Tampilkan postingan dengan label CHITRA DEWI / Roro Patma Dewi Tjitrohadikusumo / 1955-1991. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHITRA DEWI / Roro Patma Dewi Tjitrohadikusumo / 1955-1991. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2011

CHITRA DEWI / Roro Patma Dewi Tjitrohadikusumo / 1955-1991

CHITRA DEWI


Bernama asli Roro Patma Dewi Tjitrohadikusumo, dilahirkan di Cirebon, 26 Januari 1934. Pendidikan terakhirnya SMA. Memulai karirnya di seni peran melalui film Tamu Agung (1955). Namanya mulai dikenal sejak membintangi film Tiga Dara arahan sutradara Usmar Ismail pada tahun 1956, dalam film drama musikal itu, ia bermain bersama Mieke Wijaya, Indriati Iskak, dan Bambang Irawan.

Lewat perusahaannya sendiri, Chitra Dewi Film Production, ia menjadi sutradara dalam film Penunggang Kuda Dari Tjimande (1971), Dara-Dara (1971), Bertjinta dalam Gelap (1971). Selain itu, ia pernah menjadi produser dalam 2 X 24 Djam (1969) dan Samiun dan Dasima (1970).

Meraih Piala Citra untuk aktris pembantu wanita pada FFI 1979, Dalam film Gara-Gara Isteri Muda (1978). Karena Pengabdiannya di dunia film, ia memperoleh Penghargaan Kesetiaan Profesi Pada tahun 1992 dari Dewan Film Nasional. Pernah mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement Award 2007 dari Festival Film Bandung (FFB) pada tahun 2007.

Selama berkarir dalam dunia film, ia telah bermain dalam 80 film. Di era sinetron, Chitra tampil sebagai tokoh Ibu Sunarya dalam Sartika (1990), yang dibintangi Dewi Yull. Chitra juga tampil dalam sinetron Sengsara Membawa Nikmat.Chitra Dewi wafat, pada hari Selasa 28 Oktober 2008 di kediamannya Perumahan Puri Flamboyan, Rempoa, Tangerang, Banten. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Jabang Bayi, Cirebon, Jawa Barat.

Anak Bangsawan yang Main Film
Chitra Dewi bukanlah nama aslinya. Ia terlahir dengan nama Roro Patma Dewi Tjitrohadikusumo. Dari namanya saja sudah dapat diketahui bahwa Dewi masih berdarah bangsawan.

Dewi lahir pada 26 Januari 1934 dari seorang ayah yang masih satu satu garis keturunan dengan Keprabonan Cirebon. Tidak ada satu pun di antara keluarganya yang memiliki ikatan dengan dunia perfilman Indonesia kala itu. Bahkan, menurut penuturan Dewi, keluarganya sempat memandang rendah karier bintang film.

Pada masa itu, stigma yang diterima bintang film tidak berbeda dengan apa yang diterima pemain panggung sandiwara atau anak wayang. Perempuan dianggap tidak pantas menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan tontonan atau bahan ledekan orang banyak. Seolah tidak terpengaruh, akhirnya Dewi nekat juga menjajal profesi bintang film.

“Saya ya jadi sedih. Tetapi keadaan ini juga mendorong saya untuk membuktikan bahwa karir ini bisa dititi dengan bersih,” kata Dewi, seperti dikutip Kompas (16/12/1990).

Sejak kecil sebenarnya Dewi sudah penasaran dengan dunia film. Begitu lulus dari SMP, ia diam-diam melamar ke Perusahaan Film Nasional (Perfini) milik Usmar Ismail. Meskipun mengaku tidak memiliki pengetahuan apa-apa di bidang film, toh, nyatanya Dewi berhasil mendapatkan peran kecil di film Tamu Agung.

Nama Pemberian untuk Peran Paling Sulit
Sekitar tahun 1955, Usmar Ismail yang baru kembali dari California untuk belajar sinematografi sedang kepikiran membuat adaptasi film musikal berjudul Tiga Dara. Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia Jilid 2 (2009: 37-38), Usmar terinspirasi dari film Amerika berjudul Three Smart Girls yang ditontonnya ketika masih menjadi siswa MULO.

Seperti film-filmnya yang terdahulu, Usmar memang selalu ingin mengajak wajah-wajah baru, terutama perempuan untuk berperan dalam filmnya. Hal ini didasari rasa prihatinnya terhadap jumlah pemain film perempuan yang masih sangat sedikit kala itu.

“Biasanya dari ratusan lamaran yang diterima oleh bagian casting yang datang dari kaum hawa tidak lebih dari sepuluh. Dan dari sepuluh itu si sutradara sudah dapat mengucap syukur jika ada satu yang dapat dibawa ke depan kamera,” tulis Usmar dalam kumpulan tulisan Usmar Ismail Mengupas Film (1983: 182).

Agar dapat membuat Tiga Dara, Usmar tidak hanya membutuhkan satu perempuan, tetapi tiga untuk mengisi peranan Nunung, Nana, dan Neny. Begitu melihat Dewi, Usmar pun langsung cocok dan mengajaknya mengisi peranan sebagai Nunung. Rosihan Anwar mendeskripsikan karakter Nunung sebagai perempuan sabar yang rela mengalah untuk tidak menikah karena Nenny, salah satu adik perempuannya, justru menyukai pria yang hendak meminangnya.

Kepribadian seperti itu tampak yang dicari Usmar dalam diri Dewi. Menurutnya, sifat-sifat menarik dari seorang tokoh perempuan tidak hanya dari bentuk tubuh atau mata bundar yang cemerlang, tetapi juga pada “keseluruhan personality yang memaksa orang terpesona.”

Agar dapat memainkan karakter demikian, Dewi mengaku menemui banyak kesulitan. Ia menyebut Nunung sebagai peran paling sulit yang pernah ia mainkan dari seluruh film-filmnya. Menurut Dewi, semua itu terjadi lantaran ia tidak memiliki pengalaman menjadi gadis muda perkotaan yang kebingungan karena terlambat menikah.

“Betul kok, saya kan cuma tamatan SMP. Lagi pula waktu itu saya sudah jadi ibu muda. Sedang perannya harus menjadi seorang gadis yang bisa nyanyi dan menari. Tapi akhirnya saya bisa,” kata Dewi dalam wawancara Majalah Film (No. 83, September 1989).

Dewi memang mengaku menikah di usia yang sangat muda, yakni 16 tahun. Suaminya bernama Raden Samaun, juga berdarah ningrat. Mereka dikaruniai tiga anak laki-laki. Sayang pernikahannya ini kandas tidak lama setelah Dewi mengambil nama panggung Chitra Dewi dan menjadi terkenal berkat Tiga Dara.

Dalam wawancara Sinar Harapan (30/5/1983), Dewi mengakui nama Chitra yang tersemat di depan nama aslinya tidak datang dari buah pikirnya sendiri. Usmar Ismail lah orang yang berjasa memberikan nama panggung itu sebelum memulai Tiga Dara.

“Bahkan nama Chitra Dewi itu sendiri dari pak Usmar Ismail. Entah dari mana, saya tinggal menerima saja. Waktu beliau masih hidup saya tak sempat tanya,” terangnya.

Citra Perempuan Ideal
Misbach Yusa Biran dalam Peran Pemuda dalam Kebangkitan Film Indonesia (2009: 152) menggambarkan Tiga Dara sebagai film hiburan ringan yang punya kapasitas interaksi dengan penonton. Selain dipenuhi lagu-lagu gembira karya Ismail Marzuki yang dilantunkan oleh pemain-pemain baru berwajah segar, film ini juga dianggap berhasil menampilkan citra perempuan ideal.

Pendapat itu secara khusus dilontarkan Misbach kepada sosok Chitra Dewi yang “dianggap mewakili wanita Indonesia yang ideal, lembut dan pemalu.” Sosok Dewi yang sederhana dan pemalu ini seolah dibenarkan oleh penampakan wajah bulat Dewi yang jauh dari kesan make-up tebal, rambut yang senantiasa tersanggul rapi, dan selalu tampil dalam balutan kebaya.

Di bawah Perfini, peranan-peranan yang dimainkan Chitra Dewi memang tidak pernah jauh dari citra perempuan yang lemah lembut. Dalam Djenderal Kantjil, ia membawakan peranan ibu yang bijaksana. Sementara dalam Pak Prawiro, Dewi kembali memainkan istri yang berperangai baik. Kedua film tersebut dirilis pada 1958.

Dewi terus bekerja sama dengan Usmar Ismail sampai sekitar tahun 1960. Film terakhirnya di bawah Perfini merupakan film berlatar Revolusi Indonesia berjudul Pedjuang. Meskipun hanya mengisi peran pembantu, permainan akting Dewi sebagai perempuan melankolis yang menanti kekasihnya kembali dari medan perang ini disebut-sebut menjadi salah satu yang terbaik.

Sepanjang kariernya yang terus meroket sepanjang 1960-an, peranan yang dibawakan Dewi hampir tidak berubah. Pada 1969 Dewi mendapat peran utama dalam film Nji Ronggeng produksi Dewan Produksi Film Nasional (DPFN) yang masih tergolong perusahaan film milik negara. Krishna Sen dalam artikel “Wajah Wanita dalam Filem Indonesia: Beberapa Catatan” yang dimuat di majalah Prisma No. 7 (Juli 1981), menyebut film ini tidak ubahnya film-film Orde Baru yang gemar mengemukakan citra perempuan ideal.

“Perempuan ideal dalam film-film itu pertama-tama pasif, menderita tanpa protes, kuat perasaannya akan tetapi tidak mengungkapkannya. Semua dipendam dalam hati,” tulis Sen.

Sepanjang paruh kedua 1970-an dan 1980-an, Dewi hampir selalu memainkan peranan sebagai ibu. Pernah suatu ketika pada 1971, ia mengubah peranannya menjadi tante girang yang dimainkan dalam film Romansa. Pers pun beramai-ramai mencela aktingnya yang tidak sesuai dengan kostum yang dikenakan.

“Dalam film Romansa kita akan menjumpai keganjilan pada tokoh Tante Leila (Chitra Dewi). Karena predikat peran tante yang sudah rada seimbang dengan usia si pelakonnya ini terganggu oleh kostum rok mini setengah paha,” tulis Suara Karya (3/11/1973).



25 September 1971
SEKARANG ini banjak bintang film jang mendjelma mendjadi bukan sadja sutradara, tetapi produser dan masih turut main dalam film jang dibuatnja itu. Misalnja: Sofia WD, Sandy Suwardi, Bambang Irawan, Chitra Dewi dan lainnja lagi. Bahkan tidak djarang mereka djuga mendjadi penulis skript dan menangani skenario djuga. Almarhum Surjo Sumanto pernah merasa kuatir akan luar ini, karena bisa membawa tendensi jang akan memukul film Indonesia sendiri. Tapi toch nama Chitra Dewi akan terpadjang dalam "Penunggang Kuda dari Tjimande" sebagai pemain sampai ke produser. Bagaimana Chitra menjutradarai dirinja sendiri? Sambil tersenjum dia mendjawab: "Minta giliran suami untuk mengawasi permainan saja". Alasannja? Dia mendjawab lagi: "Menghemat, karena harus menjesuaikan dengan uang jang ada".


29 Januari 1977
SETELAH zaman Titien Sumarni, banyak penonton film menggemari Citra Dewi. Berkulit langsat, bertubuh kecil, perempuan asal Cirebon ini pertama kali ditemukan oleh Usmar Ismail almarhum. Waktu itu namanya Dewi Semaun. Semaun adalah suami Citra yang pertama. Waktu itu masih letnan satu CPM. Karena nama Dewi Semaun dirasa kurang afdol, almarhum Usmar kemudian menggantinya jadi Citra Dewi. Main pertama kali sebagai figuran dalam film Tamu Agu,lg (1955), film yang pernah terpilih sebagai film komedi terbaik untuk Asia Tenggara. Tahun 1956, Citra bersama Bambang Hermanto, Mieke Wijaya, Hasan Sanusi, Bambang Irawan dan lainnya, turut kursus bermain yang diselenggarakan Perfini. Tahun-tahun berikutnya, Citra turut bermain dalam Juara 1960, Tiga Dara, Delapan Penjuru Angin, Tiga Buronan, Jenderal Kancil, Asrama Dara, Road to Bali, Pejoang dan film lainnya yang kalau dijumlah tidak kurang dari 27 buah film. Ia gemar menonton sandiwara sejak kecil. Dan waktu di SD, Citra Dewi pernah jadi juara menari Jawa. Pendidikan resminya: SMP. Mungkin karena gemar menari inilah, Citra kemudian terlibat cinta dengan guru tari Balinya: Wayan Supartha. Putus dengan Semaun, Citra dan Supartha kemudian menikah. Tapi pernikahan inipun tampaknya tidak kekal. Meskipun pernah terpilih sebagai peragawati terbaik tahun 1961, sejak 1966, Citra jarang tampil baik di umum maupun di layar putih. Kemudian dia menikah dengan LJN Hoffman. Tahun 1972, suami isteri kemudian mendirikan PT Citra Dewi Film. Beberapa dari hasil produksinya ialah Ratna, Bercinta Dalam Gelap, Penunggang Kuda Dari Cimande, yang konon, disutradarai oleh Citra sendiri. Rupanya film-filmnya tidak mendapat pasaran bagus. "Belum bangkrut", ujar Hoffman tentang perusahaan filmnya ini, "cuma belum berproduksi saja". Suami isteri ini kini sibuk usaha lain. Jual beli rumah. Karena hal inilah, sulit juga mencari alamat di mana mereka tinggal. "Sebab kalau ada yang mau beli rumah yang kami tempati", kata Hoffman, "kami dengan senang hati akan angkat kaki ke rumah lain". Berbicara tentang isterinya yang sekarang usianya telah 43 tahun, berkata Hoffman: "Isteri saya lagi tidak mau diinterviu. Dia lagi malas dipublisir. Nanti sajalah kalau dia main film lagi". Citra, tidak kurus tidak gemuk, rambutnya yang ikal sepundak, kemudian menghilang di balik pintu.


DARAH NELAJAN1965HASMANAN
Actor
DJUARA 1960 1956 NYA ABBAS AKUP
Actor
MENDUNG TAK SELAMANYA KELABU 1982 LUKMANTORO DS
Actor
BERTJINTA DALAM GELAP 1971 CHITRA DEWI
Director
BING SLAMET MERANTAU 1962 RIDWAN NASUTION
Actor
SEKUNTUM MAWAR PUTIH 1981 MOCHTAR SOEMODIMEDJO
Actor
HABIS GELAP TERBITLAH TERANG 1959 HO AH LOKE
Actor
PEDJUANG 1960 USMAR ISMAIL
Actor
BEGADANG 1978 MAMAN FIRMANSJAH
Actor
PENDEKAR BUKIT TENGKORAK 1987 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
TERMINAL TERAKHIR 1977 DJAMAL HARPUTRA
Actor
CINTAKU DI WAY KAMBAS 1990 IWAN WAHAB
Actor
YOAN 1977 NICO PELAMONIA
Actor
ALI BABA 1974 ISHAK SUHAYA
Actor
TERMINAL CINTA 1977 ABRAR SIREGAR
Actor
SEBENING KACA 1985 IRWINSYAH
Actor
KADARWATI 1983 SOPHAN SOPHIAAN
Actor
TJITA-TJITA AJAH 1959 WAHYU SIHOMBING
Actor
KABUT SUTRA UNGU 1979 SJUMAN DJAYA
Actor
TAMU AGUNG 1955 USMAR ISMAIL
Actor
PENGANTIN REMAJA 1991 WIM UMBOH
Actor
DELAPAN PENDJURU ANGIN 1957 USMAR ISMAIL
Actor
RATU-RATU RUMAH TANGGA 1960 SJAHRIL GANI
Actor
SI PITUNG BERAKSI KEMBALI 1981 LIE SOEN BOK
Actor
ATENG BIKIN PUSING 1977 HASMANAN
Actor
LEMBAH HIDJAU 1963 HASMANAN
Actor
TAKDIR MARINA 1986 WAHAB ABDI
Actor
SAYANGILAH DAKU 1974 MOTINGGO BOESJE
Actor
PENUNGGANG KUDA DARI TJIMANDE 1971 CHITRA DEWI
Actor Director
HOLIDAY IN BALI 1962 TONY CAYADO
Actor
RATNA 1971 HASMANAN
Actor
GANASNYA NAFSU 1976 TURINO DJUNAIDY
Actor
PENDANG ULUNG 1993 TOMMY BURNAMA
Actor
SEMUSIM LALU 1964 HASMANAN
Actor
PERJUANGAN DAN DOA 1980 MAMAN FIRMANSJAH
Actor
RUMPUT-RUMPUT YANG BERGOYANG 1983 SUSILO SWD
Actor
MENCARI CINTA 1979 BOBBY SANDY
Actor
BULAN DI ATAS KUBURAN 1973 ASRUL SANI
Actor
GARA-GARA ISTRI MUDA 1977 WAHYU SIHOMBING
Actor
SAUR SEPUH 1988 IMAM TANTOWI
Actor
SUSTER MARIA 1974 S.A. KARIM
Actor
BUNGA PUTIH 1966 HASMANAN
Actor
BUNGA ROOS 1975 FRED YOUNG
Actor
RHOMA IRAMA BERKELANA I 1978 YUNG INDRAJAYA
Actor
RHOMA IRAMA BERKELANA II 1978 YUNG INDRAJAYA
Actor
SAMIUN DAN DASIMA 1970 HASMANAN
Actor
AKU MAU HIDUP 1974 REMPO URIP
Actor
DJUMPA DIPERJALANAN 1961 WIM UMBOH
Actor
BAWALAH AKU PERGI 1982 M.T. RISYAF
Actor
PAK PRAWIRO 1958 D. DJAJAKUSUMA
Actor
SEMAU GUE 1977 ARIZAL
Actor
TIGA BURONAN 1957 NYA ABBAS AKUP
Actor
TIGA DARA 1956 USMAR ISMAIL
Actor
DUO KRIBO 1977 EDUART P. SIRAIT
Actor
TAK TERDUGA 1960 L. INATA
Actor
BOBBY 1974 FRITZ G. SCHADT
Actor
HIDUP, TJINTA DAN AIR MATA 1970 M. SHARIEFFUDIN A
Actor
BELAS KASIH 1973 BAMBANG IRAWAN
Actor
KEMELUT HIDUP 1977 ASRUL SANI
Actor
KUNANTI DJAWABMU 1964 WIM UMBOH
Actor
DARA-DARA 1971 CHITRA DEWI
Director
PRAHARA 1974 NICO PELAMONIA
Actor
2 X 24 DJAM 1967 DANU UMBARA
Actor
MELATI DIBALIK TERALI 1961 KOTOT SUKARDI
Actor
MELATI DIBALIK TERALI 1961 KOTOT SUKARDI
Actor
RIO SANG JUARA 1989 MUCHLIS RAYA
Actor
PUTRI SOLO 1974 FRED YOUNG
Actor
GADIS KAMPUS 1979 ISHAQ ISKANDAR
Actor
RAHASIA SEORANG IBU 1977 WAHYU SIHOMBING
Actor
CHICHA 1976 EDUART P. SIRAIT
Actor
DJENDRAI KANTJIL 1958 NYA ABBAS AKUP
Actor
REMAJA-REMAJA 1979 ARIZAL
Actor
AMALIA S.H. 1981 BOBBY SANDY
Actor
JURUS DEWA NAGA 1989 S.A. KARIM
Actor
BUKAN IMPIAN SEMUSIM 1981 AMI PRIJONO
Actor
ROMANSA 1970 HASMANAN
Actor
ASRAMA DARA 1958 USMAR ISMAIL
Actor
SIMPHONY YANG INDAH 1981 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
SI RONDA MACAN BETAWI 1978 FRITZ G. SCHADT
Actor
NJI RONGGENG 1969 ALAM SURAWIDJAJA
Actor
PENGORABANAN 1974 SUSILO SWD
Actor
GITA TARUNA 1966 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
MARIA, MARIA, MARIA 1974 HASMANAN
Actor

PENUNGGANG KUDA DARI TJIMANDE / 1971

 

 
Di sutradarai oleh CHITRA DEWI dan SOFYAN SHARNA
Dengan menunggang kuda putih, Purbaya (Agus Erwin), penunggang kuda dari Cimande, datang ke Sukajadi untuk mencari kuburan orangtuanya. Di situ ia jumpa dengan orangtua yang lalu mengisahkan masa lalunya. Maka dua pertiga film dihabiskan untuk sorot balik ini. 
 
Purbaya adalah anak Hamidah (Chitra Dewi) dan Meureksa (Ishaq Iskandar). Orangtuanya itu mati terbunuh oleh kelicikan Argasuta (Maruli Sitompul), karena dia sebenarnya juga mencintai Hamidah. Ia menggunakan Hasan Botak (Wahab Abdi) dan Bagus Bantar untuk mencapai maksudnya itu. Dua orang ini punya motivasi sendiri, tapi mereka lalu diselesaikan oleh Arga. Mendengar ini Hamidah kalap dan membunuh Arga. Arga tidak mati, tapi Hamidah mati oleh anak buahnya. Maka kisah kembali: Purbaya menuntut balas dendam pada Arga, yang tentu saja mati di tangan Purbaya. Sebuah film yang penuh darah, tangan buntung dan usus muncrat.
 CHITRA DEWI FILM PROD.

CHITRA DEWI
MARULI SITOMPUL
ISHAQ ISKANDAR
A. HAMID ARIEF
RENNY ASMARA
ISMAR LUBIS
HARUN SYARIEF
AMINAH CENDRAKASIH
MIRA INDRAWATI
WAHAB ABDI
WOLLY SUTINAH
SULASTRI

DARA-DARA / 1971

 

Empat dara (Renny Asmara, Aminah Cenderakasih, Aty Rochadiaty, Tjetty Wulansari) kost bersama-sama dalam satu rumah, meski masing-masing punya profesi sendiri. Mereka terlibat asmara dengan empat pria (Iwan Taruna BA, Rachmat Kartolo, Pong Hardjatmo, Jopie Burnama). Ada penyelewengan, ada yang diam-diam mencintai, ada sekretaris yang sudah ditiduri direkturnya, kemudian dikawini bawahannya. Bagian awal film dimulai dengan eksploitasi erotika atas gadis-gadis tadi, meski kemudian dimasukkan pula adegan-adegan lucu.


BERTJINTA DALAM GELAP / 1971

BERTJINTA DALAM GELAP



Sri Lestari (Tjetty Wulansari) dan tunangannya, Joni (Agus Erwin) diminta datang ke sebuah rumah. Rumah kosong. Yang ditemui malah polisi yang lalu meminta Lestari ke pos polisi untuk dimintai keterangan. Joni menelpon ibu mertuanya, Rahayu (Renny Asmara), yang kemudian datang. Ketika Joni pamit ke pos polisi lagi, Rahayu menulis surat dan menenggak racun. Isi surat itu adalah kisah dirinya. Suaminya, Yono (Iwan Taruna) yang banyak istri dan masih main perempuan terus, membuat Rahayu, yang sudah niat cerai, menyeleweng dengan pacar lamanya, Jufri (Rachmat Kartolo). Padahal istri Jufri sedang sakit kanker dan kemudian meninggal. Ketika ketahuan, Yono marah dan terjadi perkelahian. Yono tertusuk pisau dan mati. Jufri lari ke luar rumah, tertabrak truk. Mati juga. Rahayu pergi ke rumah bibinya dan menyatakan bahwa Yono kawin lagi. Frans (Jopi Burnama), pembantu rumah, memakai kesempatan ini untuk memeras Rahayu. Padahal peristiwa itu sudah berlangsung bertahun-tahun lalu, waktu Lestari masih berusia sekitar lima tahun. Entah kenapa tiba-tiba Frans melakukan ini. Rahayu meracun Frans. Dan pulang. Lalu... sambungannya ada di awal film tadi.

Film diakhiri dengan Joni dan Lestari naik mobil setelah upacara nikah.