Senin, 07 Februari 2011

SJUMAN DJAYA 1971-1986

SJUMAN DJAYA
DJAJA, SJUMAN
JAYA, SYUMAN
SYUMANDJAYA
SJUMANDJAJA

ACTOR & FILM DIRECTOR






PERAWAN BUTA 1971 LILEK SUDJIO
Actor
OMBAKNYA LAUT MABUKNYA CINTA 1978 ABRAR SIREGAR
Actor
JANG DJATUH DIKAKI LELAKI 1971 NICO PELAMONIA
Actor
FLAMBOYANT 1972 SJUMAN DJAYA
Director
KABUT SUTRA UNGU 1979 SJUMAN DJAYA
Director
PINANGAN 1976 SJUMAN DJAYA
Director
YANG MUDA YANG BERCINTA 1977 SJUMAN DJAYA
Director
ATHEIS 1974 SJUMAN DJAYA
Director
VIOLET SILK OF FOG THE 1980 SJUMAN DJAYA
Director
KERIKIL-KERIKIL TAJAM 1984 SJUMAN DJAYA
Director
SI DOEL ANAK BETAWI 1973 SJUMAN DJAYA
Actor.Director
SI DOEL ANAK MODERN 1977 SJUMAN DJAYA
Director
BUDAK NAFSU 1983 SJUMAN DJAYA
Actor.Director
OPERA JAKARTA 1986 SJUMAN DJAYA
Director
R.A. KARTINI 1983 SJUMAN DJAYA
Director
ANJING-ANJING GELADAK 1972 NICO PELAMONIA
Actor
REAL THING, THE 1980 SJUMAN DJAYA
Director
LAILA MAJENUN 1975 SJUMAN DJAYA
Director
HATI SELEMBUT SALJU 1981 ISHAQ ISKANDAR
Actor
BUKAN SANDIWARA 1980 SJUMAN DJAYA
Director
LEWAT TENGAH MALAM 1971 SJUMAN DJAYA
Actor.Director.



Sjuman Djaya

Sjumandjaja lahir di Jakarta 5 Agustus 1933, meninggal dunia di Jakarta, 19 Juli 1985. Pendidikan : SLA Taman Siswa, Institut Sinematografi Moscow, Rusia (lulus 1965). Selepas SLA mulai menulis cerpen, sajak dan kritik sastra. Lalu iseng-iseng main film dalam beberapa peranan kecil. Tahun 1956 cerpen, “Keroncong Kemayoran” dijadikan film oleh PT. Persari dengan judul Saodah. Lalu dia bekerja di studio tersebut di departemen penulisan yang dipimpin Asrul Sani.

Tahun 1957 dia menjadi Asisten Sutradara dalam pembuatan Anakku Sajang. Setahun kemudian dia mendapat bea siswa untuk belajar di Moscow, yang ditempuhnya sampai 1965. Lulus dengan film karya akhir dengan judul Bayangan, yang diangkat dari karya penulis novel Amerika Erskin Caldwell. Ia lulus dengan predikat “sangat memuaskan”, hingga dia merupakan orang ke-7 yang lulus dalam predikat tersebut dan orang non-Rusia pertama. Jadi bukan hanya sinema Rusia yang ia bawa ke Indonesia, tetapi ideologi politik Rusia saat itu juga, banyak film-film dia serasa ingin mengatakan pemberontakan atas pakem-pakem klise film Indonesia dan juga tatanan kehidupan sosial masyarakat dan negara Indonesia saat itu juga. Maka film pertama dia Lewat Jam Malam adalah penggambaran awal dari diri Sjuman. Banyak yang bilang sangat Rusia sekali. Dan seterusnya juga masih bisa dilihat hal tersebut dalam semua karya dia. Rusia yang memang melahirkan tokoh-tokoh perfilman dunia, bahkan mengambil andil bagi penciptaan tentang makna dan teori film dunia.

Bahkan Pundovkin sejarah film dunia membicarakan teori editing dia yang bahwa film memiliki dan harus ada makna. Sedangkan bentuk politik Rusia saat itu sangat mementingkan film adalah Alat propaganda. Sjuman kembali ke Indonesia tahun 1965, dan mulai membuat film pertamanya Lewat Djam Malam tahun 1971. Sedangkan di Indoensia sendiri, Jepang lah (1942-1945) yang membuka pikiran masyarakt film Indonesia bahwa Film bisa dimanfaatkan untuk apa saja, termasuk kepentingan Jepang juga (propaganda). Dan bahkan awal-awal film tentang revolusi dibuat juga untuk kepentingan hal yang sama. Semua orang membuat film romatisme revolusi, tetapi Sjuman malah membuat hal yang lain, tentang pejuang yang menikmati kemewahan dengan memakai alat negara. Sampai sekarang pun masih seperti itu kondisi Indonesia. Jiwajiwa pemberontakan ini dan juga pemberontakan atas klise film indonesia yang ditabrak oleh Sjuman, hal ini wajar saja karena dia sekolah di Rusia. Tetapi saat tahun pertama filmnya muncul 1971, Indonesia baru saja melewati masa sulitnya dengan isu PKInya, jadi banyak orang-orang yang bekas sekolah Rusia (komunis itu) termasuk film bisa mengkawatirkan bagi politik Indonesia saat itu. Wakaupun Sjuman hanya sekolah film dan sangat tepat Sjuman sekolah di Rusia, karena Rusia adalah negara yang cukup andil dalam mengembangkan teori film dunia.
Tetapi ideologi politik Rusia ini lah yang mengkawatirkan bagi negara-negara lain, termsuk Indonesia yang baru saja mengalami hal yang pahit dengan isu PKI itu. Tetapi kalau ideologi Rusia pada saat itu tidak menganut sistem sosialis dan komunis-nya, saya rasa Rusia tidak ambil andil dalam mengembangkan teori film dunia. Dan film Sjuman juga banyak yang membencinya bagi orang yang tersinggung atas filmnya atau ia bekas lulusan Rusia yang sangat dibenci setelah kasus PKI di Indonesia, ada juga yang senang karena sebahagian orang yang mempelajari teori film mengerti Rusia adalah negara teori film dunia juga atau orang yang memang jujur menanggapi karya Sjuman, ada juga yang mengambil jalan tengah menganggap Sjuman seperti seniman yang hanya berkreasi saja.
Kembali kepada saat pertama Sjuman pulang dari Rusia. Tapi sekembali ke Indonesia, pekerjaan yang ditanganinya adalah sebagai birokrat. Direktur Film di Departemen Penerangan. (1967-1968). Pada masa jabatannya itu Direktorat Film cukup banyak melahirkan tindakan yang penting bagi pengembangan perfilman. Antara lain diadakannya seminar penyiapan UU Perfilman (UU ini sendiri baru lahir tahun1992) dan Dewan Produksi Film Nasional (1968) yang membuat film percontohan guna mengubah orientasi para pembuat di lapangan, yang waktu itu sedang dilanda film kodian dan “kotor”. Lepas dari jabatan kantoran itu, ia mulai aktif menulis sambil sesekali main. Dari tangannya lahir sekitar 30 skenario, dua memenangkan Piala Citra, Laila Majenun (FFI 1976) dan Si Doel Anak Modern (FFI 1977). Ceritanya Kerikil-Kerikil Tajam mendapat Citra pada FFI 1985. Karir sutradaranya dimulai dalam film film Lewat Tengah Malam (1971). Di bidang ini ia menghasilkan dua Piala Citra, yakni Si Doel Anak Modern pada FFI 1977 dan Budak Nafsu pada FFI 1984. Sjuman pernah juga berperan dalam beberapa buah film sebagai pemain pembantu. Dia mendirikan perusahaan PT. Matari Film pada tahun 1973 dengan produksi pertamanya Si Doel Anak Betawi. Film ini menaikkan nama aktor (cilik) Rano Karno, dan dan ke “Betawi”an di dunia film & sinetron. Semua film yang dia sutradarai, skenario ditulisnya sendiri. Dan kecuali film pertamanya, maka semua film Sjuman dibuat oleh perusahaannya sendiri.
Sjuman adalah pekerja keras. Pada awal tahun 1980-an, Sjuman yang fisiknya memang kurang kukuh kesehatannya mulai merosot. Ia pernah tiba pada keadaan kritis, tapi bisa kembali bertahan dan bikin film lagi, dan tanggal 19 Juli 1985, Sjuman meninggal dipenghujung pembuatan Opera Jakarta.
more info:http://kepustakaan-tokohperfilman.pnri.go.id/sjumandjaja/biography/



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar