Selasa, 25 Januari 2011

SI BUTA DARI GUA HANTU / 1970

SI BUTA DARI GUA HANTU
Film ini sangat Populer sekali, selain komiknya juga popule, ternyata Ratno Timoer memainkannya juga bagus sekali. Tidak heran, sehabis film ini dibuat muncul film-film serupa. Tetapi ada 3 judul yang sama, yakni Si Buta dari Goa Hantu yang dibuat Lilik pertama kali di tahun 1970, lalu dibuat oleh Omar Rojik tahun 1974 dengan judul Si Buta , lalu Ratno Timoer membuat di tahun 1985 dengan judul Si BUta dari Gua Hantu

Sebuah desa kecil yang aman dikacau oleh orang buta bernama Mata Malaikat (Maruli Sitompul). Pakti Sakti (Alam Surawidjaya), ayah Barda Mandrawata (Ratno Timoer), yang tersohor dalam dunia persilatan, mati di tangan Mata Malaikat. Barda menuntut balas, setelah berbagai usaha meningkatkan ilmunya. Setelah dendam terbalas, ternyata soal belum selesai, karena Sapu Jagat (Kusno Sudjarwadi) masih menghadang. Sapu Jagat tidak dibunuh meski sudah menyerah, dan Marni (Sri Rejeki)sudah jadi istri Barda. Barda kembali mengembara. Salah satu film laga silat yang banyak dipuji.

Cinta yang terluka dan balas dendam sebagai api yang menyalakan semangat untuk mengarungi hidup penuh petualangan. Ssejak kelahirannya pada 1967 lewat terbitan UP Soka Jakarta, tak pelak merupakan tokoh komik lokal paling populer. Namanya terus bergema sejak diangkat ke gedung bioskop pada dasawarsa 1970-an dengan mencuatkan mendiang Ratno Timoer sebagai aktor pemerannya hingga ke layar kaca dalam zaman sinetron dewasa ini. Saat ini sebuah sinetron yang dibuat berdasarkan salah satu episode komik petualangan Si Buta masih diputar di sebuah stasiun televisi swasta nasional.

SELECTION SCENE




Lilik sedang mengarahkan di lokasi

Kisah Si Buta dari Gua Hantu diawali oleh dendam yang tak terbalas. Barda Mandrawata, seorang pemuda tani di sebuah desa pelosok Banten, tengah menanti hari pernikahannya dengan Marni Dewianti saat seorang buta yang sakti tapi telengas, Si Mata Malaekat, mampir di desanya dan berbuat onar. Ia membunuh Ganda Lelajang, ayahanda Marni, karena soal sepele. Barda dan kawan-kawannya dari Perguruan Elang Putih mencoba menuntut balas. Paksi Sakti Indrawata, ayahanda Barda sekaligus ketua perguruan, menantang duel Si Mata Malaekat. Namun, ia tewas.

Barda yang merasa kalah jago dari si pembunuh pergi meninggalkan desanya dan menyepi di sebuah gua untuk memperdalam ilmu silat. Ia ingin membalas dendam. Berkaca pada musuhnya, ia berupaya mempelajari ilmu membedakan suara yang tak tergantung pada mata. 










Pada suatu hari, pemuda yang dibakar dendam itu mengangkat goloknya menyilang sejajar dengan mata. Digerakkannya golok itu menggores sepasang matanya. Sejak itu Barda menjadi buta. Tapi, menjadi buta ternyata membuatnya lebih tangguh. Kepekaan nalurinya justru menjadi jauh lebih tajam karena terbebas dari indera penglihatan. Kesaktian ini membuat Barda bertekad menuntaskan dendamnya pada Si Mata Malaekat.












Singkat cerita, Si Mata Malaekat tewas di tangan Barda. Dendam terbalas sudah. Tapi, cerita justru baru dimulai. Tambatan cintanya, Marni yang jelita, telah menjadi isteri orang, meninggalkan luka di hati Barda. Barda alias Si Buta dari Gua Hantu yang kini tampil gagah dengan setelan baju kulit ular berikut tongkat yang didapatnya dari gua tempatnya menempa diri memutuskan hengkang meninggalkan kampung halamannya. Ia bertualang ke berbagai penjuru Nusantara demi menumpas kejahatan ditemani oleh Wanara, monyet cerdik yang setia.

