Selasa, 27 April 2010

Bintang Film DHALIA nasibnya.

Artis film & Politik 1957
Cover Buku Dhalia dalam film "Halilintar"

DHALIA 1941-1990

Lahir Kamis, 10 Pebruari 1927 di Medan. Wafat Meninggal: Minggu, 14 April 1991 di Jakarta. Pendidikan: HIS Muhammadiyah (1939), MULO Yogyakarta (1942), dan pendidikan drama pada zaman Jepang. Ayahnya, Tengku Katam adalah pemilik rombongan sandiwara Dhalia Opera dimana artis Roekiah pernah bergabung. Nama awal rombongan sandiwara itulah yang dijadikan namanya, Dhalia. Semula ayahnya yang tokoh Muhammdiyah pada masa itu menginginkan Dhalia melanjutkan ke MULO di Yogyakarta setamat HIS, untuk kelak melanjutkan ke sekolah tinggi agama Al Azhar di Kairo, Mesir. Tetapi setelah tiba di Yogyakarta, Dhalia lebih tertarik pada bidang seni sandiwara, seperti yang pernah digeluti ayahnya. Dari panggung sandiwara, Dhalia kemudian beralih ke dunia film. Itu dimulai pada 1940 dengan ikut membintangi film Pantjawarna produksi Oriental Film (Tjho Seng Han). Dalam sejarah perfilman Indonesia, film yang disutradarai Njoo Cheong Seng dan diiringi 12 lagu keroncong yang sedang populer pada masa itu, tercatat sebagai film musikal pertama. Sejak itu nama Dhalia semakin menonjol dan tambah populer setelah membintangi Moestika dari Djenar bersama Rd Mochtar. Sampai tahun 1956, Dhalia sudah membintangi 18 film, dan semuanya sebagai pemeran utama. Sesudah itu ia tidak aktif lagi main film. Meskipun demikian, namanya tetap dikenal sebagai pemain watak yang baik. Itu terbukti dari penghargaan yang diterimanya pada FFI 1955, sebagai Pemeran Utama Wanita terbaik dalam film Lewat Djam Malam produksi Perfini dan Persari. Baru pada 1974 ia kembali ke dunia film lewat Calon Sarjana produksi PT Mardi Ayu Film, dimana ia bermain sebagai pemeran pembantu. Pada tahun-tahun berikutnya ia masih turut beramin dalam berbagai produksi film, walaupun hanya sebagai pemeran pembantu.

1981
• Unggulan pada Festival Film Indonesia, Indonesia
• Kategori: Pemeran Pembantu Wanita Terbaik
• Penghargaan: Piala Citra
• Judul: Usia 18
1982
• Unggulan pada Festival Film Indonesia, Indonesia
• Kategori: Pemeran Pembantu Wanita Terbaik
• Penghargaan: Piala Citra
• Judul: Bukan Istri Pilihan
1955
• Pemenang pada Festival Film Indonesia, Indonesia
• Kategori: Pemeran Utama Wanita Terbaik
• Penghargaan: Penghargaan FFI 1955
• Judul: Lewat Djam Malam



NEWS
30 Juli 1977

Nasib bintang kawakan

DAHLIA/DHALIA menyewa kamar itu Rp 20.000 sebulan. Ukuran 2 x 3 meter, berisi dua buah dipan berkasur tipis, sebuah meja yang sarat oleh piring dan perlengkapan dapur sederhana, baju-baju yang disampirkan, tersusun rapi di sudut, beberapa buah buku, dan boneka anjing-anjingan. Kalau ada tamu datang, digelar sebuah selimut abu-abu sebagai pengganti kursi. Dahlia, bekas bintang film tenar, usianya kini 51 tahun. Rambut masih hitam, badan sedikit kurus, dan kalau saja dia mau memoles diri masih memancar keayuannya. Puteri Tengku Katan yang masih kerabat Sultan Deli ini tinggal bersama anaknya yang sudah gadis: Ida, 19 tahun, dari suami Armansyah (almarhum). Tentang suaminya yang kedua, Yubaar Ayub, "sebelum Oktober 1965 saya sudah pisah tafel en bed," ujar Dahlia. Yubaar - eseis dan penulis sandiwara Siti Djamilah -- kini meringkuk di penjara Salemba. Selain anggota DPRGR Yubaar dulu adalah Sekretaris Jenderal LKRA. Di awal Yubaar dipenjara, "saya masih bezoek. 

Tidak lagi kini, untuk tidak mengganggu keluarga Yubaar." Dahlia sendiri tidak pernah ditahan atau diinterogasi. "Malahan Baby Huwae, Norma, Sari Narulita, dan yang lainnya, pernah diinterogasi.

Tapi saya tidak. Justru saya tidak senang dengan Gerwani waktu itu." Meski begitu rumah Dahlia di bilangan Cikini jadi korban demonstrasi dan kini dihuni orang lain. Di tahun 1954 Dahlia dilantik Bung Karno sebagai Ketua Barisan Bhinneka Tunggal Ika "Jangan keliru dengan perkumpulan pagar ayu yang dibuat oleh Sabur almarhum, karena barisan saya khusus untuk menerima tamu-tamu agung," katanya. Bhinneka bertugas pertama kali ketika Kepala Negara Woroshilov dari Rusia berkunjung ke Indonesia. Anggota barisan antara lain: Hamid Arief, Dien Jacobus (penyanyi sopran yang kini di luar negeri) dan Sofia Waldi (sekarang Sofia WD). Banyak ceritanya tentang kehidupan Istana waktu itu. Antara lain: "Saya kena marah Ibu Fatmawati karena saya pergi ke Bogor bertemu dengan Hartini. Wah, saya-ini kan cuma kerja saja. Diperintah ke Bogor yah ke Bogor." Dahlia masih saja dengan sifatnya yang dulu: kritis, tajam dan bersemangat. Main film pertama kali ketika berusia 14 tahun.

Waktu itu, 1940, sutradara Fred Young mencari seorang gadis yang rupanya mirip bintang film Rukiah, ibu penyanyi Rachmat Kartolo. Dari sekian pelamar Dahlia terpilih. 

Filmnya yang pertama: Pancawarna -- main sebagai anak Fifi Young. Bersama mBah Surip, Dahlia terjun ke film kedua, Panggilan Darah. Sutradaranya Suska (almarhum). Filmnya ketiga: Mustika dari Djenar, dengan sutradara Johnny Chen. Ketika pecah Perang Dunia II Dahlia turut rombongan sandiwara Bintang Surabaya. Saat itu pula dia sempat belajar akting pada Nippon Egasai. Tahun 1951 dia main dalam Sangkar Emas. Tahun berikutnya Sorga Terakhir. Katanya: "Film ini tidak boleh beredar, karena ada cerita pemuda Bali kalah oleh pemuda Jawa." Nah tahun 1954 Dahlia bermain dalam Lewat Jam Malam, dengan sutradara Usmar Ismail. Dalam film itulah Dahlia berhasil meraih sebutan aktris terbaik pada Festival Film Indonesia 1955. Ketua Festival waktu itu Djamaluddin Malik. Ketua juri Sitor Situmorang.

Lewat Jam Malam juga memenangkan penyutradaraan terbaik (Usmar), dialog terbaik (Asrul Sani) dan dekorasi terbaik (A. Chalid). Pemenang kedua untuk peran wanita: Fifi Young, dari film Tarmina. Aktor terbaik: Abdul Hadi (Tarmina) dan aktor nomor dua: AN Alcaff (Lewat Jam Malam). Tamatan Mulo Muhamadiyah Yogya ini dituduh "berpolitik" ketika ditutupnya Persari. "Soalnya, saya kasih komentar di koran," ujar Dahlia. "Maunya mereka kalau jadi bintang film ya kerjanya main saja. Tidak perlu kasih komentar segala. Saya ini- kepingin seperti Myrlla Loy, aktris Hollywood yang juga jadi stenografer di PBB." Hingga kini Dahlia tetap menganggur, dan hidup dari anak gadisnya yang bekerja di sebuah kantor. "Ya, saya mau main. Tapi, kalau tidak ada yang menawari saya mau apa," katanya. "Kalau saya ini Lekra saya tentu main dalam film Holokula, buatan suami saya," Holokuba (ini singkatan dari 'holopis kuntul baris', masih ingat?) tidak pernah dipertontonkan. Dibuat oleh Yubaar Ayub dan Basuki Effendi, pemainnya antara lain Sofia WD.

"Entahlah," katanya lagi,"film Lewat Jam Malam saja tidak boleh main hingga sekarang. Biarpun TIM berniat memutar karya-karya Usmar. Mungkin karena ada saya."

MEREKA MEMANG ADA 1982 MARDALI SYARIEF
Actor
DARAH DAN MAHKOTA RONGGENG 1983 YAZMAN YAZID
Actor
USIA 18 1980 TEGUH KARYA
Actor
PERISIWA DIDANAU TOBA 1955 JACOB HARAHAP
Actor
SEPASANG MERPATI 1979 CHAERUL UMAM
Actor
SAAT-SAAT KAU BERBARING DI DADAKU 1984 DJUN SAPTOHADI
Actor
PENDEKAR JAGAD KELANA 1990 YUSUF KALMAN
Actor
PERNIKAHAN BERDARAH 1987 TORRO MARGENS
Actor
PERNIKAHAN DINI 1987 YAZMAN YAZID
Actor
MAWAR JINGGA 1981 HASMANAN
Actor
SECANGKIR KOPI PAHIT 1984 TEGUH KARYA
Actor
BOENGA SEMBODJA 1942 MOH SAID HJ
Actor
AJIAN MACAN PUTIH 1982 M. SHARIEFFUDIN A
Actor
ANTARA DUA SORGA 1954

Actor
SORGA TERAKHIR 1952 FRED YOUNG
Actor
CHANDRA DEWI 1952 FRED YOUNG
Actor
MOESTIKA DARI DJENAR 1941 JO AN DJAN
Actor
KABUT DESEMBER 1955 BACHTIAR SIAGIAN
Actor
SANGKAR EMAS 1952 FRED YOUNG
Actor
WAROK SINGO KOBRA 1982 NAWI ISMAIL
Actor
KOPRAL DJONO 1954 BASUKI EFFENDI
Actor
JOE TURUN KE DESA 1989 CHAERUL UMAM
Actor
PANTJAWARNA 1941 NJOO CHEONG SENG
Actor
HOEDJAN 1944 INOE PERBATASARI
Actor
PERCERAIAN 1985 HASMANAN
Actor
BERCINTA DALAM BADAI 1984 TORRO MARGENS
Actor
TELAGA AIR MATA 1986 CHRIST HELWELDERY
Actor
CINTA PUTIH 1977 CHAERUL UMAM
Actor
BUKAN ISTRI PILIHAN 1981 EDUART P. SIRAIT
Actor
BERDJOANG 1943 RD ARIFFIEN
Actor
YANG PERKASA 1986 TORRO MARGENS
Actor
RATU BUAYA 1983 M. SHARIEFFUDIN A
Actor
AKU BENCI KAMU 1987 WIM UMBOH
Actor
CINTA DI AWAL TIGAPULUH 1985 DASRI YACOB
Actor
TITIK-TITIK NODA 1984 HENKY SOLAIMAN
Actor
ARIE HANGGARA 1985 FRANK RORIMPANDEY
Actor
JODOH BOLEH DIATUR 1988 AMI PRIJONO
Actor
NUANSA BIRUNYA RINJANI 1989 JIMMY ATMAJA
Actor
KEMILAU CINTA DI LANGIT JINGGA 1985 MUCHLIS RAYA
Actor
SATRIA BAMBU KUNING 1985 M. SHARIEFFUDIN A
Actor
PERTUNANGAN 1985 AMI PRIJONO
Actor
LAST TANGO IN JAKARTA 1973 WAHYU SIHOMBING
Actor
SORTA 1982 ABRAR SIREGAR
Actor
M-5 1978 ASKUR ZAIN
Actor
SUMPAH KERAMAT 1988 ISMAIL SOEBARDJO
Actor
PANGGILAN DARAH 1941 SUSKA
Actor
LEWAT DJAM MALAM 1954 USMAR ISMAIL
Actor
HALILINTAR 1954 FRED YOUNG
Actor
HALIMUN 1982 SOFIA WD
Actor
KETIKA DIA PERGI 1990 BUCE MALAWAU
Actor.


1 komentar:

  1. say big thanks to the writer...
    the only 1 that i remind of Dhalia...
    she's the great woman...
    coz hingga akhir hayatnya dia berdedikasi dalam dunia film...she's life n soul only for indonesian films.
    I love her forever...
    thanks to memorize her
    from : intan kemala yulia ariffiany
    cucu almarhum Dhalia binti tengku katan

    BalasHapus