Minggu, 30 Januari 2011

SI KABAYAN DAN GADIS KOTA / 1989

SI KABAYAN DAN GADIS KOTA


Si Kabayan, adalah cerita rakyat sunda yang sudah popule, ini sama seperti tokoh film yang digambarkan tahun 30'an oleh pelawak radio terkenal saat itu dalam film Indonesia Malaysie atau Sinyo Main pelem.


Mungkin sebahagian orang menganggap toko Kabayan adalah gambaran lelaki sunda yang sebenarnya. Tetapi biar bagaimana pun Si Kabayan memang menggambarkan tokoh yang pemalas dan sedikit idot, jujur, pemberani dan memiliki sedikit unsur mistik (apakah ini benar mistik atau kebetulan saja).

Sebahagian orang sunda malah tidak keberatan atas karakter tersebut. Dan film serial Si KAbayan ini cukup di senangi oleh penonton.

Kabayan (Didi Petet) disuruh pak Lurah untuk menemani Inge (Meriam Belina) yang mengadakan penelitian di desa itu untuk skripsi kesarjanaannya. Kang Ibing (Kang Ibing) yang melihat Kabayan berduaan dengan Inge, lalu memberitahu Iteung (Paramitha Rusady), istri Kabayan. Iteung pun cemburu. Bahkan Abah, ayah Iteung (Rachmat Hidayat) ikut memanasi. Keadaan salah paham yang membuat Iteung minggat ke kota, jatuh ke tangan germo, tetapi diselamatkan oleh Joni Kemod (Rudy Djamil), teman sekampung. Joni pula yang menyarankan Iteung ganti mode jadi orang kota. Kabayan mencari Iteung dengan bantuan Saribanon (Nurul Arifin), sahabatnya. Inge yang merasa bersalah juga mencari. Kang ibing juga disuruh mencari karena dia yang jadi biang semuanya ini. Yang menemukan Iteung adalah Inge, saat Iteung pingsan di jalan. Rupanya Iteung sedang mengandung anak dari buah perkawinannya dengan Kabayan. Maka Inge membawa pulang Iteung ke desanya.



News Of Kabayan
20 Mei 1989
Bermula dari kabayan

SEUSAI menonton film Si Kabayan Saba Kota, Yogie S. Memet langsung mengacungkan jempol. "Bagus," ujarnya. "Tata warna dan pengambilan gambar cukup baik. Film produksi awal kita cukup mengembirakan," sambungnya. Bekerja sama dengan PT Kharisma Jabar Film, Pemda Jawa Barat menyediakan anggaran Rp 150 juta untuk memproduksi Si Kabayan, sementara Kharisma menyediakan dana Rp 200 juta. Biaya itu ternyata akhirnya bisa ditekan. Ongkos produksi keseluruhan hanya Rp 250 juta. Soal penghematan ini juga menunjang kegembiraan Gubernur. Bukan cuma andil saham. Pemda Ja-Bar juga turut rembuk membicarakan skenario dan penentuan lokasi shooting. "Di luar itu kami tidak ikut campur," kata H.S.A. Yusacc, Humas Pemda Ja-Bar. Maksudnya tak ada campur tangan untuk urusan artistik. "Sebagaimana kata Gubernur, kami tidak bermaksud memasung kreativitas seniman," ujar Yusacc. Kisah yang lengket dengan budaya Sunda ini dibuat dalam dua versi. Satu versi untuk masyarakat berbahasa Sunda, menggunakan dialog lokal dan musik yang sangat berbau tradisional. Sedang versi lainnya dijiwai semangat nasional. "Saya juga capek bikin ilustrasi musik dalam dua versi," kata Harry Rusli. Dalam versi Sunda, Harry memakai lagu Cingcangkeling. Sedang untuk "versi nasional", musiknya dibuat lain yang bisa dipahami warga non-Sunda. Film ini cuma memakai 13 artis, yang semuanya berasal dari Jawa Barat. Pengambilan gambar yang dilakukan di Bandung, Lembang, dan Singaparna betul-betul membutuhkan waktu yang singkat. Dari shooting sampai film siap edar, konon, hanya perlu waktu kurang dari satu bulan. "Sebenarnya ini film komersial, hanya mempunyai tanggung jawab ekstra karena kerja sama dengan pihak Pemda. Karena biayanya dari rakyat, maka tanggung jawabnya lebih besar," kata Edison Nainggolan, produser pelaksana film ini. Si Kabayan, yang diputar serentak di seluruh Jawa Barat, sejak awal Mei ini tampaknya memang digemari. Di Bandung saja, misalnya, sampai hari kedua Lebaran, penonton sulit mendapatkan karcis masuk. Tokoh Kabayan itu sudah menjadi bagian dari masyarakat Parahyangan. Selain suasana lebaran membuat masyarakat berbondong-bondong mencari hiburan. Tapi pencinta seni budaya Sunda, Tjetje Hidayat Padmadinata, memberi komentar miring. "Pembuatan film ini ada cacat dalam kandungan. Mengapa kok Jawa Barat memilih film badut?" tanyanya. Walaupun Kabayan merupakan tokoh fiktif, menurut Tjetje, sosok karakter tokoh itu sudah baku sebagai tokoh jenaka. Juga Kabayan adalah tokoh negatif, sama dengan tokoh larangan. Misalnya, kalau orangtua memarahi anaknya yang mempunyai kelakuan jelek, biasanya dikatakan 'kamu jangan seperti Si Kabayan. "Kabayan itu digambarkan pemalas suka menipu dan tidak sopan. Saya kurang setuju film dagelan yang dimunculkan," ujarnya. Tjetje, lalu menunjuk film bertemakan kepahlawanan yang digarap pemerintah daerah lain. Seperti film 10 Nopember yang dibuat Pemda Jawa Timur dan film Nuansa Rinjani yang dibuat Pemda Nusa Tenggara Barat. Juga disebutkan film Tjoet Nya' Dhien yang menularkan tema kepahlawanan -- walau film ini bukan dibuat berdasarkan imbauan Menteri Rudini. Menurut Tjetje, Pemda Ja-Bar lebih tepat kalau mengangkat kisah kepahlawanan, misalnya tokoh pejuang K.H. Zainal Mustafa dari Singaparna atau H. Hasan dari Cimateme, Garut, yang melawan Jepang. Bisa pula Sultan Agung Tirtayasa, Hasanuddin atau Bagusrangin dari Majalengka. "Kalau Si Kabayan ini murni biaya swasta, saya tidak perlu berkomentar. Tapi ini kan biaya dari Pemda Rp 150 juta, itu bukan sedikit," kata Tjetje. Suyatna Anirun, seniman teater cukup kondang di Bandung, juga kecewa. Menurut dia, film ini kurang perencanaan, sejak pembuatan skenario sampai penggarapannya. "Tidak berkembang. Dialogpun kebanyakan verbal, suasananya kurang menggelitik," kata Suyatna. Namun, Yusacc membela. Justru film ini untuk mengubah citra masyarakat pada tokoh Kabayan. Diakuinya ada beberapa versi tentang tokoh Kabayan. Ada yang menyamakannya dengan tokoh Abunawas yang tengil itu. "Kategori itulah yang ingin kami perbaiki," ujar Yusacc. Dalam film ini, profil Kabayan muncul sebagai orang lugu, jujur, dan simpatik. "Pada pembuatan film perdana ini, kami sengaja menampilkan cerita yang sederhana, tetapi tetap masih bisa dinikmati dan merupakan penggalian dari potensi masyarakat. Kalau bertemakan kepahlawanan dan sejarah, sepertinya harus semikolosal atau kolosal. Berat dalam soal biaya," katanya. Yang meniru Jawa Barat -- dalam arti tidak membuat film kepahlawanan -- ada juga. Misalnya Pemda Sumatera Selatan. Kini di Palembang sedang dikerjakan film Si Pahit Lidah, sebuah legenda setempat. Film ini disutradarai Pitrajaya Burnama, dengan artis-artis lokal. Bintang tamunya Anna Tairas dan Dewi Irawan. "Jika daerah lain bisa membuat film, kenapa kita tidak," kata Gubernur Sum-Sel Ramli Hasan Basri. Sementara itu, di provinsi lainnya belum terdengar ada sambutan. Di Bali, misalnya, memang banyak dikerjakan film, tapi bukan dibuat atau bekerja sama dengan pemerintah daerah. Di Sumatera Utara lain lagi. Seniman-seniman Medan sudah berusaha menghubungi Pemda Sum-Ut. Tapi belum ada hasilnya. "Konon, tidak ada uang dan masalahnya tidak ditanggapi secara serius," kata M. Arief Husin Siregar, Ketua Parfi Sum-Ut. Padahal, di masa Gubernur Marah Halim, seniman Medan menghasilkan lima buah film. Bahkan Medan punya studio film yang dibangun atas bantuan pemerintah daerah. Putu Wijaya dan Ida Farida

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar