Rabu, 09 Februari 2011

Darah dan Doa /LONG MARCH, THE / 1950

Darah dan Doa /LONG MARCH, THE












Mengisahkan perjalanan panjang (long march) prajurit RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Rombongan hijrah prajurit dan keluarga itu dipimpin Kapten Sudarto (Del Juzar). Ditunjukkan ketegangan sepanjang jalan dan dalam menghadapi serangan udara dari musuh, Belanda. Juga ketakutan dan penderitaan lainnya. Tak ketinggalan disinggung adanya pengkhianatan. Perjalanan diakhiri dengan telah berdaulat penuhnya Republik Indonesia pada 1950. Kisah ini disajikan dalam bentuk narasi. Fokusnya pada Kapten Sudarto yang dilukiskan bukan bagai "pahlawan", tapi sebagai manusia. Meski sudah beristri di tempat tinggalnya, selama di Yogya dan dalam perjalanan ia terlibat cinta dengan dua gadis. Ia sering tampak sebagai peragu. Waktu keadaan damai datang, ia malah harus menjalani penelitian, karena adanya laporan dari anak buahnya yang tidak menguntungkan sepanjang perjalanan. Ia memilih tidak memenuhi panggilan penelitian dan memilih keluar dari tentara, apalagi melihat anak buah tadi sudah bergaya dengan jip dinasnya. Film diakhiri dengan ditembaknya Sudarto oleh anggota partai komunis yang diperanginya waktu terjadi Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun (1948). Suatu hal yang secara prinsip ditentangnya karena berarti perang saudara. Revolusi juga memakan korban anaknya sendiri yang baik, begitu kira-kira yang ingin dikemukakan film ini.

(dalam bahasa Inggris: The Long March [of Siliwangi] atau Blood and Prayer) ialah sebuah film Indonesia karya Usmar Ismail yang diproduksi pada tahun 1950 dan dibintangi oleh Faridah. Film ini merupakan film Indonesia pertama yang sepenuhnya dibuat oleh warga pribumi[rujukan?]. Film ini ialah produksi pertama Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), dan tanggal syuting pertama film ini (30 Maret 1950) kemudian dirayakan sebagai Hari Film Nasional berdasarkan Keppres Nomor 25/1999[1]. Kisah film ini berasal dari skenario penyair Sitor Situmorang[rujukan?], menceritakan seorang pejuang revolusi Indonesia yang jatuh cinta kepada salah seorang Belanda yang menjadi tawanannya.
Film "Darah dan Doa" juga disebut "Long March Siliwangi" adalah film pertama karya Usmar Ismail pada umurnya yang ke 29 tahun yang merupakan juga film Indonesia yang pertama tentang manusia Indonesia dalam revolusi. Sifat-sifat utama dan nilai-nilai yang dianut ialah patriotisme atau cinta tanah air, nasionalisme yang tinggi, dan idealisme yang menyala-nyala atau hidup dengan cita-cita. Selain itu juga Usmar Ismail juga orang yang mendalam sekali religiositasnya. Usmar Ismail yang telah diakui sebagai bapak perfilman Indonesia, perlu dikenang kembali motivasi dan aspirasi masa mudanya untuk dicari aspirasi yang dapat dipetik untuk zaman sekarang yang jauh lebih komplek. "Film saja jang pertama", itulah yang diucapkan bapak tokoh perfilman Indonesia Usmar Ismail dalam pemutaran film "Darah dan Doa" pertunjukan perdananya di Istana Negara pada pertengahan tahun 1950. Darah dan Doa adalah film Indonesia pertama yang mendapat kehormatan untuk di putar dikediaman Presiden Soekarno, dan film yang disutradarai Usmar Ismail ini dinilai banyak pemuka bangsa, yang seratus persen dibuat dan dikerjakan dengan tanggungjawab sendiri. Film Darah dan Doa dibuat berdasarkan cerita Sitor Situmorang, sebuah film pertama tentang revolusi .

Film ini masuk dalam golongan film tentang revolusi. Ada beberapa konflik dalam film ini.


Pertama Ketika Adam mengusir gadis Indo -Jerman yang dipacari Sudarto ketika batalionnya berada di Sarangan selepas menumpas pemberontakan komunis di Madiun 1948. Saat kehidupan yang kontras antara kehidupan keluarga Sudarto berantakan, sedangkan Adam bahagia menerima surat dari istrinya di Bandung. Dalam kesepian ini gadis Indo itu muncul di kesepian Sudarto. Bagi Adam hubungan komandannya itu bisa rusak disiplin pasukannya, maka harud diputuskan.


Kedua, konflik Sudarto dengan kepala stafnya lagi-lagi dengan wanita. Dalam perjalanan panjang (long march) kembali ke Jawa Barat, Sudarto berkenalan dengan juru rawat Widya. Sekali lagi mereka saling jatuh cinta, dan sekali lagi Adam menentangnya. Malang bagi Sudarto dan Widya berpisah dengan pasukannya setelah di serbap oleh pasukan DI/TII (darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Adam menilai kejadian itu sebagai desersi. Lalu laporan dikirimkan ke markas divisi.


Yang menarik adalah tulisan itu ditulis bukan karena dendam pribadi , karena tidak ada alasan pribadi juga Adam membenci Sudarto. Yang ada adalah situasi yang penuh tidak kepastian di tengah-tengah revolusi dan Adam mencoba menegakkan dan mempertahankan suatu kepastian di tengah ketidak pastian.


Menjelang akhir cerita Adam mendekati ajalnya, setelah tertembus peluru, sempat minta maaf dan pengertian Sudarto atas tindakannya itu. Sudarto mengerti semua. Pebedaan watak nampaknya tidak menghalangi kedua perwira untuk saling menghormati.


Dalam film ini juga digambarkan eksekusi seorang mata-mata (R.Ismail) yang dijalankan oleh seorang sersan. Sebelum eksekusi dilakukan seorang perwira menegur sang sersan yang kelihatannya termenung. Apa kau kenal orang ini? tanya perwira itu. Ya, dia ayahku., jawab sersan. Lalu sersan harus menjalankan perintah atasannya itu. Usmar menggambarkannya dengan datar.


Selanjutnya penyelesaian cerita tragis lagi ketika semua sudah selesai berperang, Sudarto memutuskan untuk berhenti menjadi tentara, sedangkan Adam mati di kamar pondoknya tertembak peluru oleh seorang sisa pemberontakan di Madiun.


Film ini banyak dipuji karena kejujurannya, meskipun mendapatkan reaksi keras dari berbagai pihak, tetapi pada proses pembuatannya Usmar terasa bebas menuangkan segala idenya tentang manusia yang terseret ke dalam kancah revolusi.


Tehnik pembuatan film ini, bila dilihat sekarang sangat kuno, tetapi tertutup pada kejujuran yang menyertainya. Justru keharuan itu datang dari sebuah kejujurandan kesederhanaan penggambaran manusia-manusia yang terserimpung ke dalam kancah revolusi. Sehingga film ini beda dengan film revolusi yang lainnya yang dibuat saat itu juga yang lebih mengutamakan tata warna kecemerlangan serta efek khusus yang fantastis sehingga menghilangkan nilai dramtik dan kejujuran ceritanya itu sendiri.


Dengan mematikan ke dua tokohnya ini Adam dan Sudarto, Usmar meramalkan masa depan bangsa ini tidak ada pada Adam orang yang terlalu serius, juga tidak pada Sudarto yang intelektual. Tetapi ada apada Aedy Moward yang sibuk dengan kepentingan pribadi disaat semua orang sibuk berperang. Usmar menggambarkan tokoh ini yang selalu sibuk mencari pacar di setiap ada kesempatan dalam perjalanan Long March, dan selalu mencari rokok yang enak di zaman yang susah. Ia juga digambarkan sedang makan nasi bungkus secara diam-diam dibalik batu besar, sedangkan yang lain pada kelaparan.Dan ada juga pada tokoh Awaluddin perwira dengan watak yang tak punya warna jelas.


Film ini punya arti amat penting dalam sejarah: dimulainya pembuatan film "nasional", walau film cerita pertama yang dibikin di Indonesia adalah "Loetoeng Kasaroeng" (1926). Salah satu keputusan konferensi kerja Dewan Film Indonesia dengan organisasi perfilman pada 11 Oktober 1962 adalah "Menetapkan hari shooting pertama dalam pembuatan film nasional yang pertama "The Long March" sebagai Hari Film Indonesia." Meski 30 Maret (1950) telah dianggap sebagai Hari Film; serta Usmar Ismail (Perfini), disamping Djamaludin Malik (Persari), disepakati sebagai Bapak Perfilman Nasional, namun pengakuan resmi (pemerintah) baru terjadi pada 1999, setelah ditandatanganinya Keppres no 25/1999 oleh Presiden Habibie. Kisah yang sama dibuat kembali dalam film "Mereka Kembali" (1972).
.


DARAH DAN DOA 1
DARAH DAN DOA 2
DARAH DAN DOA 3
DARAH DAN DOA 4
DARAH DAN DOA 5
DARAH DAN DOA 6
DARAH DAN DOA 7
DARAH DAN DOA 8
DARAH DAN DOA 9









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar