Jumat, 11 Februari 2011

OEROEG GOING HOME COMING HOME RETOUR A LA MAISON, LE / 1993

OEROEG
GOING HOME
COMING HOME
RETOUR A LA MAISON, LE
Beberapa teman seprofesi film menyatakan bahwa G. Kamarulla ikutan dalam film ini, dia sebagai kameraman entah itu unit berapa. Maklum kalau biaya besar mereka banyak memakai kamera dan unit. Tetapi setelah saya lacak di data International dan lokal, nama G.Kamarulah tidak tercantum dalam title film ini atau data film ini. Tetapi saya suka dengan film ini sebagai film Indonesia sama seperti Max Havellar, dan saya ingin memasukannya, maka saya masukan saja di G.Kamarullah.

1993, semua kakak kelas saya katanya waktu itu terlibat dalam film ini dan saya sempat nonton filmnya dibioskop TIM, bagus. Selayaknya menonton film-film tentang sebuah koloniasme, seperti Prancis di Africa atau Indocina, Italia di Timur Tengah, Inggris di Malaysia, Dan sebagainya....warna gambarnya juga sama, adegannya juga sama...bahkan begitulah bentuk film kolonialime yang digambarkan oleh negara si penjajahan terhadap negara jajahannya. Pasti mereka tidak mau di salahkan atau di permasalahkan. Dan pasti juga sudut pandangnya beda. Saya jadi ingat tentang dialoq, siapa pahlawan dan siapa lawan. Karena semuanya punya kepentingan, penjajah punya kepentingan kolonialisme uang, sedangkan yang dijajah punya kepentingan untuk merdeka. Sama-sama merasa benar. Pahlawan bagi kita, musuh bagi si penjajah. Seharusnya negara yang dijajah jangan lecewa dengan apa yang mereka buat itu, tetapi membuat film tandingannya.




Trailer - Oeroeg

Wacthing and Click Here


















Saat menonton, benak saya waktu itu adalah beberapa permasalahan dan visualisasi hampir sama yang saya ketemukan di dalam buku Pramudia. Yang paling senang adalah adegan menonton film. Teman saya ikut main film itu jadi penjual satenya,...ah ternyata cuma satu shoot sedikit panjang walaupun pakai dialoq. adegan menonton bioskop sangatlah dalam arti penjajahan kolonialisme saat itu. Begitulah bentuknya, walaupun sampai saat ini saya belum mendapatkan bentuk nyatanya, apakah Belanda totok mau menonton film di tempat seperti itu? Karebna Belanda Totok paling malas dan merasa hina menonton film. Mungkin yang dimaksud dari buku sejarah film adalah menonton film buatan dan tentang Indonesia. Karena film import seperti Tarzan dalan film Oeroeg ini adalah barang mahal dan gengsi juga, mungkin saja Belanda totok menonton film itu tetapi tidak di tempat seperti itu. Adegan menonton bioskop cukup baik dilakukan, dimana pribumi menonton di balik layar yang terbalik, duduk di tanah dan jongkok (ini khas sekali Indonesianya) sedang
Belanda totok duduk di bangku. Memang Belanda totok tidak bisa jongkok, saat mereka datang ke Indonesia, mereka lihat semua orang Indonesia berjongkok....tidak duduk. Dari situ muncul kalimat memaki Belanda untuk orang Indonesia, yaitu Moennyettt Kowe.

Selebihnya adegan basa saja, perang selajimnya di negara mana pun dan dalam film apa pun. Pertukaran tawanan 1 banding 20 juga sama, saya pernah melihat di film lain tentang Kolonialisme.

Tetapi film ini tidak sehebat Max Havelaar, dalam permasalahan birokrasi ijin shootingnya juga sensor dan juga dampaknya. Max Havelaar di kerjakan orang yang bermutu dalam bidan g perfilman, bahkan DOP-nya sendiri adalah JAN DE BONT yang sangat populer sekarang di Hollywood, juga menyutradarai film. Film pertama di sutradarainya adalah Twister tentang angin tornando. Sama-sama mengambil dari bahan buku, Max Havelaar dan Oeroeg, tetapi Max Havelaar jauh lebih di kenal dunia bukunya yang menggegerkan kolonialisme saat itu.


Oeroeg Scenes
Wacthing and Click Here




Oeroeg Scenes
Wacthing and Click Here




projectnedcol oeroeg #1
Wacthing And Click Here




projectnedcol oeroeg #2
Wacthing and Click Here



Saya pingin masukin film ini, tetapi karena tidak ada data creadit title film ini secara utuh. Maklumlah biasanya crew lokal diletakan yang paling akhir sekali. Bahkan samapi secound unitnya saya sudah cari, tetapi nama Belanda juga, juga Co Director dan 1st assistennya juga sama, Belanda totok.

Cuma kata pak Enison Sinaro, Pak George Kamarullah sebagai kamera operatornya, oleh karena itu saya masukin saja di tempat ini. Walaupun saya belum menemukan nama Pak George ini dalam database creadit film ini. Mungkin harus mencari dalam ending title dari film itu. Sedangkan Pak Enison sebagai AD Assisten Director. Dan Om Iri Supit Costum Designer. Mungkin nanti saya menemukan nama mereka dalam film ini. Karena dalam film ini mereka memakai 2nd Unit, berarti ada lebih dari 2 kamera yang dipakai.

Kata teman saya sutrdara Belanda, film ini proyek patungan negara Belanda, Belgia, Luxembrug, Indonesia. Kalau dilihat dari Companynya adalah ADDED FILMS INTERNATIONAL (BUSSUM), MULTIMEDIA (BRUSSEL), LICHTBLICK (HAMBURG), P.T. PRASIDI TETA FILMS (JAKARTA). Oleh karena itu juga judul yang dipakai memakai bahasa yang banyak juga. OEROEG /GOING HOME /COMING HOME/RETOUR A LA MAISON, LE.


Concordia Cinema - Oeroeg de film - Nabespreking deel 1

Wacthing Click Here





Concordia Cinema - Oeroeg de film - Nabespreking deel 2
Wacthing Click Here






















Concordia Cinema - Oeroeg de film - Nabespreking deel 3

Wacthing And Click Here





Concordia Cinema - Oeroeg de film - Nabespreking laatste deel 4
Wacthing and Click Here






















Film ini durasinya 113 menit.

OEROEG 1993 HANS HYLKEMA
Director

Synopsisnya
Kisah tentang persahabatan antara anak Belanda pemilik perkebunan Kebon Jati, Johan (Rik Launspanch), dengan anak pribumi pegawai perkebunan, Oeroeg (Martin Schwab), yang tumbuh bersama di antara dua dunia yang saling bermusuhan. Johan lahir dan dibesarkan di Kebon Jati, ia tumbuh di dua lingkungan yang bertolak belakang. Dalam rumah dan sekolah yang dipenuhi dengan kemewahan dan aturan-aturan bangsanya, Belanda, dan di lingkungan perkebunan yang dipenuhi dengan kesengsaraan para jongos dan pribumi asli. Johan kecil masih terlalu muda untuk mengerti masalah penjajahan, rasialisme, kesengsaraan, dan kekuasaan. Ia hanya tahu bahwa tempat yang ia tinggali saat itu begitu asik untuk dipakai bermain. Apalagi sejak kecil, Johan telah bersahabat dengan Oeroeg. Mereka seringkali menghabiskan waktu seharian untuk mandi di sungai, bernyanyi, memandikan kerbau, atau sekadar bermain dengan serangga dan kodok. Persahabatan dua anak manusia itu semakin lekat, meski ayah Johan seringkali tak setuju dengan alasan bahwa Oeroeg tak sederajat dengan mereka. Perbedaan Johan yang Belanda kulit putih dan Oeroeg yang pribumi sudah muncul sejak kecil. Johan dan Oeroeg selalu berusaha untuk menghilangkan jarak itu, hingga akhirnya mereka beranjak remaja. Berkat kebaikan Lida, guru Johan waktu kecil, Oeroeg bisa mengenyam pendidikan sampai ke studi kedokterannya. ***********


































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar