Minggu, 30 Januari 2011

DR. SITI PERTIWI KEMBALI KE DESA / 1979

DR. SITI PERTIWI KEMBALI KE DESA






Siti  Pertiwi (Christine Hakim) yang baru lulus sebagai dokter, menjalani   wajib dinasnya di daerah Menggala, Lampung. Di tempat tugas ini ia   harus menghadapi berbagai masalah: kecurangan yang dilakukan mantri   pembantunya, ketakutan penduduk setempat pada dukun sakti Atuk Raja   (Maruli Sitompul) berikut anak buahnya yang beringas, dan   masalah-masalah pribadinya. Semua ini menyulitkan pekerjaannya sebagai   dokter di desa itu. Ia mendapat bantuan dari mahasiwa yang kerja   serabutan di daerah itu. Namun, hal ini malah mengundang pandangan yang   tidak-tidak. Sutradara meramu kisah tadi dalam sajian campuran antara   renungan Siti Pertiwi tentang pekerjaan dan dirinya, dengan konflik   fisik.








 
 Suatu angket telah diadakan oleh PT.Safari Sinar Sakti Film. 94% komentar yang masuk menyatakan "lumayan, cukup, bagus, baik, bermutu" dan selebihnya berupa saran yang antara lain menyebutkan, "judulnya kurang tepat. Sebuah komentar dari Effy Thomas menunjukkan pernyataan yang paling konkrit dari film yang lahir dari ide KNPI itu. "Sangat bagus, apalagi pengabdian dan keberanian seorang dokter wanita. Banyak persamaan antara cerita film itu dan realita pada dokter di kehidupan nyata.

News






DR.  SITI PERTIWI KEMBALI KE DESA Hampir setiap hari orang bicara soal  pembangunan. Tapi banyak orang lupa bahwa hal itu juga menyangkut  perubahan nilai dan mental. Dalam Dokter Siti Pertiwi Kembali Ke Desa,  saya ingin mengemukakan bahwa soal pembaharuan itu merupakan hasil  benturan nilai tradisional dan nilai modern. Untuk memperoleh resep  pembangunan, saya kira, kaum intelektual harus lebih banyak mengenal  lingkungannya. -- Ami Prijono KAUM intelektual (modern) dalam film  Dokter Siti Pertiwi Kembali Ke Desa diwakili Siti Pertiwi (Christine  Hakim). Sementara Atuk Raja (Maruli Sitompul), dukun tradisional dan  Daying Madani (Ikranegara) murid Atuk Raja, berada di pihak seberang.  Benturan nilai tradisional dan modern itu terjadi di Desa Menggala,  Lampung, tatkala Siti Pertiwi diterjunkan ke sana sebagai dokter Inpres.  Pada mulanya kelompok Atuk Raja menolak konsep pengobatan modern.  Dengan bekal pengetahuannya, Siti Pertiwi berusaha meyakinkan Atuk Raja  bahwa ilmu kedokteran modern merupakan suatu alat ampuh . Ketika Desa  Menggala dilanda wabah muntaber -- karena sumur dan sungai diracuni  Daying Madani -- barulah Atuk Raja mau membantu dokter itu mengatasi  wabah. Sementara Siti dan Atuk sudah melunakkan sikap, Daying Madani  memisahkan diri secara sepihak. Di situ sutradara Ami Prijono berusaha  menunjukkan bahwa konflik justru melahirkan suatu perkawinan harmonis  kedua nilai itu. Ditunjukkannya Atuk Raja justru tewas di tangan Daying  Madani sendiri. "Di film itu saya ingin menunjukkan bagaimana  sesungguhnya peranan kaum intelektual sebagai ujung tombak pembangunan,"  ujarnya. Dibanding filmnya terdahulu Jakarta-Jakarta, kali ini filmnya  lebih tangkas bertutur. Dengan pedas, Ami mengolok-olok sebagian  kelompok masyarakat tradisional yang keburu maju -- digambarkan dalam  sosok Kustiyah (Joice Erna). Didukung permainan para pemeran yang bagus,  film ini menawarkan suatu gagasan dan wilayah baru. Setidaknya ia  bukanlah film melodrama dengan deraian air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar