Tampilkan postingan dengan label ANJING-ANJING GELADAK / 1972. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANJING-ANJING GELADAK / 1972. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Februari 2011

ANJING-ANJING GELADAK / 1972



Potret Kota Besar Anjing-anjing geladak dengan sutradara nico pelamonia, skenario syumanjaya dan produksi tuti mutia film dengan pemain utama sandy suwardi, rina hassim kisahnya tentang penyelundupan obat bius.

BERMULA pada banjir yang menghancurkan tulang punggung keluarga, harta benda dun harapan. Kematian sang ayah ine merlukan pengganti kepala keluarga, dun karena si anak sulung sudah jadi kuli di Pasar Ikan Jakarta, sang ibu terpaksa mengirim utusan untuk menyampaikan kabar. Kedatangan utusan itulah awal pengenalan suasana kota besar bagi seorang udik. Ternyata meskipun desa tidak banyak memberi harapan tapi ia toh masih lebih lembut dari, sebuah metropolitan. Kekerasan dan perjuangan hidup di kota besar itulah yang ingin digambarkan sutradara Nico Pelamonia melalui filmnya yang berjudul Anjing-Anjing Geladak produksi Tutu Mutia Film. Obat bius. Tokoh utama film ini adalah Makbul (Sandy Suwardi). Dialah yang memainkan peranan kuli "kasar di Pasar Ikan. Mula-mula memang cuma ikan yang hinggap berkeranjang-keranjang di pundaknya, tapi tanpa-disadari-nya, kemudian ikan yang hinggap itu-pun mengandung obat bius dalam perutnya. Berangsur-angsur Makbul masuk dalam jaringan penyelundupan tanpa diingininya. Tapi karena tujuannya memang mendapatkan, uang sebanyak mungkin, apa yang tidak direncanakannya itupuri tidak ditolaknya. Orang kedua adalah Maulana (Frank Rorimpandey). Dia inilah yang datang dari desa mencari abangnya, Makbul, di tengah hutan belantara yang bernama Jakarta ini, tanpa disertai alamat. Tapi anak muda ini termasuk orang beruntung. Ia memang tidak punya modal kecuali dirinya, dan dengan itulah - melalui hidup gelandangan - ia akhirnya bisa menjadi tuan bagi sepotong tanah pelataran parkir. Mauli cantik. Kedua bersaudara ini musing-musing menghidupi, diri, sampai akhirnya mereka bertemu dan bergembira di rumah seorang bekas pelacur yang kini telah menjadi gendak Makbul (Rina Hassim). Belum seluruh isi botol bir tertuangkan pada pesta kecil itu terpaksa usai di awal senja, ketika seorang germo datang dengan Mauli yang cantik. Perempuan yang semula hendak dipersembahkan kepada Makbul itu ternyata adalah adik kandung mereka berdua yang oleh penderitaan desa terdesak ke kota menyusul sang abang. Sekali lagi: tidak ada alamat, dan menghindari mati kelaparan terpaksa kehormatan yang jadi bayarannya.





Dari Mauli ini pula datangnya keterangan yang berakhir dengan amukan Makbul terhadap atasannya: uang yang diminta oleh Makbul agar dikirim kepada ibunya di kampung ternyata tidak pernah dilakukan. Di puncak perputaran kisah ada pula tuan besar Irwan (Syuman Jaya) yang misterius dun eksentrik. Orang ini lebih banyak bertengkar dari pada berbaikan dengan isterinya. Dan jika ketegangan memuncak, tuan berangkat ke gunung dengan sopir serta babu. Dengan cara yang fantastis, sang babu dilantik menjadi istri sementara dengan menggunakan atribut-atribut milik sang nyonya, kamar mandi dan kamar tidur yang mewah. Pada kesempatan itu pulalah Irwan - yang ternyata pimpinan tertinggi operasi penyelundupan - menikmati candu-candu hasil selundupan. Sekoper uang.

Cerita berakhir dengan kemenangan polisi juga, meskipun yang hancurnya tokoh-tokoh penyelundupan itu adalah akibat amukan Makbul. Ketika tiba giliran Irwan untuk dihabisi, yang terakhir ini sempat mengganggu impian Makbul tentang sekoper uang yang sejak lama menjadi rencananya untuk menjadi hadiah bagi ibu yang terus menerus menderita. Uang itu memang sampai di tangan ibu yang malang. Tapi kejadian tersebut merupakan bagian terakhir darn pengejaran polisi. Mereka terpaksa melepaskan tembakan terhadap Makbul yang bagaikan dikejar setan melarikan mobilnya ke arah rumah kelahirannya. Di atas mobil kedua adik dun calon istrinya terlebih dahulu mengakhiri usia oleh peluru polisi, dan di depan ibunya Makbul memenuhi janji sebelum hembusan nafas terakhir. Tragis? Ya, tapi juga realistis. Inilah pertama kali film Indonesia berkisah tentang manusia Indonesia kjas bawah dengan cara yang realistis tapi tetap artistik. Yang dikisahkan adalah manusia dengan darah dun keringat yang di potret dalam pakaian dun lingkungan Indonesia. Tokoh-tokohnya dekat dengan penonton, hidup dun berbicara tentang hal yang kita rasakan namun jarang kita persoalkan. Nico Pelamonia kini tampil dengan suatu pendekatan artistik yang tiidak bisa lain dan membawa para penonton ke suatu kesimpulan logis: hidup di kota besar belum berarti lebih baik dari hidup di desa yang tidak pula memberi harapan lagi. Makbul, Maulana dan Mauli adalah korban dari tragedi itu. Tapi berapa banyakkah.

Makbul, Maulana dan Mauli-Mauli lain yang akhirnya hanya terdampar di emper-emper toko, rumah-rumah pelacuran murah, menjadi obyek pemerasan para jagoan, jadi, uberan polisi, hansip serta team penertib? Mereka-mereka itu tadinya datang dari desa dan kampung sebagai orang baik-baik, anak ibu yang manis putra dan putri harapan bapak. Tapi Jakarta tidak mau tahu hati nurani ibu dan kebanggaan bapak. Mereka yang kalah akan hancur, dan si pemenang harus tetap berotot baja kalau ingin terus jadi pemenang dalam pertarungan. Konsumen. Tentu saja tidak harus dikatakan bahwa film berwarna kedua karya Nico ini seluruhnya pantas mendapat pujian. Meskipun tidak teramat mengganggu, penonton yang kritis tetap raja mempersoalkan soal yang lebih banyak menyangkut penulisan skenario yang dikerjakan Syumanjaya. Pertama adalah soal ke mana hasil selundupan itu dilemparkan. Sampai film berakhir hanya Irwan yang kelihatan menjadi konsumen utama candu-candu itu. kini pada gilirannya menjadi soal: bagaimana membiayai penyelundupan bahan mahal kalau konsumennya cuma tuan Irwan? Kalau ditambah saja beberapa shot atau dialog barangkali soal ini akan selesai. Adegan terakhir pengejaran polisi terasa lebih "puitis" dari pada realistis. Kelihatannya adegan ini sengaja dibuat demikian untuk mencapai suatu efek tragis sebesar mungkin. Efek itu memang dicapai, tapi setelah sempat berpikir, orang lalu bertanya-tanya: begitu bodohkah polisi kita? Kalau saja tembak menembak baru terjadi ketika Makbul dan lain-lain sudah di mobil, barangkali logika tidak terlalu dikorbankan. Sayang sekali. Tapi meskipun demikian, kedua soal itu tidak sedemikian besar sehingga mengurangi kenikmatan penonton film ini. Setelah jatuh Di Kaki Lelaki, kini Nico Pelamonia membuktikan dirinya sebagai seorang sutradara muda yang bukan saja berbakat, tapi juga berselera baik. Kerjasamanya dengan para aktor, dan aktris menghasilkan permainan yang bermutu. Juru kamera Leo Fioole serta pengarah artistik Ami Priono ikut menghasilkan gambar yang indah. Dan kalau Idris Sardi cukup punya waktu saja tentu ilustrasi film ini bisa lebih mengena dari pada sekedar iringan yang hanya menunjukkan betapa Idris kini sedang asyik dengan Paul Mauriat.

P.T. TUTI MUTIA FILM