Tampilkan postingan dengan label KEMBALI KE MASJARAKAT / 1954. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEMBALI KE MASJARAKAT / 1954. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Februari 2011

KEMBALI KE MASJARAKAT / 1954



Dimasa revolusi, Letnan Subagio (Oesman Praseno) berjuang bersama Sumiati (Hadidjah), jururawat PMI. Dalam suatu pertempuran seru Subagio tertembak dan cacat. Sebelah kakinya diamputasi, hingga ia jadi rendah diri, bahkan menolak tunangannya Sumiati untuk datang menjenguk. Atas dorongan kawannya, Subagio pegi ke Rehabilitation Centre di Solo, pimpinan Dr Suharso. Ia tidak saja diberi kaki pasu, tetapi juga mendapat pendidikan untuk bekal hidup, jika "kembali ke masyarakat". Subagio juga kembali ke Sumiati yang setia menanti.

P.F.N.


NEWS
Kembali The Big Boss from PFN Rd. Inu Perbatasari membikin film “Penderita Tjajad” dengan diberikan nama “KEMBALI KE MASJARAKAT”. Beberapa orang wanita telah dipilihnya untuk mengisi peranan wanita yang utama, yang dapat sejajar dengan Drs. Suharso dan Ida Prijatni yang turut pula memegang peranan penting di dalam film “Kembali ke Masyarakat” itu.

Beberapa orang pelamar wanita di retour kembali ke rumahnya masing-masing karena tidak mencukupi syarat-syaratnya untuk memegang roll di dalam film tersebut. Akhirnya atas anjuran R. Ariffien perhatian R. Inu Perbatasari ditujukan kepada Hadidjah yang harus turut ke lokasi ke Solo kurang lebih satu bulan lamanya.

Ketegangan pendirian antara Hadidjah dan suaminya mulai timbul kembali. Hadidjah mau turut ke Solo, sedangkan suaminya di dalam hati kecilnya keberatan untuk melepas istrinya begitu lama.

Rupanya dari pihak Hadidjah ada lebih kuat, ternyata ia sudah turut ke Solo dengan rombongan “Kembali ke Masyarakat”, sedangkan suaminya harus tinggal sendirian, kembali dari pekerjaannya harus merasakan kesepiannya.

Menurut keterangan Rd. Inu Perbatasari dan HB Angin yang dua-duanya bertindak sebagai Pemimpin Produksi dan Regisseur, Hadidjah di dalam permainannya meningkat ke arah kemajuan.

Tidak heran lagi terhadap sesuatu pekerjaan yang suci, selalu menemui rintangan, dan kadang-kadang rintangan itu mengakibatkan kegagalan. Begitupun pula halnya dengan Hadidjah, yang sedang senang-senangnya mengejar ilmu permainan film, sekonyong-konyong telah dibombardir oleh suaminya yang semata-mata menyatakan ketidaksetujuan Hadidjah bermain film.

Kemarahan suaminya itu tidak habis sampai melarang Hadidjah bermain film saja, tapi telah diikuti oleh perceraian yang sangat menyedihkan. Menyedihkan karena tidak diduga semula. Menurut keterangan yang didapat, apa sebabnya suami Hadidjah sudah mengambil tindakan yang begitu kejam, karena akibat bibir yang tidak bertulang yang iseng-iseng membicarakan kelakuan Hadidjah yang tidak senonoh selama ia tinggal di Solo, padahal selama Hadidjah berpisah dengan suaminya, Hadidjah selalu patuh kepada Kajat.

Kitapun tidak dapat menyalahkan Hikayat, karena ia baharu sekarang bergaul dengan dunia artis, dan baharu kali ini pula melepaskan istrinya yang sangat dicintainya itu, mendengar kata-kata yang menjelekkan nama kehormatan istrinya, meskipun kata-kata itu semata-mata hanya berolok-olok, Hikayat dengan tanpa berpikir luas, ia telah menjatuhkan talaknya.

Jika benar kabaran-kabaran yang datang pada Hikajat hanya merupakan isapan jempol belaka. Kita mengharap supaya dari kedua pihaknya suka memikir panjang, berkumpullah kembali di sebuah rumah tangga yang rukun dan damai.