Setelah episode pertama berjudul Si Buta dari Gua Hantu, muncul berbagai petualangan singkat Si Buta di Pulau Jawa, antara lain lewat episode Borobudur dan Mawar Berbisa. Lalu, ia terus mengembara ke Timur, menyeberang ke Bali dalam Banjir Darah di Pantai Sanur dan Nusa Tenggara Barat dalam kisah Reo Manusia Srigala yang mengambil latar di Sumbawa. Disambung perjalanan melintasi lautan menuju Sulawesi dalam Prahara di Donggala, Perjalanan ke Neraka dan Kabut Tinombala. Selanjutnya, ia kembali menyeberangi laut menuju Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pulau Flores, dalam Tragedi Larantuka.












































NEWS
Sang Pendekar di Layar Lebar


Pagi masih berkabut di Candi Borobudur. Seorang lelaki tua tampak tergesa membawa sebuah gulungan kertas. Ia berlari, tapi langkahnya terhenti saat mendapati sosok yang menghadangnya. Belum sempat berteriak, sebilah keris menghunjam dadanya. Matanya membeliak, tubuhnya terhuyung. Sebelum terkapar, ia masih sempat melempar gulungan kertas itu ke balik patung batu. Pagi itu, sesosok mayat menggegerkan kawasan sunyi candi itu.Adegan itu membuka episode Asmara di Candi Tua, sepenggal kisah perjalanan Si Buta dari Gua Hantu yang pernah ditayangkan RCTI pada 1994. Dalam episode itu, Barda Mandrawata—nama asli si buta—membongkar misteri perebutan harta sebuah keluarga kaya. Kematian kepala keluarga itu mendorong perselisihan dua anak lelakinya. Mereka berusaha merebut peta harta yang diserahkan sang ayah untuk putri kesayangannya, Sekarningsih. Berdurasi satu jam, episode itu cukup menjadi favorit para penggemar Si Buta karena di situlah Barda bertemu dengan kakeknya.


Divisualkan oleh Herry Topan Intercine Film, episode itu merupakan salah satu bagian dari 26 episode sinetron Si Buta dari Gua Hantu yang diangkat dari komik karya Ganes T.H., yang pertama kali terbit pada 1966. Usaha menampilkan kisah silat ini ke layar kaca bukan pertama kali dilakukan Herry Topan. Kita masih ingat aksi Ratno Timoer sebagai Barda lewat film Si Buta dari Goa Hantu besutan sutradara Lilik Sudjio pada 1971. Setelah itu, muncul beberapa versi lanjutan Si Buta di layar film.


Di tahun yang sama, Ratno Timoer kembali muncul sebagai Barda dalam Misteri Borobudur, yang ketika itu disutradarai Pietrajaya Burnama. Kisah yang diangkat sama persis dengan episode sinetron Asmara di Candi Tua yang ditampilkan RCTI. Bedanya hanya pada judul. Dalam versi komik, Ganes memberi judul Misteri Borobudur. Saat dilibatkan oleh Herry Topan sebagai penulis skenario di versi sinetron, Ganes mengubah kisah pertemuan Si Buta dengan kakeknya ini menjadi Asmara di Candi Tua.


Setelah sekuel kedua, muncul film lainnya yang dikembangkan jauh melampaui cerita komik aslinya. Pada 1983, Dasri Jacob membuat film
Si Buta dari Goa Hantu Lawan Jaka Sembung.

Imajinasi yang boleh jadi sangat berlebihan. Si Buta dipaksa hidup di masa Jaka Sembung, tokoh komik karya Jair.


Tak tahan hanya sebagai pemeran Barda, Ratno Timoer juga ikut memproduksi film Si ButaDalam Neraka Perut Bumi pada 1986. Ratno Timoer masih memerankan Barda merangkap sutradara. Ia masih memborong pekerjaan ini saat meluncurkan film selanjutnya, Lembah Tengkorak. Bahkan Ratno turut berperan sebagai penulis skenario. dengan judul
Produk-produk susulan ini lumrah muncul mengingat kesuksesan yang bisa diraup film pertama Si Buta. Sejak beredar di Jakarta pada 5 Juni 1971 sampai akhir Oktober 1971, film ini berhasil mendatangkan 45.769 penonton. Bandingkan dengan film Si Pitung Banteng Betawi karya Nawi Ismail, yang beredar dalam waktu bersamaan, yang hanya mengumpulkan 12.142 penonton.
Keberhasilan film pertama ini mungkin terletak pada kesetiaan Lilik Sudjio pada pakem cerita di komik. Ia tak mengubah cerita sehingga penonton yang berharap menemukan visualisasi petualangan dan keandalan silat Barda berhasil memperolehnya. Apalagi komik Si ButaSi Buta terus cetak ulang. Waktu peluncuran film ini juga tepat. Ketika itu Indonesia tengah dihujani film-film laga Hong Kong. Tak aneh bila penonton antusias melihat produk laga dalam negeri. Apalagi tokohnya sudah mempunyai pasar. memang begitu terkenal ketika itu. Sejak diterbitkan UP Soka Jakarta pada 1966,
Ingatan terhadap kesuksesan Si Buta juga tersimpan di benak Herry Topan. Terlebih, saat film itu muncul, ia masih bekerja sebagai booker di Djakarta Theater Group yang mengelola sekitar 40 bioskop di Jakarta. Saat RCTI baru saja mengembangkan sayapnya, ia mendapati banyaknya tayangan luar negeri yang ditampilkan. Ia lantas mengajukan proposal pembuatan sinetron silat ini. Usulannya langsung diterima. Bukan hanya karena reputasi lamanya di dunia film, tapi juga kesuksesan sinetron yang dibuat sebelumnya, Si Manis Jembatan Ancol, yang juga ditayangkan RCTI.
Begitu proposalnya diterima, Herry langsung mengontak Ganes T.H. untuk menulis skenario. "Pak Ganes langsung menyanggupi. Ia yang sebelumnya sakit-sakitnya jadi bersemangat dan sehat kembali," kata Herry. Untuk peran Si Buta, Herry memasang aktor muda Hadi Leo. Meski mengaku pengagum Si Buta, ketika itu Herry tak membaca seluruh komiknya. "Saya percaya saja sama Pak Ganes," katanya beralasan. Herry cukup puas dengan hasilnya. Tak hanya dari sisi laga, lelaki kelahiran Jakarta, 22 Desember 1948, ini sangat menyukai dialog yang diciptakan Ganes yang menurut dia berfalsafah tinggi.
Kini sinetron itu tak lagi ditayangkan. Namun, Herry, yang setelah Si Buta sukses kemudian meluncurkan sinetron Wiro Sableng, masih menyimpan kejayaan masa lalu. Saat ini ia tengah memercikkan ide membuat versi baru Si Buta. "Saya tengah negosiasi dengan ANTV," kata Herry, yang mendirikan kantornya di daerah Tomang.
Sama dengan sinetronnya dulu, Herry menyiapkan 26 episode. Bedanya, tanpa keberadaan Ganes T.H. yang meninggal pada 8 Desember 1995, ia akan mengembangkan cerita jauh melampaui cerita asli di komiknya. Meski untuk itu Herry harus membaca total seluruh komiknya. Saat ini, ia tengah menunggu izin dari Gienardy, putra Ganes T.H., untuk mendapatkan seluruh data cerita Si Buta.
Herry merencanakan akan memulai sinetronnya dari masa 20 tahun sebelum Mata Malaikat—musuh bebuyutan Si Buta—membunuh Paksi Sakti, ayah Si Buta. Saat itu Paksi Sakti merupakan musuh bebuyutan Mata Malaikat. Dalam sebuah pertarungan, Paksi membutakan penglihatan Mata Malaikat. Balas dendam bisa ditunaikan 20 tahun kemudian dengan menghabisi tak hanya Paksi tapi juga Gandra Lelayang, ayah Murni Dewiyanthi—kekasih Barda.
Herry juga merencanakan akan lebih mempersingkat adegan-adegan drama. Porsi laga akan ditambahnya dengan melibatkan konsultan silat dari negeri sendiri. Meski tak anti terhadap produk luar negeri, untuk urusan action, Herry lebih percaya jagoan dalam negeri.
Untuk peran Barda, Herry tak lagi memakai Hadi Leo. Ia ingin merekrut wajah baru yang sebenarnya juga dilakukannya sejak dulu. Ketika ia menempatkan Hadi Leo sebagai pemeran Barda, Herry sempat diprotes almarhum Ratno Timoer yang merasa sudah membesarkan dan identik dengan karakter Barda. Namun, kecaman itu tak dihiraukan Herry dan Ganes yang merasa lebih berhak atas cerita Si Buta. Apalagi tak ada kontrak dan perjanjian hukum antara Ganes dan Ratno Timoer. Setelah kedua orang itu tiada, kini Herry berniat meneruskan kembali pengembaraan Si Buta.F. Dewi Ria Utari






























Berawal dari Komik

Ganes TH adalah salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia sampai akhir 80-an. Serial Si Buta dari Gua Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan orang. Petualangan Si Buta dari Jawa Barat sampai ke Bali, Flores, Kalimantan bahkan Sulawesi Sealatan dan Tengah menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kecintaan pada tanah air yang begitu dalam.
Ganes TH. (1935-1995) adalah seorang komikus Indonesia terkenal. Ia merupakan salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Pada masanya Ganes TH. merupakan salah satu dari “tiga dewa komik Indonesia” bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an.
Ganes TH. menciptakan tokoh “Si Buta Dari Goa Hantu” yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Komik Si Buta Dari Goa Hantu adalah komik silat Indonesia pertama. Terbitan perdananya langsung "meledak" sehingga komik Indonesia seperti dilanda demam silat sehingga banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta. Kabarnya komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar.
Serial Si Buta dari Goa Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan orang. Petualangan Si Buta mulai dari Jawa Barat sampai ke Bali, Flores, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kecintaan pada tanah air yang begitu dalam.
Ganes TH dengan "Si Buta Dari Gua Hantu" bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa merupakan salah satu ikon puncak sejak Kho Wan Gie, R.A. Kosasih, Zam Nuldyn, dan Taguan Hardjo. Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes TH sebagai salah satu legenda komikus Indonesia.
Tokoh ini lahir dari ide dan goresan tangan Ganes TH, seorang seniman warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Tangerang. Sudah banyak karya komik (dulu istilahnya Cergam kependekan dari Cerita bergambar) yang dibuatnya antara lain jagoan betawi Si Djampang, tetralogi : Tjisadane, Krakatau, Tuan Tanah Kedawung, serta Nilam dan Kesumah. Kebanyakan diantaranya juga sudah difilmkan. Tapi memang yang paling fenomenal adalah Si Buta dari Gua Hantu.
Seri cergam Si Buta dari Gua Hantu awalnya mengisahkan tentang seorang pendekar bernama Barda Mandrawata yang membutakan matanya sendiri demi menguasai jurus si Mata Malaikat untuk membalaskan dendam karena Mata Malaikat telah membunuh ayah dan saudara-saudara seperguruannya. Mata Malaikat digambarkan sebagai pendekar kejam yang tak tega membunuh korbannya yang kadang adalah rakyat jelata. Setelah menuntaskan dendamnya (ternyata Mata Malaikat itu nggak jago-jago banget!), tiba-tiba Barda diserang oleh seorang pendekar misterius bernama Sapu Jagat. Akibat serangan itu Barda Mandrawata terjatuh ke dalam jurang dan ternyata di dalamnya terdapat sebuah gua. Sewaktu sedang beristirahat, Barda dikejutkan oleh munculnya seekor ular raksasa yang menyerangnya. Setelah bertarung dengan sisa-sisa tenaganya ular tersebut akhirnya tewas di tangannya.
Yang lebih mengejutkan ternyata di dalam gua banyak pahatan di dinding yang menuliskan dan menggambarkan jurus-surus silat. Ternyata seorang pertapa sakti pernah tinggal di dalam sana dan meninggalkan pahatan ilmu silatnya untuk diwariskan. Barda pun lalu mempelajari dan melatih ilmu tersebut. Ia bertahan hidup dengan memakan daging ular yang dikeringkan, lalu kulitnya dijadikan pakaian (nah…ini yang kemudian jadi trade mark-nya, pendekar berbaju kulit ular).
Setelah mengausai ilmu tersebut, Barda Mandrawata pun berkelana untuk membasmi kebatilan dan kejahatan sebagai pendekar berjuluk Si Buta dari Gua Hantu.
Seri cergam si Buta dari Gua Hantu ini memperlihatkan wawasan nusantara dan nasionalisme Ganes TH yang begitu kental. Menceritakan perjalanan Barda Mandrawata ke berbagai pelosok nusantara dari Banten, Bali, Sulawesi, bahkan sampai ke Flores. Selain itu potret bangsa Indonesia yang tertindas oleh penjajahan Belanda (asing), sampai dengan orang-orang yang tega menindas bangsa sendiri demi kedudukan dan harta, sedikit banyak masih relevan dengan kondisi bangsa ini sekarang.
Daftar judul seri Si Buta dari Gua Hantu (siapa tahu ada yang mau nyari)*:
Si Buta dari Gua Hantu (1967)
Misteri di Borobudur (1967)
Banjir Darah di Pantai Sanur (1968)
Manusia Serigala dari Gunung Tambora (1969)
Prahara di Bukit Tandus (1969)
Badai Teluk Bone (1972)
Sorga yang Hilang (1974)
Prahara di Donggala (1975)
Perjalanan ke Neraka (1976)
Si Buta Kontra si Buta (1978)
Kabut Tinombala (1978)
Tragedi Larantuka (1979)
Pengantin Kelana (1981)
Misteri Air Mata Duyung (1984)
Neraka Perut Bumi (1986)
Bangkitnya Si Mata Malaikat (1987)
Pamungkas Asmara (1987)
Iblis Pulau Rakata (1988)
Manusia Kelelawar dari Karang hantu (1988)
Mawar Berbisa (1989)
*sumber: cergam Si Buta dari Gua Hantu, diterbitkan kembali oleh Pustaka Satria Sejati, 2005
www.anelinda-store.com/coverganes.php

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar