Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1990 Kritik sosial lewat anak-anak

LANGITKU, RUMAHKU Pemain: Banyu Biru, Sunaryo, Pitradjaja Burnama Skenario dan Sutradara: Slamet Rahardjo Djarot Produksi: Ekapraya Film, 1990 DI bawah bayangan patung Diponegoro, kedua sahabat itu berbincang dengan asyik. Andri, anak kelas IV SD, mendongak melihat patung. Sedangkan Gempol, pemulung kecil yang dekil, mengecap nikmat hotdog pemberian Andri. "Kamu tahu di atas kita patung siapa?" "Pangeran Mataram yang marah karena tanah moyangnya diganggu Belanda," jawab Gempol, yang sempat mengecap bangku sekolah hingga kelas V SD. "Memangnya, tanah nenek moyang diapain?" "Ya, gitu, Belanda mentang-mentang kuasa, seenaknya saja dia gusur tanah orang." Adegan ini terasa sebagai sebuah sindiran. Dan kita tahu bahwa sindiran itu adalah khas Slamet Rahardjo, sang sutradara dan penulis skenario Langitku, Rumahku ini. Kali ini, tokoh Slamet adalah anak-anak yang pintar dan lugu, Andri (dimainkan Banyu Biru dan memperoleh Piala Kartini sebagai pemeran anak-anak terbaik FFI 1990) dan Gempol (diperankan dengan baik juga oleh Sunaryo). Kedua anak ini bertemu ketika, suatu hari, Gempol disangka akan mencuri di sekolah Andri. Nyatanya, Gempol hanyalah seorang pemulung. Andri membantu Gempol dengan cara meraup semua koran bekas di rumahnya, termasuk majalah mode kakaknya, untuk dihibahkan kepada Gempol. Persahabatan berkembang terutama karena Andri adalah anak yang kurang perhatian di rumahnya. Ibunya sudah lama meninggal, bapaknya sibuk dengan perusahaannya, dan kakaknya pusing dengan urusan sekolahnya. Justru pak sopir (dimainkan Pitradjaya Burnama) yang setia mengantar Andri ke mana-mana. Karena itu, kehadiran Gempol -- seorang kawan bermain yang jujur, polos tapi cerdas -- membuat kehidupan Andri lebih menyenangkan. Persahabatan mereka begitu erat, hingga ketika terjadi pembersihan rumah kumuh dan orangtua Gempol digusur, hati Andri ikut terganggu. Adegan-adegan selanjutnya seperti sengaja dibikin full-action, biar seru untuk anak-anak. Kedua anak ini kabur ke Jawa Timur untuk mencari nenek si Gempol. Mereka mengalami banyak hal: dari kegarongan uang, bekerja sebagai pencuci piring, hingga menjadi tukang parkir. Akhirnya mereka harus kembali ke Jakarta meski tak berhasil menemui nenek Gempol -- karena foto Andri "si anak hilang" terpampang di koran-koran. Diakhiri dengan adegan perpisahan kedua sahabat, Slamet berhasil membuat film ini sebagai karya yang menyentuh, tapi tak cengeng. Ingat, di tahun 1970-an, anak-anak Indonesia sempat dijejali film yang penuh dengan ratapan dan tangisan dengan mengeksploitasi kekejaman ibu tiri. Meski serial film ini sempat mencuatkan bintang cilik macam Dewi Rosaria Indah dan Faradilla Sandy, film-film itu tidak menyajikan apa pun selain duit dan kebodohan. Setelah itu, produser keranjingan film remaja dan disambung film banyolan. Dan film anak-anak menjadi "anak tiri". Dilihat dari sudut ini, bersama film Tragedi Bintaro, Si Badung, serta Nyoman dan Presiden, Langitku patut dipandang sebagai ikhtiar yang baik. Apalagi Slamet juga bertujuan agar anak-anak Indonesia memasuki alam pemahaman, bukannya sekadar hafal-menghafal. "Melalui persahabatan, seorang anak seperti Andri bisa memahami latar belakang sahabatnya, Gempol, dan sebaliknya. Sedangkan kisah ibu tiri yang jahat adalah sebuah tradisi yang tak jelas juntrungannya. Dan, malangnya, tradisi ini dipaksa untuk dihafalkan pada anak-anak," kata Slamet, ayah dua anak. Bahwa tokoh Andri dan Gempol kelihatan pinter banget -- dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis -- hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Mereka adalah anak-anak yang cerdas dan kritis. Jadi, wajar saja jika di suatu malam Andri menggeletak bersama Gempol seraya berkata, "Aku nggak ngira aku musti tidur pakai alas koran, rupanya koran bukan cuma buat dibaca, ya?" Dan masih wajar pula jika Gempol mempertanyakan kenapa setiap Jakarta didandani untuk perayaan, wong cilik selalu jadi korban. Yang kelihatan berlebihan adalah gembel Mbah Unyeng, yang selalu tangkas menjawab pertanyaan Gempol. "Kita ini masyarakat bekicot, nempel di mana-mana mengganggu pemandangan, pantas kalau digusur," katanya menghibur Gempol di bawah tetesan hujan. Dari mulut Mbah Unyeng pula, kita mendengar kalimat: "Selama masih ada langit ... kita masih punya rumah...." Karya-karya Slamet memang sudah telanjur identik dengan kritik sosial. Seperti dalam Ponirah Terpidana dan Kembang Kertas, karya terbaru Slamet ini menunjukkan kekuatan visualisasi. Ada adegan Andri dari balik jendela memandangi burung-burung yang terbang bebas. Kita kemudian melihat keinginan Andri yang tak terucap itu diwujudkan dengan petualangannya bersama Gempol ke Jawa Timur. Tentu saja kekuatan bahasa visual Slamet didukung dengan kecanggihan Satari S.K. (mendapat Piala Citra untuk penata artistik) dan kemampuan Soetomo Gandasubrata (yang juga mendapat Citra untuk fotografi). Kekuatan lain dari film ini tentu saja adalah akting Banyu Biru dan Sunaryo, yang tidak seperti anak SD yang sedang belajar membaca di kelas. Sangat alamiah. Produksi pertama PT Ekapraya Film ini, yang biayanya Rp 400 juta -- terutama karena direct-sound system -- berhasil untuk ikut kompetisi Festival des 3 Continents (Festival Tiga Benua) di Nantes, Prancis, akhir bulan ini dan Festival Film Anak-Anak Internasional di Toulouse, Prancis, tahun depan. Leila S. Chudori

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar