Senin, 07 Februari 2011

REMBULAN DAN MATAHARI / 1979

REMBULAN DAN MATAHARI
TIME TO MEND, A

Bagus (Djago Sasongko) sudah tujuh tahun meninggalkan desanya karena ia diusir gurunya. Saat kembali,ia melanggar pantangan yaitu menghamili Wong Ayu (Nungky Kusumastuti) yang kemudian melahirkan anak. Sejak itu Bagus mulai terlibat dengan berbagai masalah desa, di samping ia sendiri terus bergulat dengan dirinya, karena ulahnya dimasa lalu. Film ini merupakan film pertama Slamet Rahardjo yang berambisi memberi warna tersendiri, sehingga terkesan fragmentaris daripada keutuhan sebuah cerita.















News
10 Mei 1980
REMBULAN DAN MATAHARI Sutradara/Skenario: Slamet Rahardjo Pemain: Christine Sukandar, Djago Sasongko, Hasan Sanusi dan Nungki Kusumastuti. MITOS yang berkembang di Ponorogo, tempat para tokoh bermain, mengilhami judul film itu. Konon Ponorogo berasal dari dua kata: pramono yang dalam bahasa Jawa berarti matahari -- sumber cahaya bagi rembulan dan seluruh kehidupan di bumi -- dan rogo yang berarti badan wadag. Film Rembulan dan Matahari diawali suara sayup orang mengaji, lalu sebuah kompleks pelacuran di Jakarta hadir di layar. Penggambarannya realistis. Lengkap dengan orang tawar-menawar, lalulalang para calo, lagu Rhoma Irama dan sejumlah orang berjoged. Beberapa pelacur malam itu sedang berkemas untuk berlebaran di kampung masing-masing. Di tengah kesibukan itu, seseorang berkerudung sarung menyikat kalung Paitun (Christine Sukandar). Pelacur itu berteriak. Si maling tertangkap. Ternyata ia datang dari kalangan mereka sendiri.

Di tangan Slamet Rahardjo, si maling diselamatkan dan dibiarkan tetap tinggal menjadi bagia dari masyarakatnya. Bahkan maling itu sempat diberi uang, ditraktir minum dan tertawa-tawa. Sikap semacam itu mewarnai keseluruhan film Slamet yang pertama ini. Di desa, seorang ila (Kies Slamet) dibiarkan menjadi milik masyarakatnya. Ia menjadi semacam tokoh Petruk dalam pewayangan yang sering memberikan citra hidup yang luhur dengan cara sederhana. Pelacur Paitun menyusul Wong Bagus (Djago Sasongko) pacarnya, ke desa itu. Seolah ia tidak mengacaukan nilai moral yang berlaku. Justru Wong Bagus sendiri yang malu. Padahal ia sendiri tak bersih. Wong Bagus penah menghamili Wong Ayu (Nungki Kusumastuti) yang dicintainya. Guru kebatinannya (Sardono W. Kusumo) menanggap hal itu sebagai pelanggaran Si Guru menggasak muridnya dan menyuruhnya minggat. Tujuh tahun lamanya Wong Bagus mengembara sampai akhirnya ia jadi centeng di kompleks pelacuran dan mengenal Paitun. Ketika ia kembali, desanya sudah banyak berubah. Wong Ayu sudah kawin dengan lelaki lain. Gombloh -- benih Wong Bagus -- sudah menjadi anak yang cukup bengal. Gurunya sudah mati. Sengkuni (Henky Solaiman) dan komplotannya makin mencekik kehidupan di desa itu. Wong Bagus diangkat menjadi Jagabaya (petugas keamanan) desa, lalu menggasak komplotan Sengkuni. Di akhir film, dengan long shot beberapa mobil colt memasuki desa itu lagi dan anak-anak kecil berlari bersorak-sorai.
Dewan Juri FFI '80 yang telah memberikan 3 Citra untuk film ini (tata artistik, pemeran pembantu wanita dan pria), sempat mempertanyakan akhiran yang kurang memberi penegasan itu. Apakah Slamet menyetujui modernisasi sebagai jalan keluar atau tidak? Tapi pada banyak hal, sebetulnya Slamet juga kurang tegas bersikap. Ia bisa membiarkan maling, pelacur, penindas, menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tapi ia tidak bisa menerima perbuatan Wong Bagus bercintaan dengan Wong Ayu. Kejelasan, dalam banyak hal, sulit ditangkap dalam film ini. Sehingga penonton, yang ingin mencari ceritanya, cukup sulit merangkai-rangkaikan adegan demi adegan yang lewat di layar. Namun secara sendiri-sendiri, secara fragmentaris, adegan-adegan itu berhasil dihidupkan dengan baik. Masyarakat desa, alam kanak-kanak, suasana-suasana, muncul dengan kuat. Setidaknya untuk hal ini Slamet boleh dipuji. Yudhistira A.N.M. Massardi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar