut menggunakan pemain yang seluruhnya pribumi. Meski demikian, cita rasa Mahieu tak ditinggalkan, yaitu penampilan dansa tango. kabaret, tablo. waltz. polka. dengan kostum ala bangsawan, pangeran, ratu, putri, pokoknya yang berbau barat. Itu sebabnya Komedie Stamboel dan ikutannya disebut Komedie Bangsawan. Demikianlah tontonan tersebut menghibur banyak Bati wong cilik di masa itu. abad 19. Alun-alun kota seringkali jadi panggung besar bagi rombongan komedi tersebut. Penontonnya? Beragam. Tapi kebanyakan ya wong cilik tadi. Bahkan kuli perkebunan ingin dihibur rombongan tersebut, demikian Misbach Yusa Biran dalam Sejarah FUm 1900-1950Bikin Film di Jawa.Repertoar-repeitoar campuran dari Baghdad. Eropa, India, mereka mainkan tanpa menggunakan naskah. Hanya garis besarnya saja yang dipahami para pemain. Mereka tak kenal naskah panggung, semua percakapan tak lain hanylah improvisasi. Apa pasal? Para pemain Itu umumnya buta huruf.
      Itu Juga barangkali, kenapa pertunjukan rombongan komedi tersebut tak mengubah repertoar atau membuat sendiri kisah ala mereka. Hingga akhirnya muncullah Tio Tek Djien dengan Miss FSboet Orion dan Piedro ; dengan Dardanella. Dua rombongan besar ini menelurkan berbagai kisah karangan mereka sendiri dengan kepiawaian Andjar Asmara dan Nyoo Cheong Seng.Perkembangan rombongan komedi ini menentukan perjalanan kesenian bangsa ini. khususnya perfilman. Dari rombongan komedi ini kemudian muncul istilah anak wayang mengikuti istilah yang berkembang di Malaka, di mana Mahieu mencontoh penampilan Abdul Muluk. Pertunjukan mereka disebut wayang panggung.

    1900 

    Lukisan “Pemandangan Alam” karya Abdullah.

    1901
    • “Lelakon Raden Bei Mas Soerjo Retno” karya F. Wiggers, seorang pengarang Belanda yang diterbitkan oleh penerbit Cina. Ini cerita kontemporer Indonesia pertama mengenai sebuah keluarga Jawa yang anak laki-lakinya badung sehingga mencuri uang negara yang diurus bapaknya. Den Bei akhirnya bunuh diri karena malu.
    • News: http://www.kitlv.nl/pdf_documents/asia-nyai.pdf DE NJAI MOEDER VAN ALLE VOLKEN ‘De roos uit Tjikembang’ en andere verhalen

    1907
    • Komisi bacaan rakyat, Commissie voor de Indlansche School en Volklectuur, didirikan. Belakangan, penerbitan ini bernama Balai Pustaka. Editor Nur St. Iskandar menerapkan kebijakan Politik Etis Belanda dan cenderung mempunyai bahasa pakem yang menerapkan antipuisi dan tak membolehkan politik agama. Penerbitan ini melahirkan karya-karya seperti Azab dan Sengsara (Merari Siregar - 1920), Sitti Nurbaja”(Marah Rusli -1922), dan Salah Asuhan (Abdul Muis- 1928).

    1917
    • Teater opera diprakarsai orang-orang Tionghoa. “Tjerita Iboe Tiri jang Pinter Adjar Anak” menyajikan cerita tentang Cina peranakan di Indonesia. Beberapa tahun kemudian, tontonan bioskop mulai masuk Indonesia dan menyebabkan kemunduran kualitas tontonan itu.

    1920
    • Dunia fotografi di Batavia mulai berkembang seiring dengan bermunculannya media yang terbit di Batavia. Salah satu fotografer Indonesia, Anton Najoan, bekerja di majalah berita berbahasa Belanda, Java Bode. Adalah Anton yang menanamkan ide nasionalisme kepada anak didiknya, Alex Mendur yang belakangan mendirikan agen foto Ipphos.
    • News Awal Fotografi Modern Indonesia Yudhi Soerjoatmodjo *Batavia, 1841. Sebuah kamera Daguerreotype tiba di ibu kota. Ia dikirim ke Jawa Tengah dengan sebuah misi khusus yang berisi pesan dari Kementerian Urusan Wilayah Koloni Belanda: mengumpulkan foto-foto pemandangan alam yang paling menonjol. Sayangnya, eksperimen itu berujung dengan kegagalan. Bagaimanapun, pada 1850, konsep fotografi sebagai alat inventaris sudah tertanam dengan mantap. Metode pemetaan wilayah koloni dengan menggunakan fotografi sudah mulai terselenggara. Selama 75 tahun berikutnya, praktek tersebut tak hanya menggambarkan realitas para praktisinya—antara lain para penginjil, abdi keraton, tentara, dan para petualang—tapi juga realitas dan fungsi dari gambar-gambar yang dihasilkannya. Lebih jauh lagi, sirkulasi dan presentasi foto-foto itu kepada publik menyiratkan falsafah estetis yang pengaruhnya masih kuat hingga hari ini.

    • Perjalanan hidup dan karir beberapa fotografer di Indonesia berikut ini mungkin mampu mengilustrasikan argumen itu.
      Salah satu studio foto yang paling penting dan produktif di Hindia Belanda adalah studio Woodbury & Page, yang didirikan oleh dua pria berkebangsaan Inggris dengan nama yang sama. Mereka pindah ke Hindia Belanda setelah usahanya untuk mencari emas di Australia gagal. Datang ke Batavia pada 1857, Woodbury & Page menemukan kembali cinta pertamanya pada fotografi dan mendirikan studio yang ternyata bertahan sampai awal 1900-an.
      Woodbury & Page tak hanya bekerja berdasarkan komisi dari proyek-proyek pemerintah kolonial atau untuk klien-klien yang kaya-raya. Keberhasilan usahanya juga banyak mengandalkan penjualan foto-foto eceran dan carte-de-visite (foto kenang-kenangan). Foto-foto yang merekam pemandangan alam dan warga setempat ini diciptakan untuk dipasang di album cendera mata yang sangat digemari oleh masyarakat kolonial ketika itu. Untuk alasan inilah keduanya sering berkeliling Hindia Belanda mencari obyek foto yang menarik, dari para bangsawan sampai orang biasa. Apa yang dilakukan Woodbury & Page akhirnya memperluas konsep "menaklukkan wilayah dengan menaklukkan gambarnya," sehingga, "Orang-orang biadab yang memegang pentungan, tombak, dan panah beracun tak lagi dianggap sebagai ancaman bagi orang-orang Eropa…. Mereka kini justru dilihat sebagai trofi yang eksotis bagi kamera para fotografer profesional," demikian tulis Groeneveld dalam Toekang Potret.
      Sejarawan kontemporer menganggap Kassian Cephas (1845-1912) sebagai fotografer pribumi pertama. Pria asal Jawa ini adalah seorang figur yang luar biasa karena pada masa itu profesi fotografer hanya dijalani oleh orang-orang berkebangsaan Eropa serta beberapa orang Cina dan Jepang. Hal yang lebih luar biasa dari sosok ini adalah kemampuannya menjembatani dunia Timur dan Barat dengan keahlian dan keanggunan.
      Sejak awal 1870-an, Cephas bekerja untuk Kesultanan Yogyakarta sebagai fotografer dan pelukis di keraton. Melalui koneksinya, seorang dokter berkebangsaan Belanda yang selalu merawat sultan, Cephas berhasil menempatkan foto-foto karyanya di beberapa portofolio yang penting. Sebagai abdi keraton dan arkeolog amatir, Cephas juga banyak membuat foto keluarga sultan, upacara-upacara keramat di keraton, pertunjukan teater kerajaan, atau bahkan reruntuhan candi-candi Hindu dan Buddha. Foto-foto tersebut, di tangan Cephas, seperti yang ditulis dalam buku Cephas, Yogyakarta karya Gerrit Knaap, bukanlah gambar-gambar yang mengekspresikan individualisme, melainkan harga diri dan kehormatan. Daya tarik foto-foto tersebut justru terletak pada kesan misterius yang tampil dari karyanya.
      Ini bisa terlihat, misalnya, dalam sebuah potret, kesan misterius itu bisa saja terpancar dari hiasan kepala yang dipakai, perhiasan, susunan bunga, motif kain batik, atau bahkan pose kaki dan tangan orang tersebut. Singkatnya, karakter itulah yang membuat foto-foto Cephas menyiratkan kontradiksi yang halus tapi sekaligus begitu menonjol: kontras antara kejayaan di masa silam dan apa yang dianggap rendah pada kebudayaan kontemporer.
      Kontradiksi semacam ini ternyata tak mewarnai karya-karya fotografer Indonesia di zaman perjuangan merebut kemerdekaan (1945-1949). Karya pertama dari warga negara Indonesia dibuat persis pada detik bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya. Pukul 10 pagi lewat sedikit, tanggal 17 Agustus 1945, bersamaan dengan rekaman pertama kameranya, lahir pula seorang fotografer berkebangsaan Indonesia.
      Frans Mendur (1913-1971), bersama kakaknya, Alex Mendur, ikut menghadiri detik-detik pembacaan proklamasi dan merekam beberapa foto yang akhirnya menjadi ikon sejarah Indonesia modern. Sebagai wartawan, kakak-adik ini sudah mendengar peristiwa luluh-lantaknya Nagasaki dan Hiroshima di Jepang akibat bom atom. Karena itu, mereka menyadari betul bahwa Jepang akan kehilangan kontrol atas Hindia Belanda. Itu sebabnya para pemimpin nasional memanfaatkan situasi dan mendeklarasikan lahirnya Republik Indonesia, untuk mencegah penguasa Belanda berkuasa kembali.
      Hanya dalam beberapa hari setelah kemerdekaan, para fotografer Indonesia menemukan kembali ruang gerak yang telah hilang. Sejak kemerdekaan, mereka mampu merekam peristiwa dan melihat wajahnya sendiri sebagai orang yang bebas. Para fotografer itu memberikan warna lain pada negara baru Indonesia dan menunjukkan dimensi baru dalam hubungan antarwarganya. Orang Indonesia tidak lagi digambarkan sebagai bayangan gelap yang berjongkok di kaki penguasa kulit putih—inilah visualisasi tipikal masa kolonial—tapi sebagai manusia yang utuh.
      Fotografer Indonesia merekam foto-foto itu dari jarak yang akrab dengan proporsi dan bingkai yang sama untuk orang biasa ataupun para pemimpinnya. Hasilnya? Mereka pun terlihat berstatus sama.
      Fotografer Indonesia juga membuang tipuan-tipuan visual yang membuat foto-foto di era prakemerdekaan terlihat agung dan berjarak. Hampir di setiap frame, foto-foto di era kemerdekaan penuh sesak dengan bunyi, gerak badan, dan ekspresi wajah para obyeknya. Foto-foto itu menjadi luar biasa karena kejujuran dan keluguan yang terpancar.
      Tanpa perintah, tanpa dana, dan nyaris tanpa peralatan, para fotografer Indonesia akhirnya berhimpun. Pekan pertama September 1945, beberapa fotografer muda yang tergabung dalam kantor berita Jepang Domei cabang Jakarta dan Surabaya mendirikan biro foto kantor berita Antara.
      Alex Mendur (1907-1984), yang sebelumnya menjabat kepala biro foto Domei, bergabung dengan Merdeka, harian independen pertama, yang salah satu pendirinya adalah Frans Mendur. Setahun kemudian, mereka mendirikan Ipphos bersama teman-teman lama sejak sebelum perang, yaitu Umbas bersaudara.
      Ada tiga faktor yang mendorong keberhasilan para pemuda ini. Pertama, tersedianya teknologi modern yang memungkinkan fotografer Indonesia di zaman ini merekam dan mencetak foto dalam situasi sesulit apa pun. Lebih jauh lagi, kamera berukuran kecil menghilangkan jarak yang tercipta oleh kamera ukuran besar yang digunakan era sebelumnya. Beberapa foto terpenting pada era ini, termasuk foto-foto pada saat proklamasi, direkam menggunakan kamera compact merek Leica. Kamera ini sudah menggunakan film gulung yang mudah diselundupkan—ini faktor penting di medan perang—dan memungkinkan fotografer merekam foto-foto dalam sekuens dan nuansa berbeda secara cepat.
      Kedua, karena pemerintah Indonesia ketika itu tidak memiliki pengalaman administratif kenegaraan, mereka sangat bergantung pada ideologi dan retorika untuk menjaga kelangsungan hukum dan keteraturan. Foto-foto yang menggambarkan solidaritas dan harmoni di antara sesama bangsa Indonesia, otomatis, mendapatkan dukungan moral dan finansial dari pemerintah. Antara, agen berita yang semula independen, belakangan diletakkan di bawah men teri penerangan. Ipphos tetap memiliki otonomi tapi tetap bergantung pada (waktu itu) perdana menteri dan para pejabat lainnya yang bepergian dengan kereta api khusus untuk menyelundupkan foto-foto itu ke luar wilayah-wilayah konflik.
      Ketiga, latar belakang profesional dan politik para fotografer itu di zaman ini sudah berbeda dengan fotografer abad ke-19. Pada abad ke-19, fotografer profesional adalah fotografer komersial yang memiliki studio foto sendiri. Sebaliknya, para fotografer Antara dan Ipphos sejak awal sudah berprofesi sebagai jurnalis. Ini perbedaan yang sangat penting. Dengan bekerja untuk media (meskipun jika dikontrol oleh musuh), mereka mendapatkan akses untuk melihat keadaan negeri yang sesungguhnya. Mereka juga dapat berdialog dengan calon pemimpin negara dan, karena itu, memiliki kesempatan untuk mengembangkan pola pikir yang kritis.
      Ketika direkrut Domei di tahun-tahun akhir penjajahan Jepang, para fotografer Antara, misalnya, masih berusia muda dan miskin pengalaman. Mereka tak hanya menerima pelajaran fotografi secara formal dari tenaga pengajar asal Jepang, tapi juga sering bertemu dengan para wartawan senior yang dulu mendirikan Antara, yang ketika itu sudah mendukung gerakan kemerdekaan nasional. Sebagai fotografer biro berita Jepang, mereka memiliki izin untuk membuat foto dan, yang lebih penting, untuk berkeliling negeri. Apa yang mereka lihat adalah negeri yang hancur oleh kemiskinan dan kelaparan yang luar biasa. Itu pun masih diperburuk oleh hukum darurat yang diterapkan kekuasaan asing. Bagi mereka, keputusan untuk bergabung dengan kekuatan perang kemerdekaan, dan untuk bergabung dengan Antara, adalah pilihan yang mudah.
      Di sisi lain, para pendiri Ipphos melihat Anton Najoan (1896-1933) sebagai teladan. Dalam struktur masyarakat kolonial yang kaku, Anton berhasil mendapatkan respek sosial dan profesional sebagai seorang fotografer harian Belanda, Java Bode. Toh, ia menolak mengubah statusnya sebagai gelijkgesteld, warga pribumi yang secara hukum dianggap sejajar dengan orang Eropa. Pada 1922, ketika banyak pemuda daerah yang datang belajar ke ibu kota, Alex Mendur, yang baru berusia 15 tahun, magang di bawah Anton Najoan.
      Selama 10 tahun, Alex membina karirnya di Batavia, dari bekerja di studio Luyks dan Charls & Van Es & Co., yang terkenal, sampai menjadi fotojurnalis di harian Java Bode dan majalah Wereld Nieuws en Sport in Beeld. Pada saat itulah ia menyaksikan bagaimana berbagai kelompok yang berbeda ini menyadari persamaan bahasa, identitas, dan nasib mereka sebagai orang Indonesia.
      Sementara itu, Frans, adik Alex Mendur, telah menjadi buron politik. Setelah berhasil lolos dari kejaran badan intelijen Belanda di Bali, Frans bersembunyi di Surabaya sembari menyamar sebagai penjual rokok. Ia akhirnya diadopsi oleh seorang pedagang garam, masuk agama Islam, dan berkumpul kembali bersama kakaknya di Batavia. Di sanalah, di kota yang dianggap sebagai sarang macan itu, dia menemukan tempat pengungsian sementara, yakni dengan bekerja di Java Bode.
      Perang kemudian menjalar ke Samudra Pasifik dan pada saat itulah Justus Umbas, sahabat Mendur bersaudara, dijebloskan ke penjara. Umbas tak sendirian. Ia dikurung bersama para pemimpin nasionalis yang juga menolak bekerja sama dengan pemerintah Jepang. Alex dan Frans Mendur ditarik oleh penguasa militer dan dipaksa membuat foto-foto propaganda untuk Domei, Asia Raya, dan Djawa Shimbun Sha.
      Setelah sekian lama berada di garis depan untuk memperjuangkan idealisme yang mendalam dan profesionalisme yang pragmatis, foto-foto Ipphos justru mencerminkan toleransi, harga diri, dan rasa hormat kepada hal-hal yang menyangkut umat manusia.
      Ragam pengalaman yang digali para pendirinya, tampaknya, membuat mereka mampu memandang hidup dalam dimensi yang lebih luas. Pengalaman ini, selain menjadi sumber nasionalisme dan memperkuat karakter independennya, ikut memperdalam karya fotografi mereka.
      Tahun 1841 adalah sebuah awal, yang dimulai dari eksistensi sebuah Daguerreotype. Awal itu ditandai dengan eksistensi fisik kamera yang "ditugaskan". Tapi, selebihnya, Mendur dan Umbas bersaudara adalah awal dari sebuah ekspresi pembebasan jiwa. Adalah mata dan kamera para fotografer ini yang mempersembahkan representasi sejarah Indonesia melalui karya fotografi.
    • Seniman Barat seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet datang ke Bali.
    • News: Walter Spies http://www.walterspies.com/
  • Rudolf Bonnet was one of Bali’s most influential foreign artists. During his time in Bali, Bonnet was well connected with other leading foreign artists such as Walter Spies, Balinese royalty including Tjokorda Gede Agung SukawatiPita Maha Artists Association as well as Museum Puri Lukisan.

    Early history
    Johan Rudolf Bonnet was born on 30 March 1895 in Holland. He studied at the Rijksacademie van Beeldende Kunsten in Amsterdam, specializing in drawing and painting in the academic tradition of the early 20th century. In 1920, he left Holland for Italy, where he would spend the best part of the next eight years, mostly in the village of Anticoli Corrado near Rome. It was in Italy too that he first heard of Bali from W.O.J. Nieuwenkamp, the artist-illustrator of the island’s culture, who first visited Bali in 1904, documenting the island’s landscapes, temples, buildings, ceremonies, artifacts, and people.
    and helped to create the
    Moving to Bali: Walter Spies, Tjokorda Gede Agung Sukawati
    A family visit to the Dutch Indies on the S.S. Jan Pieterszoon Coen, gave Bonnet his first experience of what is now Indonesia. Once in Java, however, the memory of the photographs Nieuwenkamp had shown him in Italy drew him further east, and he decided to visit Bali, arriving there at the end of January 1929. He was fascinated by the Balinese dance and pageantry and so decided to stay. After two months in TampaksiringPeliatan to a pavilion rented from the punggawa of Peliatan, through whom Bonnet was introduced to all the right people in the area, in particular Walter Spies and the princes of the House of Ubud like Tjokorda Gede Agung Sukawati and Tjokorda Raka Sukawati. Friendship was immediate, and when Spies moved to a new house in Campuhan, Bonnet took over his water palace in Ubud and set up his studio there.
    he moved to
    Pita Maha Arts Movement
    The Pita Maha Arts Movement lasted for 6 years and boasted a membership of 150. The group met at Spies’s Campuhan house, to review by the members, which included painters, sculptors and carvers. One of the directions the Pita Maha Arts Movement wanted to go in, was self expression by the artist, as well as exploring everyday themes, rather than just repeating mythical themes. The Pita Maha Arts Movement and it founders organized art displays around the world, trying to sell the best examples of the new modern Bali art styles.
    Rudolf Bonnet was a driving force in the modern Balinese art scene. In 1936, he and Walter Spies, Gusti Nyoman Lempad and Cokorda Gede Agung Sukawati, founded the Pita Maha Arts Movement. This movement was designed to preserve the quality of Balinese art, which had seen a sharp decline, since the arrival of the first foreign tourists in the early 30’s.
    Japenese internment
    When the Japanese landed in Bali, Bonnet was not immediately imprisoned, but his freedom did not last long. When a new officer took charge, he had the Dutchmen arrested and shipped to Sulawesi in 1943. Bonnet thus spent the rest of the war in internment camps in different places, in Paréparé, Bolong and finally in Makassar.
    Post WWII: Golongan Pelukis Ubud
    rudolf bonnet
    In 1947 Bonnet came back to Ubud after a short stay in Makassar. Some of the important Dutch community of the Indies had disappeared in the turmoil of the war, but those who escaped intended to stay. Bonnet, among them, had not other idea than resuming his pre-war action. In 1948, even though some Balinese artists had taken to the mountains and the conditions were far from secure, he held in Denpasar the first post-war Balinese exhibition under the auspices of the Republik Indonesia Timur. It was during this post-war period that Bonnet’s influence reached its peak. With Bonnet in Ubud, and Ubud back on the map of tourism, the reasons, which had led to the creation of Pita Maha Artists Association before the war, were still present. In 1951 Bonnet attempted to create an association with similar purposes, called the Golongan Pelukis Ubud. This organization was more limited in scope and only involved artists from the Ubud area, around the figures of I Gusti Nyoman Lempad and Anak Agung Gede Sobrat. The Golongan Pelukis Ubud, though failed to achieve durable success to recreate the equivalent of Pita Maha’s.
    Soekarno & Bonnet
    President Soekarno
    turned the island into the window of Indonesia and had a palace built for himself in Tampaksiring, overlooking the Balinese nymphs at bath. Bonnet knew Soekarno, who used to visit him in his studio and had a close contact with him, dating back from an exhibition in Jakarta in 1951, when the President ordered Bonnets paintings to his palace.
    Museum Puri Lukisan
    rudolf bonnet
    Bonnet spent much of his time and energy dealing with the legacy of the Pita Maha years: collecting and researching the works, looking for funds for what was to be the Museum Puri Lukisan in Ubud, planning its construction, making its inventory, preparing its catalogue, etc. He remained for this purpose in constant contact with Tjokorda Gede Agung Sukawati, who tried several times to have him come back to the island. The conditions did not allow it before 1972, when Bonnet could finally come with a three-month grant from the Dutch government to make an inventory of the museum and complete its catalogue. He returned the following years (1973-1975-1976) with a similar purpose and literally set up the collection of the Museum Puri Lukisan. Meanwhile his action gained an increase in recognition, earning him awards and medals and a mythical image with the Balinese. Burdened by age and illness, he could never complete the catalogue. He passed peacefully away in Laren, Holland in 1978. It is in Bali, though, that his soul was released, when in 1979 accompanied his friend Tjokorda Gede Agung to the realm of the gods in one of the greatest cremation ceremonies to date.

  • 1923
    • Pameran Salon Fotografi Internasional pertama di Batavia yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fotografer Amatir Hindia Belanda pertama.

    1926
    • Loetoeng Kasaroeng adalah film hitam-putih dan bisu Indonesia yang pertama kali diputar di bioskop, dengan sutradara L. Heuveldorp dan juru kamera G. Krugers.
    • Muncul kelompok Dardanella. Mereka menampilkan Bebasari dengan menggunakan cerita Ramayana.

    1927
    • Menjamurnya karya-karya sastra Melayu-Tionghoa, mencapai jumlah 3000 judul. Yang terkenal adalah Bunga Ros dari Cikembang, karya Kwee Tek Hoay yang dibuat dalam bentuk drama, kemudian dinovelkan dan dibuat film. Pada masa ini, sastra Melayu yang ditulis peranakan Cina mencapai jumlah 3.000 judul.
    • News : Kwee Tek Hoay (31 Juli 1886 - 4 Juli 1952) adalah sastrawan Melayu Tionghoa terkenal dan tokoh ajaran Tridharma (Sam Kauw Hwee). Ia banyak menulis karya sastra, kehidupan sosial, dan agama masyarakat Tionghoa peranakan. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah Drama di Boven Digoel, Boenga Roos dari Tjikembang, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia, dan Drama dari Krakatau.
      Ia menerbitkan majalah berbahasa Indonesia pertama yang berisikan ajaran Agama Buddha dengan nama Moestika Dharma (1932-1934). Dari majalah ini diketahui bahwa telah berdiri sebuah organisasi Buddhis bernama Java Buddhist AssociationE. Power dan Josias van Dienst. Organisasi ini merupakan anggota International Buddhist Mission yang berpusat di Thaton Birma dan mengacu pada aliran Buddha Theravada. di bawah kepemimpinan
      Kwee juga memimpin redaksi Moestika Romans (1932-1942), majalah Tionghoa peranakan yang berbobot pada masa itu. Tulisannya Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia yang merupakan serial dalam Moestika Romans edisi Agustus 1936 - Januari 1939 telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh sinolog terkemuka Lea E. Williams dengan judul "The Origins of the Modern Chinese Movement in Indonesia".

    1930
    • Musik Jazz mulai berkembang dipelopori oleh Tjok Shin Soe. Musik keroncong juga mulai dikenal di Indonesia, tokohnya adalah M. Sagi.
    • News: Tjok masih hidup Big band, kelompok musik jazz pimpinan tjok sinsoe bermain di mirasa. alex yang menggantikan suara almarhum sam saimun belum mengesankan. pemain big band mencomot pemain dari al maupun osd.

      Bahwa Tjok tetap hidup walaupun sudah menghilang dari panggung terbuka TIM, memang harus diakui. Tampaknja orang tua pedjuang jazz ini tetap memiliki tenaga jang tjukup bulat setelah sekian lama dibentur kekebewaan karena perhatian orang pada musiknja, belum djuga tjukup memenuhi target hatinja. "Kalau big-band dapat mendjamin hidup kami, tentu sadja kami akan main terus", kata salah seorang anak buah Tjok kepada TEMPO dengan mata jang sungguh-sungguh. Kemudian ia tambahkan. "Bagi kami soal tempat di manapun boleh sadja asal dapat hidup terus di OSD maupun di Big-Band".

      Top-form. Sebagaimana diketahui asuhan Tjok jang bernama Big-Band mentjomot pemain dari sana-sini. Ada jang berasal dari Angkatan Laut, ada pula jang merangkap main di Orkes Simpony Djakarta -- OSD. Ini tak dapat disalahkan, karena pemain-pemain musik itu tidak mungkin dipaksa setia untuk suatu perkumpulan sementara imbalan uang jang mereka terima tak tjukup menghangatkan dapur mereka. Tjok rupanja setjara sadar meneruskan "dwi keanggotaan" itu. Hanja belum diketahui bagaimana djawaban Adidharma sebagai pimpinan OSD dalam hal ini. Rasanja dia jang selalu berkeberatan melihat ketidak-disiplinan, kekurang-tjekatan, tidak akan senang djuga konsentrasi pemainnja
      harus dibagi untuk dua djeliis musik jang sama-sama sulitnja: jazz dan klasik.

      George Rudolf William Sinsoe dengan 25 pemain, telah membukaatjaranja dengan memainkan tjiptaan Joe Garland "In the Mood" jang pernah tersohor lewat rombongan Glenn Miller disaat perang sedjagat masih berketjamuk. Walaupun tidak segesit Miller, Tjok tjukup membuktikan bahwa ia masih bersemangat sebagaimana biasanja, apa lagi kalau mengenang kegagalan kerdja samanja dengan Wajan Supartha di Flamingo. Dalam kesempatan itu ia memainkan antara lain String of Pearl. Temptation, Mood Indigo, Bagsnew Groove jang total hampir 31 buah lagu. Sekali ini Tjok muntjul dengan bantuan Henny Purwonegoro dan Maya Sopha. Tetapi kedua biduanita ini mernang bukan Catharina Valente atau Ella
      Fitzgerald meskipun mereka djuga mentjoba membawakan Secret Love dan Hello DOlly. Sedang biduanita Ida Effendi kelihatan lebih kenal dengan irama-irama Indonesia dari pada irama "sana". Kerontjong Bandar Djakarta jang ditjobanja djauh lebih bagus dari Keep on Running jang boleh dikatakan melengking berserakan.

      Pertundjukan jang dilangsungkan 18 djam setelah Sam Saimun meninggal ini, sesungguhnja tidak dapat dikatakan berhasil. Ismeth Mochtar "orang dalam" mengaku sendiri bahwa mereka belum mentjapai top-form. Untuk ini banjak djuga alasan jang dikemukakannja antara lain: latihan sering terlambat, instrumen pindjaman atau sound sistem bcgini dan begitulah. Tentu sadja semua itu bukan alasan jang masih patut bila orang ingin membangun musik profesional. KEPERGIAN Sam Saimun bukan sedikit artinja. Disamping tidak ada lagi jang akan menjanjikan Selendang Sutera, Saputangan atau Indonesia Tanah Airku dengan begitu mejakinkan. Radio Republik Indonesia sendiri telah kehilangan salah satu tjontoh jang baik, bila hendak memamerkan musik jang bermutu ke pada penjanji-penjanji muda Lebih dari pada itu, pertundjukan "Big Band "Tjok Sinsoe di Miraca menderita tjukup banjak, karena sejogianja penjanji teladan itu ikut menjumbangkan suaranja. Mengenai pertundjukan ini, tentulah sebagian besar penonton tadinja mengharap kan sekali Sam akan menjampaikan lagu lembut "Misty" dengan interpretasi jang mengesankan. Adapun Alex, jang menggantikan almarhum menjampaikan lagu bersangkutan, disamping harus menerima keketjewaan karena bukan Sam sendiri, memang harus diakui belum tjukup mengesankan.

    1931
    • Periode Angkatan Pujangga Baru dipelopori Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sanusi Pane.











  • 1936
    • Perkumpulan pelukis Pita Maha didirikan Tjokorda Gede Agung di Bali

    1937
    • Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi) didirikan oleh S. Sudjojono dan Agus Djaja untuk melawan gaya lukisan mooi Indie.

    Biografi Sindudarsono Sudjojono (1913-1985)

     
    Dia pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pantas saja komunitas seniman, menjuluki pria bernama lengkap Sindudarsono Sudjojono yang akrab dipanggil Pak Djon iini dijuluki Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Dia salah seorang pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) di Jakarta tahun 1937 yang merupakan awal sejarah seni rupa modern di Indonesia.
    Pelukis besar kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, 14 Desember 1913, ini sangat menguasai teknik melukis dengan hasil lukisan yang berbobot. Dia guru bagi beberapa pelukis Indonesia. Selain itu, dia mempunyai pengetahuan luas tentang seni rupa. Dia kritikus seni rupa pertama di Indonesia.
    Ia seorang nasionalis yang menunjukkan pribadinya melalui warna-warna dan pilihan subjek. Sebagai kritikus seni rupa, dia sering mengecam Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. Sehingga Pak Djon dan Basuki dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai air dan api, sejak 

     
    1935.
    Tapi beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta, 25 Maret 1985, pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Sehingga Menteri P&K Fuad Hassan, ketika itu, menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting.
    Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh perkebunan di Kisaran, Sumatera Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia menjadi anak asuh. Yudhokusumo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusumo, kemudianmembawanya ke Batavia tahun 1925.
    Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta. Dia pun sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadie selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta.
    Bahkan sebenarnya pada awalnya di lebih mempersiapkan diri menjadi guru daripada pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, ia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun tahun 1931.
    Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis.
    Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), 1937. Sebuah serikat yang kemudian dianggap sebagai awal seni rupa modern Indonesia. Dia sempat menjadi sekretaris dan juru bicara Persagi.
    Sudjojono, selain piawai melukis, juga banyak menulis dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.
    Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara lain berjudul: Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi dan Seko.
    Dalam komunitas seni-budaya, kemudian Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI. Dia sempat terpilih mewakili partai itu di parlemen. Namun pada 1957, ia membelot. Salah satu alasannya, bahwa buat dia eksistensi Tuhan itu positif, sedangkan PKI belum bisa memberikan jawaban positif atas hal itu. Di samping ada alasan lain yang tidak diungkapkannya yang juga diduga menjadi penyebab Djon menceraikan istri pertamanya, Mia Bustam. Lalu dia menikah lagi dengan penyanyi seriosa, Rose Pandanwangi. Nama isterinya ini lalu diabadikannya dalam nama Sanggar Pandanwangi. Dari pernikahannya dia dianugerahi 14 anak.
    Di tengah kesibukannya, dia rajin berolah raga. Bahkan pada masa mudanya, Djon tergabung dalam kesebelasan Indonesia Muda, sebagai kiri luar, bersama Maladi (bekas menteri penerangan dan olah raga) sebagai kiper dan Pelukis Rusli kanan luar.
    Itulah Djon yang sejak 1958 hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.
    Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, ini dipajang di Museum DKI Fatahillah.
    Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970, ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Bahkan setelah dia meninggal pada tanggal 25 Maret 1985 di Jakarta, karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di: Festival of Indonesia (USA, 1990-1992); Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998).

    Agus Djaja
    Pelukis, nama lengkapnya Agus Djaja Suminta. Lahir di Banten 1916 dan meninggal di Jakarta tahun 1994. Ayah Djaja, seorang keturunan keluarga bangsawan Banten, adalah seorang pegawai pemerintah, yang pernah menjadi kepala sebuah agen bank dan mampu menyediakan pendidikan yang baik bagi puteranya. Setelah mengikuti pendidikan seni di Jakarta dan Amsterdam, Agus mulai mengajar menggambar serta mata pelajaran lain pada tahun 1934. Bekerja sama dengan Sudjojono membentuk PERSAGI pada tahun 1938-1942, dan duduk sebagai ketua pada kurun waktu itu, karena itu ia bisa dianggap sebagai pencetus seni lukis Indonesia modern.
    Selama pendudukan Jepang ia mengepalai Bagian Kesenian dari Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidosho) serta kemudian bekerja di organisasi Putera. Pada waktu ini ia juga menjadi terkenal lewat banyak pameran yang di dalamnya karya-karyanya tampil dengan karya-karya Affandi, Hendra, Kartono, dan lain-lain.
    Selama revolusi ia adalah seorang kolonel dalam angkatan perang Indonesia. Pada tahun 1947 sebuah pameran lukisan oleh Agus Djaja serta adiknya yaitu Otto telah menarik banyak perhatian di Jakarta, keduanya bekerja bersama untuk pameran di Amsterdam. Mereka tinggal di Eropa selama seputar dua tahun, mengunjungi The Hague, Paris, dan Monaco, tempat pameran-pameran (mereka) diselenggarakan.
    Pada kedatangan mereka kembali ke Indonesia pada tahun 1950, kedua bersaudara ini membuka sebuah art shop serta galeri di Jakarta. Kemudian, pada sekitar 1955, Agus Djaja menetap dengan isterinya di Bali, dan di studionya di Pantai Kuta ia melukis terutama subjek-subjek Bali dalam gaya yang menarik yang lebih naturalistic serta komersial daripada yang didapatkan pada karyanya yang dahulu. Selain melakukan pameran di Indonesia, juga berpameran di Belanda dan Brazil. Tahun 1994 menerima Hadiah Seni dari Pemerintah RI.

    1940
    • Musik Klasik mulai berkembang di Indonesia, dengan tokoh Amir Pasaribu.
    Amir Pasaribu Amir Pasaribu lahir tanggal 21 Mei 1915 di Siborong-borong. Dia adalah seorang musisi Indonesia.
    yang menikmati pendidikan di Sekolah Raja Balige, kemudian sekolah dasar Eropa milik misi Katolik, dan diteruskan ke HIS Hollands Inlandse School di Sibolga. Ia meneruskan sekolah di Mulo (=SMP) di Tarutung, dan diselesaikan di Padang. Pendidikan perguruan tinggi dijalaninya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bandung (dulu HIK); di sana ia juga mengembangkan pengetahuannya dalam bidang musik piano. Ia mendapat pelajaran musik dari Fr. Paulus dan Fr. Gustianus; selanjutnya cello dari Nicolai Varvolomeyef dan Joan Giessens.


    Biodata
    • 1915 – 1935 sekolah dasar dan lanjutan di Sumatra Utara dan Tengah (Tarutung/Sibolga/Padang)
    • 1935 – 1942 perguruan tinggi di Bandung
    • 1942 – 1945 bekerja di bidang siaran radio di zaman pendudukan Jepang
    • 1945 – 1952 bekerja di bidang siaran radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep), dan Orkes Studio Jakarta; kemudian RRI
    • 1952 – 1954 tugas belajar di Belanda untuk mempersiapkan pembukaan program pendidikan musik di Indonesia
    Pasaribu beberapa kali mengadakan kunjungan ke luar negeri antara lain Tiongkok, Jepang, Uni Soviet, Cekoslowakia, Jerman, Belanda dan Perancis dalam rangka tugas belajar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini Departemen Pendidikan Nasional)
    • 1954 – 1957 direktur Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta
    • 1957 – 1968 direktur B1-kursus jurusan Seni Suara; Lembaga Pendidikan Guru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian ditingkatkan menjadi IKIP-UI (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia – kini Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta
    • 1968 – 1980 guru piano dan cello pada Pusat Kebudayaan Suriname (Cultureel Centrum Suriname)
    • 1980 – 1995 guru privat piano di Paramaribo
    • 1995 kembali ke Indonesia
    • 2002 dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
    Berbagai jabatan yang pernah disandang:
    • Guru piano di Jakarta dan Paramaribo, Suriname
    • Ketua Lembaga Persahabatan Indonesia-Cekoslowakia
    • Pengimpor piano Petrof buatan Cekoslowakia
    • Wirausaha bengkel & reparasi piano serta transportasi
    Publikasi
    1. Musik dan Selingkar wilayahnya, Kem. PPK 1955
    2. Analisis Musik Indonesia (PT Pantja Simpati 1986)
    3. Riwayat Musik dan Musisi (Gunung Agung, 1953)
    4. Teori Singkat Tulisan Musik (NV Noordhof-Kolff)
    5. Menudju Apresiasi Musik (NV Noordhof-Kolff)
    6. Bernyanyi Kanon (Balai Pustaka, Kem.PPK 1955)
    7. Lagu-lagu Lama Solo Piano I (Balai Pustaka 1952)
    8. Lagu-lagu Lama Solo Piano II (Balai Pustaka, 1958)
    9. Suka Menyanyi (Indira, 1955)
    10. Tifa Totobuang
    Artikel
    1. Orkes Langgam Indonesia (Off beat – Tjintjang Babi!) – maret 1953
    2. Kesaksamaan – juni 1953
    3. Malam Musik di Geredja Paulus – oktober 1953
    4. Lenong, Observasi MSDR Lenteng-Agung – Konfrontasi nr. 3 1954
    Karya:
    Musik untuk piano tunggal:
    1. Capung kecimpung di Cikapundung
    2. Rondino Capriccioso
    3. 2 Sonata’s
    4. Petruk, Gareng dan Bagong
    5. Rabanara dances
    6. Rabanara dances no. 7
    7. Spielstuck
    8. Puisi Bagor
    9. Kesan langgar(Impressie Langgar)
    10. Sampaniara no. 1 (Getek silam kali Ancol)
    11. 6 Variasi Sriwijaya
    12. Bongkok’s Bamboo-flute (Orpheus in de dessa)
    13. Indihyang
    14. Ball-dance of the river-fish princess/Tari Ikan Putri
    15. Berceuse
    16. Suite Villageoise
    1. La flute d’un mendiant
    2. Lullaby
    3. Makam Achmad Sutisno
    4. Beduk Puasa
    17. Ole ole melojo-lojo
    18. Variasi Es Lilin
    19. Maswika Lily
    Musik untuk string Quartet/Kwartet gesek:
    1. Dua Resital Violis
    2. Meditation
    3. Hikayat Mas Klujur
    4. Sunrise at Yang Tse,
    5. Dr. Sun Yat Sen Memorial Hall,
    6. Hang Tsu-Mountain and Creeks at Sundown,
    7. Express Railroad Back Home
    Musik untuk piano dan biola:
    1. Clair de Lune
    Musik hymne perjuangan ABRI:
    1. Andhika Bhayangkari
    Aktivitas musik yang terakhir dilakukan (hingga tahun 1995):
    • Piano & biola ensemble di Paramaribo bersama Harry de la Fuënte
    • Trio musik gesek di Paramaribo
    • Piano pengiring untuk Paduan suara Maranatha di Paramaribo
    • Piano pengiring sekolah balet di Paramaribo
    Bersua dengan Amir Pasaribu
    Oleh : Ananda Sukarlan


    1943

    • Chairil Anwar bertemu dengan H.B. Jassin. Pertemuan penting bagi kedua orang tokoh sastra Indonesia modern.


    17-8-1945
    • Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Alex Mendur dan Frans Mendur memotret peristiwa proklamasi tersebut.
    • Lahir sastrawan-sastrawan seperti Chairil Anwar, Idrus, Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, dan Rivai Apin, yang karya-karyanya mulai dikenal masyarakat.

    1946
    • Seniman Indonesia Moeda (SIM) dengan tokoh Srihadi, Hendra Gunawan, Soedjojono, dan Affandi. Karya fenomenal Sudjojono antara lain adalah Di Balik Kelambu Terbuka, Kawan Revolusi.
    • Agen foto Ipphos (Indonesian Press Photo Service) didirikan oleh Frans dan Alex Mendur serta Yustus dan Frans Umbas. Agen foto ini banyak melahirkan foto-foto seputar revolusi kemerdekaan, termasuk foto-foto Sudirman, Bung Tomo, Bung Karno, dan Bung Hatta hingga pergolakan daerah pada1950-an dan setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.
    • Fotografer Abdoel Wahab memotret peristiwa perobekan bendera Belanda oleh pemuda Surabaya di Hotel Oranye dan pertempuran November 45.
    • R.M. Soetarto mendirikan Berita Film Indonesia yang bertugas di bawah Kementerian Penerangan RI membuat film dokumenter dan foto tentang perjuangan kemerdekaan.
    • Abdoel Wahab dan para fotografer muda Indonesia didikan kantor berita Jepang, Domei, membentuk Biro Foto Antara.
    1947
    • Muncul kelompok “Pelukis Rakyat”, yang banyak membuat poster dan lukisan yang mendokumentasikan revolusi kemerdekaan. Tokohnya antara lain adalah Hendra Gunawan.
    1950-an
    • “The Longmarch” (Darah dan Doa) karya Usmar Ismail pertama diproduksi: Perfini dan Spectra Film Exchange. Skenario ditulis oleh Usmar Ismail, sedangkan cerita oleh Sitor Situmorang. Dibintangi bukan oleh pemain film, antara lain Awaloedin Djamin (bekas Kapolri) Del Juzar, Farida, Aedy Moward.
    • Era musik hiburan di radio, dengan bintang-bintangnya: Ismail Marzuki, Sjaiful Bachri, dan Iskandar.
    • Karya-karya sastrawan Toto Sudarto Bachtiar dan Ajip Rosidi terbit.
    1951
    • Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi seniman yang berafiliasi kepada PKI (Partai Komunis Indonesia), didirikan. Programnya adalah: “seni untuk rakyat”.
    • Film Frieda karya Dr. Huyung mengetengahkan adegan berciuman. Film ini tertahan di lembaga sensor selama dua tahun dan beredar kembali setelah dilakukan revisi, dengan judul baru, Antara Bumi dan Langit. Film dibintangi oleh S. Bono, Grace, Sukarno. Skenario dan cerita: Armijn Pane. Produksi: Stichting Hiburan Mataram dan PFN.
    • Studiklub Teater Bandung didirikan oleh Jim Lim dan Suyatna Anirun. Hingga kini, kelompok ini sangat konsisten berproduksi.
    1953
    • Film “Krisis” karya Usmar Ismail membuat sejarah pada masa itu, karena berhasil bertahan selama lima minggu di bioskop elite. Usmar Ismail dikenal sebagai “Bapak Perfilman Indonesia” dengan karyanya antara lain: “Pejuang”, “Asrama Dara” dan “Tiga Dara”.
    1960
    • Dunia musik mulai diisi oleh musik pop praindustri, nama-nama yang mencuat antara lain adalah Idris Sardi, Titiek Puspa, Koes Bersaudara.
    • Lekra dianggap mendominasi kegiatan seni dan budaya. Tokoh-tokohnya dalam seni rupa antara lain adalah Joko Pekik dan Trubus. Pada dekade yang sama, di Bandung muncul pelukis non-Lekra. Tokoh-tokohnya Nashar, Rusli, A. Sagali.
    • Teguh Karya mendirikan Teater Populer dan hingga kini sudah mementaskan sekitar 20 lakon, di antaranya naskah adaptasi Moliere, Lorca, Pinter, dan Brecht.
    1961
    • Asrul Sani menggarap film Pagar Kawat Berdurii yang ditentang Lekra karena dianggap memiliki nilai humanisme universal. Bagi seniman Lekra, film berpihak pada revolusi.
    • Sendratari Ramayana karya Raden Tumenggung Kusumo Kesowo dipentaskan secara kolosal dengan panggung terbuka di Prambanan. Didukung oleh 150 penari, antara lain Joko Warsito, Marto Pangrawit, dan delapan tokoh seniman dari Yogyakarta dan Solo, antara lain Ki Tjokrowarsito dan Ki Martopangrawit.
    1962
    • Televisi Republik Indonesia berdiri menjadi sarana ajang pementasan musik.
    • Muncul penyair muda seperti Sapardi Djoko Damono dengan karyanya Balada Matinya Seorang Pemberontak, dan Goenawan Mohammad dengan eseinya Agama dalam Penciptaan Seni memenangkan hadiah majalah Sastra.
    • Teater realisme mendominasi dunia teater modern Indonesia. Rendra mementaskan Paraguay Tercinta dengan pemain antara lain Parto Tegal, Arifin C. Noer.
    1963
    • Lahir “Manifes Kebudayaan”, yang ditandatangani oleh antara lain H.B. Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo Soekito, Zaini, Arief Budiman, Bokor Hutasuhut, Bur Rasuanto, Goenawan Mohammad, A. Bastari Asnin, Ras Siregar, Djufri Tanisan, Sjahwil, dan D.S. Moeljanto. Tiga garis besar isinya: kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan.
    1964
    • Presiden Sukarno secara resmi melarang Manifes Kebudayaan.
    • Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis terbit.
    1966
    • Puisi Taufik Ismail berjudul Karangan Bunga, belakangan terbit dalam kumpulan Tirani dan Benteng, merupakan puisi-puisi yang berlatar belakang gejolak politik saat itu.
    1967
    • Rendra kembali dari AS. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta dan memperkenalkan teknik latihan baru yang diberi nama improvisasi yang menjelajahi bahasa non-verbal, terutama bahasa tubuh.
    1968
    • Taman Ismail Marzuki berdiri, yang kemudian menjadi pusat kegiatan seni dan budaya. Kesenian pertunjukan, teater, tari, musik, menjadi berkembang dengan adanya TIM. Berbagai kelompok dari Bengkel Teater, Teater Kecil, Teater Mandiri, hingga Teater Koma semuanya bersemi,antara lain, karena wadah ini.
    • Cerita pendek Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam memenangi anugerah cerita pendek terbaik dari majalah Horison.
    • Drama Mini Kata karya Rendra dipentaskan pertamakali di Balai Budaya, Jakarta.
    • Teater Ketjil pimpinan Arifin C. Noer didirikan
    1969
    • Film “Apa jang Kau Cari, Palupi” karya Asrul Sani, salah satu film percontohan yang dibuat Dewan Produksi Film Nasional (DPFN), meraih penghargaan sebagai film terbaik pada Festival Film Asia (FFA) 1970.
    • Lakon Menunggu Godot karya Samuel Beckett dipentaskan di Taman Ismail Marzuki oleh Rendra, Putu Wijaya, dan lainnya.
    • Lakon Aduh karya Putu Wijaya memenangi lomba naskah drama Dewan Kesenian Jakarta, dan setelah itu hampir semua naskah menjadi bertema “absurd” seperti karya Putu Wijaya.
    • Sardono W. Kusumo pertama kali melakukan eksperimen tari dengan melucuti kostum tari Jawa tradisional yang gemerlap, dan menari dengan judul Samgita I-XII. Publik menyambutnya dan budayawan Umar Kayam menyebutnya tari kontemporer Indonesia.
    1970-an
    • Keragaman fotografi muncul dengan bermunculannya media massa, dan industri pers menggerakkan banyak hal. Keragaman ini menghasilkan fotografer generasi baru di bidang jurnalistik, fashion, dan iklan,yakni
    • Musik pop Indonesia diramaikan oleh pertunjukan pop-rock dengan menyerap penonton dalam jumlah besar. Bintangnya Achmad Albar, Gito Rollies, Guruh Sukarnoputra, Franky Sahilatua. Saat bersamaan, muncul pula musik urban yang diusung oleh Harry Roesli, Iwan Fals, dan Sapto Rahardjo.
    • G. Sidharta memperkenalkan seni visual kontemporer.
    1972
    • Pemerintah Jepang meminta film “Romusha” karya S.A. Karim ditarik dari peredaran karena memperlihatkan kekejaman pemerintah kolonial Jepang.
    1973
    • Film Si Mamad karya Sjumanjaya, yang berkisah tentang korupsi, ditayangkan. Ini dianggap salah satu karyanya yang terbaik.
    • Fotografer Ed Zoelverdi memopulerkan istilah “Mat Kodak” dalam tulisan di harian Sinar Harapan.
    1974
    • Dongeng dari Dirah (The Witch of Dirah) karya Sardono W. Kusumo. Tarian ini merupakan karya kontemporer yang eksperimental dan mempertemukan konsep Jawa dan Bali. Sardono memadukan dari orang-orang tradisi, juga anak-anak Jawa, Bali, Jakarta.
    1975
    • Muncul gerakan Seni Rupa Baru, sebuah gerakan yang meniadakan batas tajam antara lukisan, grafis, dan patung sehingga para seniman dapat mengembangkan macam-macam bentuk baru, termasuk yang belakangan berkembang menjadi seni instalasi
    • Film Max Havelaar (Saijah dan Adinda) karya S.A. Karim dilarang dengan alasan terdapat penggambaran arogansi penjajah Belanda. Film ini baru beredar sepuluh tahun kemudian dengan banyak potongan sensor.
    • Semua peredaran videotape, kaset, video disc yang berisi cetak rekaman dialog, dubbing, subtitling, dan reklame berbahasa dan aksara Cina Mandarin dan atau dialek Cina lainnya dilarang pemerintah.
    • Novel pendek Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam, yang keduanya mengambil setting masa pergolakan PKI di Indonesia, diterbitkan Pustaka Jaya. Novel ini mendapat pujian dari kritikus sastra.
    1976
    • Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin berdiri di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
    • PDS H.B. Jassin merupakan pendokumentasian sastra terlengkap di Indonesia.
    • Perupa dan penulis cerita pendek Danarto menerbitkan kumpulan cerita pendek Godlob.
    • Penari Jawa terkemuka, Retno Maruti, mendirikan kelompok tari Padneswara, yang tetap mempertahankan konvensi tradisi tari Jawa.
    1977
    • Film Badai Pasti Berlalu garapan Teguh Karya, yang dibuat berdasarkan novel pop Marga T., menjadi box office dengan jumlah penonton sekitar 200.000 orang. Film ini juga menciptakan ikon baru bagi remaja saat itu. Musik latar film ini, yang digarap bersama Eros Djarot, Chrisye, dan Jocky S., tercatat sebagai karya musik film yang masih laku dijual hingga kini.
    1979
    • Sardono W. Kusumo menciptakan dan mementaskan koreografinya yang bertema lingkungan, berjudul Meta-Ekologi.
    1980
    • Muncul seni instalasi, dengan tokohnya Jim Supangkat, F.X. Harsono, Dede Eri Supria.
    1984
    • Film Pengkhianatan G30S-PKI karya Arifin C. Noer tercatat sebagai film terlaris di Jakarta dengan jumlah penonton 699.282, antara lain karena murid-murid sekolah diwajibkan menyaksikan film yang dibuat Pusat Produksi Film Negara (PPFN) ini.
    1985
    • Film terakhir Sjuman Djaja, Opera Jakarta, memperoleh banyak penghargaan pada Festival Film Indonesia.
    1986
    • Christine Hakim memperoleh Piala Citra untuk pemeran wanita terbaik yang kelima kalinya lewat film Tjoet Nja Dhien arahan sutradara Eros Djarot. Sebelumnya, Christine menerima Piala Citra untuk perannya dalam film Sesuatu yang Indah (1977), Pengemis dan Tukang Becak (1979), Di Balik Kelambu (1983), dan Kerikil-Kerikil Tajam (1985). Setelah itu, Christine diganjar banyak penghargaan internasional.
    1988
    • “Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik” dilarang terbit.
    • Mahabhuta karya Sardono W. Kusumo dipentaskan di Jenewa dan mendapat pujian.
    • Teguh Karya memperoleh Piala Citra untuk kesekian kalinya, lewat Pacar Ketinggalan Kereta. Sebelumnya, pada 1973, lewat “Cinta Pertama”, “Ranjang Pengantin” (1974), Kawin Lari (1975), Perkawinan dalam Semusim (1976), Badai Pasti Berlalu (1977), “November 1828”, “Di Balik Kelambu” (1983), dan Ibunda (1986) .
    1990-an
    • Muncul perupa muda seperti Herry Dono, Tisna Sanjaya, dan Semsar Siahaan.
    • Di bidang fotografi, ada kehancuran sekat-sekat aliran fotografi yang disebabkan oleh munculnya galeri sebagai wadah alternatif. Ini didukung dengan terselenggaranya pendidikan formal fotografi dan kondisi sosial.
    1991
    • Nya Abbas Akup mendapat penghargaan dewan juri FFI sebagai sutradara yang konsisten membuat film komedi. Film terakhirnya adalah Boneka dari Indiana.
    1992
    • LKBN Antara mendirikan Museum Antara dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, galeri fotografi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara
    1995
    • Buku “Memoar Oei Tjoe Tat” karya Pramoedya Ananta Toer dan Stanley Adi Prasetyo dilarang beredar. Ini adalah pelarangan yang keempat kalinya terhadap buku hasil karya Pram. Sebelumnya, buku-buku karya Pram yang dilarang adalah “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa” (1981), “Rumah Kaca”, “Gadis Pantai”, “Siti Mariah” (1988) “Jejak Langkah”, dan “Sang Pemula”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar